≡ Menu

Sebelum diumumkan secara resmi akhir Februari 2020 nanti, spesifikasi Fujifilm X-T4 ternyata sudah bocor seminggu sebelumnya. X-T4 memang dinanti-nantikan karena merupakan kamera terunggul (flagship) dari Fujifilm, dalam arti memiliki teknologi yang mutakhir dan fitur yang lengkap.

Seperti yang dibahas oleh saya dan mas Erwin Mulyadi di Youtube tentang X-T200, akhir-akhir ini Fuji menyasar kawula muda yang senang membuat konten video, itu terlihat dari desain kamera mereka diantaranya X-A7, X-T200 dan X-T4. Ketiganya punya kemiripan dalam desain layar LCD yang bisa diputar ke segala arah dan spesifikasi yang membantu dalam merekam video, katakanlah bisa merekam video 4K, Full HD slow motion 240p, layar lipat/putar, baterai yang kapasitasnya 50% lebih besar dst.

[continue reading…]
{ 1 comment }

Kamera DSLR Canon 850D – processor baru & 4K

Kamera DSLR tiga digit Canon adalah seri kamera yang sangat populer 10 tahun belakangan ini. Kamera tiga digit ini populer untuk fotografer & videografer pemula. Sesuai namanya, 850D dibuat untuk menggantikan 800D yang diluncurkan tepat tiga tahun yang lalu (Feb 2017).

Canon 850D dan 800D dari depan sangat mirip

Di 850D, Canon memperbaharui processor-nya yang kini bisa menghandle video 4K/24 atau 25p dan Full HD di 60p. Kualitas gambarnya juga akan sedikit meningkat terutama di ISO tinggi, tapi Canon tetap mengunakan sensor APS-C 24MP.

Berkat processor baru kinerja kamera akan lebih mulus, misalnya foto berturut-turut lebih cepat, lebih hemat baterai, metering lebih akurat dan autofokus juga akan lebih cepat.

Sistem autofokus saat live view sudah ditingkatan dari 49 area jadi 143 area, secara teori akan meningkatkan akurasi autofokus. Namun saat merekam video 4K, kecepatan autofokus akan menurun karena tidak mengunakan Dual Pixel AF tapi hanya contrast AF.

Desain body mirip 800D, hanya saja ada tambahan roda dial di belakang seperti Canon 77D, sehingga tidak perlu lagi harus tahan tombol Av untuk mengubah bukaan lensa di mode manual.

Harga kamera ini saya perkirakan naiknya cukup banyak daripada Canon 800D yaitu sekitar Rp12-14 jutaan

Yang sedang mempertimbangkan kamera DSLR Canon 850D mungkin akan juga mempertimbangkan kamera mirrorless Canon seperti Canon M50 yang harganya dan fiturnya hampir sama, atau Canon M6 II (Rp 12.6jt) jika perlu video 4K yang lebih bagus.

Saksikan panduan memilih kamera DSLR Canon 2019 kami di Youtube:

Ingin belajar mengoperasikan kamera Canon, baik kursus privat maupun membaca e-book yang ditulis instruktur Infofotografi? hubungi WA 0858 1318 3069

{ 5 comments }

Leica luncurkan tiga lensa M edisi spesial

Leica telah meluncurkan tiga lensa Leica M dalam kuantitas yang terbatas, antara 250 dan 500. Dua diantaranya memiliki desain Safari dan satu lagi desain warna perak.

Warna hijau olive berasosiasi dengan model Safari yang memiliki kualitas tinggi untuk keperluan militer. Leica M1 “Olive”, dibuat untuk angkatan bersenjata Jerman di tahun 1960. Pada awalnya M1, M3 dan M4 dibuat ekslusif untuk militer, tapi permintaan pelanggan Leica semakin meningkat, sehingga Leica memutuskan untuk membuat desain Safari pertama dalam wujud kamera Leica R3 di tahun 1977, dan diikuti oleh M6 TTL Safari di tahun 2000, M8.2 Safari di tahun 2009, M-P (Typ 240) di tahun 2015 dan M10-P Safari tahun lalu (2019).

Untuk melengkapi Leica M Safari, ada dua lensa tambahan dengan desain Safari, yatu 28mm Summicron-M f/2 ASPH (dibuat hanya 500 unit), dan 90mm APO-Summicron-M f/2 (dibuat hanya 250 unit)

Bersama kedua lensa tersebut Leica juga mengumumkan Leica 75mm APO-Summicron-M yang dibuat dengan jumlah 300 unit dengan silver-anodised finish. Ketiga lensa tersebut memiliki spesifikasi yang sama dengan lensa M regular. Ketiga lensa tersebut Made in Germany.

Sepertinya Lensa Leica M 75mm ini cocok untuk menemai Leica M10-P edisi Snow White

Bagi pembaca yang ingin memperoleh kamera dan lensa Leica, atau ingin belajar mengunakan kamera Leica, kami bisa membantu. Hub. WA 0858 1318 3069 / infofotografi@gmail.com

{ 0 comments }

Seri Fuji X100 merupakan kamera yang mengejutkan dari Fuji di awal tahun 2011. Kamera ini punya sensor APS-C dan lensa 23mm f/2 (ekuivalen 35mm) dan tidak bisa ganti lensa. Pada saat itu belum ada sistem kamera Fuji X yang bisa bertukar ganti lensa. Setelah kesuksesan X100 dipasaran, akhirnya Fuji mulai membuat sistem kamera Fuji X yang diawali dengan kamera X-Pro setahun setelahnya.

Kesuksesan Fuji X100 pada saat itu disebabkan oleh para street photographer merindukan sebuah kamera yang lumayan compact, tapi dengan desain jendela bidik optik ala rangefinder seperti kamera film jaman dulu. Harga X100 saat itu USD1200, di generasi ke-5 ini harganya USD1400, kalau di Indonesia saya dengar-dengar akan dijual dengan harga Rp21juta.

Saya sendiri belum sempat mencoba kamera X100 dari generasi pertama sampai ke-empat, terus terang karena saya membaca/mendengar banyak kekurangan terutama di kinerja autofokus dan kualitas lensa yang kurang baik di bukaan terbesar. X100 lalu diperbaharui secara berkala, dan kamera yang saya review ini sudah generasi ke-5. Artinya sudah banyak sekali peningkatan dibandingkan dengan X100 yang generasi pertama.



Tidak bisa dipungkiri bahwa yang menjadi daya tarik Fuji X100 termasuk yang generasi ke-5 ini adalah desainnya yang relatif simple dan ukurannya kecil, bobotnya juga tidak terlalu berat, dibawah 1/2 kg, menjadikannya mudah dibawa kemana-mana. Built-quality kamera ini sekarang mengunakan alumunium yang terkesan lebih kokoh dan mewah dibandingkan dengan magnesium alloy di kamera generasi sebelumnya.

ISO 1000, f/2.8, 1/250, Classic Negative
ISO 1250, f/2.8, 1/250, Classic Negative (sedikit di crop (kurang lebih menyerupai 50mm)
ISO 400, f/2.8, 1/250, Classic Negative
ISO 800, f/2.8, 1/250, Classic Negative
[continue reading…]
{ 7 comments }

Review Fuji X-T200 : Uji coba foto malam hari

Kamera Fuji X-T200 adalah kamera yang dirancang sebagai kamera yang menjembatani antara fotografer pemula dan yang lebih mahir. Kamera ini punya fitur yang canggih, tapi dikemas dalam bentuk yang kompak dan ramah untuk pemula baik untuk fotografi dan juga videografi.

Sebagai penerus dari X-T100, X-T200 punya beberapa perubahan, yang paling menonjol adalah layarnya yang kini lebih besar, yaitu 3.5 inci dan bisa diputar ke samping dan segala arah (articulating screen). Juga bisa ditutup kedalam saat tidak digunakan. Layar sentuh ini termasuk layar yang besar, mirip dengan Fuji X-A7.

Di bagian atas kamera (top plate-nya), ada roda mode, dan dua roda dial untuk mengganti setting. Dua roda dial yang dibagian samping kanan kamera sayangnya agak sedikit ketat sehingga sulit di putar dengan satu jari. Mungkin ini upaya Fuji supaya kedua dial tersebut tidak mudah terputar dengan sengaja. Tapi bisa juga seiring penggunaan menjadi lebih longgar.

[continue reading…]
{ 3 comments }

Kesan pertama dengan Fuji X-T200

Fuji X-T200 sudah di tangan kami. Sebelum diumumkan secara resmi nanti oleh pihak Fuji Indonesia, bolehlah saya ulas sedikit kesan awal kami saat mencoba kamera ini. Perlu diketahui apa yang dibahas di artikel kali ini belum tentu akan persis sama dengan produk X-T200 yang nanti akan ada di pasaran, karena unit yang kami terima masih merupakan unit sampel untuk review. Kita mulai saja..

Layar 3,5 inci 16:9 yag bisa dilipat dan diputar, tentu disukai oleh para pembuat konten

Dari fisiknya, X-T200 masih sangat mirip dengan X-T100. Bedanya di bagian grip kini sudah permanen (tidak bisa dilepas), lebih pas digenggam. Ada sedikit perubahan bentuk roda dial di bagian atas dan juga desain On-Off nya. Paling beda tentunya ada di bagian belakang dengan dominasi layar sentuh 3,5 inci aspek rasio 16:9 yang persis sama dengan di Fuji X-A7, menjadikan tidak ada tempat lagi untuk tombol fisik selain tombol Menu dan Disp/Back.

Dial dan grip di X-T200

Saya termasuk yang suka dengan konsep X-T100, sebuah kamera seri X-T yang terjangkau, tetap lengkap ada jendela bidik, layar bisa dilipat, ada flash hot-shoe.  Saat X-T200 dirilis, saya paham kalau Fuji ingin menyeragamkan spesifikasi auto fokus di jajaran kameranya, yaitu dengan 117/425 titik PDAF yang menyebar di (hampir) seluruh bidang sensor, yang mana ini adalah fakta yang sangat baik. Ditambah lagi adanya fitur Eye-AF dan fitur video 4K yang full uncrop 30 fps menegaskan posisi X-T200 sebagai kamera modern.

Sebanyak 425 titik PDAF tersebar di bidang gambar, sama dengan di X-T30, X-T3 dan X-Pro3.
[continue reading…]
{ 5 comments }

FujiFilm global resmi meluncurkan kamera Fuji X100V dengan sensor APS-C 26 MP X-Trans yang pakai lensa terpadu 23mm f/2, jendela bidik hybrid (OLED dan optik), layar LCD lipat dengan desain retro klasik berbahan alumunium yang mewah. Pada bagian atasnya terdapat roda putaran shutter speed dan ISO, juga ada roda kompensasi eksposur. Di bagian belakang digunakan joystick untuk pengganti tombol arah 4 arah, seperti di kamera Fuji terbaru pada umumnya.

Fuji X100V (dpreview.com)

Hal menarik dari Fuji X100V adalah kinerja internalnya, dengan dukungan prosesor baru (X-Processor 4) yang ditemui di Fuji X-Pro3, termasuk sensor BSI CMOS yang punya rentang ISO 160-12800, juga punya 425 titik pendeteksi fasa untuk auto fokus yang akurat. Demikian juga dalam hal video, kemampuan rekam video 4K F-log menjadikan kamera ini bisa diandalkan untuk rekam video juga. Bila perlu kualitas hingga 10 bit 4:2:2 bisa melalui jalur HDMI ke eksternal.

Bagian atas dari Fuji X100V dan juga gripnya (dpreview.com)

Dengan desain leaf shutter, maka kamera X100V ini bisa sync dengan flash pada 1/4000 detik. Kecepatan memotret kontinu adalah 11 fps, dan bisa memakai shutter elektronik juga hingga 1/32.000 detik. Yang unik, ada 4 stop ND filter yang bisa langsung dipakai tanpa repot pasang di depan lensa. Seperti biasa, aneka film simulation khas Fuji sudah bisa ditemui di X100V ini.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Sigma fp merupakan kamera yang unik dari Sigma, karena desainnya benar-benar berbeda dari kamera DSLR ataupun mirrorless pada umumnya. Sigma fp memiliki sensor full frame CMOS 24MP Bayer dan mengunakan L-mount (sama dengan Leica TL/SL dan Panasonic S). Meski ukuran sensor bisa terbilang besar, tapi ukuran Sigma fp relatif kecil dengan panjang 11.2cm dan ringan (370gram).

Meski desainnya compact, tapi Sigma fp punya banyak tombol & dial untuk akses setting cepat. Di bagian atas kamera ada tuas ON-OFF (Power), Cine/Still (Video/Foto), tombol record, shutter dan roda dial yang cukup besar untuk mengganti setting kamera.

Di bagian belakang kamera ada beberapa tombol diantaranya AEL, QS (Quick Menu), tombol empat arah yang sekaligus roda/dial kedua, tombol menu, playback, info/display, tone, color dan mode kamera. Dengan banyaknya tombol dan dial ini, memudahkan fotografer/videografer untuk mengganti setting dengan cepat.

Menu kamera Sigma tertata dengan cukup baik dan akan berbeda tergantung apakah kita di mode Cine/Still. Jika yang aktif adalah Still, maka di menu akan tampil item-item yang khusus untuk fotografi, demikian juga sebaliknya, sehingga mencari item di menu jadi lebih mudah dan cepat.

[continue reading…]
{ 5 comments }

Awal tahun ini Fujifilm Global mengumumkan Fuji X-T200 dan lensa Fuji XC 35mm f/2. Sebelumnya, Fuji sudah memiliki lensa Fuji 35mm f/2 XF WR, dan para pengguna pasti penasaran yang mana merupakan pilihan yang lebih bagus?

Fuji X-T100 dengan lensa XF 35mm f/2 WR

Yang penting bagi calon pembeli tentunya adalah dari segi harganya. Fuji 35mm f/2 XF WR dijual dengan harga resmi 5.4 jt tapi sering dijual dengan harga promo Rp 4.5 juta. Sedangkan yang 35mm f/2 XC baru ini akan dijual lebih murah. Di AS akan dijual dengan harga US$199, atau sekitar Rp2.75 juta. Bisa dibilang bedanya cukup lumayan.

Lantas apa yang kurang dari 35mm XC yang dibuat di Filipina ini? Pertama adalah bahannya yang ringkih karena dibuat dengan material plastik, termasuk mounting & tutup lensanya juga dari plastik. Lensa ini juga datang tanpa lenshood seperti lensa yang XF dan tidak punya aperture ring untuk mengubah bukaan. Satu lagi, lensa yang baru ini tidak tahan air.

Fujifilm X-T200 dengan lensa Fuji XC 35mm f/2

Tapi berita bagusnya, lensa yang lebih murah ini kualitas optiknya sama saja, jadi tetap bisa menghasilkan kualitas gambar yang bagus. Jadi bagi yang ingin berhemat dan tidak membutuhkan kelebihan lensa XF, ya bisa melirik lensa XC ini.

Jika ada yang bertanya-tanya, mengapa Fuji membuat lensa XC yang kualitasnya sama dengan yang XF? Menurut saya, beberapa tahun lalu, Fuji aktif ingin mengembangkan segmen kamera untuk pemula dan content creator (foto-video) muda. Bagi segmen ini, harga dan ketersediaan lensa sangat penting. Lensa-lensa XF yang harganya cukup tinggi bisa jadi menjadi penghambat. Dengan dibuatnya lensa XC yang relatif murah tapi dengan kualitas optik yang sama bagusnya mungkin jadi penawarnya.


Bagi yang sudah punya kamera Fuji dan ingin mempelajari setting kamera dan mendapatkan tips memotret, silahkan mengunjungi halaman panduan e-book kami.

Untuk acara / tur foto silahkan lihat jadwal kami di halaman ini.

{ 7 comments }

Pemenang Panasonic Young Filmmaker 2019 Award

Panasonic Young Filmmaker 2019 #KolaborasiTanpaBatas

Jakarta, 18 Januari 2020- M bloc Space

Berkarya tanpa batas, mewakili dunia modern saat ini, beberapa masyarakat mulai berlomba menciptakan karya visual, membuat konten- konten yang menarik untuk di sebarkan pada dunia. Sebagai bentuk dukungan atas kreatifitas masyarakat pada 18 Januari 2020, PT. Panasonic Gobel Indonesia (PGI) menggelar malam penganugrahan
Panasonic Young Film Maker (PYFM) 2019 di Jakarta.

Karya yang datang tidak hanya dari kota- kota besar, namun juga datang dari beberapa daerah yang menjadi pandangan baru, yang membuka wawasan, keterbatasan bukanlah menjadi halangan dalam berkarya, kejujuran dalam karya, sederhana namun menyentuh hati.

Para Juri & perwakilan Panasonic, Agung Ariefiandi (tengah)
[continue reading…]
{ 0 comments }