≡ Menu

Still life water effect dengan flash - 22 November 2014
Daftar/Info: hub: 0858 1318 3069

Workshop basic flash techniques – Teori & Praktik

sony-flash-hvl-43Flash / lampu kilat, adalah salah satu alat fotografi yang penting, tapi masih banyak yang takut untuk mengunakannya karena takut hasil foto menjadi lebih buruk. Jika kita menguasai teknik flash dengan baik, hasil foto kita akan menjadi jauh lebih baik daripada tanpa mengunakan flash.

Di workshop yang didukung oleh Sony Indonesia ini, saya (Enche Tjin) akan mengunakan kamera dan flash Sony. Materi yang dibahas yaitu:

  • Kapan dan mengapa mengunakan flash
  • Kelebihan dan kekurangan built-in flash yang berada di kamera
  • Beberapa keunggulan external flash
  • Cara praktis set-up setelan flash dan kamera
  • Mengunakan flash untuk mengatasi kondisi backlight (outdoor)
  • Bagaimana menghaluskan/menghilangkan bayangan saat mengunakan flash
  • Guide Number / kekuatan flash
  • Pengaturan kekuatan flash (Manual, TTL)
  • Flash compensation dan Exposure compensation
  • Fitur canggih Multi-flash dan HSS (High speed sync)
  • Kegunaan dan kapan mengunakan aksesoris flash
  • Set-up wireless flash / strobist (mengunakan lebih dari satu flash)
  • Tips supaya flash awet / tidak cepat rusak

Setelah penjelasan teknik penggunaan flash, peserta workshop dipersilahkan untuk mencoba teknik flash dengan foto model yang sudah kita siapkan di mini studio dan outdoor (jika cuaca mengizinkan). Selama praktik, saya dan asisten instruktur akan mendampingi dan membimbing secara langsung.

Workshop flash ini ideal untuk penggemar fotografi terutama yang saat ini mengunakan kamera Sony baik DSLR, SLT atau Mirrorless. Kami akan menyediakan sekitar enam unit flash Sony dan model untuk praktik.

Yang perlu dibawa: Kamera, lensa, dan flash (jika ada).

Biaya untuk mengikuti workshop ini adalah Rp 75.000

Bonus: Panduan setelan flash Sony dan tips untuk berbagai situasi dalam bentuk e-book/pdf bagi peserta.

Workshop ini akan diadakan hari Sabtu, tanggal 29 November 2014

Waktu: 13.00-17.00 WIB

Tempat: Jl. Moch. Mansyur No. 8B2, Jakarta Pusat 10140 sebelah MNC Bank, dekat perempatan Roxy (Hasyim Ashari).

Tempat terbatas

Hubungi kami untuk pendaftaran : 0858 1318 3069 atau infofotografi@gmail.com

Sampai jumpa nanti!

poster-sony

{ 0 comments }

Street photography dan human interest adalah jenis fotografi yang menarik, setelah sukses mengadakan workshop di Bogor, kali ini, kita akan mengunjungi kota Tangerang.

Jadwal acara workshop

  1. Hari Minggu, 30 November 2014  pukul 13.00 sampai 16.00 WIB di kelas Jl. Imam Mahbud/Moch Mansyur No. 8B-2 Jakarta Pusat.
  2. Hari Sabtu, tanggal 6 Desember 2014  pukul 06.30 sampai 12.30 WIB di Tangerang, kemudian dilanjutkan dengan review/diskusi foto di Jakarta sampai selesai.

Materi yang akan dibahas tanggal 30 November 2014

  • Definisi street photography dan human interest (HI)
  • Sikap dalam memotret street photography
  • Teknik dan setting kamera dalam memotret street photography
  • Rekomendasi jenis kamera dan lensa yang dibawa
  • Berbagai macam komposisi street photography
  • Belajar dari gaya berbagai street photographer dunia
  • Tips untuk street portrait (cara memotret dan meminta izin orang untuk dipotret)

Bagi peserta dari Jakarta, berkumpul di Infofotografi, Jl. Imam Mahbud/Moch. Mansyur No. 8B2 Jakpus pukul 05.30 pagi untuk bersama-sama berangkat ke Tangerang

Lokasi hunting:

  1. Pabrik Lilin untuk memotret proses pembuatan lilin berbagai macam ukuran, dari yang kecil sampai settinggi manusia. Lilin-lilin merah biasanya digunakan di klenteng-klenteng.
  2. Daerah pasar lama Tangerang, di dalamnya terdapat Klenteng lama Boen Tek Bio, rumah tua, museum Benteng heritage, dan tentunya pasar yang menjual banyak makanan.

Dengan mengikuti workshop ini peserta akan dapat mempelajari street photography dan human interest dari teknik foto, praktik dan juga akan mendapatkan feedback dari pembina setelah praktik.

Pembina: Albertus Adi Setyo, Enche Tjin
Tempat sangat terbatas, maksimum 10 orang peserta saja

Biaya termasuk : Transportasi dengan mini bus kapasitas 25 orang dari Jakarta-Tangerang pulang pergi, biaya pembinaan workshop, air mineral sebotol per peserta, snack/roti di pagi hari, tip untuk karyawan subjek foto human interest.

Tidak termasuk : Makan siang/jajan selama hunting, tiket museum Benteng (Rp.20.000) opsional. Tip supir minimum Rp 10.000,-

Biaya: Rp 495.000,- per orang

Peserta direkomendasikan telah menguasai cara mengoperasikan kamera atau telah mengikuti kelas kupas tuntas kamera & dasar fotografi

  1. Pendaftaran dengan cara melunasi biaya (Rp 495.000) melalui transfer ke BCA 4081218557 atau Mandiri 1680000667780 atas nama Enche Tjin.
  2. Hubungi Iesan untuk mendaftar atau informasi di infofotografi@gmail.com / 0858-1318-3069

Catatan: Bagi yang mengunakan kendaraan pribadi ke lokasi, biayanya tetap sama.

Contoh foto sekitar Pasar Lama, Tangerang

kotak

red-envelope-seller

tailorpasar

adi-setyo-03

adi-setyo-01

adi-setyo-02

{ 0 comments }

Kamera Sony A7 merupakan kamera mirrorless yang bersensor full frame yang sudah saya coba dalam beberapa kesempatan. Kali ini, saya berkesempatan lagi mencoba Sony A7 untuk street photography dan human interest dengan beberapa lensa, antara lain Sony FE 24-70mm f/4 OSS, Sony E 24mm f/1.8, dan Sony E 35mm f/1.8.

Sony FE 24-70mm mendapatkan review yang cukup beragam, dan saya beruntung bisa mencobanya secara langsung. Secara fisik, 24-70mm f/4 cukup besar saat dipasang dengan kamera Sony A7 yang relatif tipis. Berat lensa 426 gram hampir sama dengan kamera A7 yaitu 474 gram. Sepertinya Sony sangat memperhatikan keseimbangan antara lensa FE dan kamera bersensor full frame seri A7.

Saat digenggam, lensa 24-70mm f/4 terasa agak besar, tapi tidak perlu makan waktu lama bagi saya untuk terbiasa dengan kombinasi kamera dan lensa ini.

Sony A7 + FE 24-70mm f/4 OSS di 46mm

Sony A7 + FE 24-70mm f/4 OSS di 46mm

Soal kualitas gambar, 24-70mm f/4 OSS mampu menghasilkan kualitas gambar yang sangat tajam di bagian tengah. Di bagian pinggir foto, tidak begitu tajam. Perbedaan ini cukup kontras saat di zoom 100% di software penampil gambar.

Saat memotret dengan format RAW, distorsi (cembung & cekung) terlihat cukup jelas, dan ini cukup disayangkan. Saat memilih format JPG (L,M,S) distorsi dikoreksi secara otomatis secara software. Untungnya, software Lightroom 5.6 yang biasa saya gunakan juga memiliki profil untuk lensa ini sehingga relatif mudah dikoreksi. Koreksi melalui software ini tidak sempurna karena bagian tepi foto terpotong sedikit.

Soal distorsi dan perbedaan ketajaman antara bagian tengah dan ujung foto sudah cukup banyak dibahas oleh situs review bahasa Inggris di internet. Dan ini sedikit mengoyang reputasi label “Zeiss” yang terkenal atas “technical excellence”-nya. Menurut pendapat saya, hal ini terjadi karena Sony berusaha membatasi ukuran dan berat lensa supaya tidak lebih dari badan kamera, jadinya terjadi sedikit kompromi dalam desain lensa tersebut.

Distorsi pincushion yang cukup jelas di jarak fokus 70mm

Distorsi pincushion (cekung) di jarak fokus 70mm saat foto format RAW

DSC07162

Setelah koreksi distorsi di Lightroom

Terlepas dari masalah distorsi dan ketajaman di tepi foto, untuk praktik street photography, liputan, travel, portrait orang dengan lingkungannya, lensa ini cukup baik dan praktis digunakan. Untuk foto arsitektur dan pemandangan, fotografer yang mengunakan lensa ini harus ekstra hati-hati terhadap distorsi yang muncul dan ketajaman di tepi foto yang kurang optimal. Saran saya jika Anda memotret dengan RAW adalah berikan ruang lebih supaya saat dikoreksi bagian tepi foto yang penting tidak terpotong. [click to continue…]

{ 5 comments }

Cari DSLR 5 juta pas : pilih Canon 1200D atau Nikon D3200?

Saat ini pilihan kamera DSLR ekonomis yang cukup laku di pasaran adalah Canon EOS 1200D dan Nikon D3200 (harga per November 2014 adalah 5 juta), yang keduanya adalah kamera entry-level / pemula yang sudah cukup modern dan cukup untuk dipakai para fotografer pemula. Canon EOS 1200D (atau Rebel T5) adalah penerus EOS 1100D dengan meningkatkan resolusi sensor jadi 18 MP dan titik fokus bertambah jadi 9 titik. Sedangkan Nikon D3200 walau bukan yang terbaru (pertama hadir 2012, kini sudah ada penerusnya yaitu D3300) tapi kamera ini tetap menarik karena fitur-fitur yang dimilikinya cukup lengkap seperti 11 titik AF dan sensor 24 MP.

Canon-EOS-1200D-vs.-Nikon-D3200-1

Kesamaan atau perbedaan spesifikasi Canon EOS 1200D dengan D3200 :

  • sensor : 18 MP vs 24 MP
  • ISO maks : ISO 6400
  • burst kontinu : 3 fps vs 4 fps
  • titik fokus : 9 titik vs 11 titik
  • kerapatan layar LCD : 460 ribu piksel vs 920 ribu piksel

Dari perbandingan diatas tampak hampir seimbang, Nikon D3200 memang secara angka unggul (24 MP, 4 fps, 11 titik AF). Yang juga menarik untuk disimak adalah kerapatan layar LCD dimana EOS 1200D yang hanya memakai LCD 460 ribu piksel akan menampilkan gambar yang kurang detil di layar, sehingga agak sulit memastikan akurasi fokus. Sebagai seri terbawah DSLR Canon, EOS 1200D juga tidak diberi fitur spot metering yang agak disayangkan.

Canon-EOS-1200D-vs.-Nikon-D3200-2

Di sisi lain walau Nikon D3200 tampak unggul tapi dia juga punya beberapa kekurangan dasar, yaitu tidak bisa auto fokus dengan lensa lama (AF-D), tidak ada fungsi bracketing dan minim tombol langsung (seperti ISO, WB dan AF).

Sulit memilih mana yang paling unggul. Keduanya sudah bisa memberi hasil foto yang baik dan fitur yang cukup untuk pemula. Tapi jika diminta memilih, pilihan saya jatuh pada Nikon D3200 karena kelebihan-kelebihan yang cukup banyak dibandingkan Canon 1200D.

——

Punya kamera digital dan ingin belajar fotografi? periksa jadwalnya di halaman ini.

Buku pintar memilih kamera, lensa dan aksesoris bisa didapatkan disini

{ 9 comments }

Memahami Exposure Value (EV) dan setelan low light

Saat baru belajar fotografi, banyak yang menganggap bahwa cahaya di dalam ruangan seperti di dalam kantor yang diterangi lampu neon terangnya tidak berbeda jauh dari cahaya matahari sehingga tidak ragu memilih setting ISO rendah (100-200).

Sebenarnya, kondisi cahaya lampu jauh lebih gelap daripada cahaya matahari. Otak dan mata kita bekerja selayaknya AUTO ISO di kamera, otomatis menyesuaikan dengan kondisi cahaya yang ada. Tapi menurut kamera, lampu buatan manusia itu jauh lebih gelap daripada cahaya matahari.

Satuan pengukuran cahaya untuk fotografer biasanya diekspresikan dengan EV (Exposure Value). Nilai yang diberikan bervariasi sesuai dengan ISO yang di set. Meningkatkan ISO 100 menjadi 200 berarti meningkatkan 1 EV.

Exposure Value juga bisa diekspresikan dengan kombinasi dari aperture dan shutter speed dengan asumsi ISO diset ke 100. Di hari yang cerah dengan matahari, nilai EV-nya 15, dengan kombinasi ISO 100, f/16 dan shutter speed 1/125 atau supaya mudah diingat, 1/100 detik. Kombinasi ini sering disebut aturan Sunny 16. Sedangkan di dalam ruangan, seperti di ruangan kantor yang terang, nilai EV berkurang menjadi EV 8 dengan kombinasi ISO 100, f/2.8, 1/30 detik.

Jika memotret di ruangan yang gelap atau mendung sekali, nilai EV turun ke sekitar  EV 5 (ISO 100, f/2.8, 1/4 detik).

Sesaat setelah matahari terbenam, atau disebut juga twilight, akan didapatkan EV 2 (ISO 100, f/2.8, 2 detik).

Cahaya bulan atau malam hari tanpa polusi cahaya dari gedung/pemukiman biasanya sekitar EV -3 sampai -6 (ISO 100, f/2.8, 1 menit s/d 10 menit).

Tentunya, kombinasi dari ISO, aperture dan shutter speed itu bersifat fleksibel, artinya banyak kombinasi yang bisa kita pilih untuk mendapatkan terang gelap yang sama. Contohnya setelan di dalam ruangan yang terang, EV 8 (ISO 100, f/2.8, 1/30 detik) bisa juga diubah menjadi ISO 800, f/5.6, 1/60 detik untuk mendapatkan hasil terang-gelap foto yang sama.

Dengan memahami EV, kita bisa lebih paham mengapa saat memotret di dalam ruangan atau di tempat yang gelap membutuhkan setting yang sangat berbeda dengan di luar ruangan. ISO 100 yang cukup untuk foto outdoor, tidak cukup tinggi untuk di dalam ruangan kecuali saat mengunakan lensa berbukaan besar atau shutter speed yang relatif lambat (beresiko blur jika tidak mengunakan tripod).

Nilai EV biasanya juga sering dihubungkan dengan kemampuan autofocus kamera. Sebagian besar sistem autofocus kamera DSLR bisa bekerja dengan baik di EV -1 sampai +19. Sedangkan ada beberapa kamera profesional yang mampu sampai EV -3 (ruangan yang sangat gelap atau di malam hari dengan penerangan bulan purnama).

——
Belajar exposure dan praktik supaya lebih paham lagi di kursus kilat dasar fotografi dan lighting

{ 13 comments }

Bahas foto: Black Dragon Pool yang ikonik

Foto-foto dibawah ini saya buat saat tour fotografi ke Yunnan, China Oktober 2014 yang lalu. Kolam Naga hitam ini terletak di dalam sebuah taman yang namanya sama. Tempatnya sangat indah dan ikonik. Banyak foto-foto lokasi ini yang dijadikan cover buku atau majalah travel.

black-dragon-pool-2

Keterangan setting foto: ISO 100, f/9, 1/125 detik, 70mm (full frame equivalent)

Rencana awal adalah mengunjungi taman ini di hari pertama setelah tiba di sore hari untuk mengejar warna-warni sunset, tapi karena ada sedikit masalah di airport, maka waktunya terlalu sempit untuk mengunjungi taman ini. Akhirnya dijadwal ulang di hari terakhir, pagi hari sebelum ke airport.

Datang di pagi hari mungkin lebih menguntungkan, karena di pagi hari, awan dan kabut biasanya tidak sebanyak sore hari, dan arah pencahayaan juga lebih ideal. Orang-orang di taman juga lebih sedikit, lebih banyak orang tua yang sedang berolahraga atau sekedar nongkrong-nongkrong.

Meskipun sudutnya pengambilan foto ideal ya itu-itu saja, tapi tidak mengurangi semangat saya dan rombongan memotret kolam ikonik ini seperti yang sering saya lihat di buku.

Setelah memotret dari berbagai sudut, ada salah satu peserta yang bertanya kepada saya bagaimana mengunakan ND filter. Sesuatu yang saya tidak pikirkan sebelumnya karena semua tripod sudah di pack ke koper karena setelah ini kita akan ke bandara. Tapi saya iseng-iseng coba dengan meletakkan kamera diatas pot bunga yang berlaku sebagai tripod. [click to continue…]

{ 1 comment }

Review Fujifilm XE-1

Beberapa hari lalu, saya memiliki kesempatan untuk meminjam dari kamera Fujifilm XE-1, yang dibuat sejak bulan September tahun 2012. Ini merupakan kesempatan pertama saya untuk mencoba kamera seri Fuji X. Tapi saya hanya mencobanya kurang lebih dua hari, sehingga review yang saya lakukan tidak menyeluruh, tapi saya akan berusaha menyampaikan kesan yang saya dapatkan.

Kamera ini tergolong jenis kamera mirrorless (bukan DSLR) tapi kualitas gambarnya setara dengan kamera DSLR karena sensor gambar yang digunakan sebesar yang digunakan kamera DSLR.

fujifilm-xe-1-muka

 

Karena tidak memiliki cermin dan jendela bidik optik, maka ukuran kamera dan lensa bisa lebih kecil dari kamera DSLR. Berat Fuji XE-1 dan lensa 18-55mm f/2.8-4 OIS-nya totalnya hanya 660 gram saja. Sebagai info, kamera DSLR pemula rata-rata 500 gram (body kamera saja), yang semi-pro biasanya 750-900 gram.

Yang beda dengan kamera digital pada umumnya adalah kendali aperture dan shutter speed di kamera ini. Sistemnya seperti sistem kamera film di jaman dahulu. Bukaan lensa diatur dengan memutar ring di lensa, shutter speed melalui roda yang berada diatas kamera. Tidak ada roda mode seperti kebanyakan kamera digital. Jika ingin mengunakan mode Auto, putar saja ring bukaan ke huruf A dan shutter speed juga ke huruf A. Jika ingin set mode aperture priority (A/Av) atau shutter priority (S/Tv), putar saja salah satu shutter/aperture ke A. Ada roda kompensasi yang terletak dibagian paling kanan kamera yang sangat membantu untuk mengendalikan terang gelap/exposure.

[click to continue…]

{ 8 comments }

Sekilas tentang fitur HDR di kamera digital

Pembaca tentu sudah tahu mengenai maksud dan tujuan dari foto HDR atau High Dynamic Range kan? Selain mengolah lewat editing di komputer, teknik foto HDR juga disediakan di berbagai kamera modern sebagai cara cepat untuk dapat foto HDR. Dengan memilih fitur ini, saat memotret kamera akan otomatis mengambil 2-3 foto sekaligus (tentunya berbeda eksposur/terang gelap) dan memprosesnya menjadi satu foto yang kontrasnya lebih seimbang.

Sony HDR

Saya ingin menampilkan contoh-contoh foto yang diambil dengan fitur HDR di kamera, supaya pembaca bisa menilai sendiri apakah fitur ini memang berguna atau hanya merupakan untuk tujuan marketing saja. Untuk mendapat foto HDR yang sukses, saya tentu perlu memotret di lokasi dan waktu yang tepat. Siang hari, dengan obyek yang umumnya berupa bangunan akan cocok untuk mencoba fitur HDR karena saya akan bertemu dengan area shadow dan highlight yang menantang. Tentu saja HDR tidak cocok dipakai untuk obyek yang bergerak, karena saat digabung akan terlihat bertumpuk/berbayang.

Foto apa adanya (tanpa HDR) :

Foto dengan in-camera HDR :

Mari kita evaluasi dua foto diatas. Foto pertama tanpa HDR terlihat kamera kesulitan menangkap perbedaan kontras yang terlalu lebar dalam obyek foto. Terlihat bagian di bawah atap menjadi gelap (shadow), sementara langit menjadi putih terang (blown highlight). Suasana interior di dalam ruangan juga gelap pekat sementara dinding menjadi belang-belang karena terkena sorot matahari menembus pepohonan. Di foto kedua dengan HDR 6 stop, kamera mengambil sekaligus 3 foto dan menggabungkan hasilnya (perlu waktu sekitar 5 detik untuk menunggu hasilnya jadi) dan tampak perbedaan nyata dibanding foto biasa tanpa HDR. Langit menjadi lebih biru, daerah dibawah bayangan menjadi lebih terlihat detailnya dan bagian dinding tidak terlalu belang. Bahkan suasana di dalam ruangan kini bisa terlihat lebih jelas.

[click to continue…]

{ 0 comments }

Serendipity

Sebelum berangkat dalam perjalanan jauh, tentunya sebagian besar orang akan merencanakan perjalanan dengan sebaik mungkin supaya perjalanan bisa lancar dan sesuai dengan apa yang sudah diplot.

Sayangnya rencana diatas kertas seringkali tidak sesuai dengan keadaan lapangan. Akan ada saja masalah yang terjadi yang tidak bisa kita duga sebelumnya.

Kadang hal ini menjadi hal yang bagus, tapi sering juga menjadi hal yang buruk. Contohnya saat pertama kali saya mengajak teman-teman ke pantai Sawarna, Banten, bus yang kita tumpangi tidak kuat menanjak sehingga nyaris merosot dan menabrak kendaraan lain. Untung peserta rombongan sigap turun dan bus dan mengganjal ban dengan batu. Saat ke Yuanyang, Yunnan juga kita tidak beruntung karena kabut menutupi daerah persawahan hampir sepanjang hari.

Saat ke Yunnan dengan rute Lijiang-Shangri-La dan Deqin, saya sudah was-was, jangan-jangan mimpi buruk di masa lalu muncul lagi. Di hari pertama, ada masalah bagasi peserta tertinggal di Singapura saat transit. Di hari kedua, saat naik gondola ke puncak gunung Jade Dragon kabut / awan sangat tebal sehingga jarak pandang sangat terbatas.

Pernah juga saya membaca cerita salah satu teman saya terjebak banjir di daerah Kashmir sampai harus dijemput pakai helicopter dan mengungsi di rumah penduduk setempat sebelum dijemput ke kedutaan Indonesia di New Delhi sebelum pulang ke tanah air. Memang hal itu sesuatu yang sangat mengerikan dan membahayakan jiwa, tapi peristiwa tersebut bisa menjadi kenangan dan cerita yang sangat menarik bagi teman-teman lain bahkan sampai anak cucu.

Untungnya, hari-hari berikutnya cuaca bersahabat dan langit biru sekali. Saat berangkat dari Shangri-La ke Deqin untuk melihat Meili Snow Mountain, kita beruntung karena saat mengunjungi Dongzulin monastery, ternyata ada festival keagamaan disana. Banyak sekali orang yang disana menonton. Peristiwa ini tidak berada dalam perencanaan dan merupakan suatu keberuntungan. Di acara ini kita dapat memotret acara tari-tarian dan penduduk lokal.

dongzulin monastery dance

Penonton tarian spiritual

Penonton tarian spiritual

DSC_9746

Kita tidak bisa lama-lama disana, karena ada rencana untuk memotret sunset di Meili Snow Mountain. Waktu sudah cukup mendesak, dan kita belum makan siang :(. Setelah jalan sekitar satu-dua jam, perjalanan terhalang lagi karena ada perbaikan jalan. Wah kacau nih. Saya jadi teringat dulu pernah ke Sawarna dan juga terhambat cukup lama sampai harus memutar karena ada perbaikan jalan. [click to continue…]

{ 0 comments }

Bawa apa untuk tour fotografi Yunnan Oktober 2014?

Biasanya saya menulis apa yang saya bawa sebelum ke tour fotografi terutama yang panjang dan keluar negeri. Contohnya seperti sebelum ke Yunnan Maret 2014 yang lalu dan ke Kamboja. Tapi kali ini saya menulis setelah saya pulang. Dengan demikian saya bisa cerita pengalaman saya dengan apa yang saya bawa, dan apakah akhirnya banyak digunakan atau tidak.

song-zan-lin

 

Nikon D600 : Kamera DSLR ini sudah saya pakai selama dua tahun, cicilan 24 bulan juga baru lunas. Memang kamera ini bukan yang terbaik, ada beberapa kelemahan yang mendasar, dan ada beberapa kamera yang sekarang lebih baik misalnya Nikon D810, D750, Sony A7R, tapi kamera ini ringkas dan ringan untuk traveling dan juga saya punya beberapa lensa Nikon berkualitas untuk dipasangkan.

Nikon 16-35mm f/4 VR : Lensa lebar yang sering terpasang di kamera, biasa saya gunakan untuk motret pemandangan yang luas. Keunggulannya bisa pasang filter (ukuran 77mm) dan ada VR / stabilizernya.

Sigma 70-200mm f/2.8 HSM Macro II : Lensa yang masih menjadi andalan karena kualitas bagus dan tajam. Hampir saya tinggalkan karena beratnya lebih dari 1.5 kg. Sebenarnya alternatif yang saya incar Nikon 70-200mm f/4 VR yang lebih ringan, tapi kalau beli yang baru itu yang ini mau dikemanain. Ada yang mau nampung? Please kontek saya untuk nawar harganya he he he.. Alhasil, saya beruntung bawa lensa ini karena penting untuk beberapa foto, terutama untuk objek yang jauh (gunung) dan portrait. Foto diatas mengunakan lensa ini.

Nikon AF 85mm f/1.4D : Rencananya lensa ini dibawa untuk foto portrait, dan saat jalan-jalan santai di kota tua. Lebih nyaman karena lebih pendek dan ringan daripada lensa 70-200mm f/2.8. Mungkin kedepannya gak dibawa lagi, karena tumpang tindih dengan lensa 70-200mm diatas. Saya gunakan saat di kota tua Lijiang dan Shuhe hari pertama dan kedua. Habis itu lebih banyak disimpan dikoper. [click to continue…]

{ 25 comments }