≡ Menu

Bawa kamera apa untuk tour fotografi?

Menjelang tour foto atau workshop Infofotografi, pasti ada yang meminta saran kepada saya, kamera atau lensa apa yang harus dibawa? Tentunya, setiap trip berbeda-beda, dan juga tergantung tujuan fotografi setiap orang tidak sama.

Terus terang saya juga sering mendapatkan masalah mau bawa apa, seringkali baru semalam sebelumnya saya baru bisa memutuskan apa kamera yang harus saya bawa. Jadi kalau teman-teman pembaca juga sering bingung, ya itu lumrah-lumrah saja hehe.

Ada beberapa faktor yang mendasari pertimbangan saya dalam membawa gear:

Berat yang bisa ditolerir

Kalau terlalu berat, jadi tidak nyaman dan stamina cepat terkuras dan kurang konsen, jadi saya coba membatasi berat keseluruhan kamera. Kalau banyak jalan saya upayakan bawa maksimal 3 kg, tapi kalau gak terlalu banyak jalan, misalnya bisa pakai mobil ke spot-spot foto, 6 kg bagi saya gak masalah. tapi tiap orang mungkin tidak sama, banyak orang, terutama fotografer wanita atau orang tua yang mungkin bagi mereka 2 kg sudah terasa berat sekali, tapi ada juga fotografer yang bawa gear total 8-10 kg di ranselnya juga saya lihat masih santai-santai saja.

[click to continue…]

{ 0 comments }

Seperti tradisi Fuji sebelumnya, Fuji selalu menurunkan teknologi dari seri X-T1 (1 digit) ke X-T10 (2 digit). Setelah X-T3 sukses di tahun 2018, Fuji menurunkan sebagian besar teknologinya ke X-T30. Hal ini merupakan kabar baik bagi penggemar kamera Fuji yang saat ini mengunakan seri X-T10 dan X-A, dan sedang menantikan kamera Fuji yang canggih tapi tidak terlalu besar dan mahal.

Dari fisiknya, X-T30 mirip dengan pendahulunya X-T20 dan X-T10, tapi di bagian belakang ada perubahan yaitu hilangnya tombol empat arah yang diganti dengan joystick.

Spesifikasi Fuji X-T30

  • 26.1MP APS-C X-Trans BSI CMOS 4 Sensor
  • X-Processor 4 with Quad CPU
  • DCI and UHD 4K30 Video; F-Log Gamma
  • 2.36m-Dot OLED Electronic Viewfinder
  • 3.0″ 1.04m-Dot Tilting LCD Touchscreen
  • 425-Point Phase-Detection Autofocus
  • Extended ISO 80-51200, 30 fps Shooting
  • Bluetooth and Wi-Fi; Sports Finder Mode
  • Body only weighs 383 g

Menilai dari spesifikasinya, X-T30 ini tidak banyak berbeda dengan X-T3 dari segi teknologinya untuk fotografinya. Perbedaan antara keduanya lebih ke fisik luarnya, misalnya Fuji X-T3 punya body yang weatherseal, lebih tahan cuaca dingin/hujan, tombol dan dial yang lebih banyak dan layar LCD yang bisa ditekuk dua arah. Jendela bidik X-T3 lebih besar dan detail (3.69 juta titik dibanding 2.36 juta titik).

Tapi jika Anda tidak masalah soal kualitas body kamera diatas, memilih X-T30 bisa menghemat USD600 atau sekitar Rp8.5 juta.

Menurut saya, Fuji X-T30 cocok untuk yang ingin upgrade dari X-T10, X-E2, X-E1, X-A. Dari X-T20 dan X-T2 sepertinya tidak terlalu terasa peningkatannya. Bagi teman-teman yang selalu ingin gear yang terbaru tentunya X-T3 dan X-T20 adalah pilihan format kamera APS-C yang solid.

Bersamaan dengan pengumuman X-T30, lensa Fuji 16mm f/2.8 WR ($399) juga diluncurkan. Lensa fix lebar ini melengkapi koleksi lensa-lensa Fix Fuji berkinerja autofokus cepat dan memiliki WR (Water Repellant) sehingga memotret saat musim hujan bukan masalah.


Sudah memiliki kamera Fuji tapi bingung dengan berbagai roda(dial), tombol dan menu? Kami menyediakan e-book yang berisi panduan yang praktis dan mudah diikuti.

{ 10 comments }

Canon RP : Kamera mirrorless full frame terjangkau

Tahun lalu, Canon dan Nikon memutuskan untuk membuat dan mengembangkan sistem kamera mirrorless via Canon EOS R dan Nikon Z. Tapi kamera-kamera tersebut masih terasa agak mahal, yaitu 30-50 jutaan. Untuk memudahkan fotografer untuk bertransisi dari kamera DSLR ke kamera mirrorless full frame, Canon meluncurkan Canon RP, yang harganya lebih terjangkau.

Canon RP ini diluncurkan secara global dengan harga USD1300 (diperkirakan Rp 19 juta) body-only, USD 1699 (Rp 25 juta) untuk paket lensa DSLR EOS EF 24-105mm f/3.5-5.6 IS STM, adaptor untuk lensa DSLR Canon EF/EF-S dan extension grip EG-E1, serta paket senilai USD 2199 dengan lensa RF 24-105mm f/4, adaptor untuk lensa DSLR Canon dan extension grip EG-E1 (Rp 32 juta).

Selain lebih murah, Canon RP juga cukup compact, mirip dengan kamera DSLR Canon pemula, beratnya hanya 485 gram sudah dengan baterai dan memory card.

Secara teknologi, RP memiliki sensor full frame 26.2MP dan DIGIC 8. Sensornya mungkin sama dengan kamera DSLR Canon 6D mk II, tapi processornya satu generasi lebih baru. Rentang ISO yang dianjurkan sama dengan 6D mk II yaitu ISO 100-40.000.

Seperti kamera Canon pada umumnya, keunggulan RP adalah memiliki autofokus Dual Pixel AF yang cukup cepat untuk mendeteksi wajah dam mata untuk fotografi dan videografi, dan layar LCD-nya bisa dilipat ke depan sehingga ideal untuk membuat video blog/vlog.

Canon RP termasuk kamera full frame yang ringkas dan ringan, tapi kadang-kadang fotografer profesional membutuhkan bobot kamera yang cukup supaya saat memegang lebih mantap, terutama saat memasang lensa yang besar, oleh sebab itu, Canon menyediakan extension grip EG-E1 yang hadir dalam beberapa warna: hitam, merah dan biru.

Untuk memudahkan fotografer pemula, ada built-in software focus bracketing yang secara otomatis mengambil gambar dengan jarak fokus yang berbeda-beda dan menggabungkannya sehingga ruang tajam yang didapatkan sangat luas (dari depan sampai belakang tajam), cocok untuk foto produk/still life. Dan juga built-in timelapse.

Sama seperti Canon EOS R, RP tidak punya built-in stabilizer seperti pesaingnya (Nikon Z, Sony A7II atau Panasonic S1), dan baterai yang digunakan sama dengan kamera DSLR pemula (LP-E7) yang menurut standar CIPA hanya tahan 250 foto per charge.

Dalam kesempatan peluncuran Canon EOS RP, Canon juga mengumumkan pengembangan lensa-lensa Canon RF, diantaranya:

  • RF 85mm F1.2 L USM
  • RF 85mm F1.2 L USM DS
  • RF 24-70mm F2.8 L IS USM
  • RF 15-35mm F2.8 L IS USM
  • RF 70-200mm F2.8 L IS USM
  • RF 24-240mm F4-6.3 IS USM

Lensa-lensa yang diumumkan sebagian besar berkualitas tinggi dan profesional karena memiliki ring merah (seri L). Yang menarik adalah lensa 70-200mm f/2.8 yang ukurannya terlihat jauh lebih pendek daripada lensa DSLR Canon EF 70-200mm f/2.8.

Kesimpulan

Canon EOS RP bukanlah kamera yang canggih dan hadir dengan terobosan-terobosan baru, tapi RP sepertinya akan diterima oleh pasar lebih bagus daripada pendahulu dan juga “abangnya” Canon EOS R, karena RP memiliki sifat yang disukai dan diharapkan fotografer dari sebuah kamera mirrorless full frame, yaitu ukuran yang ringkas, ringan dengan harga yang terjangkau tapi punya fitur-fitur yang praktis untuk digunakan sehari-hari untuk foto maupun video.


Infofotografi sering mengadakan acara belajar fotografi, baik di kelas untuk dasar, maupun workshop dan mentoring di lapangan baik secara kelompok maupun privat. Silahkan hubungi 0858 1318 3069 untuk informasi atau mendaftar. Info jadwal bisa dibaca di halaman ini.

{ 5 comments }

Review buku : Literasi Visual karya Taufan Wijaya

Teman kita, photojournalist Taufan Wijaya kembali menghadirkan buku berjudul Literasi Visual yang telah terbit bulan Desember 2018.  Dengan buku ini, Taufan mengajak pemirsa untuk berpikir kritis saat melihat tampilan visual yang semakin marak saat ini.

Literasi visual ini penting bagi kita semua terutama di era sosial media yang dipenuhi dengan visual baik gambar maupun video. Apalagi di era sekarang, mudah sekali menyebarkan sebuah info/gambar ke banyak orang dengan mengunakan media sosial. Sebelum meyakini atau menyebarkan sebuah gambar memang sebaiknya dicari tahu dulu kebenarannya.

Dengan membaca buku ini, pembaca dapat lebih kritis dalam menilai sebuah gambar dan tidak terjebak dengan hoax atau hal-hal yang menyesatkan lainnya.

Isi buku ini sekitar 97 halaman, memang tidak terlalu tebal, tapi disajikan dengan lugas dan dengan bahasa yang mudah dimengerti bagi pelajar, praktisi fotografi atau awam.

Selain membahas tentang sejarah perkembangan foto, Taufan juga membahas soal budaya kontemporer seperti budaya visual kontemporer (kekinian) misalnya swa foto (selfie), sosial media. Etika fotografi dalam proses membuat foto juga dibahas di buku ini, beserta beberapa skandal foto yang pernah terjadi

Pada akhirnya, tujuan Taufan dalam menulis buku ini bukan untuk mengkritik tapi bertujuan supaya pembacanya bisa lebih kritis dan memikirkan lebih mendalam tentang visual yang terlihat di setiap hari sebelum menyebarkannya ke jaringan sosial media masing-masing.

Buku ini bisa diperoleh di Toko Buku Gramedia, atau bisa juga pesan via kami di Infofotografi. Hub 0858 1318 3069 / infofotografi@gmail.com

Harga buku Rp 99.000

Buku Taufan Wijaya yang lain:

  1. Buku foto penderita Kanker payudara: Dekat Perempuan 2013
  2. Fotojurnalistik 2014, penerbit Gramedia Pustaka Utama
  3. Photo Story Handbook 2016, penerbit Gramedia Pustaka Utama
  4. Buku dokumenter Kopi Toraja 2017
{ 0 comments }

Workshop & Sharing foto : All about Mirrorless Camera

Mengawali tahun 2019 ini, kembali infofotografi menghadirkan sebuah acara workshop dengan konsep diskusi dan sharing foto dengan tema : All about mirrorless camera. Tren kamera mirrorless memang cenderung meningkat dan fitur serta teknologinya sudah berkembang dengan pesat. Dari pengalaman kami menggunakan bermacam kamera mirrorless, terbukti dengan mengenal fitur penting dan menguasai penggunaan kameranya akan membantu banyak dalam mewujudkan karya foto yang lebih baik.

Di kesempatan kali ini, saya dan Iesan Liang kembali akan mengisi workshop kamera mirrorless yang dijadwalkan pada:

  • hari : Minggu, 24 Februari 2019
  • waktu : 12.00-16.30 WIB
  • tempat : infofotografi Green lake city (Rukan Sentra Niaga N-05 Duri Kosambi Jakarta Barat)

Dalam workshop ini, anda akan dikenalkan pada fitur-fitur lanjutan dari kamera mirrorless, kompatibilitas lensa mirrorless, kemampuan video dari kamera mirrorless, hingga tips trik memaksimalkan penggunaan kamera mirrorless dalam berbagai keadaan. Tentunya dengan berbagai contoh foto yang bisa dijadikan sarana diskusi dan tanya jawab yang interaktif. Di acara ini anda juga bisa mencoba beberapa kamera dan lensa Panasonic Lumix* terbaru sehingga bisa lebih paham.

Untuk mengikuti workshop ini, silahkan mendaftarkan nama dan tipe kamera ke Iesan di 0858-1318-3069 dan biaya pendaftaran untuk workshop adalah Rp. 50.000,- termasuk makan siang.

*acara ini didukung oleh Panasonic Indonesia.

{ 0 comments }

Review tas kamera Gitzo century compact messenger

Tas kamera berukuran kecil untuk selempang banyak pilihannya, tapi jarang yang memiliki fitur lengkap dan terlihat keren dan cocok untuk kebutuhan masa kini. Gitzo adalah pabrikan asal Italia yang terkenal atas tripodnya yang berkualitas tinggi dan yang pertama yang mengunakan bahan carbon fiber untuk bahan kaki tripodnya sehingga fotografer landscape dan travel bisa membawa tripod yang lebih ringan tanpa berkompromi dengan kestabilan.

Dalam rangka ulang tahun ke-100 nya, Gitzo membuat beberapa aksesoris fotografi baru selain tripod, salah satunya adalah seri tas kamera Gitzo Century yang terbagi atas beberapa jenis ukuran.

Artikel ini akan mengulas tentang Gitzo Century Compact messenger bag, tas berukuran paling kecil diantara tas Gitzo Century yang lain. Tas ini memuat kamera mirrorless compact dengan dua atau tiga lensa. Contohnya Fuji XT, Sony A7, Hasselblad X1D, Leica M, Leica Q, dan yang seukuran. Tas ini juga dapat memuat drone berukuran compact seperti DJI Mavic.

[click to continue…]

{ 0 comments }

Daytrip ke Sindangbarang, 3 Maret 2019

Kampung Sindang Barang terletak di Bogor, dan dari latar belakang sejarahnya (terpapar dalam Babat Pajajaran dan tertulis juga dalam pantun Bogor), Sindang Barang diyakini sebagai kerajaan bawahan Prabu Siliwangi dengan Kutabarang sebagai ibukotanya. Sebagai perkampungan yang masih memegang teguh tradisi dan adat istiadat leluhur, bentuk bangunan rumah disana sampai saat ini tetap dipertahankan sedemikian rupa sehingga bisa meneruskan kearifan lokal dari akar tradisi leluhur mereka.

Kita akan melakukan daytrip ke Sindang Barang pada hari minggu 3 Maret 2019. Disana peserta bisa melihat langsung seperti apa keadaan kampung yang historis ini, dan tentunya memotret kegiatan masyarakat disana. Tak lupa kita akan mencoba kuliner lokal khas Sunda saat makan siang di lokasi. Saya juga akan mendampingi peserta termasuk dalam hal sesi membahas foto. Peserta berkumpul di Sarinah jam 6.00 pagi supaya tidak terlalu siang saat tiba di lokasi, dan estimasi tiba kembali di Sarinah jam 5 sore.

Biaya untuk mengikuti trip ini adalah Rp. 525.000,- termasuk :

  • kendaraan dari Sarinah ke lokasi PP (Hi Ace)
  • makan siang di lokasi
  • roti, air minum
  • tiket / acara budaya
  • bimbingan fotografi

dan untuk mendaftar silahkan hubungi Iesan di 0858-1318-3069 (WA/telpon). Peserta yang sudah terdaftar harap hadir tepat waktu di meeting point yang ditentukan pada hari H.

 

{ 2 comments }

Review lensa tele Tamron 100-400mm Di VC USD

Tahun lalu saya pernah menulis artikel tentang memilih lensa telefoto untuk DSLR, dan salah satu lensa yang saya ulas adalah lensa tele dari Tamron yang direview kali ini yaitu Tamron 100-400mm. Lensa Tamron 100-400mm f/4.5-6.3 Di VC USD sudah dirilis sekitar tahun lalu, hadir menjadi lensa tele ekonomis yang memberi fokal yang lumayan panjang (bahkan setara 150-600mm bila dipasang di kamera APS-C) dan tersedia untuk DSLR dengan mount EF atau F-mount. Unit yang kami terima adalah unit dengan F-mount dan kami mencobanya di kamera Nikon D600. Lensa yang berbobot 1,1kg ini menganut desain Tamron modern yang bernuansa matte, ada jendela jarak fokus, lensanya sendiri terdiri dari 17 elemen dalam 11 grup, dengan bagian dalam lensa yang memanjang bila di zoom. Di bagian depan lensa dengan diameter 67mm ini terdapat coating khusus (Fluorine coating) untuk menangkis debu atau noda sidik jari. Untuk menambah kualitas gambar, lensa ini juga memakai eBAND (xtended Bandwidth & Angular-Dependency) coating. Terdapat 9 bilah diafragma dan baik untuk Canon maupun Nikon sudah dikendalikan secara elektronik (pastikan kompatibilas dengan DSLR Nikon lama sebelum membeli).

Tamron 100-400mm Di VC USD – dengan Nikon D600

Sebagai spesialis pembuat lensa tele ekonomis, Tamron sepertinya paham bagaimana mendesain lensa yang memenuhi harapan pengguna tanpa harus dijual mahal. Misalnya sudah disediakan 4 stop VC yang membantu sekali saat cahaya kurang memadai dan kita perlu memakai shutter yang agak lambat. Mode VC terbagi tiga, yaitu mode 1 (untuk sehari-hari), mode 2 (untuk panning) dan Off. Selain itu lensa ini bisa memfokus dengan jarak minimum 1,5 meter yang membuatnya bisa dipakai untuk close up dengan perbesaran rasio 1:3.6 dan juga terdapat tuas limit AF bila tidak ingin mencari fokus dekat (untuk mempercepat pencarian fokus). Seperti biasa, dukungan moisture resistant di lensa Tamron generasi baru juga disediakan di lensa ini, membuat penggunanya lebih tenang saat memotret di keadaan lembab.

Saya mencoba kinerja VC dengan fokal 135mm dan shutter speed 1/25 detik, atau sekitar 2,5 stop dan terbukti efektif.

Bola dunia untuk mencoba fitur VC. Fokal lensa 135mm, shutter 1/25 detik.

dan inilah hasil crop foto diatas, dengan dan tanpa VC :

[click to continue…]

{ 3 comments }

Setelah diumumkan di Photokina 2018, akhirnya spesifikasi lengkap Panasonic S1 dan S1R diumumkan tanggal 1 Februari 2019. Kamera mirrorless full frame S1/S1R memiliki spesifikasi hardware yang terbaik saat ini, diantaranya memiliki body casing magnesium alloy yang tahan cuaca dingin sampai -10C, tahan air dan debu. Shutter reliability memiliki standar yang sangat tinggi yaitu mencapai 400rb jepret.

Jendela bidik dan layar LCD nya memiliki resolusi yang melebihi kamera mirrorless fullframe lainnya, termasuk kemampuan dalam merekam video 4K 60p, memungkinkan slow motion dan merekam dengan kualitas 10 bit.

Dari fisik, kedua kamera terlihat sama persis, yang membedakan adalah S1 lebih dioptimalkan untuk fotografer yang lebih banyak merekam video, sedangkan S1R dikhususkan untuk fotografer profesional yang perlu memotret untuk mendapatkan resolusi foto dengan detail yang sangat banyak. Kedua kamera ini lebih bagus di kondisi kurang cahaya karena memiliki sensor yang lebih besar dari sistem micro four thirds (Panasonic seri G/GH).

[click to continue…]

{ 9 comments }

Tanggal 24 Januari 2019 ini, Olympus meluncurkan kamera flagship untuk profesional yaitu Olympus E-M1X. Dari fisiknya, kamera ini cukup besar karena punya pegangan ganda (integrated vertical grip) yang berfungsi juga sebagai tempat untuk dua baterai sekaligus.

E-M1 X punya berbagai peningkatan dari Olympus EM-1 II (keluaran 2016), antara lain:

  • Built-in image stabilization 7-7.5 stop (dengan lensa Dual IS).
  • Handheld high-res shot penggabungan 5 foto jadi satu foto dengan resolusi 50MP
  • High res shot : 8 foto jadi satu untuk mendapatkan resolusi 80MP
  • Built-in Live ND (multiple exposure untuk memuluskan aliran air sampai setara ND32 (5 stop)
  • Deep AI AF C-AF tracking dengan preset untuk mobil balap, pesawat terbang atau kereta api.
  • Durabilitas shutter sampai dengan 400.000
  • 2.36 juta titik jendela bidik LCD, dengan perbesaran 0.83x max dan 120fps refresh rate

Untuk videonya, tetap 4K 30p dengan batasan perekaman 29 menit dan Log-400mm 8 bit recording.

[click to continue…]

{ 20 comments }