≡ Menu

Leica SL 2 Review – Fitur baru kamera terbaik Leica

Akhirnya Leica SL2 diluncurkan juga di bulan November 2019 ini menggantikan Leica SL (Typ 601) yang sudah berusia empat tahun. Dalam dunia kamera empat tahun biasanya adalah satu generasi. Empat tahun adalah waktu yang cukup lama untuk meningkatkan sebuah kamera diberbagai aspek : Kualitas gambar, kualitas material kamera, dan kualitas kinerja.

Leica SL2 adalah kamera mirrorless full frame yang bisa bertukar ganti lensa yang mengunakan L-mount, artinya bisa dipasangkan dengan lensa-lensa dari Leica SL, TL, atau lensa dari Lumix S dan Sigma L. Karena Leica SL2 ini adalah kamera mirrorless, maka kita juga bisa memasang lensa-lensa SLR atau lensa Leica M ke kamera ini dengan adaptor yang sesuai.

Sebagai informasi, saya Leica Ambassador dari tahun 2016 yang mengunakan kamera Leica SL sebagai kamera utama saya selama tiga tahun terakhir. Di akhir bulan November 2019 saya diberikan kesempatan untuk mengunakan kamera ini selama dua hari yang saya manfaatkan untuk membuat video di Youtube Infofotografi.

Mungkin banyak teman-teman yang penasaran, apa sih kelebihan Leica SL2 dibandingkan SL sebelumnya? Oleh sebab itu saya merangkum beberapa fitur baru dari Leica SL2 dari urutan yang menurut saya paling penting yaitu:

Leica Design & Handling

Sesuai tradisi, kamera Leica sebagian besar mengunakan material logam aluminum magnesium untuk kameranya. Penggunaan material logam di era digital memang sudah lebih ditinggalkan karena bahan logam biasanya lebih berat dan mahal dari plastik, tapi material logam bisa dibuat lebih akurat dan lebih kokoh. Di Leica SL2 ada sedikit perbedaan dimana bagian tengahnya dibalut oleh material seperti kulit (leatherette).

Di bagian belakang kamera desainnya mirip dengan kamera Leica CL dan M10, yaitu memiliki tiga tombol (Play, Fn dan Menu), menggantikan empat tombol tanpa label di S & SL generasi pertama.

Pegangan/grip SL2 lebih nyaman dan aman di genggam karena cekung kedalam dan dilapisi oleh bahan karet. Untuk user interface-nya ada halaman Quick Menu baru, yang mana pengguna dapat mengakses setting-setting penting kamera degan menyentuh icon/tulisan.

Pengguna juga bisa mudah mengganti mode PHOTO maupun VIDEO. Saat di mode Video, icon-icon yang berisi setting akan berubah menjadi setting yang lebih relevan untuk video, misalnya setting audio. Demikian juga isi setting kameranya. Dengan organisasi yang seperti itu, fotografer/videografer bisa lebih mudah mencari setting kamera di lapangan dengan lebih mudah dan cepat.

Bagi pengguna Leica S/SL mungkin akan merasa kehilangan karena empat tombol panjangnya hilang, tapi di SL2 tidak kekurangan tombol yang bisa dikustomisasi. Saya mencatat ada enam tombol yang bisa diganti: dua di bagian depan kamera, tombol dekat jendela bidik, dua tombol dibagian atas kamera, dan tombol Fn di bagian belakang kamera.

Dari pengamatan saya, desain, kualitas material Leica yang membedakan kamera ini dengan kamera-kamera merk lainnya, dan merupakan salah satu alasan yang kuat mengapa seorang fotografer memilih mengunakan kamera Leica.

Sensor full frame baru

Leica SL2 kini mengunakan sensor mutakhir 47MP CMOS Full Frame sensor yang cukup unik dengan arsitektur microlenses untuk mengoptimalkan kualitas gambar saat memasang lensa-lensa Leica M dengan adaptor.

Peningkatan di ISO tinggi juga masih baik. Rentang ISO dari 100-50.000. di ISO 12500 kualitas gambar masih bagus. ISO 50.000 juga dapat digunakan di kondisi yang sangat gelap.

Di sisi video, Leica SL2 bisa terbilang sangat canggih karena bisa merekam sampai dengan 5K (biasa untuk membuat film anamorphic), 4K 60p, dan full HD slow motion sampai 180fps.

Khusus video 4K-nya bisa rekam dengan kualitas 4:2:2, 10-bit langsung ke memory card (internally) dan hanya dikenakan 1.1x crop saja. Sebagai tambahan, banyak pilihan bit rate, fps dan kualitas kompresi untuk videonya.

Bagi yang memiliki lensa APS-C seperti Leica TL, tetap bisa dipasang dan digunakan di kamera Leica SL, dan akan mendapat gambar dengan resolusi 20MP, yang mungkin sudah sangat cukup untuk berbagai kebutuhan.

In-body stabilizer

Leica SL kini dilengkapi dengan body stabilizer 5 axis, artinya kamera bisa meredam getaran tangan baik gerakan atas-bawah, kiri-kanan, dan berputar saat kita memotret atau merekam video.

Adanya fitur ini sangat signifikan karena banyak lensa Leica SL yang tidak memiliki stabilizer di lensa: SL 16-35mm, 35mm f/2, 50mm f/2, lensa-lensa TL, juga pemilik Lensa-lensa M akan sangat terbantu.

Dalam beberapa bulan kedepan, Leica akan menerbikan firmware update yang memungkinkan kamera untuk mengambil beberapa foto dengan pixel shift untuk membuat gambar dengan resolusi yang sangat tinggi (187MP).

Dalam pengujian, saya bisa mengunakan shutter speed yang sangat lambat seperti 0.5 detik dan hasil foto tetap tajam. ISO 400, f/5.6, 0.5 detik, 16mm, lensa Leica 16-35mm f/3.5-5.6
ISO 320, f/5.6, 0.5 detik

Viewfinder dan LCD

Jendela bidik Leica SL generasi pertama adalah jendela bidik yang paling banyak dipuji karena selain besar, resolusinya juga sangat tinggi, yaitu 4.4 juta titik. Di SL2, resolusinya ditingkatkan lagi ke 5.76 juta titik, dan saat ini mengunakan teknologi OLED, sehingga lebih terang terutama saat di luar ruangan.

Selain itu, Leica mengunakan bahan kaca, bukan plastik seperti kamera merk lainnya, sehingga gambar terlihat lebih bening dan tajam, jadi lebih mudah bagi pengguna lensa manual. Refresh rate juga ditingkatkan menjadi 120fps dan 1:10.000 contrast ratio dengan perbesaran 0.78x. hampir tidak ada perbedaan atau lag (0.005 detik) antara gambar di jendela bidik dan realitas.

Performance

Kinerja kamera sangat cepat berkat prosesor baru Maestro III, dan autofokus juga ada peningkatan, yaitu bisa mendeteksi wajah, dan objek dengan lebih cepat dan mudah.

Tapi saya harus jujur bahwa kinerja autofokus SL2 bukan yang tercepat saat ini, kadang agak pelan (tergantung lensa juga) karena masih menganut sistem contrast detect AF, yang lebih lambat daripada phase detect AF tapi sangat akurat.

Kinerja foto berturut-turut bisa dipilih sampai 10 foto per detik (mechanical shutter), 20fps untuk electronic shutter tapi tanpa exposure metering dan AF tracking. Kecepatan maksimum saat continuous AF tracking aktif 6 fps.

Perbandingan dengan Leica SL

Seperti yang saya ulas diatas, banyak juga peningkatan kamera ini dibandingkan dengan SL yang pertama, tapi ada juga yang mirip dengan SL, yaitu volume dan beratnya tidak terlalu berbeda (847g – 928g).

Desain body juga sama, misalnya tetap ada Layar LCD yang berisi status kamera di bagian atas kamera, dan mengunakan baterai Leica yang sama. Yang hilang dari SL yaitu built-in GPS, sehingga SL2 itu tidak memiliki punuk di bagian kiri kamera yang berisi modul GPS.

Leica SL2 juga punya weathersealing yang sangat bagus, sama dengan SL yang tahan cuaca ekstrim, cipratan air dan debu halus, tapi di SL2 lebih ditegaskan dengan diumumkannya rating IP (Ingress/International Protection) nya yaitu IP 54.

Dan bagi penyuka fotografi landscape, kini Long Exposure Noise Reduction sudah bisa dinonaktifkan, sehingga saat memotret landscape dengan long exposure tapi lagi mengejar momen bisa lebih lega.

Port I/O & Memory Card

SL2 ini memiliki port yang cukup lengkap. Ada port untuk microphone dan headphone, juga ada USB 3.1 type C yang memungkinkan untuk kita charge baterai langsung di kamera dan bisa charge via powerbank atau sumber daya lain saat kamera merekam foto atau video.

Leica SL2 ini punya dual card memory slot juga seperti SL, hanya saja keduanya kini punya kualitas yang sama, yaitu dapat mendukung SD card UHS-II yang makin umum digunakan di kamera tingkat profesional.

Kesimpulan: it’s your choice

Peluncuran Leica SL2 di tahun 2019 menunjukkan komitmen Leica untuk membuat kamera dengan teknologi terkini untuk menunjang kebutuhan fotografer dan videografer profesional dan enthusiasts. Tidak seperti brand kamera lain yang mungkin membuat beberapa type kamera misalnya satu yang serba guna dan terjangkau, satu ke foto, satu lagi ke video, Leica membuat satu saja yang bagus untuk foto dan video sekaligus.

Boleh diakui juga harga Leica SL2 ini tidak murah, yaitu dijual dengan harga dan garansi resmi Leica Store Indonesia yaitu Rp 103.4 juta body-only. Tapi ya kembali lagi ke masing-masing karena kehadiran SL2 ini adalah sebuah pilihan, maka itu slogan untuk SL2 saya kira sangat tepat, yaitu “it’s your choice“. Maka dari itu, jika kita ingin pengalaman yang berbeda saat memotret dan merekam video, tentunya SL2 ini boleh dilirik.


Bagi yang ingin membeli kami bisa membantu, silahkan kontak 0858 1318 3069 free bimbingan dari saya untuk setting up dan tips memotret.

About the author: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta. Temui Enche di Google+

{ 2 comments… add one }
  • Denon December 5, 2019, 12:51 pm

    Wah mantap sudah pakai 5 axis stabilizer seperti yang diterapkan pada pada kamera Sony sang pioner nya dan juga Panasonic.

  • Andy Peng December 4, 2019, 6:22 am

    Ko, apa Infofotografi ada rencana mengadakan pelatihan untuk Capture One lagi ? Seingat sy dulu pernah di 2015. Makasih ko.

Leave a Comment