≡ Menu

Hari ini, Kamis 12 Mei 2022 bertempat di gedung Tribrata Jakarta, PT Datascrip selaku distributor Canon Indonesia dengan resmi merilis kamera sinema EOS R5 C yang secara global sudah diumumkan awal 2022, dan sebuah lensa Dual Fisheye RF 5.2mm f/2.8L (yang secara global sudah diumumkan di Oktober tahun lalu). Dihadapan awak media, director of Canon Business Unit PT Datascrip ibu Monica Aryasetiawan menjelaskan bahwa EOS R5 C merupakan kamera hybrid paket lengkap untuk kebutuhan foto dan video dengan kualitas 8K dan memakai mount RF masa depan.

Peluncuran EOS R5 C (kiri ke kanan : Bp. Syailendra, ibu Monica, Bp. Iqbal)

Canon EOS R5 C menjadi kamera dengan fitur fotografi setara dengan EOS R5 yaitu sensor 45 MP full frame, Dual Pixel AF II yang bisa mendeteksi kepala, wajah, mata dan binatang, hingga keadaan gelap -6 EV dan saat aperture lensa sekecil f/22 sekalipun. EOS R5 C dalam urusan video mampu memberi berbagai pilihan format video seperti Cinema RAW Light 12 bit, proxy recording dan adanya pendingin kipas membuatnya bisa merekam video tanpa kuatir overheat.

Kamera hybrid EOS R5 C dengan sirip ventilasi untuk fan pendingin di sisi sampingnya

Dengan dua slot penyimpanan yaitu CFExpress (type B) dan SD card UHS II, didapat beragam variasi skenario sesuai kebutuhan profesional, misal :

  • slot 1 rekam 8K, slot 2 rekam 4K
  • slot 1 rekam Cinema RAW (light), slot 2 rekam proxy MP4
  • slot 1 rekam All-I, slot 2 rekam IPB (untuk arsip)
  • slot 1 rekam video, slot 2 rekam suara saja (audio)
  • dsb

Hal menarik lain, untuk setiap setting Gamma yang dipilih, terdapat dua macam Base ISO yang berbeda, misal :

  • Canon Log 3 : ISO 800 dan ISO 3200
  • BT709 Wide atau HLG : ISO 400 dan ISO 1600
  • BT709 Standard : ISO 160 dan ISO 640
[continue reading…]
{ 0 comments }

AstrHori 40mm f/5.6 Lensa cute nan powerful

Lensa-lensa manual belakangan makin bervariasi, dari merk, kualitas dan jarak fokal. AstrHori, sebuah perusahaan pembuat lensa yang unik, merilis lensa 40mm f/5.6 di awal tahun 2022 ini.

Meskipun lensa dengan jarak fokal 40mm semakin populer beberapa tahun belakangan, namun pilihan 40mm dengan bukaan maksimal f/5.6 ini agak berbeda daripada biasanya. Lensa ini di rancang untuk Leica M-mount, sebuah mount yang bisa di bilang universal karena mudah diadaptasikan ke kamera mirrorless apa saja dengan adapter.

Yang unik dari lensa ini adalah resolving power yang tinggi, artinya kita bisa menggunakannya di kamera dengan resolusi tinggi dan mendapatkan detail yang sangat tajam bahkan saat di perbesar ke 100%.

Lebih dari itu, lensa ini bisa dipasang dan mencakupi image sensor yang lebih besar lagi yaitu sensor 44x33cm yang digunakan di kamera seperti  Fujifilm GFX dan Hasselblad X1D.

Saya telah mencoba menggunakan lensa ini dengan adapter ke Fujifilm GFX 50 II dan seperti yang dijanjikan, lensa ini dapat mencakupi bidang medium format dengan baik. Saat dipasang di Sony A7R IV yang memiliki sensor full frame 61MP, kualitas gambar masih sangat detail dan tajam. Oleh sebab itu, lensa ini akan sangat baik jika dipasang di kamera Leica M10 juga.

Hasil foto dengan Kamera Fujifilm GFX50 II & AstrHori 40mm f/5.6
[continue reading…]
{ 0 comments }

Alasan lensa 40mm semakin banyak dan populer

Lensa yang populer untuk fotografer penggemar lensa fix biasanya adalah berkisar antara 28mm, 35mm atau 50mm. 40mm biasanya tergolong jarak fokal yang dianggap tidak lazim. Tapi dalam beberapa tahun belakangan, pabrikan lensa banyak membuat lensa dengan jarak fokal 40mm.

Di zaman kamera film rangefinder, 40mm tidak populer karena sebagian besar kamera rangefinder tidak memiliki frameline (petunjuk bingkai) di jendela bidiknya. Saat ini, hal tersebut tidak menjadi masalah karena adanya layar LCD dan jendela bidik elektronik. Lensa autofokus yang tersedia untuk kamera DSLR dan mirrorless juga sudah banyak.

Kamera Ricoh GR III X yang bersensor APS-C memiliki lensa fix ekuivalen 40mm

Beberapa alasan mengapa 40mm adalah jarak fokal yang menarik antara lain:

  1. Sudah lama jarak fokal lensa 50mm dianggap normal dan hal itu ada benarnya jika bentuk sensor gambar bujursangkar (Square) tapi karena sebagian besar film/image sensor berbentuk persegi panjang, maka jika kita hitung diagonal dari format 35mm film atau di era digital di sebut juga full frame (36x24mm), maka kita akan mendapatkan angka 43mm. Artinya dengan menggunakan lensa berjarak fokal 43mm, apa yang kita lihat dengan salah satu mata kita ukuran subjek akan sama jika kita lihat dari jendela bidik. 40mm lebih mendekati angka tersebut dan ideal saat kita ingin menunjukkan subjek sesuai dengan pengamatan mata kita. Subjek dan pemandangan akant terlihat tidak terlalu lebar dan tidak terlalu sempit, distorsi tertkendali.
  2. Jarak fokal lensa 40mm memungkinkan pabrikan kamera untuk membuat fisik lensa yang sangat compact dan biasanya kualitasnya masih bagus. Bahkan, banyak lensa yang memiliki bukaan yang sangat besar seperti f/1.2. Lensa 40mm yang bukaan maksimumnya f/2.8 bahkan sangat kecil dan tipis, banyak yang menyebut lensa ini dengan sebutan lensa pancake.
  3. Bagi pecinta bokeh (latar belakang blur), menggunakan lensa 40mm relatif mudah dibandingkan dengan lensa yang lebih lebar. Pilihan lensa berbukaan besar (f/1.2), dan beberapa diantaranya bisa fokus dekat memudahkan membuat untuk fokus subjek dekat, dan membuat latar belakang blur.
40mm tidak sesempit 50mm, dan masih mudah memisahkan subjek dari latar belakangnya – Leica SL & Voigtlander 40mm f/2.8
Handevision Ibelux 40mm f/0.85, lensa bukaan terbesar untuk jarak fokal 40mm.

Sebagai lensa normal, 40mm cukup fleksibel untuk berbagai jenis fotografi, street photography, still life, portrait, dan close-up photography. Untuk landscape photography dan documentary mungkin membutuhkan lensa yang lebih lebar seperti 24 atau 28mm. Kombinasi antara kedua jarak fokal ini akan saling melengkapi.

Foto head & shoulder dengan lensa ini masih terlihat normal, tidak cembung seperti lensa lebar
Voigtlander 40mm f/1.2 untuk Leica M Mount
Lensa 40mm bisa dibuat sangat compact, seperti lenca Canon EF 40mm f/2.8 STM

Pilihan lensa 40mm yang masih diproduksi antara lain:

Lensa autofokus

  • Nikon Z 40mm f/2 (2021)
  • Sony 40mm f/2.5 (2021)
  • Zeiss Batis 40mm f/2 (2018)
  • Fujifilm XF 27mm f/2.8 ekuivalen 40mm (2021)
  • Olympus 20mm f/1.4 ekuivalen 40mm (2021)
  • Canon EF 40mm f/2.8 (2012)
  • Sigma 40mm f/1.4 untuk DSLR (2018)

Lensa manual focus

  • Voigtlander 40mm f/1.2 ASPH (2017) untuk Leica dan Sony (2020)
  • Voigtlander Heliar 40mm f/2.8 Leica M & L39 (2022)
  • Voigtlander Ultron 40mm f/2 Nikon F (2017)
  • AstrHori 40mm f/5.6 Leica M (2022)
  • Kipon Ibelux 40mm f/0.85 II (2020)

Kamera compact dengan lensa ekuivalen 40mm = Ricoh GR IIIX (2021)

{ 0 comments }

Lensa DSLR Canon EF dan EFS jumlahnya banyak dan kualitas bagus. Di era mirrorless Canon dengan EF-M (APS-C) dan RF (Full frame) mount, pemilik kamera tersebut sebetulnya tetap bisa memasang lensa-lensa DSLR Canon itu, berkat lens adapter dari mount EF-M atau mount RF ke EF/EF-S yang dibuat langsung oleh Canon.

Adapter pada dasarnya berfungsi untuk mengubah bentuk mount, dia itu bolong (bukan converter, dia tidak mengubah fokal lensa) dan dia memberi jarak flange back yg pas mengikuti jarak lensa ke kamera DSLR, wajar kalau secara bentuk total jadi lebih panjang.

Yang penting disini adapter yg sedang dibahas adalah berjenis elektronik, bila kita lihat ada pin elektronik di sini dan di sana, artinya mereka terhubung, maka di dalam adapter ada chip yang meng encode perintah dari kamera mirrorless ke lensa EF. Keuntungan pakai adapter Canon, chipnya dibuat oleh Canon, jadi tidak perlu kuatir penurunan fungsi lensa spt AF, IS dan metering. Berbeda bila pakai adapter merk lain, atau memasang lensa Canon ke sistem kamera lain, biasanya akan ada kompromi di kinerja AF dll. Belum lagi berbagai adapter dari Canon dirancang dengan desain dust-and-moisture resistance yang membuatnya tahan debu dan kelembaban.

[continue reading…]
{ 0 comments }
Pemandangan Danau Toba dari Tele – Enche Tjin

Halo teman-teman infofotografi. Di bulan Mei tahun ini, kami kembali mengajak teman-teman untuk bergabung untuk berwisata dan memotret bersama Enche Tjin. Kali ini, kita akan mengunjungi Danau Toba, sebuah destinasi wisata di Sumatera Utara yang tiada dua pemandangannya. Saat ini sedang terkenal karena dibukanya spot-spot foto baru dan infrastruktur yang semakin baik.

Itinerary kami disesuaikan untuk yang hobi fotografi yang unik. Bagi teman-teman yang masih dalam tahap belajar fotografi atau sudah mahir juga bisa ikut berpartisipasi. Bimbingan oleh mentor fotografi akan siap membantu. Jadwal acara/itinerary kami adalah sebagai berikut.

Jadwal acara / itinerary  – Photo trip Samosir, Danau Toba, Medan

Hari ke-1 Jum’at, 13 Mei 2022

  • Kumpul di Bandara Silangit, Balige, Sumatera Utara
  • Makan siang di Siborong-borong
  • Menuju menara pandang Tele memotret panorama Danau Toba
  • Foto sunset di bukit Burung

Hari ke-2 Sabtu, 14 Mei 2022

  • Sebelum matahari terbit berangkat untuk sunrise di bukit Holbung
  • Foto-foto di bukit Sibea-bea
  • Foto-foto di Air Terjun Efrata
  • Kampung ulos Lumban Suhi-suhi & Hutaraja
  • Sunset di Batu Hoda

Hari ke-3 Minggu, 15 Mei 2022

  • Naik Ferry menuju kota Parapat
  • Menuju ke Kaldera
  • Makan siang di kota Pematang Siantar
  • Menuju kota Medan
  • Hunting kota Medan (Mesjid Raya/Istana Maimun)

Hari ke-4 Senin, 16 Mei 2022

  • Setelah sarapan, hunting di rumah tua/museum Tjong A Fie
  • Belanja oleh-oleh & kuliner Medan
  • Setelah makan siang bertolak ke Bandara Kuala Namu (KNO)

Biaya Tour : Rp 4.750.000 per orang
Silahkan hubungi kami di 0858 1318 3069 untuk mendaftar atau mendapatkan informasi

Biaya telah termasuk:

  • Bimbingan fotografi (bagi yang membutuhkan)
  • Transportasi selama tour (Hi Ace) kapasitas 10 orang
  • Makan pagi, siang, malam selama tour kecuali jajan/kuliner di hari terakhir
  • Penginapan selama tour ini (berjenis resort di Samosir/Danau Toba, hotel bintang 3 di Medan).
  • Bagi yang ingin single suplemen (sekamar sendiri) dapat menghubungi kami, akan ada biaya tambahan dan tergantung ketersediaan kamar.

Tidak termasuk:

  • Tiket pesawat
  • Tips untuk guide, porter, dll
  • Belanja pribadi

NB: Kita dapat membantu membeli tiket pesawat ke Medan/Silangit

Bukit Holbung – Foto oleh Johnny Siahaan
Sibea-bea dengan drone – Foto oleh Johnny Siahaan
{ 2 comments }

Voigtlander 50mm f/1.5 Heliar Classic VM

Lensa Voigtlander Heliar Classic ini unik di tahun 2020-an karena desain optik dan fisik yang menyerupai lensa tahun 70-an. Kualitas optik di lensa ini tidak bisa dibilang sempurna, tapi karakter ketidaksempurnaan ini yang menjadikannya unik.

Lensa 50mm f/1.5 ini dibuat untuk dipasang di kamera Leica M-mount, tapi juga bisa dipasang di kamera mirrorless masa kini dengan adapter yang sesuai. Untuk review ini, saya memasang lensa ini ke Leica SL, sebuah kamera mirrorless bersensor full frame dengan resolusi 24MP.

Ditinjau dari desainnya, lensa ini cukup mewah karena dibuat dengan bahan logam alumunium dan kuningan dengan aperture ring dan focus ring dengan tekstur diamond anti slip saat memutarnya. Ergonominya enak digunakan, tidak terlalu kecil dan tidak besar. Voigtlander mengikutsertakan lens hood kecil dengan type screw-in dan penutupnya, sesuatu yang jarang karena sebagian besar lens hood Voigtlander harus di beli secara terpisah.

Lensa Heliar jarang yang bukaannya sampai f/1.5 dan minimum fokusnya relatif dekat (50cm) dibandingkan dengan lensa Leica M-mount pada umumnya
Tersedia lens hood screw-in yang terpasang di lensa, dan penutupnya

Kualitas Gambar

Lensa Heliar yang berbukaan besar sebenarnya sangat jarang, karena Heliar berasal dari kata Helios yang artinya matahari, lensa-lensa Heliar biasanya memiliki bukaan maksimum yang kecil, misalnya 50mm f/3.5 dan10mm f/5.6. Di era kamera mirrorless, istilah Heliar sepertinya diberikan ke lensa-lensa yang unik seperti lensa Classic ini.

Selain fisiknya yang vintage, lensa 50mm f/1.5 ini menghasilkan foto yang agak soft di bukaan besar. Di beberapa keadaan saya melihat subjek agak “glowy” atau berpendar. Yang paling menonjol dari lensa ini adalah bokeh yang tidak mulus dan memiliki outline. Sebenarnya bokeh ini adalah hasil dari ketidaksempurnaan optik, tapi bicara tentang seni, bokeh yang bentuknya seperti itu bisa jadi terlihat unik dan menarik untuk sebagian orang.

Selain soft di bukaan terbesarnya, vinyet lensa ini juga tinggi di f/1.5. Hanya saat stop down ke f/2.8 atau lebih kecil, maka kualitas gambar akan jauh meningkat dari ketajaman dan vinyet.

Vinyet dan ruang tajam sangat berbeda di f/1.5 dan f/8

Rekomendasi

Lensa ini lensa unik dan spesial, cocok bagi fotografer yang ingin membuat gaya foto seperti fotografer era 60-70an. Cocok untuk subjek yang klasik, atau foto monokrom (hitam putih).

Periksa harga dan ketersediaan lensa ini di Blibli.com dan Tokopedia.

Saksikan pembahasan kami di YouTube infofotografi
{ 0 comments }

Memahami istilah di lensa Voigtländer

Beberapa tahun belakangan ini, Voigtländer sangat aktif dalam membuat lensa untuk kamera Leica M dan mirrorless, bagi pemula, mungkin istilah-istilah penamaan Voigtländer agak membingungkan. Oleh sebab itu, artikel ini berusaha untuk memperjelas apa maksud dari istilah tersebut.

Voigtländer NOKTON

Istilah Nokton ekuivalen dengan Noctilux di Leica dan Noct. di Nikon. Kata iniberasal dari kata latin “Noctis” yang berarti malam. Lensa-lensa berlabel Nokton dalam sejarahnya memiliki bukaan yang sangat besar, antara f/1.5 sampai f/1. Tujuannya supaya mudah mendapatkan cahaya di kondisi gelap.

Di zaman kamera film, jarang ada lensa yang berbukaan sangat besar dan sulit membuat lensa bukaan besar yang kualitasnya bagus dan murah. Maka itu, label Nokton memiliki kasta yang tertinggi dan paling bergengsi dibandingkan dengan lini lensa yang lain di masa itu.

Contoh lensa nokton diantaranya adalah: Voigtländer NOKTON 50mm f/1.5 II MC, NOKTON 50mm f/1.2, NOKTON 50mm f/1, dsb.

[continue reading…]
{ 1 comment }

Apakah Fotografi akan Mati?

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya akan kilas balik dulu beberapa puluh tahun yang lalu. Saat saya masih kecil, fotografi sudah sangat digemari, meskipun saat itu masih era kamera film. Album foto yang mendokumentasikan acara keluarga dari kecil masih cukup lengkap, dari saya bayi, ultah pertama sampai kedelapan. Foto-fotonya bagus-bagus karena sebagian besar dibuat oleh fotografer profesional.

Saksikan juga video saya di YouTube infofotografi

Tahun 1980-1990-an menurut saya adalah masa keemasan fotografer profesional, karena di era kamera film, sedikit sekali orang yang bisa menguasai kamera SLR atau rangefinder film dengan lensa manual fokus, dan harus punya ketrampilan cuci cetak foto juga. Fotografer profesional adalah seorang spesialis dengan kemampuan khusus yang layak di bayar mahal. Saya dengar, fotografer profesional bisa mengutip bayaran yang cukup tinggi. Sebagian besar fotografer profesional saat itu bisa beli rumah dan mobil dari pekerjaan full time memotret saat itu.

Pada tahun 2000-2020an adalah masa demokratisasi fotografi. Artinya bukan hanya fotografer profesional yang bisa membeli kamera yang canggih dan membuat foto yang bagus. Di era ini, orang awam juga bisa membeli kamera digital dengan harga yang terjangkau dan akses ke pendidikan dan pengetahuan tentang fotografi terbuka lebar sehingga tidak sulit untuk membuat foto yang bagus dengan standar profesional.

Keberadaan kamera yang canggih dan terjangkau ternyata mulai meresahkan fotografer profesional. Pekerjaan fotografer pro mulai tergerus karena banyak orang awam atau penghobi foto yang sudah memotret dengan hasil yang bagus, apalagi kamera ponsel juga semakin canggih yang dilengkapi dengan teknologi computational photography. Persaingan juga makin ketat, akibat banyaknya fotografer muda yang masuk ke dalam industri. Karena kemudahan memperoleh alat dan pendidikan, banyak yang rela dibayar seikhlasnya. Untuk acara-acara keluarga, kebutuhan untuk mengupahi fotografer profesional untuk foto seperti portrait dan acara ulang tahun semakin berkurang.

Pada tahun 2030-2045, saya membayangkan bahwa untuk membuat gambar digital yang photo-realistic menjadi lebih mudah dan cepat. Contohnya misalnya jika kita ingin membuat gambar pemandangan yang indah. Daripada travel ke lokasi yang jauh, kita bisa membuat susunan awan yang realistis dengan mudah dengan mengandalkan Ai (Artificial Intelligence). Bukan hanya pemandangan, portrait manusia juga bisa dibuat dengan lebih mudah. Kemungkinan besar kita dapat membuat model yang kita inginkan dengan mudah: seberapa tinggi, seberapa besar matanya, seberapa mancung hidungnya dan sebagainya bisa diset dan dibuat oleh software.

Lantas apakah fotografi akan mati?

Sebelum menjawab, sebaiknya kita merenungkan mengapa fotografi bisa digemari banyak orang di era kamera digital di tahun 2010-2020. Menurut pengamatan saya, fotografi digital bisa booming karena banyaknya platform media sosial yang memungkinkan semua orang berbagi karya fotonya. Dengan adanya apresiasi dari teman-teman dan masyarakat umum, orang-orang menjadi lebih semangat dan bergairah untuk memotret lebih banyak dan lebih bagus.

Orang-orang yang tadinya hanya menikmati karya foto juga terpacu untuk bisa membuat karya foto yang bagus karena teman-teman mereka di media sosial bisa membuat karya yang bagus. Dipicu oleh semangat “kia su” atau tidak mau kalah, maka banyak orang membeli kamera digital terbaru dan menimba ilmu fotografi dengan semangat.

Seiring dengan perkembangan teknologi, konektivitas internet yang semakin cepat, konten audio visual saat ini lebih digemari dan diprioritaskan oleh platform media sosial besar seperti TikTok, Instagram, bahkan Youtube (shorts). Oleh sebab itu, lebih sedikit karya foto yang ditunjukkan kepada pengguna platform tersebut dan membuat apresiasi ke karya foto menjadi lebih sedikit. Dari awal tahun 2022, saya memperhatikan instagram saya dan beberapa teman-teman viewsnya berkurang kira-kira 1/2 dari biasanya.

Dengan apresiasi yang lebih sedikit, motivasi dan semangat fotografer tidak terelakkan akan terdampak dan lambat laun karya foto akan berkurang seiring dengan berpindahnya bola-bola mata ke konten audio visual.

Fotografi mungkin akan seperti seni lukis. Dahulu, pelukis adalah profesional yang sangat diandalkan untuk melukis portrait, terutama untuk pembesaran dan warna, karena fotografi di zaman itu belum bisa menghasilkan warna yang bagus dan tingkat detail/resolusi yang cukup untuk cetak ukuran besar. Tapi seiring dengan perkembangan teknologi fotografi dan alat cetak, maka banyak pelukis portrait itu beralih profesi. Tapi bukan berarti seni lukis itu punah.

Oleh sebab itu, menurut saya fotografi tidak akan mati, tapi akan berkurang baik fotografer profesional ataupun penghobi, yang masih bertahan adalah fotografer yang menyukai proses memotret misalnya portraitist akan senang berinteraksi dengan model yang menjadi subjek fotonya, fotografer travel menyukai pengalaman dalam perjalanan.


Ingin belajar fotografi? Silahkan kunjungi halaman jadwal kami.

{ 1 comment }

Tanggal 31 Maret 2022 yang lalu, PT Aneka Warna Solusi Media, distributor Zhiyun di Indonesia, meluncurkan stabilizer gimbal Crane M2S yang ditujukan untuk kamera mirrorless, smartphone dan action camera Sebagai penerus M2 yang sangat populer, Crane M2 S mempertahankan ukuran dan beratnya yang hanya naik sedikit dari 490g ke 549g.

Crane M2 S

Jika dibandingkan dengan M2, M2S memiliki banyak peningkatan, misalnya kapasitas yang lebih besar (1kg vs 0.7kg), sehingga mampu menahan dan menstabilkan kamera mirrorless full frame compact (seperti Sony A7III, A7C, Canon EOS R), punya lampu LED tambahan berkekuatan 1000 lumens yang berguna untuk syuting di kondisi gelap atau backlight. Crane M2S juga dilengkapi dengan quick release 4.0 dengan dua safety lock yang aman dan nyaman. Pengisian baterai dan daya tahan baterai M2S juga ditingkatkan kecepatannya dan kini sudah menggunakan USB-C.

Dibandingkan dengan Crane M3 yang beratnya 700g, M2S 250g lebih ringan tapi memiliki banyak fitur yang sama. Harga M2S juga lebih terjangkau yaitu Rp 4.485.000 untuk paket standar, dan Rp 5.820.000 untuk paket combo (dengan tas dan phone clamp).

Perbedaan lainnya yaitu lampu LED M2S cukup cerah dengan 1000 lumens dan bisa diatur dalam 5 tingkat kecerahan dan punya berbagai filter untuk mengganti warna, sedangkan yang M3 memiliki LED dengan kekuatan yang lebih rendah, yaitu 800 lumens tapi bisa memilih dua warna (bi color).

Baterai M2S runtimenya juga lebih tahan lama, yaitu 10 jam 35 menit dibandingkan dengan M3 yang 8 jam dan M2 yang hanya 7 jam saja. Fitur yang ada di M3 tapi tidak ada di M2S yaitu bluetooth control.

Rekomendasi

Melihat banyak peningkatan dari M2, menurut saya, Crane M2 S sangat worthy dari segi harga dan ukuran. Namun, videografer juga harus mempertimbangkan Crane M3 jika menggunakan lensa yang lebih panjang dan besar, karena kapasitasnya lebih tinggi sehingga stabilizernya bisa lebih optimal.

Pre-order berlangsung pada 24 Maret-3 April 2022 dan akan diperpanjang sekali sampai 10 April 2022. Pembeli akan mendapatkan Rp300.000 extra discount saat membeli di masa ini di Blibli dengan voucher CRANEM2S.

Launching Zhiyun Crane M2S di Jakarta
{ 0 comments }

Saya telah sering mendengar dan melihat tas kamera merk KEE, tapi baru satu dua minggu belakangan ini menggunakan tas kamera merk KEE model Mantis 3.0. Tas ini modelnya selempang atau lebih dikenal dengan messenger bag yang merupakan salah satu type favorit saya karena mudah untuk mengakses kamera dan lensa di lapangan.

Tas KEE Mantis ini bisa memuat satu kamera yang ukurannya relatif besar, dengan tiga lensa atau aksesoris, selain itu bisa memuat laptop atau tablet berukuran maksimum 13 inci. KEE juga membuat versi tas yang dapat memuat laptop 15 inci.

Mantis 3.0 menandakan bahwa model tas ini telah beberapa kali ditingkatkan mutunya sesuai dengan masukan dari pengguna sebelumnya. Di edisi terbaru ini, bahan Cordura dipilih supaya tas ini ringan, tapi tetap tahan berbagai kondisi. Bahan Cordura cukup tahan air sehingga jika hujan tidak perlu panik. Tas ini juga didukung dengan ritsliting YKK yang aman dan terpercaya.

Kompartemen tas ini juga terbilang banyak, selain kompartemen utama untuk kamera dan lensa, juga ada kantong kecil di samping kiri dan kanan tas, di bagian depan ada kompartemen untuk menyimpan notes, alat tulis dan di bagian belakang bisa untuk menyimpan dokumen, pasport atau ponsel.

Tas KEE Mantis 3.0 ini cocok untuk fotografer/videografer pro atau amatir yang membutuhkan tas yang bisa memuat kamera dengan beberapa lensa, aksesoris dan tablet/laptop mini. Saya pribadi cocok membawa tas ini karena ringan, memuat banyak gear dan tidak terlalu menarik perhatian.

Link pembelian tas ini: Tokopedia

Kelebihan dan kekurangan tas KEE Mantis 3.0

+ Muatan cukup banyak
+ Bahan Cordura ringan dan kuat, tahan tetesan air/debu
+ ritsleting berkualitas
+ Quick access dan kantong di bagian kanan dan kiri tas
+ Termasuk raincover
+ Banyak compartment
+ Harga relatif terjangkau
+ Aman dengan double flap dan kuping berpadding
+ Bisa slot-in ke handle koper

– Bentuk kotak dan agak kaku
– Ukuran cukup panjang dan besar
– Hanya ada dua sekat padding saja

Spesifikasi KEE Mantis 3.0

Bahan Luar: Cordura Fabrics (Lebih Ringan)
Bahan Dalam: Nylex Lining
Dimensi: 31 x 25 x 15 cm
Laptop Space: 21 x 33 x 3 cm
2 Sekat Lepas Pasang
Ketebalan: 10mm
Resleting: YKK Original
Webbing: YKK Original

Saksikan reviewnya di YouTube infofotografi
{ 0 comments }