≡ Menu

Voigtlander 35mm f/2 APO Review

Voigtlander 35mm f/2 APO LANTHAR merupakan salah satu lensa terbaik dari Voigtlander dari hal teknis karena menggunakan desain APO yang kompleks untuk menghilangkan Chromatic Abberation sehingga meningkatkan persepsi ketajaman foto. Lensa ini tersedia dalam beberapa mount, diantaranya Leica M, Sony E dan Nikon Z.

Seperti lensa manual fokus lainnya, lensa 35mm ini berukuran relatif kecil, dengan desain seperti lensa manual era 60-70-an. Aperture yang bisa dipilih dari f/2 sampai f/16 dengan pemberhentian setengah stop.

Kualitas gambar

Kualitas gambar yang dihasilkan lensa ini sangat baik, sangat tajam di kamera Leica SL (FF 24MP). Tidak ada Chromatic Abberation membuat warna dan detail lebih tajam dan solid.

Bokeh bisa didapatkan jika latar depan/belakang cukup jauh dari subjeknya, tapi tidak se-blur lensa-lensa yang lebih tele dan bukaan yang lebih besar seperti Voigtlander 50mm f/1.4.

Kelemahan lensa ini relatif dengan lensa-lensa pada umumnya adalah ukuran yang cukup besar dan berat dibandingkan dengan lensa 35mm yang lain yang tidak memiliki elemen APO. Selain itu, vinyet tetap terlihat cukup jelas terutama di bukaan terbesarnya di f/2. Untungnya, ada lens profile correction di software pengolah RAW seperti Adobe Camera RAW/Lightroom yang bisa membantu.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Hari ini FujiFilm global resmi merilis hadirnya kamera hybrid penerus dari X-H1 yang bernama X-H2S dan berukuran lebih kecil dari X-H1. Dari namanya, memang agak berbeda karena ada kode ‘s’ dan memang ini adalah tipe yang agak berbeda juga, yaitu memakai sensor dengan teknologi BSI stack 26 MP. Menurut banyak rumor, FujiFilm juga akan merilis X-H2 (tanpa stack sensor, tapi resolusi lebih tinggi) dalam waktu dekat.

Tampak depan Fuji X-H2S

Hadir sebagai top line Fuji di kelas APS-C, Fuji X-H2S sudah memakai dua slot memori yang salah satunya mendukung CFExpress type B, yang menandakan bisa merekam video 6,2K dengan data rate ekstra tinggi. Makanya kecepatan memotret X-H2S ini juga luar biasa hingga 40 foto per detik (bila pakai shutter mekanik bisa 15 fps yang juga masih termasuk sangat cepat).

Kamera Fuji X-H2S menyasar segmen pro dengan kebutuhan foto yang serius seperti jurnalis, atau juga videografer yang mencari kamera dengan fitur video yang lengkap. Maka itu desain dan detail dari fisik kameranya juga menyesuaikan, misalnya sudah weather resistant, dibekali 5-axis stabilizer, jendela bidik besar dan detail dengan 5.76 juta dot, aksesori vertical grip dan kipas tambahan bila perlu. Kamera dengan bobot 660 gram termasuk baterai ini akan dijual di kisaran US$2.499 atau sekitar 35 juta rupiah.

[continue reading…]
{ 1 comment }

Dengan hadirnya Canon EOS R7 dan R10, makin jelaslah nasib sistem Canon EOS M yang akan tergantikan. Rumor lensa APS-C dengan RF mount semakin santer dan sebagian besar mirip sekali dengan lensa-lensa Canon EOS M. Yuk kita bandingkan:

Canon R7 dengan lensa RF-S 18-150mm f/3.5-6.3 IS STM

Lensa Canon EOS M

  • Canon EF-M 32mm f/1.4 STM
  • Canon EF-M 22mm f/2 STM
  • Canon EF-M 28mm f/3.5 IS Macro
  • Canon EF-M 11-22mm f/4-5.6 IS STM
  • Canon EF-M 15-45mm f/4-5.6 IS STM
  • Canon EF-M 18-55mm f/3.5-5.6 IS STM
  • Canon EF-M 18-150mm f/3.5-6.3 IS STM
  • Canon EF-M 50-200mm f/4.5-6.3 IS STM

dan ini yang dirumorkan untuk Canon EOS RF-S

  • Canon RF-S 32mm f/1.4 STM
  • Canon RF-S 22mm f/2 STM
  • Canon RF-S 11-55mm f/4-4.5 IS STM
  • Canon RF-S 55-250mm f/4.5-7.1 IS STM
  • Canon RF-S 16-55mm f/2.8 IS USM

dan yang sudah ada:

  • RF-S 18-45mm f/4.5-6.3 IS STM
  • RF-S 18-150mm f/3.5-6.3 IS STM

Sekilas terlihat mirip ya? Hanya ada sedikit perbedaan terutama di bukaannya. Sepertinya Canon berani membatasi bukaan maksimum lensa untuk mendapatkan ukuran yang lebih kecil, dan mudah-mudahan kualitas yang lebih baik. Yang agak aneh yaitu rumor lensa 11-55mm f/4-4.5 yang mungkin salah info karena jarak fokal dari ultra lebar biasanya tidak luas. Kemungkinan besar adalah 11-22mm yang jika dibandingkan dengan lensa di EOS M, memiliki bukaan yang lebih besar. Satu lagi yang menarik yaitu 16-55mm f/2.8 yang menurut saya penting bagi pro/semi-pro yang membutuhkan lensa ekuivalen 24-70mm yang fleksibel untuk berbagai jenis fotografi.


{ 1 comment }

Baru saja Canon global telah resmi mengumumkan kehadiran dua kamera mirrorless baru dengan sensor APS-C, tapi bukan pakai sistem EOS M (yang pakai lensa EF-M) melainkan pakai sistem EOS R (yang sebelumnya hanya untuk sensor full frame, dengan lensa RF). Kedua kamera ini bernama Canon EOS R7 dan Canon EOS R10, keduanya adalah kamera dengan sensor APS-C yang kali pertama ditemui di sistem kamera dengan RF mount. Artinya, semua lensa RF full frame bisa dipasang di kamera APS-C ini, namun fokal ekuivalennya akan mengalami perkalian 1,6x. Untuk itu sebagai pelengkap yang lebih sesuai, Canon juga merilis lensa dengan mount RF tapi hanya mencakup ukuran sensor APS-C, yang diberi nama RF-S. Saat ini baru diluncurkan dua lensa pertama, yaitu RF-S 18-45mm f/4.5-6.3 IS STM (130 gram), dan RF-S 18-150mm f/3.5-6.3 IS STM (310 gram) .

Canon EOS R7, sensor APS-C 32 MP dengan IBIS dan RF mount
Bagian belakang dari EOS R7 dengan dial unik di samping jendela bidik.

Canon EOS R7 diposisikan sebagai kamera APS-C kelas atas, dengan sensor resolusi tinggi 32 MP, 5 axis in-body stabilizer, kemampuan video 4K 60p C-Log3, layar ekstra detail 1,6 juta dot, dual slot SD-card, headphone jack dan bobot yang cukup berat di 612 gram (salah satu faktor yang mempengaruhi bobotnya adalah baterai besar LP-E6NH). Sedangkan Canon EOS R10 menjadi pengisi segmen entry hingga menengah dengan resolusi 24 MP, tanpa in-body stabilizer dan hanya satu slot SD-card UHS-II. Berkat baterai yang lebih kecil tipe LP-E17, bobot dari EOS R10 jadi lebih ringan di 429 gram saja.

Kombo EOS R10 dengan lensa kit RF-S 18-45mm IS dijual di US$1099 atau sekitar sekitar 15 juta rupiah

Baik EOS R7 maupun EOS R10 dari fisiknya terlihat solid dan tetap mempertahankan desain yang ergonomis dengan grip mantap, jendela bidik 2,3 juta dot yang termasuk sedang, layar LCD lipat dan yang menarik adalah adanya tuas AF-MF di bagian depan (sesuatu yang bahkan di EOS R full frame tidak tersedia). Urusan AF tentunya tidak diragukan dengan Dual Pixel AF yang cepat dan akurat. Apalagi kedua kamera juga sama-sama ngebut dalam hal kemampuan burst mekanik 15 fps dan juga mantap di rekam video 4K 60p atau Full HD 120p yang mencirikan kalau Canon hendak menyasar segmen content creator yang memerlukan kamera handal untuk foto video namun tidak perlu sampai harus full frame. Bodi EOS R7 juga sudah memiliki ketahanan terhadap debu dan kelembaban yang membuat tenang saat memotret outdoor.

[continue reading…]
{ 6 comments }

Leica gandeng Xiaomi, putus dengan Huawei

Tanggal 23 Mei 2022 ini, Xiaomi dan Leica Camera mengumumkan kerjasama strategis jangka panjang dalam mengembangkan kamera ponsel. Kerjasama pertama mereka akan terwujud dalam ponsel flagship terbaru Xiaomi yang akan dirilis bulan Juli tahun 2022 ini.

Keterlibatan Leica dalam dunia kamera ponsel bukan hal yang baru, Leica pernah bekerjasama dengan Huawei dari tahun 2016 dan Sharp tahun 2021 dalam pengembangan kamera ponsel.

Khusus kerjasama dengan Sharp, kamera ponsel yang dikembangkan hanya untuk pasar Jepang dalam bentuk Sharp Aquous R6 dan Leitz Phone 1 dengan spesifikasi yang sama.

Kerjasama baru dengan Xiaomi ini menandai kerjasama selama 5 tahun antara Huawei Leica telah selesai. Ponsel terakhir yang memiliki kamera merk Leica adalah Huawei P50.

Tidak disebutkan alasan mengapa Leica bertukar partner dalam mengembangkan kamera ponsel. Besar kemungkinan karena ponsel Huawei tidak dapat menggunakan layanan Google karena sanksi dari AS, sehingga menurunkan market share Huawei dalam beberapa tahun terakhir.

Di lain pihak, Xiaomi beberapa tahun terakhir semakin berkembang dan merupakan produsen ponsel dengan pangsa pasar no.3 di dunia saat ini dan produknya dipasarkan ke lebih dari 100 negara.

Berikut pernyataan resmi dari Leica

Xiaomi and Leica Camera announce long-term strategic cooperation

A new era of mobile imaging begins in July
Wetzlar, 23 May 2022. Xiaomi, the world’s leading consumer electronics and smart manufacturing company, and Leica Camera, whose legendary reputation is based on a long tradition of excellent quality, innovative technologies and German craftsmanship, officially announce their strategic cooperation in terms of mobile imaging. The first imaging flagship smartphone jointly developed by the two companies will be officially launched in July this year.

Founded in 2010, Xiaomi is currently the world’s third-largest smartphone manufacturer. Since its establishment 12 years ago, Xiaomi has always practiced the mission of ‘relentlessly building amazing products with honest prices to let everyone in the world enjoy a better life through innovative technology’. Its smartphones and other products are sold in more than 100 countries and regions around the world. With strong R&D strength and continuous long-term investment in technology, Xiaomi has become an important leader in technological innovation in the fields of consumer electronics and smart manufacturing. And in the field of imaging, based on its long-term technical accumulation in lens optics, chips, algorithms etc., as well as its deep understanding of mobile photography, Xiaomi provides extraordinary photography experiences including portraits, night scenes and snapshots.

For over 100 years, Leica Camera has been creating lightweight cameras favoured by street photographer pioneers and world-class optical lenses, fulfilling the passions of its community. With ingenious optical engineering and formidable craftsmanship, Leica cameras, recognisable by their ‘red dot’ branding, are German engineering at its best, and continue to attract new generations of consumers who aspire to achieve ‘the Leica image look’ and own these masterpieces of design. In addition to making precision-crafted masterpieces, Leica attracts well-known photographers and emerging new talents around the world.

Xiaomi and Leica share the same ideas regarding mobile imaging. Both companies are eager to continuously explore the optical performance and photographic experience in the mobile imaging era through extreme technological breakthroughs and aesthetic pursuits.

Xiaomi focuses on creating the ultimate user experience and has always hoped to explore the capabilities of smartphone photography to the extreme. Xiaomi and Leica agree with each other’s pursuits and ideas and appreciate each other’s advantages and industry. This cooperation will provide a strong boost to Xiaomi’s imaging strategy. During the cooperation, from optical design to tuning aesthetic orientations, the innovative technologies, product philosophies and imaging preferences of both parties have experienced unprecedented in-depth collision and fusion,’ says Lei Jun, founder, chairman and CEO of Xiaomi Group.

It is an honour to announce the long-term strategic cooperation with Xiaomi today. Leica and Xiaomi are both global premium brands and during this unprecedented deep cooperation process, both parties have successfully worked on the goal of providing customers a new era of mobile photography. We are convinced that the first jointly developed imaging flagship smartphone makes the pioneering progress of both companies visible. We will provide consumers in the field of mobile photography exceptional image quality, classic Leica aesthetics, unrestricted creativity, and will open a new era of mobile imaging,’ adds Matthias Harsch, CEO of Leica Camera AG.

About Xiaomi Corporation

Xiaomi Corporation was founded in April 2010 and listed on the Main Board of the Hong Kong Stock Exchange on 9 July 2018 (1810.HK). Xiaomi is a consumer electronics and smart manufacturing company with smartphones and smart hardware connected by an IoT platform at its core.

Embracing our vision of ‘Make friends with users and be the coolest company in the users’ hearts’, Xiaomi continuously pursues innovations, high-quality user experience and operational efficiency. The company relentlessly builds amazing products with honest prices to let everyone in the world enjoy a better life through innovative technology.

Xiaomi is one of the world’s leading smartphone companies. The company’s market share in terms of smartphone shipments ranked no. 3 globally in the fourth quarter of 2021. The company has also established the world’s leading consumer AIoT (AI+IoT) platform, more than 434 million smart devices connected to its platform (excluding smartphones and laptops) as of 31 December 2021. Xiaomi products are present in more than 100 countries and regions around the world. In August 2021, the company made the Fortune Global 500 list for the third time, ranking 338th, up 84 places compared to 2020.

Xiaomi is a constituent of the Hang Seng Index, Hang Seng China Enterprises Index, Hang Seng TECH Index and Hang Seng China 50 Index.

{ 2 comments }

Hari ini, Kamis 12 Mei 2022 bertempat di gedung Tribrata Jakarta, PT Datascrip selaku distributor Canon Indonesia dengan resmi merilis kamera sinema EOS R5 C yang secara global sudah diumumkan awal 2022, dan sebuah lensa Dual Fisheye RF 5.2mm f/2.8L (yang secara global sudah diumumkan di Oktober tahun lalu). Dihadapan awak media, director of Canon Business Unit PT Datascrip ibu Monica Aryasetiawan menjelaskan bahwa EOS R5 C merupakan kamera hybrid paket lengkap untuk kebutuhan foto dan video dengan kualitas 8K dan memakai mount RF masa depan.

Peluncuran EOS R5 C (kiri ke kanan : Bp. Syailendra, ibu Monica, Bp. Iqbal)

Canon EOS R5 C menjadi kamera dengan fitur fotografi setara dengan EOS R5 yaitu sensor 45 MP full frame, Dual Pixel AF II yang bisa mendeteksi kepala, wajah, mata dan binatang, hingga keadaan gelap -6 EV dan saat aperture lensa sekecil f/22 sekalipun. EOS R5 C dalam urusan video mampu memberi berbagai pilihan format video seperti Cinema RAW Light 12 bit, proxy recording dan adanya pendingin kipas membuatnya bisa merekam video tanpa kuatir overheat.

Kamera hybrid EOS R5 C dengan sirip ventilasi untuk fan pendingin di sisi sampingnya

Dengan dua slot penyimpanan yaitu CFExpress (type B) dan SD card UHS II, didapat beragam variasi skenario sesuai kebutuhan profesional, misal :

  • slot 1 rekam 8K, slot 2 rekam 4K
  • slot 1 rekam Cinema RAW (light), slot 2 rekam proxy MP4
  • slot 1 rekam All-I, slot 2 rekam IPB (untuk arsip)
  • slot 1 rekam video, slot 2 rekam suara saja (audio)
  • dsb

Hal menarik lain, untuk setiap setting Gamma yang dipilih, terdapat dua macam Base ISO yang berbeda, misal :

  • Canon Log 3 : ISO 800 dan ISO 3200
  • BT709 Wide atau HLG : ISO 400 dan ISO 1600
  • BT709 Standard : ISO 160 dan ISO 640
[continue reading…]
{ 0 comments }

AstrHori 40mm f/5.6 Lensa cute nan powerful

Lensa-lensa manual belakangan makin bervariasi, dari merk, kualitas dan jarak fokal. AstrHori, sebuah perusahaan pembuat lensa yang unik, merilis lensa 40mm f/5.6 di awal tahun 2022 ini.

Meskipun lensa dengan jarak fokal 40mm semakin populer beberapa tahun belakangan, namun pilihan 40mm dengan bukaan maksimal f/5.6 ini agak berbeda daripada biasanya. Lensa ini di rancang untuk Leica M-mount, sebuah mount yang bisa di bilang universal karena mudah diadaptasikan ke kamera mirrorless apa saja dengan adapter.

Yang unik dari lensa ini adalah resolving power yang tinggi, artinya kita bisa menggunakannya di kamera dengan resolusi tinggi dan mendapatkan detail yang sangat tajam bahkan saat di perbesar ke 100%.

Lebih dari itu, lensa ini bisa dipasang dan mencakupi image sensor yang lebih besar lagi yaitu sensor 44x33cm yang digunakan di kamera seperti  Fujifilm GFX dan Hasselblad X1D.

Saya telah mencoba menggunakan lensa ini dengan adapter ke Fujifilm GFX 50 II dan seperti yang dijanjikan, lensa ini dapat mencakupi bidang medium format dengan baik. Saat dipasang di Sony A7R IV yang memiliki sensor full frame 61MP, kualitas gambar masih sangat detail dan tajam. Oleh sebab itu, lensa ini akan sangat baik jika dipasang di kamera Leica M10 juga.

Hasil foto dengan Kamera Fujifilm GFX50 II & AstrHori 40mm f/5.6
[continue reading…]
{ 0 comments }

Alasan lensa 40mm semakin banyak dan populer

Lensa yang populer untuk fotografer penggemar lensa fix biasanya adalah berkisar antara 28mm, 35mm atau 50mm. 40mm biasanya tergolong jarak fokal yang dianggap tidak lazim. Tapi dalam beberapa tahun belakangan, pabrikan lensa banyak membuat lensa dengan jarak fokal 40mm.

Di zaman kamera film rangefinder, 40mm tidak populer karena sebagian besar kamera rangefinder tidak memiliki frameline (petunjuk bingkai) di jendela bidiknya. Saat ini, hal tersebut tidak menjadi masalah karena adanya layar LCD dan jendela bidik elektronik. Lensa autofokus yang tersedia untuk kamera DSLR dan mirrorless juga sudah banyak.

Kamera Ricoh GR III X yang bersensor APS-C memiliki lensa fix ekuivalen 40mm

Beberapa alasan mengapa 40mm adalah jarak fokal yang menarik antara lain:

  1. Sudah lama jarak fokal lensa 50mm dianggap normal dan hal itu ada benarnya jika bentuk sensor gambar bujursangkar (Square) tapi karena sebagian besar film/image sensor berbentuk persegi panjang, maka jika kita hitung diagonal dari format 35mm film atau di era digital di sebut juga full frame (36x24mm), maka kita akan mendapatkan angka 43mm. Artinya dengan menggunakan lensa berjarak fokal 43mm, apa yang kita lihat dengan salah satu mata kita ukuran subjek akan sama jika kita lihat dari jendela bidik. 40mm lebih mendekati angka tersebut dan ideal saat kita ingin menunjukkan subjek sesuai dengan pengamatan mata kita. Subjek dan pemandangan akant terlihat tidak terlalu lebar dan tidak terlalu sempit, distorsi tertkendali.
  2. Jarak fokal lensa 40mm memungkinkan pabrikan kamera untuk membuat fisik lensa yang sangat compact dan biasanya kualitasnya masih bagus. Bahkan, banyak lensa yang memiliki bukaan yang sangat besar seperti f/1.2. Lensa 40mm yang bukaan maksimumnya f/2.8 bahkan sangat kecil dan tipis, banyak yang menyebut lensa ini dengan sebutan lensa pancake.
  3. Bagi pecinta bokeh (latar belakang blur), menggunakan lensa 40mm relatif mudah dibandingkan dengan lensa yang lebih lebar. Pilihan lensa berbukaan besar (f/1.2), dan beberapa diantaranya bisa fokus dekat memudahkan membuat untuk fokus subjek dekat, dan membuat latar belakang blur.
40mm tidak sesempit 50mm, dan masih mudah memisahkan subjek dari latar belakangnya – Leica SL & Voigtlander 40mm f/2.8
Handevision Ibelux 40mm f/0.85, lensa bukaan terbesar untuk jarak fokal 40mm.

Sebagai lensa normal, 40mm cukup fleksibel untuk berbagai jenis fotografi, street photography, still life, portrait, dan close-up photography. Untuk landscape photography dan documentary mungkin membutuhkan lensa yang lebih lebar seperti 24 atau 28mm. Kombinasi antara kedua jarak fokal ini akan saling melengkapi.

Foto head & shoulder dengan lensa ini masih terlihat normal, tidak cembung seperti lensa lebar
Voigtlander 40mm f/1.2 untuk Leica M Mount
Lensa 40mm bisa dibuat sangat compact, seperti lenca Canon EF 40mm f/2.8 STM

Pilihan lensa 40mm yang masih diproduksi antara lain:

Lensa autofokus

  • Nikon Z 40mm f/2 (2021)
  • Sony 40mm f/2.5 (2021)
  • Zeiss Batis 40mm f/2 (2018)
  • Fujifilm XF 27mm f/2.8 ekuivalen 40mm (2021)
  • Olympus 20mm f/1.4 ekuivalen 40mm (2021)
  • Canon EF 40mm f/2.8 (2012)
  • Sigma 40mm f/1.4 untuk DSLR (2018)

Lensa manual focus

  • Voigtlander 40mm f/1.2 ASPH (2017) untuk Leica dan Sony (2020)
  • Voigtlander Heliar 40mm f/2.8 Leica M & L39 (2022)
  • Voigtlander Ultron 40mm f/2 Nikon F (2017)
  • AstrHori 40mm f/5.6 Leica M (2022)
  • Kipon Ibelux 40mm f/0.85 II (2020)

Kamera compact dengan lensa ekuivalen 40mm = Ricoh GR IIIX (2021)

{ 0 comments }

Lensa DSLR Canon EF dan EFS jumlahnya banyak dan kualitas bagus. Di era mirrorless Canon dengan EF-M (APS-C) dan RF (Full frame) mount, pemilik kamera tersebut sebetulnya tetap bisa memasang lensa-lensa DSLR Canon itu, berkat lens adapter dari mount EF-M atau mount RF ke EF/EF-S yang dibuat langsung oleh Canon.

Adapter pada dasarnya berfungsi untuk mengubah bentuk mount, dia itu bolong (bukan converter, dia tidak mengubah fokal lensa) dan dia memberi jarak flange back yg pas mengikuti jarak lensa ke kamera DSLR, wajar kalau secara bentuk total jadi lebih panjang.

Yang penting disini adapter yg sedang dibahas adalah berjenis elektronik, bila kita lihat ada pin elektronik di sini dan di sana, artinya mereka terhubung, maka di dalam adapter ada chip yang meng encode perintah dari kamera mirrorless ke lensa EF. Keuntungan pakai adapter Canon, chipnya dibuat oleh Canon, jadi tidak perlu kuatir penurunan fungsi lensa spt AF, IS dan metering. Berbeda bila pakai adapter merk lain, atau memasang lensa Canon ke sistem kamera lain, biasanya akan ada kompromi di kinerja AF dll. Belum lagi berbagai adapter dari Canon dirancang dengan desain dust-and-moisture resistance yang membuatnya tahan debu dan kelembaban.

[continue reading…]
{ 0 comments }
Pemandangan Danau Toba dari Tele – Enche Tjin

Halo teman-teman infofotografi. Di bulan Mei tahun ini, kami kembali mengajak teman-teman untuk bergabung untuk berwisata dan memotret bersama Enche Tjin. Kali ini, kita akan mengunjungi Danau Toba, sebuah destinasi wisata di Sumatera Utara yang tiada dua pemandangannya. Saat ini sedang terkenal karena dibukanya spot-spot foto baru dan infrastruktur yang semakin baik.

Itinerary kami disesuaikan untuk yang hobi fotografi yang unik. Bagi teman-teman yang masih dalam tahap belajar fotografi atau sudah mahir juga bisa ikut berpartisipasi. Bimbingan oleh mentor fotografi akan siap membantu. Jadwal acara/itinerary kami adalah sebagai berikut.

Jadwal acara / itinerary  – Photo trip Samosir, Danau Toba, Medan

Hari ke-1 Jum’at, 13 Mei 2022

  • Kumpul di Bandara Silangit, Balige, Sumatera Utara
  • Makan siang di Siborong-borong
  • Menuju menara pandang Tele memotret panorama Danau Toba
  • Foto sunset di bukit Burung

Hari ke-2 Sabtu, 14 Mei 2022

  • Sebelum matahari terbit berangkat untuk sunrise di bukit Holbung
  • Foto-foto di bukit Sibea-bea
  • Foto-foto di Air Terjun Efrata
  • Kampung ulos Lumban Suhi-suhi & Hutaraja
  • Sunset di Batu Hoda

Hari ke-3 Minggu, 15 Mei 2022

  • Naik Ferry menuju kota Parapat
  • Menuju ke Kaldera
  • Makan siang di kota Pematang Siantar
  • Menuju kota Medan
  • Hunting kota Medan (Mesjid Raya/Istana Maimun)

Hari ke-4 Senin, 16 Mei 2022

  • Setelah sarapan, hunting di rumah tua/museum Tjong A Fie
  • Belanja oleh-oleh & kuliner Medan
  • Setelah makan siang bertolak ke Bandara Kuala Namu (KNO)

Biaya Tour : Rp 4.750.000 per orang
Silahkan hubungi kami di 0858 1318 3069 untuk mendaftar atau mendapatkan informasi

Biaya telah termasuk:

  • Bimbingan fotografi (bagi yang membutuhkan)
  • Transportasi selama tour (Hi Ace) kapasitas 10 orang
  • Makan pagi, siang, malam selama tour kecuali jajan/kuliner di hari terakhir
  • Penginapan selama tour ini (berjenis resort di Samosir/Danau Toba, hotel bintang 3 di Medan).
  • Bagi yang ingin single suplemen (sekamar sendiri) dapat menghubungi kami, akan ada biaya tambahan dan tergantung ketersediaan kamar.

Tidak termasuk:

  • Tiket pesawat
  • Tips untuk guide, porter, dll
  • Belanja pribadi

NB: Kita dapat membantu membeli tiket pesawat ke Medan/Silangit

Bukit Holbung – Foto oleh Johnny Siahaan
Sibea-bea dengan drone – Foto oleh Johnny Siahaan
{ 2 comments }