≡ Menu

Halo teman-teman Infofotografi, sudah lama saya mempersiapkan buku ini yaitu dari tahun 2019 dan harusnya sudah diterbitkan tahun 2020, tapi karena pandemi, topik buku ini jadi tidak kondusif. Seiring dengan mulai terkendalinya kasus Covid di tanah air dan tingginya angka vaksinasi di kota-kota besar, maka saya merasa saat ini saat yang tepat untuk menerbitkan buku ini dalam bentuk elektronik (e-book) supaya bisa diakses dimana saja dengan mudah dan dapat berguna sebagai panduan mini tapi lengkap dalam membahas aspek-aspek penting dalam street photography.

Street photography adalah jenis fotografi yang dapat dipraktikkan oleh siapa saja, di mana saja, dan dengan kamera apa saja. Bisa dibilang, inilah jenis fotografi yang paling demokratis. Meskipun demikian, memotret street memiliki kesulitan-kesulitan yang berbeda dengan jenis fotografi lainnya.

Buku ini terdiri dari 52 halaman yang padat dengan informasi praktis. Secara sederhana saya mengupas tentang apa itu street photography, bagaimana cara mengatasi kendala dan memperbesar peluang Anda untuk mendapatkan foto yang bagus dan yang paling penting dapat menikmati proses memotret.

Harga buku ini Rp99.000 Untuk memperolehnya secara langsung, silahkan hubungi WA 0858 1318 3069

Anda juga bisa membelinya melalui Karyakarsa & Sociabuzz dengan mengunakan berbagai bentuk pembayaran (Gopay, OVO, transfer bank dan lain-lain).

[continue reading…]
{ 0 comments }

Lensa-lensa Canon RF ukuran dan harganya makin bersahabat

Tanggal 14 September 2021 yang lalu, Canon merilis dua lensa yang bersahabat untuk penggemar fotografi / fotografer amatir. Lensa pertama yaitu Canon RF 100-400mm f/5.6-8 IS USM. Lensa ini lensa telefoto yang cukup panjang dan biasanya digunakan untuk bermacam jenis fotografi seperti olahraga dan satwa. Yang menarik adalah ukuran dan beratnya yang tidak biasa, yaitu hanya 635gram dan filter diameter 67mm. Harga lensa ini US$639 (Sekitar Rp 9.2juta), jauh lebih terjangkau dari lensa 100-400mm f/4.5-5.6L IS yang harganya mendekati Rp 40 juta.

Canon RF 100-400mm f/5.6-8 IS USM

Ukuran yang kecil harus dibayar dengan bukaan maksimum yang relatif kecil yaitu f/5.6-8. Meski agak kecil, tapi kombinasi kamera bersensor full frame dengan lensa ini memiliki kemampuan menangkap cahaya yang tidak kalah dari lensa 70-300mm f/4.-5.6 di sistem kamera APS-C.

Lensa kedua yaitu Canon RF 16mm f/2.8. Lensa ini lebih menarik lagi karena 16mm ini adalah lensa full frame, termasuk lensa ultra wide. Biasanya lensa ultra wide ukurannya besar dan harganya mahal dan harus mengunakan lensa zoom seperti 16-35mm, 14-24mm atau 11-24mm. Dengan 16mm f/2.8 yang harganya sekitar US$299 atau sekitar 4.5 jutaan ini, penggemar fotografi landscape yang ingin membawa lensa full frame ultra wide yang ringan telah terkabul. Ukurannya juga sangat mini yaitu 165 gram dan filter 43mm.

Lensa RF 16mm f/2.8 dengan hood. Sepertinya akan menjadi lensa best seller untuk pengguna Canon EOS R
Canon RF 16mm f/2.8 bisa untuk foto subjek yang dekat dan karena bukaan f/2.8 mampu membuat latar belakang blur

Sementara ini, sudah ada beberapa lensa Canon RF yang compact juga sudah tersedia, diantaranya Canon RF 35mm f/1.8 IS STM Macro, Canon RF 50mm f/1.8 STM, RF 85mm f/2 Macro dan lensa zoom RF 24-105mm f/4-7.1 IS STM juga bisa dikategorikan di lensa compact dan terjangkau juga.

Seiring dengan cukup lengkapnya lensa-lensa RF untuk fotografer profesional, kedepannya sepertinya Canon akan mengalihkan konsentrasi untuk membuat lensa-lensa yang ringkas dan terjangkau yang merupakan kabar baik bagi kita semua.


Bagi teman-teman yang ingin belajar fotografi, videografi, editing dari dasar silahkan kunjungi jadwal pelatihan kami atau hubungi WA 0858 1318 3069

{ 0 comments }

Xiaomi Mi 11 Ultra adalah ponsel canggih dengan spesifikasi tinggi dan fitur kamera yang lengkap. Pertama kali melihat ponsel ini pasti akan langsung terkesan dengan ukuran ponsel yang cukup besar dengan panel di bagian belakang kamera yang berisi modul kamera yang menonjol keluar.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Canon EOS R3 resmi diumumkan

Kamera mirrorless kelas serius untuk kebutuhan sport akhirnya resmi dirilis secara global oleh Canon dengan hadirnya EOS R3. Kamera dengan mount RF memakai sensor full frame 24 MP ini sudah memakai teknologi stack sensor untuk meladeni tuntutan kerja cepat penggunanya. Sistem stabilisasi di sensor EOS R3 ini diklaim bisa mencapai hingga 8 stop. Desain kamera ini menyerupai mini EOS 1Dx, dengan grip tambahan di bawah untuk memotret vertikal. Uniknya, layar 3,2 inci di EOS R3 ini berdesain articulated dengan kerapatan 4 juta dot yang sangat detail.

EOS R3 tampak depan, terlihat shutter dalam kondisi menutup untuk mencegah debu masuk ke sensor. Shutter di EOS R3 sudah lolos uji ketahanan sampai 500 ribu kali memotret.

Dibandrol seharga $6000 (sekitar 90 juta rupiah), kamera EOS R3 mampu terus menerus menyimpan hingga 30 foto per detik dalam format 14 bit RAW, tanpa black-out di jendela bidik (bila pakai shutter elektronik), berkat chip Digic X didalamnya. Disamping itu EOS R3 sudah didukung dengan slot CFexpress dan SD card UHS-II sehingga tidak kuatir soal urusan kecepatan tulis data. Bila perlu, terdapat pilihan file gambar masa depan HEIF 10 bit dengan HDR PQ yang mulai banyak ditemui di kamera Canon kelas atas terbaru.

EOS R3 tampak belakang, dnegan jendela bidik besar, layar lipat 3,2 inci, berbagai tombol, dial, tuas hingga joystick tersedia disini.

Hal baru yang berbeda disini adalah diperkenalkannya teknologi auto fokus dengan lirikan mata di jendela bidik. Fitur bernama Eye Control AF ini mampu mendeteksi kemana kita melihat dan area fokus akan mengikuti arahnya. Ini jadi hal menarik yang memudahkan fotografer profesional seperti olah raga atau satwa yang bergerak cepat. Untuk urusan merekam video, EOS R3 mampu merekam video 6k 60p dengan opsi video RAW atau C-Log3 10 bit selain juga bisa merekam video 4K 120p bagi yang memerlukan slow motion resolusi tinggi. Dengan fitur ini, maka EOS R3 menjadi pilihan yang layak untuk jurnalis olahraga ataupun videografer dokumenter kelas profesional.

Layar tambahan di bagian atas, dan mode kmaera berbentuk tombol, menjadi ciri desain EOS R kelas atas seperti EOS R5 dan EOS R3 ini

Disamping merilis EOS R3, Canon juga mengumumkan lensa super tele RF 100-400mm f/5.6-8 dan lensa fix ultra lebar RF 16mm f/2.8 STM. Kedua lensa ini tergolong lensa kelas consumer (non L) yang akan disukai oleh pengguna kamera EOS R atau RP, yang selama ini menantikan lensa-lensa RF yang ekonomis.

[continue reading…]
{ 1 comment }

Kupas Tuntas Kamera Mirrorless Sony Alpha

Kamera mirrorless Sony Alpha punya banyak versi, seperti keluarga full frame A7 series dan APS-C seperti A6000 series. Pada generasi terkini dari semua tipe Sony Alpha ini kini sudah meningkat dalam hal auto fokus, kecepatan hingga fitur yang membuatnya diminati banyak fotografer hobi maupun profesi. Tapi seperti biasa, kendala umum yang dialami banyak orang adalah memahami bagaimana menggunakan kameranya dengan maksimal, seperti pengaturan setting kamera, jalan pintas tombol C1, C2 dst, menu hingga aneka tips praktis yang mempermudah penggunaan kamera ini di lapangan.

Untuk itu anda pemilik Sony Alpha baik generasi awal, menengah maupun terbaru, bisa mengikuti kegiatan Kupas Tuntas Sony Alpha ini yang dijadwalkan dilakukan secara OFFLINE (tatap muka) dengan mengikuti protokol kesehatan yang berlaku. Pada kegiatan ini saya (Erwin Mulyadi) akan mengupas tuntas dan memperagakan menggunakan kamera Sony A7 III dan A6000, pada :

  • hari : Minggu, 26 September 2021
  • jam : 13.00-16.00 WIB
  • Tempat : rukan Sentra Niaga Blok N-05 Green Lake City, Duri Kosambi, Jakarta Barat
  • peserta : maksimal 6 (enam) orang

Biaya mengikuti acara ini adalah Rp. 250.000,-  dan terbuka untuk semua pengguna kamera Sony atau yang belum membeli kamera supaya lebih mengenal calon kameranya sebelum dibeli. Beberapa persyaratan yang diperlukan saat mengikuti kelas :

  • dalam kondisi badan yang sehat (tidak demam, batuk, pilek)
  • sudah vaksinasi minimal tahap 1
  • memakai masker, menjaga jarak

Untuk informasi lebih lanjut atau mendaftar silahkan hubungi Iesan di 0858-1318-3069.

{ 0 comments }

Tanggal 9 September 2021 ini, Sigma secara resmi mengumumkan dua lensa baru yang termasuk dalam seri i (Iconic) yaitu 24mm f/2 dan 90mm f/2.8 DG DN. Kedua lensa ini melengkapi lensa-lensa seri i Contemporary yang ditujukan untuk kamera mirrorless bersensor full frame khususnya untuk Sony E-mount dan L-mount.

Lensa 90mm f/2.8 DG DN berukuran panjang 6.4cm dengan berat 294 gram dan filter 55mm. Sigma mengunakan 11 elemen, dan lima diantaranya mengunakan elemen SLD yang setara fluorite yang berguna untuk meningkatkan ketajaman gambar dan meminimalkan efek chromatic aberration, ghosting dan flare. Lensa ini bisa fokus cukup dekat yaitu 50cm dan memiliki bokeh yang mulus. Karakteristik lensa ini membuat lensa ini cocok untuk foto portrait. Harga lensa ini US$639 (Rp9 jutaan).

Sigma 90mm f/2.8 DG DN
[continue reading…]
{ 0 comments }

Ricoh GR adalah kamera compact/pocket yang terkenal dari zaman kamera compact film untuk snapshot photography atau foto sehari-hari dan street photography. Popularitas Ricoh GR disebabkan oleh ukurannya yang sangat ringkas, ergonomi dan kualitas kamera dan hasil fotonya. Ricoh hari ini mengumumkan GR III X, varian GR III dengan lensa yang berbeda yaitu 26.1mm f/2.8 (ekuiv. 40mm). Pilihan 40mm ini cukup mengejutkan karena seri kamera Ricoh GR dari zaman film selalu mengunakan lensa ekuivalen 28mm kecuali kamera film Ricoh GR21 yang memiliki lensa 21mm.

Ricoh GR III dan Ricoh GR III X bedanya sangat tipis
Ricoh GR III X – Jendela bidik optik GV-3 40mm di jual terpisah

Lensa baru ini dirancang karena permintaan GR-ist (fotografer pengguna Ricoh GR) yang memberikan hasil yang perspektifnya lebih mirip dengan pandangan mata manusia. Lensa ekuivalen 40mm di full frame ini mengunakan dua elemen aspherical untuk meminimalkan Chromatic abberation, flare dan ghosting. Meski lensa ini fix, bisa fokus cukup dekat yaitu hanya 12cm dari depan lensa untuk close-up photography.

Untuk fitur kameranya, Ricoh GR III X ini mengunakan sensor 24 MP tanpa filter AA untuk ketajaman maksimal, dan SR (Shake Reduction) tiga axis dengan kemampuan peredam getar sebesar 4 stop. Fitur yang menarik lainnya diantaranya hybrid autofokus dengan deteksi mata dan wajah, AA filter simulator untuk mengurangi moire jika dibutuhkan dan RAW image editing di kamera.

Secara pribadi saya menyambut baik kehadiran varian Ricoh GR baru ini yang saling melengkapi dengan GR sebelumnya. jarak fokal 40mm juga akan lebih populer paska pandemi karena lebih bisa “jaga jarak.” Selain itu, 40mm lebih ideal untuk efek kompresi antara subjek dan latar belakang dengan lebih ketat dan untuk subjek kecil/close-up/makro.

Salah satu yang membuat kedua kamera ini makin menarik adalah aksesoris wide converter untuk GR III, yang membuat lensa ekuivalen dengan 21mm, dan tele converter untuk GR III X yang mengubah lensa menjadi 75mm. Bagi yang memiliki kedua kamera dengan lens converter akan memiliki pilihan jarak fokal 21mm, 28mm, 40mm dan 75mm. Pilihan yang cukup beragam dan menyenangkan untuk berbagai kondisi misalnya traveling.

Ricoh GR III X ini tidak menggantikan Ricoh GR III dan secara hardware dan teknologi sama, perbedaannya hanya terletak di lensa dan softwarenya. Untuk peningkatan softwarenya, Ricoh akan memberikan firmware update untuk pemilik GR III. Karena itulah, GR III tetap akan tersedia dan melengkapi dari GR III X. 

Harga Ricoh GR III X saat tulisan ini diterbitkan belum diumumkan, sebagai perbandingan, GR III saat ini dijual dengan harga Rp13.999.000. Kami akan review Ricoh GR III X lebih mendalam di blog dan Youtube setelah menerima unit demo yang diperkirakan sekitar bulan Oktober 2021.

Contoh foto dari Ricoh oleh Iwasaki – GR IIIx, 1/125sec. , F2.8, ISO200. EV-1.3
f/2.8, ISO 400, 1/320 positive film, Robert Adachi

Spesifikasi utama Ricoh GRIII X

  • Image sensor: 24.24 MP no AA filter, APS-C
  • Lensa: 26.1mm ekuivalen 40mm f/2.8
  • Monitor: Touchscreen 3″ 1juta titik
  • Movie: Video Full HD 60p
  • ISO: 100-102400
  • Shake Reduction 3 axis built-in stabilization
  • Built-in ND Filter up to 2 stop untuk foto/video
  • AA Filter Simulator
  • Dust sensor removal
  • Internal memory 2GB, SD card UHS-I
  • Autofocus : Hybrid Phase & Contrast Detect
  • Minimum focus distance: Normal mode: 0.2m~∞ , macro mode: 0.12m~0.24m
  • Berat: 262g termasuk baterai dan sd card
  • Dimensi: 109.4(W)×61.9(H)×35.2(D)mm (tidak termasuk tonjolan)
  • Battery : sekitar 200 foto
Ricoh GRIII X dengan lens adapter/teleconverter GA-2 ekuivalen 75mm
{ 1 comment }

Mencoba lensa FujiFilm GF 45-100mm f4 untuk foto safari

Saat saya bisa cropping foto dengan resolusi tinggi, maka lensa yang fokalnya kurang tele pun masih bisa dipakai untuk foto subyek yang cukup jauh seperti satwa atau olahraga

Erwin M.

Awalnya saya merasa canggung saat ditawari memotret safari dengan kamera Fuji GFX100S dengan lensa GF 45-100mm f4, karena biasanya lensa yang cocok untuk memotret satwa adalah lensa tele seperti 70-300mm atau 100-400mm. Sedangkan lensa GF 45-100mm ini karena dalam aturan medium format mesti dikali 0.79 untuk mendapat ekuivalen fokal dengan sensor full frame, maka lensa ini sebetulnya ‘hanya’ sebuah lensa standar zoom 35-80mm, bukan lensa yang sanggup menjangkau satwa yang berada cukup jauh dari fotografernya. Meski saya putar lensanya sampai mentok 100mm pun (yang aktualnya setara 80mm di full frame), apalah daya untuk kebutuhan safari masih kurang banyak.

Selfie dulu dengan Fuji GFX100S dan lensa GF 45-100mm f/4 OIS WR

Tapi saya tetap mencoba membawa kamera GFX100S dan lensa GF 45-100mm f4 ini karena rasa penasaran yang tinggi untuk menjajal bagaimana memotret safari dengan kamera medium format. Sebuah format yang kerap diberi stigma sebagai kamera studio, karena pemakaiannya biasanya untuk kerja, komersil, produk, atau potret. Namun GFX100S ini tampak masih relatif wajar, tidak terlalu besar di tangan, malah gripnya saya rasakan mantap. Urusan lensa yang tidak bisa menjangkau subyek jauh karena hanya mencapai ekuivalen 80mm, saya siasati dengan melakukan cropping. Saya hitung-hitung sebelum berangkat, kalaupun terpaksa saya melakukan crop ekstrim, saya masih bisa dapat foto dengan resolusi 10 hingga 20 megapiksel, yang masih cukup banyak detail, asalkan lensanya mampu mengimbangi resolusi sensor 100MP di kamera Fuji GFX100S ini.

Disini contoh foto yang saya ambil dengan lensa mentok di 100mm, dengan resolusi 100MP (11648×7768 piksel), lalu saya ingin crop bagian satwanya saja, melalui editing.
Dari hasil crop yang cukup ekstrim ini, saya masih mendapat foto resolusi 21 MP yang kurang lebih setara dengan sensor kamera lain pada umumnya. Foto ini bila hendak dicetak sebesar A3 pun masih akaan tampak detailnya.
[continue reading…]
{ 0 comments }

Fujifilm X Summit PRIME 2021

Fujifilm X Summit tahun 2021 baru saja usai, di acara yang berlangsung virtual ini, Fujifilm mengumumkan beberapa produk baru dan rencana pengembangan produk ke depannya.

Beberapa produk baru antara lain:

  • Fujifilm GFX50S II, Medium format 50MP
  • Fujifilm GFX 35-70mm f/4.5-5.6 WR
  • Lensa dalam pengembangan: Fujifilm GFX 55mm f/1.7, GFX 20-30mm, dan GFX Tilt Shift

Pembaharuan berikutnya adalah dukungan terhadap XLR input dan Blackmagic RAW codec.

Untuk Fujifilm X APS-C:

  • Kamera Fujifilm X-T30 II, 26MP X-Trans sensor
  • Lensa Fujinon XF 23mm f/1.4 WR
  • Lensa Fujinon XF 35mm f/1.4 WR
  • Lensa Fujinon XF 150-600mm & Lensa 18-120mm

Kedua lensa mendapatkan peningkatan di kualitas ketajaman gambar, dan autofokus yang jauh lebih cepat dibandingkan lensa XF 23mm dan 35mm f/1.4 terdahulu. Fujifilm mengklaim kinerja autofokus secepat 0.04 detik.

Tahun depan, Fujifilm akan merilis kamera flagship dengan stacked sensor X-Trans. Nama kamera belum diumumkan tapi kemungkinan X-H2 atau X-S1.

{ 0 comments }

Fujifilm memantapkan lini kamera medium formatnya dengan mengumumkan GFX50S II. Kamera ini ditujukan untuk fotografer yang menginginkan kamera medium format dengan body yang relatif compact dan harga yang lebih terjangkau. Fuji GFX50S II memiliki sensor 51.4MP, seperti pendahulunya GFX50. Processor-nya sudah diperbaharui ke X-Processor 4 yang terbaru, memungkinkan kinerja kamera yang lebih cepat dan fitur baru seperti film simulation Nostalgic Negative.

Desain dan pengaturannya seperti kamera DSLR kelas profesional. Fotografer yang sudah berpengalaman tentunya sudah sangat familiar. Ada top LCD, tombol, joystick, dan layar yang bisa ditekuk dua arah, memudahkan untuk komposisi horizontal ataupun vertikal. Layarnya bisa touch focus dan mengubah setting di Q menu tapi tidak di dalam menu utama.

Desain body-nya terlihat sama persis GFX100S, hanya tulisan nama yang tercetak yang membedakan keduanya. Seperti GFX100s, 50S II ini juga memiliki built-in stabilization yang efektif sampai dengan 6.5 stop. Berat kamera ini 900 gram kurang lebih seperti kamera full frame profesional.

Lensa GFX 35-70mm f/4.5-5.6 ini unik karena punya desain yang collapsible, lebih pendek saat disimpan, tidak memiliki aperture ring tapi sudah Weather Resistant. Ukurannya dan beratnya termasuk sangat ringkas relatif terhadap lensa medium format lainnya yang biasanya mencapai 1 kg. Lensa ini juga punya motor fokus STM yang mulus dan suaranya halus, ideal untuk merekam video juga. Lensa baru ini bisa didapatkan dalam paket pembelian dengan GFX50S II dengan total harga Rp 69.999.000

Lensa baru ini sangat compact dan saat di-zoom sedikit memanjang tapi tidak memiliki aperture ring seperti lensa GFX lainnya.
[continue reading…]
{ 1 comment }