≡ Menu

Tanggal 8-11 Agustus 2022 ini, PT Aneka Warna menggelar Product Showcase di Jl. Gunung Sahari, Jakarta Pusat. Selama 50 tahun, Aneka Warna mendistribusikan berbagai aksesoris untuk menunjang fotografer dan kini juga videografer.

Beberapa merk unggulan di tahun 2022 antara lain :

NANLITE

NANLITE adalah merk dagang perusahaan NANGUANG yang berbasis di Guangdong, provinsi di bagian selatan China. NANLITE memiliki berbagai produk lampu dengan kualitas tinggi untuk videografer dan content creator memiliki budget yang terbatas. Beberapa seri produk andalannya yaitu PAVOTUBE yang tersedia dalam berbagai ukuran dari 0.25, 0.6, 1.2 sampai 2.4 meter.

Contoh hasil foto dengan lampu-lampu dari Nanlite, type Forza dan Tube – oleh Erwin Mulyadi
[continue reading…]
{ 0 comments }

Dubai adalah kota metropolitan dan terpadat di negara Uni Emirat Arab. Di akhir tahun 2022 ini, Infofotografi akan mengadakan tour fotografi & jalan-jalan bersama Enche Tjin ke Dubai dan Abu Dhabi. Tour ini dirancang khusus untuk teman-teman yang menyukai foto/video, dimana kita akan banyak memotret pemandangan kota (cityscape), gurun pasir, dan arsitektur.

Burj Khalifa (828m) bangunan tertinggi di dunia yang ada di Dubai

Selama 7 hari, kita akan dipandu dan dibimbing oleh fotografer berpengalaman (Enche Tjin & Rohani Tanasal) selama tour. Rohani telah berpengalaman mengadakan tour fotografi di Dubai selama dari tahun 2015. Selain Dubai, kita akan mengunjungi gurun pasir Liwa dan kota Abu Dhabi.

Tour fotografi ini akan kami adakan tanggal 9-16 November 2022

Biaya tour US$2350 per orang

Biaya sudah termasuk:

  • Biaya akomodasi (hotel) selama 6 malam
  • Biaya transportasi
  • Biaya makan
  • Biaya izin memotret dari rooftop (atap gedung pencakar langit)

Biaya belum termasuk

  • Tiket pesawat
  • Tip untuk driver/guide
  • Asuransi perjalanan
  • Biaya single suplemen (sekamar sendiri) optional

Jumlah peserta minimum/maksimum : 6/8 orang.

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi 0858 1318 3069 atau email infofotografi@gmail.com

Dubai
Abu Dhabi
Padang Gurun Liwa
Saksikan contoh hasil foto dan pengalaman di Dubai
{ 0 comments }

Awal tahun 2021 kami sudah membuat review untuk lensa Tamron 17-70mm f/2.8 VC untuk Sony E-mount dan di pertengahan tahun 2022 ini kami mendapat info dari pihak Tamron Indonesia kalau akan dibuat lensa 17-70mm f/2.8 VC untuk kamera Fuji tentunya dengan X-mount. Singkat cerita, awal Juli 2022 ini kami berkesempatan menjajal lensa APS-C ini dan mengulasnya di artikel kali ini.

Nama lengkap lensa ini adalah Tamron 17-70mm f/2.8 Di III-A VC RXD. Kode Di III menyatakan kalau ini adalah lensa mirrorless, dan kode A menandakan ini adalah lensa yang mencakup sensor APS-C saja, tidak bisa untuk full frame (dan memang tidak ada sensor full frame di sistem kamera Fuji). Dari spesifikasi, memang tidak lagi banyak dibahas karena pada dasarnya sama saja dengan yang versi Sony. Sebutlah misalnya panjang 12cm, berat 525 gram, ada fitur VC (penstabil getar) dan ada motor fokus RXD. Ditujukan untuk penghobi foto, video dan yang suka travel, lensa Tamron ini punya rentang fokal ekuivalen yang cukup ideal dari 25mm hingga 100mm, yang bisa mencakup kebutuhan lebar hingga tele. Dengan bukaan f/2.8 di semua fokal lensa, ini sangat menyenangkan untuk yang suka foto di keadaan kurang cahaya, atau yang suka bokeh, atau para videografer.

Tamron 17-70mm f/2.8 siap dicoba untuk foto makanan

Dari fisiknya, lensa Tamron 17-70mm persis sama antara versi yang Sony mount dan Fuji mount, yang mana itu adalah kabar baik. Fisik lensa terasa solid, putaran zoom enak dan lensa akan bertambah panjang bila di zoom. Ada sealing karet di bagian belakang untuk mencegah air atau debu masuk ke kamera. Secara optik, lensa Tamron ini juga dapat coating BBAR, yang bisa menahan flare dan bila masih ingin lebih yakin lagi, ya pakailah lens hood dengan proper (lens hood disediakan dalam paket penjualan).

Ketajaman dicoba di fokal 35mm, di bukaan terbesar f/2.8 tampak masih sangat baik

Kami temui ketajaman lensa Tamron 17-70mm ini (di kamera Fuji X-S1- resolusi 26 MP) termasuk baik sekali. Di fokal 17mm dan 35mm, di bukaan f/2.8 ketajaman sudah termasuk tinggi (artinya tidak perlu stop down untuk dapat sharpness yang tinggi). Di fokal 70mm ketajamaan masih oke apalagi bila di stop down ke f/4. Warna dan kontras lensa juga termasuk bagus, motor fokus gesit dan tidak bersuara, fitur VC juga bisa dipakai untuk memotret hingga 1/4 detik masih tajam. Di kamera yang kami pakai, kebetulan sensornya dilengkapi dengan tekinologi sensor shift stabilizer dan ternyata tidak ada masalah dengan sistem VC di Tamron (kedua sistem saling bekerja sama dengan baik). Tapi di kamera Fuji lain yang umumnya tidak dilengkapi dengan IBIS (misal XT20/30, XT2/3, XE3/4, XT200 dll) maka sistem VC di lensa Tamron ini akan terasa manfaatnya (setara dengan sistem OIS di sebagian besar lensa Fujinon).

Saksikan review kami di YouTube infofotografi.com
[continue reading…]
{ 0 comments }

Terinspirasi dari kanal Red Dot Forum, live show YouTube infofotografi akan menampilkan gear kit pemirsa. Enche Tjin (ig @enchetjin) akan menunjukkan foto gear kit yang dikirimkan ke kami, memberikan komentar, saran atau menjawab pertanyaan yang diajukan.

Untuk berpartisipasi silahkan kirimkan foto gear kit kalian. Syaratnya cukup sederhana antara lain:

  • Kirimkan foto sebelum tanggal 23 Juli 2022.
  • Foto harus cukup jelas, minimal 2MP atau panjang 1080pixel
  • Kirimkan ke e-mail infofotografi@gmail.com dengan subject : live infofotografi
  • Ceritakan sedikit apa saja gear yang ada di foto dan jenis fotografi yang diminati.
  • Boleh juga menyertakan beberapa sample foto dengan kit yang difoto (opsional)
  • Cantumkan nama/instagram/website jika ada
  • Jika ada pertanyaan juga boleh disertakan (opsional)
  • Usahakan gear di tata semenarik mungkin dengan cahaya yang memadai
  • Foto boleh menggunakan kamera apa saja, termasuk ponsel, dan tidak ada batasan merk/jenis kamera yang dipotret.

Tips: Usahakan gear yang ingin ditunjukkan tidak saling menutupi satu sama lain sehingga sulit dikenali. Flat lay (foto dari atas) juga diperbolehkan.

Dengan live show tema ini, diharapkan teman-teman bisa latihan berkreasi menata gear kalian, mendapatkan feedback dan sekaligus membuat live show Infofotografi lebih berwarna.

{ 0 comments }

Canon EOS R7 dan R10 diajak memotret cepat

Dua kamera RF mount baru dari Canon dengan sensor APS-C akhirnya tiba di meja redaksi infofotografi. Sampai tulisan ini dibuat, kami belum menemukan ulasan tentang kedua kamera ini dari media lain di dalam negeri, maka itu kami begitu tertarik untuk mencoba langsung keduanya meski hanya sebentar. Kedua kakak adik R7-R10 datang dengan lensa kit masing-masing RF-S 18-45mm dan RF-S 18-150mm, dan untuk memaksimalkan pengujian dalam kondisi serba cepat, dipinjamkan juga oleh pihak PT Datascrip sebuah lensa RF 70-200mm f/4 yang punya motor fokus USM nan cepat. Mantap kan..

EOS R7 dan EOS R10 dengan lensa kit masing-masing

Di suatu pagi yang cerah, kami membawa semua gear ini untuk memotret aktivitas bersepeda di daerah Jakarta Barat. Pada EOS R7, kami padukan dengan lensa RF 70-200mm f/4, sedangkan di EOS R10 terpasang lensa RF-S 18-150mm yang akan lebih fleksibel baik untuk wide, tele atau membuat sedikit klip video pendek. Kedua kamera diset ke drive mode High Speed Continuous shoot dengan shutter mekanik (keduanya dicoba dalam speed 15 fps), untuk mode auto fokus tentunya di posisi SERVO dan auto fokus area dipilih ke AUTO AREA. Disini tujuannya ingin melihat kepintaran kamera dalam melihat, mengenali dan mentracking subyek yang bergerak.

Dengan EOS R7 dan lensa RF 70-200mm f/4

Di masa lalu, seorang fotografer harus menghadapi dilema dalam memilih mode auto fokus area saat memotret subyek bergerak. Kalau memilih satu titik fokus, sulit sekali bila subyeknya berpindah posisi. Tapi bila memilih AUTO area, kamera masa lalu belum cukup pintar mendeteksi mana subyeknya, sehingga sering salah fokus. Tapi jujur di masa kini, dengan kecerdasan buatan di kamera modern, kami kagum dengan betapa mudahnya kamera mengenali subyek, baik orang, kepala bahkan mata sehingga nyaris tanpa perlu campur tangan dari si fotografernya. Hal ini kami temui juga baik di R7 maupun R10, dan ini adalah kabar baik mengingat kedua kamera ini bakal ditujukan juga untuk penghobi serius atau pekerja berita yang perlu akurasi auto fokus yang tinggi.

Dengan EOS R10 dan lensa RF-S 18-150mm

Kombinasi burst yang cepat, auto fokus yang pintar, dan motor fokus lensa yang cepat (khususnya lensa dengan motor USM), membuat kami terkesan saat mencoba kedua kamera Canon ini. Dari sekian foto burst yang diambil, hanya sedikit foto yang tidak fokus, selebihnya termasuk layak dipakai, foto-foto nampak tajam di bagian yang memang ingin tampak fokus. Adapun mengenai kualitas sensor kedua kamera, karena mereka memakai sensor APS-C, maka di ISO tinggi memang agak sedikit menurun. Masalahnya, di pagi hari yang belum begitu terang, untuk bisa mendapat shutter yang cepat saat memotret sepeda yang melaju dengan cepat, kami perlu memakai ISO antara 3200 hingga 6400. Tapi bila fotonya diambil di siang hari yang terang, maka tentu saja soal ISO ini bukan sebuah hal yang perlu dirisaukan.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Di era mirrorless Canon memiliki jajaran kamera dengan RF mount dan terus menambah koleksi lensa-lensanya, tak terkecuali lensa tele fix bukaan besar seperti RF 400mm f/2.8 dan RF 600mm f/4 yang mampir ke infofotografi untuk dijajal performanya. Kedua lensa baru ini masing-masing memiliki fisik yang besar dan memang berat (3kg) namun memang semua lensa tele profesional memiliki ukuran dan bobot yang serupa. Saat kedua lensa ini datang, kami juga dipinjami Canon EOS R6 yang handal buat banyak keadaan termasuk sport dan wildlife photography. Kedua lensa ini datang dalam kemasan tas khusus berwarna hitam, sehingga tidak perlu mencari lagi tas khusus untuk membawa lensa-lensa ini.

Lensa Canon RF400mm (di kamera EOS R6) dan RF 600mm sedang dicoba di infofotografi

Secara fitur, kedua lensa ini termasuk lensa L series dengan motor fokus USM, memiliki sistem stabilizer IS, berdesain weathersealed dan terdapat slot in filter di bagian belakang (diameter 52mm). Selain dilengkapi dengan hood yang besar, kedua lensa juga diberi lens-cap dari bahan kain yang lembut. Tak lupa, tripod collar yang wajib ada untuk lensa seberat ini juga tersedia.

Lensa Canon RF 400mm f/2.8 punya keunggulan tentunya di bukaan besarnya. Dengan fokal sepanjang 400mm, lensa lain umumnya hanya didesain untuk bisa dibuka sebesar f/4 atau lebih kecil. Dengan f/2.8 bisa didapat foto yang super bokeh, atau foto liputan olah raga di keadaan kurang cahaya. Dari pengalaman kami memotret olah raga Rugby, fokal 400mm terasa pas untuk meliput dari sideline lapangan, dan kinerja USM-nya berpadu dengan kecerdasan auto fokus di EOS R6 dalam melakukan subject tracking.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Nikon Z30, kamera APS-C Z-mount paling terjangkau

Hari ini secara global diumumkan kehadiran kamera mirrorless dari Nikon dengan Z-mount yang memakai sensor APS-C dan secara posisi ada di bawah dari Z50 dan ZFc, yaitu Nikon Z30 dengan bandrol harga US$ 850 termasuk lensa kit 16-50mm DX. Nikon menyatakan kalau kamera ini ditujukan kepada vlogger dan pembuat konten, dengan ciri kameranya kecil tapi dibekali fitur-fitur dasar untuk membuat vlog seperti video 4K, LCD lipat, mic input dan ada lampu tally untuk tanda sedang merekam video. Yang absen di kamera sekecil ini adalah… jendela bidik. Jadi teringat dengan Sony ZV-E10 ya?

Nikon Z30 dengan lensa DX 16-50mm VR

Langsung saja, yang menarik dari kamera Nikon Z30 ini adalah fakta akhirnya Nikon juga membaca tren masa kini, sehingga desain kameranya dibuat lebih ringkas tanpa hal-hal yang dipandang kurang perlu untuk kebutuhan video (meski jendela bidik juga kadang diperlukan dalam merekam video). Fakta menarik lainnya, inilah kamera Nikon mirrorless termurah yang ada, barangkali ada yang ingin mencicipi sistem kamera Z-mount tapi masih merasa Z50 diluar budget mereka.

Layar 3 inci lipat, tombol Fn1 dan Fn2, roda dial depan dan lampu tally di bawah logo Nikon

Kalau dari sisi fitur dan spesifikasi sebetulnya relatif standar saja, dengan sensor 21 MP APS-C yang bisa merekam video 4K 30 fps tanpa crop dan tanpa batasan waktu. Kemampuan ISO hingga 51200, ada 209 titik fokus untuk deteksi fasa, layar 3 inci yang punya 1 juta dot, masih ada flash hotshoe, bisa memotret secepat 11 fps burst dan baterai 300 kali jepret. Kabar baiknya, selama disupply daya listrik via USB-C, kamera ini bisa dinyalakan dan dipakai untuk merekam video tanpa merisaukan soal baterai. Cocok untuk merekam video lama, sambil pasang powerbank misalnya.

[continue reading…]
{ 2 comments }

Voigtlander 50mm f/1 untuk Leica M Review

Awal Januari 2022, pencinta lensa Voigtlander dikejutkan oleh lensa baru yang memiliki bukaan yang sangat besar, yaitu Voigtlander 50mm f/1, menggantikan posisi 50mm f/1.1 dan f/1.2 sebagai lensa bukaan terbesar. Dengan desain optik baru dengan elemen aspherical, Voigtlander menjanjikan kualitas optik yang modern dengan kualitas yang makin bagus.

Tergolong dalam keluarga lensa NOKTON, 50mm f/1 cocok digunakan untuk di gunakan di kondisi cahaya low-light seperti malam hari atau di dalam ruangan. Karena bukaannya yang sangat besar, ia dapat menerima dua kali lipat cahaya lebih banyak daripada lensa f/1.4 dan empat kali lipat daripada f/2. Akibatnya gambar lebih jernih di kondisi gelap karena fotografer tidak perlu menggunakan ISO yang terlalu tinggi.

Desain lensa

Desain lensa ini seperti lensa Voigtlander pada umumnya yang mengikuti pola desain lensa manual tahun 70-an dengan aperture ring yang memiliki pemberhentian setiap 1/2 stop dan berbahan logam. Lensa ini memiliki panjang hanya 5.5cm dan saat manual fokus agak memanjang saat di fokus ke jarak dekat. Secara umum, lensa ini lebih pendek kurang lebih 2 cm dibandingkan lensa Leica Noctilux 50mm f/0.95.

Kualitas gambar

Saya berkesempatan mencoba lensa ini dengan dipasang ke kamera Leica SL dengan adaptor. Dengan jendela bidik beresolusi tinggi dan handling kamera yang mantap, tidak ada kesulitan yang berarti untuk mendapatkan fokus yang akurat untuk foto portrait.

Kualitas gambar lensa di bukaan terbesarnya (f/1) tidak mengecewakan, ketajaman dan kontrasnya masih tinggi. Hanya saja saya mengamati ada sedikit CA (Chromatic Aberration) saat memotret di kondisi yang kontras. Dalam pengujian saya untuk foto portrait, saya tidak menemukan masalah.

Lensa ini bisa fokus dengan jarak minimum 90cm, tidak tergolong dekat, namun cukup membuat latar belakang yang jauh terlihat sangat blur di bukaan f/1.

Crop dari foto diatas menunjukkan ketajaman dan CA di situasi cahaya kontras

Kelebihan, kelemahan dan Rekomendasi

Kelebihan utama lensa ini dibandingkan dengan lensa bukaan besar lainnya adalah ukurannya yang relatif compact, kualitas foto tajam dan kontrasnya cukup tinggi. Casing lensa terbuat dari logam dan sudah disertai dengan lens hood yang terbuat dari logam juga.

Kelemahan utama lensa ini yang saya rasakan adalah vinyet di f/1 akan sangat terasa terutama saat memotret pemandangan di hari yang cerah. Selain itu lensa ini adalah lensa manual fokus yang sedikit merepotkan saat memotret, tapi keuntungannya lensa manual fokus lebih jarang rusak dan mudah diadaptasikan ke kamera mirrorless dengan adapter yang sesuai.

[continue reading…]
{ 0 comments }

FujiFilm X-H2s resmi dijual di Indonesia

Hari Selasa 21 Juni 2022 bertempat di FujiFilm Mall Grand Indonesia Jakarta, diluncurkan secara resmi kamera Fuji X-H2s sebagai sebuah kamera segmen pro dengan bodi yang solid, memiliki layar tambahan di bagian atas, dan bisa dipasang berbagai aksesori termasuk fan atau kipas pendingin.

FujiFilm X-H2s tampak atas, memiliki layar LCD tambahan dan berbagai tombol pintas serta roda mode dial yang lebih umum

Fuji X-H2s menjadi kamera penerus X-H1 yang ditujukan untuk kebutuhan hybrid foto dan video, dan pada generasi kedua ini terdapat peningkatan dari sisi eksternal maupun juga internal. Selain merilis kamera, FujiFilm juga memperkenalkan dua lensa baru yaitu lensa powerzoom XF 18-120mm f/4 WR dan lensa telefoto XF 150-600mm f/5.6-8 OIS WR.

Penjelaasan fitur video dari Fuji X-H2s

Dalam kesempatan tersebut, presiden direktur Fuji Mr. Masato Yamamoto membuka acara dan dilanjutkan dengan paparan fitur Fuji X-H2s dari bapak Johanes Rampi (GM Electronic Imaging FujiFilm Indonesia) seperti :

  • sensor baru dan pertama di APS-C yaitu sistem stacked BSI sensor, resolusi 26 MP
  • kecepatan memotret hingga 40 fps tanpa black-out
  • 6,2K 30p Apple ProRes dengan lebih dari 14 stop DR, tersedia F-Log2 dan 4K 120p
  • Auto fokus dengan AI, didukung prosesor baru yang lebih cepat, mampu mengenali dan mempelajari benda yang akan dideteksi fokusnya dengan 425 titik fokus
  • sensor shift stabilizer, up to 7 stop
  • jendela bidik 5 juta dot, layar LCD 3 inci 1,6 juta dot yang bisa dilipat
  • slot CFExpress type B dan slot SD card UHS II
Mr. Yamamoto memegang Fuji X-H2s dengan lensa XF 150-600mm terbaru

Kamera Fuji X-H2s ini dijual seharga Rp. 39.999.000 dan bila membeli paket dengan lensa XF 150-600mm harganya menjadi Rp. 70.999.000,-

{ 0 comments }

Samsung S22 Ultra Review

Samsung Galaxy S22 Ultra ini adalah salah satu ponsel kelas atas Samsung yang memiliki empat modul kamera dari ultra lebar sampai telefoto. Secara desain fisik, ponsel ini terasa mewah dan minimalis. Bahan casingnya terbuat dari logam dengan layar besar 6.8″ yang melengkung di bagian tepinya.

Modul kamera ponsel ini yaitu

  • Kamera utama 108 MP, f/1.8, 23mm (wide), 1/1.33″, 0.8µm, PDAF, Laser AF, OIS
  • Kamera ultrawide 12MP f/2.2 1/2.55″, 1.4µm, dual pixel PDAF, Super Steady video
  • Kamera telefoto 10 MP, f/4.9, 230mm (periscope telephoto), 1/3.52″, 1.12µm, dual pixel PDAF, OIS, 10x optical zoom
  • Kamera telefoto 10 MP, f/2.4, 70mm, 1/3.52″, 1.12µm, dual pixel PDAF, OIS, 3x optical zoom12 MP, f/2.2, 13mm, 120˚

Kualitas gambar dari setiap kamera yang aktif tidak sama, tapi kabar baiknya warna dan kecerahan hasil kurang lebih sama. Modul kamera yang terbaik adalah kamera utamanya yang bersensor 108MP. Saat dicoba, hasil gambar 108MP memang memberikan detail yang lebih, misalnya subjek yang sangat jauh terlihat jelas meskipun tidak begitu tajam/detail. Untuk penggunaan casual dan sehari-hari mode photo 12MP lebih baik untuk menghemat tempat dan terlihat lebih tajam diberbagai kondisi cahaya terutama kondisi kurang cahaya.

Pemandangan Danau Toba di bukit Holbung dengan modul kamera utama (wide)
Pemandangan desa di pinggir Danau Toba dengan kamera utama.
Saksikan review dan contoh foto selengkapnya di YouTube infofotografi
[continue reading…]
{ 0 comments }