≡ Menu

Mengenal macam-macam lensa tele zoom

Saat ini masih saja ada yang bingung dengan banyaknya pilihan lensa zoom, khususnya telefoto, yang ada di pasaran. Lensa tele, pada dasarnya tidak harus zoom. Misal lensa 100mm, lensa 200mm itu meski fix tapi termasuk lensa tele. Kita akan bahas lensa tele yang bisa di zoom (variabel fokal) yang bisa dipilih untuk pengguna DSLR maupun mirrrorless. Tapi sebelumnya ada baiknya baca dulu artikel lama kami soal crop factor supaya tidak bingung. Juga pahami fungsi utama lensa tele itu untuk apa, misalnya dalam kursus fotografi selalu dijelaskan bahwa lensa tele itu punya peran penting dalam mengisolasi subyek terhadap background, dan punya kemampuan mengkompresi dimensi supaya datar. Semakin panjang sebuah lensa (dalam hal fokalnya) maka sudutnya makin sempit dan jangkauannya makin jauh, juga Depth of field yang dihasilkan akan semakin tipis.

Di pasaran akan dijumpai beberapa kelompok lensa tele seperti :

Lensa 70-200mm f/2.8

Lensa pro 70-200mm f/2.8 yang dibuat oleh Tamron

Inilah lensa tele zoom profesional untuk full frame, yang tetap bisa dipakai oleh pengguna kamera APS-C (di APS-C akan setara 100-300mm), dengan bukaan besar dan konstan di f/8. Semua sistem DSLR dan mirrorless full frame tentu punya lensa 70-200mm f/2.8 ini. Kelebihan utama lensa ini adalah bukaan besar yang membuatnya cocok untuk latar belakang blur seperti foto potret, tapi yang lebih penting sebetulnya bukaan besar membuat lensa ini bisa diandalkan di tempat kurang cahaya. Ingat semakin tele lensa makin perlu shutter cepat untuk meredam getaran tangan, dan shutter cepat akan lebih mudah didapat dengan bukaan besar (fast lens). Kerugiannya, lensa semacam ini besar dan berat, juga mahal (apalagi yang dilengkapi sistem peredam getar di lensa).

Lensa 70-200mm f/4

Bila lensa diatas terasa terlalu mahal atau terlampau besar, maka 70-200mm f/4 bisa jadi alternatif menarik. Ukurannya sedikit mengecil karena f/4 dan kerugiannya adalah dibanding f/2.8 akan kehilangan 1 stop cahaya. Artinya bila kita pakai lensa 70-200m f/2.8 bisa dapat eksposur yang pas di ISO 1600, maka bila pakai f/4 jadi perlu ISO 3200. Kerugian lain yang tidak terlalu berarti adalah kurang bokeh dibanding yang f/2.8 meski yang namanya lensa tele sih blur-nya pasti sudah dapat. Ukuran yang agak kecil membuat lensa 70-200mm f/4 jadi opsi paling seimbang untuk sistem mirrorless seperti Sony. Produsen lensa pihak ketiga seperti Tamron belum lama meluncurkan lensa yang sedikit lebih panjang dari yang umumnya, yaitu 70-210mm f/4 VC yang dibuat untuk DSLR.

Lensa 70-300mm, variabel aperture

Lensa tele zoom 70-300mm terkenal akan ‘ekstra reach‘ nya yang 100mm lebih panjang daripada lensa 70-200mm. Kelebihan ini tentu cocok untuk mereka yang mencari jangkauan tele yang lebih, misal subyek yang akan difoto cukup jauh seperti satwa atau olah raga. Lensa seperti Canon 70-300mm pernah kami coba untuk memotret Pacu Jawi dan hasilnya cukup mantap. Kelemahan lensa 70-300mm adalah sebagai lensa consumer (bukan pro) desainnya menganut variabel aperture atau bukaan maksimum yang tidak konstan, misal f/4-5.6 sehingga agak sulit dipakai di keadaan kurang cahaya. Lensa 70-300mm ini termasuk favorit dan banyak dibuat dalam berbagai versi, misal Tamron membuat 70-300mm yang 1 jutaan dan 70-300mm VC yang dijual 4 jutaan. Tapi sebagai lensa consumer, 70-300mm tidak pernah bisa menyamai kualitas, ketajaman, kinerja auto fokus dan bokeh dari lensa profesional 70-200mm. Perlu diingat kalau 70-300mm didesain untuk full frame, meski bisa dipakai di APS-C.

Lensa 100-400mm, variabel aperture

Pacu Jawi dengan Panasonic Lumix G9 dan Leica DG 100-400mm.

Lensa zoom super telefoto punya rentang fokal misalnya 100-400mm, atau lensa rentang lainnya yang lebih tele lagi, dimaksudkan sebagai lensa tele untuk satwa liar yang perlu diambil sangat jauh karena jarak (burung) atau karena bahaya (singa dsb), yang masih kurang mampu dijangkau oleh lensa 70-300mm. Yang unik, di sistem Panasonic juga ada lensa Leica DG 100-400mm yang karena crop factor sensor Micro 4/3 maka lensanya jadi setara dengan 200-800mm (wow), dan saya pernah berkesempatan mencoba lensa mantap ini di Pacu Jawi dengan kamera Lumix G9 dengan hasil seperti diatas.

Bagaimana dengan pemilik kamera APS-C?

Anda pemilik kamera APS-C (misal Canon 80D, Nikon D7200, Sony A6000, Fuji XT2 dsb) pada dasarnya bisa memakai semua lensa tele yang disebutkan di atas, dengan mempertimbangkan crop factor yang ada. Tapi sejatinya produsen kamera/lensa juga menyediakan lensa tele zoom khusus APS-C (dengan diameter lebih kecil) yang harganya lebih terjangkau, seperti :

  • Nikon DX/Tamron/Sigma 55-200mm f/4-5.6
  • Canon EF-S 55-250mm f/4-5.6
  • Canon EF-M 55-200mm f/4.5-6.3 (EOS M/mirrorless)
  • Sony E 55-210mm f4.5-6.3
  • Fuji XC 50-230mm f/4.5-6.7
  • Fuji XF 55-200mm f/3.5-4.8

Lensa pro Sigma 50-150mm f/2.8 DC untuk APS-C, setara 75-225mm f/2.8

Sedangkan untuk yang mencari lensa profesional tapi didesain untuk APS-C, rasanya segmen ini peminatnya memang tidak banyak, sehingga jarang ada produsen yang mau membuatnya. Dari catatan saya lensa tele zoom profesional untuk APS-C diantaranya adalah Sigma 50-150mm f/2.8 (untuk DSLR Canon/Nikon), Fuji XF 50-140mm f/2.8 (hanya untuk Fuji mirrorless), dan Samsung NX 50-150mm f/2.8 (sudah diskontinu, Samsung NX sudah tiada).

Samsung NX300, lensa 50-200mm, lensa seperti ini enak untuk travel dan cocok dipakai saat cahaya terang.

Nikon D5100 dengan lensa murah meriah DX 55-200mm VR, kontras, warna dan ketajaman termasuk baik.

Nikon D600, lensa Tamron 70-200mm f/2.8 G2, saya pakai di Sumbar saat pacu jawi.


Ikuti kursus dan tour fotografi bersama kami untuk menambah keterampilan dan pengalaman dalam fotografi. Info/daftar SMS/WA ke 0858-1318-3069.

 

About the author: Erwin Mulyadi, penulis dan pengajar yang hobi fotografi, videografi dan travelling. Sempat berkarir cukup lama sebagai Broadcast Network TV engineer, kini Erwin bergabung menjadi instruktur tetap untuk kursus dan tour yang dikelola oleh infofotografi. Temui dan ikuti Erwin di Google+ dan instagram.

{ 11 comments… add one }
  • kama August 22, 2018, 3:27 am

    Saya punya kamera Nikon 5100 autofocusnya rusak. tapi manualnya masih bisa. mau ganti lensa. adakah Lensa Nikon 18-135mm?

    • Enche Tjin August 22, 2018, 11:07 am

      18-135mm AF-S Nikon bisa autofous di Nikon D5100.

  • araityo May 31, 2018, 7:26 am

    Om Erwin,

    Boleh minta sarannya, saya baru pakai lumix gx85 dengan lensa kits.
    Mau ambil lensa zoom mending 45-150mm atau 45-200mm ya?
    atau ada rekomendasi lensa zoom yang lain?

    • Erwin Mulyadi May 31, 2018, 12:51 pm

      Dua-duanya termasuk standar, ada opsi lain yaitu 45-175mm juga. Tapi yg kualitasnya mantap ya 35-100mm f/2.8

  • Galih Kartiko May 30, 2018, 4:57 pm

    Om, Kalau Sony A6000 memakai Lensa sony 18-105mm f4 itu bagaimana? Jika dibandingkan dengan Sony E 55-210mm f4.5-6.3 ada kelebihan kekurangannya gak Om? Terima kasih.

    • Erwin Mulyadi May 31, 2018, 1:10 pm

      Sony 18-105mm f/4 lebih serbaguna, meski ukurannya besar dan powerzoom. Kalo 55-210mm kan untuk tele zoom aja, menang di jangkauan tapi kualitas optiknya biasa saja.

      • Hui Ching July 25, 2018, 8:34 am

        Kalau dibandingkan dengan Sony E 18-135 f3.5-5.6 yang baru release, bagaimana Om Erwin?

        • Erwin Mulyadi July 25, 2018, 10:42 am

          Lensa 18-135mm yg baru katanya bagus dan tajam, saya sih belum pernah coba.

          • Hui Ching September 5, 2018, 1:31 pm

            Makasih infonya, Om

  • AM May 19, 2018, 9:56 pm

    Mau tanya ko, untuk prewedding dan acara wedding apa lensa canon 15-85mm cukup mumpuni? Atau ada masukkan lensa lainnya?

    • Enche Tjin May 22, 2018, 7:09 am

      Bisa, alternatif lainnya Canon EF-S 17-55mm f/2.8 IS USM.

Leave a Comment