≡ Menu

Bicara tentang fotografi tentu tidak bisa lepas dari membahas tentang cahaya, dan bila membahas cahaya maka terbayang akan sebuah alat yang bernama flash eksternal. Dengannya, seorang fotografer bisa mengatur pencahayaan setiap memotret, sehingga didapat hasil foto yang lebih sesuai keinginan. Memang sih di kamera ada yang disebut dengan built-in flash, namun sayangnya selain kekuatannya kecil, dia juga tidak bisa diatur terlalu banyak. Sebaiknya setiap fotografer memiliki minimal satu flash eksternal, baik yang satu merk dengan kameranya ataupun flash buatan pihak ketiga. Saya kerap menemui orang yang masih bingung dalam memakai flash dan cenderung yakin pada hal-hal yang belum tentu benar karena sudah terlanjur jadi salah kaprah di kalangan pengguna flash.

Berikut diantaranya, lima hal yang orang sering salah pahami mengenai flash eksternal :

Flash eksternal jenis TTL lebih bagus dari flash manual (non TTL)?

Flash eksternal dipasang di atas kamera melalui hot shoe, sebuah dudukan flash yang mengandung pin kontak data. Untuk memastikan semua fitur flash ekstrernal bisa berfungsi, maka diperlukan flash yang kompatibel dengan merk kamera yang dipakai, sehingga kamera dan flash bisa saling berkomunikasi. Itulah gunanya memakai flash yang TTL, sehingga dalam penggunaan juga jadi lebih mudah karena kekuatan flash diatur secara otomatis oleh kamera. Di lain pihak flash manual tidak memiliki kemampuan berkomunikasi data dengan kamera secara data, tapi hanya menunggu sinyal sync dari kamera yang artinya bila kita memotret maka flash bisa ikut menyala. Tapi seberapa kuat flashnya, kita lah yang mengatur melalui tombol ada roda di flash (bukan di kamera). Nah, kalau kita mengatur flash manual dengan kekuatan yang pas, maka pada dasarnya tidak ada bedanya dengan flash TTL, cuma yang TTL memang lebih praktis dan mudah (walau lebih mahal).

Pakai flash hanya saat malam/gelap?

Foto ini diambil saat malam, tapi saya justru tidak pakai flash karena ingin memanfaatkan cahaya lingkungan (ambient light)

Prinsipnya saat gelap maka kita perlu cahaya bila ingin memotret, supaya hasilnya tidak hitam total. Tapi yang namanya malam hari itu tidak selalu harus pakai cahaya flash, kalau cahaya alami bisa ditangkap dengan shutter lambat supaya lebih artistik, flash justru tidak diperlukan, misalnya saat memotret suasana kota di malam hari. Sebaliknya, saat siang hari kalau kita memotret orang di luar, bisa jadi bagian wajahnya agak gelap karena backlight atau pakai topi, nah itu saatnya dibantu pakai flash. Artinya, siang hari belum tentu tidak perlu flash ya, bisa jadi siang pun kita butuh flash eksternal.

Pakai flash selalu di bounce?

Ini juga banyak saya temui. Orang pakai flash di bounce (diarahkan ke atas) tanpa paham kegunaannya, adalah hal yang lucu menurut saya. Bounce adalah teknik membuat flash bisa menjadi lebih lembut dengan cara dipantulkan pada sesuatu yang datar, putih, dan dekat (umumnya langit-langit rumah). Saat kita berada di luar ruangan, justru flash harus dipakai secara direct atau langsung ke subyek, jangan di bounce terus, buat apa?

Flash besar dan kecil sama saja?

Tergantung, flash eksternal yang kecil memang lebih enak buat dibawa, tidak berat dan repot. Tapi yang kecil biasanya ditenagai oleh dua baterai AA dan ini tentu berdampak pada kekuatan dan kecepatan (jeda) antar nyala flash. Bila subyeknya jauh, atau mau di bounce ke langit-langit, atau dipakai outdoor siang hari untuk melawan matahari, maka flash yang ukurannya besar dengan kekuatan yang lebih besar juga (GN 40 ke atas) akan lebih membantu dan bisa diandalkan. Jadi besar kecil tidak sama, dalam banyak hal yang besar bisa lebih diandalkan.

Flash warnanya aneh?

Soal warna, bukan salah flash kalau hasilnya tidak natural. Yang pasti flash dibuat dengan standar warna putih yang mendekati warna matahari siang (daylight) dan selama WB di kamera kita pilih daylight (atau WB simbol flash juga boleh) maka semestinya warna yang didapat akan natural. Atau bila memotretnya pakai file RAW maka bisa juga soal warna ini dikoreksi di editing. Masalahnya kadang kita memadukan flash dengan cahaya ruangan yang kuning, dan kita pakai WB Auto, maka dalam hal ini kamera akan bingung dalam mengatur Auto WB sehingga warnanya jadi aneh. Untuk itu hindari memadukan flash dengan sumber cahaya lain yang warnanya tidak putih supaya kita tidak bingung soal warna.

Saya memutuskan pakai flash meski siang hari untuk menyeimbangkan pencahayaan antara subyek dan sekitarnya. Flash eksternal yang dipakai punya kekuatan besar GN60 dan ini membantu karena karena posisi saya jauh dari subyek dan untuk melawan matahari terik juga, tentunya cara memakai flashnya tidak dengan cara bounce tapi langsung ke subyek.

Berikut video 5 Mitos tentang flash eksternal di Youtube:


Bagi anda yang masih bingung dalam mengatur setting flash dan memaksimalkan penggunaan flash, bisa memesan ebook PDF flash eksternal atau menghubungi Iesan di 0858-1318-3069 untuk membuat jadwal belajar privat flash dengan saya. Untuk jadwal kursus dan workshop selengkapnya bisa dilihat disini.

{ 0 comments }

Biasanya lensa telefoto yang berkualitas tinggi selalu berat dan besar, tapi Zeiss Batis 135mm ini berbeda. Batis adalah nama keluarga lensa yang dibuat oleh Zeiss secara ekslusif untuk kamera Sony E-mount (mirrorless). Filosofi Batis adalah lensa-lensa berkualitas tinggi tidak harus selalu besar dan berat & harus praktis digunakan baik di dalam atau diluar ruangan.

Berbeda dengan lensa-lensa Zeiss pada umumnya, Zeiss Batis adalah satu-satunya keluarga lensa Zeiss yang memiliki fungsi autofokus dan memiliki LED panel digital penunjuk jarak fokus dan ruang tajam. Dari fisiknya, desain lensa-lensa Batis lebih condong ke gaya futuristik daripada klasik.

Dibandingkan tren dua-tiga tahun terakhir, sebagian besar pabrikan lensa berlomba membuat lensa berkualitas tinggi dengan bukaan sangat besar, diantara f/2 dan f/1.8. Zeiss memutuskan untuk membuat bukaan maksimal f/2.8 untuk lensa Batis 135mm ini. Alasannya  terkait dengan konsep Batis yang mengedepankan portabilitas.

Dibandingkan dengan lensa fix 135mm untuk DSLR ataupun mirrorless, Batis 135mm terasa lebih ringan. Berat Batis 135mm adalah 614 gram dan panjang 12 cm tanpa hood. Meskipun ringan, Batis ini sudah weathersealed, jadi fotografer tidak perlu kuatir untuk memotret di cuaca buruk seperti hujan.

Keunikan lain Batis adalah punya optical stabilization di lensa yang sangat membantu saat memotret di kondisi kurang cahaya. Dengan optical stabilization di lensa, saya bisa memotret subjek diam dengan tajam di shutter speed 1/8 detik secara konsisten.

[click to continue…]

{ 6 comments }

Mentoring cityscape rooftop Sudirman

Halo pecinta foto cityscape khususnya yang suka memotret dari atap gedung, di bulan Juli 2019 ini adalah kesempatan spesial untuk mendapat view keren gemerlap gedung di Jakarta dari atap gedung terkemuka di jalan Thamrin yang pastinya sayang untuk dilewatkan. Pada acara mentoring ini tentunya saya juga akan mengajarkan teknik memotret cityscape yang baik seperti pengaturan setting kamera, komposisi dan teknis fotografinya.

Acara dijadwalkan pada :

  • hari : Jumat, 5 Juli 2019
  • waktu : 16.30-19.00 WIB
  • tempat : WTC Sudirman
  • meeting point : diberitahu kemudian

Pendaftaran/info lebih lanjut bisa ke 0858-1318-3069 / infofotografi@gmail.com

Peralatan yang dibutuhkan :

  • kamera dengan tali /strap terpasang
  • lensa lebar (16mm di full frame / 10mm di APS-C akan lebih ideal)
  • tripod yang kokoh
  • filter GND, remote/cable release sifatnya opsional (boleh dibawa bila ada)
  • perlengkapan pribadi (air, jaket, senter dll)
{ 0 comments }

Review Sony RX0 II kamera mungil tapi tangguh

Banyak orang yang mengira Sony RX0 II adalah actioncam, tapi banyak orang salah paham. RX0 meski kecil dan punya sifat seperti actioncam seperti tahan air dan bisa underwater sampai 10 meter, tahan banting (tahan dijatuhkan dari ketinggian 2 meter) tapi RX0 memiliki sensor 1 inci, sehingga kualitasnya mirip dengan kamera compact premium seri RX100 dan lebih baik dari kamera actioncam/ ponsel pada umumnya.

Review Sony RX0 II di Youtube:

Kualitas kamera RX0 II untuk foto dan video sama bagusnya, tidak seperti kamera actioncam yang dioptimalkan untuk video saja. Untuk handling-nya memang kalau cuma pegang kameranya saja agak sulit karena selain fisiknya kecil sekali, tidak ada pegangan dan tidak punya cantelan untuk tali kamera.

Kelebihan RX0 II dari generasi sebelumnya adalah punya layar yang bisa dilipat ke depan untuk selfie/vlogging. Supaya lebih nyaman dan aman untuk foto dan video, Sony menyediakan shooting grip khusus untuk kamera ini.

Shooting grip VCT-SGR1 dijual terpisah, saat pre-order ada bonus paket dengan grip ini. Dalam pengalaman saya mengunakan kamera ini, grip ini sangat membantu dan bisa saya bilang “harus punya” supaya saat memotret atau merekam video lebih oke.

Untuk memotret tinggal pencet tombol Photo dan untuk merekam video tinggal tekan tombol Movie, sedangkan kalau tidak mengunakan grip ini, pengguna perlu masuk ke menu untuk mengubah dari mode foto ke video atau sebaliknya, sehingga jadi repot.

Terdapat port untuk memasang mic audio external. Untuk memasangnya, kita bisa mengunakan aksesoris bracket dari Sony. Juga ada port untuk charging dan mengunakan memory card type micro SD. Saat mengunakan grip dengan pintu port terbuka, tentunya tidak tahan air.

Saat saya coba untuk selfie, kualitas foto & videonya sangat baik, sangat detail dan punya kesan dimensi karena depth of field (ruang tajamnya) tidak terlalu dalam. Saat dipakai untuk merekam video dan vlog dengan berjalan, kualitas gambarnya tajam dan meski tidak ada built-in stabilization secara hardware, saya mendapatkan videonya masih enak dinikmati.

Jika ingin video footagenya sangat stabil dan mulus, RX0 II bisa dihubungkan dengan aplikasi Imaging Edge Movie Edit Add-on. Setelah import video ke App ini, maka video akan otomatis akan di stabilized, tapi video akan sedikit di cropping (jadi agak sempit).

RX0 II punya baterai yang relatif cukup besar mengingat kamera ini sangat kecil, dan bisa di charge melalui USB dan bisa diganti. Kapasitas baterai cukup baik untuk penggunaan foto-video. Saya mengunakannya kira-kira setengah hari dan baterai masih bersisa.

Kamera ini cocok untuk petualang yang suka traveling jauh dan butuh kamera yang cukup tangguh tapi mungil dan mampu merekam foto dan video dengan kualitas yang lebih bagus dari sekedar pakai ponsel.


Bagi yang berminat dengan kamera ini, kami dapat membantu. Hubungi Iesan 0959 1319 3069 via WA.

Yang ingin ikutan belajar foto dan mengikuti trip foto silahkan kunjungi jadwal kami di halaman ini.

{ 2 comments }

Review Kamera DSLR Canon 200D Mark II

Canon mengeluarkan kamera DSLR terbaru yaitu Canon 200D Mark II (nama lainnya SL3 untuk pasaran Amerika, dan 250D untuk pasaran Eropa). Variannya ada tiga yaitu warna hitam, warna putih dengan grip abu-abu dan warna perak dengan grip coklat). Kamera ini termasuk golongan kamera pemula karena bentuknya kecil, bobotnya yang ringan hanya 402gram untuk body, 654gram dengan lensa kit 18-55mm. Para pengguna yang baru pertama kali menggunakan kamera ini akan sangat terbantu karena banyak mode otomatis.

Kamera bersensor APS-C dan resolusi 24.1 Mega pixel ini sudah mendukung layar sentuh baik dalam mengubah-ubah setting ataupun memilih titik fokus. Selain itu, kamera ini memiliki layar yang dapat diputar ke depan sehingga memudahkan untuk pengambilan sudut yang sulit (misal terlalu rendah, terlalu tinggi ataupun untuk selfie dan vlog).

Dalam penggunaannya, jendela bidik sangat membantu untuk pengambilan gambar di saat cuaca terik dan lebih menghemat baterai. Untuk penggunaan live viewnya akan ada jeda sebentar saat mengambil foto karena kamera perlu mengangkat cermin. Suara jepret yang dihasilkan oleh kamera ini juga sedikit mengganggu jika ingin diam-diam mengambil foto karena tidak mendukung silent shooting seperti pada kamera mirrorless.

Untuk rentang ISO nya memang dapat dipilih dari 100-25600 (bisa ditingkatkan ke 51200) namun untuknoise yang bisa diterima saya kira batasannya di 800. Namun untuk kebutuhan yang hanya ditampilkan di sosial media, untuk ISO 6400 masih bisa diterima.

ISO 6400, f/5, 1/25s di rentang 21mm

Kamera ini juga sudah mendukung perekaman video dengan resolusi FHD maupun 4K (ada crop 1.7x) dan stabilizernya mengandalkan stabilizer di lensa sedangkan di bodynya ada Movie Digital IS. Jika diaktifkan, akan ada crop dari framingnya lagi sehingga jika kita ingin menggunakan resolusi 4K dan mengaktifkan stabilizernya disarankan untuk menggunakan lensa yang lebih lebar. Ilustrasi untuk hasil crop videonya ada di video di bawah ini.

Untuk fotografer yang memilih kamera ini, maka akan mendapatkan kemudahan untuk pilihan lensa-lensa DSLR baik dari Canon maupun dari pihak ketiga, mau dari rentang harga yang murah sampai mahal juga mudah didapatkan. Akan tetapi, fotografer harus membeli flash dari merk Canon saja dan tidak bisa menggunakan flash manual ataupun flash pihak ketiga.


Kamera ini telah diluncurkan di Indonesia, bagi yang berminat memesan bisa hubungi saya di 0858 1318 3069. Trims.

Bagi yang ingin belajar penggunaan kamera dan dasar fotografi bisa mengecek jadwalnya di sini dan ada juga e-book untuk membantu pemahaman fotografi.

 

{ 0 comments }

Tren kamera medium format yang ukurannya makin ringkas dengan harga jual yang semakin rendah sepertinya sedang terjadi. Kali ini produsen kamera asal Swedia, Hasselblad mengumumkan generasi kedua dari kamera X1D dengan tidak merubah sensornya tapi banyak hal lain seperti bodi, kecepatan fokus, prosesor, layar LCD dan jendela bidiknya. Tetap dengan sensor 50 MP dengan permukaan 44×33 mm (1,7x lebih luas daripada permukaan sensor full frame), kini dikemas dalam bodi yang berbahan logam dengan grip yang enak digenggam, dengan konsep desain modern minimalis.

Hasselblad mengatakan bahwa meningkatkan kecepatan operasional kamera adalah salah satu tujuan utama mereka dalam merancang kamera ini. Dengan prosesor baru didapat peningkatan waktu nyala 46% lebih cepat, demikian juga dengan shutter lag dan waktu blackout di jendela bidik juga telah berkurang. Layar LCD yang sekarang berukuran 3,6 inci dengan resolusi 2,36 juta titik, mendukung layar sentuh dengan antarmuka yang dirancang ulang untuk lebih mudah dinavigasi. Pada sektor jendela bidik OLED memakai resolusi 3,69 juta titik dan perbesaran 0,87x dan 60 fps.

Yang mengejutkan, kamera Hasselblad X1D II ini akan dijual dengan harga yang lebih terjangkau daripada yang versi I, yaitu $5750 atau Rp 83.375.000 (patokan kurs 1 USD = Rp 14.500).

Desain antarmuka Hasselblad juga ditingkatkan dengan struktur menu yang sederhana dan mudah dibaca, terutama karena desain LCD nya yang relatif besar dan beresolusi tinggi.

[click to continue…]

{ 0 comments }

Cara update firmware flash Godox V860IIC

Saya punya sebuah flash Godox V860IIC yang biasa saya pakai untuk di DSLR Canon 70D. Salah satu fitur flash tersebut adalah terdapat port USB untuk firmware update. Tadinya saya berpikir apa perlunya update, dan lagipula apakah akan tersedia firmware updatenya di masa depan? Toh ini kan ‘cuma’ sebuah flash. Tapi setelah mulai ramai kabar kalau beberapa DSLR Canon terbaru ‘bermasalah’ dengan flash pihak ketiga, ditambah kabar adanya sebuah update firmware penting dari Godox untuk mengatasi masalah itu, lantas saya mulai mencari tahu bagaimana caranya.

Dari halaman download Godox, tampak bahwa untuk flash V860IIC pada 26 April 2019 sudah dirilis firmware terkini versi 1.8 untuk mengatasi masalah kompatibilas dengan DSLR Canon terbaru seperti 1500D dsb. Bagi anda yang pakai flash Godox TT685C pastikan melihat firmware yang sesuai (versi 3.4).

Daftar pilihan update yang tersedia, dalam hal ini saya pilih yang V860IIC dan per tahun ini tersedia sampai versi 1.8

Saya akhirnya mencari tahu bagaimana proses updatenya dan sudah berhasil melakukan update hingga flash saya meningkat dari versi 1.3 menjadi versi 1.8. Bagi anda yang ingin tahu prosesnya, saya susunkan panduan langkahnya beserta tangkapan layar yang bisa saya ambil.

Isi program update G1 yang di download dari web Godox

Langkah 1 adalah persiapan :

  • download software Godox G1 dan firmware yang sesuai disini
  • ekstrak .rar file yang sudah di download menjadi .exe dengan WinRar atau 7Zip
  • instal file Godox_G1_Ver0.2.exe  (kecuali Windows 10 jangan instal dulu sebelum anda lakukan prosedur tambahan yang saya tulis di bagian berikutnya)
  • siapkan kabel USB yang berkualitas baik saat akan menghubungkan flash ke komputer

Beginilah proses instalasi program Godox G1 berjalan..

dan setelah instalasi program Godox G1, otomatis dilanjutkan dengan instalasi driver perangkat, baru setelah itu klik Finish.

Langkah 2, gambaran proses secara umum :

  • penting : flash harus dalam keadaan OFF saat akan di-update
  • sambungkan flash ke komputer via kabel USB, Windows akan instalasi driver
  • buka software Godox G1 di komputer
  • dari software Godox G1, klik Select File lalu cari firmware yang sudah kita download (berekstensi .fri)
  • setelah memilih file, klik connect
  • setelah terkoneksi, klik Upgrade
  • tunggu hingga selesai, bila sudah klik Disconnect dan Exit

[click to continue…]

{ 0 comments }

Masa depan kamera, akankah tergerus ponsel?

Pada segmen Ngobrol santai di channel Youtube infofotografi, saya dan Enche membahas tentang masa depan kamera digital ditengah serbuan ponsel canggih yang kamera dan hasil fotonya semakin membaik. Di video berdurasi 20 menitan ini dibahas tentang perkembangan kualitas kamera di ponsel, lalu mengenai fenomena penggunaan kamera digital di kalangan fotografer, bagaimana upaya produsen kamera bertahan dengan strategi meningkatkan kualitas kamera dan lensa (walau membuat jadi semakin mahal) hingga memprediksi tipologi pengguna kamera ke depan. Videonya bisa disaksikan disini :

Bagi saya, peningkatan spesifikasi kamera adalah sesuatu yang perlu diapresiasi, termasuk mengenalkan fitur baru yang bisa membantu fotografer menghasilkan foto yang lebih baik. Demikian juga dengan lensanya yang semakin meningkat ketajamannya, siapa yang tidak tertarik. Namun bila kemudian kamera masa kini jadi semakin besar, dan semakin mahal, maka kamera digital jadi seperti sebuah sesuatu yang tidak terjangkau oleh masyarakat banyak. Oke, sejauh ini mungkin sepertinya tidak terlalu masalah, tapi ingat disaat yang bersamaan perkembangan teknologi ponsel terus meningkat dan itu termasuk kameranya. Faktanya, dalam membeli sebuah ponsel, spesifikasi kamera menjadi salah satu aspek yang diprioritaskan calon pembeli ponsel. Rupanya dengan kamera yang bagus pada sebuah ponsel, banyak orang akhirnya merasa cukup dengan hasil fotonya, apalagi bila hanya untuk berbagi di media sosial atau jaringan pesan instan.

Rupanya fotografi di era sekarang disikapi beragam oleh masyarakat modern. Paradigma yang berkembang bahwa fotografi adalah bagian dari daily life, mengedepankan kepraktisan dan kecepatan dalam berbagi foto melalui ponsel. Foto yang diambil bahkan hampir tidak pernah masuk ke komputer untuk disimpan atau diedit, apalagi dicetak. Bahwa hasil foto dari kamera ponsel, bagaimanapun tidak bisa disamakan dengan kamera ‘betulan’ ternyata bukan masalah bagi sebagian pengguna kamera ponsel. Dengan gimmick seperti kecerdasan buatan AI, efek bokeh, megapiksel tinggi, dan sebagainya membuat orang menganggap ponsel juga sudah mumpuni dan mencukupi.

Tapi kan tetap saja seorang fotografer perlu gear, perlu memiliki kamera beserta lensa dan aneka aksesori penunjang, untuk memenuhi hobinya atau profesinya. Disini saya melihat kalau mereka akan terbagi dua kelompok, yaitu yang merasa cukup dengan gear yang basic, dan mereka yang mencari spek dan kualitas tanpa kompromi. Peralatan fotografi memang tidak murah, tapi selalu ada yang lebih murah daripada yang lain. DSLR atau mirrorless 10 jutaan adalah contoh alat yang umum dicari banyak orang karena harganya masih terjangkau, meski relatif lebih mahal dibanding ponsel pada umumnya. Kamera yang lebih mahal biasanya tidak terlalu berbeda dalam hasil foto, melainkan pada hal-hal lain seperti kecepatan, fitur, auto fokus dan ketangguhan bodinya. Dalam obrolan kami di Youtube ini, Enche memandang kalau kini sharing menjadi sesuatu yang penting, semestinya produsen kamera juga sebaiknya meningkatkan fitur yang lebih memanjakan generasi modern yang ingin dengan cepat berbagi foto, misalnya dengan adanya sistem operasi di dalam kamera, seperti layaknya sebuah ponsel.

Anda sendiri apakah punya pendapat, soal bagaimana semestinya kamera digital ini berevolusi menghadapi ponsel yang kameranya semakin baik? Apakah anda lebih menikmati fotografi dengan berbagai gear dan setting kamera, atau suka akan kepraktisan dan otomatisasi (AI) dari ponsel untuk memenuhi hobi fotografi? Silahkan tulis di kolom komentar dibawah ini ya..

{ 3 comments }

Mengapa lensa mirrorless terbaru besar dan mahal?

Ada beberapa pemirsa Infofotografi di Youtube menanyakan mengapa diameter lensa ada yang besar dan ada yang kecil padahal jarak fokal dan bukaan lensa mirip?

 Bahasan melalui Youtube channel Infofotografi:

Canon EOS RF 50mm f/1.2 yang baru cukup membingungkan, karena lensa ini adalah lensa untuk kamera mirrorless Canon EOS R yang relatif baru, tapi kok ukurannya jauh lebih besar daripada lensa DSLR?

Kita tau bahwa Canon memiliki lensa DSLR Canon EF 50mm f/1.2 L, yang ukurannya lebih kecil dan ringan. Harganya pun tidak terlalu mahal.

Ada beberapa faktor yang menentukan, diantaranya:

  1. Lensa yang dirancang untuk sensor berukuran kecil otomatis ukurannya bisa lebih kecil (APS-C, Four Thirds)
  2. Lensa baru yang disiapkan untuk kamera beresolusi besar (50MP+) ukurannya akan lebih besar daripada lensa lama yang disiapkan untuk kamera film atau yang beresolusi kecil (12MP)
  3. Lensa baru yang kualitas gambarnya lebih bagus akan lebih besar karena perlu banyak elemen lensa untuk memperbagus ketajaman, mengurangi kelemahan/penyimpangan fokus cahaya ke lensa dst.
  4. Lensa baru jika ingin autofokusnya cepat, dan tahan cuaca ekstrim biasanya lebih besar daripada lensa manual fokus.

[click to continue…]

{ 2 comments }

Workshop : Portrait model Angelic

Halo pembaca infofotografi dan penggemar foto model. Anda tentu sudah tahu kalau beberapa kali kami sudah mengadakan workshop foto potret dengan berbagai konsep yang berbeda-beda. Nah kali ini workshop foto konsep hadir kembali dan akan membawakan Tema : Angelic.

Dalam workshop ini peserta langsung praktik foto portrait model di studio dengan mengunakan cahaya alami, continuous (LED) dan flash. Peserta acara ini diharapkan sudah memahami dasar fotografi dan setting kamera.

Workshop ini bertujuan supaya penghobi fotografi atau yang beraspirasi untuk menjadi fotografer profesional dapat berlatih dan mengembangkan portfolio masing-masing.

Saksikan behind the scene photoshoot di Youtube channel kami:

[click to continue…]

{ 0 comments }