≡ Menu

Workshop Mastering the art and photography technique
1-2 November 2014 Daftar/Info: hub: 0858 1318 3069

Bawa apa untuk tour fotografi Yunnan Oktober 2014?

Biasanya saya menulis apa yang saya bawa sebelum ke tour fotografi terutama yang panjang dan keluar negeri. Contohnya seperti sebelum ke Yunnan Maret 2014 yang lalu dan ke Kamboja. Tapi kali ini saya menulis setelah saya pulang. Dengan demikian saya bisa cerita pengalaman saya dengan apa yang saya bawa, dan apakah akhirnya banyak digunakan atau tidak.

song-zan-lin

 

Nikon D600 : Kamera DSLR ini sudah saya pakai selama dua tahun, cicilan 24 bulan juga baru lunas. Memang kamera ini bukan yang terbaik, ada beberapa kelemahan yang mendasar, dan ada beberapa kamera yang sekarang lebih baik misalnya Nikon D810, D750, Sony A7R, tapi kamera ini ringkas dan ringan untuk traveling dan juga saya punya beberapa lensa Nikon berkualitas untuk dipasangkan.

Nikon 16-35mm f/4 VR : Lensa lebar yang sering terpasang di kamera, biasa saya gunakan untuk motret pemandangan yang luas. Keunggulannya bisa pasang filter (ukuran 77mm) dan ada VR / stabilizernya.

Sigma 70-200mm f/2.8 HSM Macro II : Lensa yang masih menjadi andalan karena kualitas bagus dan tajam. Hampir saya tinggalkan karena beratnya lebih dari 1.5 kg. Sebenarnya alternatif yang saya incar Nikon 70-200mm f/4 VR yang lebih ringan, tapi kalau beli yang baru itu yang ini mau dikemanain. Ada yang mau nampung? Please kontek saya untuk nawar harganya he he he.. Alhasil, saya beruntung bawa lensa ini karena penting untuk beberapa foto, terutama untuk objek yang jauh (gunung) dan portrait. Foto diatas mengunakan lensa ini.

Nikon AF 85mm f/1.4D : Rencananya lensa ini dibawa untuk foto portrait, dan saat jalan-jalan santai di kota tua. Lebih nyaman karena lebih pendek dan ringan daripada lensa 70-200mm f/2.8. Mungkin kedepannya gak dibawa lagi, karena tumpang tindih dengan lensa 70-200mm diatas. Saya gunakan saat di kota tua Lijiang dan Shuhe hari pertama dan kedua. Habis itu lebih banyak disimpan dikoper.

Sigma DP2 Merrill : Sejenis kamera pocket yang bongsor dengan sensor Foveon APS-C dan lensa fix setara 45mm di full frame. Focal length 45mm ini seakan-akan menjembatani lensa lebar saya 16-35mm dan 70-200mm. Kinerjanya super lambat, tapi relatif ringan dan kualitas gambarnya setara kamera DSLR. Kamera ini cukup sering saya pakai karena enteng bobotnya.

Jadi, tidak ada yang mengejutkan diatas, kamera Nikon D600 sudah saya pakai selama dua tahun, lensa-lensa sudah ikut saya 5-6 tahun dan masih oke banget performanya, cuma memang fisik luarnya sudah tidak seperti baru :)

enche-tjin

Foto oleh Iesan Liang

Aksesoris yang saya bawa

  • Tripod Benro C1680TV1 Tripod Carbon Fiber dengan ballhead berkapasitas maksimal 14 Kg ini kokoh dan cukup tinggi bagi saya.
  • Tripod strap Saya mulai mengunakan ini beberapa saat yang lalu, lebih enak dari tas karena tidak perlu bongkar muat tripod ke tas saat hunting. Paddingnya tebal sehingga bahu tidak sakit.
  • L-Bracket  sangat berguna untuk foto dengan orientasi vertikal saat kamera berada di atas tripod
  • Memory card macam-macam, ada yang 32GB, ada yang 16GB dan 8GB.
  • Filter ND 10 stop, Polarizer. Cuma kali ini jarang dipakai, cuma sekali dua kali pakai filter ND untuk slow speed air.
  • Tas KATA ReportIT 10 : Tas selempang yang ringan tapi bisa muat banyak ini mudah untuk ganti-ganti lensa.
  • Laptop : Tadinya dibawa untuk backup tapi ternyata memory card yang dibawa cukup, jadi laptop kebanyakan nganggur, tapi sempat berguna untuk transfer data memory card peserta ke harddisk, dan untuk booking hotel di Singapore saat pulang.
  • Tas Thinktank Airport Navigator : Sejenis rolling bag (tas yang ada rodanya), sangat membantu di airport, untuk diisi laptop, charger, lensa-lensa berat, sehingga saat di airport tinggal tarik tanpa sakit bahu.
Inilah fungsi L-Bracket, bisa foto vertikal dengan tripod dengan mudah dan jauh lebih stabil.

Inilah fungsi L-Bracket, bisa foto vertikal dengan tripod dengan mudah dan jauh lebih stabil. Foto oleh Felicia Limida

Tahun ini saya melihat ada perubahan dengan alat-alat fotografi yang dibawa teman-teman. Kecenderungannya ke arah membawa peralatan yang lebih ringan, misalnya ada beberapa yang bawa kamera Olympus OMD EM1 dan EM5, Sony A6000, kamera compact Sony RX100 II dan Leica D Lux 6 (saudaranya Panasonic LX7). Meski demikian, mayoritas tetap lebih banyak yang membawa kamera DSLR.

Belajar dari pengalaman tour ini, dan melirik beberapa teman-teman yang traveling light, saya mulai merasa agak ketinggalan jaman, mungkin kedepannya saya perlu bawa kamera dan lensa yang lebih ringan lagi alias downgrade hehe :)

{ 1 comment }

Tour fotografi Kamboja 2015 : Hunting foto Waisak

Infofotografi sudah beberapa kali menyelenggarakan acara hunting di Kamboja, dan kali ini hunting fotonya agak berbeda dengan biasanya karena mengambil waktu hari Waisak. Di hari Waisak ini banyak bhiksu dan biarawati yang berkunjung ke Angkor Wat dan akan ada prosesi dengan lilin yang menarik.

Selain itu, kita akan mengunjungi candi yang masih sepi dari pengunjung dan saat ini dalam tahap restorasi, sehingga suasananya masih seperti saat ditemukan. Nama candi tersebut adalah Banteay Chhmar dan Banteay Toap. Tour ini merupakan kesempatan yang baik untuk teman-teman yang menyukai foto human interest, arsitektur candi dan sejarah.

Itinerary
Hari pertama 1 Juni 
Tiba di siang hari 13.15 waktu setempat . Setelah makan siang, sorenya hunting foto acara Waisak di sekitar Angkor Wat. Banyak bhiksu yang akan berkunjung dengan menyalakan lilin setelah matahari terbenam.
Contoh foto-foto oleh fotografer John McDermott

kamboja-waisak-tour-hunting-foto

Oleh fotografer John McDermott

Hari kedua 2 Juni

  • Pagi-pagi hunting sunrise dan prosesi Waisak di Angkor Wat
  • Setelah sunrise, berkunjung ke Ta Phrom (temple dengan pohon dan akar raksasa)
  • Setelah makan siang dan istirahat, lanjut motret ke candi Bayon (Candi dengan wajah-wajah raksasa) dan danau Srah Srang untuk hunting foto sunset
Angkor Wat Sunrise by Enche Tjin

Angkor Wat Sunrise – foto oleh Enche Tjin

Hari ketiga 3 Juni

  • Cruise dengan kapal menjelajahi kehidupan penduduk di danau Tonle Sap (Kompong Khleang)
  • Makan di rumah penduduk lokal dengan hidangan ikan bakar dan sayur lokal.
  • Mengunjungi Beng Mealea (candi hutan)
Tonle Sap Lake

Anak-anak danau Tonle Sap – foto oleh Enche Tjin

Beng Mealea

Beng Mealea B&W – foto oleh Enche Tjin

Hari keempat 4 Juni

  • Menjelajahi Banteay Chhmar (kompleks candi yang masih sepi seperti ditengah hutan)
  • Mengunjungi Banteay Toap temple di sore hari.

Hari kelima 5 Juni

  • Hunting pasar lokal dan Pagoda Wat Bo, Siem Reap
  • Shopping sampai waktu untuk pulang ke Jakarta

Biaya tour US $540 / orang

Maksimum peserta 16 orang saja. Pendaftaran akan ditutup setelah quota habis.

DP 30% dari biaya tour $200 atau Rp 2 Juta.

Sisanya dilunasi paling lambat tanggal 1 Juni 2015.

Tiket pesawat bisa dibantu untuk pembeliannya. Bagi yang membeli sendiri, harap menyesuaikan dengan jadwal acara.

Termasuk

  • Akomodasi hotel: City River Hotel (nyaman dan strategis)
  • Satu kamar untuk dua orang (kecuali ada request untuk single akan ada biaya tambahan)
  • Transportasi selama di Kamboja (mini bus ber-AC)
  • Lima makan siang, empat makan malam
  • Minuman air mineral dingin dua botol sehari
  • Tiket masuk objek wisata
  • Tiket cruise Motor boat di danau Tonle Sap
  • Bimbingan fotografi oleh Enche Tjin
  • Pelayanan pemandu lokal

Belum termasuk

  • Airport Tax
  • Tiket pesawat
  • Tip guide/supir minimum US$4 per hari ($20)
  • Acara optional dan belanja pribadi

Pertanyaan dan info: 0858 1318 3069 atau infofotografi@gmail.com

{ 0 comments }

Tibet atau China?

Beberapa hari lalu, saya mendapatkan pertanyaan dari seorang teman saya di USA melalui Facebook setelah melihat foto saya. Dia bertanya, “Dimana nih? (katanya ke China), (tapi) latar belakang yang warna warni mirip seperti di Tibet?”

tibet-atau-cina

Jawabannya adalah dua-duanya benar. Saya berada di provinsi Yunnan, China, dan juga di Tibet. Nah loh kok bisa begitu? Secara sejarah, dulunya Tibet berbentuk kerajaan yang independen, tapi dalam beberapa ratus tahun terakhir ini banyak diinvasi dan di klaim oleh berbagai bangsa seperti Mongol, Inggris Raya, Nepal, dan Kekaisaran China.

Saat ini, daerah Tibet dibagi dalam beberapa wilayah administratif oleh pemerintah RRC, yaitu U-Tsang (yang kini terkenal dengan provinsi otonomi Tibet), Amdo (meliputi provinsi Gansu, Qinghai dan Sichuan), dan Kham (meliputi provinsi Sichuan dan Yunnan).

daerah-tibet-u-tsang-lhasa-kham-amdo

Tour fotografi Yunnan bulan Oktober 2014 ini mengunjungi daerah Tibet di provinsi Yunnan (Kham Tibet), yaitu kota Shangri-la (Zhong dian) dan Deqin (Meili Snow Mountain). Jadi kalau ditanyakan tour-nya ke  China atau ke Tibet? ya, dua-duanya.

Mudah-mudahan penjelasan ini bisa menambah wawasan kita semua :)

{ 6 comments }

Tour Yunnan: Lijiang – Shangri-la, Deqin merupakan tour yang benar-benar menantang bagi saya dan teman-teman satu trip. Dataran tinggi menyebabkan banyak peserta terutama yang tidak fit sakit karena tidak terbiasa. Oksigen yang tipis membuat dada agak sesak dan jantung berdebar lebih cepat dari biasanya untuk memasok oksigen ke otak. Badan terasa lebih cepat capai, terutama saat bergerak cepat.

Di Shangri-La (sekitar 3200 meter) lebih parah lagi, dan di Deqin (sekitar 3500 meter). Di Deqin saya kesulitan untuk tidur karena jantung saya berdebar kencang dan sedikit mimisan. Udara sangat dingin waktu itu (sekitar 4 derajat Celcius), untung ada penghangat ranjang.

Rombongan menggunakan jasa pesawat Tiger Air dan langsung terbang ke Lijiang via Singapore. Kota tua Lijiang berada diketinggian 2400 km diatas permukaan laut. Perbedaan ketinggian yang drastis membuat saya perlu berjalan lebih pelan dari biasanya supaya tidak terlalu pusing. Setelah bermalam, saya cukup terbiasa.

Mungkin karena Oksigen yang tipis dan kondisi badan yang kurang baik, salah seorang peserta jatuh sakit, dan sayangnya tidak dapat mengikuti acara jalan-jalan dan hunting foto secara penuh.

Masalah lainnya adalah ada dua peserta yang kopernya tertinggal di Singapore karena kesalahan maskapai saat transit, sehingga harus beli kaos dan kebutuhan dasar lainnya. Untung di dekat kota tua banyak pertokoan untuk beli kaos dan barang keperluan yang penting. Kebetulan juga saya dan istri memiliki beberapa jaket/vest ekstra yang bisa saya pinjamkan. Kedua peserta kerennya tetap berpikiran positif sampai akhir perjalanan.

Saat memotret ditengah jalan Lijiang ke Shangri-La, ada peserta yang tak sengaja menjatuhkan kameranya, sehingga kedua filternya pecah (UV dan Polarizer). Sekali lagi untung saya bawa filter polarizer dan bisa saya pinjamkan. Kebetulan diameter filter lensanya sama.

Salah satu tantangan yaitu cuaca. Saat berkunjung ke Jade Dragon Snow mountain dekat Lijiang, cuaca yang cukup cerah di pagi hari mendadak menjadi sangat mendung dan berkabut. Paginya, kita sempat berfoto-foto di ketinggian 3100meter sehingga masih mendapatkan detail dari gunung salju Jade Dragon yang sering diselimuti awan dan kabut ini. Di puncak Glacier park (4506 meter) suhu sangat dingin (sekitar 4-6 derajat Celcius). Sulit berjalan karena udara dingin dan oksigen yang tipis. Akhirnya saya duduk-duduk di cafe sambil minum susu hangat dan sesekali menyedot Oksigen dari tabung gas.

Setelah motret sunrise di Meili Snow Mountain, Deqin

Setelah motret sunrise di Meili Snow Mountain, Deqin

Tantangan terakhir di Meili Snow mountain. Udara dingin sekali di pagi hari dan saya tidak bisa terlelap dengan sempurna. Tapi setelah mencapai spot untuk memotret sunrise dan saat puncak gunung memerah tanda matahari segera muncul membuat hati senang dan terharu. Perjuangan dari jauh yang menguras tenaga fisik dan mental akhirnya membuahkan hasil yang manis.

DSC_0025

Berpose di depan hotel di kota tua Lijiang

Saya beruntung ditemani oleh teman-teman yang berpikiran positif sehingga membuat perjalanan kali ini terasa berkesan dan menyenangkan. Sampai ketemu lagi ke tour foto selanjutnya.

{ 5 comments }

Menyederhanakan Tampilan Filmstrip dengan Stacking

Ketika kita memiliki banyak foto-foto yang hampir mirip, kita dapat mengaplikasikan stacking, yaitu menumpuk beberapa foto yang hampir sama ke dalam satu kelompok. Dengan begitu, foto-foto yang ditampilkan di filmstrip lebih sedikit.

Adapun caranya adalah dengan memilih terlebih dahulu memilih beberapa foto yang akan dikelompokkan dengan cara mengklik foto pertama dilanjutkan dengan menahan tombol SHIFT, sambil mengklik foto terakhir yang akan dikelompokkan. Jika foto yang dipilih tidak berurutan, maka kita dapat menggunakan tombol CTRL sambil memilih foto.

Setelah foto terpilih, klik kanan foto dan pilih Stacking kemudian pilih Group into Stack [kotak merah].

group into stack1

Foto yang sudah dikelompokkan akan menjadi satu kesatuan dan yang ditampilkan adalah satu foto saja. Jika kita ingin melihat semua foto yang sudah distack, maka kita dapat mengklik nomor yang ada pada foto [kotak merah].

stack1

Kadang kala, foto teratas yang ditampilkan pada stack tidak sesuai dengan keinginan kita, untuk membuat foto yang di dalam stack menjadi cover stack, maka kita dapat mengklik dua kali foto yang kita inginkan. Cara lain adalah dengan memilih foto tersebut, kemudian klik kanan dan pilih Move to Top of Stack. (Foto harus dalam keadaan expand). [click to continue…]

{ 2 comments }

Kamera revolusioner 2003-2014

Tumbuh dan berkembangnya fotografi digital saat ini salah satunya disebabkan oleh teknologi kamera digital yang semakin baik kualitasnya dan harganya makin terjangkau. Dahulu, kamera digital canggih hanya digunakan fotografer profesional. Tapi saat ini, kamera digital berkualitas sudah digunakan berbagai kalangan masyarakat. Dalam kisaran sepuluh tahun terakhir, perkembangan teknologi kamera digital sangat pesat, dan berikut ini adalah beberapa kamera digital yang penting dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Kamera-kamera yang disebutkan dibawah ini revolusioner karena memiliki teknologi inovasi yang sangat baru di masanya, dan kemudian banyak ditiru desainnya.

canon_300d

Canon EOS 300D (2003)

Sebelum kamera ini hadir, hampir semua kamera DSLR dibuat untuk kalangan profesional atau fotografer amatir yang serius menekuni fotografi. Harga kamera DSLR juga relatif tinggi. Kamera ini kamera DSLR yang sukses untuk kalangan masyarakat umum karena ukurannya yang relatif ringkas dan sederhana dengan harga dibawah $1000. Suksesnya kamera ini membuat produsen kamera lain mulai ikut membuat kamera DSLR untuk pemula dengan harga yang terjangkau.

Dengan adanya kamera tingkat dasar atau pemula ini, masyarakat umum bisa belajar dan membuat foto yang berkualitas bagus, tidak kalah jauh dengan kamera DSLR profesional saat itu. Saat ini, seri kamera ini telah diperbaharui lebih dari tujuh kali. Kamera penerusnya dan variasinya yang dipasarkan saat ini adalah Canon 700D, 100D dan 1200D.

iphone-1

Apple Iphone (2007)

Gadget yang ini sebenarnya adalah telepon seluler, tapi memiliki kamera dengan kualitas yang hampir sama baiknya dengan kamera digital saku. Bedanya, Iphone ini memiliki antarmuka yang sangat sederhana dan intuitif sehingga memudahkan penggunanya untuk merekam gambar. Untuk berbagi foto juga lebih mudah karena bisa diunggah langsung ke media sosial atau dikirim ke pengguna lain. Karena ukurannya kecil dan selalu dibawa kemana-mana, Iphone menjadi kamera yang paling sering digunakan orang untuk merekam foto. Keunggulan lain dibandingkan kamera digital konvensional adalah banyaknya aplikasi fotografi dan pengolahan foto yang membuat foto kian menarik. iPhone sudah diperbaharui beberapa kali dan kualitas gambar yang dihasilkan semakin baik. [click to continue…]

{ 6 comments }

Era video 4K sudah tiba, apakah kita sudah siap?

Bila selama ini kita mengenal video digital dengan dua macam pilihan kualitas yaitu Standard Definiton (SD, 480p) dan High Definition (HD, 720p dan 1080p), maka generasi mendatang dari tayangan video kualitas tinggi adalah video 4K yang mampu merekam video resolusi 4x lebih detil dari video HD biasa, atau disebut juga dengan Ultra HD (UHD). Dalam hitungan piksel, maka bidang gambar dari video ini adalah 3840×2160 piksel (aspek rasio 16:9) yang memberi detail jauh lebih banyak dibanding video HD.

Perbedaan detail HD dan 4K

Produsen kamera digital maupun kamera khusus video telah membuat beberapa produk yang sudah bisa merekam video 4K. Di youtube bahkan sudah ada beberapa video yang disimpan dalam format 4K. Dengan memilih setting video 4K di kamera maka video yang direkam akan memiliki kualitas sinema dengan detail tertinggi yang memanjakan mata pemirsanya. Bahkan bila satu frame dari video 4K di capture lalu dijadikan still image maka resolusinya setara dengan foto 8 MP. Sebagai gambaran, sebuah file foto 8 MP sudah bisa dicetak ukuran cukup besar seperti 20x30cm.

Salah satu TV 4K

Apakah dengan kualitas yang tinggi ini lalu serta merta semua orang, individu, profesi maupun dunia industri akan beralih dari era HD ke era 4K? Saya rasa saat ini belum, masih jauh bahkan. Ingat kalau video digital adalah sebuah sistem, sebuah workflow mulai dari image capturing, storage, process/editing sampai display. Kalau kamera kita 4K lalu ditayangkan di TV LCD HD saja maka tampilannya tidak ada bedanya dengan rekaman HD biasa. Untuk melihat hasil videonya dengan optimal diperlukan TV yang juga memenuhi standar 4K, itupun diperlukan kabel HDMI generasi kedua yang mampu menampung bandwidth hingga 18 Gbps. Kalaupun ingin video kita lebih menarik, bisa jadi kita perlu lakukan proses editing. Dengan video 4K, maka editing video jauh lebih berat dan membutuhkan komputer super kuat untuk memproses datanya, dan hardisk super besar untuk menyimpan hasilnya. [click to continue…]

{ 1 comment }

Bahas foto Karang di Sawarna

f/3.2, ISO 100, 1.6 detik

f/3.2, ISO 100, 1.6 detik, 30mm (45mm ekuivalen FF) – filter ND 10 stop

Yang menarik dari batu karang di foto ini adalah bentuknya yang seperti tembok penghalang yang tinggi, yang menghadang air yang menerpa pantai. Sekilas terlihat seperti perisai besar yang menahan gelombang serangan gelombang yang terus menerus. Karang yang berwarna gelap dan air yang mengalir adalah menimbulkan kontras. Dengan teknik slow speed, aliran air menjadi sangat lembut sehingga kontras semakin tinggi.

Tantangan dalam memotret lainnya adalah komposisi. Dalam hal ini saya mencari pola/pattern. Berada cukup dekat dengan ombak saya harus berhati-hati jangan sampai ombak terlalu tinggi menerpa kamera saya. Sebelumnya saya mengamati dan memantau ketinggian ombak. Dalam beberapa menit, saya tahu bahwa ombak tidak akan menjangkau area tertentu, dan disanalah biasanya saya menancapkan tripod.

Tantangan berikutnya adalah memilih timing yang tepat untuk menjepret. Saat yang tepat adalah sesaat setelah ombak menghempas karang, dan shutter speed yang ideal tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Dari pengalaman saya, antara 1-2 detik cukup bagus. Kalau terlalu cepat, aliran air terlihat patah-patah, kalau terlalu lambat, aliran air berubah menjadi seperti kabut. Untuk mendapatkan 1-2 detik, saya agak terpaksa mengunakan f/3.2 untuk mempertahankan supaya ISO-nya tetap 100 (untuk kualitas terbaik). Filter ND 10 stop yang saya gunakan sedikit terlalu pekat. Mungkin 6-8 stop cukup.

Untuk memastikan kamera tidak bergetar, image stabilization (IS, VR, Steadyshot dll) saya matikan, karena posisi kamera di tripod. Lalu idealnya mengunakan cable remote control. Atau paling sedikit mengunakan kombinasi self timer/exposure delay/mirror lock-up. Untuk foto ombak, self timer agak sulit karena ada jeda 2 detik, jadi harus bisa membayangkan dan sense of timing yang lebih bagus.

Kebetulan saat berada di lokasi cuaca sedang mendung. Awan cukup tebal menutupi sinar matahari pagi, sehingga langit tampak abu-abu. Tidak masalah bagi saya karena saya tidak perlu repot memperhitungkan arah cahaya. Langit yang mendung sama dengan softbox sehingga cahaya menjadi lembut dan tidak ada bayangan yang keras/gelap. Efek dari cuaca mendung membuat hasil gambar seperti monochrome (satu warna) tanpa perlu di edit.

Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya foto yang ini yang saya kira pas sesuai dengan imajinasi saya.

—–
Tgl 22-23 November Infofotografi akan menyelenggarakan tour ke kawasan pantai Sawarna dan sekitarnya, bagi yang berminat bisa baca dan daftar melalui info dibawah ini.

Bagi yang ingin belajar dasar fotografi dan lighting bisa memeriksa jadwal dan materi disini.

{ 2 comments }

Pendapat tentang Nikon D750

Sewaktu Nikon D750 diumumkan, saya cukup tertarik dengan kamera ini, dan sempat terpikir untuk menjual kamera Nikon D700, untuk membeli Nikon D750. Tapi, setelah beberapa minggu, rasanya tidak masuk akal secara finansial untuk melakukannya.

Meskipun saya menjual Nikon D600 dan D700 saya sekaligus, uang penghasilannya mungkin masih kurang untuk membeli Nikon D750 baru. Selain itu dari segi kualitas gambar, tidak begitu signifikan dari Nikon D600 yang menurut saya sudah bagus. Jadi untuk apa menjual dua kamera untuk mendapatkan satu kamera? pikir saya.

nikon-d750

Bagi yang sekarang ini lagi memikirkan untuk upgrade ke kamera DSLR full frame Nikon, mungkin D750 ini merupakan hal yang menarik. Meskipun kualitas body-nya tidak sama dengan Nikon D700 atau Nikon D300 yang full magnesium alloy, tapi dari dengar-dengar, pegangannya juga enak dan body campuran magnesium alloy dan carbon fiber tidak terasa seperti plastik murahan.

Fitur-fiturnya juga setara dengan kamera yang lebih canggih seperti Nikon D810. Ada beberapa hal yang menarik juga seperti layar LCD yang bisa dilipat (tilt), fitur movie yang lebih banyak, bahkan ada halaman khusus movie di dalam menu.

Bagi yang sekarang mengunakan Nikon D600/D610, jika upgrade akan mendapatkan kelebihan dibawah ini:

  • Pegangan yang lebih mantap
  • Kualitas fisik yang terasa lebih kokoh tanpa menambah total berat
  • Sistem autofokus tercanggih Nikon 51 titik fokus (tapi masih ditengah)
  • Sistem AF bisa foto di dalam kegelapan EV-3
  • Foto berturut-turut sedikit lebih cepat
  • Layar LCD bisa dilipat
  • Hasil foto sedikit lebih tajam dan bebas noise
  • Built-in Wifi

[click to continue…]

{ 10 comments }

Tips Komposisi dalam Food Photography

Makanan adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita. Tanpa kita sadari, sebagai penggemar fotografi ataupun sebagai fotografer profesional, kita sebenarnya sangat dekat dengan objek fotografi yang bernama makanan. Di era semakin berkembang pesatnya sosial media seperti sekarang, banyak orang meski mereka bukanlah penggemar fotografi/fotografer profesional sering mengupload foto-foto makanan di berbagai jejaring sosial yang mereka gunakan. Ada istilah: “Difoto dulu baru dimakan!”

Dalam tulisan kali ini, saya ingin berbagai kepada pembaca Infofotografi tentang komposisi dalam memotret makanan. Saya sengaja memberi banyak contoh makanan mulai dari camilan dalam bentuk biskuit, cake, mie instan, hingga pudding. Dengan banyaknya contoh makanan dan beragam komposisi, saya berharap para pembaca Infofotografi dapat memperoleh sedikit gambaran ketika ingin memotret makanan.

Berikut beberapa contoh komposisinya:

komposisi-food-photography-kopi

Pada foto diatas dan dibawah ini, saya memotret camilan berupa biskuit dengan komposisi rules of third. Sketsa garis komposisinya ada di foto sebelah kanan.

komposisi-mie

Di foto di bawah ini, saya sengaja menyusun biskuit camilan dengan bentuk menyerupai tumpeng. Dalam foto ini saya menggunakan komposisi segi tiga.

komposisi-biskuit

Pada contoh foto-foto dibawah. Saya menggunakan contoh komposisi yang sama yaitu diagonal. Yang perlu diperhatikan dari komposisi diagonal adalah kita jangan memiringkan kamera kita membentuk sebuah diagonal, tetapi kita yang harus mengatur objek kita sesuai dengan diagonal frame di kamera kita. [click to continue…]

{ 3 comments }