≡ Menu

Bahas foto di channel YouTube infofotografi 2023

Enche Tjin akan membahas foto pemirsa/pembaca lagi pada hari Sabtu, tanggal 4 Februari 2023. Bagi teman-teman yang ingin ikutan, silahkan ikuti aturan seperti berikut:

  1. Tema Foto subjek yang sehari-hari yang bermakna – penjelasan bisa menonton video yang terlampir dibawah
  2. Foto maksimum 3
  3. Format foto JPG, ukuran minimum 2MP maks. 24MP
  4. Tunjukkan atau tuliskan gear (kamera/lensa yang digunakan (opsional))
  5. Caption (jelaskan makna/cerita foto)
  6. Kirimkan ke e-mail infofotografi@gmail.com

Beberapa live bahas foto yang pernah di adakan antara lain:

Untuk belajar fotografi, silahkan periksa jadwal dan topik kursus/workshop fotografi & videografi di halaman ini.

{ 0 comments }

Panasonic Lumix S5 II meluncur, Apa peningkatannya?

Panasonic Lumix S5 II adalah kamera mirrorless hybrid (foto-video) dengan sensor full frame dan L-mount yang dirilis tanggal 4 Januari 2023 dengan harga USD2000 atau sekitar Rp32 juta. Sesuai dengan namanya S5 II memperbaharui Lumix S5 yang pernah kami bahas di infofotografi dan di channel YouTube infofotografi.com.

Beberapa hal yang meningkat antara lain:

  1. 779 titik Phase Detection AF System

Lumix S5 II menjadi kamera pertama yang menggunakan sistem AF Phase Detect, sebelumnya, semua kamera Lumix menggunakan sistem AF contrast detect ala Lumix yang dinamakan DFD (Depth of deFocus). Di S5 II, teknologi DFD akan bekerjasama dengan PD AF system untuk menghasilkan kinerja AF yang cepat, akurat dan mulus saat tracking subjek yang bergerak untuk foto dan video.

2. Open Gate 6K 3:2 recording dengan aspek rasio 3:2

Memudahkan content creator untuk melakukan reframing ke landscape (16:9) atau vertical (1:2)

3. Peningkatan di jendela bidik dan Built-in FAN

Secara fisik S5 II mirip dengan S5, hanya di S5 II ini jendela bidiknya lebih besar karena resolusinya meningkat menjadi 3.68 juta titik dan uniknya di dalam jendela bidik ada fan untuk mengendalikan panas di dalam kamera. Dengan fan ini, creator bisa merekam tanpa batas waktu.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Canon di era DSLR punya banyak lini Speedlite seperti 270 EX, 370EX, 420EX hingga 580EX. Di masa keemasan strobist photography, Canon juga meluncurkan flash eksternal dengan kode RT, seperti 600EX RT yang artinya mendukung sistem Radio Transmission. Kini di era mirrorless, Canon mengganti penamaan Speedlite mereka dan memperkenalkan produk pertama bernama Speedlite E-L1, sebuah flash high end dengan banyak fitur dan memiliki baterai Lithium dan walau tanpa kode RT namun tetap bisa dipakai bermain wireless dengan ditrigger oleh flash Canon lain ataupun trigger ST-E3.

Flash Canon E-L5 dipasang diatas kamera Canon R6 II

Di akhir 2022 ini, flash eksternal versi yang agak lebih terjangkau resmi dirilis oleh Canon dan diberi nama Speedlite E-L5. Hadir dengan GN yang sama (GN60) dan baterai yang juga Lithium, Canon E-L5 menjadi produk Speedlite Canon pertama yang sudah berbeda koneksinya ke kamera. Tidak lagi memakai sejumlah pin kontak di hot shoe, tapi kini memakai Multi-Function foot, yang membuatnya (sementara ini) baru bisa dipasang di kamera Canon EOS R terbaru (R3/R7/R10 dan R6 II). Canon E-L5 ini juga tetap mendukung sistem wireless 5 grup 15 channel, dan untuk yang mencari trigger yang paling sesuai, kini juga ada ST-E10 yang juga kakinya berjenis Multi-Function foot juga.

Multi Function foot, pertama ada di E-L5 ini dan hanya bisa dipasang di EOS R3 / R7 / R10 / R6 II

Kelebihan Speedlite E-L5 diantaranya adalah recycle time yang singkat, hanya satu detik di full power (flash lain biasanya perlu 5 detik). Selain itu dia bisa diatur manual power sampai 1/1024 alias menyala sangat redup. Secara fisik, flash eksternal ini juga unik karena dia punya dua lampu LED untuk modelling light, punya tampilan menu layar baru yang simpel, ada kendali joystick dan bodinya juga weathersealed. Selain bisa dipakai di model TTL, flash E-L5 juga bisa di mode Manual dan Multi, serta ada banyak Custom setting yang bisa diatur seperti untuk Rear sync dan HSS. Apa yang tidak ada di flash E-L5 ini? Pertama dia tidak dibekali fitur wireless lama (IR/optik) sehingga tidak bisa dipicu secara wireless oleh built-in flash. Kedua, flash ini tidak lagi punya port lama seperti PC atau power input, karena memang sudah tidak terlalu diperlukan juga di era modern ini.

Baterai LP-EL membuat flash E-L5 lebih siap memotret cepat dan bisa lebih tahan lama
[continue reading…]
{ 0 comments }

Review Canon EOS R6 II

Canon R6 mark II adalah kamera mirrorless full frame yang memiliki fisik yang mirip dengan Canon R6 pendahulunya, tapi dengan sensor dan peningkatan baru. Bentuk dari Canon EOS R6 seperti kamera DSLR dengan grip/pegangan yang besar, jendela bidik di atas kamera, memiliki tombol, joystick dan dial untuk mengatur setting, dan layar monitor 1.6 juta titik, touch screen dan dapat diputar ke samping dan ke segala arah.

Canon EOS R6 mark II dengan lensa Canon RF 135mm f/1.8 dan trigger.

Perbedaan desain kamera dibandingkan kamera pendahulunya dapat ditemukan di bagian atas kamera, dimana Canon EOS R6 II memiliki tuas untuk mode fotografi atau videografi dan tuas ON OFF dilengkapi dengan LOCK untuk mengunci tombol kamera.

[continue reading…]
{ 0 comments }

7Artisans 35mm f/2 WEN untuk Leica M

Teman-teman pencinta lensa manual murah tapi berkarakter, mungkin pernah mendengar 7Artisans, yang membuat lensa-lensa manual fokus yang ringan dan berkarakter.

Kali ini, kita kedatangan lensa 7Artisans 35mm f/2 WEN untuk Leica M. Lensa dengan label WEN ini adalah lensa yang standar kualitasnya diatas lensa-lensa 7Artisans pada umumnya. Jadi kita bisa mengharapkan kualitas fisik dan gambar yang bagus dari lensa ini. Sedikit informasi, WEN ini artinya hal-hal yang yang berhubungan dengan budaya, seni, dan bahasa.

Secara fisik, lensa ini berukuran relatif kecil dan ringan, lensa ini memang tidak sekecil lensa Leica 35mm Summicron , tetapi tidak lebih berat. Tepatnya sekitar 250gram. Filter thread-nya 55mm, lebih besar dari Leica Summicron yang hanya 39mm, dan memiliki hood berbentuk kotak. Lens cap juga sudah tersedia dan terbuat dari logam.

Saksikan video dan hasil foto 7Artisans di sini.
[continue reading…]
{ 1 comment }

Kepribadian menentukan selera fotografi

Bagus tidaknya sebuah foto sering dikatakan sebagai selera dari fotografer atau penikmat fotonya. Tapi taukah bahwa kepribadian kita memilih pengaruh atas apa yang kita sukai? Dalam teori 16 kepribadian Myers Brigg Type Indicator (MBTI), dikenal adannya dikotomi Sensing dan Intuitif, yang dilambangkan dengan huruf S untuk sensing dan N untuk intuitif. Type Sensing memiliki panca indera yang lebih peka terhadap detail, warna, rasa sedangkan type N lebih imajinatif dan fokus ke makna dan cerita dalam sebuah foto.

Jika kita kaitkan dengan fotografi, type Sensing akan menyukai foto yang detail, tajam dan jelas. Misalnya saat foto pemandangan, S senang memotret foto yang menghasilkan detail yang tajam dan jelas dari daun-daun sampai tekstur gunung dan awan di kejauhan. Still life, produk dan food photography juga salah satu yang jenis fotografi yang cocok untuk S, yang mana detail dari makanan sangat penting.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Panasonic kembali menghadirkan lomba pembuatan film pendek yang sempat vakum selama pandemi covid. Di tahun 2022 ini, ada tiga kategori yang diperlombakan yakni film pendek, konseptual dan vertical video. Kompetisi ini memperebutkan hadiah senilai Rp360 juta dalam bentuk kamera, lensa dan uang tunai. Info lengkap bisa dibaca di situs PYFM2022.com

Peluncuran Panasonic Young Filmmaker Award 2022

Press Release dari Panasonic Indonesia

Jakarta, 10 November 2022 – Bertepatan dengan Hari Pahlawan 10 November 2022, Panasonic kembali mewujudkan komitmennya untuk memajukan industri kreatif di Indonesia dengan menghadirkan Panasonic Young Filmmaker 2022 sebagai wadah bagi filmmaker dan creator muda Indonesia untuk berkompetisi menghasilkan dan menunjukan karya terbaiknya dalam bentuk video.

Ajang kompetisi Panasonic Young Film Maker 2022 hadir dengan warna baru dengan kolaborasi bersama brand Panasonic lain seperti Panasonic TV, Panasonic Cooking dan Panasonic Beauty serta komunitas kreatif dan para professional dari industry perfilman dan juga videografi dalam setiap kategori. Hal ini merupakan bentuk penyesuaian Panasonic dengan tren video dan digital yang terjadi saat ini dan bertujuan untuk memperluas audience yang tidak hanya dari pembuat film tapi juga pembuat konten video digital dari berbagai latar belakang maupun minat.

Intan Abdams Katoppo, Transformation and Services Director PT Panasonic Gobel Indonesia mengatakan bahwa Panasonic Young Filmmaker merupakan salah satu upaya kami dalam berkontribusi untuk kemajuan industri kreatif di Indonesia dengan memberikan wadah bagi para creator muda Indonesia menunjukan karyanya dalam bidang videografi sekaligus memberi kesempatan kepada mereka bertemu dan berdiskusi dengan para professional dibidangnya.

Dalam rangkaian acara PYFM 2022, para filmmaker dan content creator muda nantinya akan diberikan kesempatan untuk saling belajar dari para ahli dan mendapatkan lebih banyak ilmu mengenai tren serta proses pembuatan film maupun video digital.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Sony A7R V – Makin pintar dengan AI Autofocus

Sony A7R V adalah kamera mirrorless Sony canggih yang beresolusi paling tinggi di jajaran kamera Sony Alpha. Kamera semacam ini biasanya digunakan fotografer yang ingin merekam sebanyak mungkin detail seperti fotografer landscape, fashion dan komersial yang sering cetak besar atau cropping.

Desain dan fitur baru Sony A7R V

A7R V memiliki beberapa persamaan dengan pendahulunya A7R IV, yaitu dari segi desain body, penggunaan sensor full frame 61MP. Peningkatan-peningkatannya lebih banyak ke aspek lain.

Peningkatan yang paling penting adalah sistem autofokusnya yang menggunakan teknologi AI (Artificial Intelligence), sehingga dapat mengenali berbagai subjek dengan mudah dengan akurasi yang lebih tinggi.

Kedua adalah layar LCD nya kini bisa dilipat ke samping, tapi juga bisa dilipat ke atas dan kebawah. Layar yang bisa dilipat di samping dan ke depan biasanya disukai videografer, dan layar yang bisa di-tilt ke atas, kebawah biasanya lebih disukai fotografer.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Apa yang baru di Canon EOS R6 Mark II?

Kamera mirrorless Canon EOS R6, menjadi lini menengah yang punya fitur lebih baik dari dua EOS R generasi awal seperti R dan RP, dan ditujukan dibawah R5 yang mengusung resolusi sensor tinggi dan video 8K. Posisi itu sebenarnya sudah pas dengan target pembeli adalah yang mencari kamera seimbang di berbagai fiturnya, atau yang tidak memerlukan resolusi ekstra tinggi. Tapi pilihan Canon saat itu memberi sensor di R6 setara flagship DSLR-nya yang beresolusi 20MP, memang diakui atau tidak, menyulitkan posisi R6 untuk bersaing dengan produk sekelas yang sensornya 24MP. Saya pribadi saat mencoba R6, tidak ada masalah dengan sensor yang 20MP, tapi orang lain mungkin akan merasa perlu punya kamera yang minimal sensornya 24MP. Untuk itu, seperti yang banyak dirumorkan, Canon meneruskan R6 generasi kedua dengan sensor 24MP. Tapi bukan cuma itu saja, ada hal-hal menarik lain yang baru di EOS R6 Mark II. Apa saja?

Kini dengan sensor 24MP

Kecepatan memotret kontinu, sepertinya jadi begitu banyak ditingkatkan oleh berbagai produsen kamera akhir-akhir ini. EOS R6 Mark II juga mendapat peningkatan speed burst sampai 40 fps dalam mode shutter elektronik. Di era videografi semakin menuntut kamera yang punya banyak fitur video, R6 Mark II pun dibekali kemampuan video 4K 60p tanpa crop (atau bisa juga dengan APS-C crop untuk bisa merekam video lebih lama). Kalau merekam dengan fps normal 30 fps, tidak ada batasan durasi waktu rekam, sampai baterai habis atau sampai memori full. Fitur lainnya adalah ProRes RAW 6K bila direkam via HDMI out ke perekam eksternal seperti Atomos tipe tertentu.

Hal yang masih sama dengan R6 sebelumnya adalah desain fisik, stabilisasi 8 stop, dual slot SD Card (UHS-II), baterai, layar dan jendela bidik juga masih sama. satu hal kecil yang sering luput dari perhatian adalah hot shoe, dimana meski tampak sama, hot shoe di R6 Mark II (dan EOS R terbaru seperti R7, R10, R3) memiliki multi adapter port, yang bisa dipakai untuk memasang flash tipe baru atau mic jenis tertentu yang bisa 4 channel audio.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Fujifilm X-T5 – Kembali ke Fotografi

Fujifilm X-T5 punya tag line “Back to Photography.” Slogan ini saya yakin menarik bagi teman-teman yang senang fotografi. Pasalnya, belakangan ini, hampir semua pabrikan berlomba-lomba mempromosikan kecanggihan fitur videografi dari kamera terbaru mereka.

Sebagian fotografer yang mungkin merasa, wah, saya tidak menggunakan fitur video, tapi harus menerima desain yang lebih cocok untuk merekam video. Selain itu, dengan komponen dan desain yang mengakomodir kebutuhan foto & video dalam satu kamera, harga dan berat kamera pelan-pelan merayap naik dari generasi ke generasi.

Desain kamera

Hadirnya Fujifilm X-T5 seakan-akan kembali ke jati diri Fujifilm X sebagai kamera yang lebih photo-centric. Secara desain, X-T5 ini sangat mirip dengan X-T1, kamera legendaris Fujifilm yang  modelnya seperti kamera film/analog.

Ciri utamanya adalah memiliki shutter speed dial di atas kamera. Ia juga punya jendela bidik, yang pastinya membantu saat memotret di siang hari.

[continue reading…]
{ 0 comments }