Kelas bulan Juni 2013

Kadang-kadang, ada yang bertanya kepada saya, bagaimana cara melihat dan mendapatkan komposisi/ framing yang menarik? Pertanyaan ini cukup sulit jadi saya bilang ke penanya untuk bersabar karena jawabannya butuh satu artikel hehe. Langkah pertama adalah perlambat pergerakan kita. Berhenti, lalu coba pelan-pelan amati kesekeliling. Adakah ada subjek yang menarik untuk dipotret? Pikirkan dan analisalah bagaimana membingkai dan menempatkan subjek tersebut.

Berdasarkan apa yang saya amati selama ini, setiap fotografer berbeda-beda minatnya. Ada yang tertarik dengan perahu rusak di danau, tapi menurut orang lain, mungkin hal tersebut tidak menarik dan tidak bermakna apa-apa. Itulah asyiknya hunting & tur foto. Sesuatu yang menarik bagi sebagian orang, belum tentu berarti untuk orang lain.

Hal yang menarik bagi setiap orang semuanya tergantung pengalaman hidup dan wawasan masing-masing. Menurut saya, kalau tidak menemukan sesuatu yang menarik disebuah lokasi, jangan kuatir. Teruslah mencari di daerah sekitarnya. Saat tur fotografi bersama teman-teman lain, saya menemukan bahwa hasil foto setiap peserta berbeda-beda. Dari sana, saya dapat belajar dari teman-teman atas peluang foto yang mungkin saya lewatkan.

Saat tidak memotret, kita dapat memperluas wawasan kita tentang fotografi. Hal yang paling mudah dan murah adalah mempelajari foto-foto karya fotografer yang lebih berpengalaman. Kita juga dapat memperluas wawasan di bidang seni visual yang lain seperti lukisan, desain grafis, film, seni rupa atau seni non-visual seperti musik. Seringkali saya mendapatkan inspirasi darinya.

Aturan aturan komposisi populer seperfi aturan sepertiga, bingkai (framing), leading line dan lain lain, boleh dipelajari tapi supaya fotonya efektif, kita masih harus mengamati dan mempelajari subjek yang difoto. Dengan mempelajari subjek, baru kita dapat memilih aturan komposisi yang paling cocok. Jika memang tidak ada aturan yg cocok, jangan segan-segan untuk melanggar dan membuat aturan baru versi kita sendiri.

Akhirnya, jangan kuatir jika komposisi foto masih kurang maksimal, tapi teruslah berlatih dan mengembangkan wawasan. Dengan dedikasi terhadap belajar dan praktik fotografi secara kontinyu, kemajuan Anda saya kira tidak akan tertahankan lagi.

Sepeda tua yang bersandar di tebing ini mungkin tidak menarik bagi Anda, tapi menarik bagi saya. Tak apa-apa, potretlah apa yang menurutmu menarik. ISO 800, f/8, 1/250 detik, 78mm

{ 5 comments }

Olympus EPL-5 Review

by Enche on Mei 20, 2013

Olympus EPL-5 adalah salah satu kamera yang termasuk dalam sistem kamera micro four thirds yang ditujukan untuk fotografer amatir maupun profesional yang menginginkan kamera yang ringan, sederhana, berkinerja tinggi dengan kualitas foto yang tidak dapat diremehkan.

Meninjau bodi kamera, Olympus PEN E-PL5 memiliki body yang cukup kecil dan ringan dibandingkan dengan kamera mirrorless lain seperti Sony NEX 6 dan Samsung NX. Seperti Olympus PEN lainnya, grip (pegangan) berukuran kecil dan dapat buka dan diganti. Memegang Olympus EPL5 seperti memegang kamera digital compact yang agak besar. Buat tangan saya, grip ini sedikit kecil. Saya lebih menyukai grip yang lebih besar seperti pada Sony NEX 6. Meski demikian, cukup nyaman untuk memegangnya untuk memotret.

Ilustrasi Olympus EPL-5 dengan LCD kamera yang dapat dilipat ke atas

Kualitas casing body kamera terasa cukup kokoh dan tidak kalah dari kamera DSLR tingkat dasar/pemula. Di body kamera terdapat cukup banyak tombol, dan dapat di program menjadi jalan pintas fungsi-fungsi kamera lainnya jika dikehendaki. Meskipun kamera ini ditujukan kepada pemula, tapi tombol-tombol dan navigasinya terasa cukup banyak.

Dibagian atas kamera, hot shoe-nya memiliki port AP2 untuk memasang aksesoris-aksesoris lain seperti lampu kilat makro, adaptor mic stereo, penpal (untuk koneksi bluetooth), flash, jendela bidik VF2. Uniknya ada LCD lipat yang bisa diputar ke atas sampai 180 derajat, ideal buat foto diri (self-portrait).

Menu kamera tersusun dengan cukup rapi berdasarkan kategori: Shooting menu (fungsi-fungsi sebelum memotret), playback (peninjauan foto), custom menu (fungsi khusus yang terbagi ke dalam berbagai kategori lagi, seperti untuk autofocus, pemograman tombol dan lain-lain), dan setup kamera. Sekilas, mirip menu Nikon, tapi lebih rapi karena susunannya per-halaman, bukan menggulung kebawah.

Kinerja kamera dan autofocus
Kinerja/kecepatan autofokus kamera sangat cepat, bahkan lebih cepat dari kebanyakan kamera DSLR pemula. Autofocus bisa diaktifkan dengan menekan setengah tombol shutter (tombol jepret) atau langsung menekan di layar LCD kamera seperti layaknya memotret dengan kamera ponsel. Kinerja menghidupkan kamera dan menutup kamera juga cepat, dibawah satu detik. Hampir setara dengan kamera DSLR tingkat dasar.

Kualitas foto
Kebanyakan orang-orang mungkin meremehkan sistem micro four thirds system karena memakai sensor gambar yang lebih kecil daripada ukuran sensor yang dipakai di sebagian besar kamera DSLR. Tapi kualitas hasil foto yang saya amati dari Olympus E-PL5 sudah sangat baik, terutama saat memakai ISO rendah. ISO 1600 masih oke banget (kecuali di zoom 100%) dan kemudian ISO 6400 masih layak untuk cetak ukuran kecil atau untuk kebutuhan online. Warna dan ketajaman foto tidak terlalu berkurang sampai ISO tinggi. ISO masih bisa ditingkatkan ke 25600 Jika dibutuhkan misalnya saat kondisi cahaya yang sangat lemah (lilin, malam hari, lampu di dalam ruangan).

Olympus EPL5 memiliki sensor beresolusi 16 MP setara dengan kamera Olympus yang lebih tinggi kelasnya, seperti Olympus OMD EM5 yang harganya dua kali lipat. Inilah asyiknya kamera Olympus EPL5 ini, bahwa ada beberapa fitur yang diturunkan dari kamera yang lebih canggih.

ISO 200, f/8, 1/320 detik, 22mm (44mm di FF). EPL-5 mampu menghasilkan foto yang sangat tajam dan jernih di ISO terendah (200), meskipun hanya mengunakan lensa kit.

Hasil krop/perbesaran dari foto diatas

Lensa-lensa
Sensor yang lebih kecil (four thirds sensor) memungkinkan lensa yang berukuran lebih kecil dan ringan. Lensa-lensa Olympus jauh lebih kecil dan pendek daripada lensa-lensa pesaingnya seperti lensa Sony NEX, Samsung NX, apalagi lensa-lensa kamera DSLR.

Lensa kit zoom 14-42mm f/3.5-5.6 berukuran sangat pendek dan kecil saat tidak digunakan, dan berubah menjadi agak panjang saat kita mengaktifkannya untuk memotret. Kualitas foto yang dihasilkan lensa ini tajam dan dapat menangkap detail dengan baik untuk ukuran lensa kit standar. Saya juga berkesempatan mencoba lensa Olympus 45mm f/1.8 MSC. Lensa fix berbukaan besar ini juga tidak kalah kecil dan berbahan metal. Kualitas foto yang dihasilkan tajam dan latar belakang mulus dan blur terutama saat mengunakan bukaan f/1.8.

Art filter
Merupakan proses olah digital dalam kamera yang cukup menarik dan menyenangkan untuk digunakan. Beberapa filter yang tersedia antara lain Pop Art, Soft Focus, Pale & light color, light tone, grainy film, pin hole, diorama, cross process, gentle sepia, dramatic tone, key line, dan watercolor. Art filter ini sudah cukup lama tersedia, yaitu sejak sebelum sistem mirrorless ada. Tapi sayangnya, art filter tidak bisa dibalikkan ke foto yang orisinil. Sehingga apa yang dihasilkan oleh art filter merupakan hasil akhir sebuah foto. Di kamera lain, seperti Kamera DSLR Nikon, filter dapat diaplikasikan setelah memotret dan kamera akan membuat file baru untuk hasil olahan filternya.

Detail dan ketajaman masih baik di ISO 6400

Krop dari foto diatas

Sistem lensa
Selain ukuran kamera dan lensa yang berukuran kecil, koleksi lensa yang lebih lengkap daripada sistem kamera mirrorless yang lain. Hal ini disebabkan karena sistem micro four thirds adalah sebuah konsorsium beberapa produsen kamera dan lensa seperti Panasonic, Sigma, Tamron, Leica, dll. Dukungan produsen kamera dan lensa lain ini memperkuat dan melengkapi lensa-lensa dari yang berkualitas standar, menengah dan sangat baik/profesional.

Rekomendasi
Kamera Olympus E-PL5 merupakan kamera yang menyenangkan untuk digunakan: ringan, berkinerja cepat dan fleksibel, hasil foto dengan lensa standard maupun 45 mm f/1.8 sangat baik. Meski dirancang untuk pemula, tapi banyak juga fitur yang cukup canggih yang diberikan, misalnya 16 MP sensor setara dengan kamera yang lebih tinggi tingkatannya (EP5, OMD EM5), fitur bracketing, custom white balance yang memungkinkan pengaturan dengan temperatur Kelvin, kecepatan fokus yang sangat baik, dan daya tahan baterai yang cukup baik. Secara keseluruhan, kamera ini sangat saya rekomendasikan.

Plus-minus

+ Ukuran relatif kecil dan ringan
+ Kinerja autofokus sangat cepat
+ Banyak pilihan BKT (termasuk HDR bracketing, white balance sampai art filter)
+ Kualitas foto sangat baik sampai ISO 1600
+ Koleksi lensa cukup lengkap
+ Daya tahan baterai 400-600 foto
+ Custom White Balance memungkinkan pengaturan dengan suhu Kelvin
+ Image stabilizer terpasang di dalam kamera
- Mekanisme LCD lipat agak rumit untuk diputar dan diarahkan
- Ukuran tombol dan pegangan relatif kecil
- Layar sentuh LCD sensitif, sedikit sentuhan saja, kamera akan menjepret
- Auto ISO maksimumnya hanya mencapai ISO 1600
- Flash terpisah dari kamera

Specifikasi penting Olympus EPL-5

  • 16 MP four thirds sensor (2X crop dibandingkan sensor full frame / 35mm)
  • Layar LCD sentuh 3 inci, 460 ribu titik
  • Foto berturut-turut 8 foto per detik
  • Rentang ISO 200-25600
  • Image Stabilizer / peredam getar terpasang dalam kamera
  • Rentang shutter speed 1/4000 – 60 detik
  • Harga dengan lensa kit standar (sampai pertengahan 2013: 7.4 juta)

 

ISO 1600, f/3.7, 1/20 detik

ISO 1600, f/4.5, 1/40 detik

ISO 200, f/8, 1/320 detik

Catatan: Foto-foto diambil di museum Bahari & Menara Syahbandar, Jakarta Utara.

Olympus EPL5 (kiri) dibandingkan dengan Canon EOS 650D (kanan)

Tampak belakang Olympus EPL-5 – foto dari Wikipedia Commons

{ 5 comments }

Jangan terperangkap kualifikasi

by Enche on Mei 16, 2013

Artikel ini berasal dari salah satu tips yang saya tulis di buku Fotografi itu Mudah!: 100+ tips dunia fotografi. Beberapa pembaca memberikan feedback bahwa mereka sangat menyukai tips ini. Tanpa saya sadari, tips ini belum dimuat di Infofotografi :) Inilah tips ke-50: Sebuah tips yang berarti bagi saya dan mudah-mudahan bermanfaat buat semua:

Di dalam hidup dan khususnya fotografi, apakah kualifikasi seperti titel, diploma, sertifikat, dan lain lain dibutuhkan untuk sukses? Menurut saya, kualifikasi semacam itu tidak dibutuhkan.

Salah satu kutipan favorit saya berasal dari Soechiro Honda (pendiri Honda Automotive)

“Tiket untuk menonton film lebih bernilai daripada ijazah sekolah”

Ucapan ini dilontarkannya saat Honda baru berusia 15 tahun.

Ironisnya, masih banyak orang yang mencari sertifikat daripada ilmu yang sebenarnya. Tidak jarang saya menerima telpon yang menanyakan apakah saya menyediakan sertifikat setelah mengikuti kelas-kelas fotografi saya.

Kira-kira 10 tahun yang lalu, saat saya mengikuti pelatihan, ada peserta yang sudah menguasai semua materi pelatihan. Saat ditanya mengapa dia mengikuti pelatihan tersebut oleh instruktur, dia mengungkapkan dia membutuhkan sertifikat tersebut untuk karirnya. Menurut saya, langkahnya sangat disayangkan karena membuang waktu dan uang untuk hadir di pelatihan tersebut.

Hal ini tidak terlepas karena adanya pola pikir dan cara sebagian besar perusahaan dalam mengelola karyawannya. Di perusahaan besar, departemen sumber daya manusia (SDM/HRD) biasanya mengkaji berbagai kualifikasi entah itu diploma, sertifikat dan jabatan lama seorang calon karyawan.

Kualifikasi ditentukan oleh perusahaan karena efisiensi penting bagi mereka. Perusahaan menganggap ongkos terlalu mahal jika mewawancarai satu per satu aplikasi lamaran kerja. Perusahaan lebih mempercayai data yang ada di lembaran CV daripada kualitas sebenarnya dari aplikan tersebut.

Jika perusahaan mencari robot untuk bekerja di perusahaan tsb, cara menyortir calon karyawan dengan metode diatas memang efisien. Tapi kalau perusahaan ingin mencari seseorang seperti Bill Gates, Steve Jobs, Mark Zuckenberg atau orang-orang yang dapat mengubah perusahaannya bahkan dunia secara radikal, metode ini kurang efektif.

Saya memiliki dosen saat saya kuliah di Bucknell University. Beliau bernama William Gruver. Professor favorit saya ini adalah mantan eksekutif tinggi di sebuah perusahaan investasi yang besar. Dari kerjanya berpuluh tahun, beliau sudah mencapai kebebasan finansial dengan pendapatan ratusan ribu Dolar AS perbulan. Saat pensiun, beliau ingin menyumbangkan ilmunya untuk generasi penerus dan pernah melamar untuk mengajar sebagai guru SMA, tapi ditolak karena tidak memiliki sertifikat sebagai guru dan juga hanya bertitel S2. (Di Amerika Serikat, penerimaan kualifikasi guru / dosen sangat tinggi, minimal S3 / Phd untuk mengajar di universitas).

Untungnya, Bucknell University tidak mementingkan kualifikasi tapi lebih ke hasil karya profesornya menerimanya sebagai dosen. William Gruver diterima mengajar di Universitas tersebut dan merupakan profesor (dosen) terbaik yang saya pernah dapatkan selama disana dan sering menerima penghargaan.

Jika menuruti aturan kualifiikasi, saya juga tidak berkualifikasi sebagai fotografer karena saya tidak kuliah di jurusan fotografi. Saya juga tidak berkualifikasi sebagai instruktur fotografi karena tidak memiliki sertifikat sebagai guru atau tidak pernah kuliah di jurusan pendidikan. Saya juga tidak berkualifikasi sebagai penulis karena saya tidak sekolah di jurusan sastra. Tapi nyatanya alumni kursus kilat saya sudah lebih dari 1000 orang, sebagian besar mengikuti 4-5 kelas lanjutan. Sebagai penulis blog dan buku bertema fotografi, buku yang saya tulis sudah dicetak dan terjual lebih dari 25,000 buku.

Jika saya memilih melamar kerja di sebuah perusahaan, paling-paling saya jadi karyawan dengan gaji pas-pasan, cukup untuk bayar apertemen sederhana, makan dan bensin. Karena umur saya sudah kepala tiga, mungkin saya malah tidak akan diterima sama sekali, kalah sama yang muda-muda yang masih segar-bugar, bersedia lembur, berkualifikasi lebih tinggi dan rela dibayar lebih murah.

Saran saya adalah jangan biarkan kualifikasi menghambat kita melakukan apa yang kita sukai, jadikan karya kita yang berbicara lebih lantang daripada data-data id CV kita. Cari perusahaan yang menghargai kemampuan kita, bukan aturan kualifikasi semata. Kalau belum ketemu perusahaan yang seperti itu, cari terus atau buka usaha sendiri! Seringkali, Anda bernilai lebih tinggi daripada yang Anda pikirkan.

{ 9 comments }

Kamera Mirrorless vs kamera DSLR

by Enche on Mei 14, 2013

Tak terasa, sistem mirrorless sudah berusia 4 tahun. Pertama kalinya, sistem ini diperkenalkan oleh Panasonic dan Olympus dengan meluncurkan kamera mirrorless pertama mereka yaitu Panasonic G1 dan Olympus PEN EP1. Kedua sistem ini bergabung bersama beberapa produsen lensa dan kamera lain untuk membentuk konsorsium yang dinamakan micro four thirds system. Belakangan ini Olympus dan Panasonic mengenalkan generasi terbaru kamera mirrorles yaitu Olympus PEN EP5 dan Panasonic G6. Membaca pengumuman ini, saya merasa waktu cepat sekali berlalu.

Tidak lama kemudian produsen kamera lain pun ikut-ikutan membuat kamera bersistem mirrorless, antara lain: Sony NEX, Samsung NX, Fuji X, Nikon 1, dan Canon EOS-M.

Berbagai jenis kamera mirrorless: Dari kiri atas searah jarum jam, Nikon 1 V2, Canon EOS-M, Sony NEX 6, Panasonic GF5, Olympus OMD EM5, Fuji X-PRO 1

Konsep sistem kamera mirrorless memang kuat, yaitu memprioritaskan ke ukuran dan berat yg ringan dan kecil tapi kualitas foto yang dihasilkan setara dengan yang dihasilkan sebagian besar kamera DSLR, dan kamera mirrorless ini juga bisa gonta-ganti lensa. Posisi sistem mirrorless berada diantara kamera smartphone/compact dan DSLR. Tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil. Banyak kamera sistem mirrorless telah dilengkapi oleh WiFi, tapi tidak sefleksibel kamera ponsel karena hasil fotonya tidak bisa diupload langsung ke jejaring sosial favorit seperti facebook, flickr, dll.

Alasan munculnya sistem ini muncul adalah kebanyakan orang tidak menyukai membawa kamera DSLR yang besar berat, jadi dibuatlah sistem kamera dan lensa yang berukuran lebih kecil. Caranya dengan menghilangkan prisma jendela bidik, dan cermin yang membuat kamera DSLR tebal dan berat.

Dalam perkembangannya, sistem mirrorless secara umum telah meningkat cukup banyak. Dari kecepatan autofokusnya, kualitas layar LCD dan jendela bidik elektroniknya, dan koleksi lensa-lensa juga meningkat kualitas dan jumlahnya meski belum selengkap dan secepat sistem kamera DSLR. Untuk kinerja autofokusnya, kinerja sebagian besar kamera mirrorless masih lebih lambat daripada sistem autofokus DSLR yang sudah teruji.

Meski mengalami perkembangan yang cukup pesat, dan keunggulan di sisi ukuran dan berat, sistem mirrorless ini belum dapat menyamai atau menggantikan volume penjualan sistem kamera DSLR. Kuartal pertama tahun 2013. Jumlah pengiriman kamera mirrorless sebanyak 603,532 unit. Sedangkan jumlah pengiriman kamera DSLR di kuartal yang sama berjumlah 2,600,765 unit.

Banyak faktor yang menyebabkan mengapa sistem kamera DSLR belum tergantikan, tapi yang paling penting yang harus diatasi sistem kamera ini adalah masalah persepsi pembeli. Di kacamata awam, mirrorless kualitasnya masih dibawah sistem kamera DSLR, dan memperparah keadaan, kamera mirrorless kebanyakan dijual dengan harga yang diatas kamera DSLR.

Di mata kaum profesional atau amatir yang serius, mirrorless masih berperan sebagai kamera “main-main” yang dibawa untuk memotret yang tidak serius atau bukan untuk pekerjaan profesional. Saat memotret hal-hal yang serius, fotografer berpengalaman masih memilih sistem kamera DSLR. meskipun hampir semua merek kamera kini memiliki sistem mirrorless.

Untuk bisa memenangi hati para fotografer, insinyur-insinyur yang merancang kamera dan lensa sistem ini memiliki pe-er yang tidak sedikit. Untuk menarik minat hati fotografer yang saat ini mengunakan kamera DSLR, mereka perlu menyiapkan lebih banyak lensa berkualitas tinggi setidaknya setara dengan lensa seri L Canon atau lensa bercincin emasnya Nikon. Selain itu, memasukkan jendela bidik optik seperti yang telah dilakukan kamera Fuji seri X. Satu lagi, yaitu menggarap kamera dengan sensor berukuran setara dengan kamera DSLR full frame.

Untuk menarik pengguna compact dan smartphone, mereka harus memudahkan koneksi dan upload foto ke jejaring sosial populer, memberikan lebih banyak opsi untuk olah digital di dalam kamera, dan yang paling penting, menurunkan harga yang saat ini masih relatif tinggi. Mari kita sama-sama ikuti perkembangan atau kejutan apa lagi yang diantarkan oleh sistem mirrorless lima tahun kedepan.

{ 17 comments }

Motret Street Photography di Hanoi Old Quarter

Mei 8, 2013

Old Quarter (kota tua) Hanoi merupakan salah satu surga street photography. Di kawasan ini, banyak bangunan tua yang dipertahankan dan banyak aktivitas penduduk disana, terutama dalam berjualan makanan, pakaian, bunga dan lain-lain. Waktu terbaik untuk memotret Old Quarter adalah senja menjelang malam. Saat itu langit berwarna biru kontras dengan lampu-lampu berwarna kuning. Selain itu banyak [...]

Baca selanjutnya →

Tips memotret di dalam gua yang gelap

Mei 5, 2013

Memotret gua yang memiliki bentuk staglatit dan stalagmit. Stalagtit adalah batu kapur yang tumbuh dari bagian atas gua menuju ke dasar gua, sedangkan stalagmit tumbuh menjulang dari dasar gua ke atas. Saat tur fotografi Vietnam – Ninh Binh – Ha Long Bay seminggu yang lalu, saya dan rombongan berkesempatan untuk mengunjungi gua Sung Sot yang [...]

Baca selanjutnya →

Soal model human interest: Bayar atau tidak bayar?

Mei 4, 2013

Ada fotografer yang berprinsip dengan tegas menolak memberi bayaran kepada subjek yang di foto dalam street photography atau human interest. Tapi banyak juga yang tidak masalah tentang membayar atau memberikan tips kepada subjek foto. Alasan sebagian fotografer untuk tidak membayar subjek yang difoto supaya hasil dan momen yang di dapat otentik (asli). Arti otentik yaitu [...]

Baca selanjutnya →

Zeiss umumkan keluarga lensa baru untuk sistem mirrorless

Mei 3, 2013

Perkembangan dunia fotografi kamera mirrorless akan semakin menarik karena Zeiss baru saja mengumumkan keluarga lensa yang dirancang khusus untuk kamera mirrorless. Sementara ini tersedia untuk format E-mount (Sony NEX) dan Fuji X. Nama keluarga lensa ini yaitu Touit (dibaca seperti Duit) berasal dari jenis burung Nuri. Kata Zeiss, nama ini dipilih karena mata burung sangat [...]

Baca selanjutnya →

Laporan tur Vietnam (Hanoi – Ninh Binh – Ha Long Bay)

Mei 2, 2013

Seperti tradisi tur-tur fotografi sebelumnya. saya akan membahas tentang pengalaman saya tentang tur kali ini. Menurut saya, tur fotografi Vietnam kali ini secara umum sukses. Vietnam bagian utara (Hanoi, Ninh Binh, Ha Long) ketiganya memiliki alam dan budaya yang menarik dan menyediakan kesempatan foto yang sangat banyak. Penduduk lokal sangat ramah dan cukup gemar difoto. [...]

Baca selanjutnya →

Persiapan tur fotografi dan bawaan

April 23, 2013

Setiap berangkat untuk tur fotografi, selalu saja ada dilema, mau bawa apa saja ya? Yang pasti kalau mau bawa semuanya, agak repot, karena nanti keberatan. Tapi kalau cuma bawa seringkas mungkin, nanti ada yang kurang jadi nyesal. Sayangnya kita hidup di dunia yang serba terbatas, sampai saat ini tidak ada kamera yang sempurna. Tidak ada [...]

Baca selanjutnya →