≡ Menu

Fujifilm X Summit PRIME 2021

Fujifilm X Summit tahun 2021 baru saja usai, di acara yang berlangsung virtual ini, Fujifilm mengumumkan beberapa produk baru dan rencana pengembangan produk ke depannya.

Beberapa produk baru antara lain:

  • Fujifilm GFX50S II, Medium format 50MP
  • Fujifilm GFX 35-70mm f/4.5-5.6 WR
  • Lensa dalam pengembangan: Fujifilm GFX 55mm f/1.7, GFX 20-30mm, dan GFX Tilt Shift

Pembaharuan berikutnya adalah dukungan terhadap XLR input dan Blackmagic RAW codec.

Untuk Fujifilm X APS-C:

  • Kamera Fujifilm X-T30 II, 26MP X-Trans sensor
  • Lensa Fujinon XF 23mm f/1.4 WR
  • Lensa Fujinon XF 35mm f/1.4 WR
  • Lensa Fujinon XF 150-600mm & Lensa 18-120mm

Kedua lensa mendapatkan peningkatan di kualitas ketajaman gambar, dan autofokus yang jauh lebih cepat dibandingkan lensa XF 23mm dan 35mm f/1.4 terdahulu. Fujifilm mengklaim kinerja autofokus secepat 0.04 detik.

Tahun depan, Fujifilm akan merilis kamera flagship dengan stacked sensor X-Trans. Nama kamera belum diumumkan tapi kemungkinan X-H2 atau X-S1.

{ 0 comments }

Fujifilm memantapkan lini kamera medium formatnya dengan mengumumkan GFX50S II. Kamera ini ditujukan untuk fotografer yang menginginkan kamera medium format dengan body yang relatif compact dan harga yang lebih terjangkau. Fuji GFX50S II memiliki sensor 51.4MP, seperti pendahulunya GFX50. Processor-nya sudah diperbaharui ke X-Processor 4 yang terbaru, memungkinkan kinerja kamera yang lebih cepat dan fitur baru seperti film simulation Nostalgic Negative.

Desain dan pengaturannya seperti kamera DSLR kelas profesional. Fotografer yang sudah berpengalaman tentunya sudah sangat familiar. Ada top LCD, tombol, joystick, dan layar yang bisa ditekuk dua arah, memudahkan untuk komposisi horizontal ataupun vertikal. Layarnya bisa touch focus dan mengubah setting di Q menu tapi tidak di dalam menu utama.

Desain body-nya terlihat sama persis GFX100S, hanya tulisan nama yang tercetak yang membedakan keduanya. Seperti GFX100s, 50S II ini juga memiliki built-in stabilization yang efektif sampai dengan 6.5 stop. Berat kamera ini 900 gram kurang lebih seperti kamera full frame profesional.

Lensa GFX 35-70mm f/4.5-5.6 ini unik karena punya desain yang collapsible, lebih pendek saat disimpan, tidak memiliki aperture ring tapi sudah Weather Resistant. Ukurannya dan beratnya termasuk sangat ringkas relatif terhadap lensa medium format lainnya yang biasanya mencapai 1 kg. Lensa ini juga punya motor fokus STM yang mulus dan suaranya halus, ideal untuk merekam video juga. Lensa baru ini bisa didapatkan dalam paket pembelian dengan GFX50S II dengan total harga Rp 69.999.000

Lensa baru ini sangat compact dan saat di-zoom sedikit memanjang tapi tidak memiliki aperture ring seperti lensa GFX lainnya.
[continue reading…]
{ 1 comment }

Review lensa TTArtisan 40mm f/2.8 Macro

Lensa makro TTAartisan 40mm f/2.8 adalah lensa manual fokus dan tersedia untuk berbagai sistem kamera APS-C dan micro four thirds diantaranya Sony E-mount, Canon EOS M, Fujifilm X, Olympus dan Panasonic Lumix m43.

Saya berkesempatan menguji lensa ini dengan kamera Fujifilm X-S10.  Keunggulan utama lensa makro dari TTArtisan ini adalah ini lensa yang memiliki perbesaran dengan rasio 1:1, sehingga bisa fokus sangat dekat, yaitu 17cm dari image sensor kamera, atau sekitar beberapa cm saja dari depan lensa. 

Desain dari lensa ini terlihat cukup unik dengan material dari logam. Ukurannya cukup ringkas dengan berat 372 gram dan filter diameter 62mm. Seperti lensa manual fokus pada umumnya, lensa ini punya aperture ring dengan pilihan dari f/2.8 sampai f/16 dengan pilihan setiap 1/2 stop.

Kualitas gambar

Kualitas gambar yang dihasilkan di berbagai bukaan tajam, dan saya tidak menemukan chromatic abberation di berbagai foto meskipun di subjek yang cukup kontras.

Aman dari Chromatic Abberation
[continue reading…]
{ 0 comments }

Workshop foto Slow-speed dengan Flash Eksternal

Sebagai tindak lanjut dari kelas pengenalan fitur Flash Eksternal yang rutin diadakan secara online, kami berencana menyediakan sesi prakteknya dalam bentuk workshop di studio infofotografi Green Lake City, Jakarta Barat. Workshop kali ini bertujuan membuat peserta semakin paham dengan mencoba langsung beberapa fitur flash eksternal yang dapat menghasilkan efek kreatif bila dipadukan dengan shutter lambat (slow speed).

Beberapa fitur flash yang akan dipraktekkan diantaranya flash 2nd curtain (rear sync) dan multiple flash (repeating flash/strobo) yang dikombinasikan dengan gerakan model ataupun efek gerakan cahaya. Selama workshop, saya (Erwin M.) akan membimbing para peserta untuk bisa mengatur setting kamera, flash dan teknik memotretnya sehingga bisa didapat hasil foto yang optimal.

Ilustrasi efek flash yang akan dipraktikkan di workshop ini.

Workshop ini dijadwalkan pada :

  • Hari : Minggu, xxxxx 2021
  • Waktu : 14.00-16.30 WIB
  • Peserta : max. 4 (empat) orang
  • Lokasi : Green Lake City, Rukan Sentra Niaga Blok N-05 Duri Kosambi Jakbar
  • Biaya : Rp. 750.000,-

Bila anda berminat mengikuti workshop ini, dapat menghubungi Iesan di 0858-1318-3069 dan beberapa persyaratan yang perlu diperhatikan :

  • sudah mendapatkan vaksinasi minimal dosis 1
  • mematuhi prokes (memakai masker, menjaga jarak, tidak demam/batuk/pilek)
  • membawa flash dan tripod masing-masing
  • diharapkan sudah pernah ikut kelas Dasar Fotografi II atau kelas Flash Eksternal
Peserta kelas WS Slow Speed Flash
{ 0 comments }

Nikon Z fc adalah kamera mirrorless dengan sensor APS-C 21 MP yang memiliki desain seperti kamera film. Desain kamera ini inspirasi dari Nikon FM2, kamera film yang populer di tahun 1980-1990-an. Z fc terasa lebih ringan berkat pemilihan bahan yang tidak sepenuhnya dari logam.

Nikon Z fc (depan), Nikon FM2 (belakang)

Dari bagian belakang, Nikon Z fc baru terlihat seperti kamera modern pada umumnya, memiliki banyak tombol dengan layar yang bisa diputar ke samping atau di lipat ke dalam. Nikon Z fc ini bisa diatur dengan dua cara, cara modern dan cara retro. Untuk cara modern, tersedia tuas untuk mengganti mode ke P (Program), A (Aperture Priority), dan S (Shutter Priority) dan Full Auto. Saat mode-mode ini aktif, nilai ISO, shutter speed yang terletak di atas kamera tidak berlaku. Sedangkan di mode M (manual) kita dapat mengatur setting seperti kamera film dengan memutar roda dial di bagian atas kamera untuk mengubah ISO atau shutter speed dan dial di depan kamera untuk mengubah bukaan (f-number).

Layar LCD berukuran tiga inci dan bisa diputar di samping dan kedepan, memudahkan untuk vlogging, selfie dan memotret dari berbagai arah. Z fc ini adalah kamera Nikon Z pertama yang memiliki Layar LCD putar seperti ini. Jendela bidik elektronik juga tersedia dan memiliki desain bulat seperti kamera zaman film, resolusinya tidak terlalu tinggi yaitu 2 jutaan titik, tapi ukurannya besar dan lapang saat diintip.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Halo, teman-teman Infofotografi. Hari Sabtu, tanggal 11 September 2021* kita kembali akan belajar komposisi fotografi di area Glodok yang terkenal sebagai Chinatown Jakarta, dimana kita akan mengunjungi beberapa tempat menarik seperti warung kopi jadul, kelenteng dan gereja tua, pasar tradisional Glodok dan gang-gang penuh toko-toko bersejarah.

Acara akan dilangsungkan pukul 07.30 sampai 11.00 WIB, dimana peserta akan dipandu untuk memotret street photography dan berlatih komposisi fotografi di lapangan.

Workshop ini sangat cocok bagi pemula yang ingin meningkatkan kualitas foto terutama pada aspek artistik. Terbuka untuk penguna kamera apa saja, dari kamera compact, mirrorless, atau DSLR.

Workshop ini berlangsung di luar ruangan dengan mengikuti protokol kesehatan dengan mengunakan masker dan membatasi jumlah peserta maksimum 4 orang, dengan mentor Enche Tjin

dengan biaya Rp 375.000,- per orang.

Bagi yang berminat bergabung silahkan layangkan pesan ke Iesan, 0858 1318 3069, atau e-mail: infofotografi@gmail.com

*Maaf karena kapasitas yang terbatas maka bila full akan dicatat untuk sesi selanjutnya (masih di bulan September 2021). Demikian harap maklum.

{ 0 comments }

Apakah fotografer Zaman Now sudah Merdeka?

Bulan Agustus ini membuat saya merenung, sebagai bangsa kita telah merdeka selama 76 tahun, tapi apakah sebagai fotografer/content creator apakah kita sudah merdeka?

Maksud saya arti merdeka adalah apakah kita tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu untuk memotret dan leluasa menghasilkan karya? Sekilas, kelihatannya fotografer terutama di Indonesia tergolong bebas untuk motret apa saja. Tapi kalau direnungkan lebih mendalam, kenyataannya banyak pengaruh untuk memotret dengan gaya dan cara tertentu.

Di era media sosial, banyak platform yang memasang jebakan yang dikendalikan oleh algoritma. Di Instagram misalnya, jika kita mencari foto dengan hashtag #landscape, kita akan melihat banyak foto-foto pemandangan yang indah tapi sebagian besar memiliki gaya yang sama seperti warna yang pekat, detail yang tajam dan menarik oleh mata.

Foto-foto yang dimunculkan biasanya menarik penggunanya untuk melihat, memberikan like atau comment. Dengan mempelajari algoritma tersebut, sebagian besar fotografer akan meniru yang populer dengan harapan mendapatkan jumlah like dan views yang sama banyaknya. Akibatnya foto-foto yang tampil di instagram banyak kemiripan antara satu fotografer dengan fotografer yang lainnya.

Demikian juga di platform Youtube, jika kita melihat kategori photography, maka sebagian besar yang muncul adalah review tentang kamera dan lensa merk yang populer. Merk yang populer akan banyak ditonton dan menarik fotografer/konten kreator untuk membuat lebih banyak video dengan topik yang sama.

Sebagai fotografer, sedikit alasan kita untuk tidak mengikuti tren mainstream, potensi like, follower kita akan tambah banyak, dan sekaligus mengurangi kritik atau pem-bully-an. Sebagian besar orang tidak suka menerima kritik. Contohlah sebuah foto di Facebook atau Youtube, jika ada satu orang saja yang dislike, itu juga sangat mengganggu perasaan kita. Dalam hati kita akan bertanya-tanya, mengapa orang tersebut tega untuk dislike atau berkomentar yang sifatnya mengkritik padahal perjuangannya cukup berat untuk membuat karya foto/video.

Materi ini bisa disaksikan juga di live show Infofotografi via Youtube
[continue reading…]
{ 0 comments }
Pengguna kamera mirrorless Sony Alpha E-mount baik full frame (A7-A9) ataupun APS-C (A5000-6000) kini punya satu lagi alternatif lensa panjang untuk kebutuhan satwa liar atau liputan olahraga, yang dikeluarkan oleh produsen lensa Tamron. Lensa bernama lengkap Tamron 150-500mm f/5-6.7 Di III VC VXD ini sudah dirancang untuk bisa langsung dipasang di kamera mirrorless Sony, dan lensa seharga hampir 20 juta rupiah ini sudah dilengkapi stabilizer VC, motor fokus cepat VXD dan desain yang moisture resistance. Simak bagaimana ulasan fitur dan pengalaman saya memakai lensa ini di bodi Sony A7 III selengkapnya..

Segmen market lensa telefoto cukup banyak, biasanya mereka yang menyukai foto satwa seperti burung, atau yang suka meliput kegiatan olahraga. Lensa tele dari Tamron untuk kamera Sony sebetulnya sudah ada beberapa, sebutlah misalnya lensa Tamron 70-180mm f/2.8 yang disukai oleh fotografer potret atau profesional, atau lensa Tamron 70-300mm f/4.5-6.3 yang kerap diandalkan para traveller untuk mengambil landscape yang lebih ketat, atau untuk candid. Tapi bila yang dicari adalah jangkauan lensa lebih dari 300mm, maka lensa Tamron 150-500mm inilah yang paling sesuai untuk anda.

Lensa Tamron 150-500mm f/5-6.7 Di III VC VXD

Dengan panjang 21cm (di posisi fokal 150mm, tanpa hood terpasang) lensa ini sebetulnya tidak sepanjang yang saya duga. Kelihatannya ini akibat desain untuk mirrorless yang punya flange back lebih pendek, jadi membantu membuat lensa tele jadi tidak terlalu panjang, nice. Tapi urusan bobot, lensa ini cukup berat, sekitar 1,7 kg karena di dalam lensa ini ada 25 elemen dalam 16 grup, belum lagi motor fokus dan mekanik VC yang menyumbang pada bobot total lensa ini. Bukaan aperture lensa ini memang tidak mungkin konstan, dengan f/5 sebagai bukaan maksimal di 150mm dan f/6.7 sebagai bukaan maksimal di posisi 500mm, membuat VC menjadi hal yang penting. Bila diperlukan shutter cepat untuk membekukan gerakan, terbatasnya ukuran aperture lensa ini akan sering memerlukan kompensasi ISO tinggi, khususnya di keadaan cahaya yang agak kurang. Aperture di lensa ini sendiri memiliki 7 bilah diafragma, yang membuat bokeh cukup menarik namun dalam beberapa keadaan bokeh masih tampak kurang blur.

[continue reading…]
{ 2 comments }

Publikasi terkemuka Jepang, Nikkei, menerbitkan pangsa pasar kamera digital di tahun 2020. Secara umum, pasar kamera turun 40.3% dari tahun sebelumnya yang diakibatkan oleh pandemi dan persaingan dengan kamera ponsel. Di tahun 2020, Canon dan Sony mendominasi dengan 47.9% dan 22.1%.

Sementara itu, Nikon turun -4.9% ke 13.7%. Fujifilm dan Panasonic tidak banyak berubah dari tahun-tahun sebelumnya yaitu 5.6% dan 4.4%.

Peningkatan pangsa pasar Canon di tahun 2020 karena penjualan kamera pemula yang terjangkau seperti Canon EOS M50 dan kesuksesan dua kamera mirrorless profesional Canon EOS R6 dan R5 yang diluncurkan tahun itu. Di masa pandemi, Canon cukup tanggap dalam mengembangkan software EOS Utility yang memungkinkan sebagian besar kameranya untuk bisa berfungsi sebagai kamera web untuk online meeting.

Di tahun 2020, content creator semakin aktif membuat konten video karena sebagian besar orang terkunci di rumah dan banyak mengkonsumsi konten video via media sosial seperti Youtube, IGTV, Tiktok dan sebagainya. Sony berhasil meningkatkan pangsa pasarnya karena merilis tiga kamera foto yang lebih fokus untuk perekaman video yaitu Sony A7C, A7S III dan kamera compact Sony Z-V1.

Pangsa pasar Nikon menurun karena di tahun 2020 hanya merilis kamera full frame dengan harga diatas Rp 20 juta diantaranya Nikon D780, Z5, Z6II dan Z7II. Alasan lain yaitu penjualan kamera DSLR pemula yang biasanya menjadi andalan Nikon semakin berkurang seiring dengan migrasi fotografer ke sistem kamera mirrorless.

Fujifilm cukup aktif di tahun 2020 dengan merilis beberapa pilihan kamera mirrorless dengan harga Rp 10-20 juta yaitu Fujifilm X-T4, X-S10, X-T200 dan X100V. Pangsa Fujifilm cukup stabil dan sedikit meningkat.

Sedangkan Panasonic merilis beberapa kamera dengan fokus ke video seperti Lumix G100, BGH1 dan kamera full frame hybrid Lumix S5. Pangsa pasar kamera Panasonic sedikit menurun di tahun 2020.

Di tahun 2021, menurut CIPA, pengapalan kamera digital di tahun 2021 meningkat namun masih jauh dibandingkan dengan kondisi sebelum pandemi.

{ 4 comments }

7Artisans tidak asing lagi sebagai produsen lensa manual dengan bukaan besar. Kali ini kami beruntung menerima satu unit sample lensa 7Artisans 50mm f/0.95 APS-C sebelum diluncurkan secara global. Versi yang saya terima adalah untuk Sony E-mount, tapi 7Artisans juga memproduksi lensa sejenis untuk berbagai sistem kamera mirrorless APS-C lainnya seperti Fujifilm X, Canon EOS M, Nikon Z dan Micro four thirds (Lumix & Olympus).

[continue reading…]
{ 9 comments }