≡ Menu

Lima hal yang orang sering salah paham mengenai flash eksternal

Bicara tentang fotografi tentu tidak bisa lepas dari membahas tentang cahaya, dan bila membahas cahaya maka terbayang akan sebuah alat yang bernama flash eksternal. Dengannya, seorang fotografer bisa mengatur pencahayaan setiap memotret, sehingga didapat hasil foto yang lebih sesuai keinginan. Memang sih di kamera ada yang disebut dengan built-in flash, namun sayangnya selain kekuatannya kecil, dia juga tidak bisa diatur terlalu banyak. Sebaiknya setiap fotografer memiliki minimal satu flash eksternal, baik yang satu merk dengan kameranya ataupun flash buatan pihak ketiga. Saya kerap menemui orang yang masih bingung dalam memakai flash dan cenderung yakin pada hal-hal yang belum tentu benar karena sudah terlanjur jadi salah kaprah di kalangan pengguna flash.

Berikut diantaranya, lima hal yang orang sering salah pahami mengenai flash eksternal :

Flash eksternal jenis TTL lebih bagus dari flash manual (non TTL)?

Flash eksternal dipasang di atas kamera melalui hot shoe, sebuah dudukan flash yang mengandung pin kontak data. Untuk memastikan semua fitur flash ekstrernal bisa berfungsi, maka diperlukan flash yang kompatibel dengan merk kamera yang dipakai, sehingga kamera dan flash bisa saling berkomunikasi. Itulah gunanya memakai flash yang TTL, sehingga dalam penggunaan juga jadi lebih mudah karena kekuatan flash diatur secara otomatis oleh kamera. Di lain pihak flash manual tidak memiliki kemampuan berkomunikasi data dengan kamera secara data, tapi hanya menunggu sinyal sync dari kamera yang artinya bila kita memotret maka flash bisa ikut menyala. Tapi seberapa kuat flashnya, kita lah yang mengatur melalui tombol ada roda di flash (bukan di kamera). Nah, kalau kita mengatur flash manual dengan kekuatan yang pas, maka pada dasarnya tidak ada bedanya dengan flash TTL, cuma yang TTL memang lebih praktis dan mudah (walau lebih mahal).

Pakai flash hanya saat malam/gelap?

Foto ini diambil saat malam, tapi saya justru tidak pakai flash karena ingin memanfaatkan cahaya lingkungan (ambient light)

Prinsipnya saat gelap maka kita perlu cahaya bila ingin memotret, supaya hasilnya tidak hitam total. Tapi yang namanya malam hari itu tidak selalu harus pakai cahaya flash, kalau cahaya alami bisa ditangkap dengan shutter lambat supaya lebih artistik, flash justru tidak diperlukan, misalnya saat memotret suasana kota di malam hari. Sebaliknya, saat siang hari kalau kita memotret orang di luar, bisa jadi bagian wajahnya agak gelap karena backlight atau pakai topi, nah itu saatnya dibantu pakai flash. Artinya, siang hari belum tentu tidak perlu flash ya, bisa jadi siang pun kita butuh flash eksternal.

Pakai flash selalu di bounce?

Ini juga banyak saya temui. Orang pakai flash di bounce (diarahkan ke atas) tanpa paham kegunaannya, adalah hal yang lucu menurut saya. Bounce adalah teknik membuat flash bisa menjadi lebih lembut dengan cara dipantulkan pada sesuatu yang datar, putih, dan dekat (umumnya langit-langit rumah). Saat kita berada di luar ruangan, justru flash harus dipakai secara direct atau langsung ke subyek, jangan di bounce terus, buat apa?

Flash besar dan kecil sama saja?

Tergantung, flash eksternal yang kecil memang lebih enak buat dibawa, tidak berat dan repot. Tapi yang kecil biasanya ditenagai oleh dua baterai AA dan ini tentu berdampak pada kekuatan dan kecepatan (jeda) antar nyala flash. Bila subyeknya jauh, atau mau di bounce ke langit-langit, atau dipakai outdoor siang hari untuk melawan matahari, maka flash yang ukurannya besar dengan kekuatan yang lebih besar juga (GN 40 ke atas) akan lebih membantu dan bisa diandalkan. Jadi besar kecil tidak sama, dalam banyak hal yang besar bisa lebih diandalkan.

Flash warnanya aneh?

Soal warna, bukan salah flash kalau hasilnya tidak natural. Yang pasti flash dibuat dengan standar warna putih yang mendekati warna matahari siang (daylight) dan selama WB di kamera kita pilih daylight (atau WB simbol flash juga boleh) maka semestinya warna yang didapat akan natural. Atau bila memotretnya pakai file RAW maka bisa juga soal warna ini dikoreksi di editing. Masalahnya kadang kita memadukan flash dengan cahaya ruangan yang kuning, dan kita pakai WB Auto, maka dalam hal ini kamera akan bingung dalam mengatur Auto WB sehingga warnanya jadi aneh. Untuk itu hindari memadukan flash dengan sumber cahaya lain yang warnanya tidak putih supaya kita tidak bingung soal warna.

Saya memutuskan pakai flash meski siang hari untuk menyeimbangkan pencahayaan antara subyek dan sekitarnya. Flash eksternal yang dipakai punya kekuatan besar GN60 dan ini membantu karena karena posisi saya jauh dari subyek dan untuk melawan matahari terik juga, tentunya cara memakai flashnya tidak dengan cara bounce tapi langsung ke subyek.

Berikut video 5 Mitos tentang flash eksternal di Youtube:


Bagi anda yang masih bingung dalam mengatur setting flash dan memaksimalkan penggunaan flash, bisa memesan ebook PDF flash eksternal atau menghubungi Iesan di 0858-1318-3069 untuk membuat jadwal belajar privat flash dengan saya. Untuk jadwal kursus dan workshop selengkapnya bisa dilihat disini.

About the author: Erwin Mulyadi, penulis dan pengajar yang hobi fotografi, videografi dan travelling. Sempat berkarir cukup lama sebagai Broadcast Network TV engineer, kini Erwin bergabung menjadi instruktur tetap untuk kursus dan tour yang dikelola oleh infofotografi. Temui dan ikuti Erwin di LinkedIn dan instagram.

{ 7 comments… add one }
  • sartika July 10, 2019, 7:31 am

    mw naxa om… klo kamera nikon D3400 + flsh godox tt685 apa bisa klo hx pake trigger(X1T) sja atau harus pake resiver jg????

  • Hibatul haqqi July 2, 2019, 11:48 am

    Lensa yg cocok untuk videografi & traveling apa ya koh? Kebutuhan saya lebih ke foto alam. Saya menggunakan canon m50 lensa kit 18-55. Dan apa perlu saya beli lens hood? Terima kasih.

    • Enche Tjin July 2, 2019, 2:44 pm

      Sepertinya tinggal tambah lensa saja. (Coba cek rekomendasi kamera dan lensa untuk Canon EOS M)

      • Hibatul haqqi July 3, 2019, 9:52 am

        Terima kasih koh. Tapi setelah dilihat lgi ternyata harganya Mahal2 ya:( . Klo lensa canon 50mm f1.8 cocok ny digunakan untuk jenis fotografi apa? Apakah bisa untuk foto pemandangan alam?

        • Hibatul haqqi July 3, 2019, 9:56 am

          …soalnya saya selama menggunakan lensa kit ketika foto pemandangan selalu tidak tajam hasilnya. Terima kasih

  • yudha June 27, 2019, 8:16 pm

    bang mau tanya nih, aku lama pake nikon d7000+sigma 17-50 f2.8 aku rencana mau upgrade ke ff atau nambah lensa cuma masih bingung juga mau upgrade kemana dulu,terus terang aku penggemar nikon,yg mau aku tanyakan kalau upgrade ke arah kamera atau lensa dulu apa ya baik nya?aku murni foto jarang pake buat vidio

    • Enche Tjin June 28, 2019, 12:59 am

      Tergantung kebutuhannya bagaimana? Kalau rencananya ke full frame sebaiknya punya lensa full frame terlebih dahulu.

Leave a Comment