≡ Menu

Tips memilih kamera untuk travel atau jalan-jalan

Sebelum saya membahas tentang jenis kamera yang cocok untuk travel, kita harus tau apa saja kriteria kamera travel yang bagus. Pertama, kamera tersebut harus bisa menghasilkan kualitas gambar yang bagus. Jika tidak sayang sekali jika sudah traveling jauh-jauh tapi hasil gambarnya kurang memuaskan.

Kedua adalah soal ukuran dan bobot kamera. Kamera & lensa yang terlalu besar dan berat tentunya akan menjadi beban, saat menjadi beban, kita menjadi tidak enjoy, cepat capai sehingga harus sering beristirahat, dan saat memotret, komposisi foto menjadi jadi kurang baik dan semangat kita berkurang. Memang bobot kamera relatif tergantung dari fotografernya. Jika fotografernya tinggi besar dan kuat, kamera 1-2 kg mungkin baginya masih enteng. Tapi kalau misalnya yang tidak biasa, sebaiknya memilih kamera yang lebih ringan.

Ketiga, kita harus tau juga kita travel di kondisi apa, kalau kita travel di kondisi ekstrim seperti suhu yang sangat rendah misalnya -20 °C  atau di kondisi yang sangat berdebu dan sering badai hujan, maka sebaiknya mempersiapkan kamera dan lensa yang punya weathersealing yang bagus supaya kameranya tidak rusak atau macet saat digunakan di lapangan.

Topik ini juga bisa disaksikan di Youtube Infofotografi dengan contoh gambar

[continue reading…]
{ 2 comments }

Bagi teman-teman yang mencari kamera dibawah 10 juta di tahun 2019 & 2020, tentunya akan ketemu Sony A6000 dan Canon M50. Kedua kamera ini memang sudah diluncurkan beberapa tahun lalu, tapi masih worth it digunakan saat ini.

Sekilas mungkin harganya tidak banyak berbeda, tapi dari fiturnya, banyak perbedaan. Yang perlu kita perhatikan adalah, Canon M50 jauh lebih baru daripada A6000. M50 diluncurkan Maret 2018, sedangkan A6000 sudah lebih lama, yaitu Februari 2014, jadi kedua kamera ini terpaut 4 tahun, waktu yang cukup lama di dunia kamera. Jadi tidak heran kalau M50 yang lebih baru, lebih canggih fiturnya.

[continue reading…]
{ 3 comments }

Sepuluh Lensa Terbaik 2019 versi infofotografi

Di tahun 2019, ini, banyak sekali lensa yang diumumkan, baik dari produsen kamera seperti Canon, Nikon, Sony maupun pihak ketiga seperti Sigma dan Tamron. Di artikel kali ini, kami memilih sepuluh lensa yang menarik perhatian kami dari sisi keunikan dan terobosan teknologinya.

Lensa-lensa tersebut antara lain:

Tamron 35-150mm f/2.8-4 Di VC OSD

Lensa untuk DSLR ini dibuat oleh Tamron dengan kode ‘Di’ yang artinya punya cakupan sensor full frame, yang memberi rentang fokal serbaguna dari 35mm (masih cukup lebar) hingga 150mm (cukup tele). Bila lensa ini dipasang di sensor APS-C maka fokalnya akan setara 50-200mm yang juga akan menarik karena seperti lensa tele zoom pendek. Lensa ini sudah dilengkapi stabilizer VC dan auto fokus yang cukup oke dan senyap dengan teknologi motor OSD.

Tamron 35-150mm f2.8-4 Di VC OSD

Sony FE 600mm f/4 GM OSS

Lensa super-tele G Master dari Sony yang satu ini merupakan terobosan desain baru yang berhasil membuat satu lensa telefoto 600mm yang beratnya hanya 3,04 kg saja sementara lensa sejenis dari merk lain umumnya beratnya hampir mencapai 4 kg. Lensa weathersealed ini akan cocok dipakai memotret satwa liar ataupun liputan olahraga yang cepat di lingkungan ekstrim sekalipun.

Sony FE 600mm f/4 GM OSS

Tamron 17-28mm f/2.8 Di III RXD

Tamron akhirnya membuat berbagai lensa untuk mirrorless yaitu dengan E-mount untuk Sony, dan salah satu yang menarik di tahun ini adalah hadirnya Tamron 17-28mm f/2.8 RXD yang menjadi alternatif menarik untuk pengguna Sony A7 yang mencari lensa ultra lebar dengan bukaan besar. Dengan rentang fokalnya yang pendek (berakhir di 28mm) maka Tamron justru berhasil membuat lensa ini cukup kecil dan ekonomis, yaitu 420 gram saja (diameter filter 67mm).

Tamron 17-28mm f/2.8 Di III RXD

7Artisans 75mm f/1.25

Lensa 7Artisans 75mm f/1.25 adalah lensa manual, dengan berbagai opsi mount misalnya Leica M-mount, yang punya kelebihan di bukaan besarnya f/1.25 pada fokal lensa fix 75mm. Lensa ini tentu cocok untuk potret dan dengan bukaan besar memang perlu pengaturan manual fokus yang teliti. Kelebihan lensa ini adalah pada bokehnya. Fisik lensa ini cukup berat karena terbuat dari logam yaitu 608 gram dengan diameter filter 62mm.

[continue reading…]
{ 1 comment }

Review kamera mirrorless Canon EOS M6 II

Canon tahun ini merilis kamera mirrorless generasi kedua dari EOS M6 dengan membawa sejumlah peningkatan seperti di sensor, kecepatan dan video 4K. Untuk pertama kalinya sebuah sensor APS-C kini mampu mencapai resolusi gambar 32 MP atau 6960×4640 piksel, setiap file JPG-nya ukurannya bisa melampaui 10 MB.

Canon EOS M6 II

Secara fisik EOS M6 II ini tampak ada kemiripan desain dengan sebelumnya, meski dari dimensi lebih besar, dan lebih berat dari M6 lama. Layar LCD masih mengusung desain lipat atas bawah dan bisa dilipat menghadap depan untuk vlogging. Urusan jendela bidik juga masih sama, artinya kamera EOS M6 memang tidak ada jendela bidik tapi bisa memasang jendela bidik opsional pada dudukan hot-shoe. Permukaan bodinya kini berbalut tekstur karet yang lembut dan mantap untuk digenggam.

Tombol DIAL FUNC di atas kini lebih fungsional

Perbedaan paling terlihat dari EOS M6 generasi kedua dengan sebelumnya adalah pada bagian kanan atas, bila dulu disitu terdapat roda kompensasi eksposur, maka kini diganti menjadi tombol DIAL FUNC seperti di EOS M5. Sedangkan pada mode dial ditemukan mode baru Flexible Priority (Fv) yang sebelumnya dijumpai di mirrorless EOS R.

Dalam mode Fv, dan tombol Dial Func diputar

Dari segi jeroannya, EOS M6 II yang sudah dibekali prosesor Digic 8 ini menjadi mirrorless Canon pertama yang bisa merekam video 4K full sesuai lensanya tanpa crop, dan dengan Dual Pixel AF yang tetap berfungsi.

[continue reading…]
{ 16 comments }

Review tas kamera trolley Vanguard AltaFly 55T

Tas kamera Vanguard AltaFly adalah tas kamera yang dapat memuat multi gears (kamera, lensa, drone, aksesoris), dan bisa beradaptasi sesuai kebutuhan fotografernya. Secara bentuk, Vanguard AltaFly ini seperti perpaduan tas ransel/backpack dengan tas koper trolley.

Desain tas ini termasuk inovatif dan unik, sampai dapat penghargaan dari TIPA dan Lucie Awards. Apa saja keunggulannya?

1. Bisa sebagai tas ransel atau trolley

Saat digunakan saat transit, seperti di airport, stasiun atau terminal, mengangkat tas dengan gear yang berat tentunya akan sangat menguras tenaga. Untunglah tas ini sudah dilengkapi dengan empat roda. Dan saat bertemu dengan permukaan jalan yang tidak rata, seperti tangga atau jalanan yang berbatu-batu, tas ini bisa dipanggul seperti tas ransel.

2. Muat di cabin pesawat

Altalfy 55T ukurannya sangat pas dibawa untuk naik pesawat. Tidak kebesaran dan tidak kekecilan, cocok bagi fotografer yang sering foto ke luar kota atau negeri.

3. Akses gear dari atas

Biasanya, tas kamera yang berbentuk trolley menyulitkan fotografer untuk mengakses gearnya dengan cepat. Fotografer harus membuka keseluruhan tas untuk mengambil kamera. Di tas ini, kita bisa membuka tas bagian atas saja dan mengambil kamera dan lensa utama secara langsung.

4. Keamanan

Keamanan gear merupakan prioritas desainer tas Vanguard (yang sebagian adalah mantan desainer merk tas KATA). Vanguard mengikutsertakan gembok untuk mengunci kompartemen utama. Bagian bawah tas ini dilengkapi dengan bahan berkualitas yang tahan gores dan air. Untuk yang motret ditengah hujan deras, tersedia raincover.

Jaring pelindung di dalam tas akan menyulitkan orang lain untuk mengakses gear saat traveling, dan mencegah isi tas untuk jatuh keluar saat dibuka dalam posisi berdiri tegak.

5. Detail

Sebagai tas kamera trolley, banyak fitur-fitur kecil yang sangat membantu. Misalnya ada cover khusus untuk untuk dua roda belakang (wheel cover), sehingga saat dipakai sebagai backpack, roda yang kotor tidak mengotori pakaian.

Akses ke aksesoris itu penting bagi fotografer di lokasi pemotretan, tas ini menyediakan banyak kantong dan tali luar untuk memudahkan akses dan menyimpan aksesoris kecil atau alat tulis.

Handle tas juga ada dari atas dan samping, sayangnya tidak di bagian bawah yang lumayan membantu untuk menarik tas saat disimpan di atas cabin pesawat.

Saksikan Video tas kamera ini di Youtube Infofografi di bawah:

[continue reading…]
{ 2 comments }

Tgl 12 Desember 2019, Leica mengumumkan dua produk baru yaitu lensa Leica M 90mm f/1.5 Summilux ASPH. Lensa manual fokus ini dirancang untuk optimal di bukaan yang terbesarnya, baik fokus dekat maupun jauh, baik di area tengah foto atau di sudut foto.

oleh Eolo Perfido

Sepertinya, lensa ini dirancang untuk penggemar foto portrait dan penggemar bokeh, karena ruang tajamnya sangat tipis, lebih tipis dari lensa legendaris Leica M Noctilux 50mm f/0.95.

Selain cocok dipasang di kamera Leica M, lensa 90mm f/1.5 ini juga sangat cocok di kamera Leica SL (dengan adaptor), karena manual fokus dengan jendela bidik resolusi tinggi akan sangat memudahkan untuk mendapat fokus yang akurat.

[continue reading…]
{ 4 comments }

Liburan akhir tahun segera datang, tentunya bagi penggemar fotografi mungkin ingin mencari kamera full frame mirrorless yang oke buat travel, yang fiturnya lumayan lengkap dan multi fungsi tentunya banyak yang mempertimbangkan Sony A7III dengan Nikon Z6.

Secara umum, kedua kamera memang ada kemiripan: Sama-sama 24MP full frame dan mirrorless. Bentuk dan beratnya juga ada kemiripan. Tapi jika kita telaah lebih rinci, keduanya punya banyak perbedaan.

Keunggulan Nikon Z6

Secara fisik dan desain antarmuka, Nikon Z6 lebih bagus, contohnya jendela bidik dan layar LCD-nya beresolusi lebih tinggi (viewfinder 3.69 juta vs 2.3 juta titik, LCD 2.1 juta vs 900rb titik) jadi melihat gambar dan me-review gambar jadi lebih nyaman dan detail.

Nikon Z6 dengan FTZ adaptor untuk memasang lensa DSLR Nikon (F-mount lens)
[continue reading…]
{ 7 comments }

Dua tahun belakangan ini, 7Artisans sangat aktif dalam membuat lensa-lensa manual fokus untuk kamera mirrorless dan Leica M. Awalnya, 7Artisans membuat lensa-lensa berukuran kecil untuk APS-C, seperti 35mm f/1.2 yang pernah saya review di artikel ini.

Selanjutnya 7Artisans membuat lensa-lensa untuk full frame juga. Yang paling menarik bagi saya adalah 7Artisans 28mm f/1.4, 50mm f/1.1 dan 75mm f/1.25. Karena kedua lensa tersebut memiliki bukaan yang sangat besar, tapi ukuran dan harganya bisa dibilang relatif kecil dan murah.

Pilihan 7Artisans untuk membuat mount lensa Leica M juga menarik, karena lensa-lensa dengan mount Leica M dapat dipasang dengan mudah ke kamera mirrorless Sony, Canon, Nikon, dll dengan adaptor. Kali ini, saya ingin membahas tentang lensa 75mm f/1.25, yang menurut saya sangat menarik dan unik.

Saya menguji lensa ini dengan mengunakan kamera Leica SL dengan adaptor M ke L-mount untuk foto portrait di beberapa kesempatan di luar ruangan dan di dalam studio.

Built Quality

Kualitas fisik dari lensa ini sangat baik, hampir seluruh casing lensa terbuat dari logam, dengan gelang diafragma dan fokus. Oh ya, lensa ini manual fokus (tidak ada autofokus). Gelang diafragmanya ada click-nya, dan bisa dipilih dalam jarak 1 stop contohnya dari f/1.25 ke f/1.4, lalu ke f/2, f/2.8 dst.

Karena terbuat dari logam, lensa ini memiliki berat yang lumayan, yaitu 608 gram. dengan filter 62mm dan 7.26cm, bisa dibilang fisiknya tidak terlalu besar, tapi tidak bisa dibilang ringan atau compact juga.

Fotografer yang memilih mengunakan lensa ini biasanya terbagi dalam dua golongan. Golongan pertama adalah yang suka bokeh yang maksimal (latar belakang blur yang halus) tapi tidak ingin membeli lensa yang terlalu mahal. Yang kedua adalah fotografer yang mencari karakter lensa seperti di era film karena lensa ini secara optiknya belum sesempurna lensa masa kini.

[continue reading…]
{ 3 comments }

Mengapa Sony unggul dan Fujifilm harus waspada?

Di artikel sebelumnya tentang Olympus dan Nikon, saya membahas bahwa perusahaan yang unggul adalah yang memiliki pabrik untuk membuat sensor gambar sendiri untuk divisi kameranya. Di artikel ini saya akan lebih dalam menjelaskan mengapa dan apa signifikannya.

Kenapa kemampuan membuat sensor penting? Dengan kemampuan membuat sensor sendiri, Sony mendapatkan competitive advantage dengan mengetahui lebih dulu teknologi sensor yang akan dan sedang dibuat, sehingga dapat mempersiapkan lebih awal dalam hal hardware (pengembangan processor kamera, lensa) dan juga softwarenya.

Perusahaan lain seperti Nikon, Fuji, Olympus dll yang memesan image sensor ke Sony atau ke pabrikan lainnya akan mengalami perlambatan minimum 6 bulan untuk desain, produksi, modifikasi sensor sesuai kebutuhan dan kompatibilitas ke lensa-lensanya. Pada kenyataannya, saya menemukan banyak perusahan kamera yang ketinggalan 10 bulan atau bahkan satu tahun. Enam bulan sampai setahun adalah waktu yang lama, saat kamera tersebut diluncurkan pun, terasa teknologinya sudah usang.

[continue reading…]
{ 7 comments }

Review kamera mirrorless entry level : Canon EOS M200

Kamera mirrorless Canon paling basic, yaitu EOS M100, akhirnya mendapat penerusnya di akhir tahun 2019 yang bernama EOS M200. Hadir dengan fisik luar yang nyaris sama dengan sebelumnya, EOS M200 membawa beberapa peningkatan yang lebih ke internal yaitu prosesor baru Digic 8 yang membuatnya bisa merekam video 4K dan auto fokus deteksi mata (Eye AF).

Canon EOS M200

Secara spesifikasi, kamera entry level Canon ini sudah memenuhi tiga harapan dasar akan sebuah kamera yaitu sensor yang besar (disini dia pakai APS-C 24MP), auto fokus yang cepat (sudah Dual pixel AF khas Canon) dan mudah dipakai (dengan implementasi layar sentuh dan menu yang mudah dipahami). Memang di EOS M200 tidak ditemui jendela bidik, atau flash hot shoe, dan bahkan di bodinya tidak ada grip untuk tangan kita menggengam kamera. Tapi semua itu dimaksudkan untuk menjaga ukuran kamera ini seringkas mungkin, nyaris mirip dengan kamera saku, tapi bisa berganti lensa.

Bagian belakang M200 dengan layar lipat dan touchscreen

Bagian yang juga menarik dari EOS M200 adalah layarnya, yang bisa dilipat ke atas untuk fotografi dalam angle rendah, tapi yang lebih oke lagi adalah layarnya bisa dilipat ke depan menghadap kita, cocok untuk selfie maupun membuat vlog. Sesuai kebutuhan media sosial, kini video yang diambil dengan M200 bisa secara vertikal dan hasilnya pas bila diunggah ke IGTV misalnya.

Salah satu scene mode yang bakal disukai : Self portrait
[continue reading…]
{ 2 comments }