≡ Menu

Kamera mirrorless FujiFilm X-A7 resmi diluncurkan di Indonesia

Hari ini di Union Space Satrio Tower Kuningan, Fujifilm Indonesia resmi meluncurkan kehadiran kamera Smart Mirrorless X-A7. Mengusung tagar #smartmirrorless, dihadapan awak media, Mr Noriyuki Kawakubo, Presiden Direktur PT Fujifilm Indonesia memberi sambutan dan menyatakan bahwa Fuji X-A7 merupakan salah satu kamera entry-level unggulan yang memiliki berbagai inovasi yang mendukung penggunanya menghasilkan foto dan video yang berkualitas.

Kamera Fuji X-A7 ini cocok untuk menemani keseharian penggunanya termasuk saat traveling atau pun ketika membuat konten di media sosial. Salah satu fitur menarik di kamera berbobot hanya 320g ini adalah Smart menu memudahkan pengoperasian kamera, mengoptimalkan layar sentuh yang intuitif pada LCD vari-angle pertama di X-series, dengan diagonal layar 3,5 inci 2,7juta dot, aspek rasio 16:9 yang membuat layar ini mendominasi bagian belakang dari kamera ini.

Pada bagian dalam, tertanam sensor APS-C 24MP dengan PDAF yang tersebar merata sehingga proses auto fokus menjadi cepat termasuk saat mendeteksi wajah dan mata bahkan saat cahaya redup. Fitur lain tentunya adalah kemampuan 4K video, baterai cukup besar yang mampu mengambil 440 foto sekali diisi daya, dan tetap tersedia built in flash dan flash hot shoe.

Fuji X-A7 resmi diluncurkan seharga Rp 10,99jt termasuk lensa kit XC 15-45mm f3.5-5.6 OIS PZ. Dalam periode pre order online, diberi bundling Fuji Instax share SP-3 dan SD card Extreme 32GB.

Opini kami setelah hands-on tadi siang :

Fuji X-A7 sebagai lini pemula dari mirrorless Fuji semakin berkembang, mengikuti tuntutan pasar yang segmentasinya mayoritas adalah generasi muda yang biasa memakai smartphone, dengan mencoba mengimplementasikan penggunaan layar sentuh yang intuitif, interaktif dan beginner friendly. Dari X-A3 ke X-A5 saya mencatat peningkatan terbesar adalah dipakainya PDAF yang membuat kinerja auto fokus di X-A5 membaik, dan itu diteruskan dipakai juga di X-T100. Kali ini luar biasa, dari X-A5 ke X-A7 dari 91 titik ke 425 titik, yang tersebar di seluruh permukaan sensor, yang handal juga dalam urusan deteksi wajah dan mata.

Saya merasakan kekuatan prosesor di X-A7 ini meningkat, sehingga kuat untuk meladeni fitur-fitur baru seperti deteksi mata, 4K video tanpa crop, mode Auto yang lebih cerdas hingga titik fokus yang lebih banyak. Meski masih dengan sensor yang sama APS-C 24 MP, tapi X-A7 sudah memakai elektronik copper-type yang lebih baik sehingga ISO tinggi lebih minim noise (meski tidak pakai X-trans) dan juga pembacaan data dari sensor meningkat (juga membantu meredam skew atau rolling shutter saat merekam video). Saya masih bisa mengerti kalau kemampuan burst di kamera ini ‘hanya’ 6 fps karena target penggunanya bukan fotografer sport atau jurnalis, namun tetap tersedia pilihan electronic shutter untuk kebutuhan khusus.

Strategi Fuji dalam merevolusi desain X-A7 perlu diapresiasi, dengan menjadikan bagian belakang kamera nyaris penuh dengan layar, menyisakan sedikit area di kanan untuk joystick dan sedikit tombol. Kali ini kita bisa menyentuh layar hampir untuk apapun, termasuk mengatur setting di Q dan bahkan mengakses isi menu dengan menyentuh layar. Di bagian atas X-A7 tetap disediakan dua roda untuk pengaturan eksposur, tergantung mode yang dipakai. Port mic input tetap dengan ukuran 2,5″ tapi kali ini disediakan adapter mic dalam paket penjualan. Saya juga suka beberapa hal kecil yang signifikan, seperti baterainya yang lebih besar, dan kamera tetap bisa dipakai sambil diisi daya misal dengan powerbank (dengan USB Type-C).

Intinya, saat ini segmentasi kamera bukan semata-mata terpaku pada kelompok basic-medium-high, tapi juga preferensi pengguna. Meski sebuah kamera diposisikan di segmen paling bawah (dalam harga dan kasta) tapi di era canggih saat ini, perbedaan fitur dengan segmen yang diatasnya kadang tidak terlalu berbeda. Segmen bawah bisa jadi justru akan lebih cocok bila tipe penggunanya adalah casual shooter, traveller, pembuat konten (vlog misalnya) dan mereka yang ingin pengalaman lebih dari sekedar pakai smartphone tanpa harus beradaptasi terlalu susah payah dengan kamera betulan.

About the author: Erwin Mulyadi, penulis dan pengajar yang hobi fotografi, videografi dan travelling. Sempat berkarir cukup lama sebagai Broadcast Network TV engineer, kini Erwin bergabung menjadi instruktur tetap untuk kursus dan tour yang dikelola oleh infofotografi. Temui dan ikuti Erwin di LinkedIn dan instagram.

{ 6 comments… add one }
  • alfiandi fahmi September 25, 2019, 8:14 pm

    kalo sama sony a6100 pilih mana om?

    • Enche Tjin September 26, 2019, 8:33 am

      Pertanyaan menarik, dari spesifikasi gak terlalu banyak beda, hanya yang membedakan desain saja, XA7 punya layar besar yang bisa diputar2, memudahkan untuk foto dan video terutama selfie, dan orang yang gak mau ribet setting kamera. Saya kira XA7 lebih cocok untuk yang awam tentang fotografi tapi ingin hasil instan yang bagus.

      Sony A6100 sepertinya lebih kokoh dan punya jendela bidik. Pilih yang mana tergantung kebutuhan, kesukaan dan lirik juga lensa-lensanya.

      • Wie October 4, 2019, 5:45 pm

        Om kalau sama x-t20 bagus mana yaa.. kebetulan lagi banyak promo tuh.. seharga x-A7, kebanyakan buat foto produk dan street photography, sih. Video tipis tipiss
        makasihh

        • Enche Tjin October 6, 2019, 4:17 pm

          X-T20 bedanya ada jendela bidik, tombol2nya lebih banyak, menurut saya lebih worth it sih kalau lebih ke fotografi.

  • Tamy September 25, 2019, 8:12 am

    Wajib dimiliki nih 425 titii AF berarti menggunakan teknologi PDAF selevelan xt3 ea kak? Klo kepekaan AF di tempat minim cahaya samakah dgn xt3 yg sampai -3 EV?

    • Erwin Mulyadi September 25, 2019, 10:09 am

      Kabarnya sama, X-A7 bisa memfokus di area yang kurang cahaya, dan kinerja auto fokusnya setara dengan kakaknya seri XT yang lebih mahal.

Leave a Comment