≡ Menu

Workshop macro/close-up photography
1-2 November 2014 Daftar/Info: hub: 0858 1318 3069

Kamera revolusioner 2003-2014

Tumbuh dan berkembangnya fotografi digital saat ini salah satunya disebabkan oleh teknologi kamera digital yang semakin baik kualitasnya dan harganya makin terjangkau. Dahulu, kamera digital canggih hanya digunakan fotografer profesional. Tapi saat ini, kamera digital berkualitas sudah digunakan berbagai kalangan masyarakat. Dalam kisaran sepuluh tahun terakhir, perkembangan teknologi kamera digital sangat pesat, dan berikut ini adalah beberapa kamera digital yang penting dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Kamera-kamera yang disebutkan dibawah ini revolusioner karena memiliki teknologi inovasi yang sangat baru di masanya, dan kemudian banyak ditiru desainnya.

canon_300d

Canon EOS 300D (2003)

Sebelum kamera ini hadir, hampir semua kamera DSLR dibuat untuk kalangan profesional atau fotografer amatir yang serius menekuni fotografi. Harga kamera DSLR juga relatif tinggi. Kamera ini kamera DSLR yang sukses untuk kalangan masyarakat umum karena ukurannya yang relatif ringkas dan sederhana dengan harga dibawah $1000. Suksesnya kamera ini membuat produsen kamera lain mulai ikut membuat kamera DSLR untuk pemula dengan harga yang terjangkau.

Dengan adanya kamera tingkat dasar atau pemula ini, masyarakat umum bisa belajar dan membuat foto yang berkualitas bagus, tidak kalah jauh dengan kamera DSLR profesional saat itu. Saat ini, seri kamera ini telah diperbaharui lebih dari tujuh kali. Kamera penerusnya dan variasinya yang dipasarkan saat ini adalah Canon 700D, 100D dan 1200D.

iphone-1

Apple Iphone (2007)

Gadget yang ini sebenarnya adalah telepon seluler, tapi memiliki kamera dengan kualitas yang hampir sama baiknya dengan kamera digital saku. Bedanya, Iphone ini memiliki antarmuka yang sangat sederhana dan intuitif sehingga memudahkan penggunanya untuk merekam gambar. Untuk berbagi foto juga lebih mudah karena bisa diunggah langsung ke media sosial atau dikirim ke pengguna lain. Karena ukurannya kecil dan selalu dibawa kemana-mana, Iphone menjadi kamera yang paling sering digunakan orang untuk merekam foto. Keunggulan lain dibandingkan kamera digital konvensional adalah banyaknya aplikasi fotografi dan pengolahan foto yang membuat foto kian menarik. iPhone sudah diperbaharui beberapa kali dan kualitas gambar yang dihasilkan semakin baik.

canon-5d-mk2

Canon 5D mk II (2008)

Kamera digital full frame ini bukan DSLR pertama yang bisa merekam video, tapi merupakan kamera dengan sensor full frame pertama yang dapat merekam video. 5D mk2 dapat merekam sampai kualitas Full HD yang sangat tajam saat itu. Dengan kombinasi lensa yang bermacam-macam dan sensor yang besar, Canon 5D mk2 dengan cepat menarik perhatian para videografer amatir ataupun profesional yang memiliki anggaran yang terbatas. Meskipun terkenal atas fitur videonya yang berkualitas dan fleksibel, Canon 5D mk2 juga merupakan kamera digital yang handal saat itu. Fotografer travel dan pemandangan menyukai kamera ini karena resolusi gambarnya tinggi dan kualitas foto di ISO tingginya baik. Jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya yaitu 5D, peningkatan 5D mk2 sangat signifikan ditilik dari kualitas gambar dan fitur kameranya.

[click to continue…]

{ 0 comments }

Era video 4K sudah tiba, apakah kita sudah siap?

Bila selama ini kita mengenal video digital dengan dua macam pilihan kualitas yaitu Standard Definiton (SD, 480p) dan High Definition (HD, 720p dan 1080p), maka generasi mendatang dari tayangan video kualitas tinggi adalah video 4K yang mampu merekam video resolusi 4x lebih detil dari video HD biasa, atau disebut juga dengan Ultra HD (UHD). Dalam hitungan piksel, maka bidang gambar dari video ini adalah 3840×2160 piksel (aspek rasio 16:9) yang memberi detail jauh lebih banyak dibanding video HD.

Perbedaan detail HD dan 4K

Produsen kamera digital maupun kamera khusus video telah membuat beberapa produk yang sudah bisa merekam video 4K. Di youtube bahkan sudah ada beberapa video yang disimpan dalam format 4K. Dengan memilih setting video 4K di kamera maka video yang direkam akan memiliki kualitas sinema dengan detail tertinggi yang memanjakan mata pemirsanya. Bahkan bila satu frame dari video 4K di capture lalu dijadikan still image maka resolusinya setara dengan foto 8 MP. Sebagai gambaran, sebuah file foto 8 MP sudah bisa dicetak ukuran cukup besar seperti 20x30cm.

Salah satu TV 4K

Apakah dengan kualitas yang tinggi ini lalu serta merta semua orang, individu, profesi maupun dunia industri akan beralih dari era HD ke era 4K? Saya rasa saat ini belum, masih jauh bahkan. Ingat kalau video digital adalah sebuah sistem, sebuah workflow mulai dari image capturing, storage, process/editing sampai display. Kalau kamera kita 4K lalu ditayangkan di TV LCD HD saja maka tampilannya tidak ada bedanya dengan rekaman HD biasa. Untuk melihat hasil videonya dengan optimal diperlukan TV yang juga memenuhi standar 4K, itupun diperlukan kabel HDMI generasi kedua yang mampu menampung bandwidth hingga 18 Gbps. Kalaupun ingin video kita lebih menarik, bisa jadi kita perlu lakukan proses editing. Dengan video 4K, maka editing video jauh lebih berat dan membutuhkan komputer super kuat untuk memproses datanya, dan hardisk super besar untuk menyimpan hasilnya. [click to continue…]

{ 1 comment }

Bahas foto Karang di Sawarna

f/3.2, ISO 100, 1.6 detik

f/3.2, ISO 100, 1.6 detik, 30mm (45mm ekuivalen FF) – filter ND 10 stop

Yang menarik dari batu karang di foto ini adalah bentuknya yang seperti tembok penghalang yang tinggi, yang menghadang air yang menerpa pantai. Sekilas terlihat seperti perisai besar yang menahan gelombang serangan gelombang yang terus menerus. Karang yang berwarna gelap dan air yang mengalir adalah menimbulkan kontras. Dengan teknik slow speed, aliran air menjadi sangat lembut sehingga kontras semakin tinggi.

Tantangan dalam memotret lainnya adalah komposisi. Dalam hal ini saya mencari pola/pattern. Berada cukup dekat dengan ombak saya harus berhati-hati jangan sampai ombak terlalu tinggi menerpa kamera saya. Sebelumnya saya mengamati dan memantau ketinggian ombak. Dalam beberapa menit, saya tahu bahwa ombak tidak akan menjangkau area tertentu, dan disanalah biasanya saya menancapkan tripod.

Tantangan berikutnya adalah memilih timing yang tepat untuk menjepret. Saat yang tepat adalah sesaat setelah ombak menghempas karang, dan shutter speed yang ideal tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Dari pengalaman saya, antara 1-2 detik cukup bagus. Kalau terlalu cepat, aliran air terlihat patah-patah, kalau terlalu lambat, aliran air berubah menjadi seperti kabut. Untuk mendapatkan 1-2 detik, saya agak terpaksa mengunakan f/3.2 untuk mempertahankan supaya ISO-nya tetap 100 (untuk kualitas terbaik). Filter ND 10 stop yang saya gunakan sedikit terlalu pekat. Mungkin 6-8 stop cukup.

Untuk memastikan kamera tidak bergetar, image stabilization (IS, VR, Steadyshot dll) saya matikan, karena posisi kamera di tripod. Lalu idealnya mengunakan cable remote control. Atau paling sedikit mengunakan kombinasi self timer/exposure delay/mirror lock-up. Untuk foto ombak, self timer agak sulit karena ada jeda 2 detik, jadi harus bisa membayangkan dan sense of timing yang lebih bagus.

Kebetulan saat berada di lokasi cuaca sedang mendung. Awan cukup tebal menutupi sinar matahari pagi, sehingga langit tampak abu-abu. Tidak masalah bagi saya karena saya tidak perlu repot memperhitungkan arah cahaya. Langit yang mendung sama dengan softbox sehingga cahaya menjadi lembut dan tidak ada bayangan yang keras/gelap. Efek dari cuaca mendung membuat hasil gambar seperti monochrome (satu warna) tanpa perlu di edit.

Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya foto yang ini yang saya kira pas sesuai dengan imajinasi saya.

—–
Tgl 22-23 November Infofotografi akan menyelenggarakan tour ke kawasan pantai Sawarna dan sekitarnya, bagi yang berminat bisa baca dan daftar melalui info dibawah ini.

Bagi yang ingin belajar dasar fotografi dan lighting bisa memeriksa jadwal dan materi disini.

{ 2 comments }

Pendapat tentang Nikon D750

Sewaktu Nikon D750 diumumkan, saya cukup tertarik dengan kamera ini, dan sempat terpikir untuk menjual kamera Nikon D700, untuk membeli Nikon D750. Tapi, setelah beberapa minggu, rasanya tidak masuk akal secara finansial untuk melakukannya.

Meskipun saya menjual Nikon D600 dan D700 saya sekaligus, uang penghasilannya mungkin masih kurang untuk membeli Nikon D750 baru. Selain itu dari segi kualitas gambar, tidak begitu signifikan dari Nikon D600 yang menurut saya sudah bagus. Jadi untuk apa menjual dua kamera untuk mendapatkan satu kamera? pikir saya.

nikon-d750

Bagi yang sekarang ini lagi memikirkan untuk upgrade ke kamera DSLR full frame Nikon, mungkin D750 ini merupakan hal yang menarik. Meskipun kualitas body-nya tidak sama dengan Nikon D700 atau Nikon D300 yang full magnesium alloy, tapi dari dengar-dengar, pegangannya juga enak dan body campuran magnesium alloy dan carbon fiber tidak terasa seperti plastik murahan.

Fitur-fiturnya juga setara dengan kamera yang lebih canggih seperti Nikon D810. Ada beberapa hal yang menarik juga seperti layar LCD yang bisa dilipat (tilt), fitur movie yang lebih banyak, bahkan ada halaman khusus movie di dalam menu.

Bagi yang sekarang mengunakan Nikon D600/D610, jika upgrade akan mendapatkan kelebihan dibawah ini:

  • Pegangan yang lebih mantap
  • Kualitas fisik yang terasa lebih kokoh tanpa menambah total berat
  • Sistem autofokus tercanggih Nikon 51 titik fokus (tapi masih ditengah)
  • Sistem AF bisa foto di dalam kegelapan EV-3
  • Foto berturut-turut sedikit lebih cepat
  • Layar LCD bisa dilipat
  • Hasil foto sedikit lebih tajam dan bebas noise
  • Built-in Wifi

Bagi yang sekarang mengunakan Nikon D700 dan mempertimbangkan D750, akan mendapatkan kelebihan:

  • Kualitas gambar yang lebih bagus
  • Bobot yang lebih ringan (1 kg vs 750 gram)
  • Layar LCD lipat
  • Bisa merekam video
  • Sistem autofokus sedikit lebih baik (AF grouping)
  • Built-in Wifi

Kelemahan D750 dibandingkan dibanding kamera seri D800/D700 antara lain:

  • Viewfinder tidak bundar dan tidak ada tirai untuk viewfinder (berguna untuk long exposure/landscape)
  • Tombol tidak lengkap (tidak ada AF-ON)
  • Body tidak full magnesium alloy
  • Kualitas gambar kalah detail/tajam dari Nikon D800E/D810
  • Shutter speed maksimum 1/4000 detik
  • lebih tidak seimbang saat memakai lensa telefoto besar
  • Titik-titik AF cakupannya lebih sempit (mengumpul ditengah)

Meski kelebihannya terlihat cukup banyak, tapi keunggulan diatas tidak begitu menarik bagi saya, karena dari segi body dan kualitas AF saya sudah cukup puas dengan Nikon D700, terutama untuk kebutuhan fotografi aksi. Dan lagi, kebutuhan saya saat ini juga sudah berubah, saya jarang motret liputan tapi lebih banyak ke travel, pemandangan, street photography, sehingga kelebihan D750 dibandingkan D600 tidak begitu penting. Dengan kata lain, D750 bukan kamera yang “must have” bagi saya.

Beberapa bulan terakhir, saya sempat mencoba beberapa kamera mirrorless seperti Sony A7 dan A7s, kedua kamera ini juga sangat berkualitas hasil fotonya dan beratnya hanya 60%-nya Nikon D750. Hanya sayangnya sistem autofokus seri A7 belum setara kamera D750 (yang Sony A6000 dan A5100 sudah setara). Jadi, kemungkinan saya masih menunggu, mungkin beberapa tahun kedepan saya akan lebih banyak mengunakan kamera mirrorless untuk travel.

Nikon D750 sangat cocok untuk fotografer yang saat ini mengunakan kamera DSLR Nikon APS-C seperti Nikon D7100, D300/s, yang sedang menunggu kamera untuk upgrade. D750 bisa untuk berbagai jenis fotografi, tapi paling cocok untuk fotografi liputan, wedding, dan sport/satwa liar. Cocok juga untuk videografi. Jangan lupa setelah upgrade lensa-lensa juga perlu di-upgrade untuk memaksimalkan potensi kamera ini.

{ 10 comments }

Tips Komposisi dalam Food Photography

Makanan adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita. Tanpa kita sadari, sebagai penggemar fotografi ataupun sebagai fotografer profesional, kita sebenarnya sangat dekat dengan objek fotografi yang bernama makanan. Di era semakin berkembang pesatnya sosial media seperti sekarang, banyak orang meski mereka bukanlah penggemar fotografi/fotografer profesional sering mengupload foto-foto makanan di berbagai jejaring sosial yang mereka gunakan. Ada istilah: “Difoto dulu baru dimakan!”

Dalam tulisan kali ini, saya ingin berbagai kepada pembaca Infofotografi tentang komposisi dalam memotret makanan. Saya sengaja memberi banyak contoh makanan mulai dari camilan dalam bentuk biskuit, cake, mie instan, hingga pudding. Dengan banyaknya contoh makanan dan beragam komposisi, saya berharap para pembaca Infofotografi dapat memperoleh sedikit gambaran ketika ingin memotret makanan.

Berikut beberapa contoh komposisinya:

komposisi-food-photography-kopi

Pada foto diatas dan dibawah ini, saya memotret camilan berupa biskuit dengan komposisi rules of third. Sketsa garis komposisinya ada di foto sebelah kanan.

komposisi-mie

Di foto di bawah ini, saya sengaja menyusun biskuit camilan dengan bentuk menyerupai tumpeng. Dalam foto ini saya menggunakan komposisi segi tiga.

komposisi-biskuit

Pada contoh foto-foto dibawah. Saya menggunakan contoh komposisi yang sama yaitu diagonal. Yang perlu diperhatikan dari komposisi diagonal adalah kita jangan memiringkan kamera kita membentuk sebuah diagonal, tetapi kita yang harus mengatur objek kita sesuai dengan diagonal frame di kamera kita.

komposisi-chicken-wing

Pada contoh foto selanjutnya saya menggunakan komposisi dead center. Komposisi ini dilakukan dengan cara membagi frame foto menjadi 4 bidang yang sama besar, lalu meletakkan makanan tepat di tengah-tengah persinggungan garis yang membagi ke 4 bidang.

komposisi-dead-center

Foto dibawah ini saya buat dengan komposisi elips. Komposisi ini adalah komposisi yang paling mudah dalam food photography. Jika kita menemukan makanan di mangkok/ piring kita bisa langsung menerapkan komposisi ini. Komposisi elips bisa pula dipadukan dengan komposisi rules of third.

komposisi-soto

komposisi-melon-rujak

Selamat makan dan Salam Fotografi!

Albertus Adi Setyo adalah fotografer profesional yang juga mengajar fotografi di Infofotografi dengan topik creative flash untuk liputan, produk dan portrait, juga workshop creative water effect.

{ 3 comments }

Mempergunakan Smart Preview di Lightroom 5

Hal yang terpenting di Lightroom dalam mengelola dan mengedit foto adalah foto orisinilnya harus tetap terhubung dengan katalognya. Jika tidak terhubung, maka ketika kita mengedit foto, tulisan “Folder could not be found” akan muncul dan di bagian kanan tempat histogram, akan tertulis Photo is missing [kotak merah]. Ini merupakan hal yang paling ditakuti pengguna Lightroom.

folder could not be found1

Kadang kala, foto orisinil kita disimpan di eksternal harddisk dan kita sering berpindah-pindah membawa laptop dari satu tempat ke tempat lain. Hal ini tentu sangat merepotkan.

Ternyata, LR 5 menjawab masalah ini dengan memberikan fasilitas Smart Preview. Lightroom akan membuat sendiri file Smart Preview yang lebih kecil. Dengan demikian, walaupun foto orisinilnya tidak terhubung, kita masih tetap bisa melakukan pengeditan di modul Develop.

Ada beberapa cara membuat file Smart Preview:

1. Pada saat impor, di bagian kanan Impor dialog ada bagian File Handling. Centanglah kotak Build Smart Previews [kotak merah].
build smart preview import1

2. Jika foto-foto sudah diimpor, pilihlah dari menu Library > Previews > Build Smart Previews [kotak merah].

bulid smart preview library1

[click to continue…]

{ 1 comment }

Daftar lengkap DSLR Nikon Full Frame 2014

Nikon boleh jadi adalah produsen kamera DSLR yang punya lini full frame (FX) paling lengkap. Betapa tidak, dari DSLR FX paling basic hingga yang paling canggih ditemui setidaknya ada lima varian. Ini belum mengikutsertakan kamera generasi lama yang juga masih dijual. Sensor full frame yang menjadi jaminan mutu sepertinya jadi alasan Nikon membuat begitu banyak kamera DSLR full frame. Kita akan tinjau apa saja andalan Nikon di kelompok kamera FX ini.

Nikon D610

Di daftar pertama ada kamera Nikon D610 yang dibekali sensor 24 MP dengan bodi yang nyaris seukuran dengan kamera Nikon DX seperti D7100, lengkap dengan built-in flash dan motor fokus di dalam bodi. Walau berada di lini terbawah, D610 punya bodi magnesium, viewfinder 100% coverage dan dual memori slot. Dalam beberapa hal spek D610 memang tergolong ‘biasa’ seperti misalnya ISO maksimum adalah ISO 6400 (meski bisa diangkat sampai ISO 25600), 39 titik fokus dengan 9 cross type, shutter speed maksimum 1/4000 detik dan kecepatan tembak 6 foto per detik. Bisa dibilang D610 adalah DSLR full frame yang dirancang untuk kebutuhan dasar fotografi tapi dengan jaminan hasil foto terbaik.

Nikon D610, pengganti Nikon D600 yang lebih sempurna

Nikon D610

Cocok untuk : hobi fotografi, traveling, enthusiast 

Nikon D750

Di daftar kedua kita akan meninjau kamera kelas menengah Nikon D750 dengan sensor yang juga 24 MP, dan tetap memakai low pass filter. Perbedaan utama dengan D610 adalah pada auto fokusnya, dengan sejumlah 51 titik fokus (15 cross type) disiapkan untuk melacak aksi yang cepat, plus mampu mencari fokus di tempat yang gelap (-3 Ev).Soal kinerja burst termasuk sedang dengan 6,5 foto per detik. Lalu apa yang ingin Nikon tonjolkan dan berbeda dari generasi sebelumnya pada kamera bodi monokok berbahan magnesium alloy dan fiber karbon ini? Yang pasti pertama terlihat beda adalah layar LCD 3,2 yang bisa dilipat ke atas dan ke bawah (walau sayangnya tidak bersistem touch screen). Lalu adanya fitur Wifi juga sebuah nilai plus karena kompetitor sudah pada menyematkan fitur ini di kamera mereka. Peningkatan lain yang tidak terlalu mengejutkan adalah modul dan fitur metering, fitur video, (Auto ISO, power aperture dan bisa simultan rekam ke memori dan HDMI out).

nikon-d750

Nikon D750 dengan layar LCD dilipat ke atas

Beberapa hal di D750 agak disayangkan seperti cuma bisa maksimum shutter  1/4000 detik, tidak ada focus peaking dan eyecup di jendela bidik tidak bebentuk lingkaran.

Cocok untuk : foto liputan, hobi fotografi dan videografi, enthusiast 

Nikon D810

Nikon D810 merupakan DSLR full frame kelas elit dengan resolusi ekstra tinggi 36 MP. Kamera ini seperti pendahulunya D800/D800E ditujukan untuk para profesional yang mencari kualitas hasil terbaik sekaligus detail yang tinggi sampai cetak ukuran ekstra besar. Dari bodinya D810 masih sangat mirip dengan pendahulunya, sedikit lebih ringan dan ada perubahan tata letak tombol tertentu. Layar LCD di D810 masih berukuran 3,2 inci dengan 1,2 juta titik, tapi kini tersusun atas piksel RGBW dan ada split-screen view untuk membantu komposisi. Sensor D810 tanpa Low Pass Filter, sehingga hasil foto bisa lebih tajam walau sebagai resiko akan rentan muncul moire. Sensor di D810 juga bisa diajak untuk main ISO rendah sampai ISO 64, dipadankan dengan prosesor yang sama dengan D4s yang bisa menekan noise, mendukung video 1080p 60 fps dan memotret kontinu hingga 7 fps (di mode DX). Shutter di D810 bermekanisme agak berbeda dengan meniadakan mekanisme buka tutup saat first-curtain, digantikan dengan elektronik shutter sehingga mengurangi getaran dan bunyi.

D810_24_70_front34l.low

Nikon D810, tanpa low pass filter

Nikon D810 menjadi DSLR Nikon yang pertama mengenalkan sistem auto fokus yang bisa memilih opsi group-AF daripada memilih satu diantara 51 titik AF yang ada. Juga disini dikenalkan juga mode metering tambahan yang berguna untuk memotret pemandangan adalah Highlight-weighted metering. Ada juga zebra pattern saat live-view untuk indikasi hihlight yang terlalu terang. Dalam urusan Picture Control, ada pengaturan baru untuk memainkan clarity, pengguna editing Lightroom tentu sudah akrab dengan clarity yang bisa membuat foto jadi lebih muncul detailnya. Juga ada opsi Picture Control baru yaitu ‘Flat’ yang menjaga highlight dan shadow tetap natural saat rekam video.

Nikon D810 memanjakan para perekam video profesional juga, seperti bisa manual eksposur (termasuk mengatur bukaan saat sedang rekam video), ada 60 fps untuk slow motion (walau belum ada 4K, dan memang saat ini belum mendesak untuk itu) dan konektivitas lengkap (mic, headphone dan clean HDMI out).

Cocok untuk : fotografer komersil, videografer pro, fotografer pemandangan

[click to continue…]

{ 3 comments }

Tips memotret benda berbahan kaca

Ketika kita memotret sebuah benda, sebaiknya kita kenali terlebih dahulu bahan pembuatan benda tersebut. Pada dasarnya ada dua jenis benda dengan bahan yang berbeda sifat ketika terkena cahaya.

Dua sifat benda tersebut adalah:

1. Benda yang mempunyai sifat memantulkan cahaya/reflektif.

2. Benda yang menyerap cahaya.

Dalam tulisan kali ini, saya ingin berbagi kepada pembaca infofotografi bagaimana cara memotret benda yang bersifat memantulkan cahaya/ reflektif. Untuk tulisan kali ini, saya mengambil contoh benda yang berbahan kaca.

Tips saya Cuma satu ketika kita memotret benda yang berbahan dasar kaca:

Hindari menembak sumber cahaya secara langsung ke arah objek tanpa menggunakan light modifier  seperti softbox.

Lalu bagaimana caranya jika kita tidak mempunyai light modifier?

Jawabannya sederhana saja: gunakanlah bidang pantul yang ada di sekitar objek pemotretan. Kita bisa memanfaatkan tembok putih, kertas putih, kaca, maupun styrofoam.

Arahkanlah sumber cahaya tersebut ke media tersebut. Saya akan lampirkan beberapa contoh foto benda berbahan kaca dengan variasi teknik lighting yang berbeda-beda.

Foto 1

kaca-axl

Pada contoh foto 1, saya menggunakan sumber cahaya berupa 2 buah flash. Satu flash saya arahkan sebagai background light yaitu menembak ke tembok putih yang berada di belakang objek. Sementara 1 flash lagi saya gunakan sebagai main light untuk menembak objek foto dari arah 45 derajat ke kiri. cahaya flash tercutting dengan kaca aquarium sehingga tidak terlalu keras menembak ke objek.

Foto 2

kaca-parfum-1

Pada contoh foto 2, saya menggunakan 1 flash yang saya arahkan ke tembok putih di belakang objek. Saya memanfaatkan mika berwarna biru sebagai diffuser untuk memotong cahaya flash agar tidak terlalu keras sekaligus memberikan efek warna yang menarik.

Foto 3

kaca-gelas

Pada contoh foto 3 saya menggunakan 2 buah flash yang saya tembakkan secara langsung dari belakang objek. Tetapi tentu saja menggunakan 2 lapis kertas minyak serta mika warna orange sebagai diffuser. Sementara 1 flash saya tembakkan dari bawah objek. Saya menggunakan meja kaca untuk pemotretan tersebut, sehingga cahaya flash dari bawah kaca bisa menembus sampai ke objek.

Foto 4

Pada contoh foto 4 saya menggunakan teknik mix lighting antara window lighting dan lampu studio dengan softbox. Window lighting sebagai ambiance light dari sebelah kiri, sementara lampu studio dengan softbox sebagai fill light dari sebelah kanan.

kaca-teh

Foto 5

Pada contoh foto 5 saya menggunakan light modifier berupa strip light dari sisi kiri dan kanan objek. Highlight yang terbentuk pada objek dengan mengikuti lekuk dari objek tersebut adalah efek dari strip light.

kaca-xo

Nah mudah bukan memotret benda yang reflektif? Kreatif adalah kunci utama berfotografi.

Selamat mencoba dan Salam Fotografi!

Albertus Adi Setyo adalah fotografer profesional yang juga mengajar fotografi dengan topik creative flash, dan juga creative water effect

{ 4 comments }

Bahas lensa fix Nikon berbukaan f/1.8

Selama beberapa tahun terakhir ini, Nikon secara perlahan-lahan dan diam-diam memperbaharui dan melengkapi lensa fix berbukaan besar (f/1.8). Dari sejarah, Nikon memiliki banyak lensa fix berbukaan f/1.8, namun sebagian besar dibuat untuk jaman film, sehingga lensa-lensa tersebut sudah kurang optimal di era kamera digital yang resolusi fotonya 24 MP atau lebih besar lagi.

Lensa dari era film juga tipenya AF-D, tidak ada motor fokus di lensa, sehingga saat dipasang di kamera DSLR Nikon yang pemula, tidak bisa autofokus. Maka itu, Nikon pelan-pelan memperbaharui lensanya. Berawal dari Nikon 50mm f/1.8G yang paling kecil dan paling terjangkau, lalu disusul 28mm, 85mm, 35mm dan yang baru diumumkan di Photokina 2014,  yaitu 20mm f/1.8.

Semua lensanya sudah AF-S, punya motor fokus yang akurat dan tidak berisik. Ukuran lensa tetap kecil dan bobot lensa juga relatif ringan, sebagian besar dibawah 350 gram. Lensa ini juga sudah mencakupi sensor full frame. Lensa-lensa ini seimbang saat dipasang di kamera DSLR Nikon.

nikon-50mm-20mm

Kiri: Lensa Nikon AF-S 50mm f/1.8G. Kanan: Nikon AF-S 20mm f/1.8G. Saat dipasang dengan kamera DSLR Nikon D610 / full frame

Berbeda dengankubu lawan (Canon), pendekatan Nikon ini agak berbeda, Nikon mementingkan bukaan lensa sebesar-besarnya, sedangkan Canon lebih mementingkan fitur Image Stabilization (IS) dan ukuran (lensa pancake) contohnya: Canon EF 40mm f/2.8 pancake, Canon EF-S 24mm f/2.8 pancake, Canon EF 35mm f/2.8 IS dan Canon EF 24mm f/2.8 IS.

Masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya, lensa-lensa Nikon lebih baik jika untuk mengejar bokeh (latar belakang blur) dan untuk motret subjek bergerak di kondisi gelap. Sedangkan kalau Canon lebih ideal untuk foto subjek gak bergerak di kondisi gelap (interior, landscape).

Kembali ke topik, dari lensa-lensa koleksi baru ini, jika dinilai ketajamannnya, paling mantap menurut saya adalah Nikon AF-S 85mm f/1.8G, harganya juga tidak terlalu mahal. Untuk 50mm f/1.8G agak kurang tajam kalau dipakai di f/1.8, tapi di f/2.8 cukup tajam. Saya sering membaca review yang bagus juga untuk lensa Nikon 28mm f/1.8 dan 35mm f/1.8 meskipun belum pernah mengujinya. Yang terakhir 20mm f/1.8 harganya paling tinggi, tapi kalau dipasang di kamera full frame, widenya dapat. Lensa yang sangat lebar biasanya harganya agak tinggi.

Lensa-lensa baru ini berbeda dengan lensa AF-D lama Nikon terutama di konstruksinya, yang sekarang tidak ada ring bukaan lensa, dan juga bahannya kebanyakan dari plastik (mountnya tetap logam) untuk menghemat biaya dan membatasi berat lensa. Keduanya merupakan pilihan kompromi yang bijak.

Kedepannya, mungkin masih akan ada dua lensa lagi yang perlu diperbaharui yaitu 105mm dan 135mm.

Bagi pengguna kamera DSLR Nikon beresolusi tinggi yang mencari lensa yang optiknya berkualitas tinggi, tapi tidak ingin yang berat dan terlalu mahal, koleksi lensa Nikon f/1.8 baru bagus untuk dilirik.

Tabel koleksi lensa Nikon f/1.8

nikon-f18

{ 32 comments }

Tour fotografi Sawarna 22-23 Nov 2014

Sudah dua tahun saya tidak mengadakan tour fotografi ke Sawarna karena jalan yang rusak dan penginapan yang kurang memadai. Dalam dua tahun terakhir ini banyak perbaikan baik jalan menuju desa Sawarna dan juga jalan kecil menuju pantai pantainya. Meskipun belum sempurna, tapi sudah cukup baik untuk dikunjungi. Penginapan baru yang nyaman dengan toilet  yang modern juga sudah ada.

Di tour ini kita akan mengunakan jasa dua unit mini bus Big Bird Delta Long Wheel, bisa recylining, dan seat belt, dan yang penting, sudah teruji gesit dan kuat untuk menempuh tanjakan-tanjakan antara Pelabuhan Ratu ke Sawarna.

Di kawasan Sawarna, kita akan mengunakan jasa ojek sepeda motor dan guide lokal supaya tidak membuang waktu, tenaga dan supaya bisa berkonsentrasi dalam memotret.

three-pillar

Karang-karang menahan laju Ombak besar di pantai Tanjung Layar

DSC_8890

Karang Beureum, lokasi yang akan kita kunjungi saat sunrise

DSC_7526

Membekukan ombak yang menerjang karang di pantai Tanjung Layar

Kawasan Sawarna memberikan kesempatan yang luas bagi teman-teman untuk memotret efek alir yang dinamis, baik teknik freeze maupun teknik slow speed. Banyak sudut yang bisa dijelajahi untuk mempraktikkan vision masing-masing tidak peduli kondisi cuaca apapun yang akan kita hadapi. Bila ada kendala teknis fotografi, saya (Enche), Mas Erwin Mulyadi dan Iesan akan senang untuk membantu.

Dalam kesempatan yang baik ini, saya mengajak teman-teman pencinta fotografi untuk hunting foto ke Sawarna dengan acara sebagai berikut:

Itinerary

Hari Sabtu, tanggal 22 November 2014
04.30 WIB Berkumpul di Sarinah, Jakarta, dan berangkat ke Sawarna
12.00 WIB Sampai di penginapan, makan siang
13.00 WIB Foto-foto di pantai Karang Bokor
16.00 WIB Foto sunset di Pantai Taraje
19.00 WIB Makan malam bersama
20.00 WIB Acara bebas, istirahat.

karang-bokor-3

Karang Bokor yang terpencil

Hari Sabtu, tanggal 23 November 2014
04.15 WIB Naik ojek foto sunrise di Lagoon Pari, Karang Beureum
06.45 WIB Naik ojek ke Karang Taraje untuk foto karang dan ombak
09.00 WIB Sarapan di penginapan
10.00 WIB Istirahat / acara bebas
12.00 WIB Makan siang bersama
12.45 WIB Berangkat dengan ojek ke Pantai Tanjung Layar
15.00 WIB Check out dan berangkat pulang ke Jakarta
22.30 WIB Diperkirakan sampai di Jakarta

Sunrise di Lagoon Pari

Sunrise di Lagoon Pari

Biaya Rp. 1.600.000,-
Maksimum 16 peserta

Biaya sudah termasuk

  • Transportasi pp dari Jakarta ke Sawarna
  • Akomodasi satu kamar berisi dua orang
  • Kamar mandi setiap kamar dengan toilet duduk
  • Bimbingan & panduan fotografi oleh Enche Tjin, Erwin Mulyadi & Iesan Liang
  • Biaya ojek dan guide
  • Makan 5X
  • Roti untuk di perjalanan hari pertama
  • Minuman (botol air Aqua)

Belum termasuk

  • Tips supir minimum Rp 20.000 per orang
  • Sewa ojek atau tips porter pribadi diluar dari program tour

Rekomendasi peralatan fotografi khusus : Tripod, filter ND, polarizer (CPL).

Cara Mendaftar

  • Transfer bank atas nama Enche Tjin via Bank BCA: 4081218557 via Bank Mandiri: 1680000667780
  • Konfirmasi melalui e-mail (email: infofotografi@gmail.com), sms atau telepon (085813183069 / 085883006769) dengan menyertakan nama peserta dan nama penyetor.
  • Datang di hari H sesuai dengan jadwal yang tercantum
{ 2 comments }