≡ Menu

Review Laowa 105 STF saat dipasang di Sony A6000

Laowa 105mm STF adalah lensa yang dirancang untuk kamera bersensor full frame. Laowa membuat berbagai versi mount untuk mengakomodir pengguna jenis kamera yang berbeda-beda, diantaranya Canon EOS EF, Nikon F, dan Sony E-mount.

Seminggu yang lalu, saya dipinjamin lensa Laowa 105mm f/2.8 STF oleh PT Sukses Digital Indonesia, distributor resmi Laowa di Indonesia. Yang dipinjamkan adalah lensa 105mm dengan mount Sony E-mount. Bentuk lensa jadi lebih panjang dari lensa untuk DSLR karena flange back Sony mirrorless tidak sama dengan DSLR. Kelihatannya seperti ada adaptor built-in ke lensanya.

Sony A6000 + Laowa 105mm STF versi Sony E-mount.

Sebenarnya lensa ini orisinilnya dirancang untuk kamera DSLR. Jika kita memiliki kamera mirrorless, bisa juga mengunakan lensa Laowa ini dengan adaptor. Tidak ada hubungan elektronik, sehingga tidak ada data bukaan/aperture yang digunakan saat memotret.

Desain STF ini cukup unik, tapi bukan yang pertama, karena dulu ada lensa Minolta/Sony 105 STF. Fuji juga punya 56mm f/1.2 APD (tapi bedanya, yang Fuji tidak memiliki dua aperture tapi bisa autofokus).

[click to continue…]

{ 4 comments }

Nikon D3400 Kamera DSLR untuk pemula

Mendekati akhir tahun, Nikon mempersiapkan kamera DSLR Nikon baru untuk pemula yaitu Nikon D3400 dan beberapa lensa dengan sistem autofokus baru (AF-P). Nikon D3400 ini tidak terlalu berbeda dari Nikon D3300 dari berbagai segi. Kualitas gambarnya sama, sistem autofokus 11 titik, video 1080/60p, kecepatan foto berturut-turut 5 foto per detik.

nikon-d3400-01

Yang baru adalah teknologi Snapbridge. Teknologi ini menghubungkan kamera dan ponsel melalui Bluetooth low energy (BLE), lebih hemat tenaga daripada sistem Wifi sehingga antara kamera dan ponsel bisa terhubung terus menerus tanpa kuatir baterai cepat habis.

Efisiensi daya juga meningkat dari 700 foto per baterai di kamera Nikon D3300 menjadi 1200 foto. Cukup untuk jalan-jalan selama beberapa hari. Nikon juga menyinggung Guide Modenya diperbaharui supaya lebih mempermudah pemula untuk belajar fotografi.

Sayangnya ada juga fitur yang dikurangi, yaitu sistem anti-dust pembersih sensor, dan port external mic yang biasanya digunakan oleh videografer untuk memonitor audio.

nikon-d3400-02

Pendapat saya tentang Nikon D3400

Dengan diumumkannya Nikon D3400, maka jelas Nikon masih terus mengunakan strategi yang cukup konservatif yaitu mengunakan komponen-komponen kamera lama dan menambahkan teknologi baru. Teknologi Snapbridge tentu berguna dan relevan untuk era sekarang yang suka sharing foto dengan cepat ke media sosial melalui ponsel.

Berbeda dengan pembuat kamera lain yang saat ini fokus ke pengembangan kamera mirrorless, Nikon tetap membuat kamera DSLR. Belum ada tanda-tanda Nikon akan serius membuat kamera mirrorless untuk menggantikan sistem kamera DSLRnya. Selama ini, Nikon memiliki sistem kamera mirrorless, Nikon 1, tapi banyak kritik bahwa sensornya terlalu kecil sehingga kualitasnya tidak terlalu berbeda dengan kamera compact.

Pengembangan lensa kit juga saya nilai baik karena AF-P memungkinkan autofokus lensa lebih mulus dan tidak berisik untuk keperluan foto dan juga video. Lensa Nikon AF-P 70-300mm f/4.5-6.3 terlihat cukup ringkas dengan harga terjangkau. Sepertinya akan sangat membantu untuk pemotretan subjek jauh seperti satwa liar dan kegiatan olahraga.

Lensa baru-lensa baru AF-P tersedia dalam pilihan VR/non-VR (anti getar). Tujuannya mungkin untuk memberi pilihan kepada calon pembeli. Yang memiliki VR $50 lebih mahal.

Lensa baru-lensa baru AF-P tersedia dalam pilihan VR/non-VR (anti getar). Tujuannya mungkin untuk memberi pilihan kepada calon pembeli. Yang memiliki VR $50 lebih mahal.

Harga Nikon D3400 bervariasi tergantung paket lensanya. Direncanakan tersedia bulan September 2016, Nikon D3400 + AF-P 18-55mm f/3.5-5.6G akan dijual dengan harga $649, dan dengan telefoto 70-300mm f/4.5-6.3G non VR akan dijual dengan harga $999. Lensa 70-300mm ini cukup ringkas, yaitu hanya 400 gram. Untuk lensa telefoto yang jangkauannya sampai 300mm (ekuivalen 450mm) lensa ini tergolong ringan.

Bagi yang tidak membutuhkan teknologi baru Snapbridge, tidak ada salahnya untuk melirik Nikon D3300, kamera DSLR yang dijual sedikit dibawah Rp 5 juta, kualitas gambar dan fitur-fiturnya mirip dengan D3400 yang baru.

Kamera ini ditujukan kepada fotografer pemula atau yang baru ingin belajar fotografi. Saran saya pilihlah paket lensa yang memiliki fitur anti getar, VR, terutama yang 70-300mm-nya. Makin panjang lensanya, VR makin penting.

{ 24 comments }

Mencoba Canon G5X, kamera premium compact yang lengkap

Saya dulu termasuk suka dengan kamera saku atau pocket. Tapi di jaman sekarang keberadaannya sudah tersaingi oleh kamera di ponsel. Menurut saya celah untuk kamera saku semestinya tetap ada karena eksistensinya masih dibutuhkan. Bayangkan sebuah kamera yang ringkas, bisa diatur settingnya, bisa zoom optik, ada jendela bidik dan hasil fotonya masih termasuk baik, kenapa tidak? Toh tidak semua momen harus diambil dengan kamera serius seperti DSLR atau mirrorless. Misalnya untuk kebutuhan memotret daily life, travel, family dan video recording. Nah disini kamera saku perlu menjadi lebih premium (bukan murahan), walau harga cenderung mahal tapi fungsionalitasnya dapat karena ukurannya yang compact.

Kali ini saya berkesempatan menjajal sebuah kamera compact yang walau sudah tidak bisa dimasukkan lagi ke saku, tapi masih cukup kecil kok. Yaitu Canon PowerShot G5X, sebuah produk premium dengan sensor 1 inci 20 MP, lensa zoom 4,2x (24-100mm) f/1.8-2.8 IS, punya jendela bidik (tipe G3X, G7X dan G9X tidak ada jendela bidik), dan tentunya dilengkapi dengan sejumlah hal menarik yang membuat saya penasaran untuk menjajalnya. Tapi sebelum lebih jauh perlu diingat lagi bahwa saya tidak membuat ekspektasi yang terlalu tinggi saat memakai kamera ini, karena after all dia tetaplah masuk ke kategori kamera saku yang tidak bisa disejajarkan baik kinerja maupun ketangguhannya dengan DSLR/mirrorless.

Inilah tampak fisik Canon G5X dari berbagai sisi :

Tampak depan dengan lensa di posisi wide

Tampak depan dengan lensa di posisi wide, dengan grip menonjol, dan ada roda untuk mengatur setting di atas grip dan satu lagi melingkari lensa. Diatas logo Canon ada built-in flash dan juga hot shoe. Sepintas bentuk fisiknya mirip mini DSLR.

Tampak belakang dengan layar dilipat ke dalam

Dari sisi belakang tampak aneka tombol dan roda  juga layar lipat. Keuntungan layar lipat putar adalah bisa dilipat kedalam untuk melindungi layar saat disimpan di tas.

Tampak atas dengan roda kompensasi eksposur di sebelah kanan

Tampak atas dengan roda kompensasi eksposur di sebelah kanan atas khas kamera semi-pro.

Layar LCD yang bisa dilipat putar

Inilah Canon G5X dalam keadaan layar dilipat.

Dari gambar-gambar diatas tampak Canon G5X tidak bisa dipandang sebelah mata. Grip, hotshoe, layar lipat, ada 3 roda pengaturan setting, kompensasi eksposur, mode yang lengkap dan juga WiFi. Didalamnya terdapat juga sejumlah hal menarik seperti lensa bukaan besar, 3 stop ND built in, indikator level 2 axis, RAW, dan built-in flash. Bila di Canon DSLR/mirrorless dijumpai ada Picture Style, maka disini agak mirip yaitu ada my Color modes dan Creative Filters yang membuat hasil jadi lebih sesuai selera kita, dan ada pengaturan Dynamic Range dan Shadow Correction bagi yang memahami kegunaannya.

Ada beberapa hal yang saya sukai khususnya dari Canon G5X :

  • fitur dan kinerja cukup berimbang : auto fokus, drive kontinu, auto ISO, jendela bidik, stabilizer oke
  • layar sentuh yang sangat membantu pemakaian
  • banyak cara untuk kustomisasi menu, tombol dan roda
  • Scene mode yang banyak membantu : HDR, Night Scene, Star dll
  • ergonomi yang oke walaupun kamera kecil (ada grip, tombol masih enak diakses)
  • bisa pasang flash manual
  • bisa buat Video Blog (Vlog) lagi tren tuh..

[click to continue…]

{ 4 comments }
lensa-film-leica-09

Lumix GX1 + Adaptor Leica M-Mount + lensa Leitz Wetzlar 50mm f/2.0 Summicron

Dunia fotografi di era digital sekarang ini sudah maju pesat sekali dengan dukungan teknologi komputerisasi yang makin canggih, hampir setiap tahun minimal satu atau dua varian dari satu merek kamera diluncurkan, tak ubahnya seperti perangkat handphone pintar yang setiap tahun pasti keluar seri terbaru nya dan selalu ditunggu oleh konsumen setia mereka.

Beda dengan era fotografi film 35mm, pada era film satu varian kamera bisa bertahun-tahun baru muncul seri terbarunya tetapi untuk lensa-lensa-nya terutama untuk third party lenses nya justru yang lebih agresif untuk memunculkan produksi lensa-lens barunya terutama jenis lensa zoom.

Di era fotografi menggunakan film, saya menggunakan dua jenis kamera, kamera SLR (Canon F1 & Canon New F1) dan kamera RF (Rollei 35 & Leica M4) saya sebetulnya suka menggunakan kamera SLR hanya kendala yang saya rasakan adalah ukuran kamera SLR itu relatif lebih besar, berat (kamera dan lensanya), dan terlalu menarik perhatian orang sekali dibandingkan dengan menggunakan kamera RF, dimana selain ukuran kamera-nya lebih kecil, ukuran lensa-lensa film 35mm Leica M bisa separuhnya.

Saya juga sempat menggunakan kamera DSLR Canon EOS 400D beberapa waktu, tetapi lensa-lensa film canon FD lama saya tidak bisa digunakan terkendala adaptor dan lain sebagainya.

Kamera digital kecil non SLR dengan lensa yang dapat dilepas tukar adalah fenomena yang relatif baru di dunia fotografi digital akhir-akhir ini, tetapi bagi mereka yang mengalami era film 35mm, faktor bentuk itu bukanlah baru. Bahkan, beberapa optik berkualitas tertinggi di dunia yang di gunakan dan sangat didambakan oleh fotografer terbaik selama beberapa dekade, telah dirancang untuk sistem film 35mm rangefinder, terutama Leica M-mount.

Tentu saja saya yang pada dasar-nya menyenangi kamera kecil kompak (rangefinder)  yang lensanya dapat dilepas tukar sangat senang dengan makin maraknya jenis kamera mirrorles bertipe Range Finder dari beberapa merek dari yang ber sensor Bingkai Penuh, APS-C maupun MFT. Dengan berbagai pertimbangan dan alasan saya akhirnya memutuskan memilih menggunakan kamera DSLM (Digital Single Lens Mirrorless) Panasonic Lumix dari seri GX1 dan kemudian GX7 berformat Micro Four Third, yang artinya ukuran sensor nya adalah dua kali crop sensor bingkai Penuh dan artinya pula jarak titik fokusnya pun menjadi dua kalinya.

Sebagai penggemar fotografi yang menggunakan kamera digital compacts interchangeable-lens tentu ada keinginan menggunakan lensa film 35mm Leica M lama saya pada kamera DSLM, dan kebetulan saat ini sudah tersedia adaptor untuk itu di pasaran. Tapi apakah itu layak?

[click to continue…]

{ 12 comments }

Bahas foto : Kyoto Station Twilight

kyoto-station-01

Foto diatas saya buat di Kyoto, Jepang awal tahun ini sesaat setelah matahari tenggelam. Mendung dan hujan sepanjang hari dan baru reda setelah malam hari. Meski demikian, saat blue hour/twilight saya bisa mendapatkan langit yang cukup biru, kontras dengan warna merah Kyoto Tower yang berdiri didepan Kyoto Station.

Secara komposisi, saya mencoba mengunakan kurva untuk framing langit dan Kyoto tower. Lensa yang saya gunakan Olympus 12mm (ekuivalen 24mm) ini lebar, tapi sepertinya saya butuh sedikit lebar lagi. Lensa 10.5 mm (ekuivalen 21mm) sepertinya ideal. Sayangnya pilihannya hanya Voigtlander 10.5mm f/0.95 untuk micro four thirds. Sayangnya harganya diatas $1000 dan beratnya cukup lumayan di 580 gram. Mungkin lebih baik membawa Olympus 7-14mm f/2.8 yang lebih lebar di lain waktu.

Data teknis untuk foto ini adalah : ISO 200, f/2.8, 1/13 detik, 12mm (ekuivalen 24mm di FF). Untuk subjek yang relatif diam, micro four thirds piawai di kondisi low light, karena saya bisa mengunakan bukaan besar dengan ruang tajam yang cukup luas. 5 axis stabilization di kamera Olympus OMD EM5 II akan mencegah getaran saya masuk ke dalam kamera saat memotret dengan shutter speed yang cukup lambat.

Peran editing penting dalam memulihkan kondisi bagian bayangan yang gelap seperti yang bisa dilihat dibawah ini:

kyoto-station-lr

Tanggal 19-26 November 2016 ini, saya mengadakan tour foto ke Kyoto-Osaka-Nara. Kami pasti berangkat dan masih ada beberapa tempat bagi yang ingin ikut serta. Infonya bisa dibaca di halaman ini.

Bagi yang ingin ikutan workshop editing dengan Lightroom boleh lihat infonya di halaman ini.

{ 0 comments }

Kelas Online Infofotografi terus mendapat peserta baru setiap bulannya. Walaupun tidak semua peserta yang telah mendaftar sanggup menyelesaikan 10 modul pelajaran dalam waktu 6 bulan yang disediakan, tapi juga selalu ada saja peserta yang sukses sampai selesai. Di awal pernah diulas mengenai beberapa profil peserta yang lulus seperti bu Endah dan mas Arif, lalu ada Sodikin dan Cipto Subiakto, kali ini kita akan tinjau profil peserta lain yang juga sudah berhasil menyelesaikan semua modul yang diterima dengan baik.

Yang pertama akan kita bahas adalah saudara Eris Risnoto, berasal dari Boyolali namun tengah berkarir di negeri Korea Selatan, dengan gear Sony A7 dan A6000 lensa 28-70mm, 50mm dan 70-200mm ini sudah lulus awal tahun 2016 ini.

kursus-fotografi-eri-risnoto

Foto sunrise saat musim dingin di Korea tentunya sangat menantang.  – Eris Risnoto

Foto : Eris Risnoto

Foto diambil dengan perjuangan melawan hawa dingin di Korea saat musim dingin. – Eris Risnoto

Selamat pagi koh Enche, mas Erwin,
Terimakasih atas semua ilmunya selama 6 bulan ini, bahagia rasanya bisa menjadi bagian dari infofotografi, serasa semakin dekat walaupun belum pernah bertatap muka.
Semoga Tuhan mengizinkan saya untuk bisa bertemu secara langsung dengan keluarga infofotografi.

Yang kedua adalah bapak Agus Syafiudin dari kota Tanjungpandan. Di tengah kesibukannya sebagai karyawan swasta, bermodal gear Canon 70D beserta lensa Canon 16-35mm, Canon 100mm, Canon 70-300mm dan Samyang 8mm pak Agus menjelajahi pulau Belitung untuk mempraktekkan semua tugas yang ada di setiap modul online. Akhirnya 6 bulan periode yang ditentukan terselesaikan dan baru saja pak Agus ini dinyatakan lulus, selamat ya..

mod8_tugas6

Foto : Agus S. Keindahan pantai Belitung dibingkai pepohonan nan indah. – Agus Syafiudin

mod10-tugas7a

Foto : Agus S. Merekam suasana sunset di daerah pemukiman nelayan di Belitung. – Agus Syafiudin

Senang sekali saya dapat banyak ilmu selama kursus ini, dan sangat bermanfaat untuk semakin menaikkan skill saya, kalau berkunjung ke Belitung info ya Pak, biar saya temenin Pak. Sekali lagi Terimakasih telah berbagi ilmu dengan saya.

[click to continue…]

{ 9 comments }

Pada tanggal 6 Agustus 2016 lalu, PT Sukses Digital Indonesia selaku distributor resmi lensa Laowa menggelar acara Press Conference & Mini Gathering Laowa Lens yang bertempat di Fairmont Hotel, Jakarta. Dalam acara ini, Mr. Kevin selaku sales director dari Hongkong memperkenalkan 3 lensa Laowa yang sudah beredar di pasaran kepada teman-teman fotografer. Ketiga lensa manual fokus tersebut adalah 15mm f/4 Wide Angle Macro Lens with Shift, 60mm f/2.8 2x Ultra Macro dan 105mm f/2 Smooth Trans Focus.

P1000082

Andiyan Lutfi (paling kiri), Tahir – Dirut PT SDI (kedua dari kiri), Kevin – Sales Director Laowa, dan Denny – Komisaris PT SDI (paling kanan)

Dalam kesempatan ini, Andiyan Lutfi, seorang fotografer makro fotografi yang sudah mencetak banyak prestasi baik di tingkat nasional maupun internasional, juga memberikan sharing singkatnya mengenai lensa produksi China ini. Beliau sangat antusias dan senang dengan keunikan lensa ini.

Lensa 15mm tampaknya menjadi primadona di acara ini, dimana dalam sesi hands-on, lensa ini tidak pernah menganggur dan selalu berpindah tangan untuk dicoba. Lensa ini unik karena merupakan lensa lebar makro pertama di dunia. Walaupun termasuk lensa lebar, lensa ini masih bisa dipasangkan filter 77mm sehingga cocok juga untuk foto pemandangan/landscape. Selain kedua fitur tersebut, lensa ini juga ditambahkan fitur shift untuk keperluan foto arsitektur.

laowa15mm

Lensa Laowa 15mm

P1000084

Dalam uji coba lensa 15mm, salah seorang fotografer berusaha memotret dari jarak dekat

Lensa 60mm juga tidak kalah unik. Diusung sebagai lensa macro pertama yang memiliki perbesaran 2x dengan fokus infinity, fotografer tidak perlu lagi menggunakan aksesoris tambahan untuk mendapatkan foto makro.

P1000094

Bagi penggemar foto portrait, Laowa menyediakan lensa 105mm yang memiliki fitur bokeh yang halus.

P1000092

Walaupun dirilis dengan harga yang terjangkau yaitu yang 15mm seharga Rp 6.699.000, 60mm dengan harga Rp 5.399.000, dan 105mm dengan harga Rp 9.499.000, namun lensa ini masih terkesan kokoh dan mantap karena terbuat dari bahan logam. [click to continue…]

{ 5 comments }

Mentoring Cityscape Roof Top : 25 Agustus 2016

Infofotografi dalam mengadakan mentoring fotografi sudah memilih berbagai lokasi yang dianggap cocok untuk belajar fotografi seperti foto sunrise/sunset, satwa, slow speed dsb. Pada sesi mentoring kali ini kami mengajak anda untuk belajar memotret cityscape Jakarta di kala senja dengan teknik slow speed. Di sesi mentoring kali ini peserta selain akan dibimbing untuk memotret dengan teknik slow speed, sekaligus juga mendapat akses untuk memotret dari atas gedung sehingga proses belajar menjadi lebih efektif dan terarah. Sebagai lokasi sesi pertama rooftop ini dipilihkan gedung UOB di Thamrin, dengan view gedung-gedung di sekitar bundaran HI yang menarik untuk difoto.

DSC0133aacrop900

Photo credit : Rohani Tanasal

Acara ini dijadwalkan pada :

  • Hari : Kamis, 25 Agustus 2016
  • Waktu : 16.30 WIB-selesai
  • Meeting point : diinfokan kemudian

Mentor :

  • Enche Tjin
  • Erwin Mulyadi

Biaya untuk mengikuti mentoring ini adalah Rp. 450.000,- Peserta dibatasi maksimum 8 orang, yang tercatat adalah yang sudah transfer ke rekening Enche Tjin di BCA 4081218557 atau Mandiri 1680000667780 dan mengabari via SMS/WA 0858-1318-3069. Sangat disarankan untuk membawa tripod yang kokoh dan stabil, mengingat di atas nanti terpaan angin cukup kencang.

DSC6815aA900

Diperlukan lensa ultra lebar (16mm di full frame, 10mm di APS-C) untuk mendapat foto gedung yang utuh seperti ini. Photo credit : Rohani Tanasal

 

{ 2 comments }

Cahaya Alami vs Cahaya Buatan

Seminggu yang lalu, saya dan Enche berdebat soal pembelian 2 unit lampu Continuous Light. Biasalah, proposal perlu tanda tangan menteri keuangan keluarga :D. Padahal, dia bisa saja langsung membeli tanpa perlu bersusah payah menjelaskan dan meminta persetujuan kalau memang produk tersebut bagus. Namun ternyata, dia ingin saya juga punya pengetahuan soal lighting.

Parahnya, pertama-tama yang dikabari adalah harganya. OMG… satu continuous light harganya Rp 5.75 juta. Salah satu alasan utama untuk tidak menandatangani proposal. 🙂 Kedua, fungsinya tidak lain hanya untuk memberi cahaya tambahan ke objek yang difoto.

Hmmm.. kalau cahaya tambahan, bisa donk dengan lampu meja. Kebetulan kita punya 1 lampu meja. Alasan berikutnya, lampu meja kita itu memancarkan cahaya kuning.

Hmmm.. kalau begitu, ganti saja bohlamnya dengan yang putih. Beres bukan? Lagipula, kita juga memiliki 1 lampu LED Amaran untuk tambahan cahaya.

Lalu, dilanjutkan lagi alasan berikutnya. Dengan lampu continuous ini, kita bisa mengganti modifiernya dengan beauty dish, softbox, octabox, dan yang lainnya untuk membentuk cahaya. Hmmm… oke… saya mengalah. Lalu, meluncurlah dua unit lampu Continuous Light Visico ke kantor Infofotografi.

Awalnya, saya tidak mengerti sama sekali. Soalnya biasanya saya tidak suka ribet dan foto dengan cahaya seadanya. Toh dengan adanya tripod, bisa pakai shutter speed yang lambat saja, foto otomatis akan terang juga meskipun cahaya ruangan sedikit.

[click to continue…]

{ 3 comments }

Mencari format kamera yang ideal

Dalam lima tahun terakhir, perkembangan kamera digital berkembang cukup pesat dan variasi format-nya juga. Maksud dari format kamera digital adalah ukuran sensor digital (atau jaman dulu ukuran filmnya). Di era digital, ukuran sensor sangat bervariasi, ada jenis 1 inci, four thirds (4:3), APS-C, Full frame (setara film 35mm), dan medium format.

Sedangkan istilah sistem kamera yaitu mengacu pada sistem kamera yang bisa tukar lensa. Mencari sistem kamera terbaik dalam hal keseimbangan berat dan ukuran tidak mudah. Pada ujung-ujungnya harus memilih antara kualitas gambar terbaik atau ukuran yang ringkas untuk kenyamanan saat jalan-jalan.

Setelah beberapa waktu memikirkan hal ini, menurut saya, ada dua sistem kamera yang saya pikir paling ideal untuk dipilih yaitu sistem kamera berformat full frame dan micro four thirds.

sony-olympus-01

Kiri: kamera mirrorless full frame A7R mk II dan lensa 16-35mm f/4 VR untuk menghasilkan foto dengan resolusi tinggi (42 MP), dan kanan: Olympus OMD EM10 II (16 MP) dan lensa wide 9-18mm (ekuivalen 18-36mm di sensor full frame), kalau ingin kamera yang seringkas mungkin dengan hasil yang baik.

Format kamera full frame

Format full frame memberikan kualitas gambar yang baik dalam hal resolusi tinggi sehingga dapat menangkap detail lebih banyak. Sampai saat ini sudah ada yang mencapai 50MP (Canon 5DS), dan ada yang resolusinya tidak begitu tinggi seperti Nikon D5 yaitu 20.8MP, tapi ISO-nya mencapai ISO 3.2 juta. Hal ini disebabkan karena permukaan sensor full frame yang ukurannya relatif besar.

Lensa-lensa full frame juga sangat lengkap, dari era film puluhan tahun yang lalu sampai saat ini bisa dipakai baik langsung pasang maupun pakai adaptor. Dalam sepuluh tahun belakangan ini, saya perhatikan kebanyakan produsen lebih bersemangat dalam membuat lensa full frame daripada untuk kamera bersensor lebih kecil. Contohnya lensa seri L Canon semuanya adalah lensa full frame. Sony juga awal tahun 2016 ini mengumumkan tiga lensa full frame profesional baru (FE/GM) tapi tidak mengumumkan lensa baru untuk sensor APS-C (NEX).

[click to continue…]

{ 14 comments }