≡ Menu

Hari ini Fujifilm mengumumkan lensa baru, Fujifilm Fujinon XF 18mm f/1.4 R LM WR. Lensa ini dirancang untuk sistem kamera Fujifilm X. Lensa ini dibuat untuk kamera bersensor APS-C, oleh sebab itu, jarak fokalnya ekuivalen dengan 27mm di kamera full frame dan termasuk lensa fix lebar.

Saksikan review, contoh foto dan behind the scene menggunakan Fuji XF 18mm f/1.4 dan Fujifilm X-T4

Secara fisik, lensa ini mirip dengan lensa Fuji XF lainnya yaitu punya aperture ring untuk mengubah bukaan dari f/1.4-f/16 dan mode Auto Aperture. Ukuran dan bentuknya mirip dengan lensa zoom XF 18-55mm f/2.8-4, tapi setelah disandingkan, 18mm sedikit lebih besar, mengunakan filter 62mm sedangkan yang 18-55mm mengunakan filter 58mm.

[continue reading…]
{ 1 comment }

Review Nikon Nikkor Z 50mm f/1.2 S

Setelah dua tahun hadirnya sistem kamera mirrorless Nikon Z, fotografer pengguna Nikon Z dimanjakan dengan hadirnya lensa-lensa 50mm yang berkualitas, katakanlah Nikkor Z 50mm f/1.8, Nikkor 58mm f/0.95 dan yang Z 50mm f/1.2 ini. Lensa 50mm f/1.2 adalah salah satu lensa yang fleksibel dan penting, karena dapat digunakan untuk berbagai jenis fotografi seperti portrait, wedding, still life dan street.

Di zaman DSLR, Nikon tidak memiliki lensa Nikon 50mm f/1.2 modern yang bisa autofokus, jadi kehadiran Z 50mm f/1.2 S tentunya sangat menggembirakan. Nikon tidak tanggung-tanggung dalam merancang lensa ini. Fiturnya canggih dan kualitas optiknya bagus.

Yang mengesankan bagi saya yaitu penggunaan teknologi coating terbaru yang bernama Arneo yang dipadukan dengan Nano Crystal Coat dan Super integrated coating yang sangat membantu saat memotret di kondisi backlight. Dalam pengujian saya dengan Nikon Z7II dalam memotret subjek model yang disinari dari belakang, kualitas gambarnya masih sangat tajam dan kontras. Tidak ditemukan flare. Chromatic abberation juga sangat minim dan sulit ditemukan.

Motor fokus yang digunakan berjenis stepper motor, lebih mulus dan tidak bersuara sehingga cocok untuk foto maupun video. Saya mendapati kecepatan fokusnya cukup cepat untuk lensa f/1.2 dan sangat akurat. Beberapa kali saya mencoba foto dengan bukaan terbesar dan dari jarak dekat dan lensa tetap terfokus ke iris mata bukan ke bulu mata atau hidung.

Secara fisik lensanya relatif besar. Berat lensa ini 1 kg, panjangnya 15cm dan mengunakan filter 82mm. Di body lensanya ada aperture ring dan manual fokus ring. Nikon menyebut manual focus ring ini control ring karena bisa diganti fungsinya menjadi exposure compensation atau ISO. Juga ada layar LCD kecil yang menunjukkan beberapa informasi seperti jarak fokus, ruang tajam dan bukaan lensa yang sedang aktif.

Dalam pemakaian selain saya merasa ukurannya agak sedikit besar, posisi ring aperture yang agak kecil dan resistensinya sepertinya kurang sehingga kadang tergeser saat penggunaan. Untungnya, control ring ini bisa di OFF jika dibutuhkan. Secara keseluruhan saya senang melihat hasil foto dari kombinasi Nikon Z7II dengan Z 50mm f/1.2 ini karena gambarnya tajam, detail, autofokusnya akurat dan bokeh (background blur-nya) mulus dan enak dilihat, sangat ideal untuk berbagai jenis fotografi.

Saksikan video reviewnya di Youtube Infofotografi

{ 2 comments }

Kamera yang memiliki resolusi tinggi dan kinerja yang sama-sama tinggi jarang ditemui. Biasanya, kamera yang beresolusi tinggi punya kecepatan yang relatif lambat seperti Sony A7R, sedangkan yang cepat, punya resolusi yang rendah seperti Sony A9 (24MP). Kamera Sony Alpha 1 hadir sebagai kamera pamungkas yang tidak berkompromi soal resolusi gambar dan kecepatannya.

A1 punya full size HDMI untuk hubungan ke external recorder yang lebih mantap

Dari desainnya, Sony A1 mirip dengan Sony A9, yang berbeda adalah A1 memiliki full size HDMI port yang lebih besar. Dibandingkan dengan seri A7, Sony A1 punya dua dial tumpuk di bagian atas kamera untuk mengganti drive mode dan focus mode.

Rahasia dibalik kecepatan Sony A1 terletak pada sensor full frame dengan arsitektur stacked sensor dan ditunjang dengan dual processor sehingga aliran data yang banyak bisa cepat dan lancar.

Dengan resolusi 50MP, Sony A1 mampu merekam video dengan resolusi 8K 10 bit, pertama di kamera Sony, dan 4K 120p langsung ke memory card baik SD card maupun CF Express Type A.

Meski memiliki resolusi yang besar, Sony A1 punya kecepatan foto berturut-turut yang sangat cepat yaitu maksimum 30fps dengan autofokus. Kecepatan autofokus akan tergantung dari kecepatan motor fokus lensa yang digunakan. Dengan lensa 50mm f/1.2 GM, saya mendapatkan hit rate yang cukup bagus untuk 10-20 frame per detik, sedangkan dengan lensa dengan motor fokus dan bukaan yang tidak terlalu besar seperti Sony FE 35mm f/1.8, hit rate yang saya dapatkan mencapai 20-30 frame per detik.

Hal lain yang diperbaharui dari Sony Alpha One adalah mekanisme shutter yang dapat memungkinkan flash sync speed 1/400 detik, melebihi 1/200 detik di kamera pada umumnya dan 1/200 detik dengan electronic shutter (dengan flash Sony).

Saat pengujian, kamera sangat responsif, menyalakan kamera membutuhkan waktu sekitar 1.2 detik sampai kamera siap memotret, setelah itu, pengoperasian kamera terasa cepat baik navigasi menu, mengganti setting via tombol dan layar sentuh.

Kualitas gambar dari Sony A1 saat dipasang dengan lensa Sony 50mm f/1.2 GM sangat bagus dan tajam autofokus dapat mengunci mata dengan baik dan cepat. Resolusi 50MP siap untuk cropping dan cetak foto berukuran panjang satu meter atau lebih.

ISO 100 f/8 1/100 50mm
Crop dari foto diatas
ISO 200 f/1.2 1/1000 50mm
Crop dari foto diatas
ISO 100 f/1.2 1/1250 1/250. Kanan: Crop dari foto kiri
ISO 1000 f/1.2 1/800 Kanan: Crop dari foto kiri

Memotret subjek bergerak menjadi mudah untuk mendapatkan momen puncak dengan kinerja 20-30fps. Sebagai tambahan, flash sync speed kamera ini mencapai 1/400 detik yang biasanya hanya 1/200 detik di kamera lainnya. Peningkatan ini akan sedikit membantu fotografer yang memotret di outdoor dengan flash. Yang cukup mengejutkan adalah flash sync untuk electronic shutter juga cukup bagus yaitu 1/200 detik (biasanya di kamera lain 1/15 detik) tapi harus mengunakan flash Sony atau mungkin flash pihak ketiga yang mendukung.

Yang membuat Sony Alpha One dikategorikan sebagai kamera untuk photojournalist profesional adalah fitur konektivitasnya yang lengkap. Sony A1 memiliki teknologi koneksi Wifi 2.4-5 Ghz terbaru 2×2 Mimo, punya dual antena untuk resepsi yang lebih baik. Port koneksi yang tersedia antara lain USB 3.2, Ethernet 1000 Base-T, dan FTP via smartphone.

Koneksi Ethernet yang biasanya hanya ada di kamera flagship kelas atas

Sony A1 adalah kamera mirrorless flagship yang memadukan semua kelebihan kamera-kamera sebelumnya. Kamera ini cocok untuk fotografer profesional yang membutuhkan resolusi tinggi dan kinerja kamera yang sangat cepat dalam satu paket.

Spesifikasi dan harga Sony A1

  • 50MP Full frame Exmor RS BSI CMOS sensor
  • 8K 30p, 4K 120p 10-bit
  • 9.44 juta titik EVF, 240 fps
  • 5 Axis Steadyshot
  • 5 Ghz MIMO Wi-Fi, 1000BASE T-Ethernet
  • 30fps electronic shutter
  • 10fps mechanical shutter
  • 759pt. Hybrid AF
  • Dual Drive Mech. Shutter, 1/400 detik
  • Dual CFexpress/SD card slot
  • Harga: Rp 91.990.000 body only
[continue reading…]
{ 0 comments }

Lensa TTArtisan 35mm f/1.4 untuk Leica M Review

Penggemar lensa manual fokus kemungkinan mengenal merk lensa yang memiliki kata Artisan. Sebenarnya ada dua yaitu 7Artisan dan TTArtisan, keduanya adalah perusahaan yang berbeda, meskipun sama-sama mengunakan membuat lensa manual fokus.

Dari feedback yang saya terima dari teman-teman pengguna lensa manual fokus, sebagian mengatakan lensa dengan merk TTArtisan memiliki kualitas fisik dan mekanik yang lebih baik.

Memang kita tidak bisa menggeneralisir bahwa 7Artisan kurang bagus, karena di 7Artisan membuat lensa dengan bermacam-macam kualitas, sedangkan TTArtisan sepertinya lebih fokus membuat lensa yang lebih premium.

Kelengkapan lensa ini termasuk lens hood yang berjenis screw-in, dan penutup lensa bagian depan berbentuk persegi dengan bahan logam. Terdapat obeng kecil dan petunjuk untuk kalibrasi lensa untuk sistem fokus rangefinder yang dapat dilakukan sendiri.

Petunjuk pengaturan fokus
[continue reading…]
{ 0 comments }

Setelah di tahun 2015 Pentax merilis K-3 Mark II, di tahun 2020 lalu Ricoh mengumumkan bahwa K-3 Mark III sedang dalam tahap pengembangan; dan akhirnya sang flagship DSLR APS-C kelas menengah ini resmi diluncurkan Maret 2021, dengan meningkatkan fitur di berbagai sisi, sebutlah misalnya dari sensor, titik fokus, shutter unit dan kemampuan videonya. Pentax K-3 Mark III kini dibandrol seharga $2000 dan kini menjadi salah satu DSLR APS-C dengan segmen serius yang cukup mahal, setara dengan Canon 7D Mark II atau Nikon D500.

Dibalik harganya yang termasuk tinggi, Pentax kini memberikan sensor 25,7 MP APS-C tanpa AA filter, berjenis BSI yang lebih baik (ISO up to 1,6 juta), dengan 5 axis stabilizer (up to 5,5 stop) yang dibalut bodi magnesium yang tentunya sudah weathersealed. Seiring jaman yang menuntut kemampuan rekaman video 4K, maka Pentax K-3 Mark III juga sudah bisa merekam video 4K 30p dengan tetap bisa menikmati IS di bodinya. Urusan auto fokus yanng sebelumnya memiliki 25 titik AF, kini meningkat drastis jadi 101 titik AF dengan 25 diantaranya jenis cross-type, dan bisa memfokus di keadaan gelap hingga -4 Ev. Untuk urusan kecepatan menembak kamera ini bisa memotret 12 fps berkat desain shutter mekanik yang baru, sebelumnya hanya bisa 8 fps. 

Perbandingan kinerja ISO tinggi di Pentax K3 Mark III dengan Pentax K1 Mark II yang full frame 36 MP
[continue reading…]
{ 0 comments }

Di tahun 2020, Sigma mengejutkan dengan meluncurkan kamera mirrorless full frame terkecil di dunia dalam bentuk Sigma fp. Di tahun 2021 ini, Sigma memperbaharuinya dengan Sigma fp L.

Sekilas dari fisiknya, kedua kameranya sama persis. Perbedaan utamanya lebih ke hardware dan software di dalam kamera ini. Perbedaan utamanya adalah image sensor yang digunakan yaitu 61MP.

Kamera mirrorless yang tergabung dalam L-Alliance dan mengunakan L-mount ini menggunakan optical low pass filter (OLPF) yang digunakan untuk mencegah timbulnya moiré  dan color artefact. Keputusan ini bijak karena Sigma fp sangat populer untuk merekam video dan moiré relatif sulit untuk dikendalikan.

Sistem autofokus yang hanya mengandalkan deteksi kontras yang relatif lambat Sigma fp di generasi pertama sudah ditingkatkan dengan teknologi autofokus phase detection yang sangat membantu dalam kecepatan fokus untuk foto dan video.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Halo teman-teman Infofotografi, hari ini, tgl 15 Maret 2021 saya mengundurkan diri sebagai Leica Ambassador Indonesia yang saya emban selama kurang lebih empat tahun lamanya. Selama 2016-2020 saya beruntung mendapatkan pengalaman berharga dan mengenal teman-teman dari Leica store Indonesia, Leica enthusiasts, dan rekan-rekan Leica ambassador yang memiliki karya dan bakat yang luar biasa.

1. Apa Alasan pamit?

Ada berbagai alasan saya untuk mengundurkan diri tahun 2021 ini. Pertama adalah minimnya kegiatan Leica Indonesia di masa pandemi ini. Kedua adalah keinginan saya untuk lebih fokus dalam mengembangkan Infofotografi dalam berbagai platform media sosial (Youtube, blog, instagram). Ketiga adalah pengalaman selama empat tahun terasa sudah cukup panjang.

2. Apakah Enche masih akan mengunakan kamera Leica?

Tentu saja! Beberapa kamera Leica merupakan favorit saya dan akan terus digunakan. Saya juga masih mengajar dan membantu teman-teman pengguna kamera Leica. Selain kamera Leica, Enche juga mengunakan berbagai kamera dan lensa merk lain.

3. Apakah Enche akan pindah ke brand lain?

Sementara ini belum ada penawaran dari brand kamera manapun, tapi saya selalu membuka diri untuk berkolaborasi dengan brand lain via Infofotografi

Keputusan pengunduran ini bukan sesuatu yang mudah saya putuskan, melainkan dengan sangat berat hati, tapi saya lega telah memutuskan hal ini. Saya berharap teman-teman semua bisa memakluminya. Akhir kata, Enche pamit dulu, semoga teman-teman di Leica Store Indonesia & Leica Ambassador Indonesia semakin sukses di tahun-tahun berikutnya. 


Bagi teman-teman yang ingin mendapatkan kamera Leica dan ingin belajar memaksimalkan kameranya, saya dapat membantu. Silahkan hubungi WA 0858 1318 3069 untuk membuat janji. Terima kasih.

{ 6 comments }

Tips menentukan harga jasa fotografi wedding

Menentukan harga fotografi wedding, pre-wedding dan jasa fotografi pada umumnya merupakan sebuah seni, artinya tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar. Namun, jika salah menentukan harga, maka ada dua hal yang bisa terjadi: Jasa fotografimu tidak laku, atau kalaupun laku tapi tidak mendapatkan keuntungan yang sepadan dengan kemampuan, tenaga dan waktu.

Dari pembicaraan yang saya rutin lakukan dengan teman-teman yang berprofesi sebagai wedding photographer via live-Youtube, saya menemukan beberapa langkah dan strategi yang dapat dilakukan.

[continue reading…]
{ 1 comment }

Tren pengembangan kamera foto tahun ini sepertinya akan mengarah ke kinerja yang super cepat dan kemampuan merekam video 8K. Setelah Canon dan Sony merilis kamera 8K nya tahun lalu dan dan awal tahun ini, Nikon tidak mau ketinggalan dan mengumumkan kamera Nikon Z9 dalam pengembangan dan akan diluncurkan tahun 2021 ini.

Nikon berjanji akan mengunakan teknologi yang jauh lebih baik daripada kamera-kamera sebelumnya baik dari kamera DSLR atau kamera mirrorless. Z9 akan memiliki teknologi sensor stacked (berlapis) dan processor gambar yang baru.

[continue reading…]
{ 2 comments }

Komposisi fotografi: ikut aturan atau gaya bebas

Saat pertama kali belajar fotografi, kebanyakan akan belajar banyak aturan komposisi, katakanlah rule of thirds (aturan sepertiga), leading line, simetri, geometri dan sebagainya. Aturan-aturan tersebut biasanya dibuat oleh fotografer-fotografer dari negara barat seperti Henri Cartier-Bresson, Ansel Adam dan sebagianya.

Karya Ansel Adam
Karya Henri Cartier-Bresson: GREECE. Cyclades. Island of Siphnos. 1961.

Sementara dari negara timur seperti Jepang, banyak fotografer yang menonjol dengan aturan dan gaya yang cenderung lebih bebas dari aturan komposisi yang umum. Contohnya seperti Daido Moriyama, seorang fotografer yang terkenal dengan street photography dengan high contrast photography.

Daido Moriyama cenderung mengikuti insting dia, kadang foto-fotonya tidak sempurna secara teknis misalnya tidak terlalu tajam, kontras yang sangat tinggi sehingga bagian yang terang dan gelap menjadi kurang detail. Tapi hal tersebut tidak terlalu penting bagi Daido. Contohnya foto anjing liar di bawah ini. Anjing liar ini metafor dari Daido itu sendiri yang menyusuri jalan-jalan tanpa arah dan menangkap momen yang menarik.

Karya Daido Moriyama : Stray Dog

Wabi-Sabi

Dalam budaya Jepang terdapat konsep Wabi-Sabi, yang menerima ketidaksempurnaan dan ketidakkekalan, dan bukan tidak mungkin konsep ini mempengaruhi fotografer-fotografer Jepang juga.

Misalnya Rinko Kawauchi yang tertarik dengan foto perubahan alam. bunga liar, makanan dan sebagainya. Ada juga fotografer asal Jepang lainnya seperti Ishiuci Miyako yang memotret bekas luka dan barang-barang yang ditinggalkan orang yang telah meninggal. Osamu Kanemura memotret suasana kota yang berantakan (urban chaos), dan mungkin lebih banyak lagi.

Saat kita traveling, biasanya fotografer akan terfokus untuk memotret pemandangan yang telah difoto sejuta umat, tapi mengabaikan proses dan detail saat traveling tersebut. Konsep Wabi-Sabi memberikan gagasan bahwa kalau kita bisa menerima ketidaksempurnaan di dunia, apa saja bisa kita potret.

Karya Rinko Kawauchi

Pembahasan lebih lengkap tentang konsep komposisi dan lainnya bisa disimak di video dibawah ini:

{ 3 comments }