≡ Menu

Bahas foto : Warna-warni sayuran di pasar

Saat tour foto ke  Siem Reap, Kamboja, Desember 2016 yang lalu, sebelum berangkat ke Airport untuk pulang ke tanah air, saya memilih mengajak peserta jalan-jalan ke pasar tradisional untuk mengisi waktu dan menambah wawasan tentang pasar di negeri ini.

Saya tidak menargetkan untuk memperoleh foto yang bagus disini, makanya saya santai jalan-jalan dengan mengunakan ponsel Huawei P9 saja. Selain kecil juga tidak mencolok pikir saya. Saya juga berpikir peserta tour mungkin tidak suka ke pasar tradisional yang sempit dan agak sesak. Dua tahun yang lalu, rombongan yang saya bawa juga tidak begitu suka ke pasar Siem Reap. Mungkin waktu itu panas sekali, juga sudah capai. Tapi akhir tahun lalu berbeda, peserta-pesertanya antusias motret di pasar, jadinya kita berkeliling dan memotret cukup lama. Dari yang saya rencanakan setengah jam, jadi satu jam lebih hehe..

warna-warni-pasar-siemreap

Dari foto-foto di pasar ini, saya paling suka foto diatas karena warna-warni sayur-mayur yang dijual benar-benar keluar karena sinar matahari yang pas menyinarinya. Yang tambah menarik lagi, sinar tersebut hanya menyinari sebagian dari sayurnya saja, sehingga memberikan efek spotlight dan membentuk love.

Setelah saya post di Facebook dan instagram, ada seorang teman yang membagikan foto ini ke temannya (Joko Taruno) yang suka ilustrasi/menggambar. Tidak lama kemudian, ilustrasinya jadi, yaitu seperti dibawah ini:

warna-warni-pasar-siemreap-joko-taruno

Keren gak? he he he. Saya merasa cukup senang foto saya dianggap menarik dan digambar dengan akurat dan berseni.

Data teknis foto ini yaitu: ISO 50, 1/240 detik, f/2.2, 4.5mm (ekuivalen 27mm). Kamera ponsel Huawei P9 bisa kita atur setting exposurenya secara manual (ISO, shutter speed dan EV/exposure value), tapi seingat saya, waktu memotret saya mengunakan setting auto. Aperture/diafragma/bukaan lensa tidak bisa diubah, fix di f/2.2 tapi gak masalah karena kita tetap bisa ubah gelap terangnya lewat setting EV.

Setting mode film type yang saya pilih yaitu vivid, makanya warnanya bisa cerah seperti itu hehe.. Tadinya saya tidak suka dengan vivid, karena terlalu mencolok, tapi untuk menonjolkan warna-warni sayuran diatas, mode vivid ternyata sangat tepat.

Pelajaran yang saya dapatkan dari pengalaman waktu itu adalah jangan meremehkan kamera ponsel jaman sekarang, dan pasar yang kadang kotor dan kumuh. Di pasar yang sederhana ini ternyata memungkinkan kita untuk mendapatkan foto-foto yang menarik juga, tidak kalah dengan foto pemandangan matahari terbenam di pantai 😀


Bagi yang menyukai travel dan fotografi, dan ingin hunting bareng, saya rutin menyelenggarakan tour foto. Jadwalnya boleh dibaca di halaman ini.

Untuk ponsel yang saya pakai, Huawei P9 yang punya dua kamera dan lensa Leica, saat ini tersedia di toko ponsel, online dan juga Leica Store Indonesia di Plasa Senayan.

{ 14 comments }

Salah satu pertanyaan yang sering saya terima dari pengguna kamera mirrorless Sony adalah soal memilih lensa 50mm. Lensa 50mm sering digunakan untuk berbagai jenis fotografi, diantaranya portrait, street, food, produk, street photography dan sebagainya. Saat ini, ada dua lensa ekonomis yang harga, spesifikasinya hampir sama, dan kualitasnya juga mirip. Lantas yang mana yang seharusnya dipilih?

sony-50mm-comparison

Kiri: Sony A6000 dan E 50mm f/1.8 OSS, Kanan: Sony A7II dan FE 50mm f/1.8

Faktor yang paling penting dan menentukan adalah jenis kamera yang dimiliki. Sony E 50mm f/1.8 OSS dirancang untuk kamera bersensor APS-C seperti seri Sony A6xxx, A5xxx, contohnya Sony A5100, A6000, A6300 dan seterusnya. Sedangkan Sony FE 50mm f/1.8 dirancang untuk kamera Sony bersensor full frame seperti Sony A7.

Jika memiliki seri kamera Sony A7, pilihan terbaik adalah Sony FE 50mm f/1.8, karena jika memakai Sony E 50mm f/1.8 OSS, maka resolusi foto yang tertangkap akan turun, misalnya yang tadinya 24 MP akan menjadi 10 MP.

Sedangkan jika memiliki seri kamera Sony A5xxx atau A6xxx, maka kedua lensa dapat dipasangkan dan dan tidak mengurangi resolusi. Tapi yang lebih unggul adalah Sony E 50mm f/1.8 OSS, karena lensa ini punya OSS (Stabilizer) sehingga dapat membantu saat memotret di kondisi gelap/shutter lambat.

Hal lain yang saya sukai adalah fokusnya bisa lebih dekat (39 cm dibanding 45 cm), dan fisik materialnya lebih kuat dengan bahan logam, dan sedikit lebih compact. Sony E 50mm f/1.8 OSS dari bahan plastik. Tapi secara sekilas, kedua lensa kurang lebih sama besarnya, dan mengunakan filter dengan ukuran yang sama yaitu 49mm.

Jika saat ini mengunakan kamera Sony seri A5xxx atau A6xxx, tapi di masa depan akan pindah ke sistem Sony A7, maka sebaiknya memilih Sony FE 50mm f/1.8, karena nantinya bisa digunakan di A7 tanpa mengurangi kualitas/resolusi foto.

Spesifikasi Sony FE 50mm f/1.8

  • Dimensi: 68.6 x 59.5 mm
  • Berat: 186 gram
  • Filter: 49mm
  • Fokus terdekat: 45 cm
  • Bahan: Sebagian besar dari plastik
  • Harga: 3.8 juta

Sony E 50mm f/1.8 OSS

  • Dimensi: 62 x 62 mm
  • Berat: 202 gram
  • Filter: 49cm
  • Fokus terdekat: 39 cm
  • Bahan: Casing logam
  • Harga: Rp 3.5 juta

Sudah punya kamera mirrorless Sony namun bingung settingnya? Kami punya dua panduan e-book untuk membantu.

{ 20 comments }

Kalibrasi layar Monitor Komputer di Ubuntu/Linux

Halo pembaca Infofotografi, kembali muncul lagi nih tulisan saya he he, mumpung masih awal tahun baru 2017 nggak ada salahnya ngecek ulang layar monitor laptop atau PC kita apakah warnanya udah bergeser atau tidak, kalau geser nggak ada salahnya dilakukan kalibrasi kembali he he he.

Sekalian juga saya memenuhi janji pada tulisan di sini, yaitu bagaimana cara kalibrasi layar di Ubuntu/Linux, kok tulisannya telat sihhh….? He he he iya agak telat karena memang nunggu pinjaman alat kalibrasinya berupa colorimeter bermerk Spyder Pro4, oya setahu saya sih saat ini udah sampai spyder 5 yah namun nggak apa-apa dengan spyder 4 pun sudah baik membantu untuk mendapatkan warna yang benar pada layar monitor laptop atau komputer Kita.

1

Sebelum melakukan proses kalibrasi yang perlu diperhatikan bagi pengguna linux, CD bawaan dari Spyder Pro4 tidak bisa digunakan softwarenya, karena memang CD yang dipergunakan hanya untuk sistem operasi windows dan MacOS, namun nggak perlu khawatir karena di internet banyak perangkat lunak gratis yang bekerja baik dengan spyder pro4 pinjaman saya.

lanjut membaca…

{ 0 comments }

Refleksi tahun 2016

Tahun 2016 ini saya bersyukur karena memiliki banyak kesempatan untuk traveling. Dan sebagian besar diantaranya travel yang cukup jauh. Diantaranya Yunnan (China), Perth (Australia), Jerman, Prague (Rep. Ceko), Amsterdam (Belanda), Kyoto (Jepang), Siem Reap (Kamboja). Di dalam negeri, saya juga berkesempatan mengunjungi Bromo dan Manokwari, Papua Barat untuk pertama kalinya. Sebagian besar traveling yang saya lakukan untuk kegiatan mengajar dan tur foto.

mood-1040335Kalau saya bandingkan enam tahun yang lalu dibanding saat ini, kehidupan saya dan Infofotografi sangat berubah. Dua tahun pertama, saya ibaratnya bekerja di dalam goa, bekerja sendiri dengan menulis Infofotografi. Saya tidak banyak berinteraksi dengan orang lain di dunia luar. Dua tahun berikutnya saya seperti bekerja di sebuah pulau terpencil. Saya mulai membuat kegiatan belajar mengajar kecil-kecilan. Meskipun lebih mudah menemukan dan mengunjungi sebuah pulau dibandingkan dengan mencari gua yang tersembunyi di dalam hutan, tapi tetap saja banyak yang membutuhkan jasa saya mengaku tidak mudah menemukan saya. Dalam dua tahun terakhir, transportasi antara pulau dan daratan mulai banyak yang saya bangun, dari perahu kecil sampai besar, dan juga ada jembatan.

Dua tahun terakhir saya banyak berhubungan dengan masyarakat fotografi secara luas, melalui portal detikinet.com, dari mengadakan workshop untuk beberapa merk kamera seperti Sony dan Leica. Saya juga semakin sering diundang untuk menghadiri kegiatan fotografi dan undangan peluncuran produk baru maupun menjadi juri lomba fotografi. Saya selalu berusaha menyiapkan waktu untuk menghadari acara-acara tersebut. Jikapun saya berhalangan, Erwin Mulyadi dan Iesan Liang akan menggantikan saya.

Dengan melakukan networking yang cukup aktif maka bulan Agustus 2016 ini saya akhirnya dipercayai menjadi salah satu duta dari Leica. Oleh sebab itu, saya akan mengadakan berbagai workshop dan trip foto tahun 2017 ini.

Hidup saya mengalir dan tanpa sasaran, tapi bukan tanpa ada rencana untuk kemajuan. Untuk tahun depan saya terus akan menjalankan prinsip-prinsip saya dalam membangun dunia fotografi. Saya menginginkan murid-murid dan pembaca Infofotografi mendapatkan wawasan dan pelatihan baru dari berbagai fotografer yang telah berpengalaman dalam mengajar maupun memotret. Saya berharap dua tahun kedepan, akan lebih banyak pihak yang bersedia bekerja sama dengan Infofotografi. Jangan segan-segan menghubungi kami di 0858 1318 3069 atau infofotografi@gmail.com

Dengan ditutupnya tahun 2016, saya berterima kasih kepada semua pihak yang mendukung Infofotografi, dari pembaca, murid-murid, pelanggan, peserta tour foto, toko-toko kamera, distributor, teman-teman dari Leica, Sony, Canon, Olympus, Sigma dan Panasonic yang telah mendukung Infofotografi dengan berbagai cara dan kesempatan. Semoga tahun depan lebih cerah bagi kita semua.

{ 8 comments }

Hunting di Siem Reap dengan Panasonic Lumix GX85

Trip Infofotografi ke Siem Reap, Kamboja tgl 6-1o Des 2016, saya membawa Panasonic Lumix GX85 dengan lensa Leica DG Summilux 15mm/f1.7, Lumix G Vario 12-32/f3.5-5.6 dan Lumix G Vario 35-100/f4.0-5.6. Trip ini merupakan perjalanan ketiga saya. Perjalanan pertama saya membawa Canon 650D dengan lensa 18-135mm. Perjalanan kedua membawa Sony A6000 dengan lensa 16-70mm.

Sebelum berangkat, saya sudah terlebih dahulu dibekali nasihat oleh Enche untuk lebih teliti memperhatikan setting kamera terutama memperhatikan ISO dan shutter speednya berhubung sensornya agak kecil (sensor 4/3, crop factor 2x).

Saya dan dua teman terlebih dahulu tiba di Siem Reap (tgl 5 Des 2016) berhubung sudah tidak ada flight ke Siem Reap tgl 6-nya. Sembari menunggu kedatangan rombongan, kami bertiga mengunjungi kuil yang letaknya tidak jauh dari hotel.

Untuk di luar ruangan dengan kondisi cahaya yang melimpah-ruah, saya tidak mendapatkan kesulitan untuk mengambil foto. Hasil foto juga tidak perlu diedit dan tajam.

p1070050

Setelah itu, saya beranjak memasuki halaman kuil. Nampak di dalam rumah ibadahnya, ada seorang anak kecil yang disinari cahaya. Kondisi kontras tinggi ini ternyata sulit ditangkap oleh metering kamera. Jika saya ingin mengambil kondisi dalam ruangan terang, maka posisi anak yang disinari cahaya akan over exposure. Sedangkan jika metering nya pas di anaknya, maka ruangan di dalam akan menjadi lebih gelap.

Akhirnya saya memilih exposure yang pas pada subjek anak dan membiarkan ruangan di belakangnya gelap.

p1070092

ISO 400, f/5.6, 1/80s dengan lensa 35-100mm

Untuk zoom detailnya, tanpa editing, hasil foto masih bisa diterima, agak soft hasilnya namun tidak blur.

Dengan menggunakan Lightroom, saya mengangkat exposure di bagian shadownya. Hasilnya muncul sedikit noise. Kemudian saya akali lagi dengan Noise Reduction dan menambah Sharpening. Untuk warnanya sama sekali tidak saya utak-atik.

p1070092

Siangnya, kami bertemu rombongan dan menuju Kampong Phluk dengan menggunakan kapal. Kebetulan di trip ini, kapal kami berbeda dengan kapal yang sebelumnya yaitu ada dek di bagian atas. Yuhu…

[click to continue…]

{ 8 comments }

Memasang tali kamera (strap) dengan rapi

Umumnya, kita memasang tali kamera/strap dengan cara seperti di bawah ini

Saya sendiri awalnya juga memasang seperti cara yang di atas. Namun, saya merasa terganggu dengan adanya sisa tali yang menjulur keluar. Oleh karena itu, saya mencoba untuk mencari cara lain supaya sisa ujung tali tidak mengganggu. Ternyata dengan cara kedua ini, tali kamera kita tampak lebih rapi.

{ 2 comments }

Rahasia dibalik foto yang tajam

Mendapatkan foto yang tajam merupakan hal yang sangat penting bagi semua fotografer. Bagi Fotografer Komersial hal tersebut dapat memberi nilai tambah pada hasil fotonya yang nantinya akan diberikan kepada klien-kliennya. Para professional diluar sana menyebutnya “Tack Sharp” yang menggambarkan tingkat ketajaman tertinggi, temperatur warna yang pas, serta tidak ada bagian yang kabur.

Dengan begitu foto anda akan lebih nyaman dilihat.

pradipta-pantai-sanur-bw

Tips-tips berikut ini dapat anda terapkan :

1. Gunakan Tripod

Walaupun terdengar merepotkan, gunakanlah tripod jika situasi memungkinkan. Kelebihan dari tripod adalah membuat kamera lebih stabil dibanding menggunakan tangan. Tripod juga sangat membantu jika anda memotret pada kondisi cahaya gelap, karena pada kondisi tersebut otomatis rana yang digunakan lebih lambat. Jika anda memiliki uang lebih, tidak ada salahnya menginvestasikan uang untuk membeli tripod, pasalnya tripod ini dalam beberapa tahun tidak mengalami perubahan secara signifikan.

[click to continue…]

{ 14 comments }

Selamat Tahun baru 2017! Awal tahun ini, kita akan kedatangan fotografer dan penulis dari Yogyakarta. Ia adalah Taufan Wijaya, penulis buku “Foto Jurnalistik” (2014) dan “Photo Story Handbook” (2016). Taufan adalah kontributor media asing dan penerima beasiswa magister (MA) in Journalism di Ateneo de Manila University.

Di dalam acara ini, Taufan akan berbagi ilmu dan pengalaman tentang bagaimana membuat rangkaian photo story yang baik, dan membahas kendala-kendala yang dihadapi dan bagaimana cara mengatasinya. Jangan lewatkan kesempatan yang baik ini.

Latterns released by devotee and monks after Vesak Day ceremony at the Borobudur temple in Magelang, Central Java, Indonesia, in early morning on May 15, 2014. Vesak Day, one of the holiest days for Buddhists, celebrate not only Buddha's birthday, but also his enlightenment and achievement of nirvana.

Latterns released by devotee and monks after Vesak Day ceremony at the Borobudur temple in Magelang, Central Java, Indonesia, in early morning on May 15, 2014. Vesak Day, one of the holiest days for Buddhists, celebrate not only Buddha’s birthday, but also his enlightenment and achievement of nirvana. – Taufan Wijaya

Acara ini akan diselenggarakan pada :
Hari/Tanggal : Sabtu, 21 Januari 2017
Waktu : 13:00 s/d 16.00 WIB
Tempat : Infofotografi, Jl. Imam Mahbud No. 8B2 Jakarta Pusat

Biaya pendaftaran: Rp 50.000 /orang
Terbuka untuk umum, tempat terbatas (30 peserta) saja.

Pembayaran dapat ditransfer ke Enche Tjin via BCA 4081218557 atau Mandiri 1680000667780 Kalau sudah transfer tolong konfirmasi ke 0858 1318 3069 / infofotografi@gmail.com. Terima kasih atas partisipasinya.

{ 2 comments }

Refleksi sembilan foto terfavorit Instagram 2016

Menjelang pergantian tahun, ada suatu tradisi dimana instagramer membuat kolase sembilan foto yang paling banyak difavoritkan kemudian mempostingnya di Instagram. Cara gratis dan cepat untuk membuatnya adalah melalui website 2016bestnine. Di akhir tahun 2015 yang lalu saya pernah membuatnya dan di akhir tahun ini saya juga ingin meneruskan tradisi ini.

enchetjin_best-ig-2016Dengan membuat ini, saya dapat mengetahui dan mempelajari foto-foto apa yang disukai oleh pengguna Instagram. Untuk tahun ini, sembilan foto yang paling disukai terbagi dari beberapa kategori. Ada dua foto pemandangan malam hari di kota Amsterdam, Belanda. Ada tiga foto bertema alam (nature) yaitu pohon berdaun merah di kuil Ginkakuji, Kyoto, Jepang, pohon Mangrove di Kamboja, dan salah satu curug di dalam kompleks Curug Nangka, Bogor. Dua pemandangan matahari terbit yang saya buat di Bromo juga masuk. Dua lainnya adalah foto portrait. Pertama adalah foto portrait saya sendiri untuk profile pic sebagai Leica Ambassador, dan satu lagi foto penjual lilin di kota Hoi An, Vietnam.

Sayangnya semua foto diatas merupakan gambar yang dibuat di akhir tahun, padahal di awal tahun masih banyak foto saya yang cukup banyak disukai. Tapi karena awal tahun pengikutku (followers) lebih sedikit, maka jumlah “likes” otomatis lebih sedikit.

Kolase diatas saya atur kembali supaya tidak terpotong. Kebanyakan foto saya beraspek rasio 3:2 dan 4:5 bukan bujursangkar 1:1

Beberapa foto favorit saya dari awal tahun sampai pertengahan tahun antara lain:

Matilda BoathousePerth at night, Tsukiji Market, Intan Sapta, Myorenji temple in Sakura ,Yuanyang tiny house, Taisekiji temple at twilight, dan banyak lagi di instagram saya.

Setelah saya perhatikan, pengikut instagram saya ternyata suka foto-foto yang warnanya cukup pekat, dan yang dibuat di kondisi cahaya yang agak gelap, misalnya di malam hari atau menjelang matahari terbit dan tenggelam.

Di kondisi tersebut, memotretnya tentunya tidak mudah, belajar fotografi tetap sesuatu yang penting, supaya kita bisa foto di kondisi kapan saja, dalam kondisi terang, atau kondisi kurang cahaya. Harapan saya untuk semua, mudah-mudahan tahun depan kita semua dapat menghasilkan foto yang lebih berkualitas lagi. Terima kasih untuk likes & loves nya. Sampai jumpa tahun depan.

{ 5 comments }

Leica SL 24-90mm f/2.8-4 Review

Lensa pertama untuk sistem kamera Leica SL adalah lensa Leica Vario-Elmarit-SL 1:2.8-4/24-90 ASPH. Lensa ini cukup besar dengan panjang 13.8cm, filter 82mm dan berat (1140 gram). SL 24-90mm memiliki 18 elemen, 4 permukaannya asperikal, sebuah elemen untuk image stabilization (OIS) dan satu elemen lagi untuk fungsi autofokus.

Leica-ambassador-enche-tjinDesain lensa yang rumit ini karena berbagai faktor. Memasukkan elemen OIS di lensa zoom dapat mengurangi kualitas gambar, oleh sebab itu tata letak dan elemen lensa harus disesuaikan untuk melawan efek ini. Ditambah lagi Leica memiliki persyaratan yang cukup berat, yaitu lensanya minimal harus bagus (40 lp/mm) di setiap aperture dan focal length lensa. Selain itu, lensa ini juga harus bisa fokus dengan jarak yang cukup dekat (30 cm di 24mm, dan 45 cm di 90mm).

Dengan persyaratan yang ketat, maka lensa ini ukuran dan beratnya tidak kalah dengan lensa DSLR profesional. Tujuan Leica membuat lensa seperti ini adalah untuk kebutuhan fotografer yang menginginkan lensa serba bisa yang kualitasnya bagus dan konsisten disetiap focal length dan aperture.

Lensa Leica SL 24-90mm ini kadang dikritik karena bukaan maksimumnya tidak konstan, tapi berubah. Begini schedulenya:

Variable aperture of 24-90mm SL
24mm f/2.8
28mm f/2.9
35mm f/3.1
50mm f/3.6
75mm f/3.9
90mm f/4

 

Mengapa tidak dibuat konstan saja misalnya 24-90mm f/2.8? Masalahnya jika dibuat konstan akan membuat ukurannya lebih besar lagi atau kualitasnya dikompromikan. Dari pengalaman saya, Leica SL 24-90mm f/2.8-4 paling optimal saat digunakan di sekitar 35-75mm, dan saat digunakan di jarak fokal terujung, misalnya 24mm dan 90mm, saran saya ditutup sedikit bukaannya ke f/4 dan f/5.6 untuk ketajaman yang lebih baik.

Saya juga mendapatkan bahwa depth of field/ruang tajam saat mengunakan lensa ini cukup tipis. f/4 terasa seperti mengunakan f/2.8, bahkan saat mengunakan f/8 dengan jarak yang cukup dekat, blur sudah cukup terasa. Mungkin karena konstruksi lensanya, mungkin juga karena kombinasi dengan kamera sensor full frame yang cukup besar.

missing-fall

Kesimpulan

Tidak mudah membuat lensa zoom profesional berbukaan besar dengan rentang zoom yang cukup panjang. Biasanya, lensa-lensa kamera DSLR membuat 24-70mm f/2.8, tapi kelemahannya adalah 70mm terasa kurang panjang untuk portrait/candid. Sehingga sebagian besar fotografer harus membawa lensa 70-200mm atau harus mengunakan lensa 24-105mm/24-120mm f/4 yang standarnya dibawah 24-70mm. Leica telah memperhatikan dan mempertimbangkan kebutuhan fotografer dokumenter/liputan dengan mewujudkan lensa ini.

ice-cream-bokehPlus-minus Leica SL 24-90mm f/2.8-4

+ Kualitas gambar yang dihasilkan sangat baik
+ Autofokus cepat dan tidak bersuara
+ Punya image stabilization
+ Tahan cuaca ekstrim, debu dan cipratan air.
+ Kokoh, casing terbuat dari logam
+ Dapat fokus cukup dekat
+ Bokeh keren, ada khas Leica-nya.
– Agak besar dan berat
– Lens hood cukup besar ala camcorder, bahan dari plastik
– Bukaan tidak konstan

{ 9 comments }