≡ Menu

Mengenal lensa RF 5.2mm f/2.8 L Dual Fisheye dari Canon

Baru saja diumumkan sebuah lensa unik dari Canon untuk sistem kamera mirrorless EOS R, yaitu lensa RF 5.2mm f/2.8 L Dual Fisheye. Lensa seharga $1999 ini tergolong lensa L series yang punya kualitas optik tinggi, dan sekaligus menjadi lensa unik karena tergolong ke lensa fisheye dan tidak tanggung-tanggung lensa ini adalah lensa Dual Fisheye. Mari mengenal lebih jauh seperti apa lensa ini.

Contoh tampilan stereoskopis untuk mode VR, dimana gambar kiri dan kanan dihasilkan oleh lensa terpisah yang diberi perbedaan sudut paralaks sesuai mata manusia, guna memberi visual 3D.

Tren media digital modern sudah menghadirkan era Virtual Reality (VR) yang memberikan pengalaman lebih nyata dalam melihat melalui VR glass, misal headset buatan dari Oculus. Seiring makin banyak pengguna VR glass, kebutuhan konten video VR juga meningkat. Masalahnya untuk membuat konten VR diperlukan kamera dan lensa khusus yang memiliki dua gambar untuk dilihat oleh masing-masing mata manusia. Dengan begitu bisa diwujudkan sebuah visual stereoskopik 3 dimensi melalui VR glass yang mulai banyak dipasarkan.

Lensa Canon RF 5,2mm Dual FIsheye dipasang di kamera EOS R5

Canon terlihat memahami potensi tren masa depan ini, jadi meski saat ini sepertinya masih belum populer, lensa RF khusus untuk membuat konten VR ini akan tersedia di akhir tahun 2021 ini. Lensa RF 5,2mm ini memiliki dua lensa (kiri dan kanan) dengan bukaan f/2.8 dan fokus manual, serta ada pengaturan sudut paralaks untuk dikalibrasi bila perlu. Setelah membuat konten dengan lensa ini, hasilnya masih perlu diedit melalui software Canon EOS VR Utility, atau memakai EOS VR plugin untuk program editing video populer seperti Premier Pro.

Beberapa aspek teknis dari lensa ini :

  • sudut gambar 180 derajat
  • 12 elemen dalam 10 grup
  • dust and weathersealed
  • jarak fokus minimum 0,2 meter
  • 7 bilah diafragma
  • bisa diselipkan filter ND
{ 0 comments }

Lensa 50mm f/0.95 selalu menarik karena bukaannya yang sangat besar terlebih lagi lensa yang saya uji ini adalah lensa untuk Leica M mount yang legendaris. Leica Noctilux 50mm f/0.95 adalah lensa keluaran tahun 2008 sedangkan TTArtisan 50mm f/0.95 dirilis tahun 2020. Dengan perbedaan 12 tahun TTArtisan memiliki keuntungan untuk mempelajari dan mengunakan teknologi terkini untuk merancang lensanya.

Saya berkesempatan untuk menguji kedua lensa ini untuk foto portrait model, dimana saya memasang lensa ini di kamera Leica SL dengan adapter M to L. Dalam praktiknya, saya menemukan bahwa mekanik manual fokus di lensa Leica Noctilux lebih mulus dan tidak terlalu resisten sedangkan yang TTArtisan sedikit lebih berat, begitu pula aperture ring Leica agak sedikit kendor, sehingga mudah tergeser. Mungkin karena lensa TTArtisan ini baru sehingga lebih resisten.

[continue reading…]
{ 2 comments }

Pixii adalah merk kamera rangefinder dengan Leica M-mount yang di rilis tahun 2020. Saat itu kamera Pixii kurang begitu diminati karena mengunakan sensor gambar 12MP yang meskipun menganut global shutter, tapi rentang ISO-nya sangat terbatas, ISO 320-2500.

Pixii yang baru ini mengunakan sensor APS-C tercanggih saat ini, setara dengan kamera Fujifilm X-T4 yaitu sensor 26MP BSI tanpa filter AA, berbeda dengan sensor Fuji yang punya filter warna X-Trans, Pixii mengunakan filter warna Bayer seperti kamera APS-C lain pada umumnya.

Selain sensor baru, Pixii memiliki inovasi baru dalam jendela bidik rangefindernya. Kini informasi penting seperti indikator exposure, white balance, dan lain lain bisa terlihat di dalam jendela bidik.

Pixii baru ini juga memiliki micro USB-C connector yang berfungsi untuk charge dan seperti kamera terdahulu memiliki storage 8GB-128GB secara internal, sehingga kita tidak perlu mengunakan memory card lagi.

Harga kamera ini dimulai dari Euro 2999 sampai 3540 tergantung dari besarnya kapasitas memory internal yang dipilih.

[continue reading…]
{ 1 comment }

Review Fujifilm XF 33mm f/1.4

Lensa Fujifilm XF 33mm f/1.4 adalah lensa dengan jarak fokal normal/standar ekuivalen dengan 50mm di format 35mm/full frame. Lensa ini merupakan upgrade/peningkatan dari lensa Fujifilm 35mm f/1.4 yang dirilis September 2011 yang lalu, persis 10 tahun yang lalu. Dibandingkan dengan 35mm f/1.4, yang paling terlihat perbedaannya adalah ukuran fisiknya yang lebih panjang, kinerja auto fokus yang jauh lebih cepat dan senyap berkat linear motor dan weather sealing.

Dari pengujian lapangan untuk foto portrait model, Fujifilm XF 33mm f/1.4 menghasilkan foto yang sangat tajam dengan detail micro contrast yang tinggi yang bisa terlihat di tekstur wajah di kondisi pencahayaan normal dan juga dalam kondisi backlight. Dalam pemotretan, saya menggunakan setting bukaan terbesar f/1.4 dan film simulation ASTIA untuk mendapatkan gradasi yang mulus untuk kulit wajah dan warna yang sedikit lebih cerah.

Kualitas Gambar

Dari pengujian lapangan untuk foto portrait model, Fujifilm XF 33mm f/1.4 menghasilkan foto yang sangat tajam dengan detail micro contrast yang tinggi yang bisa terlihat di tekstur wajah di kondisi pencahayaan normal dan juga dalam kondisi backlight.

Kiri ISO 320 f/1.4 1/5400, Kanan ISO 320 f/1.4 1/3800 ASTIA
Crop dari foto diatas
Kiri: 320 f/1.4 1/4700 Kanan: ISO 320 f/1.4 1/1500 ASTIA
[continue reading…]
{ 1 comment }

Workshop Dramatic Lighting Studio

Kemampuan dalam mengenal dan mengendalikan cahaya dalam fotografi merupakan ketrampilan yang penting dimiliki oleh seorang fotografer. Workshop dimulai dengan memperkenalkan hukum cahaya, perlengkapan lampu studio dan fungsi-fungsinya, lalu dilanjutkan dengan mengatur intensitas arah lampu dan setting kamera.

[continue reading…]
{ 0 comments }

7Artisans 25mm f/0.95 untuk APS-C & M43 Review

Lensa manual fokus f/0.95 semakin populer di era mirrorless untuk pencinta bokeh untuk fotografi dan videografi. Saat ini, sudah cukup banyak pembuat lensa bukaan besar, tapi yang memiliki jarak fokal yang relatif lebar seperti 25mm relatif sedikit. Lensa 25mm f/0.95 lensa ini melengkapi seri lensa f/0.95 dari 7Artisans setelah merilis 35mm dan 50mm f/0.95 untuk kamera mirrorless APS-C dan micro four thirds.

Lensa ini dibuat untuk berbagai mount kamera bersensor APS-C, termasuk Sony E-mount, Canon EOS M, Fujifilm X, Nikon Z, Olympus & Lumix G. Dalam review ini, saya mengunakan Fujifilm X-S10, kamera APS-C 26MP untuk menguji lensa ini untuk berbagai jenis fotografi.

Saat dipasangkan ke APS-C, jarak fokal lensa ini kurang lebih ekuivalen dengan 37.5mm di format full frame. Jarak fokal yang cukup unik karena diantara lensa lebar dan standar. Jika dipasang di micro four thirds, maka jadi ekuivalen dengan 50mm.

f/0.95 fokus di jari
Karakter bokeh dari 7Artisans 25mm f/0.95
[continue reading…]
{ 0 comments }

Halo teman-teman Infofotografi, sudah lama saya mempersiapkan buku ini yaitu dari tahun 2019 dan harusnya sudah diterbitkan tahun 2020, tapi karena pandemi, topik buku ini jadi tidak kondusif. Seiring dengan mulai terkendalinya kasus Covid di tanah air dan tingginya angka vaksinasi di kota-kota besar, maka saya merasa saat ini saat yang tepat untuk menerbitkan buku ini dalam bentuk elektronik (e-book) supaya bisa diakses dimana saja dengan mudah dan dapat berguna sebagai panduan mini tapi lengkap dalam membahas aspek-aspek penting dalam street photography.

Street photography adalah jenis fotografi yang dapat dipraktikkan oleh siapa saja, di mana saja, dan dengan kamera apa saja. Bisa dibilang, inilah jenis fotografi yang paling demokratis. Meskipun demikian, memotret street memiliki kesulitan-kesulitan yang berbeda dengan jenis fotografi lainnya.

Buku ini terdiri dari 52 halaman yang padat dengan informasi praktis. Secara sederhana saya mengupas tentang apa itu street photography, bagaimana cara mengatasi kendala dan memperbesar peluang Anda untuk mendapatkan foto yang bagus dan yang paling penting dapat menikmati proses memotret.

Harga buku ini Rp99.000 Untuk memperolehnya secara langsung, silahkan hubungi WA 0858 1318 3069

Anda juga bisa membelinya melalui Karyakarsa & Sociabuzz dengan mengunakan berbagai bentuk pembayaran (Gopay, OVO, transfer bank dan lain-lain).

[continue reading…]
{ 2 comments }

Lensa-lensa Canon RF ukuran dan harganya makin bersahabat

Tanggal 14 September 2021 yang lalu, Canon merilis dua lensa yang bersahabat untuk penggemar fotografi / fotografer amatir. Lensa pertama yaitu Canon RF 100-400mm f/5.6-8 IS USM. Lensa ini lensa telefoto yang cukup panjang dan biasanya digunakan untuk bermacam jenis fotografi seperti olahraga dan satwa. Yang menarik adalah ukuran dan beratnya yang tidak biasa, yaitu hanya 635gram dan filter diameter 67mm. Harga lensa ini US$639 (Sekitar Rp 9.2juta), jauh lebih terjangkau dari lensa 100-400mm f/4.5-5.6L IS yang harganya mendekati Rp 40 juta.

Canon RF 100-400mm f/5.6-8 IS USM

Ukuran yang kecil harus dibayar dengan bukaan maksimum yang relatif kecil yaitu f/5.6-8. Meski agak kecil, tapi kombinasi kamera bersensor full frame dengan lensa ini memiliki kemampuan menangkap cahaya yang tidak kalah dari lensa 70-300mm f/4.-5.6 di sistem kamera APS-C.

Lensa kedua yaitu Canon RF 16mm f/2.8. Lensa ini lebih menarik lagi karena 16mm ini adalah lensa full frame, termasuk lensa ultra wide. Biasanya lensa ultra wide ukurannya besar dan harganya mahal dan harus mengunakan lensa zoom seperti 16-35mm, 14-24mm atau 11-24mm. Dengan 16mm f/2.8 yang harganya sekitar US$299 atau sekitar 4.5 jutaan ini, penggemar fotografi landscape yang ingin membawa lensa full frame ultra wide yang ringan telah terkabul. Ukurannya juga sangat mini yaitu 165 gram dan filter 43mm.

Lensa RF 16mm f/2.8 dengan hood. Sepertinya akan menjadi lensa best seller untuk pengguna Canon EOS R
Canon RF 16mm f/2.8 bisa untuk foto subjek yang dekat dan karena bukaan f/2.8 mampu membuat latar belakang blur

Sementara ini, sudah ada beberapa lensa Canon RF yang compact juga sudah tersedia, diantaranya Canon RF 35mm f/1.8 IS STM Macro, Canon RF 50mm f/1.8 STM, RF 85mm f/2 Macro dan lensa zoom RF 24-105mm f/4-7.1 IS STM juga bisa dikategorikan di lensa compact dan terjangkau juga.

Seiring dengan cukup lengkapnya lensa-lensa RF untuk fotografer profesional, kedepannya sepertinya Canon akan mengalihkan konsentrasi untuk membuat lensa-lensa yang ringkas dan terjangkau yang merupakan kabar baik bagi kita semua.


Bagi teman-teman yang ingin belajar fotografi, videografi, editing dari dasar silahkan kunjungi jadwal pelatihan kami atau hubungi WA 0858 1318 3069

{ 0 comments }

Xiaomi Mi 11 Ultra adalah ponsel canggih dengan spesifikasi tinggi dan fitur kamera yang lengkap. Pertama kali melihat ponsel ini pasti akan langsung terkesan dengan ukuran ponsel yang cukup besar dengan panel di bagian belakang kamera yang berisi modul kamera yang menonjol keluar.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Canon EOS R3 resmi diumumkan

Kamera mirrorless kelas serius untuk kebutuhan sport akhirnya resmi dirilis secara global oleh Canon dengan hadirnya EOS R3. Kamera dengan mount RF memakai sensor full frame 24 MP ini sudah memakai teknologi stack sensor untuk meladeni tuntutan kerja cepat penggunanya. Sistem stabilisasi di sensor EOS R3 ini diklaim bisa mencapai hingga 8 stop. Desain kamera ini menyerupai mini EOS 1Dx, dengan grip tambahan di bawah untuk memotret vertikal. Uniknya, layar 3,2 inci di EOS R3 ini berdesain articulated dengan kerapatan 4 juta dot yang sangat detail.

EOS R3 tampak depan, terlihat shutter dalam kondisi menutup untuk mencegah debu masuk ke sensor. Shutter di EOS R3 sudah lolos uji ketahanan sampai 500 ribu kali memotret.

Dibandrol seharga $6000 (sekitar 90 juta rupiah), kamera EOS R3 mampu terus menerus menyimpan hingga 30 foto per detik dalam format 14 bit RAW, tanpa black-out di jendela bidik (bila pakai shutter elektronik), berkat chip Digic X didalamnya. Disamping itu EOS R3 sudah didukung dengan slot CFexpress dan SD card UHS-II sehingga tidak kuatir soal urusan kecepatan tulis data. Bila perlu, terdapat pilihan file gambar masa depan HEIF 10 bit dengan HDR PQ yang mulai banyak ditemui di kamera Canon kelas atas terbaru.

EOS R3 tampak belakang, dnegan jendela bidik besar, layar lipat 3,2 inci, berbagai tombol, dial, tuas hingga joystick tersedia disini.

Hal baru yang berbeda disini adalah diperkenalkannya teknologi auto fokus dengan lirikan mata di jendela bidik. Fitur bernama Eye Control AF ini mampu mendeteksi kemana kita melihat dan area fokus akan mengikuti arahnya. Ini jadi hal menarik yang memudahkan fotografer profesional seperti olah raga atau satwa yang bergerak cepat. Untuk urusan merekam video, EOS R3 mampu merekam video 6k 60p dengan opsi video RAW atau C-Log3 10 bit selain juga bisa merekam video 4K 120p bagi yang memerlukan slow motion resolusi tinggi. Dengan fitur ini, maka EOS R3 menjadi pilihan yang layak untuk jurnalis olahraga ataupun videografer dokumenter kelas profesional.

Layar tambahan di bagian atas, dan mode kmaera berbentuk tombol, menjadi ciri desain EOS R kelas atas seperti EOS R5 dan EOS R3 ini

Disamping merilis EOS R3, Canon juga mengumumkan lensa super tele RF 100-400mm f/5.6-8 dan lensa fix ultra lebar RF 16mm f/2.8 STM. Kedua lensa ini tergolong lensa kelas consumer (non L) yang akan disukai oleh pengguna kamera EOS R atau RP, yang selama ini menantikan lensa-lensa RF yang ekonomis.

[continue reading…]
{ 1 comment }