≡ Menu

Filosofi dan pengembangan kamera mirrorless Sony

Di acara digital imaging product di Singapura akhir Juli 2019 yang lalu, saya sempat berbincang-bincang dengan Daisuke Suzuki, product marketing Sony Singapore beserta fotografer profesional dan media dari Indonesia.

Tidak seperti eksekutif perusahaan yang biasanya menjawab secara diplomatis dengan nada yang politis, saya menemukan Daisuke Suzuki ini lebih candid (spontan) dan cukup terbuka dalam menjawab. Duduk satu meja dengan fotografer dan media tidak mudah, karena biasanya akan dicecar dengan pertanyaan yang kritis dan keluhan, tapi Daisuke terlihat santai dalam menjawab.

Jabatan product marketing baru disandangnya selama sepuluh bulan terakhir,  jabatan sebelumnya yaitu sebagai product planner yang dijalaninya selama lima tahun, sehingga Suzuki mengetahui seluk beluk pengembangan produk kamera mirrorless Sony.

Suzuki mengatakan Sony membuat prioritas dengan mengedepankan kualitas gambar, kecepatan dan mempertahankan ukuran yang se-compact mungkin, sehingga ada beberapa hal yang dikorbankan misalnya dari sisi software. “Pada dasarnya Sony sangat kuat di bidang engineering dan terbatas dalam sumber daya manusia sehingga peningkatan akan dipusatkan ke hal-hal yang penting terlebih dahulu”, ujarnya.

Saat dikomentari bahwa kamera terbaru Sony sepertinya terlalu tinggi resolusinya dan apakah akan ada kamera dengan resolusi lebih tinggi lagi? Suzuki menjawab bahwa Sony menyimpan banyak teknologi, tapi akan merilis kamera pada saat yang tepat sesuai dengan permintaan konsumen. Bagi yang tidak membutuhkan resolusi besar, ada type “basic” yaitu Sony A7III (24MP) yang dibanggakan Suzuki karena ia salah satu orang yang meriset dan merencanakan pembuatan kamera ini. Meskipun bangga, ia mengatakan ada sedikit penyesalan karena spesifikasi Sony A7III terlalu “strong (kuat)” dibandingkan dengan harganya.

Saat ditanya mengapa tidak mengunakan kartu memory XQD yang potensinya lebih tinggi, Suzuki mengatakan saat ini ukuran kamera merupakan prioritas, jika mengunakan kartu memory yang besar, maka takutnya ukuran kamera bisa lebih besar, dan juga format memory card katanya masih berkembang dan belum tau format mana yang akan berkembang di masa depan, apakah itu SD, XQD atau CFexpress. Sony memilih SD card dan memantau perkembangan kedepannya.

Pasar kamera sedang dalam kondisi  penyusutan saat ini, dan konsentrasi Sony tetap akan ke produk “high-end” saat ini kecuali pasar akan berkembang kembali. Artinya, kamera mirrorless murah seperti seri A5xxx mungkin tidak akan diperbaharui dalam waktu dekat.

Saat ditanyakan apakah ukuran E-mount yang kecil merupakan kelemahan? Suzuki menjawab bahwa ukuran mount yang kecil bukan kelemahan buktinya banyak lensa berkualitas tinggi yang bisa dibuat, termasuk adanya lensa manual dengan bukaan f/0.95. Saat saya singgung bahwa Kazuto Yamaki, CEO Sigma mengatakan ukuran E-mount terlalu kecil sehingga sulit untuk membuat lensa, Suzuki menjawab bahwa Yamaki-san bukan mengatakan tidak bisa, tapi hanya “sulit” saja. Lantas saya berkomentar “Benar juga, karena Sigma malah baru saja merilis lensa Sigma 35mm f/1.2 untuk kamera mirrorless Sony E-mount.”

Resolusi tinggi kamera-kamera sekarang tentunya memberikan tekanan pada lensa untuk bisa me-resolve detail gambar, dan Suzuki berpendapat bahwa semua lensa Sony dari biasa, G, Zeiss sampai GM dapat digunakan dengan baik dengan kamera beresolusi besar, karena usia lensa hanya beberapa tahun yang lalu, dan saat itu, insinyur-insinyur Sony telah mengetahui kamera beresolusi tinggi akan dibuat beberapa tahun kedepan.

Lantas, saya menanyakan apakah diantara perusahaan Jepang pembuat kamera bekerjasama untuk tidak menjatuhkan satu sama lain? Saya memberi contoh Fujifilm mengembangkan sistem APS-C dan medium format tapi tidak full frame, dan ada beberapa teknologi yang ada di kamera Panasonic Lumix tapi tidak ada di Sony dan sebaliknya. Suzuki mengatakan bahwa tidak ada “kolusi” semacam itu dan Sony berambisi menjadi nomor satu, jadi Sony tidak akan menahan perkembangan teknologinya untuk mengalahkan pesaing-pesaingnya.

Demikianlah bincang-bincang seru saya dengan Daisuke Suzuki bersama teman-teman dari Indonesia. Terima kasih dan mohon maaf buat Daisuke Suzuki karena sibuk menjawab pertanyaan bertubi-tubi sampai telat menikmati makanan yang telah dihidangkan.

About the author: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta. Temui Enche di Google+ dan Instagram: enchetjin

{ 0 comments… add one }

Leave a Comment