≡ Menu

Ikuti workshop 19-20 April 2014
Mastering the art and photography techniques
Daftar hub: 0858 1318 3069

Kamera mirrorless pengganti DSLR

Dalam setahun belakangan ini mulai banyak pertanyaan tentang kamera mirrroless. Sebagian besar yang menanyakan tentang kamera ini ingin menggantikan kamera DSLR yang makin hari terasa makin berat dan besar. Sebagian lainnya merupakan fotografer amatir serius yang lain ingin kamera mirrorless untuk melengkapi kamera DSLR andalannya. Memang kalau jalan-jalan bersama keluarga atau teman-teman yang gak hobi fotografi, enaknya bawa kamera yang ringkas. Soal kualitas gambar yang dihasilkan bukan prioritas utama, tapi kalau bisa setara atau tidak terlalu berbeda.

FULL FRAME FORMAT

Kalau saat ini menggunakan kamera DSLR bersensor full frame, kamera mirrorless yang kualitasmya serupa adalah sony A7. Kamera jenis ini memiliki beberapa varian. Singkatnya, A7 paling terjangkau, 24 mp dan autofokusnya paling gesit. A7R resolusinya paling besar yaitu 36 mp dan pendatang baru A7S yang hanya memiliki resolusi 12 mp tapi ISO maksimumnya mencapai 400.000 dan dapat merekam video 4k via HDMI out ke recorder external.

Sony-a7s

Karena merupakan sistem baru A7 belum memiliki banyak lensa. Yang paling bagus menurut review adalah 55mm f2.8. Sony berencana akan mengeluarkan 15 lensa tambahan dalam dua tahun kedepan. Kalau tidak sabar, bisa beli adapter Sony Alpha untuk disambungkan dengan lensa-lensa DSLR Sony atau beli adapter untuk lensa untuk sistem lainnya. Kelemahannya ya, gak bisa autofokus kalau pasang lensa yang bukan lensa Sony Alpha/Minolta.

Link: video yang menunjukkan kehandalan ISO Sony A7S

KAMERA DSLR MENENGAH-CANGGIH

Jika saat ini mengunakan kamera DSLR tingkat menengah seperti Nikon D7000, Canon 60D,dan mencari kamera mirrorless tercanggih saat ini, pilihannya ada dua yaitu Olympus OMD EM1 dan Fuji XT1 keduanya adalah kamera yang kinerjanya sangat cepat dengan desain body kamera yang cocok untuk fotografer berpengalaman.

Perbedaan utama antara mereka yaitu koleksi lensa sistem Olympus yaitu micro four thirds lebih lengkap dan bervariasi karena sistem ini sudah cukup lama dan didukung oleh berbagai merk. Dua pilar utama sistem ini adalah Olympus dan Panasonic. Dari semua kamera mirrorless, sistem ini paling lengkap. Karena sensor kamera ini relatif kecil daripada APS. Atau full frame, maka lensa-lensanya berukuran lebih kecil dari fuji. Lensa zoom profesional populer yaitu 12-35mm f2.8 dan 35-100mm f2.8 juga siap dipakai. Olympus OMD EM1 punya keunggulan tambahan yaitu memiliki image stabilizer di body.

Olympus OMD EM1 dan Panasonic 35-100mm f/2.8 - setara dengan 70-200mm di full frame

Olympus OMD EM1 dan Panasonic 35-100mm f/2.8 – setara dengan 70-200mm di full frame

Disisi lain, lensa-lensa Fuji yang fix kualitasnya sangat baik, antara lain 23mm f/1.4, 35mm f/1.4 dan 56mm f1.2. Memang, Fuji juga memiliki beberapa lensa zoom yg oke. Tapi belum bisa menyamai lensa pro micro four thirds. Yang menyukai desain kamera analog mungkin akan menyukai Fuji XT1 karena memiliki kendali shutter, ISO berupa roda di bagian atas kamera, dan bukaan di lensa.

Keunggulan Fuji lainnya yaitu di sensor gambar dengan teknologi X-Trans, lebih baik dari sensor micro four thirds dan sering dibandingkan dengan sensor full frame.

fuji-xt1

Saran saya, jika suka mengunakan lensa fix, desain retro, pilihannya adalah Fuji XT1. Sedangkan untuk kepraktisan dan pilihan lensa zoom yang lebih banyak, pilih Olympus omd EM1. Baca juga artikel disini untuk ulasan perbedaan antara kedua kamera.

FITUR LENGKAP TAPI TIDAK MAHAL

Bagi yang mencari kamera mirrorless dengan fitur yg cukup lengkap tapi tidak terlalu mahal mungkin Sony A6000 pilihan yg cocok. Kamera ini kualitas gambarnya sangat baik dengan sensor APS-C dan resolusi 24 MP. Fiturnya juga cukup lengkap, dengan layar LCD putar dan viewfinder elektronik yang sudah menjadi bagian kamera. Yang keren adalah autofokusnya sudah memakai teknologi hybrid phase detection sehingga, kecepatannya cukup baik untuk memotret subjek bergerak. Pilihan lensa tidak selengkap sistem micro four thirds, tapi cukup baik. Lensa praktis berkualitas lumayan oke untuk dipasang dengan A6000 adalah Sony Zeiss 16-70mm f4, Sony 50mm f/1.8 OSS dan 24mm f/1.4 Zeiss.

sony-a6000

MINI DAN GESIT

Untuk penggemar foto burung, sport, atau sekedar untuk acara keluarga dan candid, saya sarankan kamera mungil tapi gesit yaitu Nikon 1 J3 atau J4. Jangan menilai dari bentuknya yang simple dan mungil karena kamera ini memiliki sistem autofokus yg sangat cepat baik outdoor maupun indoor dengan kualitas gambar yg cukup baik. Saat dipasang dengan lensa Nikon 1 70-300mm VR, kamera ini menjadi kamera yg sangat mampu untuk memotret subjek jauh yg bergerak cepat seperti kegiatan olahraga, dan satwa liar.

Jika memiliki lensa-lensa DSLR Nikon, dengan adapter khusus Anda akan dapat memasangnya ke body kamera Nikon 1. Sudut pandangnya akan lebih tele 2.7X. Sehingga lensa tele Anda akan tambah panjang jangkauannya. Baca panduan sistem Nikon 1 dan juga review Nikon 1 J3.

nikon-j3

{ 4 comments }

Enchanting Singapore

Beruntunglah anda semua terutama para fotografer yang tinggal di Indonesia. Alam Indonesia dari timur ke barat seakan tak ada habis-habisnya untuk dieksplor. Landscape, budaya, tradisi, hewan, dan jutaan objek lainnya seakan menunggu untuk diabadikan oleh para fotografer yang haus seni.

Berbeda dengan nasib saya yang sudah cukup lama terdampar di negara tetangga yang kecil, Singapura. Secara alam, negara ini memang jauh berbeda dengan Indonesia. Luas hektarnya yang hanya 700km2 membuat pemerintah setempat harus memaksimalkan luas lahan yang ada untuk 5 juta penduduknya, sehingga cukup sulit untuk mencari lokasi landscape alami disini.

Hal tersebut berbanding terbalik dengan pembangunan infrastruktur Singapura. Harus saya akui, pemerintahnya memiliki selera seni dalam penataan rumit tingkat tinggi akan sebuah kota masa depan yang betul-betul mengagumkan!

singapore-wisnu-01
Salah satu lokasi paling umum yang paling diminati para cityscapers adalah daerah Marina Bay. Foto diatas ini salah satu contohnya. Perpaduan Singapore Skyline ketika lampu2 mulai menyala dengan cuaca dan timing yang kebetulan pas, ditambah refleksi warna warni dari air laut, membuat foto berkesan glamour.

singapore-wisnu-02

Kita geser sedikit tripod kita kearah kiri, tampak bangunan megastructure yang merupakan ikon terbaru Singapura; Marina Bay Sands Hotel & Casino. Proses pembangunannya merupakan salah satu proses yang paling rumit di abad ini.

Rasanya nggak mungkin kalau sudah disini melewatkan stuktur tiga raksasa ini. Diambil dari sudut manapun pasti indah. Ketika langit berubah gelap, jangan buru-buru lipat tripod anda. Karena bakal ada permainan laser warna-warni yang hadir setiap hari pukul 9 malam.

singapore-wisnu-03

Singapura juga terkenal dengan kegigihannya memelihara bangunan-bangunan kolonial tua bersejarah. Sebagai anggota negara persemakmuran, mereka memiliki aturan ketat melarang pembongkaran bentuk luar bangunan sejarah. Sehingga sampai hari ini kita masih bisa melihat banyak bangunan tua kolonial victorian style berpadu dengan arsitektur modern bermandikan cahaya. Dua foto diatas contohnya. Untuk lokasi ini, kita bisa mengunjungi Boat Quay, Clarke Quay dan Chinatown.

singapore-wisnu-04

Selain arsitektur, Singapura juga cukup memiliki lahan luas untuk dijadikan taman kota, pembangunan rakyat disini bersifat keatas (apartemen, kondominium) sehingga mata masih bisa dimanjakan melihat hijau daun dan pepohonan raksasa disini. Salah satu yang terbaru adalah Gardens By The Bay, dengan Supergroove Tree-nya. Mengingatkan saya akan Planet Pandora dari film Avatar. Siapkan lensa fish-eye anda disini!

Seakan tidak ada habisnya, Singapura lebih dari sekedar Orchard Road, Sentosa atau Merlion Statue. Karena keterbatasan halaman, hanya sebagian kecil yang bisa saya bahas disini. Jangan lupa lensa wide, fish-eye dan tripod jika anda mengunjungi Singapura. Posisikan diri anda sebagai travel photographer, bukan sekedar turis. Jika anda ada waktu lebih, boleh dicoba teknik long exposure, light-trail atau HDR. Dijamin portfolio anda akan membuat orang berdecak kagum.

singapore-wisnu-05

Ditunggu kehadirannya!

All images are the exclusive property of Wisnu Haryo Yudhanto (www.flickr.com/lordwisnu) and protected under Copyright Laws

Infofotografi akan mengadakan tour Singapore tanggal 25-27 April 2014 ini. Masih tersedia beberapa tempat. Bagi yang berminat, hub 0858 1318 3069

{ 3 comments }

Yunnan merupakan propinsi Cina yang terletak di barat daya (barat-selatan) dan berbatasan dengan beberapa negara Asia Tenggara seperti Myanmar, Vietnam dan Laos. Banyak suku minoritas yang tinggal di Yunnan, diantaranya adalah suku Naxi, Hani, Yao, Tibet dan lain lain. Banyaknya suku minoritas ini membuat propinsi ini kaya budaya dan banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun asing. Selain budaya, alam Yunnan juga sangat indah karena banyaknya barisan pegunungan yang sangat tinggi dan bersalju di puncaknya.

Highlight tour ini adalah mengunjungi kota-kota tua dengan bangunan dan arsitektur Cina kuno yang masih lestari dan termasuk kawasan konservasi UNESCO heritage site. Kita juga akan dimanjakan dengan pemandangan gunung salju yang majestic, terutama Jade dragon dan Meili/Kawagarbo. Tour ini dilengkapi dengan kunjungan ke biara ala Tibet yang sangat luas, megah dan menggagumkan yaitu Songzanlin  Monastery di kota tua Shangri-la (Zhongdian).

black-dragon-pool

Black Dragon Pool dengan latar belakang Jade Snow Mountain

Tanggal 17-23 Oktober 2014 adalah waktu terbaik untuk mengunjungi daerah ini karena curah hujan sangat kecil, rata-rata langit cerah dan biru, dan daun-daun berubah warna menjadi jingga. Di kota tua Lijiang dan Shangri-La temperatur sekitar 13-25 derajat Celcius, tapi temperatur di puncak gunung mendekati 0 derajat Celcius.  Maka itu dibutuhkan baju hangat dan jaket.

Tempat yang akan dikunjungi antara lain:

  • Kota tua Lijiang (Foto)
  • Kota tua Shangri-La/Dukezong (Foto)
  • Desa Baisha
  • Desa Shuhe
  • Songzanlin Monastery (mini Potala Palace) (Foto)
  • Dongzhulin Monastery (Foto)
  • Jade Dragon Mountain
  • Dry sea meadow (ganhaizi)
  • Baishuihe (sungai putih) (Foto)
  • Black Dragon pool (Foto)
  • Meili Snow Mountain (Foto)
  • Bai Mang Snow Mountain
  • First Bend of Yangtze River

Jika ada pertanyaan atau concern, hubungi kami di 0858 1318 3069 atau infofotografi@gmail.com [click to continue…]

{ 8 comments }

Sony A7S, yang di perkenalkan bulan April 2014 awal ini menarik sekali bagi saya, karena baru kali ini saya melihat spesifikasi kamera yang masuk akal, gak maksa, dan teknologi yang digunakan sangat canggih. Beberapa alasan pokok mengapa saya menyukai Sony A7S, dan mengapa saya berniat membelinya jika telah tersedia.

sony-a7s

1. Filosofinya sama dengan Nikon D700, kuda pekerja saya yaitu resolusi (pixel) yang tidak banyak (12 MP), tapi kualitas di kondisi cahaya gelap dan dynamic range sangat tinggi. ISO yang ditawarkan mencapai ISO 400.000, sama dengan yang ditawarkan kamera flagship Nikon D4S.

2. Beratnya hanya setengah kamera Nikon D700 saya, yaitu sekitar 485 gram, sedangkan kamera D700 saya beratnya 995 gram. Dalam arti, saya bisa mendapatkan kualitas gambar yang lebih baik tanpa harus menanggung beratnya kamera DSLR. Ukuran dan bobot lensa juga lebih kecil dari lensa DSLR. [click to continue…]

{ 13 comments }

Tour fotografi Pangalengan 31 Mei-1 Juni 2014

Tour Pangalengan yang diselenggarakan tahun lalu banyak memberikan kesan bagi peserta-peserta. Maka tahun ini, kita buat lagi tour Pangalengan sekali lagi tanggal 31 Mei – 1 Juni 2014. Perjalanan dari Jakarta memakan waktu sekitar 4 jam, sedangkan dari Bandung sekitar 1.5 – 2 jam.

sunrise-situ-cileunca

Sedikit berbeda dengan tour tahun lalu, kami berencana untuk berangkat pukul 00.00 tengah malam supaya mendapatkan lebih banyak kesempatan untuk memotret matahari terbit. Selain itu, berangkat malam lebih lancar.

Kita akan mengunakan bus pariwisata dan akan menginap di kompleks Rumah Bosscha di Malabar. Bosscha adalah seorang warganegara Belanda yang berjasa dalam membangun usaha perkebunan, observatorium di Lembang, dan ITB.

Perkebunan teh Malabar terletak daerah perbukitan dengan ketinggian 1550 dpl, sehingga suhunya sejuk di siang hari, dan dingin di pagi hari. Suhu udara kira-kira 15-25 derajat. Disarankan untuk membawa jaket/sweater terutama untuk memotret matahari terbit.

cileunca-cruise

Susunan acara sebagai berikut

Hari pertama, hari Sabtu tanggal 31 Mei 2014
Kita akan tiba sebelum matahari terbit dan memotret matahari terbit. Jika cuaca mendukung, kita dapat mengunjungi Situ Cipanunjang dengan naik perahu. Situ ini adalah sumber mata air situ Cileunca. Setelah puas berfoto di situ Cileunca, kita akan check-in penginapan dan beristirahat sampai makan siang. Di sore hari, kita akan memotret pemandangan kebun teh dengan kabut alami yang sejuk.

Hari kedua, hari Minggu, tanggal 1 Juni 2014
Pagi hari sebelum matahari terbit, kita akan memotret sunrise dan pemandangan pagi hari dari bukit Nini, bukit yang cukup tinggi untuk memotret hamparan kebun teh, pemukiman penduduk dan gunung dikejauhan. Setelah sarapan, acara bebas. Setelah makan siang, kita akan meluncur ke Waduk Jatiluhur untuk memotret aktivitas nelayan dan matahari terbenam. Setelah makan malam seafood, kita akan pulang ke Jakarta.

Biaya Rp. 1.250.000 per orang

Tempat terbatas, maksimum 18 orang, pendaftaran akan ditutup setelah penuh. Biasanya, tempat cepat sekali terisi. (tinggal 12 tempat lagi) [click to continue…]

{ 0 comments }

Bahas foto: Memotret Water Mill tua di Yunnan

water-mill-yunnan

Foto Water Mill di Desa Sheng di Yunnan merupakan contoh foto yang menggambarkan gaya fotografi natural saya. Saat saya mengunjungi desa ini bersama teman-teman lainnya, kondisi sangat berkabut dan jarak pandang hanya sekitar 3-5 meter saja. Meskipun cuaca tidak begitu baik, saya berusaha untuk tetap semangat memotret dan mencoba mencari objek yang menarik. Water Mill ini menarik bagi saya karena terlihat tua dan menyatu dengan lingkungannya dengan alami. Selain itu ada aliran air yang memberikan kesan sejuk.

Tantangan saya adalah mencari sudut pengambilan yang menarik dan setelah beberapa menit saya menemukan sudut yang saya suka. Tantangan yang kedua adalah tempatnya cukup sempit untuk menancapkan tripod, padahal saya ingin memuluskan aliran air. Maka terpaksa saya mencoba memotret tanpa tripod. Dari pengalaman terdahulu, saya mampu mendapatkan foto yang tajam dengan shutter speed 1/4 detik dengan mengunakan kamera Nikon D700 dan lensa 16-35mm f/4 VR. Tapi, kini saya mengunakan Nikon D600 yang resolusinya 24 MP, dua kali resolusi Nikon D700. Dengan resolusi yang lebih besar, secara teori, saya membutuhkan setidaknya 1/8 detik.

Tapi di sisi lain, saya tau dan saya ingin aliran air yang lebih mulus. Jadi saya mengambil resiko yaitu dengan memotret berturut-turut (Continuous shooting). Harapan saya adalah salah satu dari beberapa foto tajam. Setelah saya periksa di Adobe Lightroom, ternyata memang benar, beberapa foto saya tidak tajam, tapi untungnya ada yang tajam seperti foto diatas.

Untuk editingnya, saya tidak melakukan banyak hal, hanya sedikit menajamkan dan sedikit menaikkan saturasi warna. Bagian bayangan saya naikkan sedikit supaya water millnya terlihat lebih terang. Data pengambilan foto ini yaitu: ISO 100, f/8, 1/4 detik, 16mm.

Yuk, ikuti kursus dan tour fotografi untuk menambah ilmu dan pengalaman

{ 4 comments }

Sony NEX 7 Review

Sebenarnya, saya tidak ada niat mencoba dan mengulas Sony NEX 7, tapi karena salah satu murid favorit saya titip jual kamera ini dan lensa-lensanya karena pindah ke sistem lain (rumput tetangga selalu lebih hijau hehe), maka iseng-iseng saya membawanya saat tour fotografi ke pantai Tanjung Lesung. Disana, saya hanya membawa Sony Zeiss 24mm f/1.8 dan Sony 50mm f/1.8 OSS. Lensa yang banyak saya gunakan adalah 24mm, karena cukup lebar untuk segala suasana.

sony-nex-7

Ulasan/review Sony NEX 7 ini secara singkat saja, dan menurut pengalaman pribadi dilapangan. Jika ada yang kurang tepat, atau ingin menambahkan saya persilahkan di kotak komentar. Kalau mau nanya-nanya juga oke :)

Sebagai pendahuluan, Sony NEX 7 merupakan kamera mirrorless kelas atas yg dirancang khusus untuk fotografer serius. Saat diumumkan pertama kalinya di bulan Agustus tahun 2011, Sony NEX 7 merupakan kamera yang terkenal karena jumlah megapixelnya banyak, yaitu 24 MP. Saat diumumkan, kebanyakan kamera DSLR hanya memiliki sensor 12, 16 dan 18 MP.

Sony NEX 7 terkenal di kalangan fotografer serius karena tactical control-nya. Fotografer serius biasanya menyukai tombol dan switch/tuas sehingga memudahkan mereka mengganti setting dengan cepat. Dibandingkan dengan kamera digital pemula pada umumnya yg hanya punya satu roda kendali, Sony NEX 7 punya tiga roda kendali yg diberi nama Tri Navi. dengan 3 roda, pengguna dapat mengganti ISO, shutter dan bukaan dgn leluasa. Saat pakai mode P/A/S/M, salah satu roda yang sebelah kanan atas berubah jadi kompensasi exposure. Berbeda dengan kamera digital pada umumnya, mengganti mode kamera (auto, manual dll) dilakukan di dalam menu, karena tidak ada mode dial (roda mode/modus). [click to continue…]

{ 3 comments }

Ada apa dengan “Pohon”?

Setiap orang pasti punya foto kesukaannya masing-masing. Ibarat ada orang yang senang foto-fotoin makanan, foto bunga, foto sunrise, foto sunset, foto motor, foto Action Figure, dan lain sebagainya. Maksud kesukaan saya disini yaitu kecenderungan untuk mencari objek tersebut tiap mengunjungi tempat baru.

Tentunya, saya juga memiliki objek kesukaan. Saya memiliki beberapa koleksi foto bunga (sayangnya saya agak malas mengetahui nama/jenis bunga yang difoto, T_T). Akhir-akhir ini, saya malah menyukai foto pohon. Berawal dari perjalanan tur foto ke Sawarna, ketika para peserta sibuk foto pantai beserta hempasan ombak di tepi karang, saya malah tertarik pada sebuah pohon yang berdiri tegar di tepi tebing.

Menurut saya, seperti manusia juga, pohon juga memiliki karakter-karakter serta penampilan masing-masing. Ada pohon yang terlihat sendu , ada pohon yang tegar, ada yang berkesan kuat dan kekar, ada yang berkesan misterius, ada juga pohon yang feminim. Selain itu ada juga yang terkesan masih kuat meski tinggal ranting-ranting tanpa daun.

Akhirnya setiap kali mengunjungi suatu tempat, saya pun menyempatkan diri untuk mengambil foto pohon yang unik. Intinya pohon yang diambil saya usahakan hanya ada satu.

Berikut ini beberapa koleksi foto pohon sejak perjalanan pertama ke Sawarna  dua tahun yang lalu. Perasaan uda banyak, tapi setelah dikumpulin kok masih sedikit ya? @@

pohon-1-iesan

Dari atas kiri searah jarum jam: Sawarna, Kawah putih, Danau Tonle Sap, Dongchuan

pohon-2-iesan

Dari kiri atas searah jarum jam: Simalem, Kawah putih, Pangalengan, Kawah Putih

Setelah itu, selain tema 1 pohon, saya juga mulai mengkoleksi pohon-pohon yang  berkelompok (pohon nya mulai bersosialisasi). :D

pohon-3-iesan

Dari kiri atas searah jarum jam: Dongchuan, Beijing, Beijing, Ciwidey

Ternyata, seiring dengan pengembangan ide, terbersit juga untuk foto bersama pohon juga. Namun, ide ini datang sedikit telat, jadinya cuma ada dua. Semoga bisa mengkoleksi lebih banyak lagi kelak.

lonely tree di taman Simalem

saya dan pohon di taman Simalem

Saya dan pohon II

Saya dan pohon II di desa Sheng, Yuanyang, China

Lumayanlah, hehehe… Rencananya saya ingin membuat photo book untuk tema pohon ini kalau sudah banyak.

Nah, bagaimana dengan objek favorit Anda?

{ 5 comments }

Selama ini, Infofotografi telah mengadakan kursus kilat dasar fotografi sekitar 4 tahun dan saya pikir sudah saatnya mengadakan kursus lanjutan yang lebih mendalam dan detail tapi dengan bahasa sehari-hari yang ringan dan mudah dimengerti. Kelas dibatasi jumlahnya supaya interaksi dan perhatian instruktur akan lebih baik. Seorang instruktur akan membimbing maksimum 8 orang peserta.

Tujuan dari kelas ini adalah memberikan bekal kemampuan teknik dan artistik yang cukup bagi peserta supaya siap dalam memotret di berbagai kondisi dengan baik. Kursus/workshop ini ditujukan kepada penggemar fotografi yang sudah cukup menguasai dasar fotografi. Bagi pemula yang ingin belajar dasar fotografi dapat mengikuti kursus kilat dasar fotografi atau kelas malam.

Instruktur: Enche Tjin & Erwin Mulyadi

Lokasi belajar:
Jl.KH.Moh.Mansyur (Imam Mahbud) No.8/B-2 Jakarta Pusat 10140 – Lihat Peta

Materi hari pertama: Mastering Photography Techniques

Sabtu, 19 April 2014
Waktu: Jam 10.00-16.30 WIB
Biaya: Rp 600.000

1. Fokus
Mekanisme fokus penting dipahami untuk memastikan ketajaman foto. Kita akan membahas autofocus, manual focus, zone focus, hyperfocal focus, ruang tajam (DOF), mode fokus untuk subjek bergerak dan AF fine tune.

Praktik: Peserta akan dibantu untuk memeriksa akurasi lensa masing-masing dan mengkalibrasinya melalui AF fine tune (fitur yang hanya terdapat di kamera tertentu) dan praktik foto bergerak dengan tombol AF-ON.

2. Memaksimalkan ketajaman foto
Pernah lihat foto yang sangat tajam sampai detail-detailnya di kondisi cahaya yang gelap atau interior? Kemungkinan besar fotografernya mengunakan teknik yang sangat baik untuk memaksimalkan ketajaman foto plus tip editing untuk mempertajam foto.

Praktik: peserta akan mencoba memotret mengunakan tripod, dengan setting untuk mencegah getaran dan memaksimalkan ketajaman foto

100% zoom dari foto diatas

Teknik memotret dengan ketajamanan terbaik

teknik-mempertajam-foto

100% zoom dan crop dari foto diatas

3. Metering dan cara menggunakan spot metering dengan tepat untuk berbagai jenis fotografi
Spot metering mungkin adalah mode metering yang paling misterius, tapi kalau pemakaiannya tepat, eksposur/terang gelap foto kita akan ideal. Berguna untuk berbagai jenis fotografi, termasuk landscape, konser.

4. Mengatasi pencahayaan yang kontras misalnya saat foto sunset/sunrise dan interior
Sering stres karena langit dan bumi terang gelapnya jauh berbeda? Langit terang sekali sedangkan bumi gelap? Kita akan mengatasi semua itu dengan berbagai teknik, antara lain: auto lighting optimizer/Active D-Lighting, mengunakan Filter GND, dan built-in HDR.

Praktik: peserta akan memotret interior dengan jendela. Kita akan berusaha mendapatkan terang gelap yang seimbang antara luar ruangan dan interior

5. Special effects dalam fotografi
Fotografi bisa jadi lebih menarik dengan mengunakan efek khusus seperti ini: Multiple exposure, interval timer, pengenalan timelapse photography, slow speed photography, infrared. Penggunaan filter polarizer, GND dll. Contoh video timelapse.

Praktik: Peserta akan mencoba beberapa special effect diatas.

Wajib dibawa: Kamera, lensa, tripod
Tidak wajib tapi direkomendasikan: filter-filter, cable release

Materi hari kedua: Mastering Art of composition and editing

Minggu, 20 April 2014
Waktu: Jam 10.00-16.30 WIB
Biaya: Rp 600.000

1. Mengelola Warna
Warna adalah sesuatu yang sangat penting dalam fotografi untuk meningkatkan akurasi warna sesuai yang diinginkan baik di layar monitor atau saat cetak, kita harus mengatur setting hal-hal yang berhubungan dengan warna di kamera, dan kalibrasi monitor kita. Hal-hal yang dibahas meliputi CMYK/RGB, Gamut warna, White Balance (WB), WB Shift, picture style and control, hue/color tone.

Praktik: Kalibrasi warna monitor, picture style

2. Advanced Composition
Pembahasan tentang teknik dan langkah-langkah membuat komposisi yang bagus. Pembahasan beberapa konsep komposisi, meliputi golden rasio, contrast, visual balance, harmony, isolation, storytelling, flow/action dan sebagainya.

Praktik: Latihan komposisi dengan berbagai objek di dalam ruangan

3. Post processing / editing
Pembahasan tentang konsep pengeditan foto dari awal sampai akhir. Tahapannya antara lain: Memperbaiki kelemahan foto, membuat subjek foto lebih dominan, memasukkan “rasa/feeling” ke dalam foto. Juga dibahas tentang beberapa gaya editing yang populer. Sebagian besar mengunakan Adobe Lightroom.

Akan dibahas persiapan teknik foto untuk HDR (penggabungan beberapa foto menjadi 1 dengan software Photoshop dan Photomatix.

Kiri: tipikal foto dengan mode Auto, Kanan: perpaduan dua foto dengan teknik HDR

Kiri: tipikal foto dengan mode Auto, Kanan: perpaduan dua foto dengan teknik HDR

Praktik: Latihan memotret dengan bracketing untuk HDR, dan latihan mengedit foto dengan software pengolah foto favorit Anda, sambil dibimbing dan diberikan masukan.

Wajib dibawa: Kamera dan lensa
Tidak wajib tapi disarankan: laptop, foto-foto pribadi

Special Deal: Untuk peserta yang mengikuti dua kelas sekaligus, akan mendapatkan harga special, yaitu Rp 950.000 (Discount Rp 250.000).

Cara Mendaftar

  • Transfer bank atas nama Enche Tjin via Bank BCA: 4081218557 via Bank Mandiri: 1680000667780
  • Konfirmasi melalui e-mail (email: infofotografi@gmail.com), sms atau telepon (085813183069 / 085883006769) dengan menyertakan nama peserta dan nama penyetor.
  • Datang di hari H sesuai dengan jadwal yang tercantum
{ 4 comments }

Kendala memotret human interest di China

Memotret foto human interest berupa portrait kehidupan orang lokal saat jalan-jalan itu menyenangkan, tapi banyak kendalanya untuk mendapatkan foto yang bagus. Kendala pertama yaitu dari dalam diri sendiri. Seringkali kita merasa tidak nyaman saat ingin memotret. Misalnya kita merasa malu untuk meminta izin sebelum memotret, atau merasa takut jika ada yang menolak atau marah-marah-marah.

Pada dasarnya, kita memang boleh memotret orang-orang yang berada di tempat umum. Tapi tidak semua orang yang berada di tempat umum senang untuk dipotret. Untuk itu, amannya kita meminta izin. Meminta izin bisa secara verbal tapi bisa juga secara non-verbal dengan bahasa tubuh, misalnya mengangkat kamera, menunjuk ke kamera dan dengan lirikan mata.

Kakek fotogenik ini setiap pagi nongkrong di depan area music hollow (yuepuao hollow). Dari posenya yang rileks, sepertinya kakek ini memang model pro, atau emang narsis :)

Kakek fotogenik ini setiap pagi nongkrong di depan area music hollow (yuepuao hollow). Dari posenya yang rileks, sepertinya kakek ini memang model pro, atau emang narsis :)

Pengalaman travel saya selama ini mengajari saya bahwa tanggapan setiap orang berbeda-beda tergantung dari daerah, dan pribadi masing-masing. Saya mendapati orang-orang yang hidup di asia tenggara seperti Indonesia, Thailand, Kamboja dan lain lain pada umumnya tidak berkeberatan untuk dipotret, malah ada yang cenderung senang bercampur malu. [click to continue…]

{ 0 comments }