≡ Menu

Canon 90D vs Canon 7D II

Meski sekarang yang lebih trendy kamera mirrorless, tapi Canon tetap memperbaharui lini kamera DSLRnya, yang terbaru di tahun 2019 yaitu Canon EOS 90D. Kamera ini digosipkan menggantikan Canon 80D dan 7D II sebagai kamera semi profesional untuk berbagai jenis fotografi terutama untuk foto aksi.

Bagian belakang 90D menunjukkan desain yang sedikit berbeda

Perbedaan antara 80D ke 90D tentunya cukup banyak, tapi 90D juga ternyata punya kelebihan dibandingkan 7D II yang kastanya lebih tinggi tapi sudah berusia 5 tahun. Diantaranya adalah punya sensor 32MP banding 20MP, 90D juga punya LCD touchscreen yang bisa dilipat dan putar.


90D juga sudah dilengkapi bluetooth dan wifi, memudahkan untuk transfer foto, dapat merekam video sekualitas 4K tanpa cropping, kapasitas baterai yang lebih besar (1300 vs 670 foto), dan shutter electronic 1/16000 detik.

Lalu apakah 90D lebih segalanya daripada 7D mk II? Ternyata tidak juga, untuk fotografer sports atau aksi, sepertinya 7D masih punya keunggulan, contohnya nafas buffer JPG yang tak terbatas, sedangkan 90D hanya 58 foto, dan kemudian melambat.

Bagian belakang 7D mk II, 7D lebih kokoh tapi lebih berat kurang lebih 200g dari seri Canon 80D/90D

Kedua, 7D mk II punya 2 card slot SD card, berguna untuk backup atau overflow, dan jendela bidiknya lebih besar, dengan 65 titik fokus dibanding 45 titik di 90D sehingga lebih memudahkan untuk komposisi.

Jadi Canon 90D tidak sepenuhnya dapat menggantikan 7D mk II sebagai kamera paling cepat dan tangguh. Tapi 90D merupakan kamera yang cukup baik sebagai pengganti 80D, cocok sebagai kamera untuk hobi maupun bekerja asal bukan untuk jenis fotografi yang ekstrim.


Bagi teman-teman yang ingin belajar atau mengikuti kegiatan fotografi, silahkan memeriksa jadwal di halaman ini.

{ 0 comments }

Review lensa Leica SL 75mm f/2 APO ASPH.

Lensa SL 75mm f/2 adalah lensa yang dibuat untuk sistem kamera yang mengunakan L-mount seperti Leica SL, Panasonic Lumix S1/S1R atau Sigma FP. Lensa ini juga dapat digunakan untuk kamera L-mount bersensor APS-C, misalnya Leica CL dan TL, tapi akan ada crop 1.5x sehingga jarak fokalnya menyerupai 112mm.

Pada awalnya, lensa-lensa sistem kamera SL itu berat-berat, misalnya SL 24-90mm f/2.8-4, 90-280mm f/2.8-4 dan 50mm f/1.4. Setelah diberikan masukan dan penggunanya, Leica memutuskan untuk membuat lensa-lensa dengan ukuran yang lebih compact dan ringan, yaitu keluarga lensa Summicron atau f/2.

75mm f/2 tidak sendiri, ada lensa-lensa lain seperti 35mm f/2, 50mm f/2, dan 90mm f/2. Di masa depan juga akan ada lensa 21mm f/2, 24mm dan 28mm f/2. Kesemuanya memiliki casing yang sama dengan filter thread yang sama.

[click to continue…]
{ 0 comments }

Mendingan beli filter UV atau lens hood?

Beberapa saat yang lalu, saya mendapat pertanyaan dari pemirsa di Youtube Infofotografi yaitu:

“Mending beli lens hood atau filter UV?

Agus Syariffudin

Sebelum menjawab, kita perlu mengetahui apa fungsi filter UV dan lens hood. Karena keduanya adalah hal yang berbeda dan memiliki fungsi yang berbeda.

Filter biasanya berbentuk bulat dan di pasang di depan lensa. Filter UV yang bagus bening dan populer dari era kamera film. Filter UV berfungsi menyaring cahaya dan mencegah sinar ultra violet yang dapat mempengaruhi hasil gambar di era kamera film.

Hasil foto bisa kebiruan dan keunguan terutama saat digunakan di dataran tinggi. Di era fotografi digital, filter UV tidak begitu diperlukan karena sensor kamera digital tidak peka terhadap cahaya UV. Jadi pakai filter atau tidak kualitas gambar tetap sama.

Pemula harus berhati-hati dalam memilih filter. Jika mengunakan filter yang kualitas rendah, itu sama saja dengan memotret dibalik kaca yang kotor, hasil gambarnya akan tidak tajam dan tidak kontras.

Lens hood adalah aksesoris yang dipasang di depan lensa. Kadang kita harus beli terpisah, tapi sering juga sudah dipaketkan saat pembelian lensa.

Lens hood Leica SL 16-35mm

Fungsi lens hood adalah untuk melindungi bagian depan lensa. Beberapa tahun lalu, saat hunting foto, kamera saya sempat jatuh karena tripod saya tersenggol, tapi karena adanya lens hood, bagian depan lensa terlindungi, hanya lens hoodnya jadi somplak.

Fungsi kedua dari lens hood lainnya yaitu untuk mengurangi munculnya flare/suar, terutama saat menghadap sumber cahaya yang intensitasnya kuat dan juga cahaya dari samping.

Jadi menjawab pertanyaan Agus, menurut pendapat saya, keduanya penting, tapi jika budget kita terbatas, lebih baik memprioritaskan pada lens hood, jika ada budget yang cukup, belilah filter yang berkualitas tinggi sehingga tidak ada penurunan kualitas gambar.

Artikel ini juga bisa ditonton di Youtube


Ikuti kegiatan belajar fotografi Infofotografi. Pantau terus jadwal kami di sini.

{ 2 comments }

Peluncuran Zhiyun Crane M2. Gimbal untuk kamera dan smartphone

Pada Hari Selasa, tanggal 03 September 2019, pukul 10.30 WIB di HIVEWORKS co-work&café, Jl. Karet Pasar Baru Timur 5 no. 25 Karet Tengsin, Tanah Abang, Jakarta Pusat. PT Aneka Warna meluncurkan gimbal Zhiyun Crane M2.

Zhiyun Crane M2 menghadirkan solusi baru yaitu 4 in 1 stabilizer yang dapat diaplikasikan pada empat gadget, selain kamera mirrorless, compact, smartphone dan action cam dengan beban 130-720g. Diharapkan dengan keluarnya produk ini, bisa menjadi salah satu pilihan bagi para content creator, pengguna, baik pemula maupun professional, dalam berkarya. Kata Noprita, Aneka Warna.

Dilanjutkan oleh Desca, Product Marketing, menjelaskan “Crane M2 memiliki system memorize, yakni ketika kamera yang sudah pernah di setting tidak perlu di setting berulang jika menggunakan kamera yang sama, selain itu Crane M2 dapat bergerak 45°, dalam sudut kemiringan, misalnya ketika pengambilan gambar di Lorong- Lorong atau lokasi tertentu.

Crane M2 ini dilengkapi dengan fitur 6 mode operasi, 360° pan, 310° tilt, dan 324° roll rotation, termasuk dengan mode POV dan Vortex, dengan baterai built in- isi ulang dengan micro USB yang dapat bertahan kurang lebih 7 jam.

Pada kesempatan ini pula, Narasena- Brand Ambassador of Zhiyun Indonesia, yang menyatakan “Zhiyun merupakan produk pertama yang
memperkenalkan (Single Handle Gimbal), dengan produk pertamanya yang bernama (Zhiyun Crane)”, dan dilanjutkan dengan menonton satu video dimana beliau mencba dan memperkenalkan Crane M2.

Fitur Utama Zhiyun CRANE M2

  • Desain ringkas, lebih ringan untuk kamera, smartphone, dan action cam
  • dengan beban 130 – 720g (mount action cam dijual terpisah)
  • 360° pan, 310° tilt, dan 324° roll rotation
  • Bekerja hingga 7 jam dengan baterai bawaan
  • Built-in Wi-Fi dan Bluetooth
  • ZY Play iOS/Android app
  • Fitur aplikasi khusus seperti time-lapse, panorama, dan slow-motion
  • capture
  • OLED display
  • One-button quick release camera mounting system
  • Scale mark dan memory lock untuk balancing
  • Hand strap, mini tripod, dan sudah termasuk aksesoris lainnya

Desain yang ringkas mudah dibawa, dan dapat diaplikasikan dalam 4 gadget. Menarik bukan? Untuk anda yang sering berpergian mungkin ini bisa menjadi salah satu solusi, sebagai harga pembukaan Zhiyun menetapkan harga Rp 3.890.000.

{ 0 comments }

Memilih kamera mirrorless Sony A6100-A6600 (2019)

Akhir bulan Agustus 2019 yang lalu, Sony mengumumkan beberapa kamera mirrorless bersensor APS-C nya dan kini memiliki 6 model yakni: A6000, A6100, A6300, A6400, A6500 dan A6600.

Kesemuanya memiliki sensor APS-C dengan resolusi 24MP, dan fisik yang sekilas mirip, tapi memiliki fitur yang berbeda.

Bermula dari Sony A6000, keluaran tahun 2014, kamera ini masih diproduksi dan dijual dengan harga yang cukup ekonomis (Rp 7.5 jt dengan lensa kit 16-50mm).

Sony A6100 (2019) bisa dianggap penerus A6000 yang ditujukan ke fotografer pemula/hobbyist karena memiliki konsep yang sama. Peningkatannya diantaranya sistem autofokus yang jauh lebih cepat (face, eye detection), warna yang lebih baik, layar LCD touchscreen dan bisa dilipat ke atas untuk selfie/vlogging dan mampu merekam video 4K. Untuk memudahkan transfer ke ponsel, A6100 sudah dilengkapi bluetooth. Harganya sepertinya sekitar Rp 10 juta.

Sony A6300 (2016) ditempatkan diatas A6000, dengan kelebihan mampu merekam 4K dan memiliki picture profile S-Log Gamma dan jendela bidik 2 juta titik (lebih baik daripada A6000 & A6100 yang hanya 1.4 juta titik, tapi model ini telah didiskontinu produksinya dan digantikan dengan A6400.

Sony A6400 (2019) Menggantikan A6300 dan menambahkan fitur-fitur yang disukai oleh content creator/vlogger enthusiasts seperti layar LCD touchscreen yang bisa dilipat ke atas untuk selfie/vlogging dan mampu merekam video 4K dengan S-Log Gamma. Sistem autofocusnya sudah mendukung face-eye tracking yang cepat dan lebih baik daripada A6300/A6500. Harga saat launching Rp 13 juta body-only.

Sony A6500 (2016) Spesifikasinya mirip dengan A6300 yang dirilis di tahun yang sama, bedanya A6500 memiliki built-in stabilizer (Steadyshot). Keuntungan yang unik dari A6500 adalah buffer (nafas) yang lebih panjang untuk foto berturut-turut sehingga lebih cocok untuk fotografi sports dan wildlife. Harga terakhir Rp 14 juta body-only.

A6600 (2019) memiliki fitur yang terlengkap dibanding model dibawahnya, dan bisa dibilang penerus A6500 karena juga memiliki IBIS/steadyshot. Peningkatannya cukup banyak, yaitu sistem autofokus yang lebih baik dan layar LCD yang bisa dilipat kedepan untuk selfie/vlogging.

Perbedaan A6600 dari model sebelumnya adalah baterai yang digunakan yaitu seri Z (NP-FZ100) yang digunakan di kamera Sony full frame generasi ke-3. Kapasitasnya kurang lebih 2.5 kali lipat daripada yang digunakan di seri A6000 lainnya. Selain itu, A6600 punya headphone jack untuk monitoring audio.

Sayangnya, A6600 tidak punya buffer sebesar A6500, tidak punya built-in flash dan mode Panorama. Harga A6600 juga yang paling tinggi yaitu $1400 atau sekitar Rp 19jt.

Kesimpulan

Sony A6100, A6400 dan A6600 (2019) yang memiliki fitur paling mutakhir di tahun 2019. Bisa dibilang mereka adalah generasi ke-2 dari A6000, A6300 dan A6500. Bagi fotografer penghobi yang budgetnya terbatas, Sony A6100 sudah cukup baik, sedangkan untuk content creator seperti videografer, A6400 atau A6600 lebih cocok.

Menurut saya, yang paling worthed adalah Sony A6400, tapi untuk heavy duty user atau profesional, Sony A6600 paling cocok karena lebih tahan banting, fiturnya lebih komplit & baterainya lebih awet.


Bagi teman-teman yang ingin belajar fotografi, atau cara mengoperasikan kamera, silahkan hubungi kami via WA di 0858 1318 3069 atau infofotografi@gmail.com

Tersedia e-book panduan kamera digital kamera Sony dan kamera lainnya. Silahkan periksa halaman ini.

{ 11 comments }

Sony A6600, A6100 dan dua lensa baru

Sony kembali melengkapi lini kamera mirrorless-nya, kali ini yang bersensor APS-C mendapat dua produk anyar yaitu A6100 di segmen basic dan A6600 yang menjadi flagship. Untuk melengkapi jajaran lensa APS-C, Sony juga merilis dua lensa anyar yaitu Sony E 16-55mm G f/2.8 dan Sony E 70-350mm G OSS.

Dari depan sekilas tidak ada bedanya A6100 ini dengan A6000. Memang perbedaan paling utama ada di spesifikasi, bukan di fisik eksternal kamera.
Bahkan di belakang juga masih mirip dengan A6000, bedanya layar LCD-nya kini bisa dilipat hingga menghadap depan untuk vlogging. Apalagi A6100 ini sudah bisa 4K video, meski tanpa mendapat S-log profile.

Sony A6100 menjadi kamera mirrorless bersensor APS-C buatan 2019 dengan ciri layar bisa dilipat ke depan dan juga mendukung touchscreen, selain tentunya ada fitur 4K video. A6100 ini mengisi celah antara A6000 dan A6300, kalau boleh dibilang A6100 ini bisa menjadi pengganti dari A6000 yang sudah cukup lama beredar. Keunggulan A6100 yang diturunkan dari kamera lebih mahal adalah dipakainya sensor dengan 425 titik fokus, sehingga bisa merasakan performa kamera untuk memotret aksi, apalagi memang bisa shoot hingga 11 fps. Sony A6100 akan di jual di kisaran $750 bodi saja. Sama seperti A6000, tidak ada pelindung cuaca (weathersealed) di bodi kamera A6100.

[click to continue…]
{ 1 comment }

Review lensa fix Tamron SP 35mm f/1.4 Di USD

Tamron sebagai produsen lensa dari Jepang sudah punya beberapa produk lensa fix untuk DSLR seperti SP 35mm f/1.8, SP 45mm f/1.8 dan SP 85mm f/1.8 yang tersedia untuk Canon dan Nikon. Tidak puas dengan tiga lensa diatas, Tamron juga akhirnya merilis satu lensa fix 35mm yang bukaannya lebih besar yaitu SP 35mm f/1.4 Di USD. Dari kode namanya dapat dikenali kalau lensa 35mm ini adalah lensa SP yang kualitasnya tinggi, kode ‘Di’ artinya untuk full frame dan ‘USD’ yang artinya motor fokusnya ultrasonic yang cepat dan senyap. Kali ini kami mendapat kesempatan mencoba lensa Tamron SP 35mm f/1.4 (dengan mount Canon) untuk melihat bagaimana handalnya lensa ini untuk berbagai keadaan, termasuk seperti apa bokehnya, auto fokusnya dan tentunya ketajamannya.

Tamron SP 35mm f/1.4 Di USD

Ditinjau dari fokal lensanya, Tamron SP 35mm f/1.4 ini termasuk dalam lensa lebar, meski tentu tidak selebar lensa seperti 28mm atau 24mm. Maka fokal lensa 35mm ini tergolong banyak kegunaannya, untuk dipakai sehari-hari hingga pekerjaan komersial akan banyak bisa mengandalkan fokal 35mm ini. Bila lensa ini dipasang di kamera APS-C, maka fokal lensanya akan ekuivalen dengan lensa 50mm di full frame, jadi boleh saja orang memasang lensa Tamron 35mm ini bila bertujuan untuk menjadi lensa 50mm, dengan memasangnya di bodi APS-C.

Sebagai lensa fix, kami tidak meragukan kualitas optik lensa ini, apalagi Tamron sendiri memiliki kebanggaan atas produk ini sebagai puncak kulminasi kemampuan mereka dalam memproduksi sebuah lensa selama 40 tahun, seperti kata Tamron saat merilis lensa ini: “We want to deliver a perfect image to people who love photography.” Selamat untuk Tamron.. Dengan menyusun 14 elemen yang tergolong sangat banyak untuk sebuah lensa fix (maka itu lensa ini juga tidak bisa dibilang kecil, dengan panjang 10cm dan berat diatas 800 gram) bisa dipercaya kalau Tamron memang sangat serius dalam merancang lensa ini. Elemen tambahan untuk menjaga kualitas foto seperti BBAR II juga diberikan di lensa ini, menjaga timbulnya flare dan ghosting saat memotret melawan cahaya. Bokeh lensa ini juga diklaim lembut dan menarik dengan 9 bilah diafragma yang bulat, dan berjenis elektronik aperture.

[click to continue…]
{ 1 comment }

Canon mengumumkan kamera terbaru EOS 90D dan EOS M6 mk II

Hari ini Canon mengumumkan kehadiran dua kamera baru, yaitu satu adalah produk DSLR Canon EOS 90D (penerus EOS 80D) dan satu lagi adalah produk dari mirrorless APS-C yaitu EOS M6 mk II.

Canon EOS 90D hadir sebagai produk yang mengkawinkan dua segmen DSLR APS-C yaitu segmen semi-pro 80D (yang populer untuk foto dan video) dan segmen pro 7D (populer untuk jurnalis dan sport). Jadi konsep EOS 90D adalah tetap memakai layar lipat putar seperti 80D tapi punya kekuatan bodi dan kecepatan yang mendekati seri pro 7D.

Spesifikasi EOS 90D terbilang cukup menarik dengan sensor APS-C 32 MP yang bisa merekam video 4K, memiliki 45 titik AF, ada joystick, bisa memotret sampai 10 fps, prosesor Digic 8 terbaru meski sayangnya hanya memiliki satu Slot SD card. Dari fisik bodinya meski masih sepintas mirip dengan 80D, pada EOS 90D ini tombol dan pengaturannya lebih banyak, weathersealed lebih ditingkatkan dan bisa menggunakan shutter elektronik.

[click to continue…]
{ 6 comments }

Panasonic Lumix kini memiliki tiga lini kamera mirrorless full frame seri S dengan Lumix S1, S1R dan kini ada S1H. Seri terbaru dengan huruf H ini mengindikasikan kalau produk S1H adalah produk hybrid yang artinya sama mantapnya antara fitur foto dan videonya (meski umumnya kamera hybrid seperti ini akan dipakai lebih condong untuk video, misal Lumix GH5).

Tetap dengan sensor 24MP full frame seperti di Lumix S1, bedanya pada Lumix S1H diberikan low-pass filter untuk menekan moire. Lumix S1H ini mampu merekam video 6K ( 5952 x 3988piksel ) dengan 4:2:2 10 bit internal recording, berbagai format mode anamorphic, Dual gain ISO, dan 14 stop dynamic range dengan V-log dab V-gamut yang sama dengan Varicams (camcorder profesional dari Panasonic).

Secara fisik sensor di S1H ini berkat fitur Dual IS 2 mampu bekerja sama dengan lensa tertentu untuk meredam getaran sampai 6,5 stop sehingga bisa merekam video sangat stabil. Yang menarik di bodi kamera seharga $4000 ini adalah adanya ventilasi udara untuk mencegah overheating, ada layar LCD yang bisa dilipat ke banyak arah, dan ada layar tambahan di bagian atas yang ukurannya sangat besar. Tersedia dual slot SD card dengan dukungan V90 UHS-II, dan berbagai port termasuk mic, phone, HDMI, dan sync. Tujuannya apa lagi kalau bukan untuk memanjakan videografer dalam merekam video dengan durasi lebih dari 30 menit.

Dengan fitur yang sangat profesional ini, Lumix S1H menyasar videografer profesional yang mencari kamera yang terjangkau dan relatif compact dibandingkan dengan kamera Panasonic Varicam.

[click to continue…]
{ 0 comments }

Lensa fix 50mm yang sering dibilang sebagai lensa wajib fotografer, punya beberapa varian di pasaran, misal yang f/1.8 dan f/1.4. Canon sendiri misal punya lensa fix 50mm f/1.8 klasik yang populer dengan harga dibawah 1 juta, yang kemudian di update dengan motor fokus STM dan dijual dibawah 2 juta. Tapi bila anda perlu lensa 50mm f/1.4 maka harga jualnya meningkat drastis, yaitu Canon EF 50mm f/1.4 harganya hampir 6 juta (salah satu kelebihannya karena motor fokusnya USM yang cocok untuk aksi cepat). Yongnuo sebagai produsen lensa alternatif dari China sudah beberapa kali membuat lensa ekonomis yang murah meriah (saya pernah punya Yongnuo 35mm f/2 juga) dan kali ini saya ingin menguji lensa saya Yongnuo 50mm f/1.4 yang pernah saya ulas bagaimana bila diadu dengan Canon EF 50mm f/1.8 STM yang populer. Keduanya didesain untuk DSLR full frame, hanya berbeda sedikit di aperture maksimal nya.

Dua lensa fix 50mm, yang satu Canon f/1.8 dan satu lagi Yongnuo f/1.4

Saya mencoba kedua lensa ini di bodi Canon 70D, yang memiliki sensor 20 MP sehingga bersahabat dengan lensa yang tidak terlalu tinggi resolving power-nya. Lagipula, sangat boleh untuk memasang lensa 50mm di kamera APS-C demi menambah fokal ekuivalen menjadi 75mm yang lebih oke bila ingin foto potret, seperti yang saya lakukan untuk membandingkan kedua lensa di atas. Langsung saja berikut adalah hasil foto dan pembahasannya :

Foto diatas diambil dengan bukaan f/2.8 untuk melihat performa terbaik kedua lensa, alias sweet spot-nya. Tanpa panjang lebar saya katakan kedua lensa menghasilkan foto yang sangat baik di f/2.8 dengan ketajaman tinggi sambil tetap memberi efek bokeh yang cukup blur. Sedikit catatan saya disini Canon memberi kontras dan ketajaman lebih unggul sedikit dari lensa Yongnuo. [click to continue…]

{ 1 comment }