≡ Menu

Leica M11 – Kamera rangefinder ikonik terbaru 2022

Leica M11 adalah penerus kamera rangefinder Leica yang ikonik. Leica mengumumkan kamera ini pada tanggal 13 Januari 2022, lima tahun setelah Leica M10, kamera yang digantikannya. Dengan perbedaan lima tahun, tentunya cukup banyak perbedaan dibandingkan generasi sebelumnya meskipun secara desain terlihat serupa.

Seperti pendahulunya, M11 mengunakan image sensor full frame tapi kini dengan sensor baru 60MP dan processor baru bernama Maestro generasi ke-3. Kamera ini tetap memiliki jendela bidik rangefinder yang berada di bagian kiri atas. M11 tetap mempertahankan desain minimalis ala Leica seperti kamera film dengan roda shutter speed di atas kamera dan tidak memiliki fitur untuk merekam video.

Beberapa perubahan signifikan Leica M11 dibandingkan dengan Leica M10 antara lain:

  • Resolusi sensor dari 24MP menjadi 60MP dengan teknologi BSI dan pixel binning
  • Tidak memiliki baseplate seperti kamera Leica M sebelumnya
  • Baterai baru dengan kapasitas 700 foto, sekitar 2.5x dibandingkan baterai M10
  • Memiliki elektronik shutter dengan shutter maksimum 1/16000 detik
  • Resolusi layar LCD ditingkatkan menjadi 2 juta titik, touchscreen, stabilized
  • USB-C port untuk charging
  • Tombol bantuan manual fokus dipindahkan dari depan ke bagian atas kamera dekat shutter
  • Long Exposure Noise Reduction bisa dimatikan

Fotografer dapat memilih ukuran file RAW/DNG dalam beberapa pilihan, diantaranya 60.3MP, 36.5MP, 18.4MP. Buffer ditingkatkan menjadi 3GB, tapi karena ukuran file yang sangat besar, hanya dapat menampung 10 foto dengan foto kontinyu secepat 4.5 foto per detik di resolusi terbesarnya.

Uniknya, fotografer dapat memilih ukuran RAW yang lebih kecil, dan saat memilih 36MP, kualitas foto meningkat dan buffer dapat menerima sekitar dua kali lebih banyak foto sebelum melambat. Untuk pilihan resolusi terkecilnya yaitu 18MP, noise sangat minim dan buffer tidak terbatas, cocok untuk fotojurnalis yang biasanya memotret di berbagai kondisi cahaya yang sulit dan sering memtoret berturut-turut untuk mendapatkan momen.

Bagian bawah M11 kini berubah total dengan tiadanya baseplate yang merupakan ciri khas kamera film dan digital rangefinder Leica sampai M10. Baterai M11 BP-SLC7 adalah baterai dengan desain baru yang memiliki tutup yang terintegrasi. Baterai ini berkapasitas jauh lebih besar daripada kamera Leica M10 yaitu 700 foto menurut CIPA Standard dan 1700 mengunakan gaya Leica (mengunakan jendela bidik rangefinder).

Tersedia dua jenis pilihan warna yaitu hitam dengan material alumunium dan perak dengan material kuningan (brass). Kamera yang berwarna hitam lebih ringan yaitu 530g dibandingkan dengan yang perak 640g karena perbedaan material tersebut. Sebagian besar fotografer Leica menyukai bahan kuningan karena saat catnya mengelupas secara alami akibat pemakaian, warna kuningan yang seperti emas akan mengemuka. Tapi fotografer yang menyukai kamera yang ringan kemungkinan akan menyukai material alumunium yang kuat tapi ringan.

Fitur kamera yang tidak asing di dunia kamera tapi baru pertama kali di Leica M11 yaitu electronic shutter, yang mendukung shutter maksimum sampai dengan 1/16000 detik, sehingga saat memotret dengan bukaan yang sangat besar seperti f/0.95 di kondisi terang tidak terkendal dengan over exposure atau perlu menggunakan filter ND lagi.

Untuk pertama kalinya Leica M memiliki USB-C Port untuk koneksi ke ponsel atau charging

Aksesoris Leica M11

Bersamaan dengan Leica M11, aksesoris baru pelengkap juga diumumkan. Yang pertama adalah grip/pegangan, yang kini hadir dengan dasar type Arca Swiss, dengan demikian, fotografer dapat mengaitkan kamera dengan kepala tripod berjenis Arca Swiss dengan mudah tanpa harus memasang plate tambahan.

Visoflex II, jendela bidik elektronik opsional juga diluncurkan dengan resolusi yang lebih tinggi. Saat artikel ini ditulis, Visoflex ini hanya compatible dengan M11, untuk kamera M10 dan varian lainnya harus menunggu firmware update. Seperti yang generasi pertama, Visoflex II bisa ditekuk ke atas untuk memudahkan memotret dengan sudut rendah (low angle).

Leica M11 merupakan evolusi dari Leica M sebelumnya. M11 adalah hasil dari saran kritik pengguna Leica M dan Leica berhasil memperbaiki berbagai hal yang dikeluhkan dengan mengganti kapasitas baterai yang lebih besar, jendela bidik baru yang lebih detail, akses baterai dan memory card yang lebih cepat dan tombol dan menu yang praktis dengan mempertahankan ukuran dan desain essential minimalist.


Bagi yang ingin belajar fotografi, videografi dan mengoptimalkan kamera Leica atau yang lain, kami dapat membantu, silahkan hubungi kami di WA 0858 1318 3069 atau infofotografi@gmail.com

Pembahasan lengkap tentang Leica M11 dapat disaksikan di YouTube infofotografi
{ 0 comments }

Nikon Z9 : Terobosan baru di dunia kamera digital

Setelah ditunggu-tunggu, kamera profesional Nikon Z9 akhirnya tiba di tanah air. Kamera Z9 ini memiliki sensor full frame dengan arsitektur stacked sensor yang memungkinkan kecepatan foto berturut-turut yang cepat sekali dan mendukung video 8K. Yang unik dari Z9 adalah tiadanya shutter mekanik sehingga saat memotret kamera tidak bersuara sama sekali. Bagi fotografer yang membutuhkan feedback setelah memotret, ada pilihan untuk menyalakan sound effect yang dapat diatur di dalam menu.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Tahun 2021 baru saja lewat dan terus terang merupakan tahun yang berat bagi banyak orang karena pandemi yang masih berlangsung, varian baru yang lebih cepat menyebar dan juga chip shortage yang menyebabkan produksi kamera dan lensa terhambat.

Meskipun demikian, ada beberapa hal yang positif di tahun ini. Sony, Canon dan Nikon masing-masing merilis kamera teknologi canggih dengan stacked sensor yang memungkinkan kinerja kamera yang tinggi. Di awal tahun, Sony merilis Sony A1, kamera 50MP dengan kemampuan memotret berturut-turut 30 foto per detik dan video 8K. Seakan tidak mau kalah, Canon dan Nikon juga merilis kamera pertama mereka yang mengunakan stacked sensor di akhir tahun 2021 dalam bentuk Canon EOS R3 (24MP, integrated grip) dan Nikon Z9 (50MP, integrated grip).

Dari kiri ke kanan: Nikon Z9, Canon EOS R3, Sony A1

Setelah mencoba ketiga kamera, terutama Nikon Z9 yang tidak memiliki shutter mekanik saya semakin yakin bahwa era baru kamera digital bukan hanya tanpa cermin (mirrorless) tapi juga tanpa shutter mekanik. Sayangnya tahun ini produksi elektronik banyak terhambat karena chip shortage. Produksi chip terhambat karena satu dan lain hal sehingga berdampak dengan produksi kamera dan lensa. Tapi dalam beberapa tahun kedepan, saya merasa kamera dengan stacked sensor ini akan lebih banyak dijumpai bukan hanya di kamera kelas atas saja, tapi juga kamera menengah dengan harga yang lebih terjangkau.

Kamera lain yang menarik di tahun 2021 diantaranya Sony ZV-E10 dan Sony A7 IV yang dari desainnya lebih mengakomodir untuk merekam video selain untuk fotografi dengan layar lipat dan sistem autofokus untuk foto-video yang mumpuni. Sistem medium format digital juga semakin ringkas dan terjangkau berkat Fujifilm yang merilis duo GFX100S dan GFX50S II yang harganya cukup terjangkau di kelasnya yaitu 60-100jt.

Bagi yang menyukai kamera yang tidak mainstream, Ricoh Pentax merilis Ricoh GR3X, kamera APS-C 24MP dengan lensa ekuivalen 40mm, jarak fokal pertama dalam sejarah Ricoh GR. Pentax K3 III juga diluncurkan tahun ini, merupakan satu-satunya kamera DSLR yang dirilis tahun ini. Cukup aneh mengingat kamera DSLR sangat mendominasi satu dekade yang lalu.

[continue reading…]
{ 4 comments }

TTArtisan, produsen lensa manual yang sedang naik daun belakangan ini, membuat lensa super mungil TTArtisan 28mm f/5.6 yang desainnya vintage, mirip dengan lensa tahun 1950-an. Material lensa ini terbuat dari logam, ukurannya super compact, sering disebut lensa pancake.

Crop dari foto diatas

Desain dan pengalaman memotret

Meskipun ukuran sangat kecil, untuk mengatur fokus sangat mudah, dan built quality-nya kokoh. Indikator jarak lensa ini meliputi jarak fokus dan juga panduan untuk zone focusing untuk manual fokus. Focus throw dari manual fokus ring lensa ini tergolong pendek, sehingga mengganti fokus dari 1 meter (jarak terdekat) sampai tak terhingga bisa dilakukan dengan sangat cepat.

Saat tidak digunakan, tuas fokus lensa ini bisa di kunci dan untuk melepaskannya cukup menekan tombol di tuas dan menggesernya.

Idealnya, lensa ini dipadukan dengan kamera Leica M terlihat sangat simple dan compact. Tapi sebagai lensa M-mount, saya bisa mengadaptasikan ke berbagai kamera seperti Leica SL, Sony A7 dan kamera mirrorless lainnya dengan adapter yang sesuai. Jika kamera mirrorless tersebut memiliki built-in image stabilization, akan sangat membantu memotret di kondisi gelap.

Bukaan lensa (f/5.6) yang tergolong kecil ini tentunya agak membatasi saat memotret di kondisi yang kurang cahaya. Di dalam ruangan yang relatif terang, saya harus menggunakan ISO yang cukup tinggi seperti ISO 1600-3200 dengan shutter speed 1/30-60 detik.

Crop dari foto diatas
[continue reading…]
{ 0 comments }

Tamron 35-150mm f/2-2.8 VXD

Lensa Tamron 35-150mm adalah lensa zoom yang unik untuk kamera mirrorless Sony Alpha FE (full frame), karena jarak fokal zoom-nya tidak umum, tapi sangat berguna untuk beberapa jenis fotografi seperti dokumentasi dan portrait. Kamera ini memadukan kelebihan lensa zoom lebar dan telefoto dalam satu paket dengan bukaan yang relatif besar. Di jarak fokal 35mm bukaan maksimumnya f/2, seperti lensa fix, yang memungkinkan untuk membuat ruang tajam yang sempit (depth of field /dof) tipis atau latar belakang yang sangat blur.

Karena rentang fokal dan bukaan maksimum lensa yang besar, lensa ini sangat fleksibel untuk foto portrait dengan sudut lebar misalnya untuk satu badan atau close-up head shot. Untuk fotojurnalis, lensa ini mungkin adalah game changer karena dengan satu lensa saja bisa mencakupi kebutuhan untuk memotret berbagai sudut dan kondisi cahaya tanpa harus mengganti lensa.

Secara desain, built-quality lensa ini sangat baik, bisa dikategorikan sebagai lensa profesional. Ukurannya cukup besar dengan filter diameter 82mm, panjang lensa 15.8cm dan beratnya 1.16kg. Lensa ini dipaketkan dengan lens hood yang mudah untuk dipasang dan dilepas. Di badan lensanya terdapat beberapa tuas dan tombol, diantaranya tuas auto-manual fokus, tuas lock untuk mengunci posisi jarak fokal lensa di 35mm dan tuas untuk mengganti berbagai fungsi lensa.

Sistem autofokus VXD terasa sangat cepat dan tidak berisik, cocok untuk foto/video, akurasi di eye detect di Sony A7 III saat motret di jarak dekat dan bukaan besar kadang bisa mengunci ke bulu mat dan sebagai solusinya saya sering memilih flexible spot small.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Telah terbit, ebook panduan kamera Fuji X-S10 (45 halaman)

Telah terbit sebuah ebook kamera Fuji X-S10 setebal 45 halaman yang bisa dipesan melalui 0858-1318-3069. Fuji X-S10 meski tampak simpel namun punya banya fitur yang perlu dikenal dan dimanfaatkan. Berbekal sensor 26 MP X-Trans APS-C yang punya sistem IBIS, kamera ini termasuk punya value tinggi mengingat harganya yang masih terjangkau.

Di ebook ini dibahas mengenai setting eksposur, ukuran gambar (megapiksel), kualitas (Fine atau Normal), lalu Film Simulation. Pengaturan lebih lanjut ada Color, Sharpness, Highlight, Shadow, DR dan Noise Reduction sehingga kita bisa paham saat mengatur hasil akhir sesuai yang kita inginkan. Selain itu terdapat berbagai tips custom setting untuk memaksimalkan pemakaian kameranya.

Dapatkan ebook spesial akhir tahun 2021 ini seharga Rp. 75.000,- hubungi Iesan di 0858-1318-3069.

{ 0 comments }

Awal tahun lalu, saya mereview sebuah lensa zoom bukaan f/2.8 konstan dari Tamron yaitu 28-75mm RXD untuk Sony E-mount full frame. Kini di penghujung tahun 2021, Tamron merilis generasi kedua (G2) dari lensa tersebut, yang bernama lengkap Tamron 28-75mm f/2.8 Di III VXD G2. Upgrade yang dilakukan Tamron bisa dilihat dari tampak luar dengan desain ring zoom yang lebih besar, dan tekstur permukaan yang lebih memberi kesan pro dari lensa ini. Dari dalam, ada dua hal penting yang ditingkatkan, yaitu motor fokusnya dan juga susunan elemen optiknya bertambah, sehingga lebih tajam di bukaan f/2.8 nya.

Saya mencoba lensa Tamron 28-75mm f/2.8 G2

Seperti yang saya ulas di review sebelumnya, lensa dengan fokal 28-75mm ini menjadi pasangan ideal dari lensa Tamron lain yaitu Tamron 17-28mm f/2.8 sehingga keduanya akan saling melengkapi. Memang umumnya lensa zoom kelas pro memiliki rentang fokal 24-70mm, namun Tamron tampaknya mengejar kepada desain lensa yang harus lebih ringkas dan lebih pendek sehingga digeserlah rentang fokalnya ke 28mm (tidak terlalu lebar seperti 24mm), namun mendapat bonus ekstra 5mm di posisi tele 75mm (dibanding lensa lain yang 70mm, meski relatif tidak begitu terasa bedanya). Saya pribadi melihat rentang 28-75mm ini masih bisa diposisikan sebagai lensa all-rounder untuk berbagai kebutuhan seperti pemandangan, travel, produk atau potret.

Perbedaan ketajaman lensa generasi lama (kiri) dan generasi kedua (kanan) dalam bentuk MTF chart

Peningkatan di dalam lensanya termasuk signifikan, dengan motor VXD (Voice-coil eXtreme-torque Drive) yang lebih cepat dan senyap dibanding motor lama RXD. Selain itu, ketajaman lensa ini meningkat meski tetap mampu memberikan bokeh yang lembut, dengan 17 elemen lensa di dalamnya, bahkan saat dibuka maksimal di f/2.8 di posisi 28mm ataupun 75mm. Bila sebelumnya lensa yang lama sudah termasuk tajam, namun mungkin kurang dapat memuaskan profesional yang menghendaki lensa yang konsisten tajamnya dari tengah ke tepi. Maka kali ini tidak ada lagi sisi lemah yang bisa ditemui dari optik lensa ini secara ketajaman.

[continue reading…]
{ 2 comments }

Sistem filter ND bulat biasanya banyak digunakan fotografer amatir untuk foto landscape terutama subjek air. Di beberapa tahun terakhir, ada inovasi yang bagus dalam pengembangan filter bulat contohnya filter ND Magnetic dengan Nano X dan Multi Resistance Coating (MRC).

ISO 200 f/13 3 detik 25mm – Leica SL, SL 16-35mm f/3.5-4.5, K&F filter ND

Paket filter dari K&F Concept yang saya uji ini berupa filter Ultra Violet (MCUV), Polarizer (CPL) dan ND1000 (Filter 10 stop). Kelebihan utama dari sistem filter ini adalah kemudahan dalam memasangnya. Secara tradisional, filter bulat mengunakan ulir / thread sebagai koneksi, tapi filter set ini mengunakan magnet untuk melekatkan filter ke ring adapter yang dipasang di depan lensa.

Foto oleh Budi Andal

Pengalaman mengunakan filter K&F Concept

Saya menguji paket filter ini untuk foto pantai, terutama filter ND 10 stopnya untuk foto slow speed. Sesuai dengan yang dijanjikan, memasang dan melepaskan filter sangat mudah dan cepat, saya juga merasa aman karena magnetnya kuat, filter tidak terasa longgar atau bergeser setelah terpasang saat kameranya bergerak.

ISO 200 f/13, 1/15, 16mm – Leica SL, Leica SL 16-35mm f/3.5-4.5 – Tanpa filter
ISO 200 f/13, 30″, 16mm – Leica SL, Leica SL 16-35mm f/3.5-4.5, dengan filter ND1000
ISO 50, f/11, 4 detik, 35mm – Leica SL, Leica SL 16-35mm f/3.5-4.5 & Filter K&F Concept
ISO 400 f/8 5detik 29mm – Leica SL, Leica SL 16-35mm f/3.5-4.5 & Filter ND K&F Concept
ISO 200 f/7.1 6 detik 32mm – Leica SL, Leica SL 16-35mm f/3.5-4.5 & Filter ND K&F Concept
ISO 200 f/8 6 detik 33mm – Leica SL, Leica SL 16-35mm f/3.5-4.5 & Filter ND K&F Concept
ISO 200 f/10 10 detik 27mm – Leica SL, Leica SL 16-35mm f/3.5-4.5 & Filter ND K&F Concept

Kualitas gambar yang dihasilkan sama tajamnya. Soal warna hanya ada sedikit lebih hangat (kekuningan) jika diperhatikan dengan sangat seksama.

Vinyet (ujung-ujung yang gelap) akan muncul saat mengunakan lensa ultrawide ekuivalen 16mm di full frame saat kita menumpuk dua filter menjadi satu misalnya CPL dengan ND atau UV dengan ND. Vinyet akan hilang saat mengunakan jarak fokal 21mm. Jika ditumpuk semua, vinyet baru hilang di jarak fokal 24mm.

Kualitas fisik dari lensa ini juga bagus, air hujan yang menetes di permukaan filter mudah dibersihkan dan ring materialnya meskipun tipis tapi terkesan kokoh.

Paket filter ini tersedia dalam berbagai ukuran filter, dan yang saya gunakan berukuran 82mm. Bagi fotografer yang memiliki beberapa ukuran filter, saran saya adalah membeli yang ukuran terbesar dari lensa yang dimiliki, kemudian mengunakan ring adapter.

Dalam paket ini, juga diberikan filter pouch yang permukaannya tahan air, termasuk ritslitingnya, selain itu, tas kecil ini bisa dikaitkan dengan tas kamera, atau tali pinggang dengan velcro atau D-Ring.

Secara umum, saya senang mengunakan paket filter ini karena praktis dan kualitasnya sangat baik. Harapan saya kedepannya K&F Concept mengembangkan dan memproduksi filter magnetic seri yang lain seperti ND64 (6 stop), ND8 (3 stop), filter untuk malam hari, soft focus, black mist dll.

Bagi teman-teman yang ingin membeli filter ini dapat membelinya melalui toko online dengan link dibawah ini: https://bit.ly/3FOc4g3 (pastikan ukuran filter sama dengan lensa terbesar yang dimiliki.

Saksikan pembahasan pengalaman saya mencoba filter ini di Sawarna
[continue reading…]
{ 0 comments }

Pengalaman mencoba kamera kelas pro Canon EOS R3

Lini kamera mirrorless full frame Canon belum lama ini punya ‘pemimpin’ (flagship) baru yaitu EOS R3, sebuah kamera profesional dengan desain seperti kamera DSLR 1Dx yang memiliki vertical grip terpadu. Kami di infofotografi berkesempatan mencoba kamera idaman para fotografer profesional untuk merasakan seperti apa mantapnya kamera ini (ergonomi, fitur, kualitas layar/EVF), lalu seperti apa kinerjanya (speed, AF dsb) dan juga hasil fotonya.

Saya saat mencoba R3 dan RF 70-200mm di Sawarna

Awalnya saya mencoba kamera EOS R3 dengan dua lensa RF terbaru yaitu RF 16mm f/2.8 dan RF 100-400mm f/5.6-8 IS namun hanya sebentar, mengingat jadwal peminjaman lensa-lensa ini yang padat. Saya coba kedua lensa di kawasan GBK Senayan untuk melihat kemampuan lebarnya lensa 16mm dan juga telenya lensa 100-400mm. Kedua lensa ini masuk ke kelas consumer, non L series dan memiliki kualitas optik yang sesuai dengan harganya. Di kesempatan berbeda, saya menjajal lensa EOS R3 dengan lensa RF 70-200mm f/2.8 IS di kawasan pantai Sawarna Banten untuk mencoba foto subyek bergerak dan juga pemandangan.

Hasil dari lensa fix 16mm dengan kamera R3
Hasil mencoba R3 dengan lensa 100-400mm di Senayan, ketajaman termasuk baik dan auto fokus USM di lensa ini juga cukup gesit

Dalam kesempatan yang relatif singkat, saya temui secara build quality memang EOS R3 ini sesuai ekspektasi di awal baik dari level pro-grade material maupun dari weathersealing-nya. Hanya saja saya tidak menyangka kalau R3 akan terasa cukup ringan, dengan baterai saja bobotnya ‘hanya’ 1 kg, padahal R3 termasuk kamera besar dengan vertical-grip terpadu. Bodi R3 terasa solid, ergonomi yang mantap, rasanya masih seperti menggenggam sebuah kamera DSLR yang tanpa kompromi akan handling dan kendali tuas/tombol. Memang yang perlu dibiasakan saat memakai kamera ini (atau juga di EOS R dan R5) adalah mode kamera yang kini memakai tombol MODE, bukan pakai putaran mode dial (seperti di EOS R6 atau kebanyakan kamera lain pada umumnya).

Kamera EOS R3 diuji memotret dalam keadaan hujan

Hal baru yang ditawarkan R3 yang ingin segera kami coba tentunya adalah fitur Eye Controlled AF. Fitur ini saat diaktifkan, akan mendeteksi kemana kita melihat di jendela bidik, dan akan ada lingkaran yang mengikuti dalam visual yang kita lihat di jendela bidik itu. Awalnya memang kami sempat bingung karena sepertinya fitur ini tidak konsisten dengan lirikan mata kami, tapi ternyata fitur ini sangat perlu untuk di kalibrasi sebelum dipakai, dan fitur ini juga tidak efektif bila kita memakai kacamata. Dalam prakteknya, akhirnya fitur Eye Control AF memang berfungsi seperti yang dimaksudkan, misal saya melirik ke kanan, ada lingkaran yang juga ikut ke kanan, sehingga tidak perlu memindahkan titik AF dengan joystick lagi. Fitur AF dengan lirikan mata ini juga bisa dimatikan bila tidak diperlukan, misal bila kita lebih suka memakai joystick atau layar sentuh.

[continue reading…]
{ 1 comment }

Di bulan Desember 2021 ini, akan ada sebuah event penting di Jakarta yaitu sebuah kegiatan soft launching Jakarta International Stadium (JIS) yang saat ini progres pembangunan fisiknya sudah mencapai 86%. Kali ini kami berkesempatan untuk masuk kedalam stadion ini, untuk melihat langsung keadaan dan persiapan yang sudah dilakukan jelang acara nanti. Adapun rencana untuk bisa selesai keseluruhan, sekaligus akan dibuka secara resmi dalam bentuk grand opening itu dijadwalkan di bulan Maret 2022 mendatang.

Konsep gambar JIS dari IG @jakintstadium

Secara umum bangunan berskala masif yang terletak di Tanjung Priuk Jakarta Utara ini dirancang sebagai pusat olahraga milik DKI, yang sekaligus menjadi kandang klub bola Persija. Didesain mampu menampung 82 ribu penonton, JIS memang membuat banyak orang penasaran akan kemegahan strukturnya. Stadion setinggi 73 meter ini memang ditujukan sebagai pengganti lapangan Lebak Bulus yang terkena proyek MRT, dan lokasi saat ini awalnya dulu adalah taman BMW. Keunikan JIS salah satunya adalah desain atap yang bisa dibuka tutup, misalnya untuk melindungi dari panas atau hujan bila dipakai untuk kegiatan selain sepak bola (konser musik atau semacamnya).

Penanggung jawab proyek sedang mengawasi pekerjaan jelang soft launching nanti.
Kursi VIP yang empuk sebagian sudah terpasang dan masih dibungkus plastik.

Saat kami berkunjung ke sana, kondisi crane utama di empat titik stadion sudah dilepas semua, membuat JIS tampak makin mendekati proses selesai dalam konstruksinya. Proses pemasangan fasad utama berupa panel dengan lubang-lubang udara juga sudah hampir selesai, demikian juga dengan konstruksi atapnya yang terus dikerjakan. Memang sampai soft launching nanti, sistem atap buka tutup belum akan bisa diwujudkan, tapi setidaknya atap utama yang permanen mestinya bisa diutamakan dulu. Bangku penonton sudah mulai dipasang khususnya di tribun barat dan timur, dan lapangan rumput sudah terlihat rapi meski belum tampak ada gawangnya. Rumput disini berjensi hybrid yang artinya campuran antara rumput hidup dan rumput sintetis yang memenuhi standar internasional.

[continue reading…]
{ 0 comments }