≡ Menu

Bahas foto : Anak di Kampong Phluk

Biasanya bahas foto berisi foto-foto benda mati, kali ini saya akan tampilkan foto portrait/human interest. Anak ini menarik bagi saya karena ekspresinya yang sendu, tidak seperti anak-anak lain di Kampong Phluk, Kamboja. Saya mendapat info dari guide kita bahwa anak ini baru kehilangan ayahnya tahun lalu dan kini hidup bersama ibu dan empat saudaranya.

cambodia-1070561Ngomong-ngomong, Kampong dalam hal ini bukan kampung/dusun tapi artinya pelabuhan. Kampung ini memang berada di tepi danau Tonle Sap. Danau yang menghidupi satu juta penduduk Kamboja.

Biasanya jika saya menodongkan lensa ke anak-anak, mereka biasanya tertawa dan tersenyum, ekspresi tersebut menarik, tapi lama-lama membosankan. Saya justru mencari ekspresi yang alami. Anak ini terkesan cuek. Ia memang tahu saya memotretnya, karena saya mengambil beberapa frame sebelumnya.

Subjek foto sering kali merupakan cermin diri kita, saat melihat foto ini, saya seakan melihat diri saya juga. Waktu kecil, saya kurus, sehingga kepala saya terlihat agak besar. Saya penyendiri dan takut keramaian.  Bajunya agak lusuh, dan agak lubang-lubang. Saya juga demikian, beberapa baju tidur saya berlubang-lubang karena sudah lama dipakai, tapi malah saya merasa nyaman makainya. Gambar yang di kaos ada monyetnya, kebetulan saya shio monyet.

Di Instagram dan facebook, reaksi yang saya terima lebih dari foto-foto seperti biasanya. Apa yang membuat foto ini menarik? Saya pikir banyak faktornya, salah satu yang dominan adalah ekspresi dan kontak mata yang kuat, ditunjang juga dengan pencahayaan yang lembut dan cukup merata karena sore itu memang mendung.

untitled-1070561-edit

Hal lain yang membantu yaitu kombinasi warna yang cenderung monokrom (warna coklat) dari baju, warna kulit dan latar belakang sehingga fokus tetap terpusat pada wajah subjek foto. Warna coklat juga melambangkan kumuh dan kotor. Sehingga yang melihat foto ini dapat merasakan kondisi kehidupan dan lingkungan anak tersebut.

Faktor kamera dan lensa yang digunakan juga menentukan. Dengan kombinasi kamera Leica SL dan lensa SL 24-90mm, meski saya memotret di ISO 2500, noise tidak terlalu banyak, tonal warna sangat natural, ketajaman baik dan bagian latar belakang halus blurnya.

Tonal warna mungkin menjadi keunggulan dari Leica SL ini. Sejak saya memakai kamera ini saya masih syok dengan warnanya yang natural, demikian juga teman-teman yang ikut tour foto bersama saya yang berdecak kagum dan berharap kameranya juga dapat menghasilkan tonal warna yang sama. Adik SL, Kamera Leica TL, dan X, kabarnya memiliki tonal warna yang mirip.

Sedikit membahas hal teknis, mungkin ada pembaca yang bertanya-tanya, mengapa saya mengunakan setting ISO yang cukup tinggi padahal lokasi pemotretan di luar ruangan? Sebenarnya, ISO-nya saya set Auto. Jadi ISO merupakan pilihan kamera. ISO menjadi tinggi karena shutter speed yang saya set cukup cepat yaitu 1/250 detik. Karena pengalaman saya memotret anak-anak jarang bisa diam.

Soal bukaan saya memilih f/5.6 supaya ruang tajamnya cukup untuk wajah dan tubuh anak. Mengunakan kamera dengan sensor full frame, saya harus berhati-hati, karena f/5.6 seperti f/4 di kamera bersensor APS-C. Kalau pakai f/4 di full frame, ruang tajamnya seperti f/2.8 di APS-C. Fokus di satu mata, mata lainya bisa blur.


Demikianlah bahas foto kali ini. Bagi yang suka traveling, tahun depan Infofotografi menyiapkan tour foto ke Vietnam, 13-18 April. Mudah-mudahan bisa ikut.

About the author: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta. Temui Enche di Google+ dan Instagram: enchetjin

{ 6 comments… add one }
  • KrisnomoJohanes January 12, 2017, 8:54 am

    Jumpa Lagi, Ence.
    Saya Krisnomo Johanes
    Menyimak info2 yg sangat bermanfaat.
    Krisnomo Johanes

  • satya December 25, 2016, 12:10 am

    edukatif sekali artikelnya om. Btw saya mau tanya.. saya lg tertarik dgn prime sigma 20mm 1.4 art karena kualitas gambarnya… yang saya tanyakan durability buat jangka panjang sekitar 4-5 tahun terutama motor fokus dn coating optiknya sigma gimna ya om …?

    • Enche Tjin December 25, 2016, 12:14 am

      Iya, masalah third party memang biasanya berkisar di motor fokus, compatibility dengan kamera baru. Tapi untungnya Sigma saya pikir cukup bagus servicenya. Soal coating optik seri Art mestinya top punya 🙂

  • Pio December 23, 2016, 6:07 pm

    Dah lama web ini jd refensi saya ( meski jrg komen he…he..he..) dlm hal belajar fotografi.
    Berharap suatu saat nanti bisa ikut tour juga :-D…sehat sll koh Enche

Leave a Comment