≡ Menu

Warna atau Hitam & Putih untuk fotografi jalanan?

Kalau ada yang bertanya seperti ini biasanya saya susah memberi jawaban karena soal pilihan untuk menggunakan warna atau hitam putih itu adalah sebuah pilihan yang sesuai dengan karakter masing-masing individu dan bagaimana cara masing menyajikannya sebagai sebuah karya seni fotografi.

Memang fotografi jalanan umumnya dan dianggap lebih berseni bila disajikan dalam hitam dan putih, karena fotografi jalanan itu salah satu jenis foto jurnalistik yang sifatnya sederhana apa adanya dan jujur, ini sesuai sekali dengan karakter warna hitam dan putih. Bukaan berarti fotografi jalanan disajikan dengan warna tidak bagus dan kurang nilai seninya.

Dari pada bingung-bingung sekarang gini aja, karena kita menggunakan kamera digital bukan film maka jelas soal warna dan hitam putih tidak jadi masalah karena bisa dilakukan bersamaan, dengan kata lain kita ambil foto bwerwarna kemudian bila kita anggap lebih baik dalam hitam dan putih tinggal kita lakukan konversi pada saat post-processing.

Berikut ada beberapa alasan di balik keputusan yang akan kita ambil.

Kapan hitam dan putih menjadi pilihan terbaik:

street 01 [click to continue…]

{ 2 comments }

Bahas foto : Pengemis di Vihara Dharma Bhakti

Sudah merupakan tradisi bahwa setiap Imlek, pengemis-pengemis dari Jakarta maupun luar kota membanjiri halaman Vihara Dharma Bhakti (cin tek yen/jin de yuan). Mereka mengharapkan angpau (amplop merah berisi uang) dari pengunjung.bahas-foto-pengemisSaya berkunjung sehari sebelum Imlek, jadi pengemis-pengemis belum terlalu banyak berkumpul. Untuk sisi fotografinya, saya ingin menggambarkan suasana yang saya lihat, dan juga pengemis yang berbeda-beda. Dari balita, remaja sampai orang tua. Gak semua pengemis kondisinya melarat, karena saya perhatikan ada beberapa yang memiliki ponsel pintar, bajunya bagus dan perutnya gembul.

Untuk mendapatkan pemandangan yang luas, saya mengunakan lensa lebar (14mm ekuivalen 21mm di full frame format 35mm), kemudian saya mencari point of interest / subjek foto yang bisa mengantarkan kita untuk masuk ke dalam foto. Saya memilih anak kecil yang berbaju merah dan melihat dengan tajam ke arah saya, karena saya rasa cukup kontras dengan lingkungan sekitarnya yang kebanyakan orang tua.

Saya juga sengaja memasukkan Spanduk Happy Chinese New Year 2016 dengan masket Monyet (karena tahun 2016 ini tahun Monyet Api) untuk memberikan konteks waktu.

Memotret human interest seperti ini tidak mudah, karena banyak yang bisa terjadi dan kita tidak bisa mengendalikannya, maka itu dibutuhkan kesabaran untuk menunggu saat (moment) yang tepat untuk memotret.

Data teknis: 14mm ekuivalen 21 di full frame, f/6.3, ISO 100, 1/100 detik.

Foto ini dibuat dalam rangka workshop street & human interest di Jakarta. Bagi yang berminat mengikuti workshop seperti ini boleh periksa jadwal di halaman ini, atau langsung kabari 0858 1318 3069 / infofotografi@gmail.com.

{ 3 comments }

Panduan membeli SD Card

Saat membeli kamera baru, saya perhatikan sebagian besar pembeli meremehkan kualitas memory card, seperti kecepatan, kapasitas dan merk. Padahal kualitas memory card sangat penting karena bertugas menyimpan data foto dan video. Karena merk dan tipe kartu di pasaran cukup banyak, kita perlu memahami standar yang ditetapkan Asosiasi SD dalam bentuk kode yang tertera di setiap memory card.

sd-card-markAda dua jenis indikasi kecepatan, yaitu Speed Class dan UHS. Speed Class menentukan kinerja kecepatan penulisan minimum saat merekam file foto. Speed class yang didefinisikan oleh asosiasi SD adalah Class 2, 4, 6 dan 10. Angka-angka tersebut mengindikasikan kinerja memory card tersebut. Contohnya: Class 2 berarti kecepatan kartu 2 MB / detik. Dalam era fotografi digital saat ini yang megapixelnya sekitar 12-18MP, saran saya minimal mengunakan kartu dengan Class 6. Tapi lebih baik mengunakan kartu Class 10.

UHS speed class menentukan kinerja merekam video. UHS Class yang ditentukan Asosiasi SD antara lain Class 1 (U1) dan UHS Speed Class 3 (U3). UHS adalah singkatan dari (Ultra High Speed). Memory card dengan UHS memiliki kecepatan maksimal 312 MB/detik.

UHS 1 menjamin minimum aliran data 10 MB/s saat merekam video, cocoknya merekam video maksimum beresolusi Full HD.

UHS 3 memastikan minimum aliran data 30MB/s, cocok untuk merekam video resolusi 4K / UHD.

Kecepatan memory card juga akan menentukan durasi pemindahan atau penyalinan data dari memory card ke harddisk. Mungkin ini kesannya sepele, tapi untuk fotografer profesional seperti wartawan foto yang memotret dalam jumlah banyak dan harus segera mengirimkan hasil fotonya, kecepatan baca-tulis memory card sangat penting.

[click to continue…]

{ 5 comments }

Nikon D5500 review : DSLR ringkas dengan fitur canggih

Beberapa bulan lalu, saya ingin menjual Nikon D90 saya yang sudah cukup lama saya gunakan. Setelah terjual, saya mulai mencari-cari kamera DSLR pengganti D90 untuk menghidupkan lensa-lensa Nikon yang saya miliki. Kamera pengganti D90 ini juga akan digunakan untuk menunjang kegiatan mengajar-belajar di Infofotografi. Sebagai info, kami sering mengadakan workshop kupas tuntas kamera DSLR Nikon.

Kamera baru pengganti D90 ini harusnya memiliki kualitas gambar yang lebih baik, teknologi yang lebih baru, dan yang penting ukuran yang lebih ringkas. Setelah beberapa bulan memantau, saya putuskan untuk membeli Nikon D5500.

nikon-d5500

Nikon D5500 merupakan kamera yang diumumkan bulan Januari 2015 silam, sekitar satu tahun sebelum review kamera ini dibuat, tapi masih merupakan kamera DSLR yang tergolong baru. Nikon D5500 adalah kamera DSLR ringkas yang dirancang untuk pemula atau penghobi fotografi yang menginginkan kamera DSLR dengan ukuran yang relatif kecil.

Awalnya, Nikon D5500 dijual dengan harga sekitar 10 juta pas, tapi pelan-pelan kamera ini turun harganya. Bulan Januari 2016 ini, D5500 dijual dengan harga 8.4 juta dengan lensa kit 18-55mm VR II. Dengan turunnya harga kamera ini, D5500 lebih bisa bersaing dengan kamera-kamera lainnya yang dibawah 10 juta seperti Canon 750D, dan di kamera mirrorless, Sony A6000, Samsung NX500, dsb.

Dibandingkan kamera DSLR Nikon lainnya, D5500 adalah yang paling ringan (420 gram), bahkan lebih ringan daripada adiknya Nikon D3300 (430 gram) atau Nikon D40 (475g). Hebatnya, Nikon dapat memasukkan fitur yang termasuk cukup unik di jajaran kamera DSLR Nikon yaitu layar yang bisa diputar / artikulasi ke segala arah, dan juga layar monitornya bisa touchscreen dan built-in Wifi.

Bila touch Fn di assign ke Focus-point selection, maka saat layar mati kita tetap bisa memanfaatkan layar sentuh untuk mengganti titik fokus

Bila touch Fn di assign ke Focus-point selection, maka saat layar mati kita tetap bisa memanfaatkan layar sentuh untuk mengganti titik fokus

Layar touchscreen ini yang pertama untuk kamera DSLR Nikon, dan layar touchscreen ini bisa digunakan seperti touchpad untuk memindahkan titik-titik fokus dengan cepat saat layar dalam kondisi mati.

nikon-d5500-pangalengan

Nikon D5500, Nikon AF-S 70-300mm f/4-5.6 VR, f/8.0, 1/125 detik

[click to continue…]

{ 30 comments }

Lensa-lensa Sony G Master

Sony akhirnya menjawab tuntutan dari fotografer profesional dan amatir serius dengan meluncurkan tiga lensa berlabel G Master. Lensa-lensa ini antara lain: Sony FE 85mm f/1.4 GM, Sony FE 24-70mm f/2.8, dan Sony FE 70-200mm f/2.8 GM.

lensa-sony-FE_GM-a7r

Kiri ke kanan: Kamera Sony A7 II dengan lensa FE GM 70-200mm f/2.8 OSS, 24-70mm f/2.8 dan 85mm f/1.4

Sony menyatakan bahwa lensa-lensa G Master memiliki standar yang lebih tinggi dari lensa-lensa yang sudah beredar sebelumnya (Sony FE, Sony G, dan Sony Zeiss). Untuk lensa-lensa G Master, Sony mengunakan standard spatial frequency 50 lp/mm. Biasanya lensa-lensa lainnya mengunakan standar sampai dengan 30 lp/mm dan 40 lp/mm untuk lensa Zeiss.

[click to continue…]

{ 8 comments }

Seringkali kami mendapat pertanyaan bagaimana cara menginstall aplikasi PlayMemories Camera Apps. Berikut saya uraikan langkah-langkah disertai dengan petunjuk gambar.

Untuk menginstall aplikasi PlayMemories, tentunya kita harus memiliki akun di Sony Entertainment Network. Kita bisa mengunjungi website www.playmemoriescameraapps.com

Membuat akun ini dapat dilakukan baik di kamera maupun di PC/Laptop, namun untuk memudahkan pengetikan data-data, lebih mudah jika dilakukan di PC/Laptop.

Jika belum memiliki akun, maka kita bisa membuat akun dengan mengklik Tombol “Create an account” [tombol hijau]

sign in

[click to continue…]

{ 2 comments }

Pendapat awal tentang Sony A6300

Sony baru saja meluncurkan Sony A6300, kamera penerus A6000 yang ditunggu-tunggu sejak tahun lalu. Meskipun agak lama menunggu, akhirnya hari tersebut tiba juga. Pertama-tama, agak aneh juga konvensi nama Sony. Dari A6000 langsung lompat ke A6300. Tapi setelah saya pikir-pikir, Sony memang biasanya suka mengunakan angka ganjil. Contohnya: Sony A3000, A5000, A7, NEX 3, 5 .. (Angka 6 pengecualian). Jadi mungkin nantinya ada A6500, A6700 dan A6900.

sony-a6300

Peningkatan penting Sony A6300 antara lain:

  1. Kecepatan autofokus, terutama saat mengikuti subjek bergerak lebih cepat dan akurat berkat 425 titik fokus deteksi fasa.
  2. Kualitas gambar meski resolusinya cuma 24 MP, tapi mengunakan desain baru yang lebih efisien dalam menerima cahaya, sehingga ISO tingginya lebih minim noise. Maksimum ISO menjadi 51200.
  3. Fitur-fitur video seperti bisa merekam video 4K, mic input, S-log Gamma 3 dll.

Tentunya, akan ada pro kontra terhadap peluncuran dan spesifikasi A6300 ini.

[click to continue…]

{ 25 comments }

Foto Hitam Dan Putih Bagi Pemula

Bagi pemula atau sebagian besar penghobi fotografi umumnya enggan untuk serius dengan foto hitam dan putih, dalam pikiran mereka foto dalam hitam putih itu kurang menarik dan membosankan, tidak ada WOW factor-nya.

Seolah olah seperti menonton televisi hitam putih atau film hitam putih bisu jaman dulu, apa lagi sekarang kita hidup di era digital modern dengan teknologi yang canggih.

pic #01

Dalam dunia fotografi, foto hitam dan putih adalah sebuah bentuk karya seni, bahkan sebetulnya juru foto yang terbaik/terkenal lebih banyak bekerja dalam nuansa tunggal (monochrome), dalam sejarah fotografi kita kenal karya-karya Ansel Adams, Edward Weston atau Henri Cartier-Brenson, dan masih banyak lagi. Dengan kata lain seni foto hitam dan putih ini adalah media dengan sejarah yang panjang, kaya, dan tetap akan selalu abadi.

Penting diketahui, bahwa dengan membiasakan bekerja dalam nuansa hitam dan putih kita akan dapat menjadi seorang juru foto yang lebih baik. Mengapa? Karena kita dipaksa untuk bekerja dan berfikir dengan rasa, komposisi, dan imajinasi yang kuat, memang pada awalnya ini sangat tidak mudah.

Warna memang pengaruhnya sangat kuat, dan cenderung mendominasi foto begitu banyak sehingga sulit untuk melihat unsur-unsur lain seperti nada, kontras, tekstur, bentuk dan kualitas cahaya. Juru foto berpengalaman secara naluriah melihat hal-hal ini, terlepas dari apakah mereka bekerja dalam warna atau hitam dan putih.

Karena kita baru memulai, kita mungkin perlu beberapa panduan dasar untuk melakukannya. Tetapi makin sering kita melakukan maka semua itu akan semakin mudah.

pic #10-1

[click to continue…]

{ 3 comments }

Canon 1DX II : Apa saja yang baru?

Canon 1DX mk II adalah kamera DSLR profesional generasi kedua yang menggantikan posisi 1DX yang diluncurkan tepat dua tahun yang lalu (Januari 2014). Seperti pendahulunya, 1DX II dirancang khusus untuk kebutuhan fotografer profesional, terutama yang membutuhkan kecepatan dan ketahanan fisik yang terbaik seperti pewarta foto olahraga, dan berita terkini.

canon-1dx2-wifi

Dua tahun bukan waktu yang terlalu lama untuk pengembangan kamera generasi baru, tapi 1DX memiliki beberapa peningkatan yang membantu fotografer profesional, antara lain:

Modul autofokus yang lebih baik

Titik-titik fokus kini lebih menyebar dan mencakupi daerah yang lebih luas. Titik-titik AF bagian tengah kini 8% lebih tinggi, dan 24% lebih lebar. Titik-titik bagian tengah juga lebih sensitif di kondisi gelap (-3 EV).

[click to continue…]

{ 7 comments }

Ingin jadi Ambassador, Influencer atau Endorser?

Artikel kali ini agak lain daripada biasanya. Karena saya tidak membahas soal kamera atau fotografi, tapi kali ini, saya akan membahas sesuatu yang lain yaitu soal fenomena media sosial dan berkaitan dengan peluang kita sebagai fotografer.

Pertama-tama, setiap fotografer memiliki merk/brand yang membedakan dirinya dengan yang lain. Secara umum, fotografer terbagi dari jenis fotografinya, misalnya fotografer landscape, portrait, fashion, macro, commercial dan sebagainya. Secara lebih khusus fotografer dinilai dari keunikan/gaya fotografi, reputasi, dan honor jasa foto-nya. Seiring dengan meningkatnya popularitas seorang fotografer, maka terbukalah peluang menjadi beberapa hal yang saya sebut dibawah ini:

Menjadi Ambassador (Duta)

Menjadi Ambassador berarti fotografer ini bukan hanya bekerjasama dengan produk, tapi sudah seperti “kawin” dengan perusahaan tersebut. Banyak keuntungan menjadi Ambassador seperti mendapatkan honor, produk gratis, atau diskon yang cukup signifikan. Tugas ambassador juga cukup menyenangkan, misalnya diajak untuk menghadiri launching produk baru, travel untuk mengenalkan produk ke berbagai tempat. Dan dipromosikan oleh perusahaan sehingga fotografer tersebut menjadi lebih terkenal.

Banyak fotografer ingin menjadi Ambassador, tapi tentunya tidak mudah juga. Perusahaan pasti memiliki kriteria yang cukup ketat. Selain popularitas, fotografer yang dibidik juga dinilai dari segi lainnya seperti sejarah mengunakan produk, jumlah penggemarnya dan hal-hal lain yang dapat membantu promosi dan pemasaran produk. Di era sosial media seperti saat ini, Ambassador juga dituntut aktif di media sosial populer seperti Facebook, Instagram, twitter, bahkan menulis blog, review atau sharing produk dll.

[click to continue…]

{ 3 comments }