≡ Menu

Tour Fotografi Sumbar 28-29 Maret 2020

Tour fotogafi ke Sumatera barat kembali hadir bersama infofotografi untuk yang ke empat kalinya, setelah tur perdana, kedua dan ketiga, maka di tahun 2020 ini kita kembali akan melihat atraksi pacu jawi, dan juga menikmati keindahan alam provinsi Sumbar.

Pesona alam Bukittinggi, Sumbar

Tur ini dijadwalkan pada tanggal 28-29 Maret 2020 dengan jumlah peserta 8-9 orang, bersama saya Erwin Mulyadi sebagai pendamping sekaligus mentor fotografi di lapangan.

Rencana kegiatan :

Sabtu pagi, 28 Maret 2020 kumpul di bandara Minangkabau, lalu menuju istana Pagaruyung Batusangkar, lalu kita lanjut memotret Pacu Jawi hingga sore. Perjalanan dilanjutkan ke Bukittinggi untuk menikmati sunset dari Puncak Lawang. Setelah makan malam lalu check-in hotel di kota Bukittinggi.

Minggu pagi, 29 Maret 2020 setelah sarapan dan check-out, kita ke Ngarai Sianok dan lanjut ke Lembah Harau menikmati tebing yang megah dengan air terjun tercurah dari atas tebing. Lepas makan siang kita kembali ke kota Padang dan mampir di air terjun Lembah Anai, lalu mencari oleh-oleh di kota Padang. Malamnya kita ke kembali ke bandara.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Hari ini FujiFilm global memperkenalkan penerus dari kamera seri X-T termurah X-T100 yang kini bernama Fuji X-T200. Masih dengan desain fisik yang sama, Fuji X-T200 kini memakai desain layar lipat yang sama dengan X-A7 termasuk sama-sama pakai layar sentuh 3,5 inci aspek rasio 16:9 yang lebih lebar. Sebagai kamera mirrorless kelas pemula, Fuji X-T200 juga tetap memakai sensor APS-C 24 MP Bayer (bukan X-Trans) meski kini ditingkatkan fiturnya dengan copper wiring di dalamnya, sehingga jalannya sinyal lebih cepat dan menekan rolling shutter saat rekam video.

Fuji X-T200, kini bobotnya hanya 370g atau 80g lebih ringan daripada X-T100

Peningkatan yang diberikan Fuji lebih ke kinerja, bukan tampak luar. Misalnya kini titik pendeteksi fasa untuk auto fokus tersebar hampir di semua bidang gambar, lalu dalam perekaman video 4K kini tidak lagi mengalami crop. Kecepatan memotret dari dulunya 6 fps kini bisa 8 fps, lumayan untuk foto olahraga yang cepat. Kini juga dikenalkan fitur Gimbal digital berkat gyrosensor di kamera, sehingga video lebih stabil saat direkam sambil bergerak (meski videonya akan kena crop).

[continue reading…]
{ 2 comments }

Photo Story : Portrait Toraja

Awal bulan Januari 2020 yang lalu, Infofotografi menyelenggarakan trip foto ke Toraja, disana, rombongan bisa melihat dan memotret rangkaian upacara pemakaman yang disebut Rambu Solo.

Banyak hal yang menarik untuk didokumentasikan, salah satunya ekspresi dari tuan rumah dan tamu undangan. Dalam rangkaian foto-foto dibawah ini, saya mengunakan Leica SL dan lensa Leica SL 24-90mm f/2.8-4, kemudian mengubahnya ke hitam putih (B&W) dengan software Adobe Lightroom dan Silver Efex Pro, tujuan saya untuk menyeleraskan antara satu foto dengan yang lainnya dan sekaligus memperkuat fokus ke ekspresi subjek foto.

Anak-anak penyambut tamu berpakaian adat Toraja
Kakek-kakek duduk santai dibawah tongkonan menunggu upacara dimulai

Upacara pemakaman biasanya dihadiri banyak orang, bukan hanya dari keluarga besar tapi juga masyarakat sekitarnya. Kami beruntung dipersilahkan untuk bergabung dan memotret di pemakaman dua keluarga selama di Tana Toraja.

Disini saya melihat bahwa acara kedukaan ini tidak melulu soal kesedihan, tapi juga acara silaturahmi seperti kondangan pernikahan.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Photo Story: Toraja dan Rambu Solo

Awal Januari 2020 yang lalu, Infofotografi mengadakan tour ke Tana Toraja, tepatnya ke Rantepao, Toraja Utara. Disana kami menghadiri upacara Rambu Solo (upacara adat pemakaman). Dari aspek fotografi, banyak yang bisa diangkat, misalnya portrait orang-orangnya, prosesi upacaranya, arsitektur, dan alamnya. Tapi yang paling berkesan bagi saya adalah hewan yang akan dijadikan kurban.

[continue reading…]
{ 1 comment }

Review kamera ponsel Redmi Note 8 Pro

Beberapa tahun belakangan, kualitas kamera ponsel semakin meningkat, tidak hanya dari segi resolusi saja tapi juga ukuran sensor dan jumlah kameranya.

Saya berkesempatan untuk mencoba kamera ponsel ini dengan meminjam dari Iesan. Sebagai info, Iesan membeli kamera ini dari akhir 2019 lalu karena harganya terjangkau (Rp 3.4 juta) punya layar besar dan spesifikasi kameranya juga bagus.

Seperti ponsel pintar pada umumnya, ponsel ini punya beberapa kamera untuk berbagai kebutuhan. Kamera utama ponsel ini memiliki sensor yang cukup besar, 1/1.7″ yang sering digunakan di kamera compact premium di masa lalu. Yang menarik dari kamera ini adalah resolusi sensornya yang mencapai 64MP buatan Samsung yang bernama ISOCELL Bright GW1.

Yang menarik dari sensor ini adalah dia bisa menggabungkan empat pixel menjadi satu (Tetracell) menghasilkan gambar dengan resolusi 16MP yang lebih bagus di kondisi cahaya gelap.

Saya berkesempatan mencoba kamera ini diberbagai kondisi baik di mode 64 Megapixel, maupun yang 16MP (Photo mode). Dalam kondisi cahaya yang sangat terang, gambar 64MP memberikan hasil yang sangat baik dan detail. Sedangkan yang 16MP juga baik, tapi di kondisi yang gelap, tentunya kualitasnya tidak begitu bagus, banyak detail yang hilang dan tidak tajam.

Kiri gambar utuh, kanan crop dari foto disebelah kiri yang masih sangat detail dan tajam. Hasil dari 64MP sedikit lebih mendem warnanya dibandingkan dengan mode Photo biasa (16MP). Tapi tentunya bisa di edit jika perlu.
[continue reading…]
{ 1 comment }

Setting kamera mirrorless untuk pakai flash/trigger manual

Kamera DSLR modern sekalipun masih memakai yang namanya jendela bidik optik (OVF), sebuah jendela berisi prisma yang sejak dulu dipakai untuk melihat obyek yang akan difoto. Jendela bidik optik ini kini mulai terasa ketinggalan jaman dibanding dengan kamera mirrorless yang pakai jendela bidik elektronik (EVF) karena mampu menampilkan visual yang mendekati apa yang akan didapat, termasuk warna dan eksposur, yang disebut dengan live view. Tapi pengguna mirrorless jangan senang dulu, karena fitur ini bukannya yang paling ideal. Kamera mirrorless justru kerap membuat penggunanya bingung, khususnya saat berurusan dengan mode manual dan flash eksternal/trigger manual (non TTL). Mengapa?

Memotret di studio umumnya cenderung gelap. Dengan kamera mirrorless di mode Manual, akan sulit memotret pakai flash/trigger manual bila tampilan di layar (atau jendela bidik) jadi gelap karena live view mensimulasikan eksposur.

Anggaplah di sebuah studio akan ada sesi pemotretan. Kameranya mirrorless, dan pencahayaan memakai lampu flash studio yang di trigger dengan trigger basic (universal). Sebelum lampu flash studio menyala, suasana di dalam studio cukup gelap. Sang fotografer lalu mengatur mode Manual, misal ISO 100, f/8 dan shutter 1/125 detik, sebuah setting umum yang banyak dipakai di studio. Bila memotret dengan DSLR dan pakai jendela bidik, tentu tidak ada masalah untuk melihat subyeknya. Tapi begitu pakai mirrorless, maka kamera akan melakukan live preview, dan dengan ISO 100, f/8 dan 1/125 detik maka biasanya layar LCD (atau jendela bidik elektronik) akan menjadi gelap, karena kamera memberikan simulasi eksposur yang kira-kira akan didapat (preview) dengan kondisi cahaya di tempat itu yang redup. Dengan tampilan live view yang gelap, sulit bagi fotografer untuk membidik dan melihat subyek yang akan difoto, dan ini kerap membuat frustasi bagi banyak pengguna kamera mirrorless yang memotret pakai flash/trigger manual di studio.

Banyak flash atau trigger yang hanya punya satu pin kontak sync, tanda kalau dia hanya bisa manual saja (non TTL)

Lantas bagaimana solusinya? Untungnya di hampir semua kamera mirrorless disediakan pengaturan untuk mematikan simulasi eksposur ini (setahu saya mirrorless yang tidak ada fitur ini adalah Samsung NX3000 di jaman dulu). Tapi dengan mematikan fitur ini, maka resikonya di mode manual kamera tidak akan bantu memberi gambaran terang gelap foto di live view, alias tampilannya akan selalu ‘pas/normal’ tidak peduli fotonya under atau over. Nah berikut setting kamera yang dimaksud :

[continue reading…]
{ 0 comments }

Leica M10 Monochrom : Kamera 40MP Black & White

Leica M10 Monochrom adalah kamera Leica yang teknologi dan desainnya berbasis pada Leica M10P, hanya saja di Leica M10 Monochrom ini memiliki sensor image yang sama tidak berwarna / Monokrom.

Sensor baru ini memiliki resolusi yang lebih tinggi dari Leica M10/P yaitu 40 MP dibandingkan dengan 24MP, dan ISO yang terendah dan tertinggi dalam sejarah M Monokrom yaitu ISO 160 – 100.000 dengan dynamic range yang lebih baik juga.

Secara desain, sekilas sangat mirip dengan M10P, yaitu tidak memiliki logo red dot khas Leica, dan di bagian top plate / atas kamera juga hanya ada tulisan kecil Monochrom di dekat hotshoe. Memang desain Monochrom ini berusaha membuat kameranya terlihat lebih discreet / tidak mencolok.

Mungkin ada yang bingung apakah lebih bagus yang M10 Mono atau M10P biasa. Tentunya ada plus minus masing-masing. Keuntungan Monochrom adalah kekayaan tingkat abu-abu (grayscale lebih oke), rentang dinamis untuk menangkap bagian yang sangat terang sampai gelap lebih baik, dan kualitas gambar di ISO yang sangat tinggi lebih baik dengan resolusi/detail yang lebih banyak daripada yang versi warna.

Spesifikasi dan harga Leica M10 Monochrom

  • 40MP monochrome sensor (full frame CMOS)
  • Pilihan warna hitam dan abu-abu
  • ISO 160-100.000
  • Shutter speed: 1/4000-16 menit
  • Sepia dan color toning
  • Desain fisik seperti M10P
  • Layar LCD sentuh 3″ 1 juta titik, Corning Gorilla Glass
  • Compatible dengan aplikasi Leica FOTOS
  • Berat : 680g
  • Internal memory 2GB (dapat menyimpan kurang lebih 10 foto DNG/RAW)
  • Harga: Rp140.800.000

Dalam paket pembelian M10 ini termasuk Strap kamera, baterai dan charger, dan tiga bulan berlangganan Adobe Lightroom.


Bagi pembaca yang ingin memesan kamera ini atau belajar tentang kamera Leica silahkan menghubungi kami via WA ke 0858 1318 3069

Sample Photos dari kamera ini oleh Alan Schaller bisa dilihat langsung ke web Leica.

{ 0 comments }

Kamera DSLR Nikon D750 merupakan salah satu kamera yang sangat populer bagi penggemar fotografi dan juga banyak menjadi tulang punggung fotografer profesional untuk bekerja. D780 akan menggantikan D750 yang diumumkan lebih dari lima tahun yang lalu (September 2014).

Sekilas dari D780 ini, saya melihat kualitas gambar dan kinerjanya lebih meningkat dan bisa merekam video juga, jadi kamera DSLR ini menjadi kamera yang bagus secara all-around (apa saja bisa).

Ada beberapa hal yang dikurangi seperti tidak ada lampu kilat dan tidak bisa memasang grip, yang membuat kamera sedikit lebih kecil dan ringan, dan yang membedakan dengan kamera DSLR kelas Profesional dari Nikon.

Yang menarik adalah penggunaan sensor gambar seperti Nikon Z6 yang memungkinkan autofokus yang cepat dan mulus saat mengunakan layar LCD seperti layaknya mengunakan kamera mirrorless.

[continue reading…]
{ 6 comments }

Canon akhirnya merilis kamera baru di kelas profesional penerus dari 1Dx II, yang diberi nama EOS 1Dx Mark III. Ditujukan untuk segmen profesional khususnya fotografer aksi dan olahraga, kamera full frame berbobot 1,44 kg ini mendapat banyak peningkatan fitur, performa dan spesifikasi yang membuatnya jadi kamera DSLR paling mumpuni saat ini.

Dengan tombol yang menyala dalam gelap

Beberapa headline dari kamera Canon EOS 1Dx III ini diantaranya :

Memakai sensor full frame 20 MP dengan Dual Pixel AF, prosesor Digic X dan ISO tertinggi ISO 102.400 (bisa ditingkatkan ke ISO H3 setara ISO 819.200). Yang menarik adalah sensor di 1Dx III masih diberikan low pass filter (aman dari moire), tapi bisa setajam sensor lain yang tanpa low pass filter.

[continue reading…]
{ 3 comments }

Bagaimana cara cari uang dari fotografi?

Sudah punya kamera yang cukup canggih, sudah belajar fotografi, mengapa tidakmemanfaatkan ketrampilan tersebut untuk cari uang/duit dari fotografi?

Beberapa waktu yang lalu, saya dan Erwin berbincang-bincang tentang apa saja yang bisa dilakukan jika kita memiliki ketrampilan fotografi.

  1. Jasa fotografi
    Sebagai fotografer bisa menawarkan jasa fotografi, misalnya foto wedding/pre-wedding, foto portrait, foto keluarga, foto liputan, bahkan foto liburan. Foto produk seperti makanan dan fashion.
  2. Foto komersil / Iklan
    Biasanya menawarkan ke klien seperti perusahaan atau institusi pemerintahan. Untuk bisa menawarkan ke klien yang tingkatnya lebih tinggi, biasanya kita perlu tim, perlu portfolio, pengalaman dan mungkin juga sertifikat kompetensi atau sertifikat fotografer profesional.
  3. Sebagai pegawai / staf dokumentasi
    Di berbagai perusahaan, sering dibutuhkan fotografer untuk mengisi pegawai tetap seperti di media cetak atau online, juga bisa di perusahaan yang punya divisi komunikasi atau Humas, yang semakin membutuhkan fotografer terutama di era sosial media saat ini. Kami sendiri di Infofotografi sering diminta untuk melatih pegawai tetap untuk “melek” kamera dan fotografi supaya hasil foto liputan mereka lebih bagus.
  4. Menjual foto lewat penyedia stok foto
    Kita bisa mengunggah foto kita ke penyedia stok foto seperti Stockphoto, 123RF, dan lainnya. Jika ada yang membeli foto yang kita unggah, akan mendapatkan komisi. Sebagian besar sifatnya part time, tapi ada juga yang full time, tapi yang full time harusnya memahami kebutuhan pasar akan foto yang dibutuhkan, foto yang dibutuhkan sering kali bukan yang keren sekali / indah sekali. Lebih ke konseptual seperti terutama untuk kebutuhan perusahaan.
  5. Bisnis edukasi & sekolah
    Seperti yang kita jalanin selama 10 tahun belakangan adalah menjadi guru fotografi, yaitu menyelenggarakan kelas-kelas fotografi, editing secara rutin. Untuk bisa sukses di bisnis edukasi, dibutuhkan karakter pengajar yang sabar, dan bisa menjelaskan hal rumit dengan bahasa yang sederhana. Bisa juga sebagai guru di sekolah atau kampus jurusan fotografi, broadcasting, desain komunikasi atau multimedia.
  6. Penyelenggara tour fotografi
    Kami juga sering menyelenggarakan tour fotografi, dimana di lapangan instruktur/pemandu akan membantu peserta untuk memotret untuk mendapatkan foto yang baik. Diperlukan pribadi yang berkemampuan mengorganisir dan bekerjasama dengan baik untuk bisa menjalankan tour fotografi secara rutin.
  7. Fotografi sebagai penunjang bisnis lain
    Fotografi bisa digunakan menunjang bisnis lain, misalnya bila kita menjual produk seperti fashion, makanan, keterampilan fotografi bisa dimanfaatkan untuk membuat foto yang menarik dari produknya sehingga meningkatkan penjualan produknya.
  8. Membuat Youtube / Blog
    Membuat konten Youtube tentang fotografi, jika menjadi populer dan banyak pemirsanya, bisa jadi mendapatkan penghasilan dari iklan atau deal dengan brand-brand yang berhubungan dengan fotografi seperti kamera, lensa, aksesoris, software dll atau jadi influencer dan ambassador.
[continue reading…]
{ 1 comment }