≡ Menu

Nikon D850 vs Sony A7R3, lebih canggih dan laku yang mana?

Nikon dan Sony kembali menggegerkan dunia perkameraan akhir tahun ini dengan menghadirkan kedua kamera super canggih Nikon D850 dan Sony A7R III yang ditujukan ke fotografer profesional atau amatir serius. Masing-masing kamera telah dibahas di Infofotografi, namun sepertinya kurang lengkap jika kedua kamera ini tidak kita bandingkan secara langsung.

Kamera-kamera DSLR atau mirrorless canggih jaman sekarang sebenarnya memiliki banyak persamaannya. Demikian pula dengan kedua kamera ini. Persamaan mereka kedua antara lain:

  • Harga: Rp 45-50 jt.
  • Sensor dan resolusi foto: Full frame, 42 & 46 MP
  • Material body : Magnesium alloy
  • Rentang ISO : Sony: 50-102400, Nikon: 32-102400
  • LCD bisa ditekuk ke atas, touchscreen
  • Flash sync speed 1/250 detik
  • Kecepatan foto berturut-turut 9-10fps
  • Video 4K
  • 2 slot kartu memory

Namun memilih kamera yang mana tentunya kita perlu sama-sama mempelajari perbedaan masing-masing kamera.

Kamera Sony A7R III adalah kamera berjenis mirrorless, kamera jenis ini dimensinya lebih ramping dan ringan (657 gram) dibanding Nikon yang beratnya 1kg. Tren saat ini menunjukkan kamera yang lebih ringan dan compact lebih diminati daripada yang besar.

Keunggulan lainnya adalah Sony punya A7R3 punya beberapa teknologi yang menarik, misalnya 5 axis stabilizer yang berguna untuk foto dan video tanpa tripod, juga berguna saat memasang lensa yang tidak memiliki fungsi stabilizer. Jendela bidik elektronik yang dimiliki Sony A7R3 yang terus menerus menampilkan preview gambar membuat fotografer lebih mudah mengendalikan exposure, warna dan juga fokus daripada jendela bidik optik DSLR.

Salah satu yang baru dari A7R III adalah fitur pixel shift multi shooting mode. Jika diaktifkan, kamera akan mengambil 4 foto dalam jeda waktu tertentu, kemudian kita dapat menggabungkannya ke dalam satu foto dengan ketajaman dan warna yang lebih sempurna lagi dengan software khusus dari Sony yang tersedia secara gratis. Fitur ini bukan sesuatu yang baru, tapi sudah ada di Pentax K1, dan juga tidak terlalu efisien, karena hanya bisa untuk subjek yang benar-benar tidak bergerak seperti arsitektur/still life, tapi merupakan fitur tambahan yang membedakan antara kamera Sony mirrorless yang lain.

Dibandingkan Sony A7R III, Nikon D850 yang berbodi DSLR memiliki ketahanan yang lebih baik di kondisi ekstrim seperti hujan, salju, cuaca buruk. Kapasitas baterai juga lebih panjang jika yang memotret lebih sering mengunakan jendela bidik. Satu baterai bisa cukup untuk 1800 foto, dibanding baterai Sony yang cukup untuk 650 foto. Penerapan touchscreen layar D850 juga lebih baik karena bisa untuk mengganti menu, bukan untuk mengganti area fokus saja.

Di kondisi gelap, tombol-tombol kamera D850 bisa dinyalakan dan sangat membantu fotografer yang suka motret di malam hari. Salah satu fitur yang menarik adalah focus shift/stacking. Fitur ini mengotomisasikan kamera untuk mengambil beberapa foto dengan jarak fokus berbeda, dan kemudian menggabungkannya menjadi satu foto yang memiliki kedalaman fokus yang lebar. Fitur ini juga cocoknya hanya untuk subjek tidak bergerak seperti pemandangan dan still life, tapi sangat membantu fotografer untuk memperoleh hasil ketajaman yang maksimal.

Keunggulan diluar spesifikasi kamera juga ada, misalnya dukungan lensa yang sudah cukup komplit dari Nikon maupun pembuat lensa pihak ketiga seperti Sigma dan Tamron.

Kesimpulannya, kedua kamera adalah kamera yang bagus dan sangat canggih. Memilih yang mana lebih tergantung prioritas fotografernya masing-masing. Jika banyak memiliki lensa Nikon, dan menyukai fotografi pemandangan, atau komersial, D850 sangat tangguh dan cepat di segala medan. Sedangkan jika untuk video dan traveling, Sony A7R III lebih cocok karena lebih ringkas dan ringan.

Kalau ditanya laku yang mana?

Saya pikir Nikon D850 akan lebih laris, alasannya karena pengguna Nikon sudah cukup lama menunggu kehadiran kamera ini, terutama yang mengunakan D800/D810 saat ini. D810 diluncurkan Juni 2014. Diantara 2014-2017, Nikon tidak mengeluarkan kamera penerusnya. Jadi ketika D850 keluar, sehingga pengguna-pengguna yang masih setia dengan Nikon (dengan kata lain belum pindah ke Fuji atau Sony) menjadi buas dan langsung memesan D850 tanpa ragu.

Sepertinya pabrik Nikon harus bekerja ekstra keras memenuhi pesanan fotografer seluruh dunia, dan hal ini penting, karena menurut saya, D850 ini masa jualannya juga cukup tipis waktunya, sekitar 1 tahun sejak peluncuran. Karena tahun depan, Nikon akan menerbitkan edisi mirrorless-nya dan perhatian pengguna Nikon akan lebih tertuju ke mirrorless ini, apalagi jika mirrorlessnya bersensor full frame.

Sedangkan kamera Sony A7R III meskipun diatas kertas memiliki beberapa keunggulan yang diminati saat ini, misalnya teknologi 5 axis stabilizer, dan dimensinya lebih kecil, tapi pengguna Sony dalam empat tahun terakhir telah dibombardir dengan sejumlah kamera canggih seperti Sony A7R (2013), Sony A7 II, A7S (2014) Sony A7RII, A7SII (2015), dan baru-baru ini Sony A9 (Juni 2017). Belum termasuk lensa-lensa Sony GM yang harganya menyentuh 20-30 jutaan per lensa.

Saya kira sebagian besar pengguna Sony sudah terkuras kantongnya dan membutuhkan beberapa tahun lagi supaya kantongnya terisi kembali untuk membeli A7R III. Jikapun belum terkuras kantongnya, sebagian besar juga masih belum banyak yang memaksimalkan kamera yang telah dimiliki

Kedua kamera diperkirakan baru akan stok di Indonesia paling cepat akhir tahun ini atau kemungkinan besar awal tahun depan, sehingga yang sedang mempertimbangkan masih sempat mikir-mikir dulu 🙂


Yuk, ikuti kursus dan workshop Infofotografi. Dengan belajar dan latihan yang benar, maka hasil foto akan jauh lebih baik terlepas dari kamera yang digunakan.

About the author: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta. Temui Enche di Google+ dan Instagram: enchetjin

{ 12 comments… add one }
  • Edys November 16, 2017, 9:47 pm

    Untuk saat ini saya tidak bertanya, om. Tapi beropini. Sebenarnya sony membombardier jajaran kamera fullframenya bukan untuk penggemar sony, tapi buat penggemar kamera lain agar mau pindah ke kamera sony. Strategi ini sudah dijalankan sony sejak kemunculan a7 mk2 padahal yang a7 tidak terpaut jauh peluncurannya. Hanya beberapa bulan.

    • Enche Tjin November 16, 2017, 9:52 pm

      Iya, karena Sony cukup ambisius. Tapi bukannya semua merk kamera jg berusaha supaya semakin banyak yang menggunakan produk mereka?

  • Gerry November 11, 2017, 12:35 am

    Waaah a7rIII , jangan jangan nanti ada a7III makin ketinggalan aja yg generasi pertamanya
    Ko enche maaf nih kalau out of topic, kebetulan baru beli sony a7, saya cari setting buat ngerekam video di 60p kok ga ada ya ko ? Adanya 50p
    Mohon pencerahannya, terimakasih

    • Erwin Mulyadi November 11, 2017, 12:01 pm

      Indonesia kan region PAL jadi adanya 50p atau 25p. Di Amerika baru pakai 60p atau yg lebih umum ya 30p.

      • Gerry November 12, 2017, 12:25 pm

        Oh begitu ya om, oke om, terimakasiih jawabannya, soalnya liat di turtorial editing video di youtube banyaknya 60p, lagi belajar coba editing video hehehe..

  • welly November 8, 2017, 7:27 am

    ko maaf pertanyaan nya agak melenceng. antara nikon d750 dan sony a7 mark 2 lebih pilih yg mana?

  • Ilman November 7, 2017, 8:54 pm

    Ko saya kam mau pindah ke sony dan kebetulan bingung mau beli lensa antara pilih native lensa sony yaitu sony 16-35mm f4 apa ambil lensa dengan adapter yaitu tamron 15-30mm f2.8 saya si mau beli tamron karena bukanya yg sudah f2.8 dan lebih tajam tapi kembali ke ko menurut ko lebih baik beli native lens apa adapted lens ya

    • Enche Tjin November 8, 2017, 9:14 am

      Untuk kepraktisan enak yang semerk/native, jadi gak ada kendala autofokus dan keseimbangan kamera-lensa. Kalau senang 15-30mm harusnya pakai DSLR full frame aja 🙂

  • Anwar Salis Ma'sum November 6, 2017, 2:23 am

    Koh, mau tanya, sebelumnya maaf kalau out of topic, saya pengguna baru a6000. Sy suka bikin video travel. Saya ingin upgrade lensa untuk keperluan event kampus yang biasanya indoor. Apakah dengan membeli 35mm lalu 55-210mm itu cukup untuk indoor atau ada saran lensa lain yg lbh murah dan bagus??? Sy cari yg sesuai budget mahasiswa. Terimakasih sebelumnya.

    • Enche Tjin November 6, 2017, 12:16 pm

      Iya, 35mm f/1.8 bagus untuk low light karena bukaanya besar dan ada stabilizer. Yang 55-210mm akan agak sulit karena bukaannya sedang. Lebih baik yang 70-200mm atau 85mm f/1.8.

  • Rauf Assegaf November 2, 2017, 9:16 am

    Artikel yang sangat bagus dan menarik untuk dibaca.

Leave a Comment