≡ Menu

Infofotografi sudah beberapa kali mengadakan belajar fotografi dengan konsep mentoring di lokasi dalam kelompok kecil, untuk mempraktekkan teknik dasar fotografi yang sudah didapatkan sebelumnya. Dengan lebih banyak mencoba, khususnya mempraktekkan teori yang ada dengan memotret langsung di lokasi akan membuat kita lebih paham lagi tentang fotografi. Untuk itu kami pilihkan lokasi yang cocok untuk latihan memotret seperti ke pantai, jalanan sampai tempat lain yang dianggap cocok untuk belajar.

IMG_20160723_210154
Mentoring di lokasi adalah cara yang efektif untuk bisa memahami fotografi melalui praktek langsung, karena :

  • dibimbing langsung oleh seorang mentor untuk setting kamera
  • target hasil foto yang ingin dicapai sudah direncanakan dari awal
  • evaluasi setiap hasil foto, saran dan masukan dari mentor
  • hanya kelompok kecil (maks 5 orang untuk 1 mentor), sehingga setiap peserta dapat manfaat yang optimal
  • pemilihan waktu dan lokasi yang singkat dan relatif dekat (sekitar Jakarta)
  • berkesinambungan, peserta bisa daftar lagi untuk sesi berikutnya bila berminat

Di sesi ke 5 kali ini, lokasi yang kami pilihkan adalah Hutan Kota Srengseng, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Hutan ini termasuk salah satu paru-paru kota dengan aneka pohon besar dan cocok untuk mencoba berbagai teknik foto, mempelajari pemakaian filter CPL, komposisi dan angle. Untuk menuju ke sana rutenya bisa lewat jalan raya Srengseng atau Jalan Raya Panjang, lalu belok ke Jl. H. Kelik.

Mentor : Erwin Mulyadi

Waktu : Sabtu, 30 Juli 2016, 06.30-09.00 WIB

Kumpul : pintu masuk Hutan Kota Srengseng jam 6.00 pagi

Peralatan : kamera, lensa, tripod, filter CPL (opsional), lotion anti nyamuk

Biaya : Rp. 350.000,- yang bisa ditransfer ke Enche Tjin via BCA 4081218557 atau Mandiri 1680000667780. Karena peserta dibatasi 4-5 orang maka siapa yang lebih dulu transfer dia yang terdaftar. Untuk mendaftar hubungi Iesan 0858 1318 3069, atau email ke infofotografi@gmail.com.

{ 0 comments }

Canon G7X mk II telah masuk ke Indonesia

Tanggal 21 Juli 2016 yang lalu saya diundang untuk menghadiri launching kamera compact Canon G7X mark II dan seri kamera compact seri SX di The Foundry 8, SCBD, Jakarta.

Dibanding dengan seri Canon G7X pertama, G7X mark II memiliki beberapa peningkatan penting yaitu processor yang lebih cepat (DIGIC 7), design yang lebih ergonomis dan praktis.

canon-g7xm2

Dengan processor baru, G7X mampu memotret berturut-turut secepat 8 fps baik dengan format JPG maupun RAW. Processor baru juga meningkatkan kualitas gambar terutama di warna dan reduksi noise saat mengunakan ISO tinggi. Autofokus tracking juga ditingkatkan kinerjanya.

Di bagian desain juga ada perubahan yang positif. Di bagian depan kamera kini dibalut dengan pegangan karet, bagian belakang juga ada tempat untuk memarkir jempol, dan layar LCDnya kini bisa ditekuk 45 derajat keatas untuk foto dengan sudut tinggi (high angle).

Canon G7X II juga memiliki fitur baru video time-lapse, yang memudahkan untuk membuat video time-lapse. Penyuka foto panning juga akan terbantu dengan adanya mode pengaturan otomatis dan stabilizer vertikal.

Juga baru di G7X II adalah in-camera RAW Processing, yang memungkinkan untuk membuat berbagai foto JPG dengan setting yang berbeda-beda dan kemudian bisa dikirim langsung via WiFi ke ponsel.

[click to continue…]

{ 16 comments }

Monokrom adalah kata yang menyatakan satu nuansa warna. Nuansanya bisa kebiruan, kekuningan dan gradasi warna lainnya tapi hanya satu gradasi warna saja. Gambar tanpa warna yang hanya menggunakan gradasi warna abu-abu (dengan atau tanpa hitam atau putih) disebut grayscale atau lebih dikenal dengan foto black and white (B&W).

baduy

Mengapa foto hitam putih masih diminati orang terutama untuk karya-karya seni tinggi? Padahal dunia ini penuh dengan warna-warni yang membuat hidup kita lebih berwarna, sampai-sampai di era fotografi digital sekarang ini beberapa fotografer pro maupun amatir membutuhkan kamera yang bersensor monokrom, dan ini telah dipelopori oleh Leica pada tahun 2012 dengan Leica M9 bersensor monokrom nya, yang dipasaran dikenal dengan Leica M Monochrom.

Ada tiga cara dasar untuk menghasilkan gambar monokrom (hitam-putih) dengan kamera digital:

  • Membidik dengan menggunakan mode monokrom di setingan kamera kita dalam file RAW atau JPEG.
  • Membidik dalam mode warna lalu mengkonversi gambar warna tersebut ke monokrom dengan menggunakan converter RAW, dengan software Photoshop atau perangkat lunak monokrom khusus
  • Membidik langsung dengan kamera digital monokrom.

[click to continue…]

{ 7 comments }

Foto Klise

Seiring dengan popularitas fotografi travel dan landscape, semakin banyak foto klise yang dihasilkan. Apa sih maksudnya foto klise? Foto klise adalah foto subjek yang sering sekali dipotret. Contohnya foto pemandangan gunung Bromo saat matahari terbit dari gunung Penanjakan, foto pacu jawi di Sumatera Barat, foto Angkor Wat saat matahari terbit dan sebagainya.

perth-skyline

Foto klise disukai banyak orang karena memang menarik untuk dilihat. Semakin populer lokasi tersebut, semakin banyak foto yang dihasilkan di lokasi tersebut sehingga orang-orang yang melihatnya makin akrab dan suka dengan foto tersebut.

Foto-foto klise memang bagus dan menarik untuk dipotret, tapi jika kita terlalu terobsesi dan menghabiskan sebagian besar tenaga, waktu dan uang untuk mendapatkannya, menurut saya cukup disayangkan juga, karena menyebabkan kita tidak sempat lagi untuk mencoba menjelajahi teknik/komposisi baru dan tempat baru yang masih jarang dipotret.

perth-matilda-bay-boathouse

Liburan hari raya Idul Fitri 2016 ini, saya berkesempatan mengunjungi Australia Barat, tepatnya di kota Perth. Saat saya posting sebagian foto di Instagram dan Facebook, foto yang paling banyak di sukai adalah foto-foto klise, seperti rumah terapung Matilda di Perth, Skyline Perth, sedangkan yang foto-foto yang agak tidak lazim seperti saat jalan-jalan di Rottnest Island biasanya like-nya jauh lebih sedikit padahal lebih unik, karena menurut saya tumbuhan dan alamnya berbeda dengan tempat-tempat lain.

Beberapa bulan yang lalu, ada peserta tour foto yang berkomentar, dia merasa fotografinya stagnan / tidak maju-maju padahal sudah cukup lama menyenangi fotografi. Ada juga yang agak sebel saat fotonya dikomentari “mirip foto di postcard / di kalender ya.”

Menurut saya, mungkin yang bersangkutan terus mengulang hal-yang sama, subjeknya sudah terkenal dan banyak dipotret. Teknik foto atau editing yang digunakan juga mirip, jadi hasil fotonya menjadi foto klise.

rottnest-trees

rottnest-red-beach

Di era media sosial saat ini, kita tidak kekurangan foto klise, yang kurang adalah visi karya yang orisinil. Saya rasa, kita harus lebih banyak meluangkan waktu untuk meningkatkan kreativitas kita dan tidak terjebak dengan foto klise. Meskipun awalnya kita harus rela jumlah like mungkin akan menurun he he he.


Yuk, ikuti acara belajar dan tour info fotografi. Kunjungi halaman ini untuk melihat jadwal acaranya.

{ 5 comments }

Fokus yang tepat merupakan elemen yang penting dalam memotret, dan merupakan elemen penting yang memastikan ketajaman foto. Sampai saat ini, belum ada teknologi yang dapat mengkoreksi hasil gambar yang tidak fokus. Sekali tidak fokus, objek yang difoto akan terlihat tidak tajam. Sistem Auto Fokus (AF) pada kamera yang ditemukan di tahun 1980-an merupakan penemuan penting dalam dunia fotografi dan berdampak besar dalam membawa kemudahan bagi para juru foto.

Tanpa Auto Fokus, kita harus mengatur fokus lensa supaya objek yang ingin kita foto benar-benar fokus dan tampak tajam (biasa disebut dengan istilah manual fokus). Auto Fokus (AF) adalah proses otomatis dalam kamera yang bertujuan untuk mencari fokus yang tepat. Kebalikan dari AF adalah MF, atau Manual Fokus, yaitu pengaturan fokus secara manual yang dilakukan oleh fotografer.

sony-a6000

Sony A6000 sendiri merupakan kamera mirrorless populer yang banyak disukai karena kinerja auto fokusnya yang setara dengan kamera DSLR. Namun untuk memaksimalkan kemampuannya memang bukan hal mudah karena kamera ini pengaturan auto fokusnya termasuk banyak, menu-menunya cukup memusingkan dan terkesan rumit. Untuk itu kami mendapat ide untuk menuliskan panduannya dalam bentuk buklet PDF yang bisa dibaca di ponsel, tablet, PC ataupun dicetak.

Contoh isi buklet PDF Setting auto fokus Sony A6000

Contoh isi buklet PDF Setting auto fokus Sony A6000

Di buklet berisi 15 halaman ini anda akan mendapatkan penjelasan mengenai :

  • prinsip kerja auto fokus
  • mengenal adapter lensa
  • setting fokus mode dan fokus area
  • pengaturan lanjutan untuk auto fokus
  • tips konfigurasi setting kamera
  • kustomisasi tombol kamera

Buklet PDF ini bisa dipesan seharga Rp. 50.000. Hubungi langsung 0858 1318 3069 dengan menyertakan, nama, alamat e-mail dan e-book yang ingin dipesan.

Catatan:
Isi e-book ini juga akan bermanfaat bagi yang mengunakan kamera selain Sony A6000, seperti Sony A5100, A6300, dan kamera mirrorless Sony pada umumnya. Hanya saja, ada hal-hal yang dibahas di e-book ini mungkin tidak relevan untuk kamera selain Sony A6000.

 

Anda mungkin tertarik juga untuk membeli e-book kami lainnya :

{ 4 comments }

Panduan praktis memilih ISO di kamera digital

Anda tentu sudah tahu bahwa ISO adalah tingkat kepekaan sensor kamera, semakin tinggi ISO hasil foto akan semakin terang. Pilihan ISO di kamera biasanya bermula dari ISO 100 (atau ISO 200) lalu disediakan banyak pilihan yang lebih tinggi, bahkan di kamera modern jadi terlalu banyak pilihan yang menambah kebingungan kita. Tidak jarang di saat tur atau mentoring ada peserta yang bertanya sebaiknya pakai ISO berapa saat memotret, maka itu saya mau share soal memilih ISO di artikel kali ini.

Kamera masa kini punya banyak pilihan ISO, terasa overwhelming bagi pemula

Kamera masa kini punya banyak pilihan ISO, terasa overwhelming bagi pemula

Sebetulnya dikasih banyak pilihan itu enak, tapi bagi pemula mungkin sedikit pilihan malah lebih simpel. Maka itu memotret pakai ponsel terasa simpel karena ISO-nya otomatis (kita tidak perlu memilih mau pakai ISO berapa, di tempat agak gelap kamera langsung pilihkan ISO tinggi). Padahal di kamera juga ada pilihan ISO Auto bila kita mau, dan ini akan saya bahas di artikel ini, yaitu kapan memutuskan pakai ISO Auto dan kapan kita ambil alih nilai ISO sendiri. Satu hal yang perlu diingat, makin tinggi ISO yang dipakai, makin noise hasil foto yang didapat.

Pertama kita harus kenali kamera masing-masing, cobalah cek hal-hal berikut ini :

  • tahun berapa kamera anda dibuat : kamera generasi baru semakin baik untuk urusan noise di ISO tinggi
  • apa ukuran sensor di kamera anda : makin besar sensor makin rendah noisenya di ISO tinggi
  • berapa ISO terendah dan tertinggi yang bisa dipilih
  • apa ada ISO ekspansion (misal Low dan High / H1 H2 dst)

Tips praktis dari saya untuk banyak keadaan adalah aktifkan saja ISO Auto, baik pakai mode P/A/S atau bahkan M. Kamera punya perhitungan sendiri yang memudahkan kita, daripada repot memikirkan mau pakai ISO berapa setiap memotret, biarkan saja ISO-nya di posisi Auto. Tapi ada sedikit saran dari saya yaitu kita perlu tentukan batas maksimum Auto ISO yang kita ijinkan, misal di atas ISO 3200 terasa terlalu noise dan kita tidak suka noise maka batasi saja ISO Auto up to ISO 3200 misalnya.

ISO auto Sony

Tentukan berapa ISO maksimum yang kita mau saat pakai ISO Auto. Ini sifatnya subyektif dan tergantung selera masing-masing.

Memakai ISO Auto ini praktis dan mudah, fitur ini akan membantu kita tetap dapat foto yang eksposurnya pas di keadaan yang cahayanya tidak konstan, seperti foto snapshoot, potret outdoor, foto jalan-jalan saat traveling atau kita kerap pindah lokasi di tempat yang terangnya berbeda-beda. Kamera biasanya akan memilihkan ISO rendah di tempat terang, dan akan menaikkan ISO secukupnya saat keadaan mulai redup, simpel kan?

Saat traveling saya mengandalkan ISO Auto, disini kamera pilihkan ISO 500 di sore hari. Praktis dan mudah, seperti pakai ponsel saja.

Saat traveling saya banyak mengandalkan ISO Auto, disini kamera pilihkan ISO 500 saat hari semakin sore. Praktis dan mudah, seperti pakai ponsel saja.

[click to continue…]

{ 15 comments }

Sekitar tiga bulan sebelum pameran akbar fotografi di Jerman (Photokina 2016), Fuji mengumumkan kamera “flagship” terbaik mirrorlessnya dengan teknologi yang paling baik diantara kamera Fuji lainnya saat ini.

fuji-xt2-1

Dari fisik, terlihat kurang lebih sama desainnya, tapi ada beberapa perubahan, yaitu ukuran yang sedikit lebih tinggi, memiliki joystick seperti di Fuji X-PRO2 yang sangat berguna untuk mengubah area fokus.

Terdapat dual memory card slot, jendela bidik yang lebih besar, dan layar LCD putar yang unik, membantu saat memotret portrait maupun landscape.

Kinerja kamera juga meningkat dengan pembaharuan sistem autofokus hybrid (325 area, 49 phase detection) dan maksimum foto berturut-turut secepat 8 foto per detik, tapi jika battery grip seperti foto diatas terpasang dan diisi dua baterai tambahan, maka kecepatan foto berturut-turut Fuji XT-2 menjadi 11 foto perdetik.

Yang mengejutkan adalah Fuji X-T2 dapat merekam video berkualitas 4K. Secara tradisional, Fuji tidak terkenal sebagai perusahaan yang fokus dalam videografi.

Beberapa peningkatan lain dari X-T2 dari X-T1 sudah kita lihat di dalam Fuji X-PRO2 yaitu 24MP APS-C X-Trans sensor , mode Black & White ACROS.

Bagi pengguna kamera Fujifilm saat ini terutama pengguna XE, X-PRO-1 dan X-T1 dan telah memiliki berbagai lensa Fuji, saya pikir akan senang karena mendapatkan resolusi file yang lebih tinggi, dan berbagai pembaharuan diatas. Yang baru membeli X-PRO2 mungkin merasa agak sebel karena fitur X-T2 sepertinya lebih baik.

fuji-ex-f500-flashSeiring kamera Fuji X-T2, Fuji juga mengumumkan flash baru EX F500 yang memiliki GN500 seharga $450. Tiga lensa juga diumumkan tapi baru akan terwujud akhir tahun dan tahun depan (2017) yaitu 23mm f/2 WR, 50mm f/2 WR dan 80mm f/2.8 OIS WR Macro.

Hadirnya Fuji X-T2 yang harganya USD 1599 (Di Indonesia mungkin sekitar Rp 23 juta) akan bersaing dengan kamera DSLR profesional bersensor APS-C lainnya seperti Canon 7D mk II, Nikon D500 dan di kamera mirrorless, akan bersaing dengan Sony A6300 meskipun harganya jauh lebih murah (Sekitar Rp 15 juta saja).

Saya merasa Fuji X-T2 akan sedikit membingungkan pengguna Fuji yang sedang mempertimbangkan membeli Fuji X-PRO2. Secara fitur, X-T2 lebih bagus, tapi ini semua tergantung selera penggunanya karena desainnya berbeda.

Kamera-kamera DSLR dan mirrorless canggih akan terus diluncurkan sebelum akhir tahun 2016. Hal ini karena menurunnya penjualan kamera compact yang beralih ke kamera ponsel, pabrikan kamera perlu untuk membuat kamera yang lebih canggih. Saat ini banyak kamera yang beredar dipasaran banyak yang bagus. Saran saya, jika dana terbatas dan telah memiliki kamera yang cukup baik saat ini, tidak perlu buru-buru upgrade kamera, lebih baik utamakan lensa yang berkualitas. Telaah terlebih dahulu dengan baik apakah fitur-fitur kamera baru ini signifikan dan akan sering digunakan atau tidak.


Sudah punya kamera tapi bingung mengunakannya? Ikutilah kegiatan belajar kamera dan fotografi. Periksa topik dan jadwal belajar di halaman ini.

{ 6 comments }

Mencoba Canon 1DX II untuk street photography

Seminggu yang lalu, teman kami dari Datascrip, distributor kamera Canon mendrop kamera sangar Canon 1DX ke Infofotografi untuk kami coba. Sayangnya masa peminjaman cukup pendek yaitu sekitar 1 minggu sehingga kami hanya sempat hunting sebanyak dua kali. Pertama saya pakai untuk street photography di Pekojan dan Muara Angke, dan mas Erwin membawanya saat bukber dan foto hunting konsep model yang hasil reviewnya bisa di detikinet.com

Kredit foto kamera : Erwin Mulyadi

Kesan pertama saya adalah kamera ini besar dan berat, karena vertical gripnya terintegrasi. Beratnya 1.53 kg termasuk baterai berkapasitas 1000-1200 jepret, tapi menurun jauh saat mengunakan live view untuk memotret yaitu sekitar 260 foto. Saat dipegang ditangan, kesannya kokoh. Banyak tombol-tombol bertaburan sehingga mengurangi keperluan untuk masuk ke menu untuk mengganti setting kamera. Yang agak mengejutkan saya adalah kinerja autofokus live view cepat, kurang lebih hampir sama dibandingkan dengan memotret dengan jendela bidik atau kamera mirrorless.

Kualitas gambar 20 MP solid dan berimbang antara speed, resolusi, ISO tinggi. Dynamic range juga oke. Dicoba dengan lensa 16-35mm f/2.8 yang sudah cukup tua (diluncurkan tahun 2007), hasil foto terutama wajah orang agak soft, tapi secara keseluruhan masih enak dilihat. Sebagai kamera DSLR untuk profesional, Canon 1DX II menurut saya memberikan peningkatan yang sangat baik. Beberapa yang masih terasa kurang adalah konektivitas karena tidak ada Wifi built-in, mesti mengunakan aksesoris tambahan. Dan yang paling terasa bagi saya yaitu suara shutter dan mirror yg keras.

Dynamic range Canon 1DX mk II sudah lebih baik dari kamera-kamera sebelumnya.

ISO 100, f/8, 1/320 detik, 23mm

tempe

ISO 1000, f/2.8, 1/80 detik, 33mm

Dalam workshop street photography seputar Jakarta, pengalaman saya dalam mengunakan kamera ini agak campur baur. Saya menyukai kualitas gambar dan kecepatan autofokus dan kinerja kamera secara umum, tapi saya merasa agak keberatan untuk street photography meskipun saya sudah berupaya mengunakannya dengan lensa yang berukuran kecil seperti Canon 50mm f/1.8 STM. Memang seharusnya kamera semacam ini tidak dianjurkan untuk street photography, tapi bukan berarti tidak bisa he he he..

orange-blue

ISO 1000, f/7.1, 1/60 detik, 32mm

ISO 100, 35mm, f/2.8, 1/160 detik

ISO 100,  f/2.8, 1/160 detik, 35mm

Kelebihan dan kelemahan Canon 1DX II
+ Kokoh
+ Kinerja cepat
+ Banyak tombol akses cepat
+ Live view cepat, autofokus tracking di live view jg cepat
+ Kapasitas baterai cukup bagus
+ Jendela bidik besar
+ Kualitas gambar bagus disegala kondisi cahaya
+ Dual Card slot (CF dan CFast)
+ Charger bisa mencharge dua baterai sekaligus
+ Autofokus dan metering baru yang lebih “pintar” bisa mengenali wajah
– Besar dan berat
– Suara shutter dan cermin berisik
– Distribusi titik autofokus tidak memenuhi layar
– Fungsi touchscreen terbatas di live view saja

ikan

ISO 640, f/6.3, 1/160 detik, 20mm

family-mancing

Kondisi backlighting bisa dihandle dengan baik. ISO 100, f/9, 1/80 detik, 20mm

Demikian hasil uji coba kamera ini dan saya merasa kamera ini paling cocok untuk fotojurnalis yang menghadapi medan yang ekstrim seperti di kondisi perang, kondisi cuaca ekstrim, atau yang membutuhkan kamera berkinerja tinggi untuk membekukan gerakan yang cepat. Jenis fotografi lain yang oke menurut saya adalah wedding photography, terutama liputan atau prewedding yang mengincar momen-momen candid.

Spesifikasi dan fitur baru Canon 1DX II bisa dibaca di artikel ini. Harga kamera ini saat ini Rp 75.575.000 body only.


Minat ikutan workshop street photography? Periksa jadwal di halaman ini.

{ 12 comments }

Tour fotografi ke Bromo 2-4 September 2016

Setelah sekian lama diminta oleh alumni Infofotografi dan pembaca untuk mengadakan tour fotografi ke Bromo. Maka tahun ini saya akan mengadakan tour foto ke Bromo tanggal 2-4 September 2016. Selain memotret pemandangan pegunungan Bromo yang spektakuler, kita juga akan memotret kehidupan suku Tengger, seperti penunggang kuda, petani, dan masyarakat pedesaan.

Kita akan menginap selama dua malam di Bromo, dan dalam perjalanan pulang ke bandara Juanda, kita akan mengunjungi hutan bakau di kota Probolinggo

bromo-02

Rancangan acara / Itinerary

Hari pertama

  1. Meeting point di Bandara Juanda, Sidoarjo. 09.00 WIB.
  2. Berangkat ke Bromo
  3. Makan siang di Probolinggo
  4. Check-in penginapan, istirahat
  5. Motret sunset dengan latar belakang Gunung Bromo

Hari kedua

  1. Sunrise di Gunung Penanjakan (2750m)/Bukit Kingkong
  2. Ke Pura dan kawah Bromo
  3. Memotret foto human interest penunggang kuda
  4. Mengunjungi Air terjun Makadipura (jika cuaca memungkinkan)
  5. Malamnya motret Milky way jika cuaca memungkinkan (opsional)

Hari ketiga

  1. Berkeliling sekitar perkebunan suku Tengger untuk foto Human Interest
  2. Mengunjungi Mangrove Beejay Bakau Resort Probolinggo
  3. Menuju ke airport Juanda untuk kembali ke daerah asal

bromo-01

Biaya Rp 2.900.000,- per orang
Maksimum 14 orang – Sampai hari ini sudah 12 orang.
Status: Pasti Berangkat

Biaya telah termasuk

  • Transportasi dari bandara ke Bromo dan sebaliknya
  • Penginapan hotel bintang dua.  Sekamar berdua dengan kamar mandi.
  • Sewa jeep sunrise gunung Bromo, pura, savana dan bukit teletubies
  • Tiket masuk taman nasional Gunung Bromo
  • Tiket masuk ke air terjun
  • Makan & minum selama tour
  • Sewa model lokal penunggang kuda
  • Jasa Pemandu lokal
  • Bimbingan fotografi dilokasi oleh Enche Tjin

Biaya belum termasuk

  • Transportasi ke Bandara Juanda (tiket pesawat, Kereta api dll)
  • Biaya jeep untuk foto Milky Way di depan Pura (opsional)
  • Biaya naik kuda (opsional)

Catatan: Cuaca cukup dingin (2-20 C)terutama di pagi dan malam hari sehingga disarankan untuk membawa sweater dan jaket. Untuk kamera dan lensa saya usulkan lensa zoom lebar dan telefoto.

Jika ingin mendaftar atau ada pertanyaan, silahkan menghubungi 0858 1318 3069 / infofotografi@gmail.com

{ 4 comments }

Pilih Zeiss Milvus, Otus atau Klasik?

Dulunya, lensa Zeiss untuk DSLR cukup sederhana, cuma ada satu keluarga yang kini dinamai Zeiss Classic. Beberapa tahun belakangan, Zeiss lebih aktif dari biasanya dalam mengeluarkan lensa-lensa baru untuk kamera DSLR maupun mirrorless. Saat ini ada dua keluarga lensa baru, yaitu keluarga Otus (arti: Burung hantu) dan Milvus (arti: Elang). Nah, karena mulai banyak pilihan, maka mungkin ini cukup memusingkan bagi yang sedang mencari lensa Zeiss baru, terutama spesifikasi lensanya mirip-mirip. Misalnya di Zeiss Otus ada 55mm f/1.4 dan 85mm f/1.4. Di Milvus juga ada yang mirip, yaitu 50mm f/1.4 dan 85mm f/1.4.

Sebenarnya ada perbedaan yang cukup jelas diantara keluarga lensa Zeiss

Foto Keluarga Zeiss Otus: 28mm, 55mm, dan 85mm. Semuanya berbukaan f/1.4

Foto Keluarga Zeiss Otus: 28mm, 55mm, dan 85mm. Semuanya berbukaan f/1.4

Zeiss Otus dirancang untuk sempurna di setiap bukaan, termasuk di bukaan terbesar f/1.4. Selain tajam dan siap untuk kamera beresolusi tinggi (50 MP dan bahkan lebih). Otus memiliki desain lensa APO (Apochromatic) sehingga tidak ada chromatic aberationnya. Dalam desain, Otus memiliki barrel/gelang fokus yang lebih mulus dan lebih mudah digerakkan, sedangkan ring manual di Milvus meski mulus, tapi lebih terasa pemberatnya. Menurut saya, bagi yang konsentrasinya murni di fotografi, lebih bagus pakai Otus.

[click to continue…]

{ 11 comments }