≡ Menu

Hands-on kamera dan lensa di Photokina – Bagian 2

Setelah dari Photokina, saya bertolak ke kota Prague/Praha, Republik Ceko, disana saya agak kesulitan internet dan kebanyakan waktu saya habiskan untuk keliling kota yang mengagumkan. Kemarin sore saya tiba di kota Dresden, Jerman dan baru berkesempatan untuk melanjutkan cerita dari Photokina.

Baca juga: Hands-on Photokina bagian pertama

Kali ini saya akan berbagi pengalaman saat berkunjung ke booth micro four thirds yaitu Panasonic dan Olympus. Beberapa produk baru yang saya coba antara lain:

Panasonic LX10/LX15

Merupakan kamera compact dengan sensor jenis 1 inci. Mirip dengan kamera compact dari Sony RX100, atau Canon G7X. Bedanya LX10 ini memiliki lensa dengan bukaan lebih besar di bagian lebarnya. Lensa tersebut ekuivalen dengan 24-70mm f/1.4-2.8 Sayangnya keuntungan bukaan f/1.4 hanya di bagian terlebar yaitu 24mm, saat kita zoom ke 30-72mm bukaan maksimal lensa ini menutup ke f/2.8. Lensa kamera ini memilki brand Leica.

LX15 dilengkapi juga dengan kemampuan merekam video 4K 30p dan untuk mendukungnya, terdapat fitur 5 axis stabilization saat merekam full HD (1080 video). Sama seperti kamera mirrorless Panasonic lainnya, kamera ini memiliki fungsi 4K Photo Mode, Post focus dan Focus stacking, memanfaatkan teknologi video 4K. Autofokusnya sangat cepat, mirip dengan kamera micro four thirds Panasonic.

Menurut saya kedatangan kamera LX10 ini agak sedikit telat di kancah compact 1 inci. Tapi jika Anda mencari compact/pocket yang ringkas dengan kualitas tertinggi, sepertinya LX10 tidak akan mengecewakan. Harganya diperkirakan sekitar Rp 9 juta.

Panasonic G80/85

Panasonic G85 merupakan kamera mirrorless kelas menengah dari Panasonic yang berbentuk seperti mini-DSLR (Beda dengan GX80/85 yang bentuknya kotak ala rangefinder).

Kamera ini tidak begitu banyak dibahas, karena bukan yang terbaik, tercanggih atau yang termahal, tapi saya nilai kamera ini memiliki banyak hal yang positif dan cukup untuk berbagai jenis kebutuhan foto dan video. Pelajar/mahasiswa yang ingin belajar dan menekuni foto dan video mungkin cocok dengan kamera ini.

Perbedaan utama dari kamera ini dari generasi sebelumnya (G7) antara lain: weathersealing, in camera stabilization, 16 MP tapi tanpa low pass filter (gambar lebih tajam), viewfinder sedikit lebih besar. G85 ini akan dibundle dengan lensa travel ringkas, 12-60mm. Harga kamera body only sekitar $900 atau Rp 12 juta.

[click to continue…]

{ 4 comments }

Mengenal fitur AF fine tune / microadjustment di kamera DSLR

Pernahkah anda merasakan hasil foto yang didapat dengan kamera DSLR seperti kurang fokus sedikit dan tidak tahu apa penyebabnya? Bisa jadi ada masalah dengan akurasi auto fokus di lensa yang dipakai, sehingga walau kamera sudah bunyi ‘beep’ (tanda fokusnya sudah didapat) tapi ada sedikit meleset sehingga kurang terasa crisp (tajam). Hal ini kerap dialami oleh pengguna kamera DSLR karena mekanisme AF yang terpisah membuat ada peluang untuk sedikit meleset (miss focus), sedangkan kamera dengan cara live view atau AF deteksi kontras seperti kamera mirrorless tidak mengalami fenomena seperti ini (DSLR bila pakai live view juga terhindar dari issue ini).

Ceritanya saat kamera DSLR sedang mencari fokus, modul AF akan mendeteksi selisih fasa dan memerintahkan motor AF di lensa untuk berputar. Masalahnya tanpa deteksi kontras di DSLR membuat kamera (dan juga kita) tidak benar-benar tahu apakah fokusnya sudah pas banget atau belum. Bila belum pas, maka fokusnya akan sedikit jatuh ke belakang (back focus) atau ke depan (front focus). Misal kita arahkan titik fokus ke mata orang, saat dilihat hasil fotonya ternyata matanya kurang tajam dan justru telinganya yang tampak tajam, itu tanda lensanya ada masalah back focus.

Mendapat akurasi fokus yang pas sesuai keinginan ternyata sulit sekali untuk keadaan seperti ini, lensa 100mm dengan bukaan f/1.8 di kamera APS-C.

Mendapat akurasi fokus yang pas sesuai keinginan ternyata sulit sekali untuk keadaan seperti ini, lensa 100mm dengan bukaan f/1.8 di kamera APS-C.

Untungnya kasus seperti ini tidak banyak dirasakan dalam keseharian kita. Biasanya akan lebih dirasakan oleh yang pakai DSLR full frame dengan lensa tele bukaan besar seperti f/1.4, walau tidak menutup kemungkinan DSLR APS-C dengan lensa bukaan sampai f/4 juga mengalaminya. Bagaimana mencari tahu apakah lensa kita ada masalah seperti ini? Bisa coba tes foto ke focus chart seperti dibawah ini, arahkan fokusnya ke tengah (angka 0) dan lihat daerah DoF-nya seperti apa. Gunakan bukaan terbesar dari lensa yang kita mau uji ya. [click to continue…]

{ 0 comments }

Hands-on kamera dan lensa di Photokina

Halo pembaca Infofotografi, saya dan Iesan masih di Cologne, Jerman untuk menghadi Pameran foto Photokina yang merupakan pameran fotografi terakbar di dunia.

Kita telah tiga hari disini, dan besok akan meninggalkan Cologne. Dalam beberapa hari ini saya berkesempatan mencoba beberapa kamera dan lensa baru. Berikut kesan-kesan saya.

Leica Sofort Mint

Kamera Leica Sofort merupakan kamera analog instan yang dibangun berdasarkan sistem Fuji Instax. Leica memodifikasi desainnya dan menyediakan dua pak film merk Leica yaitu warna dan B&W.

Desainnya simple dan ringan, dirancang di Jerman, dibuat di Cina, ada flash, jendela bidik dan cermin kecil membantu untuk foto portrait dan selfie. Harganya $299.

l1020863

Di atas adalah contoh hasil cetakannya. Sayang sedikit terlalu terang karena flashnya terlalu kuat hehehe.

l1020867

Kamera mirrorless profesional Leica SL, dengan battery/hand grip dan lensa baru 50mm f/1.4. Besar dan beratnya cuma kalah sedikit dari lensa zoom 24-90mm f/2.8-4 yang sekitar 1.1 kg. Leica menjanjikan kualitas yang prima dari lensa ini. Saya sempat mencoba dan hasilnya terlihat baik meskipun pencahayaan di dalam pameran kurang baik.

l1020808

Disebelah Booth Leica, ada Hasselblad, sekalian saya coba kamera mirrorless medium formatnya Hasselblad X1D beresolusi 50 MP. Kesan saya kameranya relatif ringan dan kualitas fisik body kameranya bagus, dari logam dan terkesan kokoh. Jendela bidiknya agak kecil, tapi layarnya touchscreen, ukuran teks di menu-nya besar dan simple.

Autofokusnya cuma satu titik ditengah dan masih pakai sistem contrast detect jadul, jadi kadang hunting. Proses kameranya cukup cepat, meski bukan untuk subjek bergerak karena kecepatan foto berturut-turutnya cuma dua foto per detik.

Cukup menarik dan sudah mulai terima pre-order. Sebagian negara sudah mendapatkannya.

Di booth Canon, saya mencoba Canon EOS M5, mirrorless terbaru Canon, dan saya cukup terkesan dengan sistem autofokus yang sudah cepat dan jarang hunting. Kelemahan mirrorless Canon sebelumnya sepertinya sudah teratasi. Kecepatan autofokus masih bagus saat mengunakan lensa DSLR Canon dengan adaptor. Lensa baru Canon EF-M 18-150mm yang menurut saya ideal buat travel juga dipamerkan.

Sebenarnya masih banyak kamera yang saya coba, tapi karena waktu yang terbatas, maka akan saya lanjutkan besok lagi.

Baca juga Hands-on Photokina bagian ke-2

{ 4 comments }

Photokina 2016 Highlight : Kamera kamera baru

Sehari sebelum Photokina, banyak vendor mengumumkan produk-produk barunya, kebanyakan adalah produk unggulan / flagshipnya. Ada yang tersedia dalam tahun ini, tapi sebagian besar akan tersedia tahun depan. Tidak masalah lah, kita juga perlu waktu untuk mempertimbangkan kamera mana yang paling cocok atau sesuai kebutuhan/keinginan.

fujifilm-gfx-3

 

Fujifilm

Fujifilm menarik perhatian banyak pemirsa saat mengumumkan Fuji GFX, kamera dengan format sensor medium format (1.7 X lebih besar dari full frame format, dan 4 X lebih besar dari APS-C format). Resolusi kameranya adalah 51 Megapixel. Kabarnya dibuat sendiri oleh Fuji. Meski memiliki bentuk dan berat (800 gram body only) seperti DSLR, tapi GFX ini sebenarnya kamera mirrorless. Dibandingkan dengan kamera medium format lain yang sebagian besar masih memiliki cermin ala SLR, Fuji GFX relatif ringan. GFX juga menarik dari segi harga.

fujifilm-gfx-2Dikabarkan paket GFX dengan lensa 63mm f/2.8 akan dijual dengan harga dibawah US$10000 atau sekitar Rp 130 jutaan. Harga ini mungkin “WOW” bagi sebagian besar pembaca infofotografi, tapi harga segitu tergolong masih murah di sistem medium format.

Bersama sistem kamera ini, Fuji menyiapkan beberapa lensa di awal tahun 2017 yaitu Fuji GF 63mm f/2.8 R, Fuji GF 23mm F4 R LM WR, 32-64mm f/4, dan 120mm f/4 macro. Di pertengahan tahun depan akan tersedia GF 110mm F2 R LM WR dan di akhir tahun depan akan tersedia Fuji GF 45mm F2.8 R WR. Perlu diingat bahwa crop factor sensor medium format Fuji ini adalah 0.8x dengan aspek rasio 4:3. Jadi lensa 63mm ekuivalen dengan 50mm di format full frame.

Di kabarkan kamera dan lensa-lensa ini baru akan tersedia tahun depan. Fuji X-T2 yang baru diumumkan beberapa bulan lalu juga akan di-highlight dalam pameran ini.

fuji-lenses

Micro four thirds

Panasonic mengumumkan kamera mirrorless flagship mereka yaitu Panasonic GH5, kelebihannya lebih ke video, yaitu mampu merekam video 6K, dan juga memanfaatkan teknologi merekam cepat ini untuk foto. selain itu ada 3 lensa PRO Leica yang diumumkan, antara lain Leica 8-18mm f/2.8-4, 12-60mm f/2.8-4 dan 50-200mm f/2.8-4. Kamera pemula juga diumumkan bagi yang senang kamera yang lebih ringkas dan tidak terlalu mahal yaitu Panasonic G80.

Panasonic GH5 dan lensa baru Leica 12-60mm f/2.8-4.

Panasonic GH5 dan lensa baru Leica 12-60mm f/2.8-4.

Olympus juga mengumumkan kamera mirrorless pro-nya yaitu Olympus OMD EM1 II, kamera ini memiliki kemampuan autofokus yang lebih cepat terutama untuk subjek bergerak karena kini sudah dilengkapi dengan sensor phase detection di sensor-nya. Berbeda dengan Panasonic yang mengeluarkan tiga lensa zoom profesional, Olympus banyak mengumumkan lensa-lensa PRO weathershield baru seperti 25mm f/1.2, 10-100 f/4.

Olympus OMD EM1 II beserta lensa-lensa PRO Olympus, tapi belum siap untuk dicoba

Olympus OMD EM1 II beserta lensa-lensa PRO Olympus, tapi belum siap untuk dicoba

YI (Young Innovator)

Sistem micro four thirds kedatangan pendatang baru yaitu Yi dari China. Kamera ini compatible dengan lensa-lensa m43. Desainnya agak berbeda dengan kamera m43 yang sudah ada, yaitu lebih tergantung pada layar LCD touchscreen untuk mengendalikan kamera. Beserta kamera Yi, akan diluncurkan juga lensa zoom XiaoYi 12-40mm f/3.5-5.6 dan lensa fix 42.5mm f/1.8 untuk portrait. Harga kamera ini cukup terjangkau yaitu US$499 dengan lensa kit zoom, dan US$699 dengan kedua lensa.  Belum jelas apakah kamera ini akan dijual juga di Indonesia dan dengan harga berapa.

yi-mirrorless-4

Sony

Sony mengumumkan kamera Sony A99 II, kamera DSLT full frame yang ukurannya 8% lebih kecil dari A99 sebelumnya. Kamera ini mengunakan Alpha / A-mount, bukan E-mount (mirrorless). A99 II mengunakan sensor 42.4 MP seperti Sony A7R II dan phase detection di sensornya sehingga autofokus untuk subjek bergeraknya cepat. Selain itu juga ada 5 axis stabilization dan untuk harganya dipatok US$3200 atau sekitar Rp 40 juta, spesifikasinya mirip dengan A7R II. Perbedaan utama dengan A7R II adalah kecepatan foto berturut-turut A99 II ini dapat mencapai 12 foto per detik, sehingga untuk foto subjek dengan gerakan cepat seperti olahraga, aksi, wildlife, A99 II jauh lebih baik daripada A7R II.

sony-a99-ii

Canon

Sebelum Photokina, Canon sudah mengumumkan dua kamera baru yaitu Canon EOS M5 (mirrorless), Canon 5D mk IV (DSLR) dan perbaharuan lensa L: 16-35mm f/2.8 III dan 24-105mm f/4 II, sehingga tidak ada pengumuman lagi di Photokinanya, tapi kedua kameranya dipajang dan siap dicoba.

Nikon

Mengumumkan beberapa jenis kamera keymission yang memiliki tubuh compact dan lensa ultra lebar sampai 360 derajat. Sedangkan untuk kamera foto, sebelum Photokina Nikon sudah mengumumkan Nikon D3400, kamera DSLR pemula dengan kelebihan koneksi Snapbridge.

Iesan sedang menikmati hasil video kamera Nikon keymission 360 lewat alat virtual reality.

Iesan sedang menikmati hasil video kamera Nikon keymission 360 lewat alat virtual reality.

Kesan awal

Kesan saya terhadap pengumuman ini adalah Canon dan Nikon sebagai pemimpin pasar kamera tidak banyak melakukan inovasi. Dalam beberapa tahun terakhir, pemain yang relatif lebih kecil pangsa pasarnya seperti Sony, Fujifilm, micro four thirds (Panasonic-Olympus) saya lihat lebih aktif dalam berinovasi baik kamera maupun lensa berkualitas tinggi.

Inovasi dan produk berkualitas tinggi bagus, tapi sayangnya harga juga mau gak mau meningkat. Memang, penggemar dan profesional di bidang foto dan video di semakin lama semakin menuntut kualitas yang lebih tinggi sedangkan consumer/masyarakat awam, lebih cenderung puas dengan kamera yang dimiliki saat ini dan kamera ponsel yang dalam beberapa tahun terakhir sudah semakin baik.

Sampai tanggal 23 September ini saya dan Iesan masih di Cologne, Photokina. Bagi yang ingin ditanyakan boleh lewat komentar dibawah.

{ 21 comments }

EOS M5, mirrorless baru dan tercanggih dari Canon

Untuk menyambut ajang Photokina, Canon mengumumkan hadirnya generasi terkini untuk produk kamera mirrorless mereka yang bernama EOS M5 yang membawa banyak peningkatan dibanding EOS M3. Selama ini banyak anggapan kalau produsen kamera DSLR akan enggan membuat produk mirrorless yang akan menggerus market share DSLR-nya, tapi EOS M5 hadir memberi bukti kalau Canon juga mau membuat kamera mirrorless yang lebih ‘serius’ dan bisa disejajarkan dengan kompetitor.eos-m5-efm15-45-3q-cl-1

Urusan desain fisik EOS M5 punya bentuk yang lebih berorientasi ke fotografer enthusiast, puya grip cukup dalam, ada jendela bidik, layar lipat dan aneka roda kendali untuk ganti setting. Di bagian dalam EOS M5 mendapat sensor yang sama dengan EOS 80D yaitu APS-C 24 MP dengan teknologi Dual Pixel AF untuk auto fokus yang lebih cepat berteknologi hybrid AF, termasuk AI Servo untuk benda bergerak. Prosesor Digic 7 di EOS M5 memberi kinerja lebih cepat, termasuk 7 fps burst (atau 9 fps bila fokus dan eksposur tetap).

eos-m5-efm15-45-top-cl-1

Beberapa hal yang meningkat dari EOS M3 lainnya adalah layar LCD kini lebih besar (3,2 inci 1,6 juta dot) dan bisa dilipat selfie tapi ke bawah (karena ke atas akan terhalang oleh jendela bidik). Bicara jendela bidik, inilah mirrorless Canon pertama dengan jendela bidik elektronik (EOS M3 perlu membeli aksesori jendela bidik terpisah), dan detailnya cukup oke dengan 2,3 juta dot. Layar LCD di EOS M5 juga bisa jadi trackpad untuk memilih titik fokus, saat pandangan kita melihat ke jendela bidik. [click to continue…]

{ 9 comments }

Sigma Mount Converter MC-11 adalah adaptor yang memungkinkan untuk memasang lensa Sigma untuk Canon EOS dan Sigma SA ke kamera mirrorless Sony Alpha.

sigma-mc-11-01

Dalam beberapa tahun belakangan, kamera mirrorless seperti Sony A6000, A7 makin populer karena ukurannya yang relatif kecil dengan harga yang terjangkau. Sigma memang ada membuat beberapa lensa untuk mirrorless, yaitu 19mm f/2.8, 30mm f/2.8 dan 60mm f/2.8 DN, tapi perkembangannya seperti terhenti. Sigma sepertinya berpikir, mengapa harus repot buat desain lensa yang benar-benar baru untuk mirrorless padahal lensa-lensa DSLR Sigma yang baru sudah cukup komplit dan kualitasnya sangat tinggi. Sebagian fotografer yang telah memiliki lensa Sigma untuk DSLR Canon juga ingin mengunakannya di kamera mirrorless seperti Sony A7, Fuji X dll.

[click to continue…]

{ 1 comment }

Mentoring rooftop Cityscape 25 September 2016

Melanjutkan sesi mentoring rooftop Cityscape yang sudah dilaksanakan bulan lalu, kali ini kami jadwalkan agenda baru di hari Minggu, 25 September 2016 bertempat di gedung Sapta Pesona Medan Merdeka Barat Jakarta. Disana kita akan mendapat view ke arah Monumen Nasional dan sekitarnya sehingga diharapkan sambil belajar slow speed kita bisa mendapat karya foto cityscape yang menarik.

View ke arah monas (photo by Rohani Tanasal)

View ke arah monas (photo by Rohani Tanasal)

Acara ini akan dipandu oleh saya (Erwin Mulyadi) dan Rohani dengan biaya mentoring Rp. 450.000,-

View ke arah patung kuda (photo by Rohani Tanasal)

View ke arah patung kuda (photo by Rohani Tanasal)

Alat yang perlu dibawa tentunya kamera, lensa (lebar hingga menengah) dan tripod yang kokoh. Aksesori lain seperti filter, cable release dsb adalah opsional.

Tempat terbatas, bagi yang berminat bisa mendaftar ke 0858-8300-6769 atau e-mail ke infofotografi@gmail.com

{ 1 comment }

Berkunjung ke Photokina 2016

Menghadiri pameran foto terbesar Photokina di Cologne, Jerman, tentunya merupakan impian saya sejak saya di bangku kuliah sepuluh tahun yang lalu. Setelah bertahun-tahun, akhirnya tahun ini saya membulatkan tekad untuk menghadiri pameran besar itu tahun ini.

photokina_2016_poster

Saya akan berangkat bersama Iesan, dengan biaya sendiri. Setelah Photokina, kami akan berkunjung ke beberapa tempat kota seperti Amsterdam, Dresden, Berlin dan Prague.

Saya dan Iesan berencana akan menghadiri Photokina setidaknya dua hari penuh, dan mengabarkan produk-produk fotografi baru, dari kamera, lensa, dan berbagai aksesoris dari berbagai brand. Saya juga akan berusaha ngobrol atau mewawancari  product manager masing-masing brand untuk mengetahui lebih dalam produk baru dan rencana jangka panjang mereka.

Perjalanan kami akan dimulai tgl 19 September sampai 3 Oktober. Selama disana, kami akan berusaha update foto-foto dan cerita perjalanan baik di Infofotografi.com, detikinet fotostop dan instagram masing-masing (Enche Tjin, Iesan Liang).

Jika teman-teman ada request liputan, hands-on, atau punya pertanyaan untuk berbagai brand kamera, boleh titip pertanyaan Anda di bagian komentar.

Bagi teman-teman yang perlu info dan mendaftar untuk kursus dan tour tetap bisa hubungi 0858 1318 3069 (WA) atau e-mail infofotografi@gmail.com seperti biasanya.

{ 17 comments }

Bahas foto: Adakah lensa yang terlalu tajam?

Sebagian besar fotografer terobsesi dengan ketajaman sebuah gambar, dan karena itu, ia rela membeli kamera dengan sensor besar, resolusi tinggi dan tidak lupa memasangkan lensa yang tajam.

Saat workshop fotografi portrait outdoor akhir pekan yang lalu, saya mencoba kombinasi Leica SL (full frame 24MP tanpa low pass filter) dengan lensa Zeiss 135mm f/2 APO Sonnar. Karena lensa Zeiss saya mount-nya Nikon (ZF.2), maka saya perlu adaptor lensa Nikon ke Leica SL. Lensa fix manual fokus ini tergolong sangat tajam dan hanya sedikit lensa yang bisa menandingi ketajamannya (Zeiss Otus 85mm/55mm, Leica 50mm f/2 APO, atau Sony 85mm f/1.4 GM).

Untuk portrait,  jika fokusnya benar, maka kita akan mendapatkan gambar yang sangat tajam. Di bagian mata, dan kita bisa melihat tekstur contact lens dan menghitung bulu mata dengan mudah.maya-02

mata-zeiss-135

Crop dari foto diatas

Tapi masalahnya, bagian kulit yang sejajar dengan mata juga akan tajam, maka itu, tekstur kulit akan terlihat sangat tajam juga, seperti kulit jeruk. Dalam foto portrait, ini jadi masalah, karena kulit menjadi terlihat kasar.

Cara mengatasi masalah ini adalah kita harus belajar editing, contoh di artikel ini saya mengunakan software Adobe Lightroom untuk mengurangi ketajaman dan kontras di bagian kulit. Photoshop juga bisa, dan mungkin lebih halus jika pengerjaannya lebih rapi, namun perlu lebih banyak waktu untuk mengeditnya.

screen-shot-2016-09-12-at-11-28-50-am

Sebelah kiri: Tidak ada pengeditan, langsung dari kamera, terlihat terlalu tajam bagi saya. Yang kanan setelah di edit dengan Lightroom. Model: Maya Novethesia.

Cara lainnya mengunakan lensa yang tidak terlalu tajam. Nah, lucu juga kan haha. Ngapain kalau sudah punya lensa yang sangat tajam, terus malah ganti lensa yang agak soft? Ya.. setiap lensa punya karakter sendiri-sendiri, ada yang tajam, ada yang soft, bukan berarti lensa yang lebih soft itu berarti kualitasnya rendah, tapi mungkin itulah sifat dari lensa tersebut.

leica-50mm-noctiluxContohnya lensa Leica Noctilux 50mm f/0.95, lensa legendaris yang masih diproduksi Leica saat ini. Lensa ini tajam, tapi dibandingkan dengan lensa-lensa top saat ini, ketajamannya tidak terlalu menonjol, tapi kelembutan dan efek bokeh (latar belakang blur) nya unik dan menarik dipandang. Tidak heran bahwa banyak pengguna Leica M yang mengidolakan lensa ini.

Saya pernah ketemu dengan Ray Tan, trainer dan manager Leica Store Raffles, Singapore belum lama ini, dan saya menanyakan, bagaimana jika saya mengunakan lensa Zeiss untuk dipasang di Leica SL saya, karena kebetulan saya punya dua lensa Zeiss yang menurut saya kualitasnya oke (25mm f/2 dan 135mm f/2). Jawabannya sederhana: “Kalau Anda pasang lensa Zeiss, Anda mungkin akan mendapatkan hasil foto yang lebih tajam dari lensa Leica, tapi kalau pakai lensa Leica, maka Anda akan mendapatkan foto yang lebih bernyawa (soul)”. Setelah melihat hasil foto-foto saya dengan lensa Zeiss dibandingkan dengan lensa Leica, mungkin dia benar.

{ 6 comments }

Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan mencoba lensa MFT Panasonic Lumix G 42.5mm f/1.7 ASPH, lensa tele menengah setara dengan lensa 85mm pada kamera ber format 35mm dengan Optical Image Stabilisation (OIS), sehingga bila menggunakan kamera GX8 atau GX85 antara IBIS dan OIS akan bekerja secara simultan sehingga bagi yang senang membuat vidio ini sangat membantu sekali, tetapi sayang nya apa bila lensa ini dipasang pada kamera Olympus OIS nya tidak berfungsi sama sekali.

43mm-f-17-asph

Saya merasakan lensa Panasonic Lumix G 42.5mm f/1.7 ASPH ini cukup ringan hanya seberat 130g, ringan karena dibangun dari bahan plastik berkualitas tinggi untuk tabungnya serta memiliki lapisan logam pada bagian-bagian tertentu, walaupun ringan tetapi berpenampilan kokoh. Bentuknya sangat ringkas dan kompak (5,5/5,0 tanpa tudung lensa) bayangkan lensa tele medium 85mm f/1.7 bisa kita masukan kedalam saku tanpa terlihat dan mengganggu, selain itu keuntungan lain nya adalah akan lebih mudah melepas dan memasang dua lensa bersamaan hanya dengan satu tangan. (Perlu sedikit latihan sih )

lumix-42_5mm-3

[click to continue…]

{ 5 comments }