≡ Menu

Nikon Z30, kamera APS-C Z-mount paling terjangkau

Hari ini secara global diumumkan kehadiran kamera mirrorless dari Nikon dengan Z-mount yang memakai sensor APS-C dan secara posisi ada di bawah dari Z50 dan ZFc, yaitu Nikon Z30 dengan bandrol harga US$ 850 termasuk lensa kit 16-50mm DX. Nikon menyatakan kalau kamera ini ditujukan kepada vlogger dan pembuat konten, dengan ciri kameranya kecil tapi dibekali fitur-fitur dasar untuk membuat vlog seperti video 4K, LCD lipat, mic input dan ada lampu tally untuk tanda sedang merekam video. Yang absen di kamera sekecil ini adalah… jendela bidik. Jadi teringat dengan Sony ZV-E10 ya?

Nikon Z30 dengan lensa DX 16-50mm VR

Langsung saja, yang menarik dari kamera Nikon Z30 ini adalah fakta akhirnya Nikon juga membaca tren masa kini, sehingga desain kameranya dibuat lebih ringkas tanpa hal-hal yang dipandang kurang perlu untuk kebutuhan video (meski jendela bidik juga kadang diperlukan dalam merekam video). Fakta menarik lainnya, inilah kamera Nikon mirrorless termurah yang ada, barangkali ada yang ingin mencicipi sistem kamera Z-mount tapi masih merasa Z50 diluar budget mereka.

Layar 3 inci lipat, tombol Fn1 dan Fn2, roda dial depan dan lampu tally di bawah logo Nikon

Kalau dari sisi fitur dan spesifikasi sebetulnya relatif standar saja, dengan sensor 21 MP APS-C yang bisa merekam video 4K 30 fps tanpa crop dan tanpa batasan waktu. Kemampuan ISO hingga 51200, ada 209 titik fokus untuk deteksi fasa, layar 3 inci yang punya 1 juta dot, masih ada flash hotshoe, bisa memotret secepat 11 fps burst dan baterai 300 kali jepret. Kabar baiknya, selama disupply daya listrik via USB-C, kamera ini bisa dinyalakan dan dipakai untuk merekam video tanpa merisaukan soal baterai. Cocok untuk merekam video lama, sambil pasang powerbank misalnya.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Voigtlander 50mm f/1 untuk Leica M Review

Awal Januari 2022, pencinta lensa Voigtlander dikejutkan oleh lensa baru yang memiliki bukaan yang sangat besar, yaitu Voigtlander 50mm f/1, menggantikan posisi 50mm f/1.1 dan f/1.2 sebagai lensa bukaan terbesar. Dengan desain optik baru dengan elemen aspherical, Voigtlander menjanjikan kualitas optik yang modern dengan kualitas yang makin bagus.

Tergolong dalam keluarga lensa NOKTON, 50mm f/1 cocok digunakan untuk di gunakan di kondisi cahaya low-light seperti malam hari atau di dalam ruangan. Karena bukaannya yang sangat besar, ia dapat menerima dua kali lipat cahaya lebih banyak daripada lensa f/1.4 dan empat kali lipat daripada f/2. Akibatnya gambar lebih jernih di kondisi gelap karena fotografer tidak perlu menggunakan ISO yang terlalu tinggi.

Desain lensa

Desain lensa ini seperti lensa Voigtlander pada umumnya yang mengikuti pola desain lensa manual tahun 70-an dengan aperture ring yang memiliki pemberhentian setiap 1/2 stop dan berbahan logam. Lensa ini memiliki panjang hanya 5.5cm dan saat manual fokus agak memanjang saat di fokus ke jarak dekat. Secara umum, lensa ini lebih pendek kurang lebih 2 cm dibandingkan lensa Leica Noctilux 50mm f/0.95.

Kualitas gambar

Saya berkesempatan mencoba lensa ini dengan dipasang ke kamera Leica SL dengan adaptor. Dengan jendela bidik beresolusi tinggi dan handling kamera yang mantap, tidak ada kesulitan yang berarti untuk mendapatkan fokus yang akurat untuk foto portrait.

Kualitas gambar lensa di bukaan terbesarnya (f/1) tidak mengecewakan, ketajaman dan kontrasnya masih tinggi. Hanya saja saya mengamati ada sedikit CA (Chromatic Aberration) saat memotret di kondisi yang kontras. Dalam pengujian saya untuk foto portrait, saya tidak menemukan masalah.

Lensa ini bisa fokus dengan jarak minimum 90cm, tidak tergolong dekat, namun cukup membuat latar belakang yang jauh terlihat sangat blur di bukaan f/1.

Crop dari foto diatas menunjukkan ketajaman dan CA di situasi cahaya kontras

Kelebihan, kelemahan dan Rekomendasi

Kelebihan utama lensa ini dibandingkan dengan lensa bukaan besar lainnya adalah ukurannya yang relatif compact, kualitas foto tajam dan kontrasnya cukup tinggi. Casing lensa terbuat dari logam dan sudah disertai dengan lens hood yang terbuat dari logam juga.

Kelemahan utama lensa ini yang saya rasakan adalah vinyet di f/1 akan sangat terasa terutama saat memotret pemandangan di hari yang cerah. Selain itu lensa ini adalah lensa manual fokus yang sedikit merepotkan saat memotret, tapi keuntungannya lensa manual fokus lebih jarang rusak dan mudah diadaptasikan ke kamera mirrorless dengan adapter yang sesuai.

Harga lensa ini Rp 25 juta. Nilai yang cukup tinggi jika kita bandingkan dengan lensa dengan bukaan yang lebih kecil, tapi jika dibandingkan dengan lensa Leica Noctilux 50mm f/1 atau f/0.95 yang baru, lensa Voigtlander ini jadi relatif terjangkau. Apalagi lensa ini menggunakan formula yang lebih modern sehingga hasil foto terlihat lebih tajam dan kontras daripada kedua lensa yang saya sebutkan diatas.

Voigtlander juga memiliki 50mm f/1.2, yang harganya hampir etengahnya saja di Rp 16 jutaan. Bagi yang tidak membutuhkan sampai f/1, mungkin f/1.2 merupakan alternatif pilihan yang sangat baik juga. Tapi kalau takut penasaran, silahkan langsung ke f/1.

tonton reviewnya di YouTube infofotografi lengkap dengan contoh fotonya

Spesifikasi lensa Voigtlander 50mm f/1

  • Desain optik: 9 elemen dalam 7 grup
  • Bukaan: f/1-f/16
  • Filter: 62mm
  • Diameter: 73.6mm
  • Panjang: 55mm
  • Berat: 484g
  • Jarak fokus minimum: 90cm

Bagi yang ingin belajar fotografi atau mendapatkan lensa ini, kami bisa membantu. Silahkan WA 0858 1318 3069 atau infofotografi@gmail.com

{ 0 comments }

FujiFilm X-H2s resmi dijual di Indonesia

Hari Selasa 21 Juni 2022 bertempat di FujiFilm Mall Grand Indonesia Jakarta, diluncurkan secara resmi kamera Fuji X-H2s sebagai sebuah kamera segmen pro dengan bodi yang solid, memiliki layar tambahan di bagian atas, dan bisa dipasang berbagai aksesori termasuk fan atau kipas pendingin.

FujiFilm X-H2s tampak atas, memiliki layar LCD tambahan dan berbagai tombol pintas serta roda mode dial yang lebih umum

Fuji X-H2s menjadi kamera penerus X-H1 yang ditujukan untuk kebutuhan hybrid foto dan video, dan pada generasi kedua ini terdapat peningkatan dari sisi eksternal maupun juga internal. Selain merilis kamera, FujiFilm juga memperkenalkan dua lensa baru yaitu lensa powerzoom XF 18-120mm f/4 WR dan lensa telefoto XF 150-600mm f/5.6-8 OIS WR.

Penjelaasan fitur video dari Fuji X-H2s

Dalam kesempatan tersebut, presiden direktur Fuji Mr. Masato Yamamoto membuka acara dan dilanjutkan dengan paparan fitur Fuji X-H2s dari bapak Johanes Rampi (GM Electronic Imaging FujiFilm Indonesia) seperti :

  • sensor baru dan pertama di APS-C yaitu sistem stacked BSI sensor, resolusi 26 MP
  • kecepatan memotret hingga 40 fps tanpa black-out
  • 6,2K 30p Apple ProRes dengan lebih dari 14 stop DR, tersedia F-Log2 dan 4K 120p
  • Auto fokus dengan AI, didukung prosesor baru yang lebih cepat, mampu mengenali dan mempelajari benda yang akan dideteksi fokusnya dengan 425 titik fokus
  • sensor shift stabilizer, up to 7 stop
  • jendela bidik 5 juta dot, layar LCD 3 inci 1,6 juta dot yang bisa dilipat
  • slot CFExpress type B dan slot SD card UHS II
Mr. Yamamoto memegang Fuji X-H2s dengan lensa XF 150-600mm terbaru

Kamera Fuji X-H2s ini dijual seharga Rp. 39.999.000 dan bila membeli paket dengan lensa XF 150-600mm harganya menjadi Rp. 70.999.000,-

{ 0 comments }

Samsung S22 Ultra Review

Samsung Galaxy S22 Ultra ini adalah salah satu ponsel kelas atas Samsung yang memiliki empat modul kamera dari ultra lebar sampai telefoto. Secara desain fisik, ponsel ini terasa mewah dan minimalis. Bahan casingnya terbuat dari logam dengan layar besar 6.8″ yang melengkung di bagian tepinya.

Modul kamera ponsel ini yaitu

  • Kamera utama 108 MP, f/1.8, 23mm (wide), 1/1.33″, 0.8µm, PDAF, Laser AF, OIS
  • Kamera ultrawide 12MP f/2.2 1/2.55″, 1.4µm, dual pixel PDAF, Super Steady video
  • Kamera telefoto 10 MP, f/4.9, 230mm (periscope telephoto), 1/3.52″, 1.12µm, dual pixel PDAF, OIS, 10x optical zoom
  • Kamera telefoto 10 MP, f/2.4, 70mm, 1/3.52″, 1.12µm, dual pixel PDAF, OIS, 3x optical zoom12 MP, f/2.2, 13mm, 120˚

Kualitas gambar dari setiap kamera yang aktif tidak sama, tapi kabar baiknya warna dan kecerahan hasil kurang lebih sama. Modul kamera yang terbaik adalah kamera utamanya yang bersensor 108MP. Saat dicoba, hasil gambar 108MP memang memberikan detail yang lebih, misalnya subjek yang sangat jauh terlihat jelas meskipun tidak begitu tajam/detail. Untuk penggunaan casual dan sehari-hari mode photo 12MP lebih baik untuk menghemat tempat dan terlihat lebih tajam diberbagai kondisi cahaya terutama kondisi kurang cahaya.

Pemandangan Danau Toba di bukit Holbung dengan modul kamera utama (wide)
Pemandangan desa di pinggir Danau Toba dengan kamera utama.
Saksikan review dan contoh foto selengkapnya di YouTube infofotografi
[continue reading…]
{ 0 comments }

Voigtlander 35mm f/2 APO Review

Voigtlander 35mm f/2 APO LANTHAR merupakan salah satu lensa terbaik dari Voigtlander dari hal teknis karena menggunakan desain APO yang kompleks untuk menghilangkan Chromatic Abberation sehingga meningkatkan persepsi ketajaman foto. Lensa ini tersedia dalam beberapa mount, diantaranya Leica M, Sony E dan Nikon Z.

Seperti lensa manual fokus lainnya, lensa 35mm ini berukuran relatif kecil, dengan desain seperti lensa manual era 60-70-an. Aperture yang bisa dipilih dari f/2 sampai f/16 dengan pemberhentian setengah stop.

Kualitas gambar

Kualitas gambar yang dihasilkan lensa ini sangat baik, sangat tajam di kamera Leica SL (FF 24MP). Tidak ada Chromatic Abberation membuat warna dan detail lebih tajam dan solid.

Bokeh bisa didapatkan jika latar depan/belakang cukup jauh dari subjeknya, tapi tidak se-blur lensa-lensa yang lebih tele dan bukaan yang lebih besar seperti Voigtlander 50mm f/1.4.

Kelemahan lensa ini relatif dengan lensa-lensa pada umumnya adalah ukuran yang cukup besar dan berat dibandingkan dengan lensa 35mm yang lain yang tidak memiliki elemen APO. Selain itu, vinyet tetap terlihat cukup jelas terutama di bukaan terbesarnya di f/2. Untungnya, ada lens profile correction di software pengolah RAW seperti Adobe Camera RAW/Lightroom yang bisa membantu.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Hari ini FujiFilm global resmi merilis hadirnya kamera hybrid penerus dari X-H1 yang bernama X-H2S dan berukuran lebih kecil dari X-H1. Dari namanya, memang agak berbeda karena ada kode ‘s’ dan memang ini adalah tipe yang agak berbeda juga, yaitu memakai sensor dengan teknologi BSI stack 26 MP. Menurut banyak rumor, FujiFilm juga akan merilis X-H2 (tanpa stack sensor, tapi resolusi lebih tinggi) dalam waktu dekat.

Tampak depan Fuji X-H2S

Hadir sebagai top line Fuji di kelas APS-C, Fuji X-H2S sudah memakai dua slot memori yang salah satunya mendukung CFExpress type B, yang menandakan bisa merekam video 6,2K dengan data rate ekstra tinggi. Makanya kecepatan memotret X-H2S ini juga luar biasa hingga 40 foto per detik (bila pakai shutter mekanik bisa 15 fps yang juga masih termasuk sangat cepat).

Kamera Fuji X-H2S menyasar segmen pro dengan kebutuhan foto yang serius seperti jurnalis, atau juga videografer yang mencari kamera dengan fitur video yang lengkap. Maka itu desain dan detail dari fisik kameranya juga menyesuaikan, misalnya sudah weather resistant, dibekali 5-axis stabilizer, jendela bidik besar dan detail dengan 5.76 juta dot, aksesori vertical grip dan kipas tambahan bila perlu. Kamera dengan bobot 660 gram termasuk baterai ini akan dijual di kisaran US$2.499 atau sekitar 35 juta rupiah.

[continue reading…]
{ 1 comment }

Dengan hadirnya Canon EOS R7 dan R10, makin jelaslah nasib sistem Canon EOS M yang akan tergantikan. Rumor lensa APS-C dengan RF mount semakin santer dan sebagian besar mirip sekali dengan lensa-lensa Canon EOS M. Yuk kita bandingkan:

Canon R7 dengan lensa RF-S 18-150mm f/3.5-6.3 IS STM

Lensa Canon EOS M

  • Canon EF-M 32mm f/1.4 STM
  • Canon EF-M 22mm f/2 STM
  • Canon EF-M 28mm f/3.5 IS Macro
  • Canon EF-M 11-22mm f/4-5.6 IS STM
  • Canon EF-M 15-45mm f/4-5.6 IS STM
  • Canon EF-M 18-55mm f/3.5-5.6 IS STM
  • Canon EF-M 18-150mm f/3.5-6.3 IS STM
  • Canon EF-M 50-200mm f/4.5-6.3 IS STM

dan ini yang dirumorkan untuk Canon EOS RF-S

  • Canon RF-S 32mm f/1.4 STM
  • Canon RF-S 22mm f/2 STM
  • Canon RF-S 11-55mm f/4-4.5 IS STM
  • Canon RF-S 55-250mm f/4.5-7.1 IS STM
  • Canon RF-S 16-55mm f/2.8 IS USM

dan yang sudah ada:

  • RF-S 18-45mm f/4.5-6.3 IS STM
  • RF-S 18-150mm f/3.5-6.3 IS STM

Sekilas terlihat mirip ya? Hanya ada sedikit perbedaan terutama di bukaannya. Sepertinya Canon berani membatasi bukaan maksimum lensa untuk mendapatkan ukuran yang lebih kecil, dan mudah-mudahan kualitas yang lebih baik. Yang agak aneh yaitu rumor lensa 11-55mm f/4-4.5 yang mungkin salah info karena jarak fokal dari ultra lebar biasanya tidak luas. Kemungkinan besar adalah 11-22mm yang jika dibandingkan dengan lensa di EOS M, memiliki bukaan yang lebih besar. Satu lagi yang menarik yaitu 16-55mm f/2.8 yang menurut saya penting bagi pro/semi-pro yang membutuhkan lensa ekuivalen 24-70mm yang fleksibel untuk berbagai jenis fotografi.


{ 1 comment }

Baru saja Canon global telah resmi mengumumkan kehadiran dua kamera mirrorless baru dengan sensor APS-C, tapi bukan pakai sistem EOS M (yang pakai lensa EF-M) melainkan pakai sistem EOS R (yang sebelumnya hanya untuk sensor full frame, dengan lensa RF). Kedua kamera ini bernama Canon EOS R7 dan Canon EOS R10, keduanya adalah kamera dengan sensor APS-C yang kali pertama ditemui di sistem kamera dengan RF mount. Artinya, semua lensa RF full frame bisa dipasang di kamera APS-C ini, namun fokal ekuivalennya akan mengalami perkalian 1,6x. Untuk itu sebagai pelengkap yang lebih sesuai, Canon juga merilis lensa dengan mount RF tapi hanya mencakup ukuran sensor APS-C, yang diberi nama RF-S. Saat ini baru diluncurkan dua lensa pertama, yaitu RF-S 18-45mm f/4.5-6.3 IS STM (130 gram), dan RF-S 18-150mm f/3.5-6.3 IS STM (310 gram) .

Canon EOS R7, sensor APS-C 32 MP dengan IBIS dan RF mount
Bagian belakang dari EOS R7 dengan dial unik di samping jendela bidik.

Canon EOS R7 diposisikan sebagai kamera APS-C kelas atas, dengan sensor resolusi tinggi 32 MP, 5 axis in-body stabilizer, kemampuan video 4K 60p C-Log3, layar ekstra detail 1,6 juta dot, dual slot SD-card, headphone jack dan bobot yang cukup berat di 612 gram (salah satu faktor yang mempengaruhi bobotnya adalah baterai besar LP-E6NH). Sedangkan Canon EOS R10 menjadi pengisi segmen entry hingga menengah dengan resolusi 24 MP, tanpa in-body stabilizer dan hanya satu slot SD-card UHS-II. Berkat baterai yang lebih kecil tipe LP-E17, bobot dari EOS R10 jadi lebih ringan di 429 gram saja.

Kombo EOS R10 dengan lensa kit RF-S 18-45mm IS dijual di US$1099 atau sekitar sekitar 15 juta rupiah

Baik EOS R7 maupun EOS R10 dari fisiknya terlihat solid dan tetap mempertahankan desain yang ergonomis dengan grip mantap, jendela bidik 2,3 juta dot yang termasuk sedang, layar LCD lipat dan yang menarik adalah adanya tuas AF-MF di bagian depan (sesuatu yang bahkan di EOS R full frame tidak tersedia). Urusan AF tentunya tidak diragukan dengan Dual Pixel AF yang cepat dan akurat. Apalagi kedua kamera juga sama-sama ngebut dalam hal kemampuan burst mekanik 15 fps dan juga mantap di rekam video 4K 60p atau Full HD 120p yang mencirikan kalau Canon hendak menyasar segmen content creator yang memerlukan kamera handal untuk foto video namun tidak perlu sampai harus full frame. Bodi EOS R7 juga sudah memiliki ketahanan terhadap debu dan kelembaban yang membuat tenang saat memotret outdoor.

[continue reading…]
{ 5 comments }

Leica gandeng Xiaomi, putus dengan Huawei

Tanggal 23 Mei 2022 ini, Xiaomi dan Leica Camera mengumumkan kerjasama strategis jangka panjang dalam mengembangkan kamera ponsel. Kerjasama pertama mereka akan terwujud dalam ponsel flagship terbaru Xiaomi yang akan dirilis bulan Juli tahun 2022 ini.

Keterlibatan Leica dalam dunia kamera ponsel bukan hal yang baru, Leica pernah bekerjasama dengan Huawei dari tahun 2016 dan Sharp tahun 2021 dalam pengembangan kamera ponsel.

Khusus kerjasama dengan Sharp, kamera ponsel yang dikembangkan hanya untuk pasar Jepang dalam bentuk Sharp Aquous R6 dan Leitz Phone 1 dengan spesifikasi yang sama.

Kerjasama baru dengan Xiaomi ini menandai kerjasama selama 5 tahun antara Huawei Leica telah selesai. Ponsel terakhir yang memiliki kamera merk Leica adalah Huawei P50.

Tidak disebutkan alasan mengapa Leica bertukar partner dalam mengembangkan kamera ponsel. Besar kemungkinan karena ponsel Huawei tidak dapat menggunakan layanan Google karena sanksi dari AS, sehingga menurunkan market share Huawei dalam beberapa tahun terakhir.

Di lain pihak, Xiaomi beberapa tahun terakhir semakin berkembang dan merupakan produsen ponsel dengan pangsa pasar no.3 di dunia saat ini dan produknya dipasarkan ke lebih dari 100 negara.

Berikut pernyataan resmi dari Leica

Xiaomi and Leica Camera announce long-term strategic cooperation

A new era of mobile imaging begins in July
Wetzlar, 23 May 2022. Xiaomi, the world’s leading consumer electronics and smart manufacturing company, and Leica Camera, whose legendary reputation is based on a long tradition of excellent quality, innovative technologies and German craftsmanship, officially announce their strategic cooperation in terms of mobile imaging. The first imaging flagship smartphone jointly developed by the two companies will be officially launched in July this year.

Founded in 2010, Xiaomi is currently the world’s third-largest smartphone manufacturer. Since its establishment 12 years ago, Xiaomi has always practiced the mission of ‘relentlessly building amazing products with honest prices to let everyone in the world enjoy a better life through innovative technology’. Its smartphones and other products are sold in more than 100 countries and regions around the world. With strong R&D strength and continuous long-term investment in technology, Xiaomi has become an important leader in technological innovation in the fields of consumer electronics and smart manufacturing. And in the field of imaging, based on its long-term technical accumulation in lens optics, chips, algorithms etc., as well as its deep understanding of mobile photography, Xiaomi provides extraordinary photography experiences including portraits, night scenes and snapshots.

For over 100 years, Leica Camera has been creating lightweight cameras favoured by street photographer pioneers and world-class optical lenses, fulfilling the passions of its community. With ingenious optical engineering and formidable craftsmanship, Leica cameras, recognisable by their ‘red dot’ branding, are German engineering at its best, and continue to attract new generations of consumers who aspire to achieve ‘the Leica image look’ and own these masterpieces of design. In addition to making precision-crafted masterpieces, Leica attracts well-known photographers and emerging new talents around the world.

Xiaomi and Leica share the same ideas regarding mobile imaging. Both companies are eager to continuously explore the optical performance and photographic experience in the mobile imaging era through extreme technological breakthroughs and aesthetic pursuits.

Xiaomi focuses on creating the ultimate user experience and has always hoped to explore the capabilities of smartphone photography to the extreme. Xiaomi and Leica agree with each other’s pursuits and ideas and appreciate each other’s advantages and industry. This cooperation will provide a strong boost to Xiaomi’s imaging strategy. During the cooperation, from optical design to tuning aesthetic orientations, the innovative technologies, product philosophies and imaging preferences of both parties have experienced unprecedented in-depth collision and fusion,’ says Lei Jun, founder, chairman and CEO of Xiaomi Group.

It is an honour to announce the long-term strategic cooperation with Xiaomi today. Leica and Xiaomi are both global premium brands and during this unprecedented deep cooperation process, both parties have successfully worked on the goal of providing customers a new era of mobile photography. We are convinced that the first jointly developed imaging flagship smartphone makes the pioneering progress of both companies visible. We will provide consumers in the field of mobile photography exceptional image quality, classic Leica aesthetics, unrestricted creativity, and will open a new era of mobile imaging,’ adds Matthias Harsch, CEO of Leica Camera AG.

About Xiaomi Corporation

Xiaomi Corporation was founded in April 2010 and listed on the Main Board of the Hong Kong Stock Exchange on 9 July 2018 (1810.HK). Xiaomi is a consumer electronics and smart manufacturing company with smartphones and smart hardware connected by an IoT platform at its core.

Embracing our vision of ‘Make friends with users and be the coolest company in the users’ hearts’, Xiaomi continuously pursues innovations, high-quality user experience and operational efficiency. The company relentlessly builds amazing products with honest prices to let everyone in the world enjoy a better life through innovative technology.

Xiaomi is one of the world’s leading smartphone companies. The company’s market share in terms of smartphone shipments ranked no. 3 globally in the fourth quarter of 2021. The company has also established the world’s leading consumer AIoT (AI+IoT) platform, more than 434 million smart devices connected to its platform (excluding smartphones and laptops) as of 31 December 2021. Xiaomi products are present in more than 100 countries and regions around the world. In August 2021, the company made the Fortune Global 500 list for the third time, ranking 338th, up 84 places compared to 2020.

Xiaomi is a constituent of the Hang Seng Index, Hang Seng China Enterprises Index, Hang Seng TECH Index and Hang Seng China 50 Index.

{ 2 comments }

Hari ini, Kamis 12 Mei 2022 bertempat di gedung Tribrata Jakarta, PT Datascrip selaku distributor Canon Indonesia dengan resmi merilis kamera sinema EOS R5 C yang secara global sudah diumumkan awal 2022, dan sebuah lensa Dual Fisheye RF 5.2mm f/2.8L (yang secara global sudah diumumkan di Oktober tahun lalu). Dihadapan awak media, director of Canon Business Unit PT Datascrip ibu Monica Aryasetiawan menjelaskan bahwa EOS R5 C merupakan kamera hybrid paket lengkap untuk kebutuhan foto dan video dengan kualitas 8K dan memakai mount RF masa depan.

Peluncuran EOS R5 C (kiri ke kanan : Bp. Syailendra, ibu Monica, Bp. Iqbal)

Canon EOS R5 C menjadi kamera dengan fitur fotografi setara dengan EOS R5 yaitu sensor 45 MP full frame, Dual Pixel AF II yang bisa mendeteksi kepala, wajah, mata dan binatang, hingga keadaan gelap -6 EV dan saat aperture lensa sekecil f/22 sekalipun. EOS R5 C dalam urusan video mampu memberi berbagai pilihan format video seperti Cinema RAW Light 12 bit, proxy recording dan adanya pendingin kipas membuatnya bisa merekam video tanpa kuatir overheat.

Kamera hybrid EOS R5 C dengan sirip ventilasi untuk fan pendingin di sisi sampingnya

Dengan dua slot penyimpanan yaitu CFExpress (type B) dan SD card UHS II, didapat beragam variasi skenario sesuai kebutuhan profesional, misal :

  • slot 1 rekam 8K, slot 2 rekam 4K
  • slot 1 rekam Cinema RAW (light), slot 2 rekam proxy MP4
  • slot 1 rekam All-I, slot 2 rekam IPB (untuk arsip)
  • slot 1 rekam video, slot 2 rekam suara saja (audio)
  • dsb

Hal menarik lain, untuk setiap setting Gamma yang dipilih, terdapat dua macam Base ISO yang berbeda, misal :

  • Canon Log 3 : ISO 800 dan ISO 3200
  • BT709 Wide atau HLG : ISO 400 dan ISO 1600
  • BT709 Standard : ISO 160 dan ISO 640
[continue reading…]
{ 0 comments }