≡ Menu

Canon 1D adalah seri kamera DSLR Canon untuk profesional dengan sejarah yang panjang. Pertama kali diluncurkan di tahun 2001, saat itu 1D memiliki resolusi 4 MP dengan kemampuan memotret 8 foto per detik. Saat itu adalah kamera digital yang top di masanya. Di tahun 2011, Canon meluncurkan 1DX, kamera DSLR full frame dengan resolusi 18MP dan kecepatan memotret 12-14 fps.

Pada akhir 2019, Canon merilis Canon 1DX mark III. Jika kita lihat sekilas dari body kameranya banyak kemiripan dengan Canon 1D. Memang, body dibuat mirip supaya yang fotografer yang upgrade kameranya akan merasa “feel at home” atau familiar dengan handlingnya.

Are you thinking in buy a guillotine Paper Cutter, but what features should you consider when making this decision?, professionals from Trimmer Adviser are ready to answer all you questions.

Peningkatan Kinerja

1DX mark III ini punya banyak kelebihan dibanding pendahulunya. Hampir disegala aspek ditingkatkan. Yang paling membantu fotografer profesional, terutama di bidang sports photography adalah peningkatan processor yang saat ini mengunakan DIGIC X, dan penggunaan kartu dual CFexpress.

Dengan processor baru DIGIC X yang lebih efisien tapi lebih cepat dari kombinasi Dual DIGIC 6+ ini membuat kinerja kamera bertambah, dan sekaligus lebih efisien dalam penggunaan daya. Baterai 1DX mark III sama dengan 1D mark II, yaitu LP-E19, tapi karena processornya lebih efisien, kini bisa memotret 2800 frame dibandingkan 1210 frame di 1DX mark II. Jika mengunakan live view, 1DX mark III ini bisa motret 610 foto, sedangkan yang Mark II hanya 260 foto, sebelum harus di charge.

Penggunaan dual kartu CFexpress ini juga menarik, karena memungkinkan “nafas” yang lebih panjang dalam pemotretan kontinyu. CFexpress kartu yang sangat cepat baca tulisnya dibandingkan dengan kartu lainnya.

Berikut perbedaan kecepatan berbagai jenis kartu:

CF Express kecepatan maksimum: 1.97 GB/sec.
CFast 2.0 kecepatan maksimum: 600 MB/sec.
CF — UDMA 7 kecepatan maksimum: 167 MB/sec
SD Card UHS-I : 104 Mb/s, UHS-II : 312 Mb/s

Sebagai informasi, 1DX mark III mengunakan kartu CF dan CFast. Kartu CFexpress type B fisiknya sama dengan XQD, tapi sampai saat ini 1DX mark III belum bisa menerima kartu XQD.

Dengan dukungan CFexpress, fotografer bisa memotret kontinyu lebih dari 1000 foto meskipun dengan format RAW. Sedangkan di 1DX mark II, terbatas di 170 foto RAW, dan hanya 81 foto RAW+JPG. Dengan kata lain saat memotret berturut-turut dengan format RAW, 1DX mark II hanya bertahan 12 detik, sedangkan 1DX mark III bisa bertahan lebih dari satu menit.

Sistem autofokus baru

1DX mark III punya sistem autofokus yang baru, tidak hanya untuk modul jendela bidik, tapi juga saat live view. Modul autofokus yang terdahulu memiliki 61 titik fokus, di 1DX mark III ini punya 191 titik, dan ini dimungkinkan karena modul baru dengan pixel berukuran lebih kecil dan banyak (high resolution sensor), sehingga autofokus lebih akurat.

Modul baru AF baru ini juga memungkinkan untuk memotret dengan autofokus di kondisi yang sangat gelap misalnya malam hari dengan cahaya bulan (EV -4) atau kondisi yang sangat terang (EV 21). Sistem autofokus juga masih bekerja dengan baik saat mengunakan lensa dengan bukaan maksimum f/8 misalnya saat memasang 2x teleconverter di lensa berbukaan f/4.

Bagi yang suka atau telah terbiasa memotret dengan layar LCD ala kamera mirrorless, kini boleh senang karena autofokusnya sudah sangat cepat berkat prosesor DIGIC X dan sensor 20MP yang baru. Teknologi Dual Pixel AF ini sudah mendukung Face, Eye dan Head detection, artinya kamera bisa mengenali mata saat subjek cukup dekat, dan wajah jika subjek agak jauh dan kepala saat subjek menghadap ke samping atau ke belakang.

AF-ON Smart Controller

Untuk memudahkan dan mempercepat pemindahan area fokus yang jumlah titik/areanya tambah banyak, ada inovasi kecil yang sangat membantu, yaitu tombol AF-ON kini diperbesar dan dilengkapi dengan sensor sentuh. Kita bisa mengusap permukaan tombol AF-ON ini untuk memindahkan titik fokus.

Pembahasan tentang sensor 20MP

Seperti kamera 1D pada umumnya, 1DX mark III fokus di kecepatan dan kualitas gambar di kondisi gelap, oleh sebab itu dari segi resolusi tidak terlalu tinggi, yaitu 20MP. Tapi sensor gambar ini tidak sama dengan 1DX mark II. Kualitas dynamic rangenya lebih bagus di ISO rendah, dan noisenya sedikit lebih bersih di ISO tingig.

Sensor baru ini juga memiliki teknologi Dual Pixel AF dan punya low pass filter unik yang menurut Canon lebih tajam dan warnanya lebih baik daripada generasi sebelumnya.

Sensor 20MP ini juga dirancang untuk kebutuhan video berkualitas. Berbeda dengan 1D sebelumnya yang lebih fokus ke foto, 1DX mark III punya fitur video yang mumpuni juga. 1DX ini bisa merekam video RAW 5.5K, yang filenya bisa dibuka dan di edit di software Canon Digital Professional Photography (DPP). Selain itu tentunya bisa merekam 4K 60p, dan Full HD 120p.

Ada sedikit keterbatasan soal kualitas video, yaitu saat merekam 4K dual pixel AF tidak berfungsi dan Digital IS tidak bisa diaktifkan. Sebagai info, Canon EOS 1DX mark III tidak punya stabilizer di dalam body kameranya.

Built Quality

Seperti kamera Canon 1D lainnya, weathersealing merupakan fitur utama dan andalan. Setiap ada celah ada segelnya mencegah air dan partikel debu untuk masuk ke dalam kamera. 1D mengunakan bahan logam magnesium alloy yang relatif ringan dan kuat.

Yang berbeda dengan kamera DSLR yang lebih murah yaitu struktur logam untuk mirror boxnya dari logam sehingga lebih tahan benturan dan siap untuk foto di kondisi yang buruk.

Flash Photography

Seperti kamera lainnya, 1DX mark III memiliki flash dengan max. sync speed 1/250 dan High sync speed (HSS) dengan flash yang compatible. Karena kamera ini sudah bisa mendeteksi wajah, mata dan kepala, maka flash bisa memprioritaskan ke bagian tersebut sehingga lebih akurat.

Yang menarik juga ada tiga pilihan pengukuran flash E-TTL yaitu: Ambient Priority (fokus ke pencahayaan latar belakang), Standard (seimbang antara subjek dan latar belakang), dan Flash Priority (fokus flash di subjek saja, latar belakang dibiarkan gelap atau terang).

Pengalaman

Mengunakan kamera DSLR 1DX Mark III kamera ini adalah kamera yang serius, kamera yang bisa digunakan untuk kondisi yang sulit. Kamera yang siap untuk motret di kondisi perang. 1DX mark III bukan kamera yang kecil dan ringan, kameranya saja 1.44kg (dengan baterai dan kartu) belum dengan lensanya.

Suara jepret cukup keras baik dengan shutter maupun tidak.

Kesimpulan

Kamera Canon 1DX Mark III dengan harga 100jutaan ini adalah kulminasi dari semua know how Canon dalam membuat kamera profesional. Secara spesifikasi, mungkin tidak terlihat peningkatan yang berarti, tapi saat ditelaah lebih jauh dan digunakan, fotografer pro terutama yang bekerja di bidang jurnalistik akan merasakan peningkatan yang signifikan dalam berbagai aspek kamera. Dari sistem autofokusnya, kinerja dan juga kualitas dari foto dan videonya.

{ 0 comments }

Sepertinya Anda semua telah mengetahui tentang virus Covid-19, virus yang menyebar hampir ke-200 negara tanpa diskriminasi, bahkan negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Italia, Perancis juga terdampak, tidak terkecuali negara tercinta kita Indonesia.

Seperti yang saya bahas di artikel sebelumnya, virus ini sangat berbahaya karena penularannya yang sangat cepat bahkan oleh orang-orang yang tidak mengalami gejala, dan justru karena tidak mematikan, maka virus dengan mudah menyebar sebelum orang tersebut merasakan gejala atau sakit parah. Karena mobilitas orang-orang sangat tinggi, penyebaran virus ini sangat luas dibandingkan dengan virus flu pendahulunya (SARS CoV, MERS, H1N1 dll).

Dampak wabah yang langsung berkaitan dengan industri fotografi antara lain dibatalkannya banyak acara dan pameran fotografi internasional, diantaranya CP+ di Jepang, Photokina di Jerman, dan NAB di Amerika Serikat.

Dampak ekonomi bagi fotografer

Setiap wabah atau bencana pasti berlalu, tapi kali ini dampaknya akan panjang. Katakanlah jika wabah ini mereda akhir Mei, tapi mungkin bulan Juli 2020 baru kegiatan ekonomi masyarakat baru akan mulai normal kembali, tapi ekonomi sudah terlanjur ambruk. Perusahaan baik besar dan kecil akan mulai memecat pegawai, atau yang masih bertahan mengurangi gaji karyawannya.

Bagi yang bekerja di industri kreatif seperti fotografer profesional, baik sebagai pegawai atau sebagai pengusaha akan kehilangan pekerjaannya karena dalam situasi pembatasan sosial seperti ini. Acara-acara sosial yang perlu jasa dokumentasi akan jauh berkurang. Pekerjaan fotografi komersial juga akan berkurang karena budget perusahaan berkurang dan anggaran yang dianggap tidak penting akan dipangkas.

Industri fotografi produsen gear seperti kamera, lensa, aksesoris juga akan terdampak. Produksi kamera dan pengembangan gear tahun ini akan melambat karena gangguan supply chain untuk mendapatkan komponen-komponennya. Kamera dan lensa baru yang diumumkan awal tahun akan tertunda. Setelah stok lama yang di diskon habis, harga kamera dan lensa baru akan makin mahal karena nilai tukar Rupiah yang melemah dibanding USD plus biaya produksi dan distribusi kamera akan meningkat. Harapan saya, tidak ada perusahaan kamera yang gulung tikar di kondisi yang sulit ini.

Setelah wabah mereda, kebijakan seperti social distancing akan terus dilakukan. Mungkin sedikit lebih longgar, social distancing terus akan berlangsung selama belum ada obat atau vaksin yang bisa menghentikan virus ini. Perjalanan antar kota atau luar negeri juga akan dibatasi atau menjadi kurang nyaman. Maka itu, kegiatan traveling akan jauh berkurang dan menyebabkan penurunan kebutuhan untuk membeli gear baru. Hal ini berdampak besar untuk produsen kamera dan juga toko-toko kamera karena sebagian besar orang membeli kamera sebelum liburan untuk mendokumentasikan perjalanan mereka.

Wabah ini sangat membatasi pengembangan ekonomi, tahun ini menurut Menkeu, kemungkinan terburuk ekonomi akan mengalami kontraksi -0.4%. di 2020 dan mungkin di akhir 2021 baru akan mulai membaik menyerupai sebelum wabah.

Bagaimana melewati masa #dirumahaja ?

Sepertinya sebagai penggemar fotografi atau profesional, tentunya kita harus menyikapinya waktu luang yang tiba-tiba banyak karena pekerjaan kita berkurang dan tidak bisa memotret dengan leluasa di luar ruangan seperti biasanya. Tentunya pada masa-masa ini kita sebaiknya tidak mengganggap seperti liburan, tapi lebih baik dilakukan untuk mempersiapkan sesuatu apabila wabah berlanjut dan ekonomi tidak membaik.

Salah satu cara memanfaatkan waktu yang berlebih yaitu untuk belajar dan bereksperimen hal-hal baru, baik teknik fotografi di dalam ruangan maupun editing. Belajar videografi juga sesuatu yang menarik karena kamera digital masa kini sebagian besar bisa merekam video. Mungkin mencoba memulai merekam dan mengedit video bisa menjadi pilihan untuk mengisi waktu.

Selain itu, memeriksa gear yang kita punya, mungkin ada yang kotor yang perlu dibersihkan. Mungkin ada yang tidak pernah dipakai lagi bisa kita jual atau berikan kepada yang membutuhkan.

Di sisi baiknya, waktu yang kita punya jadi lebih banyak. Sebelum wabah waktu kita banyak habis di jalan, selalu bepergian di jalan. Waktu ekstra yang berlebih ini mungkin bisa dimanfaatkan untuk lebih banyak belajar, berpikir dan menghabiskan waktu berkualitas dengan keluarga.


Selama wabah Covid-19 sebaiknya belanja #dirumahaja via toko online seperti Tokopedia, Bukalapak atau Shopee

Jika tertarik belajar fotografi, silahkan kunjungi artikel kami yang lain atau saksikan video di youtube Infofotografi

{ 4 comments }

Review kamera ponsel Samsung Galaxy A51

Kamera ponsel Samsung A51 termasuk kategori ponsel mid-range dengan harga yang cukup terjangkau yaitu sekitar Rp 4 juta. Seperti kamera ponsel kelas menengah kekinian, ponsel ini memiliki multi kamera. Kamera utamanya adalah kamera bersensor 48MP dengan ukuran 1/2 inci dan lensa lebar ekuivalen 26mm f/2.

Kamera lainnya yaitu kamera dengan sensor 12MP dengan ukuran 1/2.2 inci dan lensa lebar ekuivalen 12mm, kamera bersensor 5MP untuk foto makro, dan kamera pendeteksi ruang tajam (depth camera).

Meskipun maksimum resolusi kamera ini adalah 48MP, tapi mode normalnya menghasilkan output 12MP, yang menurut saya sudah sangat cukup untuk berbagai kebutuhan, baik untuk media sosial atau untuk cetak foto ukuran kecil.

Jika ingin mengaktifkan resolusi maksimal 48MP, kita harus ke mode Foto, pilih ukurannya 3:4H. Saran saya, 48MP cocok untuk digunakan saat cahaya cukup banyak, jika cahaya kurang baik, maka lebih baik yang 12MP saja karena kualitasnya kurang lebih sama dan ukuran file lebih efisien.

Foto dengan resolusi tinggi (3:4 H) 8000×6000 = 48MP
Crop dari foto diatas
[continue reading…]
{ 2 comments }

Meneruskan artikel saya sebelumnya tentang pandemi Covid-19, kali ini saya menulis tentang pandemi Coronavirus ini karena saya merasa ini adalah situasi yang luar biasa saat ini. Generasi saya beruntung lahir di zaman dunia relatif damai, dan pandemi ini adalah situasi yang mendekati situasi perang, cuma bedanya musuh kita tidak terlihat tapi sangat berbahaya.

Saat saya menulis, Indonesia sedang berada di dalam persimpangan. Di depan ada dua jalan dan pemerintah baik pusat, daerah dan rakyat punya pendapat yang berbeda-beda. Ada yang mendukung lockdown, ada yang tidak.

Apa bedanya lockdown dengan karantina?

Sebelumnya, kita harus tau dulu apa bedanya karantina atau lockdown? Pada dasarnya lockdown adalah suatu sistem aturan yang membatasi orang untuk meninggalkan dan masuk ke sebuah wilayah. Lockdown juga membatasi aktivitas orang di ruang publik tujuannya adalah untuk mengurangi penularan penyakit. Kata “karantina” sebenarnya sama saja dengan lockdown, cuma memang konotasi kata lockdown lebih negatif dan menyeramkan.

Lockdown ada tingkatannya: Lockdown parsial/wilayah hanya berlaku di sebuah wilayah yang kecil dan penduduk masih boleh keluar rumah asal tidak berkerumun. Lockdown total/penuh, berlaku di seantero negara dengan aturan tinggal di rumah yang sangat kekat, misalnya penduduk hanya boleh keluar rumah untuk hal-hal yang sangat penting saja.

Jika terjadi lockdown, pemerintah pusat atau lokal wajib untuk bertanggung jawab akan kesejahteraan sosial warganya, karena ekonomi daerah yang di lockdown akan berdampak. Banyak orang tidak bisa bekerja untuk mendapatkan penghasilan.

[continue reading…]
{ 3 comments }

Kursus Dasar Fotografi – Kelas Online

Di jaman teknologi informasi saat ini, belajar secara online menjadi hal yang umum dilakukan masyarakat modern. Ditambah dengan pembatasan aktivitas di luar rumah terkait pandemi Corona, istilah belajar online kini menjadi makin populer di kalangan sekolah, kampus dan juga kursus. Kami di infofotografi yang sudah 10 tahun mengadakan kursus fotografi, untuk sementara waktu menghentikan kegiatan kursus tatap muka di kelas dan menggantinya dengan sistem online berbasiskan grup WA.

Kami yakin keputusan ini justru menjadi kabar baik untuk anda, khususnya yang sudah lama hendak belajar fotografi namun belum ada kesempatan ke Jakarta. Materi yang didapat pada dasarnya sama dengan yang biasa diberikan di kelas, dan kursus ini akan diasuh langsung oleh saya (Erwin M.) selaku pengajar tetap di infofotografi.

Kursus online ini akan diadakan setiap bulan, dan peserta yang sudah terdaftar di grup WA akan mendapat 4 sesi online (2 jam per sesi) yang akan diadakan setiap hari sabtu sore (15.30 WIB), yaitu :

  • sesi 1 : Konsep eksposur, metering, histogram, penugasan 1
  • sesi 2 : Jenis lensa, fokal dan perspektif lensa, penugasan 2
  • sesi 3 : Teknik memotret (AF, MF, slow speed), penugasan 3
  • sesi 4 : Digital imaging (RAW, JPG, WB, picture style dsb)

dan untuk setiap sesi terdapat materi yang diberikan dalam bentuk video, contoh foto, tanya jawab, tugas dan feedback atas tugas yang dibuat.

Supaya kegiatan belajar lebih maksimal dan ada pendekatan personal yang lebih akrab antara guru dan murid, maka kelas ini kami batasi maksimum 10 orang saja.

Biaya untuk mengikuti kursus online ini adalah Rp. 400.000 untuk 4 sesi. Biaya kursus dapat ditransfer ke rekening Enche Tjin di Bank BCA: 4081218557 atau Bank Mandiri: 1680000667780

Untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi 0858-1318-3069, kursus online angkatan pertama ini akan dimulai pada 11 April 2020.

{ 0 comments }

Review lensa Lumix S-Pro 16-35mm f/4

Meski Panasonic sudah lama membuat kamera dan lensa dengan sistem Micro 4/3, tetapi pasca lahirnya kamera Lumix full frame dengan L-mount membuat mereka mau tidak mau harus membuat lensa baru, dengan mount baru ini. Apalagi di sistem full frame, yang bisa dianggap sebagai sistem lebih pro, sudah penuh dengan pemain lain yang sudah punya banyak lensa. Lensa lebar dengan range fokal 16-35mm memang sudah banyak ditemui, tapi kali ini lensa Lumix S-Pro 16-35mm menjadi menarik untuk dibahas karena inilah lensa lebar pertama dari Panasonic yang dibuat khusus untuk kamera dengan sensor full frame, seperti Lumix S1 (meski bisa juga dipasang di kamera dengan L-mount lain seperti Leica SL atau Sigma Fp).

Lensa Lumix S-Pro 16-35mm f/4

Lensa Lumix S-Pro 16-35mm f/4 ini menjadi lensa penting bagi Panasonic, karena kebutuhan lensa lebar pasti tidak tergantikan bagi fotografer profesional, misal untuk landscape atau interior. Dengan rentang zoom dari 16mm hingga 35mm, lensa berbobot 500 gram ini punya diameter filter 77mm, memakai 9 bilah diafragma, motor fokus dengan magnet ganda, dan desain fisik yang weathersealed. Di dalam lensa seharga $1500 ini terdapat 12 elemen, yang siap mengatasi sensor modern resolusi ekstra tinggi (artinya lensa ini sangat tajam dan punya kualitas optik yang tinggi), salah satunya berkat 3 elemen aspherikal, satu elemen UD dan satu lagi elemen unik UHR.

internal elemen dari Lensa Lumix 16-35mm ini

Bicara soal fokus, ada hal menarik dari lensa ini dalam urusan fokus. Lensa Lumix 16-35mm ini memiliki ring untuk manual fokus, tapi untuk menggunakannya, kita harus menggeser ring ini ke arah dalam, dan terlihatlah angka-angka jarak fokus di lensa. Artinya berpindah AF ke MF itu sangat mudah, tinggal geser saja focus clutch ini. Hal ini juga berarti, lensa untuk kamera mirrorless ini menggunakan manual fokus mekanik, bukan elektronik focus-by-wire seperti lensa mirrorless pada umumnya. Fokus minimum lensa ini sendiri adalah 25cm dari sensor, bila panjang lensa adalah 10cm, maka artinya lensa ini bisa memfokus benda sedekat 15cm dari depan lensa. Masih soal fokus, lensa Lumix 16-35mm ini juga dirancang bebas focus breathing, sebuah issue berubahnya fokal lensa akibat memindah jarak fokus, sesuatu yang agak mengganggu saat rekam video.

ISO 100, f/13,10 detik,16mm
[continue reading…]
{ 4 comments }

Sejak Presiden RI Jokowi mengumumkan ada dua pasien yang terinfeksi Coronavirus (Covid-19) tanggal 2 Maret 2020, mulai ada kesadaran bahwa ternyata warga Indonesia bisa terkena virus ini juga. Sebelumnya, banyak teori yang mengatakan warga Indonesia tidak akan kena karena hidup di daerah tropis, banyak minum jamu, jahe, atau berkulit sawo matang. Kesemuanya akhirnya tidak terbukti dan sampai tanggal 28 Maret 2020 ini, secara resmi sudah teridentifikasi lebih dari 1155 warga Indonesia yang terinfeksi, dan 102 orang sudah meninggal dunia karena Covid-19 ini.

Sebenarnya kalau mau jujur, pasien yang terinfeksi dan meninggal dunia jauh lebih banyak, karena volume tes di Indonesia masih sangat sedikit dan hanya diprioritaskan ke kalangan tertentu, juga tidak sedikit yang meninggal duluan sebelum di tes.

Yang membuat saya tertarik untuk menulis tentang ini adalah banyaknya hoax atau kabar simpang siur yang beredar, misalnya ada yang bilang kalau berpikiran positif dan punya imun tubuh yang kuat bisa tidak terkena infeksi virus ini, atau jika tidak sakit tidak perlu memakai masker, dan sebagainya.

[continue reading…]
{ 7 comments }

Di era kamera digital yang nyaris semuanya menghasilkan foto berwarna, mungkin Anda bertanya-tanya, untuk apa membeli kamera yang hanya bisa menghasilkan foto hitam putih (Black & White) seperti Leica M10 Monochrom?

Pertama adalah dengan resolusi yang sama, Leica M10 Monochrom menghasilkan detail yang lebih baik. Kedua, noise lebih sedikit saat mengunakan ISO tinggi. Karena itulah kualitas gambar dari kamera Monochrom akan lebih baik daripada hasil foto warna yang di edit menjadi hitam putih.

Leica M10M adalah generasi ke-3 dari kamera rangefinder Leica. Di generasi ke-3 agak berbeda dengan kamera Leica M Monochrom generasi sebelumnya. Di generasi sebelumnya, Leica hanya memodifikasi sensor gambarnya dengan menghilangkan lapisan filter warna. Tapi yang Leica M10M ini berbeda, sensor gambar 40MP full frame ini dikembangkan khusus untuk kamera hitam putih ini saja, sehingga menghasilkan hasil yang lebih optimal.

Dibanding kamera Monochrom (Typ 246) sebelumnya, bukan hanya meningkat dari sisi sensor gambar, tapi juga ada peningkatan lainnya seperti body kamera yang lebih tipis seperti kamera film Leica M7, suara shutter yang lebih senyap, layar sentuh, wifi (Leica FOTOS App), dan jendela bidik yang lebih baik.

Kiri: Leica M246, Kanan: Leica M10 Monochrom

Desain

Leica M10 Monochrom memiliki desain berbasis Leica M10-P yang ramping dan simple. Bahan kameranya terbuat dari logam dan finishingnya Matt Black (bukan Chrom yang lebih berkilau), dan hampir tidak ada tulisan/ukiran sama sekali. Di bagian atas ada tulisan Monochrom yang tersamar, dan di pinggir hotshoe ada tulisan Leica M10 dan Serial Number (SN) kamera ini.

Tidak ada logo Red Dot khas Leica, dan tidak ada warna sama sekali di body kamera. Huruf A (auto) yang biasanya merah menjadi abu-abu. Kesemua ini membuat kamera ini terlihat sederhana dan tidak menonjol.

[continue reading…]
{ 1 comment }

Review kamera Lumix LX100 II

Di jajaran kamera Panasonic Lumix terbagi dalam dua kelompok utama yaitu sistem kamera Interchangeable lenses dan kamera dengan lensa terpadu (tidak bisa diganti). Kali ini saya akan membuat sebuah review dari kamera Lumix dengan lensa terpadu, berbentuk seperti kamera saku (meski tidak kecil) namun memiliki fitur dan spesifikasi yang tinggi. Inilah review saya tentang kamera Panasonic Lumix LX100 II.

Sesuai namanya, kamera Lumix LX100 II ini adalah penerus dari seri LX100 sebelumnya dengan peningkatan utama di resolusi sensor, kini mencapai total resolusi 21 MP. Baik LX100 lama maupun yang mark II ini tetap menggunakan sensor berukuran relatif besar untuk ukuran kamera saku, yaitu Micro Four Thirds. Kamera LX100 juga dibekali dengan lensa zoom Leica 24-75mm f/1.7-2.8 yang tergolong punya bukaan besar.

Dilihat secara fisik, kamera Lumix LX100 II termasuk berukuran sedang dengan panjang 110mm, tinggi 66mm dan tebal 64mm dan bobot tidak sampai 400 gram. Pada kamera ini sudah terdapat jendela bidik elektronik kerapatan 2,7 juta dot dan memiliki layar yang berukuran 3 inci dengan kerapatan 1,24 juta dot yang tajam. Desain kamera LX100 II tergolong unik, dengan perpaduan desain klasik dan modern dan punya beberapa hal yang menarik dan penting seperti :

  • roda shutter speed di bagian atas, seperti kamera film masa lalu
  • pengaturan apertur di lensa, meski ini adalah elektronik tetapi memberi kesan klasik seperti lensa jaman dulu
  • ada ring di lensa yang bisa diubah untuk berbagai fungsi, misal manual fokus, atau melakukan zoom
  • ada tuas multi aspek rasio yang bisa dipilih dari 4:3, 1:1, 16:9 dan 3:2
  • ada tuas fisik untuk berganti mode fokus dari AF, AF makro dan MF
  • tetap memiliki flash hot shoe (built-in flash disediakan terpisah)
  • ada roda pengaturan multi fungsi di bagian belakang
  • ada roda kompensasi eksposur dari +3 hingga -3

Saat saya mencoba kamera ini, meski tergolong kamera pocket, namun tidak terasa kecil dan bahkan tidak mudah untuk dimasukkan ke saku jaket. Apalagi bagian depan yang berisi lensa bentuknya menonjol meskipun kamera dalam keadaan mati. Apalagi setelah kamera dinyalakan, bagian lensanya akan memanjang. Desain ergonomi Lumix LX100 II termasuk cukup enak digenggam karena adanya sedikit grip, khususnya yang saya suka adalah pengaturan aperture di lensa, demikian juga dengan pilihan multi aspek rasio yang mudah dengan hanya menggeser tuas di dekat lensa.

Kinerja responsif membuat kamera ini bisa juga untuk foto aksi

Kinerja kamera termasuk responsif, shot-to-shot cepat, auto fokus cepat dan juga ada opsi memotret kontinu yang juga cepat, 11 fps (bahkan bila perlu ada 4K photo yang bisa mengambil 30 fps foto 8 megapiksel). Satu yang agak lama menurut saya adalah proses zoom lensanya, jadi untuk berpindah dari 24mm ke 75mm perlu waktu 1-2 detik, wajar karena elemen lensa Leica yang harus di zoom di kamera ini adalah lensa bukaan besar.

[continue reading…]
{ 2 comments }

Dampak Virus Corona terhadap fotografi

Saat ini kita tengah diresahkan oleh sebuah pandemi yang global, yaitu menyebarnya virus Covid 19 atau yang lebih dikenal dengan Corona. Saat tulisan ini dibuat, penyebaran virus ini sudah meluas sampai ke Eropa, Amerika dan juga di tanah air. Dampak langsung dan tidak langsung dirasakan banyak pihak, khususnya setelah beberapa negara mengumumkan lockdown, isolasi dan membatasi aktivitas hingga pandemi virus ini berlalu.

Dalam kaitannya dengan fotografi, Corona sudah memberi dampak pada proses produksi kamera global, karena banyak spare part yang dibuat di Asia khususnya China. Ini akan mengganggu rantai pasok (supply chain) komponen kamera yang bisa menyebabkan keterlambatan produksi, hingga terlambat sampai ke konsumen. Bahkan bisa jadi produsen kamera akan menunda pengumuman produk baru yang semestinya dirilis tahun ini.

Aktivitas yang mengumpulkan banyak orang juga berpotensi menyebarkan virus Corona, maka banyak acara yang mengumpulkan banyak orang harus dibatalkan, misalnya sepakbola (liga Inggris, Italia dsb), pameran hingga kegiatan ibadah. Di bidang pameran, setidaknya sudah ada pengumuman untuk menunda (atau membatalkan) acara besar fotografi seperti Camera & Photo Imaging Show 2020 yang semestinya diadakan di Yokohama 27 Februari lalu. Di Vegas nanti NAB juga ditunda, dan belum jelas nanti Photokina di Jerman. Di dalam negeri, acara pameran yang sudah dijadwalkan oleh salah satu toko besar juga terpaksa dibatalkan.

[continue reading…]
{ 1 comment }