≡ Menu

Kapan sebaiknya pakai shutter elektronik?

Shutter di kamera terbagi dalam dua jenis yaitu mekanik dan elektronik. Mekanikal shutter ditemui di kamera seperti DSLR dan mirrrorless, sedangkan shutter elektronik ditemui di kamera saku dan ponsel. Disaat shutter elektronik bisa menghasilkan foto yang 'tidak ada masalah' seperti di ponsel, lantas kita mungkin akan bertanya-tanya : untuk apa lagi ada shutter mekanik kalau begitu?

Pertanyaan ini bisa dijawab singkat, kamera masih membutuhkan shutter mekanik untuk menghasilkan foto, dan shutter elektronik masih perlu waktu beberapa tahun lagi untuk bisa sepenuhnya menggantikan fungsi shutter mekanik. Sensor di kamera DSLR/mirrorless termasuk dalam sensor ukuran besar, dan hanya di era modern saat ini saja sensor tersebut akhirnya mampu diminta untuk on-off secara elektronik, tanpa bantuan shutter mekanik. Ini berbeda dengan kamera saku atau ponsel yang sensornya kecil, dan shutternya dirancang untuk berfungsi penuh secara elektronik.

Ingat kembali fungsi shutter berkaitan dengan timing eksposur, sebuah proses yang tidak pernah berubah sejak era kamera film pertama kali dibuat. Shutter membuka, cahaya masuk, terjadi eksposur, dan shutter menutup lagi, begitulah prosesnya. Dalam proses ini menghasilkan juga semacam bunyi shutter yang khas : ‘cekrek’. Namun kadang bunyi inilah yang juga membuat kita kurang nyaman karena mungkin mengganggu sekitar kita, misal saat suasana sepi atau tidak boleh ada gangguan suara.

Nah shutter elektronik paling utama dipilih jika ingin kamera menjadi silent / tidak bersuara. Maka di kamera generasi lama, di menu mungkin tidak ada pilihan shutter elektronik, tapi bisa jadi ada menu untuk silent shooting. Pada dasarnya itu sama saja yaitu memakai shutter elektronik juga. Bedanya, bila di kamera ada pilihan menu shutternya, tentu lebih baik. Alasan lain untuk memilih shutter elektronik adalah mencegah shutter mekanik cepat aus, dalam jangka panjang. Kita tahu shutter mekanik dalam jangka panjang bila sering dipakai buka tutup akan mengalami kerusakan, dan biaya ganti unit shutter ini cukup mahal.

Contoh unit shutter mekanik

Alasan ketiga untuk memilih shutter elektronik adalah bila ingin memakai shutter speed yang sangat cepat. Adakalanya kamera ‘hanya’ bisa memotret secepat 1/4000 detik, dan bila kita ingin mencapai 1/16000 detik bisa dicapai dengan shutter elektronik di beberapa jenis kamera. Masih berkaitan dengan ini, shutter elektronik juga saat ini menjadi satu-satunya pilihan bila kita perlu continuous shooting yang cepat, misal seorang jurnalis memakai kamera kelas atas yang cepat, yaitu bisa 10 fps (mekanik) tapi ternyata masih merasa kurang cepat. Maka di kameranya bila ada opsi yang lebih cepat, misal bisa 20 fps, itu adalah shutter elektronik. Karena sulit sekali meminta shutter mekanik untuk bisa buka tutup terus menerus dalam kecepatan diatas 10 kali dalam satu detik.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Tips 1 : Manfaatkaan file CRAW selain pilihan RAW. Di kamera Canon EOS M selain ada pilihan file RAW, juga terdapat file CRAW, yang artinya Compressed-RAW. Manfaat memakai CRAW adalah mendapat file yang ukurannya lebih kecil dari file RAW, sehingga saat memotret banyak foto, kartu memori tidak cepat penuh. Memang kualitas terbaik adalah memilih file RAW, tapi kadang sulit membedakan hasil dari RAW dan CRAW ini, karena CRAW pada dasarnya sama-sama file mentah yang bisa diedit seperti warna dan highight-shadownya.

Pilihan RAW dan CRAW

Tips 2 : Bracketing. Sesuatu yang di kamera lain ditemui dalam bentuk mode khusus atau ada di drive mode, tapi di Canon agak tersembunyi dan bisa ditemui bila kita mengakses kompensasi eksposur terlebih dahulu, dan diberi nama AEB (Auto Eksposur Bracketing). Dengan memutar roda depan, kita bisa menjadikan kamera menangkap tiga eksposur yang berbeda (lebih gelap, sedang dan lebih terang) dan bisa diatur perbedaan jaraknya. Tentunya ini dipilih hanya jika kita sengaja ingin memakai fitur bracketing (misal akan memnbuat foto HDR). Bila tidak ada rencana membuat bracketing, justru pastikan fitur AEB ini non aktif (hanya ada satu garis warna merah).

[continue reading…]
{ 0 comments }

Review kamera ponsel Xiaomi Mi 11

Mi 11 adalah salah satu ponsel premium Xiaomi yang memiliki kualitas yang baik di segala aspek termasuk memiliki modul kamera kelas atas, salah satunya yaitu kamera 108MP dengan sensor berukuran relatif besar 1/1.33″ (crop factor 3.8x) 0.8µm, lensa f/1.9 dan lensa lebar ekuivalen dengan 26mm.

Secara desain, ponsel ini punya layar yang relatif besar yang melengkung ke sisi ponsel (waterfall display) yang menyebabkan ponsel ini terlihat ramping. Sebagai ponsel yang berlayar besar, ponsel in tidak berat, yaitu sekitar 196 gram. Seperti ponsel masa kini lainnya, Mi 11 punya beberapa modul kamera tambahan, diantaranya modul kamera dengan lensa ultrawide 13 MP f/2.4 sensor 1/306″ 1.12µm, juga lensa tele makro 5MP dengan sensor 1/5″ 1.12µm.

Di mode foto standar, ponsel ini akan menghasilkan gambar beresolusi 6016 x 4512 (27mp). Kualitas hasil gambarnya bagus dan detail. Ada pilihan 108MP di menu, yang menghasilkan gambar 12032 x 9024 pixel (108mp). Namun kualitas gambar 108MP justru tidak terlalu banyak peningkatan dari segi detail dibandingkan dengan mode standar 27MP. Dan di berbagai situasi mode standar 27MP lebih baik.

Seperti kamera ponsel pada umumnya, yang unggul dari kamera Xiaomi 11 adalah computational photography seperti night mode. Di Mi 11, mode night mode dapat digunakan untuk kamera utama maupun kamera ultrawidenya. Di kondisi kurang cahaya, saat mode AI (Artificial Intelligence) diaktifkan, kamera akan mengambil gambar dengan cepat dalam waktu beberapa detik, kemudian kita menggabungkannya menjadi gambar yang kualitasnya lebih baik.

Di kondisi cahaya yang cukup terang, misalnya pemandangan pusat kota Jakarta di malam hari, kualitas gambar yang dihasilkan sangat baik, namun kondisi cahaya yang gelap seperti pertokoan di malam hari, kualitas gambarnya kurang detail jika di diperbesar.

Pemandangan kota Jakarta di malam hari dengan Night mode dan kamera utama
Crop dari foto diatas
[continue reading…]
{ 0 comments }

Kadang-kadang, kita perlu kamera yang benar-benar tahan banting untuk digunakan di lapangan yang sulit. Saat itu Ricoh WG-70 adalah salah satu kamera compact tangguh yang dibuat khusus untuk penggunaan di segala medan. Kamera ini cocok untuk petualang atau untuk pekerjaan di medan yang sulit. Kamera ini tahan sampai 14 meter dibawah air selama dua jam, tahan dari jatuh sampai dengan 1.6 meter, tahan debu, tahan tekanan sampai 100kg, dan tahan beku sampai dengan -10 derajat C.

Kamera ini memiliki lensa 5x optical zoom, dimulai dari 28-140mm f/3.5-5.5 dengan sensor 1/2.3″ dan resolusi 16MP untuk foto dan Full HD untuk video. Secara kualitas memang kamera ini tidak seimpresif kamera mirrorless atau DSLR, tapi memang dirancang untuk kekokohan dan juga ukurannya. Berat kamera ini sedikit dibawah 200gram, dengan panjang 12.2 x 6.15 x 2.9 cm.

Yang unik dari kamera ini yaitu adanya beberapa lampu LED yang melingkari lensa yang akan sangat berguna untuk menerangi subjek di kondisi yang sangat gelap atau menerangi subjek yang dekat. Menariknya, kita bisa memilih menyalakan sebagian lampunya saja, misalnya hanya yang bagian kiri atau kanan, untuk membuat bayangan dan membuat subjek yang dipotret jadi lebih berdimensi.

Desain dari kamera ini mengesankan kameranya sporty dan tough dengan pilihan warna orange dan hitam. Lekuk kamera memudahkan untuk menggengam, layarnya fix, 2.7 inci dengan resolusi 230ribu titik.

Karena ukurannya yang kecil, kamera ini mudah dibawa dan dikaitkan ke berbagai tempat, maka kamera tangguh ini cocok untuk berbagai kebutuhan seperti aktivitas air, arung jeram, pendaki gunung, penjelajah. Juga cocok untuk pekerjaan misalnya untuk konstruksi, penambangan, dan lain-lain.

Kamera Ricoh WG-70 ini telah tersedia di Indonesia dengan harga Rp 3.99 juta dan dapat dibeli di berbagai toko kamera dan toko online di Indonesia. Link pembelian di Tokopedia | Bukalapak

{ 2 comments }

Tren kamera & lensa 2020-2021

Meskipun pandemi melanda dunia dua tahun ini, produsen kamera dan lensa cukup aktif dalam merilis kamera dan lensa baru. Kita sudah hampir memasuki pertengahan tahun 2021 dan dapat melihat tren di dunia kamera dan lensa.

Kamera Cinema

Kamera Cinema yang biasanya untuk syuting film, kini semakin mirip dengan kamera foto. Sebelumnya lini produk kamera Cinema berdiri sendiri, dan memiliki fitur, menu yang berbeda dengan kamera foto. Contohnya tidak memiliki fungsi auto fokus karena lensa Cinema manual fokus.

Akhir tahun 2020 yang lalu, Sony merilis Sony FX6, kamera cinema dengan sensor full frame dan e-mount sehingga sinematografer bisa memasang lensa-lensa Sony E-mount untuk kebutuhan videografi. Selanjutnya di bulan Maret 2021 ini, Sony merilis Sony FX3, sebuah kamera cinema yang bentuk dan spesifikasinya sangat mirip dengan Sony A7SIII, hanya saja desain body-nya berbeda. Tata letak tombol FX3 lebih ditujukan kepada kebutuhan sinematografer.

Sony FX3, kamera Cinema ter-compact yang mirip A7SIII

Kamera untuk content creator

Hampir semua kamera foto di tahun 2020-2021 dibuat untuk content creator, yang bukan hanya mengunakan kamera untuk fotografi, tapi juga untuk videografi. Contohnya Sony ZV-1 dan Panasonic Lumix G100, keduanya adalah kamera yang lumayan ringkas untuk content creator pemula.

Fujifilm yang sudah sangat berpengalaman membuat lensa Cinema dan broadcast selama bertahun-tahun juga tidak ketinggalan dengan merilis kamera Fujifilm X-S10 dan XE-4 yang keduanya memiliki spesifikasi video yang baik, misalnya mampu merekam video 4K 10 bit dan Full HD 240p. Ditambah lagi dengan Fuji GFX100S, kamera medium format yang dapat merekam video 4K tanpa crop.

Ada juga kamera unik seperti Sigma fp, yang bersensor full frame dengan L-mount dengan ukuran yang sangat mungil dan dapat dipasang dengan berbagai aksesoris atau rig. Kamera ini sempat populer di Jepang pada awal pandemi karena dapat digunakan sebagai webcam secara langsung tanpa aksesoris seperti Camlink.

Lebih tidak umum lagi yaitu kamera kotak Lumix BGH1, kamera video yang ditujukan untuk content creator, livestreamer, dan biasanya mengunakan multi kamera untuk syuting di berbagai posisi dan situasi.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Hari ini Fujifilm mengumumkan lensa baru, Fujifilm Fujinon XF 18mm f/1.4 R LM WR. Lensa ini dirancang untuk sistem kamera Fujifilm X. Lensa ini dibuat untuk kamera bersensor APS-C, oleh sebab itu, jarak fokalnya ekuivalen dengan 27mm di kamera full frame dan termasuk lensa fix lebar.

Saksikan review, contoh foto dan behind the scene menggunakan Fuji XF 18mm f/1.4 dan Fujifilm X-T4

Secara fisik, lensa ini mirip dengan lensa Fuji XF lainnya yaitu punya aperture ring untuk mengubah bukaan dari f/1.4-f/16 dan mode Auto Aperture. Ukuran dan bentuknya mirip dengan lensa zoom XF 18-55mm f/2.8-4, tapi setelah disandingkan, 18mm sedikit lebih besar, mengunakan filter 62mm sedangkan yang 18-55mm mengunakan filter 58mm.

[continue reading…]
{ 1 comment }

Review Nikon Nikkor Z 50mm f/1.2 S

Setelah dua tahun hadirnya sistem kamera mirrorless Nikon Z, fotografer pengguna Nikon Z dimanjakan dengan hadirnya lensa-lensa 50mm yang berkualitas, katakanlah Nikkor Z 50mm f/1.8, Nikkor 58mm f/0.95 dan yang Z 50mm f/1.2 ini. Lensa 50mm f/1.2 adalah salah satu lensa yang fleksibel dan penting, karena dapat digunakan untuk berbagai jenis fotografi seperti portrait, wedding, still life dan street.

Di zaman DSLR, Nikon tidak memiliki lensa Nikon 50mm f/1.2 modern yang bisa autofokus, jadi kehadiran Z 50mm f/1.2 S tentunya sangat menggembirakan. Nikon tidak tanggung-tanggung dalam merancang lensa ini. Fiturnya canggih dan kualitas optiknya bagus.

Yang mengesankan bagi saya yaitu penggunaan teknologi coating terbaru yang bernama Arneo yang dipadukan dengan Nano Crystal Coat dan Super integrated coating yang sangat membantu saat memotret di kondisi backlight. Dalam pengujian saya dengan Nikon Z7II dalam memotret subjek model yang disinari dari belakang, kualitas gambarnya masih sangat tajam dan kontras. Tidak ditemukan flare. Chromatic abberation juga sangat minim dan sulit ditemukan.

Motor fokus yang digunakan berjenis stepper motor, lebih mulus dan tidak bersuara sehingga cocok untuk foto maupun video. Saya mendapati kecepatan fokusnya cukup cepat untuk lensa f/1.2 dan sangat akurat. Beberapa kali saya mencoba foto dengan bukaan terbesar dan dari jarak dekat dan lensa tetap terfokus ke iris mata bukan ke bulu mata atau hidung.

Secara fisik lensanya relatif besar. Berat lensa ini 1 kg, panjangnya 15cm dan mengunakan filter 82mm. Di body lensanya ada aperture ring dan manual fokus ring. Nikon menyebut manual focus ring ini control ring karena bisa diganti fungsinya menjadi exposure compensation atau ISO. Juga ada layar LCD kecil yang menunjukkan beberapa informasi seperti jarak fokus, ruang tajam dan bukaan lensa yang sedang aktif.

Dalam pemakaian selain saya merasa ukurannya agak sedikit besar, posisi ring aperture yang agak kecil dan resistensinya sepertinya kurang sehingga kadang tergeser saat penggunaan. Untungnya, control ring ini bisa di OFF jika dibutuhkan. Secara keseluruhan saya senang melihat hasil foto dari kombinasi Nikon Z7II dengan Z 50mm f/1.2 ini karena gambarnya tajam, detail, autofokusnya akurat dan bokeh (background blur-nya) mulus dan enak dilihat, sangat ideal untuk berbagai jenis fotografi.

Saksikan video reviewnya di Youtube Infofotografi

{ 2 comments }

Kamera yang memiliki resolusi tinggi dan kinerja yang sama-sama tinggi jarang ditemui. Biasanya, kamera yang beresolusi tinggi punya kecepatan yang relatif lambat seperti Sony A7R, sedangkan yang cepat, punya resolusi yang rendah seperti Sony A9 (24MP). Kamera Sony Alpha 1 hadir sebagai kamera pamungkas yang tidak berkompromi soal resolusi gambar dan kecepatannya.

A1 punya full size HDMI untuk hubungan ke external recorder yang lebih mantap

Dari desainnya, Sony A1 mirip dengan Sony A9, yang berbeda adalah A1 memiliki full size HDMI port yang lebih besar. Dibandingkan dengan seri A7, Sony A1 punya dua dial tumpuk di bagian atas kamera untuk mengganti drive mode dan focus mode.

Rahasia dibalik kecepatan Sony A1 terletak pada sensor full frame dengan arsitektur stacked sensor dan ditunjang dengan dual processor sehingga aliran data yang banyak bisa cepat dan lancar.

Dengan resolusi 50MP, Sony A1 mampu merekam video dengan resolusi 8K 10 bit, pertama di kamera Sony, dan 4K 120p langsung ke memory card baik SD card maupun CF Express Type A.

Meski memiliki resolusi yang besar, Sony A1 punya kecepatan foto berturut-turut yang sangat cepat yaitu maksimum 30fps dengan autofokus. Kecepatan autofokus akan tergantung dari kecepatan motor fokus lensa yang digunakan. Dengan lensa 50mm f/1.2 GM, saya mendapatkan hit rate yang cukup bagus untuk 10-20 frame per detik, sedangkan dengan lensa dengan motor fokus dan bukaan yang tidak terlalu besar seperti Sony FE 35mm f/1.8, hit rate yang saya dapatkan mencapai 20-30 frame per detik.

Hal lain yang diperbaharui dari Sony Alpha One adalah mekanisme shutter yang dapat memungkinkan flash sync speed 1/400 detik, melebihi 1/200 detik di kamera pada umumnya dan 1/200 detik dengan electronic shutter (dengan flash Sony).

Saat pengujian, kamera sangat responsif, menyalakan kamera membutuhkan waktu sekitar 1.2 detik sampai kamera siap memotret, setelah itu, pengoperasian kamera terasa cepat baik navigasi menu, mengganti setting via tombol dan layar sentuh.

Kualitas gambar dari Sony A1 saat dipasang dengan lensa Sony 50mm f/1.2 GM sangat bagus dan tajam autofokus dapat mengunci mata dengan baik dan cepat. Resolusi 50MP siap untuk cropping dan cetak foto berukuran panjang satu meter atau lebih.

ISO 100 f/8 1/100 50mm
Crop dari foto diatas
ISO 200 f/1.2 1/1000 50mm
Crop dari foto diatas
ISO 100 f/1.2 1/1250 1/250. Kanan: Crop dari foto kiri
ISO 1000 f/1.2 1/800 Kanan: Crop dari foto kiri

Memotret subjek bergerak menjadi mudah untuk mendapatkan momen puncak dengan kinerja 20-30fps. Sebagai tambahan, flash sync speed kamera ini mencapai 1/400 detik yang biasanya hanya 1/200 detik di kamera lainnya. Peningkatan ini akan sedikit membantu fotografer yang memotret di outdoor dengan flash. Yang cukup mengejutkan adalah flash sync untuk electronic shutter juga cukup bagus yaitu 1/200 detik (biasanya di kamera lain 1/15 detik) tapi harus mengunakan flash Sony atau mungkin flash pihak ketiga yang mendukung.

Yang membuat Sony Alpha One dikategorikan sebagai kamera untuk photojournalist profesional adalah fitur konektivitasnya yang lengkap. Sony A1 memiliki teknologi koneksi Wifi 2.4-5 Ghz terbaru 2×2 Mimo, punya dual antena untuk resepsi yang lebih baik. Port koneksi yang tersedia antara lain USB 3.2, Ethernet 1000 Base-T, dan FTP via smartphone.

Koneksi Ethernet yang biasanya hanya ada di kamera flagship kelas atas

Sony A1 adalah kamera mirrorless flagship yang memadukan semua kelebihan kamera-kamera sebelumnya. Kamera ini cocok untuk fotografer profesional yang membutuhkan resolusi tinggi dan kinerja kamera yang sangat cepat dalam satu paket.

Spesifikasi dan harga Sony A1

  • 50MP Full frame Exmor RS BSI CMOS sensor
  • 8K 30p, 4K 120p 10-bit
  • 9.44 juta titik EVF, 240 fps
  • 5 Axis Steadyshot
  • 5 Ghz MIMO Wi-Fi, 1000BASE T-Ethernet
  • 30fps electronic shutter
  • 10fps mechanical shutter
  • 759pt. Hybrid AF
  • Dual Drive Mech. Shutter, 1/400 detik
  • Dual CFexpress/SD card slot
  • Harga: Rp 91.990.000 body only
[continue reading…]
{ 0 comments }

Lensa TTArtisan 35mm f/1.4 untuk Leica M Review

Penggemar lensa manual fokus kemungkinan mengenal merk lensa yang memiliki kata Artisan. Sebenarnya ada dua yaitu 7Artisan dan TTArtisan, keduanya adalah perusahaan yang berbeda, meskipun sama-sama mengunakan membuat lensa manual fokus.

Dari feedback yang saya terima dari teman-teman pengguna lensa manual fokus, sebagian mengatakan lensa dengan merk TTArtisan memiliki kualitas fisik dan mekanik yang lebih baik.

Memang kita tidak bisa menggeneralisir bahwa 7Artisan kurang bagus, karena di 7Artisan membuat lensa dengan bermacam-macam kualitas, sedangkan TTArtisan sepertinya lebih fokus membuat lensa yang lebih premium.

Kelengkapan lensa ini termasuk lens hood yang berjenis screw-in, dan penutup lensa bagian depan berbentuk persegi dengan bahan logam. Terdapat obeng kecil dan petunjuk untuk kalibrasi lensa untuk sistem fokus rangefinder yang dapat dilakukan sendiri.

Petunjuk pengaturan fokus
[continue reading…]
{ 0 comments }

Setelah di tahun 2015 Pentax merilis K-3 Mark II, di tahun 2020 lalu Ricoh mengumumkan bahwa K-3 Mark III sedang dalam tahap pengembangan; dan akhirnya sang flagship DSLR APS-C kelas menengah ini resmi diluncurkan Maret 2021, dengan meningkatkan fitur di berbagai sisi, sebutlah misalnya dari sensor, titik fokus, shutter unit dan kemampuan videonya. Pentax K-3 Mark III kini dibandrol seharga $2000 dan kini menjadi salah satu DSLR APS-C dengan segmen serius yang cukup mahal, setara dengan Canon 7D Mark II atau Nikon D500.

Dibalik harganya yang termasuk tinggi, Pentax kini memberikan sensor 25,7 MP APS-C tanpa AA filter, berjenis BSI yang lebih baik (ISO up to 1,6 juta), dengan 5 axis stabilizer (up to 5,5 stop) yang dibalut bodi magnesium yang tentunya sudah weathersealed. Seiring jaman yang menuntut kemampuan rekaman video 4K, maka Pentax K-3 Mark III juga sudah bisa merekam video 4K 30p dengan tetap bisa menikmati IS di bodinya. Urusan auto fokus yanng sebelumnya memiliki 25 titik AF, kini meningkat drastis jadi 101 titik AF dengan 25 diantaranya jenis cross-type, dan bisa memfokus di keadaan gelap hingga -4 Ev. Untuk urusan kecepatan menembak kamera ini bisa memotret 12 fps berkat desain shutter mekanik yang baru, sebelumnya hanya bisa 8 fps. 

Perbandingan kinerja ISO tinggi di Pentax K3 Mark III dengan Pentax K1 Mark II yang full frame 36 MP
[continue reading…]
{ 0 comments }