≡ Menu

Peluncuran Fujifilm GFX100S dan Fujifilm X-E4 Indonesia

Di awal tahun 2021 ini, Fujifilm Indonesia meluncurkan produk andalannya Fujifilm GFX100S, Fujifilm X-E4 dan tiga lensa: GF 80mm f/1.7, XF 27mm f/2.8 II dan XF 70-300mm f/4-5.6OIS WR.

Fujifilm GFX100S dan Fuji XF 80mm f/1.7

Di virtual Launch Fujifilm Indonesia, beberapa fotografer dan videografer profesional Indonesia berbagi pengalaman menggunakan produk baru Fujifilm yang baru diluncurkan.

Fotografer kawakan Haryanto Devcom mengatakan dengan sensor medium format dan resolusi 102MP, fotografer lebih leluasa dalam melakukan cropping untuk mendapatkan komposisi foto yang berbeda. Selain itu file foto memiliki 16-bit untuk mendapatkan warna yang sangat kaya.

[continue reading…]
{ 2 comments }

Nikon Z5 dirilis bulan Agustus 2020, dan diposisikan sebagai kamera mirrorless full frame entry level. Dengan kata lain Z5 ini adalah kamera yang cukup terjangkau bagi fotografer pemula maupun yang baru ingin upgrade ke sistem kamera full frame Nikon Z.

Nikon Z & Nikkor 24-50mm f/3.5-6.3

Kamera ini memiliki sensor full frame 24MP CMOS dengan filter AA (anti alias untuk mengurangi moire tapi mengorbankan sedikit ketajaman di hasil foto. Kualitas gambar Z5 kurang lebih setara kamera DSLR Nikon D610/D750.

Enam bulan setelah lauching barulah saya mendapatkan kesempatan untuk mencoba kamera Nikon Z5 ini bersama dua lensa, Nikkor Z 24-50mm dan 50mm f/1.8 S. Lensa 24-50mm f/3.5-6.3 memiliki desain yang compact dan collapsible. Saat tidak digunakan ukurannya kecil dan mudah disimpan. Sebaliknya lensa Nikkor Z 50mm f/1.8 S terlihat lebih panjang daripada lensa-lensa Nikon 50mm f/1.8 yang pernah ada sebelumnya.

Nikon Z 50mm f/1.8 S
Nikon Z 50mm lebih panjang dan besar daripada lensa Nikon 50mm untuk DSLR.
[continue reading…]
{ 0 comments }

Kenali pengaruh fokal lensa terhadap perspektif foto

Jagat maya diramaikan oleh sebuah foto. Dalam unggahan di Instagram @wibisono.ari terdapat foto jalanan di Kemayoran Jakarta dengan tampak gunung Gede sebagai latar belakangnya. Foto ini kemudian di repost oleh akun media sosial Pemprov DKI dan menuai pro kontra yang cukup meriah setelahnya.

Adapun sang fotografer yaitu Wibisono mengklaim kalau foto tersebut benar adanya, asli bukan melalui tempelan dua foto secara editing. Bahkan Ari melampirkan bukti berupa foto-fotonya dan data teknisnya untuk meyakinkan bahwa foto ini bukan rekayasa. Dikutip dari detik.com Ari mengatakan bahwa pada jam 6.20 dari posisi flyover Kemayoran arah Gunung Sahari, dia menghentikan sepeda motornya dan mengambil foto tersebut. Sejam kemudian, gunung mulai hilang (tertutup kabut atau awan).

Foto asli atau editan?

Menurut saya pribadi, untuk tujuan keindahan foto, atau koleksi pribadi, tidak ada yang salah bila kita menggabung dua foto melalui editing. Misalnya foto pantai yang awannya jelek, lalu awannya diganti dengan awan yang lain. Tapi untuk itu pun perlu skill juga, minimal kita mesti bisa mengedit dengan Photoshop. Dalam hal ini, bila pun fotonya tidak di edit dengan cara menggabung dua foto, tetap saja foto Ari sudah melalui editing yang umum dilakukan banyak fotografer yaitu menambah saturasi, kontras dsb. Dalam konteks foto jurnalisme, situasinya jadi berbeda. Foto jurnalisme mengedepankan unsur berita sehingga perlu foto yang otentik, asli dan menghadirkan realitas apa adanya. Editing termasuk pantang untuk dilakukan, misal menghilangkan sesuatu, menambah sesuatu, atau bahkan memperbaiki kontras saja bisa mengubah perspepsi dan makna terhadap sebuah realitas yang ditangkap melalui foto.

[continue reading…]
{ 3 comments }

Sigma 85mm f/1.4 DN | Hasil tajam & Bokeh mulus

Beberapa tahun belakangan, Sigma aktif dalam membuat lensa-lensa yang dirancang khusus untuk kamera mirrorless. Salah satu lensanya adalah lensa Sigma 85mm f/1.4 DG DN ART. Sigma membuat lensa ini dalam dua versi, L-mount dan Sony E-mount. Lensa ini dirancang untuk kamera full frame, jadi cocok untuk kamera seperti Leica SL, Lumix S, Sigma fp atau Sony A7.

Tentunya lensa ini dapat dipasangkan juga ke kamera mirrorless dengan sensor APS-C seperti seri Sony A6000-an atau Leica CL. Saat dipasang ada crop factor 1.5x, sehingga focal lensa ekuivalen dengan 127.5mm.

Lensa fix 85mm biasanya dirancang untuk portrait photography, untuk komposisi close-up ataupun setengah badan. Kelebihan 85mm adalah dapat membuat perspektif wajah yang tidak cembung dan masih ada kesan tiga dimensinya. Bukaan f/1.4 membuat latar belakang yang sangat mulus.

Desain lensa Sigma 85mm f/1.4 DG DN ART

Untuk lensa mirrorless dengan teknologi baru, lensa Sigma ini termasuk ringkas dan tidak berat. Beratnya 625g dengan panjang 9.6cm dengan filter 77mm. Kelengkapan termasuk lens hood yang cukup besar tapi ringan.

Lensa ini punya aperture ring yang bisa di de-click untuk mengganti bukaan lensa dengan mulus untuk merekam video. Juga ada tombol yang bisa dikustomisasi misalnya menjadi eye-AF bagi pengguna kamera Sony.

Kinerja dan Kualitas gambar

Kinerja autofokus lensa ini bagus karena sudah mengunakan stepper motor berkualitas, kinerja autofokus tracking tergantung dari sistem AF kameranya. Namun sepertinya lensa ini bukan dirancang untuk foto subjek bergerak sangat cepat seperti olahraga, tapi untuk portrait kinerja autofokusnya lebih dari cukup.

Kualitas gambar yang dihasilkan lensa ini sangat tajam, detail dengan bokeh/background blur yang mulus. Bisa dikatakan lensa ini merupakan lensa 85mm yang terbaik saat ini.

Semua foto-foto dibawah mengunakan bukaan f/1.4 dengan Leica SL

Crop dari foto diatas
Crop dari foto diatas
[continue reading…]
{ 0 comments }

Fujifilm meneruskan tradisi pengembangan kamera mirrorless dengan desain gaya kamera film analog rangefinder dengan meluncurkan Fujifilm X-E4. Maksud dari desain rangefinder adalah kamera yang bagian atasnya rata dan jendela bidiknya ada di bagian samping kiri kamera. Dari bentuk yang compact dan minimalis, kamera seperti ini cocok untuk street dan travel photography.

Dibandingkan seri X-E3 sebelumnya, desain X-E4 lebih ringkas lagi. Di bagian depan tidak ada lagi tuas untuk mode autofokus, di bagian depan kamera datar, tidak ada tonjolan untuk pegangan. Di bagian belakang ada joystick dan beberapa tombol mirip dengan X-E3, tapi yang membedakan adalah layar LCD yang bisa di tilt-up atau down untuk low atau high angle shooting plus bisa menghadap ke depan untuk selfie/vlogging.

Dari kualitas gambarnya, X-E4 ini mengunakan sensor yang sama dengan X-S10 dan X-T3/4 yaitu 26MP APS-C X-Trans CMOS sensor, dengan processor yang cepat dan mampu merekam foto berturut-turut secepat 8 foto per detik secara mekanikal, atau 20-30 fps secara elektronik.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Saat Canon meluncurkan EOS M6 di tahun 2017, saya termasuk orang yang excited akan kamera tersebut, karena kombinasi desain dan fiturnya sangat menarik buat saya. Saat itu Canon seperti ingin menunjukkan kalau mereka juga serius dalam memasuki kancah kamera mirrorless APS-C (meski mereka sudah punya EOS M5, M3 dan M10). Dua tahun berselang, EOS M6 Mark II hadir dengan sensor baru, menambah fitur video 4K dan meningkatkan kinerja kamera secara umum, yang membuat lini EOS M6 makin mantap sebagai kamera mid-range setara EOS 80D atau 90D di varian DSLR. Tapi saya mendapati sampai saat ini EOS M6 II masih kurang populer, dibandingkan merk lain, bahkan dibanding dengan saudaranya EOS M50. Artikel ini mencoba mencari jawaban mengapa kamera yang mantap seperti M6 II ini belum terlalu populer, padahal saya sangat menikmati saat memotret dengan M6 II ini.

EOS M6 II, dengan jendela bidik terpasang, dan lensa EF-M 32mm f/1.4

Untuk gambaran awal, saat merancang EOS M6 Mark II ini Canon memberi sensor yang sama dengan 90D yaitu APS-C 32 MP, bisa memotret hingga 14 fps, meningkatkan kinerja auto fokus deteksi mata, silent shooting yang cepat dan video 4K yang tidak crop. Memang pada saat hadirnya M6 Mark II agak dibayangi keraguan tentang nasib sistem EOS M karena adanya sistem baru full frame EOS R, sehingga orang cenderung menunggu perkembangan lebih lanjut. Di lain pihak, pesaing terus konsisten membangun sistem kamera APS-C, sebutlah misalnya Sony dengan keluarga A6000 nya dan sistem Fuji yang semuanya memang APS-C. Belum lagi Nikon mulai mencoba peruntungannya dengan memasang sensor APS-C pada mirrorless Z-mount mereka. Saya pribadi tidak tahu persis arah perkembangan EOS M ke depan, tapi melihat penjualan EOS M secara umum yang cukup baik, alangkah sayang kalau Canon sampai mengakhiri kisah sistem EOS M. Mungkin EOS M tetap dipertahankan tapi jumlah kamera/lensa baru di masa depan akan lebih sedikit.

Tidak semua kamera bisa gesit dalam memotret gerakan cepat, diperlukan auto fokus yang responsif dan shoot kontinu yang cepat. Foto diambil dengan EOS M6 II dan lensa EF-M 32mm f/1.4

Menurut saya, segmentasi di dalam lini EOS M sendiri juga berpotensi overlap, dan kita tentu sudah tahu kalau yang namanya EOS M50 itu penjulannya termasuk tinggi karena termasuk banyak disukai fotografer dan videografer muda. Padahal dari sejarahnya, EOS M50 adalah pengembangan dari kamera entry level seperti EOS M100 yang diberi jendela bidik dan layar vari-angle articulated ke samping. Jadi M50 itu beda kelas dengan M6, meski sayangnya di M6 justru tidak ada jendela bidiknya.

M6 II dengan jendela bidik yang bisa dilepas, dan layar lipat ke atas

Bicara jendela bidik, mungkin inilah penyebab M6 (dan M6 II) jadi kurang populer. Betul kalau kita bisa beli jendela bidik eksternal yang dipasang di hot shoe, tapi selain jadi nambah biaya lagi, juga jendela bidik ini berpotensi menghalangi layar lipat di M6 II bila di lipat ke depan untuk selfie atau vlogging. Di lain pihak M50 mencari formulasi yang aman dengan mendesain jendela bidik ala DSLR yang berada di tengah kamera, meskipun kualitasnya pas-pasan tapi orang tetap menerima.

[continue reading…]
{ 3 comments }

Fujifilm GFX100S adalah kamera mirrorless dengan sensor medium format dengan resolusi 100MP seperti GFX100 yang diluncurkan September 2020 yang lalu, tapi dengan ukuran yang lebih compact dan harga yang lebih terjangkau.

Desain GFX100S memiliki konsep yang serupa dengan GFX50S, yaitu seperti DSLR dengan jendela bidik di tengah dan pegangan yang besar. Yang berbeda yaitu GFX100S lebih compact lagi karena bagian belakangnya tidak menonjol keluar, dan memiliki desain yang lebih modern dengan mode dial tanpa shutter dan ISO dial di bagian atas kamera.

Berat Fuji GFX100S seperti kamera full frame profesional yaitu sekitar 920gram dengan baterai dan SD card. Menurut saya sangat ringan untuk kamera dengan sensor medium format, apalagi kamera ini punya sensor 100MP dan built-in image stabilizer.

Kamera ini datang dengan film simulation terbaru yaitu Nostalgic Negative, yang memiliki ciri bagian yang terang dari foto berwarna orange dan bagian yang gelap warnanya lebih pekat/saturated (rich).

Saat mengunakan kamera ini untuk memotret model di dalam studio dan di luar ruangan, saya mendapati hasil gambarnya cukup enak dilihat tapi tentunya tidak semua orang menyukai warna kulit yang agak orange.

Kiri: Pro Neg Hi, Kanan: Nostalgic Negative
[continue reading…]
{ 0 comments }

Sony mengumumkan kamera mirrorless full frame yang tanpa kompromi untuk kebutuhan foto dan video dengan kualitas dan kinerja profesional, kamera terbaik Sony saat ini yaitu Sony A1 (baca: Sony Alpha One). Harga Sony A1 USD6500 (kurang lebih Rp 90-99juta).

Kamera ini memiliki spesifikasi seperti berikut:

Spesifikasi Utama Sony A1

  • 50MP Full frame sensor
  • Multi Shot Pixel Shift 199MP
  • Lossless RAW format
  • 30 fps el.shutter continuous shooting tanpa black-out
  • 10 fps mechanical shutter
  • Resolusi Video 4K 120p dan 8K

Kinerja yang tinggi ini berkat penggunaan dual processor dan arsitektur sensor baru. Seperti kamera Sony lainnya, terdapat 759 titik AF phase detection yang mencakup 92% dari layar. Kinerja perhitungan AF mencapai 120fps. memungkinkan dukungan autofokus dengan 120 fps.

[continue reading…]
{ 2 comments }

Lensa dengan fokal lensa 35mm populer di kalangan fotografer baik hobi maupun profesional karena fleksibilitasnya. Di awal tahun 2021 ini, Sony mengumumkan lensa fix 35mm berbukaan f/1.4 yang baru dengan label GM (G-Master) untuk kamera mirrorless Sony Alpha.

Lensa ini dibuat dengan teknologi Sony yang baru seperti Nano AR II and Fluorine Coatings generasi ke-2 dan Dual XD Linear AF Motors, Internal Focus, memastikan kualitas mekanik dan kualitas gambar yang lebih baik.

Kesan pertama saya saat memegang lensa ini adalah ukuran dan beratnya yang terasa relatif ringan jika dibandingkan dengan lensa-lensa 35mm f/1.4 untuk kamera bersensor full frame. Beratnya hanya 524 gram dan panjangnya 9.6cm. Satu paket dengan lensa yaitu lens hood yang berukuran cukup ringkas dan padu dengan kameranya.

Di fisik lensa, terdapat aperture ring, tuas AF-MF, tombol focus hold dan tuas Click untuk memuluskan perubahan aperture ring.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Cara live stream ke Youtube langsung dari Canon M50 II

Canon EOS M50 Mark II sudah dirilis di Indonesia bulan lalu, dan salah satu fitur yang ditawarkan adalah kemampuan langsung live stream secara wireless melalui WiFi ke Youtube. Namun pada situs resminya, penjelasan yang ada kurang detail dan hanya tertulis :

With a stable Wi-Fi connection, you can engage your audience in real time conveniently by live streaming directly* from the EOS M50 Mark II to your YouTube channel. 

https://id.canon/en/consumer/eos-m50-mark-ii-body/product

kode bintang pada kata directly diatas maksudnya ada catatan kalau diperlukan minimal 1000 subscriber pada channel Youtube dan hanya mendukung live stream terjadwal.

Saya ingin bedakan dulu bahwa yang dimaksud disini bukanlah menghubungkan kamera Canon ke laptop melalui kabel USB (mejadi webcam dengan software EOS Webcam Utility), karena untuk itu pada dasarnya banyak kamera Canon masa kini bisa melakukannya (tidak hanya EOS M50 II). Jadi disini yang dimaksud adalah Canon EOS M50 Mark II betul-betul bisa mengakses server Youtube via laptop/ponsel secara wireless, melalui layanan Cloud Canon server image.canon.

Sebagai langkah awal pengguna EOS M50 II mesti mendaftarkan kameranya dan membuat akun Canon ID ke alamat image.canon dan melakukan beberapa langkah untuk memunculkan simbol Web service di kameranya. Langkah yang dimaksud termasuk membuat kode 4 digit untuk verifikasi. Nantinya dari kamera M50 II kita bisa mengakses server Canon baik untuk upload foto, download dan juga live streaming.

Sayangnya meski saya sudah coba googling bagaimana teknis detailnya untuk bisa live ke Youtube dengan Canon M50 II namun belum ketemu satu website yang memberi penjelasan lebih detail, hingga kemudian saya dapat ide untuk mengunduh manual PDF Canon M50 II dan akhirnya disana saya temukan caranya langkah demi langkah yang ternyata caranya cukup simpel namun perlu mengikuti secara urut step-by-step nya.

[continue reading…]
{ 1 comment }