≡ Menu

Kalau bicara sistem trigger flash wireless, maka kita kenal ada dua jenis trigger yaitu yang TTL dan non TTL. Trigger non TTL lebih universal tapi fiturnya terbatas, banyak dipakai untuk pengguna yang pakai flash manual. Tapi bila kita punya flash yang TTL dan ingin memaksimalkan semua fiturnya secara wireless tentu perlu memakai trigger yang berjenis TTL juga. Salah satu produk trigger wireless TTL terbaru adalah Godox X1 dengan akhiran kode C untuk Canon, N untuk Nikon dan S untuk Sony. Seperti layaknya trigger modern pada umumnya, Godox memakai frekuensi radio 2,4 GHz untuk transmisi datanya, dan kali ini saya akan bahas trigger Godox yang X1-C untuk Canon.

Fitur dasar :

  • memakai frekuensi 2,4 GHz, bisa dipakai hingga 100m
  • terdiri dari 5 grup dan 32 channel (independen setting)
  • mendukung penuh fitur HSS hingga 1/8000 detik
  • mendukung fitur rear sync / 2nd curtain
  • mendukung kompensasi flash, FEB maupun flash lock
  • fitur flash zoom tetap bisa berfungsi
  • bisa menjadi wired/wireless shutter release
  • untuk Canon : mendukung fitur ratio A:B-C
  • bisa update firmware via lubang micro USB
  • PC Sync Port (unit transmit)
  • 2.5mm Sync Port (unit receive) – bisa untuk ke lampu studio

Sekilas fisik unit Godox X1-C :

Godox X1-C memiliki dua versi yaitu unit transmitter (diberi nama X1T-C) dan unit receiver (X1R-C).

Godox X1T-C dengan pin kontak TTL untuk sistem Canon

Baik unit transmit atau receive keduanya bentuknya mirip, dan ditenagai oleh 2 baterai AA, dan ada tuas On Off di sisi kanan. Keduanya punya layar LCD dengan backlight putih, LED status dan terdapat tombol TEST di bagian atas. Bedanya di unit transmit ada tiga tombol : CH (untuk memilih channel), GR (untuk memilih grup) dan MODE serta roda pengatur setting, sedangkan di unit receive hanya ada tombol CH dan GR saja. Indikator di LCD memang menampilkan informasi yang agak terbatas untuk itu perlu sekali membaca buku manual yang disertakan di paket pembelian.

Fungsi tombol di unit X1T-C (diikuti dengan memutar roda untuk scroll ke setting yang diinginkan) :

  • tombol CH : tekan sekali untuk mengganti channel, tekan 2 detik untuk menu custom Function (C.Fn 00-C.Fn 07)
  • tombol GR : tekan sekali untuk atur Power/kompensasi pada suatu grup, tekan 2 detik untuk mengatur setting yang sama untuk semua Grup
  • tombol MODE : tekan sekali untuk memilih mode (TTL/Manual/Multi)

[click to continue…]

{ 4 comments }

Mentoring foto Cityscape di rooftop, 16 April 2017

Mentoring foto Cityscape kembali hadir, kali ini kita akan membidik keindahan cahaya gedung dan rona langit senja di sekitar Mega Kuningan dari atap gedung (rooftop). Acara ini dijadwalkan pada hari Minggu 16 April 2017.

Kegiatan ini seperti biasa akan dimentori oleh saya (Erwin M.) untuk bimbingan teknis setting kamera dan komposisi.

Foto oleh Rohani Tanasal.

Alat yang perlu dibawa tentunya kamera, lensa (lebar hingga menengah) sedangkan aksesori lain seperti GND filter, cable release dsb adalah opsional. Sangat disarankan untuk membawa tripod yang kokoh dan stabil, mengingat di atas nanti terpaan angin cukup kencang.

Biaya mentoring : Rp. 395.000,- mengingat tempat yang terbatas, bila ingin mendaftar bisa langsung transfer ke rekening Enche Tjin di BCA 4081218557 atau Mandiri 1680000667780 dan mengabari via SMS/WA 0858-1318-3069.

{ 0 comments }

Saat memotret foto diatas, rumus komposisi yang saya gunakan adalah komposisi Golden Triangle atau komposisi segitiga emas. Bentuk komposisinya seperti ilustrasi disamping kanan ini.

Foto ini saya buat di hutan bakau (mangrove) di Karangsong. Saat pertama kali kita masuk, kemungkinan kita akan sedikit bingung karena tetumbuhan bakau itu memang sangat berantakan, dan tidak begitu fotogenik. Tapi jika kita sabar dan mengamati dengan teliti, bisa saja kita menemukan komposisi garis yang menarik. Contohnya di foto diatas.

Kondisi di area hutan bakau biasanya juga agak gelap karena cahaya matahari tertutup oleh dedaunan yang lebat, maka itu saya mengunakan setting ISO yang cukup tinggi yaitu ISO 640, f/5.6 dan shutter speed 1/30 detik. Focal length/jarak fokus lensa yang saya gunakan adalah 24mm di kamera full frame (Leica SL + Leica SL 24-90mm f/2.8-4).

Contoh lainnya adalah foto ikan hiu berukuran kecil dan sedang yang dijual secara legal di pelelangan ikan Indramayu. Posisi ikan saya letakkan secara diagonal mengikuti komposisi golden triangle ini. Silahkan dibayangkan garis-garisnya ya.


Bagi teman-teman yang ingin belajar atau mengikuti kegiatan fotografi, silahkan melihat jadwal di halaman ini. Terima kasih.

{ 0 comments }

Pada umumnya fotografer berpendapat bahwa dalam situasi kurang cahaya, kamera dengan sensor berukuran kecil seperti kamera micro four thirds (M4/3) mempunyai kualitas gambar dibawah kamera bersensor APS-C atau full frame (bingkai penuh) karena menggangap gangguan elektronik-nya (noise) meninggi pada ISO tinggi. Argumen ini sebetulnya tidak sepenuhnya benar. Pendapat ini timbul karena mengganggap saat berhadapan dalam kondisi cahaya tertentu, fotografer yang mengunakan kedua jenis kamera perlu mengatur shutter, aperture dan ISO yang sama untuk kedua jenis sensor.

Noise pada ISO tinggi sebetulnya tidak meningkat karena ukuran sensor-nya yang mengecil. Jadi untuk pengguna kamera dengan sensor yang lebih kecil bila ingin memiliki jumlah total cahaya yang sama, mereka perlu mengunakan bukaan/aperture 2-stop lebih besar, atau ISO 2-stop lebih rendah.

Inilah sebabnya, sensor M4/3 sepertinya memiliki noise “2-stop” lebih banyak dari sensor full frame. Dengan demikian, sensor M4/3 di ISO 800 akan menghasilkan noise kira-kira setara dengan kamera full frame di ISO 3200.

Teknologi yang digunakan pada kamera M4/3, dan sensornya itu sendiri, memungkinkan pengaturan ISO secara signifikan lebih rendah dari pada kamera full frame dalam situasi yang sama. Bahkan, kita akan melihat skenario di mana ISO dapat dikurangi 2 stop atau lebih untuk secara efektif menghilangkan keuntungan dari 2 stop noise yang ditawarkan oleh sensor full frame.

[click to continue…]

{ 16 comments }

Fujifilm X-T20 vs Sony A6300

Fujifilm X-T20 baru saja di-launching di pasar Indonesia 18 Maret 2017 yang lalu. Dan sebelumnya, saya sudah menerima banyak pertanyaan dari pembaca tentang kamera mana yang terbaik.

Dari segi kualitas gambar, keduanya memiliki sensor generasi terbaru APS-C 24MP, sehingga kualitas gambar kurang lebih sama. Sensor kamera Fujifilm mengunakan desain X-Trans, sehingga sedikit lebih tajam, tapi saat editing, lebih fleksibel dengan mengunakan sensor APS-C biasa (Bayer) yang digunakan Sony A6300. Untuk foto di kondisi low light, keduanya kurang lebih setara.

Keunggulan Sony A6300 terletak di bagian video, karena Sony secara historis memang sudah lebih terkenal di dunia video. Tapi spesifikasi Fujifilm tidak jelek juga, karena sudah bisa merekam video 4K namun A6300 melebihinya dengan kemampuan merekam video slow motion 120fps di resolusi full HD, sedangkan Fuji X-T20 hanya 60 fps di resolusi yang sama.

[click to continue…]

{ 27 comments }

Konsep kaos fotografi baru ini adalah merayakan perbedaan diantara fotografer yang memilih berbagai macam jenis fotografi sesuai kebutuhan dan karakter masing-masing. Desain depan bergambar berbagai jenis kamera dari DSLR sampai TLR dan tulisan : “Different Cameras, Different Character.” Di bagian belakang kaos terdapat logo Infofotografi.com.

Ukuran adalah sebagai berikut (dalam cm)
XS : 50 x 68
S : 52 X 70
M : 54 x 72
L : 56 x 74
XL : 58 x 76

Bahan kaos: Katun Combed 20s
Warna: Broken White

Sebagai info, saya memiliki tinggi 173 cm memakai kaos ukuran M, Iesan memiliki tinggi 153 cm, memakai ukuran XS, dan Erwin Mulyadi L.

Kami menerima pesanan kaos ini dengan harga Rp 95.000,-

Kaos siap untuk dikirim via JNE, Gojek, Tiki  dll.

Persediaan terbatas, harap pesan via 0858 1318 3069, infofotografi@gmail.com, atau via Bukalapak.

Kami juga mempersilahkan untuk mampir untuk membeli kaos ke basecamp Infofotografi di Rukan Sentra Niaga N 05, Green Lake City, Kosambi, Jakarta Barat. Sebaiknya membuat janji terlebih dahulu.

Terima kasih atas perhatiannya.

{ 0 comments }

Satu lagi peserta kursus online telah lulus

Infofotografi dengan kelas online yang menerapkan sistem long distance learning telah menarik minat banyak peserta karena praktis, tidak perlu bertemu langsung dengan pengajar sehingga menghemat waktu dan biaya. Tujuannya tentu supaya pembaca yang berada di seluruh Indonesia bisa ikut mendapatkan pelajaran fotografi yang berkualitas dan terjangkau. Konsep belajarnya dibuat interaktif, dengan materi yang disusun secara sistematis dan ada penugasan di setiap akhir materi. Dari semua yang mendaftar memang tidak semuanya lulus dalam waktu 6 bulan yang diberikan, umumnya karena peserta kurang konsisten dalam menjalankan tugas di modul yang diberikan. Padahal kami akan menerbitkan Sertifikat bila peserta berhasil menyelesaikan seluruh modul pelatihan yang terdiri dari 10 modul :

  1. Eksposur
  2. Auto fokus
  3. Memakai mode P, A (Av) dan S (Tv)
  4. Slow shutter speed effect
  5. Bermain dengan warna
  6. Histogram dan exposure yang tepat
  7. Lensa dan jarak fokal
  8. Komposisi dasar 1
  9. Komposisi dasar 2
  10. Memotret sunset dan sunrise
Salah satu contoh materi

Salah satu contoh materi

Satu lagi peserta lulus

Untuk itu kami mengucapkan selamat kepada satu lagi peserta yang lulus kelas online ini yaitu Jenvendes asal Surabaya, yang berhasil menyelesaikan semua modul dengan hasil yang banyak peningkatan berkat masukan dan revisi dari mentor. Beberapa karya foto Vendes yang dibuat khusus untuk penugasan dari modul kursus online dengan kamera Nikon D3300 :


dan beberapa foto lainnya :

Bagi yang ingin mengikuti kursus online ini bisa mendaftar dengan transfer Rp. 2.000.000 ke Enche Tjin via BCA 4081218557 atau Mandiri 1680000667780 lalu konfirmasi melalui SMS/WA ke nomor 0858 1318 3069 dan selanjutnya anda akan dikirimkan link ke form pendaftaran online.

{ 2 comments }

Sharing & Gathering Infofotografi kali ini agak berbeda karena acara ini diadakan di markas baru Infofotografi di Green Lake City, Duri Kosambi, Jakarta Barat untuk pertama kalinya. Selain itu, acara gathering ini akan diisi dengan sesi photography talk oleh Tim Infofotografi yaitu: Enche Tjin, Erwin Mulyadi dan Iesan Liang.

Dalam acara ini Infofotografi juga bekerjasama dengan PT Ennergy Solutions akan menyediakan jasa membersihkan lensa dan sensor kamera dengan biaya yang terjangkau.*

  • Waktu : Hari Minggu, tanggal 19 Maret 2017
  • Tempat : Infofotografi, Rukan Sentra Niaga Blok N-05, Green Lake City, Duri Kosambi Jakarta Barat. GPS : 6.1794S 106.7115E

Petunjuk arah dan Peta bisa dibaca di laman ini.

Susunan acara:

14.00 : Registrasi
14.15-14.45 Sesi Iesan Liang : Personal photography
15.00-15.45 Sesi Erwin Mulyadi : Vision vs photography techniques
16.00-16.45 Sesi Enche Tjin : Tips membuat foto yang bercerita
16.45-17.45 Sesi Tanya jawab & demo dan service cleaning kamera & lensa*
18.00-18.45 Makan malam bersama.

Peserta yang akan hadir boleh mengikuti sebagian atau keseluruhan dari rangkaian acara yang sudah disusun diatas. Untuk mengikuti acara gathering ini tidak dipungut biaya (Gratis/Free) namun sangat dianjurkan untuk bisa mendaftar terlebih dahulu ke 0858 1318 3069 atau email ke infofotografi@gmail.com

Besar harapan kami para pembaca website dan juga para alumni kursus kilat Infofotografi bisa hadir dalam acara ini, dan sampai ketemu nanti ya..

*tidak melayani permintaan membersihkan jamur atau debu di bagian internal (dalam) lensa.
{ 2 comments }

Wawancara dengan Karin Rehn Kaufmann dari Leica

Wawancara dengan Karin Rehn Kaufmann, Art Director & Chief Representative Leica Galleries International. Acara ini diadakan tanggal 19 Januari 2017, Leica HQ, Leitz Park, Wetzlar, Jerman oleh fotografer Leica dan media dari Asia Pacific. Diterjemahkan oleh Enche Tjin dan disunting oleh Jacqueline Savina.

T: Terima kasih atas waktunya, dapatkah Anda menjelaskan tentang penghargaan Leica Oscar Barnack dan Leica Hall of Fame?

J: Kamera adalah alat yang hebat untuk membuat foto yang terbaik, jadi foto terbaik sangat penting, maka kami membuat banyak proyek budaya di seluruh dunia, dan kami memiliki penghargaan yang sangat penting yaitu Leica Oscar Barnack Award. Kami akan gembira menerima fotografer-fotografer dari negara-negara Anda karena kontes ini sudah dibuka.

Kami akan menjuri di bulan Mei tahun ini, dan akan mengadakan pameran di kota Berlin. Tahun lalu kami mengadakannya di Berlin untuk pertama kalinya. Kami memutuskan untuk membawa kembali penghargaan ini ke rumah. Selama 15 tahun penghargaan ini diadakan di festival foto besar di kota Arles, Perancis. Tapi saya merasa disana ada terlalu banyak acara.

Oscar Barnack lahir di dekat Berlin, bersekolah dan dibesarkan di Berlin. Maka itu penghargaan ini harusnya kembali ke Berlin. Kami melakukan hal itu tahun lalu dengan hasil sukses besar. Acaranya sangat menyentuh. Kami mengadakan pameran besar dengan sepuluh finalis dan dua pemenang. Selain Leica Oscar Barnack prize, juga ada Leica Oscar Barnack Newcomer Award for Photographers untuk fotografer dibawah 25 tahun.

Kami berusaha untuk berkembang. Setelah pameran di akhir Oktober, kami akan pameran di Lucca, Italia, dan kemudian di Paris. Ini adalah photo fair terbesar untuk kolektor foto di Eropa dan seluruh dunia. Disana kami akan mempersembahkan Leica dan akan memamerkan pemenang kontes Oscar Barnack Award.

Setelah Joel, foto-foto dari pemenang dan finalis dari Oscar Barnack award akan kami pajang di markas Leica. Tujuan saya pastinya supaya membuat penghargaan ini dapat lebih dikenal.

Penghargaan lainnya yang baru kita lakukan kemarin adalah Leica Hall of Fame award. Penghargaan ini juga sangat penting, tapi belum terkenal di seluruh dunia, karena kita memulainya sangat lambat dan secara privat. Sebelum memberikan penghargaan ini ke Joel, kami pernah memberinya ke Steve McCurry dan Ara Guller.

[click to continue…]

{ 0 comments }

Apa yang membuat lensa besar dan berat?

Dalam beberapa tahun belakangan ini lensa-lensa baru yang diumumkan memiliki ukuran yang besar. Ukuran lensa yang berat biasanya berdampak ke ukuran lensa dan harga lensa juga.

Apa saja faktor yang menyebabkan lensa menjadi makin besar?

Kualitas lensa

Kamera dengan 100MP

Salah satu adalah kamera digital jaman sekarang resolusinya sangat tinggi, yaitu rata-rata sekitar 24MP, dan ada yang telah mencapai 50, bahkan 100 MP. Sedangkan sepuluh tahun yang lalu, kebanyakan kamera beresolusi sekitar 10 MP. Resolusi yang sangat tinggi membutuhkan kualitas lensa yang lebih tinggi, jika tidak, kualitas hasil foto tidak optimal, terutama saat di zoom di ukuran 100% atau cetak besar.

Untuk meningkatkan kualitas lensa, desainer lensa biasanya menambahkan dan membesarkan elemen lensa untuk mengoreksi efek yang tidak bagus seperti vinyeting (gelap di ujung frame foto), chromatic abberation, distortion dll.

Ukuran sensor kamera

Besarnya ukuran lensa dirancang untuk mencakupi ukuran sensor gambar kamera. Semakin besar ukuran sensor kamera, otomatis semakin besar ukuran lensanya. Contohnya lensa untuk kamera bersensor full frame (36 x 24mm) tentunya harus lebih besar dari lensa untuk kamera APS-C (24 x 15 mm) atau micro four thirds (17 x 13mm).

Bukaan lensa

Semakin besar bukaan maksimum lensa, semakin besarlah lensa tersebut. Contoh: Lensa Sony Zeiss FE 35mm f/2.8 jauh lebih kecil dari Sony 35mm f/1.4 Zeiss.

Lensa zoom yang bukaannya konstan akan lebih besar daripada yang variable. Maksud dari bukaan konstan adalah saat di zoom, bukaan maksimum lensa tidak berubah. Contohnya Lensa 18-55mm f/3.5-5.6 lebih kecil dari 17-50mm f/2.8.

Lensa Iberit 40mm f/0.85, relatif besar dan panjang karena bukaannya yang sangat besar.

[click to continue…]

{ 16 comments }