≡ Menu

Leica SL Review bagian ke-2 : Antarmuka

Desain antarmuka (interface) Leica SL sangat unik jika dibandingkan dengan kamera digital lainnya. Sekilas, terlihat sederhana: tidak memiliki banyak tombol dan juga tidak ada labelnya. Alasan Leica tidak menyematkan label karena hampir setiap tombol bisa dikustomisasi / diubah fungsinya sesuai keinginan fotografernya.

Tombol-tombol utama Leica SL ukurannya cukup besar, bentuknya persegi panjang dan terletak di sebelah kiri dan kanan layar LCD. Jika ditekan, fungsi tombol tersebut masing-masing adalah:

Kiri atas: Menu
Kiri bawah: Perbesaran area layar (berguna saat manual fokus)
Kanan atas: Playback
Kiri bawah: Info layar (setting kamera, focus peaking, histogram-highlight, grid level)

Fungsi tombol diatas tidak bisa diubah karena sudah default dari kamera.

Tapi jika tombol-tombol diatas ditekan dan ditahan sejenak (sekitar 0.5 detik), fungsinya bisa diubah seperti keinginan seperti jalan pintas untuk mengganti setting kamera. Fungsi tombolnya bisa diubah melalui  menu Setup>Customize Control>Short Cuts.

Saya mengubahnya menjadi seperti berikut:
Kiri atas: White Balance
Kiri bawah: Exposure Bracketing
Kanan atas: Focus Mode (AF-S, AF-C, MF)
Kanan bawah: Drive Mode

Setelah setengah tahun mengunakan kamera ini saya baru menyadari bahwa tombol-tombol lainnya yang berada diatas kamera seperti tombol LV (Live View) dan Video. Jika ditekan dan ditahan, fungsinya akan berbeda dan bisa diubah juga.

Tombol LV (Live View) saya ubah menjadi ISO, dan tombol video record saya ubah menjadi AF Field Size.

Ada satu tombol lagi yang agak tersembunyi, yaitu terletak di bagian depan kamera, diantara grip (pegangan dan lensa). Tombol ini disebut tombol Fn (Function). Saya ubah fungsi tombol ini menjadi jalan pintas ke menu item Optical Stabilization. Tujuannya supaya saat kamera diatas tripod, saya bisa langsung bisa masuk ke menu Optical Stabilization tanpa harus mencari lagi di menu lagi.

Dengan tujuh tombol yang bisa dikustomisasi ini, saat memotret saya jarang sekali harus masuk ke menu lagi, sehingga pengalaman memotret bisa lebih enak. Satu-satunya menu item favorit yang saya harus masukkan ke dalam menu halaman favourite adalah setting Auto ISO untuk mengubah min-max ISO, dan minimum shutter speed.

Yang saya rasakan adalah Leica berhasil merancang kamera dengan desain yang sederhana tapi dalam waktu yang sama juga memberikan keleluasaan kepada fotografer untuk mengubah fungsi tombol-tombol sehingga mudah diakses dengan cepat.

Baca juga Leica SL review bagian pertama

Jika ada yang berminat mengetahui atau belajar lebih lanjut tentang fungsi dan cara memaksimalkan kamera ini jangan lupa ikuti workshop yang akan saya adakan bekerjasama dengan Leica Store Indonesia selama 2016-2017. Jadwal acara kursus/workshop dan lainnya bisa dibaca di halaman ini.

About the author: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta. Temui Enche di Google+ dan Instagram: enchetjin

{ 5 comments… add one }
  • Anto May 16, 2017, 12:00 pm

    Koh Enche..minta sarannya utk motret wedding lbh worth it mana:
    1. D610 + afs 24-70 f/2.8
    2. D7500 + afs 17-55 f/2.8
    3. D750 + afs 24-120 f/4
    4. D500 + afs 16-80 f/2.8-4
    Sekarang saya memakai D5500, 18-55, 35 f/1.8 & SB 900, galau upgrade full frame atau tambah body apsc.
    Terimakasih

    • Enche Tjin October 1, 2017, 3:41 pm

      D750 dan 24-120mm f/4 fleksibel untuk event 😀

  • Glory May 12, 2017, 5:46 pm

    Koh tolong dong adain workshop di kota saya Semarang. Pgn bgt belajar dan nambah ilmu. Plisss

Leave a Comment