≡ Menu

Tanggal 26 Oktober 2022 ini, Sony global secara resmi mengumumkan Sony A7R V, kamera mirrorless full frame dengan sensor 61MP. Kamera ini merupakan kelanjutan dari Sony A7R IV yang dirilis tiga tahun yang lalu (2019). Sony mempertahankan sensor 61MP tapi meningkatkan fitur-fitur lainnya.

Fitur yang paling menonjol adalah sistem autofokusnya yang kini makin canggih dengan kemampuan pengenalan subjek yang lebih banyak dan akurat dengan teknologi AI (Artificial Intelligence) dan processor baru BIONZ XR dan AI Processing Unit. Berkat teknologi baru ini, A7R V dapat mendeteksi subjek manusia, hewan, burung, serangga, kendaraan dan kereta api.

[continue reading…]
{ 1 comment }

Lensa telefoto 70-300mm selalu menarik bagi teman-teman pencinta fotografi.. karena lensa ini dapat menjangkau subjek yang jauh seperti untuk foto olahraga, satwa atau candid portrait.

Kali ini saya ingin membahas lensa Tamron 70-300mm f/4.5-6.3 RXD, yang dirancang Tamron untuk Nikon Z. Lensa ini mencakupi sensor full frame, jadinya cocok untuk Nikon Z6,7 dan 9, tapi dapat digunakan juga di Nikon Z bersensor APS-C seperti Z30, Z50 dan Zfc. Saat dipasang di kamera Z50, jangkauan lensa ini akan lebih jauh diakibatkan dengan crop factor 1.5X.

Sebelumnya, Tamron sudah membuat lensa yang serupa untuk Sony E-mount, yang reviewnya sudah tayang di blog & channel YouTube infofotografi.

Kehadiran Tamron ini menjadi angin segar untuk pengguna Nikon Z, karena lensa telefoto semacam ini belum ada dalam portofolio lensa Nikon Z khususnya yang full frame.

Secara desain, lensa ini sangat simple, tidak punya tuas, atau tombol di badan lensanya. Hanya ada zoom dan manual fokus ring. Lensa ini panjangnya sekitar 15 cm, tapi bisa memanjang saat di zoom dan lens hood telah disediakan dalam paket pembelian.

Filter yang digunakan 67mm, mirip dengan sebagian besar lensa Tamron masa kini, dengan berat setengah kilogram, yang menurut saya relatif ringan untuk lensa full frame yang dapat mencapai 300mm.

Bukaan maksimum lensa ini variable, sehingga berubah-ubah saat kita mengubah jarak fokalnya, atau zoomdi 70-100mm f/4.5, 135 f/5, 200 f/5.6, dan di 300 f/6.3

Saya telah mencoba lensa ini dengan kamera Nikon Z7 di dalam dua kesempatan yaitu untuk memotret satwa di kebun binatang dan di pasar dan saya mendapati 300mm di kamera full frame kadang terasa kurang jauh untuk satwa buas. Untungnya kamera Z9 yang punya resolusi tinggi yaitu 45MP memungkinkan cropping tanpa mengurangi kualitas terlalu banyak.

Kelebihan lensa lainnya yaitu sudah dilapisi coating BBAR yang efektif untuk membuat subjek foto tajam di kondisi backlight.  Lensa ini juga bisa close up agak dekat dibandingkan dengan lensa biasa yaitu 80cm, sedangkan lensa tele biasanya sekitar 1 meter.

Bagi yang suka main outdoor juga tidak perlu kuatir karena lensa ini sudah dust & moisture resistant. Dan kalau ada firmware update, juga bisa update via port USB dan software Tamron Lens Utility disini.

Autofokus yang digunakan adalah type RXD, sejenis stepper motor yang dirancang untuk mulus dan cepat saat video, dan tidak berisik. Motor fokus ini terbilang sudah bagus, tapi bukan yang tercepat. Yang lebih cepat lagi untuk subjek yang bergerak sangat cepat dan tidak beraturan adalah type VXD yang biasanya dijumpai di lensa-lensa Tamron kelas atas.

Adapun kelemahan lensa ini adalah tidak memiliki stabilizer di lensa, tapi cukup banyak kamera mirrorless full frame yang memiliki built-in stabilization di body yang akan sangat membantu. Hanya saja kalau dipasang di Nikon Z30/Z50 yang belum punya stabilizer, teman-teman harus lebih berhati-hati.

Kelemahan lain adalah bukaan maksimum di rentang 200-300, relatif kecil (5.6-6.3) sehingga saat memotret di kondisi mendung atau indoor, ISO terpaksa harus agak tinggi, misalnya sekitar ISO 1600. Untungnya kamera sekarang ISO tingginya cukup bagus dibandingkan dengan era DSLR.

Untuk bokeh / latar belakang blur, karena jarak fokal lensa-nya cukup tele, meski bukaan maksimum lensa ini tidak besar-besar sekali, tapi kita masih dapat memisahkan subjek foto dari latar belakangnya.

Secara keseluruhan, kualitas lensa ini dari segi fisik maupun kualitas hasil saya nilai baik saat dipasangkan di Nikon Z9. Hasilnya cukup tajam dan detail saat digunakan direntang 70-200-an. Harga resmi lensa ini saat saya review adalah Rp11.2 juta dan jika Anda berminat membeli, infofotografi dapat membantu. Silahkan hubungi kami di WA 0858 1318 3069.

Saksikan dan lihat hasil gambar Tamron 70-300mm for Nikon Z selengkapnya di YouTube infofotografi.com
{ 0 comments }

Saat kami kedatangan lensa tele baru dari Tamron dengan rentang fokal mulai dari 50mm, berakhir di 400mm dengan rentang aperture yang masih cukup besar f/4.5-6.3 dan bonus ada VC, tentu menggoda bagi saya untuk mencobanya. Lensa dengan E-mount dan mencakup sensor full frame ini bahkan akan semakin tele bila dipasang di Sony APS-C karena crop factor, dan menjadi 75-600mm, dengan dimensi dan bobot yang masih relatif nyaman untuk dibawa-bawa. Saya pun mencoba lensa di di bodi Sony A7 III dan menjajal untuk memotret harimau di Ragunan.

Lensa Tamron 50-400mm f/4.5-6.3 VC ini sendiri dijual di harga 20 juta, termasuk lensa kelas atas yang artinya punya kualitas optik terbaik dari Tamron, juga motor fokus gesit VXD, dan bulit-quality premium yang dilengkapi dust & moisture resistance. Diameter filternya 67mm, dapat flower shape hood, dan bisa fokus dekat hingga 0.26 meter (di fokal 50mm) juga menjadi info tambahan yang bisa saya ceritakan di awal.

Rentang fokal 50-400mm menurut saya benar-benar enak. Kita bisa ambil foto dengan perspektif normal (bukan tele) untuk kebutuhan potret, dokumentasi dan foto produk. Tanpa ganti lensa, kita bisa masuk ke teritori telefoto seperti 100mm, 200mm hingga 400mm yang bakal membantu untuk foto candid, satwa, olah raga dan sebagainya. Dengan adanya VC, kita juga bisa ambil foto dengan shutter agak lambat, misalnya 1/50 detik, untuk mengkompensasi bukaan lensa yang tidak terlalu besar.

Urusan auto fokus juga cepat, karena motor fokus VXD di lensa Tamron itu setara dengan motor fokus di lensa elit Sony, yang cocok untuk foto aksi cepat yang bergerak maju mundur. Ada tuas preset fokus di lensa yang bisa diprogram melalui Tap-in console, terhubung via USB port lensa. Di sisi kiri lensa juga ada satu tombol yang bisa diprogram untuk beberapa fungsi misalnya untuk AF-on, diatur melalui menu kamera. Secara umum saya menyukai lensa ini dan berharap Tamron juga akan membuat lensa ini dalam mount lain seperti Nikon Z dan Fuji X.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Lensa Tamron 20-40mm f/2.8 ini termasuk lensa yang tidak biasa/unik karena jarak fokalnya. tidak lebar sekali, seperti 16-35mm, tapi juga tidak panjang/telefoto. Lensa ini dirancang khusus mencakupi bidang sensor full frame seperti seri Sony A7.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Review kamera di ponsel Xiaomi 12 Pro

Saya beruntung telah mencoba Xiaomi 12 Pro dari beberapa bulan lalu. Ponsel ini sudah saya bawa seputar Jakarta, kepulauan seribu dan juga pulau Batam. Maka itu, kita punya banyak contoh foto untuk review kali ini. Saat diluncurkan awal tahun ini, Xiaomi 12 Pro ini termasuk salah satu ponsel kelas atasnya Xiaomi.

Desain kamera ini tergolong premium, bahan dan finishingnya bagus, ponselnya sendiri terasa kokoh dengan layar yang luas, 6.7 inci dan cerah. Warna yang tersedia untuk ponsel ini yaitu hitam, ungu dan abu-abu. Yang saya review kali ini adalah warna ungu, mungkin tepatnya ungu muda.

Di bagian belakang ponsel, modul-modul kamera tersusun rapi di bagian kiri atas. Seperti yang kita lihat, ponsel ini punya beberapa modul kamera:  modul utamanya bersensor relatif besar yaitu 1/1.28″ dengan resolusi 50MP dan bukaan  f/1.9.

Modul kedua yaitu modul ultrawide 50MP f/2.2 dan yang ketiga telefoto 48mm f/1.9 dengan sensor yang lebih kecil. Penggunaan sensor 50MP untuk ketiga kamera cukup menarik, karena di ponsel lain biasanya resolusinya berbeda-beda. Tapi output fotonya secara default adalah 12MP.

[continue reading…]
{ 2 comments }

Di bulan September 2022 ini, Sigma merilis dua lensa fix wide angle berbukaan besar 20 dan 24mm f/1.4. Kedua lensa ini tersedia untuk dua jenis mount, L-mount dan Sony E-mount. Untuk review kali ini, saya memasang kedua lensa ini di kamera Leica SL langsung tanpa adapter.

Sekilas, kedua lensa ini mirip dan memiliki bahasa desain yang sama. Desain baru ini kemungkinan adalah pengamatan Sigma dan feedback yang diberikan oleh fotografer, terutama fotografer landscape dan khususnya fotografer astrophotography.

ISO 200 f/8, 3 detik, 24mm
Crop dari foto diatas

Lensa 20 dan 24mm ini dirancang dari nol untuk sistem kamera mirrorless. Jadinya ukurannya tidak sebesar lensa DSLR dan tidak terlalu berat. Dibandingkan lensa zaman DSLR, lensa 20mm kini memiliki filter thread 82mm, kalau versi dulu cembung sehingga sulit pasang filter. Sedangkan yang 24mm berfilter thread 72mm.

Kedua lensa juga bisa dipasang filter di bagian belakang lensa, hal yang mungkin sepele tapi bagi fotografer astrophotography mungkin banyak gunanya. misalnya meletakkan filter untuk mengurangi polusi cahaya dan di bagian belakang filter untuk melembutkan.

Lens hood juga termasuk dalam paket pembelian lensa. Lens hood ini memiliki tombol untuk lock dan unlock.
Sebagai lensa yang ditujukan untuk profesional di lapangan, lensa ini sudah weathersealed, atau istilah Sigma, dust splash proof.

Saya juga sempat mencoba lensa 24mm untuk portrait casual, dan mendapati kualitas di f/1.4 juga sangat tajam. kemungkinan lensa lebar ini cocok juga untuk foto portrait atau prewedding  misalnya, yg latar belakangnya lebar.

Mungkin kelemahan utama kedua lensa ini adalah vinyeting saat menggunakannya di bukaan f/1.4, tapi hal tersebut bukan masalah besar dan umum untuk lensa-lensa bukaan besar yang bisa dikoreksi dengan software.

Dengan bukaan yang begitu besar dan juga lebar, kedua lensa ini sangat baik untuk astrophotography karena kedua lensa ini dapat menghasilkan foto yang tajam sampai ke tepi foto dan titik-titik bintang tidak menjadi lonjong. istilah fotografinya coma.

Hadirnya kedua lensa ini menunjukkan bahwa Sigma sangat memperhatikan detail, dan selain fisiknya yang bagus, optiknya juga sangat tajam, tercermin dari kualitas hasil fotonya di bukaan berapapun. Fitur-fitur baru seperti mekanisme kunci menunjukkan bahwa Sigma peduli dengan masalah fotografer di lapangan dan menurut hemat saya, kedua lensa ini pantas berada di dalam tas fotografer profesional.

Link Promo pembelian kedua lensa ini via Blibli : https://invl.io/cle4oo6

Saksikan review ini di YouTube infofotografi
{ 0 comments }

Review VIVO X80 PRO

VIVO X80 Pro adalah ponsel flagship dari VIVO, penerus X70 Pro yang pernah saya review di sini. Dari fisiknya, terlihat ponsel ini mewah, layarnya besar, 6.7 inci, tanpa tepi dan melengkung ke sisi, memberikan kesan layar tanpa batas.

Yang saya review kali ini adalah X80 Pro yang berwarna Cosmic Black. Di bagian belakang ponsel ini  finishing-nya halus, sedikit bertekstur, jika terkena sinar, terlihat agak sedikit berkilau .

Di bagian belakang atas, ada modul-modul kamera disusun dalam panel berbentuk lingkaran, berbeda dengan X70 yang berbentuk persegi panjang. Panel ini sedikit menonjol keluar dari body ponsel.

Empat modul lensa di ponsel ini diantaranya:

  • Modul utama dengan resolusi 50MP f/1.57 1/1.3 inci,
  • Lensa ultrawide dengan 48MP f/2.2 sensor 1/2 inci
  • Lensa standar 50mm dengan sensor 1/2.93″
  • Periscope telefoto dengan resolusi 8MP f/3.4 dan sensor 1/4.4″

Pada dasarnya, kombinasi kamera di X80 Pro ini mirip dengan X70 Pro+

Modul utama kamera ini memiliki lensa sekitar 26mm yang biasanya akan banyak digunakan. Meskipun diatas kertas memiliki sensor 50Mega pixel, tapi default di kameranya akan menghasilkan output file 12 MP, kecuali kita pilih mode resolusi tinggi. Dalam percobaan saya, lebih baik menggunakan versi default karena gambar akan lebih bebas dari pola2 artefact dan noise terutama di bagian gelap pada foto.

[continue reading…]
{ 2 comments }

Mencoba singkat lensa FujiFilm XF 150-600 f/5.6-8 OIS

Pada artikel ini saya ingin berbagi sedikit pengalaman dalam memakai lensa telefoto baru dari FujiFilm yaitu XF 150-600m f/5.6-8 R OIS WR. Lensa dengan berat 1,6kg ini saya pasang ke kamera Fuji X-H2s dan dicoba selama 2 hari di pulau Tidung, Kepulauan Seribu DKI Jakarta. Bagi Fuji sendiri, adanya lensa super telefoto ini semakin melengkapi koleksi jajaran lensa kelas pro mereka, dan lensa ini ditujukan untuk para fotografer aksi cepat atau yang suka memotret satwa liar termasuk birding.

Saya membawa lensa Fuji XF 150-600mm dengan bodi X-H2s

Di pulau Tidung saat saya datang kesana, sedang relatif sepi. Jadi yang bisa saya coba dari lensa ini adalah untuk mencari tahu ketajaman optiknya (yang terdiri dari 24 elemen dalam 17 grup), kemampuan stabilisasi OIS, lalu bagaimana auto fokusnya yang sudah dibantu dengan motor fokus terbaru versi linear. Foto-foto yang bisa saya ambil lebih kepada kegiatan penduduk setempat termasuk nelayan. Adapun usaha saya untuk dapat foto birding tidak berhasil karena disana ternyata jarang ada burung-burung laut yang biasanya terbang di sekitar pantai.

Lensa XF 150-600mm ini sendiri tetap dirancang untuk sensor APS-C, jadi agak beda misalnya dengan lensa full frame, dalam arti walaupun dia sudah masuk ke super tele tapi masih relatif tidak terlalu besar, dan panjangnya yang sekitar 30 centimeter masih termasuk okay. Fokal 150-600mm ini bahkan di full frame saja sudah wow, tapi di sistem Fuji lensa ini memang ditujukan untuk mencover ekuivalen 230-900mm yang bahkan lebih wow lagi, subyek yang jauh pun tidak bisa lolos dari tangkapan lensa panjang ini. Dari aperture nya bisa dimengerti kalau lensa ini haus akan cahaya, bayangkan f/5.6 saja sudah agak kecil, apalagi f/8 saat di zoom lagi, pasti butuh cahaya matahari yang terang atau terpaksa menaikkan ISO cukup tinggi (bahkan sangat tinggi bila suasana sekitar mulai redup). Melambatkan shutter speed bisa dicoba, khususnya kalau subyeknya cenderung diam, supaya ISO jangan terlalu tinggi. Untungnya lensa ini punya OIS yang memang sangat diperlukan pada fokal lensa yang panjang seperti ini.

Dari kesan pertama saya, lensa ini memang solid dan mantap secara fisik, bobotnya pas dan masih bisa dipakai handheld (tanpa monopod), lalu kinerja AF terasa cepat dan halus (senyap), dan stabilisasi optik terlihat bagus (tidak shake di saat live view juga). Dari warna lensa, tidak hitam seperti lensa Fuji pada umumnya, saya menduga karena Fuji ingin lensa ini juga bisa konsisten performanya saat dipakai di outdoor yang panas (karena hitam akan menyerap panas lebih banyak). Saya terkesan dengan ketajaman, kontras dan hasil dari lensa XF 150-600mm ini, khususnya pada area fokal yang banyak dipakai seperti dari 150-400mm, dan diatas itu hasil foto akan mulai terganggu oleh atmospheric haze karena memotret subyek yang terlalu jauh. Di lensa ini juga ada selektor area fokus, apakah mau bisa memfokus dekat (2,4 meter adalah jarak fokus terdekat) atau mau diubah ke 5m supaya bisa makin gesit AF-nya untuk foto burung misalnya. Di lain waktu, kalau ada kesempatan mencoba lensa ini lagi, saya akan tes untuk birding di lokasi lain yang lebih sesuai. Tapi impresi saya di awal ini memang kagum dengan lensa APS-C yang dibuat sangat serius ini, sesuatu yang bila di sistem kamera lain, pengguna kamera APS-C nya harus memakai lensa dalam wujud lensa full frame yang lebih besar dan berat.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Review Fujifilm XF 56mm f/1.2 R WR

Bersama dengan Fujifilm XH2, Fuji merilis lensa baru yaitu Fujinon XF 56mm f/1.2 R WR. Lensa ini adalah pembaharuan dari lensa Fujinon 56mm keluaran 2014 yang lalu. Dari fisiknya, lensa baru ini lebih besar dan berat. Diameter filter bertambah dari 62 ke 67mm. Berat dari 405 ke 445gram.

Fujinon 56mm f/1.2 WR dipasang di Fujifilm X-H2

Di sisi positifnya, lensa ini lebih tajam, siap untuk kamera beresolusi besar. Jarak fokus minimumnya juga mengalami peningkatan, dari 70cm menjadi 50cm. Jarak fokus minimum ini termasuk dekat untuk lensa ekuivalen 85mm yang biasanya sekitar 80cm.

Biasanya, 56mm f/1.2 ditujukan untuk fotografer portrait karena kemampuannya membuat latar belakang blur, tapi kali ini saya mencobanya untuk memotret berbagai hal yang berbeda.

ISO 160 f/5.6 1/950, X-H2S
Crop dari foto diatas
[continue reading…]
{ 0 comments }

Sesuai yang dijanjikan Fujifilm di bulan Juni 2022 yang lalu, Fujifilm X-H2 akhirnya diumumkan tgl 8 September 2022 di Fujifilm X-Summit New York.

Infofotografi beruntung dapat menguji foto sebelum global launching. Secara fisik, Fujifilm X-H2 identical dengan X-H2S, yang berbeda hanyalah label yang terletak di bagian kiri belakang kamera, dan yang X-H2S memiliki tulisan S di bagian depan kamera.

X-H2 dirancang oleh Fujifilm sebagai kamera kelas atas (flagship) atau profesional yang membutuhkan kamera beresolusi tinggi. Fujifilm X-H2 yang bersensor APS-C ini, bisa memotret 40mp dan video sampai dengan 8k 30p, 4k 60p atau full hd 240p untuk slow mo.

Saksikan pengalaman mencoba kamera Fujifilm X-H2 dan hasil fotonya di YouTube infofotografi
[continue reading…]
{ 4 comments }