≡ Menu

Kursus kilat dasar fotografi & lighting - 8 & 9 Agustus 2015
Daftar/Info: hub: 0858 1318 3069

Definisi Street Photography

Banyak definisi untuk street photography, dan lingkupnya sering diperdebatkan dan dipusingkan dengan jenis fotografi lain seperti human interest, dokumentasi, bahkan sampai landscape, travel dan portrait. Street photography adalah salah satu jenis fotografi yang cukup digemari, meskipun lebih sedikit daripada penggemar fotografi landscape (pemandangan) dan fotografi portrait (foto manusia). Keuntungan street photography adalah Anda bisa mempraktikkannya di jalan-jalan di kota Anda, tidak perlu pergi jauh-jauh. Ongkosnya jadi bisa sangat murah.

Street photographer - oleh Stuart Beesley

Street photographer – oleh Stuart Beesley

Saya sendiri setuju dengan fotografer street photographer kelahiran Jerman tapi tinggal di Vancouver, Kanada, bernama Fred Herzog, yaitu “To show the realism of the street (menunjukkan realitas di jalanan)” Pernyataan ini sederhana sekali, tapi sangat bagus dalam mendeskripsikan street photography.

Pernyataan itu menjelaskan beberapa hal:

Lokasi : street/jalanan – bisa dikembangkan ke ruang publik (termasuk di dalam rumah makan, toko, transportasi massal seperti kereta api) dan sebagainya.

Subjek foto : Biasanya isinya adalah manusia di ruang publik yang sedang beraktivitas, tapi bisa juga tanpa manusia misalnya detail arsitektur.

Sifat : Street photography menunjukkan realistas apa adanya tanpa diatur dan di pose secara khusus.

Street photography sering “overlap” dan dibingungkan dengan jenis fotografi lainnya seperti portrait, human interest, dan liputan.

Beda street photography dengan portrait : Portrait photography berusaha untuk mengeluarkan karakter/sifat subjek foto, biasanya dipose atau dipengaruhi oleh fotografer dan backgroundnya diatur sedemikian rupa.

Beda street photography dengan human interest : Human interest photography bertujuan untuk menimbulkan empati dari yang melihat foto, misalnya merasa kasihan, merasa ingin membantu, atau ikut senang, sedangkan tujuan street hanya untuk menangkap momen spontan.

Beda street photography dengan dokumentasi liputan : Tujuan dokumentasi / fotojurnalis adalah memotret hal-hal yang mengandung unsur berita/feature dan biasanya ditayangkan di media cetak/elektronik. Subjek dokumentasi biasanya sudah ditentukan. Fotografer biasanya sudah memiliki daftar apa saja yang akan difoto. Foto dokumentasi tidak se-spontan street photography.

Ada satu perdebatan antara fotografer tentang apakah street photography harus diambil secara candid/diam-diam tanpa sepengetahuan subjek fotonya? Menurut saya, iya, candid menghasilkan foto yang paling “real“. Jika subjek tau akan difoto, biasanya ekspresi orang tersebut akan berubah dan menjadi tidak otentik / alami lagi.

Fotografer street photographer terkenal untuk menjadi referensi
Henri Cartier-Bresson asal Perancis [Gallery]
Alex Webb asal USA [Gallery]
Fred Herzog asal Jerman, tinggal di Vancouver [Gallery]
Fan Ho asal Hongkong [Gallery]
Tavepong Pratoomwong asal Thailand [Gallery – flickr]
dan masih banyak lagi

{ 5 comments }

Saat menulis artikel ini, saya berada di Singapore dalam rangka menghadiri konferensi media dan dealer Sony yang membahas tentang kamera mirrorless pro Sony A7R mk II.  Kamera ini memberikan banyak kesan positif ke saya dan teman-teman fotografer/media yang hadir. Berikut lima hal yang membuat saya terkesan.

sony a7r mk II

  1. Resolusi foto 42.4 MP yang kualitasnya sangat tajam dan bagus karena tidak ada low pass filter
    Tidak ada kompromi atas noise. ISO tinggi tetap bagus, rentang ISO yang direkomendasikan 100-25600, bisa di expand ke 50-104000. Hal ini bisa terjadi karena arsitektur sensor EXMOR R, back side illuminated yang efisiensinya lebih tinggi daripada sensor gambar konvensional/biasa.
  2. Arsitektur EXMOR R memungkinkan transmisi data 3.5x lebih cepat, A7r mk II bisa merekam video 4K langsung ke memory card high-speed. (Kamera Sony A7s harus melalui aksesoris Atomos Shogun).
  3. Mekanisme shutter ditingkatkan, kini lebih senyap dan lebih empuk, gambar jadi tetap tajam karena getaran shutter berkurang 50%. Selain itu, durabilitas shutter menjadi 500.000 jepret. Plus, ada pilihan silent shutter (sama sekali tidak bersuara seperti memotret dengan ponsel).
  4. Sistem autofocus baru 399 titik deteksi fasa, 25 area deteksi contrast. Kombinasi ini disebut hybrid autofocus. Kerennya, sistem autofokus ini bekerja juga dengan lensa AF non-Sony dengan adapter tentunya. Setelah mencoba di sesi uji coba, saya mendapatkan sistem ini sangat baik untuk memotret subjek bergerak.
  5. Mekanisme stabilization 5 axis juga ditanamkan ke kamera ini. Bedanya, algoritmanya sudah disesuaikan dengan sensor 42.4 MP, sehingga efektif sekitar 2-4.5 stop tergantung lensa yang digunakan.
Fotografer pro Benny Lim sedang mencoba A7R mk 2 dengan lensa Canon 50mm f/1.2L. Autofokusnya terasa cepat daripada di body Canon, komentarnya sesaat setelah menguji .

Fotografer wedding dan portrait, Benny Lim sedang mencoba A7R mk 2 dengan lensa Canon 50mm f/1.2L dan adaptor mrk Procore  “Autofokusnya terasa lebih cepat daripada di kamera Canon”, komentarnya sesaat setelah menguji .

Fotografer fashion terkenal Nicoline Patricia Malina berpose dengan sony A7R mk II dan lensa Sony Zeiss 35mm f/2.8. Ukuran yang ringkas tapi kualitasnya sangat bagus menjadi daya tarik utama sistem mirrorless full frame Sony ini.

Fotografer fashion terkenal Nicoline Patricia Malina berpose dengan sony A7R mk II dan lensa Sony Zeiss 35mm f/2.8. Ukuran yang ringkas tapi kualitasnya sangat bagus menjadi daya tarik utama sistem mirrorless full frame Sony ini.

——–
Kamera ini akan tersedia akhir Agustus, bagi yang ingin memesan, bisa lewat toko langganan atau juga bisa melalui Infofotografi. Dengan memesan via Infofotografi dengan telp 0858 1318 3069 atau infofotografi@gmail.com maka secara langsung dapat membantu pengembangan Infofotografi. Terima kasih.

{ 14 comments }

Review kamera Canon 760D

Canon 760D merupakan kamera DSLR pemula yang tercanggih fiturnya di tahun 2015 ini. Kamera ini termasuk kelas pemula karena memiliki angka tiga digit. Secara sekilas, 760D memang terlihat seperti kamera DSLR pemula, yang ditandai dengan ukurannya yang ringkas, dan bahan kamera sebagian besar dari plastik (bukan logam magnesium alloy). Setelah diteliti lebih jauh, 760D memiliki beberapa sifat seperti kamera kelas menengah dua digit seperti 70D. Harga kamera ini sekitar 8-8.2 juta body only, dan 12.2 juta dengan lensa zoom 18-135mm IS STM.

canon-760d-depan

Kemiripan kamera ini dengan kamera semi pro bisa dilihat dari layar LCD yang berada dibagian atas kamera untuk melihat setting exposure dan beberapa setting lainnya. Selain itu, 760D memiliki roda kendali di bagian belakang kamera, sebuah ciri yang biasanya hanya dimiliki kamera kelas menengah/semi pro.

canon-760d-backRoda kendali ini agak kecil bagi saya. Kadang sulit dijangkau dengan jempol. Dengan kehadiran roda kendali ini, pengguna dapat mengubah bukaan lensa atau kompensasi eksposur tergantung mode kamera apa yang aktif.

canon-760d-top

Layar LCD kecil diatas kamera ini yang membedakan antara kamera Canon 760D ini dengan kamera DSLR pemula lainnya.

Spesifikasi hardware kamera ini juga cukup canggih. Katakanlah 24 MP APS-C sensor yang merupakan sensor kamera dengan resolusi tertinggi dan terbaik saat ini, bahkan mengalahkan Canon EOS 70D, 60D dan 7D.

Sistem autofokus dari 760D merupakan warisan dari kamera profesional 7D yang sudah teruji dari kecepatan dan akurasi foto untuk subjek diam dan bergerak. 19 titik fokus yang tersedia semuanya bersifat cross-type yang sensitif. Dengan adanya sistem autofokus ini, tombol di bagian atas bertambah satu, yaitu tombol pengganti autofokus, tombol ISO, dan tombol lampu.

Kiri: f/8, 1/250 detik, ISO 100 Kanan: f/11, 1/60 detik, ISO 100.

Kiri: f/8, 1/250 detik, ISO 100 Kanan: f/11, 1/60 detik, ISO 100. Gradasi warna dalam foto yang dihasilkan kamera ini mulus dan enak dipandang.

Kualitas gambar yang dihasilkan sensor 24MP dan prosesor DIGIC 6 ini cukup baik meng-handle ISO tinggi. Di ISO 100-400, kualitas sangat baik. ISO 800-3200 kualitas sedang, dan 6400 dan 12800 kualitas kurang begitu baik karena detail dan ketajaman berkurang. Saat memotret file RAW, color noise terlihat cukup banyak, tapi saat memotret JPG, dan setting noise reduction standard, color noise bisa ditekan.

[click to continue…]

{ 10 comments }

Tips : Tidak bawa lensa telefoto? Ini triknya

Kadang-kadang muncul ide untuk memotret objek yang jauh, tapi zoom kamera kita kurang jauh dan lensa telefotonya lupa bawa atau belum punya. Tidak apa-apa, saran saya tetap saja dipotret dengan lensa seadanya. Seperti kasus dibawah ini, saya ingin memotret orang yang sedang berjalan diatas jembatan penyeberangan, tapi posisinya jauh sekali, dan lensa yang saya bawa zoomnya cuma sampai 55mm (ekuivalen 88mm di kamera FF). Idealnya, saya mestinya mengunakan lensa zoom kurang lebih 200mm.

concrete-jungle-jakartaSetelah gambar di masukkan ke komputer, kita bisa krop bagian yang kita inginkan. Teknik ini sebenarnya sama dengan digital zoom. Kelemahannya resolusi foto berkurang (megapixelnya), sehingga kalau mau cetak besar akan pecah dan tidak detail. Untungnya kamera digital sekarang resolusinya cukup banyak (bahkan sudah ada yang mencapai 50 MP) Jadi meskipun di krop masih terlihat cukup detail. Saya mengunakan kamera dengan resolusi 24 MP, sehingga saat di krop seperti foto diatas, gambar masih menyisakan dimensi sekitar 2 MP, masih cukup bagus untuk cetak foto ukuran panjang x lebar sekitar 25 x 20 cm.

Foto aslinya bisa dilihat dibawah ini:

IMG_0183-2

Data teknis : ISO 100, 1/250 detik, f/5.6, 55mm

Trik ini memang menarik digunakan, tapi kalau membawa lensa tele, tentunya lebih baik mengunakan lensa tele langsung supaya detail foto tetap tinggi dan jika ingin cetak besar masih bagus meskipun dilihat dari dekat.

—-

Belajar fotografi dan workshop yuk. Jadwalnya bisa dibaca di halaman ini.

{ 7 comments }

Belajar foto still life

Hobi fotografi tidak melulu perlu traveling atau ke event tertentu. Didalam rumah atau sekitar rumah juga bisa. Jenis fotografi yang bisa dipraktikkan adalah still life. Jenis fotografi ini tidak terikat dengan tempat dan waktu seperti jenis fotografi lainnya seperti landscape dan portrait.

Fotografi still life adalah fotografi yang objeknya benda mati, tidak bergerak. Di jenis fotografi ini, fotografer dapat mengatur posisi objek atau sekelompok objek, latar belakangnya dan mengatur pencahayaannya dengan bebas.

enche-tjin-still-life-camera-nikon

Beberapa tips saya untuk memulai still life photography

1. Objek yang menarik

Cari objek yang Anda sukai, biasanya benda-benda yang Anda koleksi, hewan peliharaan, makanan/minuman, mainan, tas, sepatu, baju, perhiasan, bunga? Setiap orang berbeda-beda kesukaannya, contohnya istri saya sukanya mainan Lego. Dengan memilih objek yang menarik bagi kita, biasanya kita lebih semangat memotret dan mencari angle yang menarik.

2. Komposisi dan props

Setelah tentukan setting seperti backgroundnya, props (benda untuk melengkapi). Contoh: taplak meja, majalah/koran, alat tulis, sendok garpu. Jenis properti/props tergantung apa yang difoto. Hindari terlalu banyak mengandalkan props dan menata props dalam jumlah banyak karena objek utamanya malah jadi tidak menonjol.

3. Pencahayaan

Kualitas cahaya yang terbaik yaitu dari cahaya matahari. Objek bisa diletakkan diluar ruangan, atau juga bisa di dekat jendela. Selain cahaya matahari, flash juga bisa digunakan. Karena cahaya flash dirancang untuk menyerupai cahaya matahari. Keuntungan mengunakan flash adalah kita tidak harus tergantung pada waktu dan cuaca. Malam-malam atau saat mendung juga bisa motret. Yang saya maksud dengan flash bukan yang built-in di kamera, tapi flash external yang bisa dipisahkan dari kamera. Dengan demikian, kita bisa mengarahkan cahaya lebih leluasa.

4. Teknik foto

Jika mengandalkan cahaya matahari atau ruangan saja, maka yang penting adalah mengunakan tripod. Keuntungannya ada dua, pertama adalah bisa mengunakan ISO 100 dan shutter lambat, kedua adalah untuk komposisi foto yang lebih akurat.

Kamera yang digunakan sebenarnya pakai yang mana saja oke, mau pakai DSLR / mirrorless. Dalam kasus ini saya pakai kamera mirrorless Sony A6000 dan lensa Sony Zeiss 16-70mm f/4 OSS.

Hati-hati dengan setting bukaan, jika objek yang difoto berukuran kecil, bukaan sedang seperti f/5.6 aja pun akan membuat sebagian dari objek menjadi blur. Jika ingin objeknya tajam semua, bukaan perlu ditutup sampai sekitar f/16. Foto diatas mengunakan bukaan f/6.3, maka majalah dibelakang kamera tidak tajam.

Contoh kasus

Objek foto: kamera Nikon FM2, lensa 50mm Ai f/1.4

Ide: Objek diatas adalah kamera dan lensa pertama saya.

Properti/props: Tas Domke sebagai background, dan majalah National Geographic diletakkan di bawah tas untuk memberikan aksen warna.

Pencahayaan: Flash Shanny diletakkan diatas lightstand dan flash bracket, dan softbox 45 x 45 cm. Flash ini berfungsi sebagai main light.

Flash Shanny lainnya saya letakkan diatas lightstand dan saya arahkan ke langit-langit sebagai fill light. Saya mengunakan radio trigger untuk memotret.

Editing: Kemudian saya edit di Lightroom dan upload ke instagram. Disana, saya memilih filter yang cocok. Dengan sedikit pengaturan bisa mendapatkan foto seperti diatas.


Belajar fotografi yuk : kupas tuntas kamera | kursus kilat dasar fotografi | workshop flash | editing Lightroom

{ 3 comments }

Dalam sesi workshop kamera Sony selama beberapa bulan yang lalu. Saya sering menerima feedback bahwa peserta menginginkan workshop untuk belajar setting dan memaksimalkan kamera Sony lebih baik lagi. Maka itu, kami pilih beberapa topik yang banyak ditanyakan.

sony-mirrorless-workshop

Hari Sabtu, tanggal 1 Agustus 2015, pukul 13.00-17.00, kami akan mengadakan workshop Sony kembali di Infofotografi, Jl. Moch. Mansyur / Imam Mahbud, No. 8B-2 Jakarta Pusat. Topik bahasannya yaitu seperti berikut:

1. Sistem autofokus

Kapan mengunakan multi area, kapan zone, kapan flexible spot? Bagaimana mengaktifkan face detection dan mendaftarkan wajah teman/anggota keluarga favorit? Itu beberapa pertanyaan yang akan terjawab setelah mengikuti workshop ini.

2. Playmemories Apps

Sony memiliki banyak aplikasi yang sangat membantu untuk kondisi pemotretan tertentu, misalnya multiple exposure, motion shot, timelapse dan lain-lain. Saya akan membahas dan menunjukkan beberapa cara menggunakan aplikasi tersebut.

3. Wifi dan NFC

Bagaimana cara menghubungkan kamera ke smartphone untuk sharing foto, dan juga mengunakan smartphone sebagai remote control kamera.

4 Pemahaman tentang metering (multi, spot, center weighted)

Salah satu pertanyaan teknis yang sering ditanyakan akan saya bahas secara gamblang dengan bahasa yang mudah dipahami awam dan beberapa contoh kasus.

5. Dynamic Range Optimizer, HDR, Bracketing

Beberapa fitur yang sangat membantu untuk memotret di kondisi cahaya yang kontras, seperti foto interior dan landscape.
Komposisi: 50% teori, 50% praktik

Biaya: Rp 50.000,- per orang saja

Kami akan menyediakan subjek foto model dan still life untuk membantu sesi praktik.

Materi (soft copy) akan dikirimkan ke e-mail peserta.

Maksimum peserta 30 orang

  1. Pendaftaran hubungi Iesan 0858 1318 3069 atau e-mail nama peserta & type kamera ke infofotografi@gmail.com
  2. Transfer ke BCA 4081218557 atas nama Enche Tjin, atau Mandiri 1680000667780
  3. Konfirmasi setelah melunasi biaya pendaftaran
{ 1 comment }

Kamera mirrorless di tahun 2015 ini banyak sekali pilihannya, jauh lebih banyak dari kamera DSLR, tapi sebagian besar masih punya banyak kelemahan dan fiturnya masih tidak selengkap kamera DSLR canggih. Panasonic GX8 hadir untuk membungkam keluhan tersebut dan mungkin merupakan kamera yang bisa menarik perhatian Anda untuk pindah dari kamera DSLR ke mirrorless, jika Anda masih memakai DSLR tentunya :).

panasonic-gx8-12-35mm

Mari kita periksa sama-sama apa saja fitur unggulan dimiliki kamera Panasonic GX8 ini:

Sensor four thirds baru 20 MP

Sampai saat ini, resolusi paling tinggi untuk kelas micro four thirds adalah 16MP, dan sudah cukup lama dan banyak digunakan. Peningkatan resolusi ini membuat hasil foto lebih detail. Dari hasil pengujian pihak luar, kendali noise juga masih baik.

Body yang tangguh, banyak tombol kustomisasi dan weathersealed

Bagi yang suka berpetualang, misalnya ke hutan, air terjun, foto di saat cuaca buruk, tidak perlu kuatir karena Panasonic GX8 dilengkapi dengan body yang tangguh dan tahan air. Body Panasonic GX8 agak besar, lebih besar dari GX7 tapi masih lebih kecil GH4. Ukuran yang gak besar ini bisa termasuk nilai positif dan juga negatif. Bagi yang suka travel light tentunya ini negatif. Selain ukuran agak besar, beratnya juga cukup signikan yaitu 487 gram (termasuk baterai), lebih berat dari saingannya Sony A6000 (344 gram) dan sedikit Fujifilm X-T10 (440 gram). Bagi yang ingin kamera yang enak digenggam dan terasa kokoh, dan juga bagi yang suka tombol-tombol yang banyak, hal ini merupakan hal yang positif. Ada lima tombol yang bisa dikustomisasi.

[click to continue…]

{ 6 comments }

Cahaya yang terlalu kontras memang masih menjadi masalah yang besar bagi penggemar fotografi. Sebabnya karena image sensor kamera masih kurang bagus untuk menangkap perbedaan cahaya yang luas (dynamic range sempit). Banyak alat dan teknik yang biasanya digunakan, misalnya dengan mengunakan filter Graduated Neutral Density (GND), dan teknik HDR.

Teknik HDR pernah dibahas beberapa kali di infofotografi yaitu di artikel “Apa itu HDR” dan artikel “Sekilas tentang HDR di kamera.” Juga bisa dipelajari di kelas mastering art & photography technique.

Saat tur foto ke Kamboja Juni yang lalu, ada suatu candi yang bernama Beng Mealea. Candi ini kondisinya parah karena banyak bagian tembok dan menara candi yang runtuh. Banyak pohon-pohon yang tumbuh direruntuhan tersebut. Rombongan kami tiba hampir siang hari, sehingga cahayanya sangat kontras, bagian batu-batuannya gelap, dan langitnya terang.

Untuk mengatasi masalah ini, saya mengunakan teknik HDR. Tapi karena rombongan bergerak cukup cepat dan kami menempuh jalan ala petualang “Indiana Jones”, atau “Tomb Raider”, maka tidak ada waktu untuk set tripod. Disini, saya memilih mengunakan teknik exposure bracketing, dan kemudian saya gabung menjadi foto HDR di Adobe Lightroom.

Teknik exposure bracketing (BKT) adalah memotret beberapa kali dengan exposure (terang-gelap) yang berbeda-beda. Teknik ini awalnya digunakan di era kamera film. Jaman itu, fotografer tidak bisa memeriksa hasil foto karena perlu di cuci-cetak terlebih dahulu. Supaya mendapatkan foto dengan exposure yang tepat, fotografer sering memotret beberapa kali supaya minimal ada satu foto.

Teknik BKT ini saya gunakan bukan supaya saya bisa memilih salah satu foto saja, tapi saya ingin menggabungkan beberapa foto tersebut (Biasanya tiga foto), untuk mendapatkan exposure yang tidak terlalu kontras dan menyerupai apa yang dilihat oleh mata. Berikut hasilnya:

HDR BKT

ISO 220, f/6.3, f/60 detik

DSC_2532

ISO 100, f/6.3, 1/125 detik

DSC_2533

ISO 900, f/6.3, 1/60 detik

Setting mode yang saya gunakan adalah mode A (aperture priority) dan saya mematok bukaan di f/6.3 untuk mendapatkan ruang tajam yang sama di setiap foto. Shutter speed dan ISO ditentukan oleh kamera (saya pakai Auto ISO -ON dengan minimum shutter 1/60 detik supaya hasil foto tidak goyang/blur.

Fungsi BKT saya aktifkan (setiap kamera beda-beda, coba baca di manual book) dengan setting 3 foto dengan perbedaan exposure 2 stop. Yang terakhir, saya aktifkan drive mode continuous shooting (foto berturut-turut). Tujuannya supaya setiap frame foto yang diambil tidak terlalu banyak berbeda sehingga saat digabungkan foto tetap tajam.

Di beberapa kamera baru, biasanya tersedia fitur auto HDR, jadi tidak perlu mengunakan teknik BKT. Hanya saja, kekurangannya hasilnya tidak terlalu leluasa untuk diedit.

Seperti yang saya tampilkan di tiga foto diatas, tidak ada satupun foto yang memuaskan saya, ada yang terlalu gelap candinya, ada yang terlalu terang langitnya, maka itu, saya menggabungkan foto-foto tersebut di Adobe Lightroom 6 yang ada fitur untuk menggabungkan beberapa gambar untuk jadi foto HDR. Anda juga bisa mengunakan software HDR lain seperti Photoshop dan Photomatix.

Hasilnya seperti foto dibawah ini:

DSC_2531-HDR-2

Hasil penggabungannya saya rasa cukup sukses karena saya mendapat tonal yang lengkap antara biru langit hingga detail dari batu-batu reruntuhan, pohon dan detail di tembok Candi. Jauh lebih mirip dengan apa yang saya lihat saat berkunjung ke candi ini.

Workshop dan kursus kilat fotografi dan tur fotografi bisa dibaca di halaman ini.

{ 2 comments }

Lensa lebar kerap diidentikkan dengan foto pemandangan dan interior. Wajar saja karena fokal lensa yang lebar memang bisa mencakup sudut pandang yang luas sehingga disukai fotografer landscape dan juga arsitektur. Pada sistem full frame, fokal lensa 24mm sudah dianggap wide, dan fokal 16mm masuk ke kelompok ultra wide. Tapi di sistem APS-C, akibat ukuran fisik sensor yang lebih kecil membuat produsen lensa harus menyesuaikan fokal lensanya (tergantung crop factor dari sensor, umumnya 1,5x hingga 1,6x). Maka itu lensa di sistem APS-C yang fokalnya 18mm terasa kurang lebar karena sebetulnya dia ekivalen dengan 27mm (akibat koreksi crop factor tersebut).

Fokal lensa 12mm (ekivalen  18mm di full frame)

Fokal lensa 12mm di kamera APS-C (ekivalen 18mm di full frame)

Akhirnya di sistem kamera APS-C, kita mengenal fokal lensa yang lebih lebar lagi, misalnya fokal 10mm, 11mm atau 12mm yang pada dasarnya ekivalen dengan fokal 16mm sampai 18mm di sistem full frame. Di sistem kamera DSLR, berbagai pilihan lensa ultra wide tersedia lengkap, baik dari pihak Canon/Nikon maupun pihak ketiga (Tamron/Sigma/Tokina). Tapi di sistem kamera mirrorless, pilihan lensa yang ada memang belum sebanyak DSLR, juga masih jarang ada lensa yang dibuat oleh pihak ketiga. Jadi ada baiknya kita mengenal seperti apa lensa-lensa ultra wide khususnya di sistem mirrorless APS-C yang ada saat ini.

Sony

Anda pemakai kamera Sony mirrorless E mount (NEX atau Alpha) tentu kenal dengan lensa SEL 10-18mm f/4 OSS seharga 9 juta rupiah ini. Built quality lensa ini sangat baik, berbahan logam dan mount dari logam juga. Fokalnya ekuivalen dengan 15-27mm, pakai 7 bilah diafragma dan diameter filter 62mm. Lensa ini terdiri dari 10 elemen yang tersusun atas 8 grup, bobotnya 225 gram.

jual-10-18mm-f4-oss-02

Plus :

  • bukaan konstan f/4
  • kualitas optik baik
  • kualitas bahan baik
  • OSS/stabilizer

Minus :

  • rentang fokal agak pendek (cuma sampai 18mm)
  • tidak ada tuas AF-MF (pindah mode AF-MF melalui kamera)

Fuji

Pemilik Fuji X juga tentu sudah akrab dengan lensa Fuji XF 10-24mm f/4 R OIS yang dijual di harga 12 juta rupiah, lensa yang masuk ke dalam seri XF ini punya cincin aperture, ada 7 bilah diafragma dan punya kualitas bahan material bodi dan internal optik yang sangat baik. Lensa Fuji ini cukup besar dengan filter 72mm dan bobot 420 gram, salah satu alasannya karena memiliki 14 elemen lensa di dalamnya. Bila kita cermati ada tiga cincin di lensa Fuji ini, pertama untuk manual fokus, lalu kedua untuk zoom dan ketiga untuk merubah diafragma.

fujifilm_10-24

Plus :

  • bukaan konstan f/4 dan ada cincin aperture
  • kualitas optik sangat baik
  • kualitas bahan baik
  • OIS / stabilizer

Minus :

  • harga cukup tinggi
  • tidak ada indikator f-stop di cincin aperture
  • tidak ada manual focus instant override

[click to continue…]

{ 13 comments }

Saat kita membaca majalah, koran, / website berita online, terkadang kita melihat 1 atau 2 halaman yang secara khusus memuat foto-foto dalam layout yang disertai judul dan tulisan singkat yang menceritakan foto-foto tersebut. Itulah yang disebut dengan photo story.

Workshop baru yang diadakan oleh Infofotografi kali ini bertujuan untuk mengenalkan pembuatan photo story kepada para peserta workshop. Maraknya media online dan majalah travel menjadikan photo story tidak hanya menjadi pekerjaan pewarta foto jurnalis saja.

Kita sebagai penggemar fotografi-pun bisa mulai untuk membuat photo story. Keterbukaan majalah dan website serta maraknya orang bepergian secara solo/ backpacker menjadikan siapa saja bisa mengirimkan tulisan dan photo story kepada majalah/ website. Photo story juga bisa melatih kita menjadi lebih terstruktur dan mempunyai visi yang kuat dalam melakukan hunting foto.

Dalam Workshop Visual Story Telling tema ‘Jakarta Sunyi’ kali ini, peserta workshop akan melakukan 2 kali pertemuan yaitu : hari pertama: pembekalan dan teori, hari kedua: praktik hunting foto dan review.

Kelas teori akan diadakan pada tanggal 19 Juli 2015. Pukul 13.00-16.00 WIB

Dan hunting foto (praktik) dan review akan diadakan pada 20 Juli 2015. Pukul 06.00 WIB-selesai untuk kelompok 1 (penuh)

dan 21 Juli 2015 pukul 06.00 WIB sampai selesai untuk kelompok 2.

Tempat: Infofotografi, Jl. Moch. Mansyur No. 8B-2 Jakarta Pusat.

Pada kelas praktik, peserta akan berputar Jakarta dan berhenti di titik-titik tertentu untuk memotret jakarta yang sunyi karena banyak penduduknya bepergian mudik keluar kota.

Materi yang akan dipelajari dalam workshop ini antara lain:

  • Pengertian Photo Story.
  • Cara menyusun Photo Story.
  • Pemilihan Judul dalam pembuatan Photo Story.
  • Menentukan foto pembuka dan foto penutup dalam rangkaian Photo Story.
  • Mengeksplorasi tema ‘Jakarta Sunyi’ untuk bisa dijadikan sebuah rangkaian Photo Story.

Biaya workshop : Rp 450.000

Hanya tersedia maksimum 8 orang saja.

Persyaratan : Membawa kamera sendiri, boleh jenis kamera apa saja. Untuk sesi review, dianjurkan membawa laptop masing-masing untuk sesi review/pemilihan dan penyusunan foto.

Biaya sudah termasuk biaya transportasi keliling Jakarta dengan Blue bird ELF atau setara dan bimbingan fotografi.

Instruktur: Adi Setyo, Enche Tjin

Cara mendaftar:

  1. Hubungi 0858 1318 3069 / infofotografi@gmail.com untuk memeriksa ketersediaan tempat
  2. Transfer biaya workshop ke Enche Tjin via BCA 4081218557 dan Mandiri 1680000667780
  3. Konfirmasi ke 0858 1318 3069 / infofotografi@gmail.com
{ 1 comment }