≡ Menu

Di bulan Desember 2021 ini, akan ada sebuah event penting di Jakarta yaitu sebuah kegiatan soft launching Jakarta International Stadium (JIS) yang saat ini progres pembangunan fisiknya sudah mencapai 86%. Kali ini kami berkesempatan untuk masuk kedalam stadion ini, untuk melihat langsung keadaan dan persiapan yang sudah dilakukan jelang acara nanti. Adapun rencana untuk bisa selesai keseluruhan, sekaligus akan dibuka secara resmi dalam bentuk grand opening itu dijadwalkan di bulan Maret 2022 mendatang.

Konsep gambar JIS dari IG @jakintstadium

Secara umum bangunan berskala masif yang terletak di Tanjung Priuk Jakarta Utara ini dirancang sebagai pusat olahraga milik DKI, yang sekaligus menjadi kandang klub bola Persija. Didesain mampu menampung 82 ribu penonton, JIS memang membuat banyak orang penasaran akan kemegahan strukturnya. Stadion setinggi 73 meter ini memang ditujukan sebagai pengganti lapangan Lebak Bulus yang terkena proyek MRT, dan lokasi saat ini awalnya dulu adalah taman BMW. Keunikan JIS salah satunya adalah desain atap yang bisa dibuka tutup, misalnya untuk melindungi dari panas atau hujan bila dipakai untuk kegiatan selain sepak bola (konser musik atau semacamnya).

Penanggung jawab proyek sedang mengawasi pekerjaan jelang soft launching nanti.
Kursi VIP yang empuk sebagian sudah terpasang dan masih dibungkus plastik.

Saat kami berkunjung ke sana, kondisi crane utama di empat titik stadion sudah dilepas semua, membuat JIS tampak makin mendekati proses selesai dalam konstruksinya. Proses pemasangan fasad utama berupa panel dengan lubang-lubang udara juga sudah hampir selesai, demikian juga dengan konstruksi atapnya yang terus dikerjakan. Memang sampai soft launching nanti, sistem atap buka tutup belum akan bisa diwujudkan, tapi setidaknya atap utama yang permanen mestinya bisa diutamakan dulu. Bangku penonton sudah mulai dipasang khususnya di tribun barat dan timur, dan lapangan rumput sudah terlihat rapi meski belum tampak ada gawangnya. Rumput disini berjensi hybrid yang artinya campuran antara rumput hidup dan rumput sintetis yang memenuhi standar internasional.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Review kamera ponsel VIVO X70 PRO

Vivo X70 Pro adalah salah satu ponsel kelas menengah ke atas yang masuk di Indonesia tgl 7 Oktober 2021. Kesan pertama, ukuran cukup besar 6.56 inci dengan berat 186g. Layarnya cerah dan tepinya sedikit melengkung kebawah memberikan kesan lebar dan mewah.

Seperti ponsel kekinian, Vivo X70 Pro punya berbagai modul kamera yang dapat digunakan untuk berbagai kondisi. Kamera utamanya memiliki resolusi maksimum 50MP dengan lensa wide, sekitar 26mm bukaan f/1.8. Sensor yang digunakan berukuran 1/1.56″ bukan yang paling besar tapi lebih baik daripada sebagian besar kamera ponsel yang ada.

Modul kamera lainnya yaitu yang ultrawide ekuivalen 16mm, dengan sensor 12MP, 1/3.1 dan bukaan f/2.2. Kamera ini cocok untuk merekam pemandangan yang sangat luas atau arsitektur. Selanjutnya ada kamera dengan modul lensa standard, yaitu ekuivalen 50mm dengan sensor 12MP, 1/2.93″ dan lensa f/2. Modul kamera ini menurut pendapat saya tidak perlu karena bisa tercakup dengan digital zoom/crop dari kamera utama.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Kamera baru yg Terbaik dan Worth it 2021

Tahun 2021 dunia masih mengalami pandemi, banyak produksi dan pengumuman kamera baru tertunda, tapi syukurlah masih banyak kamera baru yang sangat canggih yang diluncurkan di tahun ini. Melalui pertimbangan yang mendalam kami memilih beberapa kamera yang terbaik tahun ini.

Sony Alpha One (Sony A1) – Harga Rp 92 juta

Kamera yang diumumkan di awal tahun, tepatnya tgl 26 Januari 2021 ini mengejutkan karena memiliki spesifikasi yang sangat seimbang dari kinerja, resolusi dan ukuran yang relatif compact dan ringan (737gram). Kamera ini memiliki teknologi stacked sensor, memungkinkan kecepatan autofokus dan foto berturut-turut yang sangat cepat, sampai dengan 30 foto per detik dengan elektronic shutter, dan 10 foto perdetik dengan mechanical shutter. Di ranah video, A1 mampu merekam video 8K 30p dan 4K 120p, membuat Sony A1 ini kamera yang terbaik untuk berbagai aplikasi jenis foto dan video.

Shooting Experience Fujifilm GFX100S

Fujifilm GFX100S – Harga Rp 93 juta

Ukuran yang compact menjadi kunci kesuksesan kamera mirrorless masa kini, dan Fujifilm berhasil membuat kamera dengan sensor medium format (lebih besar dari full frame) beresolusi tinggi (100MP) dalam ukuran dan berat (920g). Ergonomi dan ukurannya seperti kamera DSLR yang merupakan nilai plus bagi yang menyenangi kendali kamera profesional. Tidak seperti kamera medium format yang terkenal besar, berat dan lamban, GFX100S ini memiliki sistem autofokus yang cepat dan termasuk relatif terjangkau dibandingkan dengan kamera bersensor sama pada umumnya.

Pembahasan Sony A1 dan Fujifilm GFX100S
Shooting Experience Fujifilm GFX100S

Sony A7 IV – Harga Rp 36 juta

Kamera Sony A7 biasanya dirancang khusus untuk kamera hybrid, bagus untuk foto maupun video dengan harga yang relatif terjangkau dibandingkan dengan seri A7 yang lain seperti A7R, A7S. A7 IV ini ada peningkatan dalam resolusi gambar 33MP, video 4K 60p 10-bit dan sistem autofokus yang lebih baik dari generasi sebelumnya (A7III). Meskipun tidak lebih unggul dari A7SIII atau A7RIV dari kemampuan foto dan videonya, A7 IV dirilis dengan harga yang lebih murah, menjadikannya ideal untuk fotografer dan videografer menginginkan kamera hybrid yang fiturnya kekinian.

Pembahasan fitur A7 IV

Pentax K3 III – Harga Rp 30 juta

Pentax K3 III adalah satu-satunya kamera DSLR baru yang dirilis 2021 ini. Dibandingkan pendahulunya K3 III memberikan peningkatan yang signifikan seperti jendela bidik yang lebih luas dan terang, sistem autofokus yang lebih baik dan kualitas gambar yang didukung image sensor APS-C terbaru 25.7 MP. Seperti pendahulunya, K3 III memiliki body yang weathersealingnya sangat baik dan karena tetap mengunakan K-mount memastikan semua lensa-lensa Pentax K-mount bisa dipasang dan digunakan langsung di kamera ini.

Review Pentax K3 III

Kamera baru terjangkau tahun ini

Kamera terbaik diatas memang canggih, tapi dengan harga yang premium, mungkin hanya beberapa orang saja yang sanggup mendapatkannya. Di tahun 2021 ini juga ada dua kamera yang menurut kami memiliki harga yang relatif terjangkau, diantaranya:

Sony ZV-E10 + lensa 16-50mm – Harga Rp 11 juta

Sony ZV-E10 kamera yang dirancang untuk content creator masa kini yang membutuhkan kamera yang ringkas dengan kemampuan merekam video yang baik. ZV-E10 kami nilai terjangkau karena secara spesifikasi mirip dengan Sony A6400 yang dijual dengan harga yang lebih mahal. A6400 punya jendela bidik, tapi ZV-E10 punya layar yang bisa diputar dan built-in mic tiga arah yang membantu untuk merekam video.

Fujifilm GFX50S II – Harga Rp 63 juta

Fujifilm GFX50S II memiliki fisik yang sama persis dengan GFX100S termasuk memiliki built-in stabilization. Perbedaan utamanya yaitu sensornya 50MP dibandingkan 100MP. Yang menarik dari GFX50S ini adalah harganya yang paling murah dibandingkan dengan kamera medium format yang lain.

Kami bersyukur bahwa di tahun-tahun pandemi masih ada kamera-kamera yang keren. Mudah-mudahan di tahun 2022 pabrikan kamera lebih berinovasi lagi untuk membuat kualitas kamera yang bagus.

{ 0 comments }

Mulai hari Sabtu 13 November 2021, di wilayah Kota Tua Jakarta diselenggarakan event fotografi skala internasional yang bernama JIPFest 2021. JIPFest atau singkatan dari Jakarta International Photo Festival, diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) DKI Jakarta, dan akan berlangsung selama 2 minggu hingga 28 November 2021. Disini digelar pameran foto, talkshow dan juga aneka program lainnya.

Dikutip dari ayoindonesia.com pada 17 November, kepala Dinas Parekraf DKI Jakarta Andhika Permata mengatakan, JIPFest 2021 yang mengusung tema SPACE digelar dengan niat mengeksplorasi isu ‘ruang’ dalam beragam tafsir dan bentuk, dari ruang publik, ruang batin, hingga ruang-ruang maya. Adapun Festival Director JIPFest 2021 Cristian Rahadiansyah menyampaikan, JIPFest tahun ini bukan hanya menjadi sebuah perayaan fotografi, tapi juga bagian dari pemulihan Jakarta dari pandemi.

Suasana pameran foto di Mula Kota Tua.

Bagi teman-teman di Jakarta yang hendak datang harap membaca dulu tata cara pendaftaran online, protokol kesehatan dan informasi lainnya di laman resmi JIPFest.

{ 0 comments }

Filter Variable ND8-128 K&F Concept

Saat memotret landscape terutama foto air terjun atau pantai, saya sering direpotkan harus membawa satu paket sistem filter kotak, sedangkan kamera, lensa, tripod biasanya sudah cukup membebani saya. Maka itu saya lebih suka mengunakan filter ND yang berbentuk bulat.

Filter bulat biasanya memiliki kepekatan yang fix/tidak bisa berubah, misalnya ND8 (3 stop), ND64 (6 stop) dan ND1000 (10 stop), atau ada juga yang variable, seperti filter Variable ND dari K&F Concept ini yang rentangnya dari ND8 sampai ND128. (3-7 stop).

Kualitas filter Variable ND sepengalaman saya kurang begitu bagus, selain kualitas gambarnya menurun dari segi ketajaman dan detailnya, juga perubahan warna yang sangat signifikan menjadi kekuningan atau kebiruan. Selain itu, banyak filter Vari-ND yang menimbulkan tanda X dalam foto, makanya itu sering disebut NDX.

Saya berkesempatan mencoba filter KF&Concept ini, dan saya mendapati kualitas ketajaman dan detailnya tetap sama dari ND8 sampai ND128. Hanya ada sedikit vinyet di di ND64-128. Ada sedikit perubahan warna menjadi agak kekuningan, tapi tidak signifikan dan bisa dinetralkan melalui post/processing/editing.

Kiri: Tanpa filter, Kanan: ND128
Crop dari foto diatas
[continue reading…]
{ 1 comment }

Tamron sejak zaman kamera DSLR memiliki sejarah yang kuat dalam merancang lensa sapujagat/superzoom. Di tahun 2021 ini, Tamron membuat lensa 18-300mm, yang dirancang khusus untuk kamera mirrorless APS-C. Lensa ini mengadopsi semua teknologi terbaru Tamron dari segi kualitas optik, kinerja autofokus dan stabilizer.

Lensa ini seperti gabungan beberapa lensa seperti lensa lebar, lensa standar, lensa telefoto dan lensa makro. Karena kepraktisan tersebut, lensa ini cocok untuk yang suka jalan-jalan dan dokumentasi acara dan tidak mau direpotkan dengan tukar ganti lensa.

Dari atas kiri : 18mm, 30mm, 96mm dan 300mm
Dari atas kiri: 45mm, 100mm, 218mm, 300mm
[continue reading…]
{ 0 comments }

Panduan memilih kamera mirrorless Nikon 2021

Dari tahun 2018 sampai tahun ini, Nikon semakin mengembangkan sistem kamera mirrorlessnya yaitu Nikon Z. Meskipun kamera DSLR Nikon masih populer dikalangan Nikonian (fans & pengguna Nikon), cepat atau lambat akan bermigrasi ke sistem baru ini. Kamera apa saja yang tersedia untuk kamera Nikon?

Nikon Z50 (20MP, APS-C, 4K 30p, 5fps, harga sekitar Rp 12jt dengan lensa )

Kamera Z50 ini ditujukan untuk fotografer/kreator untuk memulai masuk ke Nikon, ideal untuk pemula. Yang agak unik dari kamera ini layarnya dilipat ke bawah. Review Nikon Z50. Beli Nikon Z50.

Nikon Z fc yang desainnya diinspirasi dari Nikon FM2
[continue reading…]
{ 9 comments }

Ricoh GR III X Compact APS-C lensa 40mm f/2.8

Ricoh GR adalah lini produk kamera compact premium Ricoh yang sudah dimulai dari era kamera film. Desain kamera GR dari waktu kewaktu cenderung sama, mengandalkan ukuran yang pocketable dengan lensa fix lebar ekuivalen dengan 28mm. Tapi GR III X berbeda dengan GR III, yaitu memiliki lensa yang yang jarak fokalnya lebih panjang yaitu 26mm (ekuivalen 40mm di full frame).

Secara desain GR III X sama persis dengan GR III. Image processor dan sensor juga sama, yaitu 24MP APS-C. Bisa dikatakan bahwa yang berbeda hanya lensanya saja. Maka itu tidak salah jika Ricoh menamainya GR III X, bukan GR4.

Seperti GR sebelumnya, kameranya enak digenggam dan digunakan karena memiliki banyak titik kendali seperti dua roda dial di atas dan dibelakang, ditambah dengan “rocker dial / ADJ” yang serba guna. Ricoh juga tidak pelit memberikan tombol-tombol akses langsung untuk akses cepat ke setting yang diinginkan.

Kualitas gambar

Kualitas gambar dari kombinasi lensa dan kamera ini diatas kamera dengan sensor APS-C pada umumnya, lebih tajam dengan warna yang cerah. Hal ini mungkin dikarenakan lensa fix yang dirancang telah dioptimalkan dengan lensanya. Kualitas gambar di ISO tinggi seperti kamera APS-C pada umumnya. Noise mulai terlihat di ISO 1600, dan 3200-6400 biasanya digunakan untuk keadaan darurat. Kamera ini punya pilihan ISO sampai 100 ribu bagi saya terlalu noise dan warna sudah kurang bagus.

Kiri: ISO 1600 f/2.8 1/200, Kanan: ISO 6400 f/2.8 1/160
Crop dari foto diatas
ISO 102400, f5, 1/32000
Kiri ISO 320 f/2.8 1/160, Kanan: ISO 250 f/2.8 1/160
ISO 200 f/2.8 1/160 Standard
[continue reading…]
{ 2 comments }

Merk Kamera Olympus Tamat! Selamat datang OM SYSTEM

Setelah 80 tahun sejak kamera Olympus pertama diluncurkan di tahun 1936, akhirnya merk kamera Olympus tamat dan berganti nama menjadi OM System. OM terinspirasi dari Olympus dan Maitani. Nama Maitani berasal dari Yoshihisa Maitani, seorang desainer kamera yang bekerja untuk perusahaan Olympus selama 40 tahun. Ia terlibat dalam membuat beberapa lini kamera populer Olympus diantaranya Olympus PEN, OM, XA dan Stylus.

Pergantian nama merk kamera tidak mengherankan karena di bulan Juni 2020 yang lalu, perusahaan Olympus menjual divisi kamera Olympus ke JIP (Japan Industrial Partner), sebuah perusahaan ekuitas Jepang, dan mendirikan OM Digital Solution untuk mengelola berbagai produk seperti kamera, teropong, alat rekam audio dan alat elektronik yang lain. Setelah mempersiapkan selama setahun, maka kamera, lensa dan produk OM Digital Solution yang baru akan mulai diberi nama OM SYSTEM.

Dengan merk baru ini, OM Digital Solution perusahaan induk OM SYSTEM (dahulu Olympus) menyatakan akan terus mengembangkan sistem kamera micro four thirds dengan fokus ke desain kamera dan lensa yang ringan dan computational photography.

OMD Solution berencana mengumumkan kamera baru, sayangnya tertunda. Siluet kamera bisa dilihat di ilustrasi kamera Olympus diatas

Berikut adalah pernyataan resmi brand OM System:

OM SYSTEM brand statement
“Break Free”

Time does not stand still.

It does not take excuses or do repeats. The sun won’t ask for your permission to set, a smile comes and goes, and a Falcon won’t wait for your go-ahead to take flight.

When a moment comes, one that makes you feel, you should be ready to capture it. Those moments of beauty are meant to be shared, feelings to be remembered, and images intended to be captured.

We are passionate about providing creators with the tools necessary to fight time, outsmart the odds, and break free to go on your adventures, sunshine, rain, or snow. We build uniquely compact and dependable imaging systems with creator-centric innovations that allow you always to be ready to capture those once-in-a-lifetime moments.

Make it last forever.

Defy the moment, with OM SYSTEM.


Baca juga: Olympus Pamit

{ 1 comment }

Hari ini Sony global merilis penerus dari A7 III, yaitu Sony Alpha A7 IV. Kamera mirrorless full frame A7 buatan Sony yang memulai debutnya di tahun 2013, lalu dilanjutkan A7 II tahun 2015 dan A7 III di tahun 2018 memang termasuk banyak dicari fotografer hobi hingga enthusiast. Bila pada tiga generasi awal A7 selalu memakai sensor resolusi 24 MP, maka kali ini Sony memilih sensor resolusi 33MP dengan processor BionZ XR yang berkinerja lebih cepat.

Satu hal berbeda yang juga tampak secara fisik adalah dipakainya layar LCD berjenis lipat ke samping (articulated), bukan flip ke atas atau bawah. Tren ini mulai dilakukan oleh Sony sejak A7C dan A7S III, memberi sinyal kalau Sony kini menyasar segmen videografer sama pentingnya dengan segmen fotografer. Dengan banderol harga $2499 (35 jutaan) kamera A7 IV ini tetap membawa fitur andalan dari pendahulunya seperti sensor shift stabilizer, dual slot memori, dan kinerja auto fokus yang handal. Tapi tentunya ada beberapa penyegaran yang diberikan di generasi terkini seperti :

  • fitur video 4K 60p 10 bit (dalam super 35mm mode)
  • slot CFexpress Type A dan SD card
  • Autofocus 759 titik dengan face/eye, animal dan bird detection
  • tuas untuk ganti mode foto dan video
  • tombol rekam video lebih besar dan mudah diakses
  • roda kompensasi eksposur bisa diganti ke fungsi lain
  • Depth Map untuk video
  • Focus Breathing Compensation (video akan sedikit ter-crop)
  • Menu baru seperti Sony A7SIII dan A1

Melihat dari peningkatan yang terus dilakukan pada segmen keluarga A7, tak heran di generasi keempat ini, kamera A7 IV semakin matang, bisa diandalkan oleh fotografer dan videografer bahkan untuk kebutuhan profesional. Memang dari harganya juga A7 IV terasa lebih tinggi dari A7 III, apalagi A7 generasi sebelumnya lagi. Disini terasa ada kedekatan harga antara A7 IV dengan A7R IV misalnya, yang mungkin akan membuat bingung calon pembelinya.

Saksikan pembahasan fitur baru Sony A7IV dan perbandingannya dengan A7 yang lain di YouTube Infofotografi
{ 2 comments }