≡ Menu

Kenali pengaruh fokal lensa terhadap perspektif foto

Jagat maya diramaikan oleh sebuah foto. Dalam unggahan di Instagram @wibisono.ari terdapat foto jalanan di Kemayoran Jakarta dengan tampak gunung Gede sebagai latar belakangnya. Foto ini kemudian di repost oleh akun media sosial Pemprov DKI dan menuai pro kontra yang cukup meriah setelahnya.

Adapun sang fotografer yaitu Wibisono mengklaim kalau foto tersebut benar adanya, asli bukan melalui tempelan dua foto secara editing. Bahkan Ari melampirkan bukti berupa foto-fotonya dan data teknisnya untuk meyakinkan bahwa foto ini bukan rekayasa. Dikutip dari detik.com Ari mengatakan bahwa pada jam 6.20 dari posisi flyover Kemayoran arah Gunung Sahari, dia menghentikan sepeda motornya dan mengambil foto tersebut. Sejam kemudian, gunung mulai hilang (tertutup kabut atau awan).

Foto asli atau editan?

Menurut saya pribadi, untuk tujuan keindahan foto, atau koleksi pribadi, tidak ada yang salah bila kita menggabung dua foto melalui editing. Misalnya foto pantai yang awannya jelek, lalu awannya diganti dengan awan yang lain. Tapi untuk itu pun perlu skill juga, minimal kita mesti bisa mengedit dengan Photoshop. Dalam hal ini, bila pun fotonya tidak di edit dengan cara menggabung dua foto, tetap saja foto Ari sudah melalui editing yang umum dilakukan banyak fotografer yaitu menambah saturasi, kontras dsb. Dalam konteks foto jurnalisme, situasinya jadi berbeda. Foto jurnalisme mengedepankan unsur berita sehingga perlu foto yang otentik, asli dan menghadirkan realitas apa adanya. Editing termasuk pantang untuk dilakukan, misal menghilangkan sesuatu, menambah sesuatu, atau bahkan memperbaiki kontras saja bisa mengubah perspepsi dan makna terhadap sebuah realitas yang ditangkap melalui foto.

Adapun yang menjadi ramai di cerita kali ini, adalah banyak orang yang tidak percaya terhadap keaslian foto Ari ini, karena terasa aneh melihat gunung yang sebesar itu ‘ada’ di Jakarta, apalagi tampak begitu jelas. Orang lain merasa foto yang bisa mereka ambil, tidak memberikan visualisasi gunung yang sedemikian besar. Jadi bagaimana mungkin foto yang di klaim asli ini mendapat banyak keraguan di media sosial? Ijinkan saya mencoba mencari jawabannya selain dari sekedar membahas editing, tetapi dengan sebuah pemikiran bahwa realitas dalam fotografi sebenarnya adalah relatif tergantung pemilihan fokal lensa yang dipakai.

Pengaruh fokal lensa

Kita perlu sadari, fokal lensa yang lebar akan cenderung memberi perspektif yang berbeda dengan fokal lensa telefoto. Keunikan dari lensa telefoto adalah mampu mengkompresi dimensi, perspektif dan skala. Artinya antara yang dekat dan jauh menjadi serasa menempel, sama besar dan menipu persepsi kita terhadap skala dan kedalaman/dimensi. Dalam hal ini, bila kita pakai lensa tele, misal 300mm, dan bisa mengambil posisi memotret sedemikian rupa sehingga gunung bisa tercover dengan jelas, maka memang gunung akan tampak besar, dekat dan seolah-olah menempel dengan subyeknya.

Foto asli dari kamera (tidak di edit), beserta screen shot data EXIF-nya

Saya ambil cerita dari pengalaman saya memotret dengan lensa tele di bulan Desember 2020 ya. Di suatu pagi yang cerah, saya menaiki perahu menyusuri pesisir pantai Jakarta dari PIK menuju Muara Karang. Dari atas perahu, saya juga melihat kalau ada gunung di kejauhan, yang kemudian saya foto dengan kamera yang saya bawa, yaitu Sony A7 III dan lensa Tamron 70-300mm (dan tentu lensanya saya putar ke fokal terpanjang di 300mm). Karena atmospheric haze, maka hasil foto saya memang low contrast, tapi secara visual saya dapati kalau gunung dalam foto saya memang tampak begitu besar menjulang dan kesannya menempel dengan gedung-gedung di Jakarta. Dengan sedikit editing dasar, saya mendapatkan foto yang lebih baik meskipun esensi fotonya tetap sama.

Foto yang saya ambil dan sudah di edit saturasi, kontras, de-haze dsb. untuk menambah jelas skala antara gedung dan gunung di belakangnya. Dengan fokal 300mm memang gunung jadi tampak lebih besar, memberi skala yang tidak sama dengan aslinya.

Jadi apa simpulannya? Secara teknis, mendapatkan foto seperti Ari Wibisono bisa dilakukan, dengan pemilihan lokasi, waktu dan tentunya lensa yang tepat. Bahwa pesan visual dari foto Ari untuk menceritakan udara Jakarta yang bersih melalui foto ini, mari kita hargai. Tapi moral ceritanya menurut saya adalah, kita perlu bijak dalam membuat statement. Bahwa foto kita mungkin beda dengan orang lain, bisa jadi karena beberapa faktor termasuk fokal lensa yang dipakai. Ini pentingnya memiliki literasi tentang elemen visual dalam fotografi, termasuk pengaruh fokal lensa terhadap skala. Juga fotografer perlu memahami kalau dalam melakukan editing untuk alasan perbaikan dan keindahan, nilai jurnalisme dari fotonya mungkin akan berkurang.

About the author: Erwin Mulyadi, penulis dan pengajar yang hobi fotografi, videografi dan travelling. Sempat berkarir cukup lama sebagai Broadcast Network TV engineer, kini Erwin bergabung menjadi instruktur tetap untuk kursus dan tour yang dikelola oleh infofotografi. Temui dan ikuti Erwin di LinkedIn dan instagram.

{ 1 comment… add one }
  • teguh dewanto February 26, 2021, 8:45 am

    share nya mencerahkan mas. terima kasih

Leave a Comment