≡ Menu

Di bulan September 2022 ini, Sigma merilis dua lensa fix wide angle berbukaan besar 20 dan 24mm f/1.4. Kedua lensa ini tersedia untuk dua jenis mount, L-mount dan Sony E-mount. Untuk review kali ini, saya memasang kedua lensa ini di kamera Leica SL langsung tanpa adapter.

Sekilas, kedua lensa ini mirip dan memiliki bahasa desain yang sama. Desain baru ini kemungkinan adalah pengamatan Sigma dan feedback yang diberikan oleh fotografer, terutama fotografer landscape dan khususnya fotografer astrophotography.

ISO 200 f/8, 3 detik, 24mm
Crop dari foto diatas

Lensa 20 dan 24mm ini dirancang dari nol untuk sistem kamera mirrorless. Jadinya ukurannya tidak sebesar lensa DSLR dan tidak terlalu berat. Dibandingkan lensa zaman DSLR, lensa 20mm kini memiliki filter thread 82mm, kalau versi dulu cembung sehingga sulit pasang filter. Sedangkan yang 24mm berfilter thread 72mm.

Kedua lensa juga bisa dipasang filter di bagian belakang lensa, hal yang mungkin sepele tapi bagi fotografer astrophotography mungkin banyak gunanya. misalnya meletakkan filter untuk mengurangi polusi cahaya dan di bagian belakang filter untuk melembutkan.

Lens hood juga termasuk dalam paket pembelian lensa. Lens hood ini memiliki tombol untuk lock dan unlock.
Sebagai lensa yang ditujukan untuk profesional di lapangan, lensa ini sudah weathersealed, atau istilah Sigma, dust splash proof.

Saya juga sempat mencoba lensa 24mm untuk portrait casual, dan mendapati kualitas di f/1.4 juga sangat tajam. kemungkinan lensa lebar ini cocok juga untuk foto portrait atau prewedding  misalnya, yg latar belakangnya lebar.

Mungkin kelemahan utama kedua lensa ini adalah vinyeting saat menggunakannya di bukaan f/1.4, tapi hal tersebut bukan masalah besar dan umum untuk lensa-lensa bukaan besar yang bisa dikoreksi dengan software.

Dengan bukaan yang begitu besar dan juga lebar, kedua lensa ini sangat baik untuk astrophotography karena kedua lensa ini dapat menghasilkan foto yang tajam sampai ke tepi foto dan titik-titik bintang tidak menjadi lonjong. istilah fotografinya coma.

Hadirnya kedua lensa ini menunjukkan bahwa Sigma sangat memperhatikan detail, dan selain fisiknya yang bagus, optiknya juga sangat tajam, tercermin dari kualitas hasil fotonya di bukaan berapapun. Fitur-fitur baru seperti mekanisme kunci menunjukkan bahwa Sigma peduli dengan masalah fotografer di lapangan dan menurut hemat saya, kedua lensa ini pantas berada di dalam tas fotografer profesional.

Link Promo pembelian kedua lensa ini via Blibli : https://invl.io/cle4oo6

Saksikan review ini di YouTube infofotografi
{ 0 comments }

Review VIVO X80 PRO

VIVO X80 Pro adalah ponsel flagship dari VIVO, penerus X70 Pro yang pernah saya review di sini. Dari fisiknya, terlihat ponsel ini mewah, layarnya besar, 6.7 inci, tanpa tepi dan melengkung ke sisi, memberikan kesan layar tanpa batas.

Yang saya review kali ini adalah X80 Pro yang berwarna Cosmic Black. Di bagian belakang ponsel ini  finishing-nya halus, sedikit bertekstur, jika terkena sinar, terlihat agak sedikit berkilau .

Di bagian belakang atas, ada modul-modul kamera disusun dalam panel berbentuk lingkaran, berbeda dengan X70 yang berbentuk persegi panjang. Panel ini sedikit menonjol keluar dari body ponsel.

Empat modul lensa di ponsel ini diantaranya:

  • Modul utama dengan resolusi 50MP f/1.57 1/1.3 inci,
  • Lensa ultrawide dengan 48MP f/2.2 sensor 1/2 inci
  • Lensa standar 50mm dengan sensor 1/2.93″
  • Periscope telefoto dengan resolusi 8MP f/3.4 dan sensor 1/4.4″

Pada dasarnya, kombinasi kamera di X80 Pro ini mirip dengan X70 Pro+

Modul utama kamera ini memiliki lensa sekitar 26mm yang biasanya akan banyak digunakan. Meskipun diatas kertas memiliki sensor 50Mega pixel, tapi default di kameranya akan menghasilkan output file 12 MP, kecuali kita pilih mode resolusi tinggi. Dalam percobaan saya, lebih baik menggunakan versi default karena gambar akan lebih bebas dari pola2 artefact dan noise terutama di bagian gelap pada foto.

Karena ukuran sensor dan bukaan sensor yang besar, modul utama ini merupakan andalan untuk motret di kondisi kurang cahaya.

Modul kedua adalah modul ultrawide, yang sangat membantu saat memotret interior atau pemandangan yang sangat luas.

modul ultrawide
modul ultrawide

Modul yang ketiga merupakan favorit saya karena memiliki jarak fokal kurang lebih ekuivalen 50mm, cocok untuk berbagai jenis fotografi termasuk portrait. Di VIVO X80 Pro ini, modul 2x ini juga mendapatkan tambahan gimbal stabilizer yang membantu saat merekam video.

Kiri: 5x zoom, Kanan: 60x zoom
20x zoom

Sayangnya, modul standard ini memiliki sensor yang sedang -sedang saja yaitu 1/2.9inci, namun ketolong  dengan bukaan cukup besar, yaitu f/1.9. Sehingga detail foto agak kurang saat memotret di kondisi gelap. Harapan saya adalah modul ini sensornya dibuatkan lebih besar sehingga detail foto lebih baik lagi.

Modul yang terakhir adalah lensa telefoto dengan teknologi periscope zoom 5x, atau setara dengan kurang lebih 125mm. Saat menggunakan lensa ini kita bisa perbesar lagi ke 60x, tapi kualitas foto akan sangat berkurang. Modul ini cocok digunakan untuk foto subjek yang sangat jauh.

Menurut pengamatan saya, banyak ponsel pintar zaman sekarang yang menggunakan kombinasi empat modul lensa seperti X80, dan sekilas memang sudah cukup untuk kebutuhan foto-video sehari-hari atau saat traveling.

Hasil foto dari berbagai modul terlihat bagus di layar, tapi saat di monitor ukuran besar, dan kalau kita perbesar ke 1:1 maka terlihat kualitas detail yang tertangkap tidak seperti sistem kamera dengan sensor besar.

Untuk videonya VIVO X80 kamera utama ini bisa merekam sampai dengan 8K, 4K@30/60fps, 1080p@30/60fps, gyro-EIS. Yang baru di X80 adalah modul 2X (50mm)-nya memiliki  gimbal OIS, yang membantu menstabilkan saat motret atau merekam video tanpa gimbal atau tripod.

Secara software, sekarang ada pilihan normal look dan ZEISS look. Perbedaannya kadang gak terlalu signifikan. Kalau kita bandingkan dengan teliti, mode ZEISS itu, saturasi warna dan kontrasnya lebih rendah daripada mode biasa.

Kiri: Mode warna biasa, Kanan: Mode warna ZEISS

Saya senang ada pilihan semacam ini karena terkadang tidak semua subjek cocok dengan warna dan kontras yang tinggi. 

Seperti ponsel pendahulunya, untuk foto portrait ada pilihan berbagai simulasi bokeh ala lensa-lensa Zeiss,

  • Biotar yang bokehnya swirly seperti berputar
  • Sonnar yang bentuknya bulat dan mulus
  • Planar yang bokehnya memiliki ring/outline
  • Distagon yang bentuk bokehnya bersegi
  • dan yang baru adalah Cinematic. yang bentuk bokehnya seperti hasil  lensa anamorphic, bokehnya berbentuk lonjong.
Kiri: Bokeh biasa, Kanan: Biotar
Kiri: Sonnar, Kanan: Planar
Distagon
Cinematic bokeh (seperti hasil dengan lensa anamorphic)

Dalam pengujian, hasil rendering bokehnya menarik perhatian, hanya saja di kondisi cahaya yang kompleks, seperti ada backlight atau background-nya agak rumit, bisa jadi seleksi subjeknya tidak begitu rapi terutama di bagian yang tidak merata seperti bagian rambut.

Setelah mencoba memotret dan memproses gambar, kamera terasa agak hangat. Ya masuk akal karena proses simulasi bokeh ini membutuhkan banyak tenaga processor.

Untuk foto malam, kamera perlu waktu kurang lebih 2 detik, dan jika subjek yang dipotret tidak bergerak, hasilnya akan terlihat lebih detail, terutama di bagian gelap pada foto.

Secara keseluruhan, kamera di ponsel VIVO X80 ini mirip dengan pendahulunya, perubahan yang lebih banyak yaitu dari segi software. Selain itu desain body dan layar sangat besar dan berkualitas memberikan kesan yang lebih mewah daripada seri sebelumnya.

Saksikan juga review Vivo X80 Pro di YouTube infofotografi
{ 2 comments }

Mencoba singkat lensa FujiFilm XF 150-600 f/5.6-8 OIS

Pada artikel ini saya ingin berbagi sedikit pengalaman dalam memakai lensa telefoto baru dari FujiFilm yaitu XF 150-600m f/5.6-8 R OIS WR. Lensa dengan berat 1,6kg ini saya pasang ke kamera Fuji X-H2s dan dicoba selama 2 hari di pulau Tidung, Kepulauan Seribu DKI Jakarta. Bagi Fuji sendiri, adanya lensa super telefoto ini semakin melengkapi koleksi jajaran lensa kelas pro mereka, dan lensa ini ditujukan untuk para fotografer aksi cepat atau yang suka memotret satwa liar termasuk birding.

Saya membawa lensa Fuji XF 150-600mm dengan bodi X-H2s

Di pulau Tidung saat saya datang kesana, sedang relatif sepi. Jadi yang bisa saya coba dari lensa ini adalah untuk mencari tahu ketajaman optiknya (yang terdiri dari 24 elemen dalam 17 grup), kemampuan stabilisasi OIS, lalu bagaimana auto fokusnya yang sudah dibantu dengan motor fokus terbaru versi linear. Foto-foto yang bisa saya ambil lebih kepada kegiatan penduduk setempat termasuk nelayan. Adapun usaha saya untuk dapat foto birding tidak berhasil karena disana ternyata jarang ada burung-burung laut yang biasanya terbang di sekitar pantai.

Lensa XF 150-600mm ini sendiri tetap dirancang untuk sensor APS-C, jadi agak beda misalnya dengan lensa full frame, dalam arti walaupun dia sudah masuk ke super tele tapi masih relatif tidak terlalu besar, dan panjangnya yang sekitar 30 centimeter masih termasuk okay. Fokal 150-600mm ini bahkan di full frame saja sudah wow, tapi di sistem Fuji lensa ini memang ditujukan untuk mencover ekuivalen 230-900mm yang bahkan lebih wow lagi, subyek yang jauh pun tidak bisa lolos dari tangkapan lensa panjang ini. Dari aperture nya bisa dimengerti kalau lensa ini haus akan cahaya, bayangkan f/5.6 saja sudah agak kecil, apalagi f/8 saat di zoom lagi, pasti butuh cahaya matahari yang terang atau terpaksa menaikkan ISO cukup tinggi (bahkan sangat tinggi bila suasana sekitar mulai redup). Melambatkan shutter speed bisa dicoba, khususnya kalau subyeknya cenderung diam, supaya ISO jangan terlalu tinggi. Untungnya lensa ini punya OIS yang memang sangat diperlukan pada fokal lensa yang panjang seperti ini.

Dari kesan pertama saya, lensa ini memang solid dan mantap secara fisik, bobotnya pas dan masih bisa dipakai handheld (tanpa monopod), lalu kinerja AF terasa cepat dan halus (senyap), dan stabilisasi optik terlihat bagus (tidak shake di saat live view juga). Dari warna lensa, tidak hitam seperti lensa Fuji pada umumnya, saya menduga karena Fuji ingin lensa ini juga bisa konsisten performanya saat dipakai di outdoor yang panas (karena hitam akan menyerap panas lebih banyak). Saya terkesan dengan ketajaman, kontras dan hasil dari lensa XF 150-600mm ini, khususnya pada area fokal yang banyak dipakai seperti dari 150-400mm, dan diatas itu hasil foto akan mulai terganggu oleh atmospheric haze karena memotret subyek yang terlalu jauh. Di lensa ini juga ada selektor area fokus, apakah mau bisa memfokus dekat (2,4 meter adalah jarak fokus terdekat) atau mau diubah ke 5m supaya bisa makin gesit AF-nya untuk foto burung misalnya. Di lain waktu, kalau ada kesempatan mencoba lensa ini lagi, saya akan tes untuk birding di lokasi lain yang lebih sesuai. Tapi impresi saya di awal ini memang kagum dengan lensa APS-C yang dibuat sangat serius ini, sesuatu yang bila di sistem kamera lain, pengguna kamera APS-C nya harus memakai lensa dalam wujud lensa full frame yang lebih besar dan berat.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Review Fujifilm XF 56mm f/1.2 R WR

Bersama dengan Fujifilm XH2, Fuji merilis lensa baru yaitu Fujinon XF 56mm f/1.2 R WR. Lensa ini adalah pembaharuan dari lensa Fujinon 56mm keluaran 2014 yang lalu. Dari fisiknya, lensa baru ini lebih besar dan berat. Diameter filter bertambah dari 62 ke 67mm. Berat dari 405 ke 445gram.

Fujinon 56mm f/1.2 WR dipasang di Fujifilm X-H2

Di sisi positifnya, lensa ini lebih tajam, siap untuk kamera beresolusi besar. Jarak fokus minimumnya juga mengalami peningkatan, dari 70cm menjadi 50cm. Jarak fokus minimum ini termasuk dekat untuk lensa ekuivalen 85mm yang biasanya sekitar 80cm.

Biasanya, 56mm f/1.2 ditujukan untuk fotografer portrait karena kemampuannya membuat latar belakang blur, tapi kali ini saya mencobanya untuk memotret berbagai hal yang berbeda.

ISO 160 f/5.6 1/950, X-H2S
Crop dari foto diatas
[continue reading…]
{ 0 comments }

Sesuai yang dijanjikan Fujifilm di bulan Juni 2022 yang lalu, Fujifilm X-H2 akhirnya diumumkan tgl 8 September 2022 di Fujifilm X-Summit New York.

Infofotografi beruntung dapat menguji foto sebelum global launching. Secara fisik, Fujifilm X-H2 identical dengan X-H2S, yang berbeda hanyalah label yang terletak di bagian kiri belakang kamera, dan yang X-H2S memiliki tulisan S di bagian depan kamera.

X-H2 dirancang oleh Fujifilm sebagai kamera kelas atas (flagship) atau profesional yang membutuhkan kamera beresolusi tinggi. Fujifilm X-H2 yang bersensor APS-C ini, bisa memotret 40mp dan video sampai dengan 8k 30p, 4k 60p atau full hd 240p untuk slow mo.

Saksikan pengalaman mencoba kamera Fujifilm X-H2 dan hasil fotonya di YouTube infofotografi
[continue reading…]
{ 1 comment }

Tahun 2022 ini merupakan tahun penting bagi Fujifilm dalam menentukan langkah kedepan. Lahirnya “si kembar” X-H2 & X-H2S, meningkatkan daya saing dan memberikan tanda pengembangan Fujifilm ke depan.

Fujifilm X-H2, kamera bersensor APS-C 40MP

Lini produk Fujifilm unik karena mereka memilih mengembangkan kamera dengan sensor berukuran APS-C dan medium format, dan tidak memiliki sistem sensor full frame seperti pabrikan lainnya. Oleh sebab itu, Fujifilm perlu menawarkan sesuatu yang spesial supaya tetap relevan dimata fotografer dan videografer.

Secara prinsip, Fujifilm menganggap APS-C adalah format yang ideal, yang memungkinkan mereka untuk merancang kamera dan lensa yang tidak terlalu besar tapi memiliki kinerja dan kualitas yang cukup untuk berbagai fotografer, baik amatir maupun profesional.

Fujifilm X memang pernah naik daun di era “booming” kamera mirrorless di tahun 2014-2020. Fujifilm terkenal dengan kamera dan lensa yang compact dan bentuk dan desainnya seperti kamera film.

Tapi saat ini, banyak fotografer amatir dan content creator lebih pragmatis dan lebih mengandalkan kamera digital yang lebih kecil lagi seperti kamera ponsel atau action cam, sehingga lini Fujifilm X harus melakukan inovasi.

Melalui Fujifilm X-H2/X-H2S ini, Fuji memilih untuk membidik fotografer yang lebih “advanced” dan “specialized” Ukuran kamera menjadi kembali mirip dengan kamera DSLR, agak berat (660g) dan besar tapi secara keseluruhan masih lebih ringan dari kamera full frame profesional pada umumnya.

Kelebihan Fujifilm

Dengan fokus ke format APS-C saja, dua kamera flagship Fujifilm baru ini akan dibanding-bandingkan dengan kamera berformat full frame yang lebih besar seperti Sony A9 (24MP, stacked sensor), Sony A7RIV (61MP).

Dibandingkan dengan penawaran Sony, Fujifilm X-H2 masih sedikit dibawah dalam kinerja autofokus & resolusinya. Tapi jika dinilai dari harga/value, penawaran Fujifilm jauh lebih terjangkau, apalagi setelah menghitung lensa-lensa yang dibutuhkan.

Harga Fujifilm X-H2 saat ini adalah Rp 40jt, dan X-H2S diperkirakan sekitar Rp33 juta. Sebagai perbandingan, harga Sony A9 II Rp 64 juta, A7R IV Rp 46 juta. Dari body kamera saja, fotografer akan menghemat sekitar Rp13.5 juta.

Kehadiran X-H2/XH2-S akan membantu Fuji mendapatkan “kue” fotografer pro atau fotografer yang lebih spesialis seperti fotografer dan videografer action dan satwa.


Bagi Anda yang berminat untuk menguasai kamera, lensa dan belajar fotografi, kami dapat membantu. Hubungi infofotografi via WA 0858 1318 3069 atau infofotografi@gmail.com Trims!

{ 0 comments }

Rekomendasi lensa untuk Nikon Z30 Z50 & Zfc

Sebagai sistem kamera mirrorless yang baru rilis sejak tahun 2022, Nikon termasuk cepat dalam melengkapi kamera dan lensa-lensanya. Tapi sebagian besar lensa Nikkor Z ditujukan untuk kamera full frame (Z5-Z9). Kamera APS-C terasa dianaktirikan.

Tapi di tahun 2022 ini, Nikon mulai menunjukkan kepeduliannya untuk mengembangkan sistem kamera dan lensa APS-C dengan hadirnya Nikon Z30, Zfc untuk menemai Z50 yang telah duluan hadir. Lensa-lensa khusus APS-C (DX) memang belum banyak, tapi cukup memadai untuk pemula.

Saksikan pembahasan dan contoh foto dari berbagai lensa untuk kamera Nikon Z

Kami berkesempatan mencoba beberapa lensa Nikkor Z DX dan lensa full frame yang sepertinya cocok untuk dipasang di kamera Nikon Z bersensor APS-C.

Nikkor Z 16-50mm f/3.5-6.3 VR DX : Lensa kit yang dipaketkan bersama pembelian kamera, bagus untuk foto pemandangan luas, dan bisa sedikit zoom untuk foto detail. Hasilnya relatif tajam di bukaan terbesarnya.

Nikkor Z 50-250mm f/4.5-6.3 VR DX : Lensa telefoto yang biasanya dipaketkan saat membeli kameras, bagus untuk foto subjek yang jauh dan portrait.

Nikkor Z 28mm f/2.8 DX : Sebenarnya adalah lensa untuk kamera full frame, tapi di APS-C menjadi lensa dengan jarak fokal standar (42mm). Cocok untuk berbagai jenis fotografi dari portrait, street dan still life.

Nikkor Z 40mm f/2 : Sama dengan 28mm, lensa ini berukuran kecil dan bukaan yang relatif besar. Cocok untuk foto portrait, makanan, dan subjek lain dan membuat latar belakang blur.

Dengan adanya empat lensa ini, fotografer/videografer pemula sudah dapat memotret berbagai jenis fotografi. Namun, lensa DX untuk ultra lebar dan lensa fix khusus untuk DX belum tersedia. Berita bagusnya Nikon sedang mengembangkan lensa ultra lebar Nikkor Z 12-28mm DX dan Nikkor Z 24mm DX

{ 0 comments }

Hasselblad X2D 100MP diluncurkan, apa kehebatannya?

Hasselblad pernah bikin heboh saat merilis kamera mirrorless X1D yang sangat ramping bersensor 50MP Medium format. Hasselblad membutuhkan waktu tujuh tahun untuk merilis X2D, generasi baru yang memiliki banyak peningkatannya daripada X1D.

Apa saja peningkatannya dari Hasselblad X1D ke X2D?

  • 100MP BSI CMOS Medium format sensor
  • Built-in Stabilizer
  • 294 points PDAF Autofocus
  • 1 Terrabyte SSD internal
  • CF Express Type B Slot
  • TOP LCD screen
  • Electronic Viewfinder 5.7 juta titik
  • 3.3 fps continuous shooting
  • Electronic shutter only (tidak punya mechanical shutter)
  • Sensor lag/rolling shutter 65ms

Hasselblad juga mengumumkan beberapa lensa baru. Ketiga lensa baru ini memiliki filosofi desain yang berbeda. Kalau yang awal-awal desainnya simple minimalist, lensa-lensa baru ini desainnya berkesan klasik, seperti lensa zaman film meskipun lensa-lensa ini sebenarnya lensa manual fokus. Yang unik dari lensa ini adalah focus clutch, dimana fotografer/videografer dapat menggeser ring manual fokus untuk mengaktifkan fungsi fokus manual.

Salah satu kelemahan kamera ini adalah tidak memiliki shutter mechanic, sehingga berimbas pada rolling shutter/jello effect, dimana subjek yang bergerak cepat akan terlihat miring. Oleh sebab itu, Hasselblad X2D saya nilai cocok untuk fotografer subjek diam, ideal untuk lokasi yang bisa dikondisikan seperti di studio.

  • Harga kamera Hasselblad X2D adalah US$8200, kurang lebih Rp120jutaan sebelum pajak
  • Harga lensa XCD 38mm f/2.5 US$3700
  • Harga lensa XCD 55mm f/2.5 US$3700
  • Harga lensa XCD 90mm f/2.5 U$4300
{ 0 comments }

AstrHori 85mm f/2.8 Macro Tilt Lens

Kadang-kadang pabrikan lensa pihak ketiga bisa mengejutkan. Mereka lebih berani berinovasi dan membuat lensa-lensa yang unik. Seperti AstrHori, yang telah mengirimkan saya 85mm lensa makro sekaligus Tilt ini adalah lensa yang paling unik yang pernah saya coba.

Saya mencoba lensa ini di kamera Sony A7III. Lensa untuk mount lainnya seperti Canon R-mount, Nikon Z-mount, L-mount dan Fujifilm X-mount juga tersedia.

Saksikan review lensa ini di YouTube infofotografi.com
Anatomi lensa AstrHori
[continue reading…]
{ 1 comment }

Canon EOS R7 & R10 dibandingkan dengan pesaingnya

Pada tanggal 24 Agustus 2022, PT Datascrip meluncurkan duo kamera Canon R7 dan R10 ke Indonesia. Kamera mirrorless bergaya desain DSLR ini melengkapi dan sekaligus melangsingkan lini kamera Canon.

Untuk pembahasan detail dari kedua kamera dari desain dan fiturnya, teman-teman bisa baca dan nonton video review di YouTube infofotografi.

PERSAINGAN

Saingan Canon EOS R7 di kelas APS-C dan harga Rp 20-an juta tidak banyak, yang terdekat adalah Fujifilm X-T4 (rilis 2020) dengan harga dan spesifikasi yang hampir sama tapi dengan desain fisik yang berbeda. Tapi kalau lebih teliti, X-T4 yang menggunakan sensor X-Trans dan BSI akan lebih bersih dari noise saat menggunakan ISO tinggi.

Sebelum memutuskan memilih yang mana, fotografer juga harus mempertimbangkan lensa-lensa yang tersedia untuk kedua sistem ini. Untuk genre fotografi Sports & Wildlife, sistem Canon diatas angin karena memiliki banyak pilihan lensa telefoto dari yang zoom, fix, yang terjangkau maupun yang profesional. Dengan adapter EF to R, fotografer yang telah memiliki lensa-lensa telefoto DSLR juga bisa memanfaatkan lensa-lensa Canon mereka.

Dibandingkan dengan Sony A6600 (rilis 2019), R7 lebih bagus dari berbagai aspek dari hardware dan videonya. Nikon belum punya kamera mirrorless APS-C berkinerja tinggi saat ini. Yang paling mendekati adalah kamera dSLR Nikon D500.

[continue reading…]
{ 0 comments }