≡ Menu

Merayakan 100 angkatan Kursus Kilat Dasar Fotografi

Tanggal 8-9 Juli 2017 nanti kembali akan diadakan Kursus Dasar Fotografi rutin, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda dan spesial. Tepatnya kursus yang akan diadakan bulan Juli nanti adalah untuk angkatan ke-100, dengan kata lain infofotografi sudah seratus kali mengadakan kursus Dasar Fotografi ini sejak pertama kalinya diadakan tahun 2009 silam.

Spesial? Tentu saja. Kami bersyukur karena bisa konsisten mengadakan kursus ini dan tetap dipercaya oleh banyak orang, terbukti masih banyak saja orang yang daftar bahkan dari luar Jakarta sekalipun.

Kelas Dasar Fotografi tahun 2014 di Roxy

Sekilas mengenang sejarah kursus ini, dulu sepulang dari menempuh pendidikan di Amerika, Enche Tjin memulai kursus ini di sebuah kafe dan awalnya hanya diikuti 3-4 orang saja. Kemudian supaya punya markas tetap, dipilihlah WTC Mangga Dua sebagai tempat kursus yang lebih memadai. Sejak angkatan ke-16 saya diminta bergabung sebagai pengajar, sekitar pertengahan tahun 2010. Mulai 2013 markas infofotografi pindah ke Roxy. Lalu sejak tiga bulan lalu resmi pindah ke lokasi baru di Green lake city, Jakarta Barat. Kursus yang diadakan setiap bulan ini diadakan dua hari (Sabtu dan Minggu), dan setiap angkatan biasanya antara 10-16 orang. Di setiap kursus, Enche menjelaskan tentang eksposur, lensa, komposisi dan lighting, kemudian ditambah dengan sesi praktek bersama.

Kami menerapkan prinsip continuous-improvement dalam metode pengajarannya. Materi kursus bertahap disempurnakan, ilustrasi foto terus diperbaharui dan metode pengajaran dibuat makin beragam. Karena sifatnya adalah crash-course atau kursus kilat, maka penekanan materi lebih ke intisari dan pemahaman dasarnya dulu, selanjutnya peserta kursus bisa ikut kegiatan lain seperti workshop atau tour fotografi yang kami buat. Karena para pengajar punya passion dalam pendidikan maka mengajar kursus terus menerus secara berkala justru terasa menyenangkan, bukan sekedar rutinitas saja.

Nah, untuk mewujudkan rasa syukur kami karena kursus dasar ini sudah mencapai 100 angkatan, kami berencana untuk mengadakan perayaan sederhana pada hari Minggu 9 Juli 2017 mulai jam 4 sore di Green Lake City Jakarta Barat. Acara ini terbuka untuk pembaca maupun alumni Infofotografi.

Di acara yang informal ini, peserta dipersilakan untuk membawa foto-foto untuk sharing pengalaman dan juga untuk diskusi atau menerima masukan dari saya (Erwin) dan Enche, dan alumni lainnya. Acara ini tidak dipungut biaya, tapi harap mengkonfirmasikan kehadiran anda kepada Iesan di 0858 1318 3069 / infofotografi@gmail.com.

Kami berharap agar alumni dan pembaca bersedia mampir supaya acara ini meriah dan bermanfaat bagi semua.

{ 1 comment }

Tujuan saya membeli flash Leica SF 40 untuk kamera Leica SL karena kadang saya membutuhkan flash untuk memotret di dalam ruangan atau saat memotret foto keluarga saat tour foto. Karena kamera dan lensa saya tidak bisa disebut ringan, maka saya sangat senang mengunakan Leica SF 40, karena flash ini berukuran sangat “compact” dibandingkan dengan flash pada umumnya, dan beratnya hanya 203 gram tanpa baterai, 308 gram dengan empat baterai AA.

Flash SF 40 compatible dengan berbagai kamera Leica, diantaranya Leica M, X, S, SL, TL dan Q. Tidak compatible dengan seri D, dan V. Leica tidak membuat flash sendiri, untuk Leica SF 40 ini, modelnya berasal dari Nissin i40 yang membuat flash dalam berbagai versi, untuk Canon, Nikon, Fujifilm, Sony dll. Perbedaan utama SF40 dengan Nissin i40 adalah SF 40 memiliki kaki yang disesuaikan dengan hot shoe Leica, dan fitur yang tersedia selain manual, juga mendukung fungsi TTL dan HSS (di mode A dan TTL).

[click to continue…]

{ 4 comments }

Belum lama ini saya telah mengikuti uji kompetensi untuk sertifikasi profesi fotografi level 3 yang diselenggarakan oleh Leskofi di Cilegon Banten. Sebagai info, sertifikasi adalah agenda pemerintah untuk memberikan pengakuan kepada profesi fotografi supaya lebih kredibel dan juga memudahkan pemberi kerja (klien) untuk menilai kemampuan dari fotografer yang akan dipilihnya. Pemerintah melalui Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menggiatkan program sertifikasi ini melalui Lembaga Sertifikasi Kompetensi Fotografi Indonesia (LESKOFI) yang dibentuk oleh Asosiasi Profesi Fotografi Indonesia (APFI). Kegiatan ini sendiri sudah berlangsung cukup lama dan diadakan bergantian untuk seluruh provinsi di Indonesia.

Uji kompetensi yang saya ikuti adalah level 3 menurut standar KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia) sesuai PP No. 8 tahun 2012. Menurut KKNI, level 3 adalah setara Diploma 1 dan sertifikatnya bersifat Rekognisi Pembelajaran Lampau, yang kira-kira artinya tidak mempermasalahkan apa pendidikan terakhir dari si pemegang sertifikat ini, boleh tamat SD, SMP, SMA atau lainnya. Diharapkan uji kompetensi untuk yang level 5 (setara D3) akan bisa segera terselenggara dalam waktu dekat.

Target di level 3 pada dasarnya adalah menilai kemampuan kita sebagai fotografer secara mendasar, misal memiliki pemahaman teknis yang baik, juga visi bisnis yang profitable. Bila keseharian kita adalah memotret untuk kerja seperti jasa wedding, produk, dokumentasi dan sebagainya maka memiliki sertifikat kompetensi level 3 termasuk sudah cukup memadai. Tentunya untuk bisa memperoleh pengakuan dalam bentuk selembar sertifikat perlu dibuktikan dulu melalui serangkaian uji atau tes. [click to continue…]

{ 8 comments }

Pengalaman mencoba Sony A9

Tanggal 9 Juni 2017 yang lalu saya diundang seorang teman ke acara peluncuran Sony A9. Pengumuman ini cukup mendadak dan saya didaftarkan beberapa hari sebelumnya. Di acara ini saya dan tamu-tamu undangan yang komposisinya fotografer, videografer dan juga dealer Sony.

Dalam acara ini juga disediakan beberapa kamera Sony A9 lengkap dengan lensanya untuk diuji tamu yang hadir. Saya sempat mencoba kamera Sony A9 dengan lensa Sony FE 100-400mm f/4.5-5.6 GM yang baru. Lensa ini cukup besar diameternya dengan berat 1.395 kg dan filter 77mm.

Keunggulan Sony A9 tentunya adalah kecepatan foto yang mencapai 20 foto per detik dengan electronic shutter (bukan mekanik) sehingga tidak ada suara sama sekali. “Tinggal tambah 4 frame lagi sudah jadi video” celetuk Upie Guava, seorang videografer yang hadir juga di acara ini. Kecepatan sistem autofokusnya sangat baik, dapat mendeteksi penari yang bergerak cepat sampai ke ujung frame.

Keunikan sensor A9 adalah bagian 2 adalah integrated memory dan no.3 adalah high speed circuit processing yang membantu kecepatan memproses dan memperpanjang nafas kamera saat memotret berturut-turut.

Saya mencoba memotret kira-kira 400 foto, dan saya perhatikan baterainya hanya drop 3 persen saja. Sepertinya dengan mengunakan electronic shutter dan memotret berturut-turut dapat menghemat baterai. Tapi jika memotret satu per satu sepertinya baterai akan lebih cepat habis, mungkin sekitar 600-1000 foto. Meski demikian, kapasitas baterai yang baru ini kira-kira 2x lebih baik daripada sebelumnya. Akibatnya ketahanan baterai sangat baik meskipun untuk ngechargenya jadi lebih lama.

Saya tidak menemukan gejala overheating atau kamera menjadi panas, tapi hal ini mungkin karena kita memotret di kondisi di dalam ruangan di malam hari.

Memotret dengan electronic shutter tidak menimbulkan suara, tapi kadang fotografer menyukai feedback bahwa foto telah diambil. Maka itu di Sony A9 ada pilihan audio signal on, sehingga setiap memotret kamera akan berbunyi. Selain itu, ada efek kelap kelip framing di layar monitor kamera untuk memberi tanda.

[click to continue…]

{ 12 comments }

Firmware update dan masa depan kamera digital

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan berita gembira bahwa Leica mengumumkan pembaharuan firmware untuk Leica SL dan lensa Leica SL 24-90mm yang saya gunakan hampir setahun yang lalu. Sebelum lebih lanjut, saya ingin menjelaskan apa itu firmware.

Firmware update 3.0 Leica SL, gambar dari Red Dot Forum

Firmware adalah software kecil yang terletak di kamera digital, yang mempengaruhi berbagai fungsi kamera. Firmware di install ke dalam memory internal kamera, dan tidak bisa di ubah atau di hapus oleh pengguna biasa, firmware kadang diubah dengan cara hacking, tapi tidak direkomendasikan karena dapat merusak kamera.

Dulunya, sekitar sepuluh tahun yang lalu, firmware digunakan oleh pembuat kamera untuk memperbaiki bug/error kamera. Tapi dalam beberapa tahun belakangan ini, firmware bukan hanya digunakan untuk memperbaiki bug/error kamera tapi juga menambahkan fitur-fitur baru.

Adanya pengumuman firmware update ini tentunya sangat menguntungkan pengguna, yaitu mendapatkan peningkatan fitur kamera atau kinerja tapi tidak perlu membayar apa-apa karena firmware biasanya disediakan gratis di website resmi pembuat kamera masing-masing. Itu segi positifnya.

[click to continue…]

{ 4 comments }

Mentoring Cityscape Kuningan Jakarta 22 Juni 2017

Sebelum libur lebaran, kami adakan satu kegiatan belajar foto (mentoring) cityscape gedung-gedung di daerah Kuningan Jakarta. Cocok diikuti oleh yang ingin belajar cityscape, nightscape, slowspeed dan longexposure. Bagi yang berpuasa juga tidak perlu kuatir karena kita akan memotret dari sebuah restoran di atap gedung, sehingga bila mau bisa langsung buka puasa di restoran sambil tetap memotret.

Agenda mentoring ini dijadwalkan :

  • hari Kamis, 22 Juni 2017
  • jam 16.30 WIB – selesai
  • tempat di Aston Rasuna Kuningan (depan Epicentrum/Bakrie tower)

Seperti biasa alat yang perlu dibawa tentunya kamera (dengan tali kamera terpasang), lensa (lebar hingga menengah) sedangkan aksesori lain seperti GND filter, cable release dsb adalah opsional. Sangat disarankan untuk membawa tripod yang kokoh dan stabil, mengingat di atas nanti terpaan angin cukup kencang.

Kegiatan ini seperti biasa akan dimentori oleh saya (Erwin M.) untuk bimbingan teknis setting kamera dan komposisi.  Mengingat tempat yang terbatas, bila ingin mendaftar bisa langsung menghubungi 0858 1318 3069. [18 orang maksimal peserta 20 orang].

{ 3 comments }

Tanggal 31 Mei yang lalu, Nikon mengumumkan tiga lensa lebar baru antara lain: Nikon AF-S 28mm f/1.4E ED, Nikon fisheye 8-15mm f/3.5-4.5E dan Nikon 10-20mm f/4.5-5.6G VR.

Ketiga lensa ini merupakan respon Nikon terhadap Canon yang sudah tiga tahun duluan membuat lensa Canon 10-18mm f/4.5-5.6 IS dan 8-15mm fisheye [contoh foto] enam tahun yang lalu. Memang agak terlambat, tapi lebih baik terlambat daripada tidak pernah sama sekali. Kita harus maklum juga kalau perencanaan sampai produksi lensa biasanya memakan waktu sekitar tiga tahun.

Selama ini, saya sering kebingungan saat ditanya lensa lebar Nikon yang terjangkau untuk kamera bersensor APS-C Nikon atau istilahnya kamera DX. Biasanya yang saya sarankan adalah lensa buatan pihak ketiga seperti Sigma 10-20mm, atau Tamron 10-24mm dan Tokina 11-16mm f/2.8 atau 11-20mm f/2.8 jika punya dana yang cukup.

Kini, ada lensa super lebar yang mungil yang murah meriah, kemungkinan sekitar 4.1 jutaan, dan sekilas saya lihat spesifikasinya cukup baik. Sayangnya Nikon 10-20mm ini bukan type E/electronic seperti kedua lensa lainnya. Keunggulan 10-20mm terletak di beratnya hanya 230 gram dan panjang 7.3 cm saja. Cocok untuk pengguna kamera DSLR Nikon pemula seperti seri Nikon D3xxx dan D5xxx. Contoh fotonya bisa dilihat di sini.

Lensa lainnya seperti fisheye dan 28mm biasanya digunakan untuk keperluan khusus. Saya pernah punya Nikon 28mm f/1.8G sebelumnya, dan kualitasnya cukup baik dan ringan (330 gram) untuk street atau human interest. Keunikan lensa lebar berbukaan besar adalah kita bisa sedikit membuat latar belakang/bagian yang tidak fokus blur, sehingga memberikan kesan tiga dimensi yang lebih kuat.

Nikon 28mm f/1.4E yang baru ini lebih menonjolkan kemampuan itu, tapi lebih berat (645 gram) dan harganya cukup tinggi yaitu US$1999. Kemungkinan besar lensa ini akan digunakan untuk pemotretan fashion dan wedding [contoh foto].


Sudah memiliki kamera tapi masih bingung dalam mengoperasikannya? Saya sarankan ikuti kupas tuntas kamera digital kami.

{ 32 comments }

Renungan : apakah tujuan fotografi kita?

Di masa sekarang, siapa yang tak kenal fotografi? Baik fotografi itu sebagai hobi maupun untuk profesi. Fotografi sejatinya adalah proses berkarya dengan kamera dan menghasilkan sebuah foto dan pada dasarnya foto itu sendiri adalah ‘Universal language‘ yang bisa bercerita secara universal, memiliki kekuatan yang tidak bisa tersingkir oleh kemajuan jaman. Namun saat kini siapa saja bisa memotret (minimal dengan kamera ponsel), maka fotografi modern menjadi sangat beragam. Lalu apakah fotografi bagi kita hanya termasuk sekedar taking pictures atau make picture? Snapshot atau berkarya? Apa dengan memiliki kamera lantas bisa dianggap sebagai fotografer? Jawabannya bakal panjang dan saya bukan sedang ingin membahas hal itu.

Saat mengajar di kelas saya kerap bertanya tentang alasan seseorang mempelajari/mendalami fotografi. Kadang jawabannya pun klise, umumnya mereka ingin bisa membuat foto yang bagus. Ya tentu semua orang juga ingin bisa membuat foto yang bagus kan? Bahkan sebagian orang ada yang menganggap bahwa dengan memiliki peralatan (kamera, lensa dll) yang mahal lantas itu akan membantunya mendapatkan foto yang lebih bagus. Betul bahwa kamera yang baik penting untuk seorang fotografer dalam berkarya, tapi mengejar apalagi membandingkan kamera+lensa saja bisa membuat kita lupa akan esensi fotografi. Disini sekali lagi saya tidak mau membahas soal perbandingan alat (gears) dan teknologinya, saya anggap modernisasi fotogafi itu berkah. Alat yang canggih membantu kita dapat foto yang dulu sulit dilakukan, dengan lebih cepat dan mudah. Itu saja.

Swafoto (selfie) makin mudah, berkah dari teknologi untuk generasi muda

Tapi fotografi itu kan bahasannya luas, dan cenderung filosofis juga. Dia berkaitan dengan karakter personal kita, sisi vision dan imajinasi kita, kejelian kita mengamati momen, cahaya, bentuk, warna dan banyak hal. Mendapatkan karya foto yang baik itu adalah buah dari sebuah proses (lucunya di jaman serba instan ini sepertinya banyak yang lebih suka mem-by pass proses), proses yang berulang dan terus berulang, baik itu pembelajaran teori maupun prakteknya. Proses yang bila dijalankan dengan konsisten maka tanpa disadari kita sudah berada di posisi yang lebih tinggi, bukan lagi menjadi seorang yang selalu berkutat dengan kerumitan setting teknis kamera, bukan yang gamang dalam memilih angle dan fokal lensa, atau yang bingung memikirkan mana point-of-interest dan mana background-nya.

[click to continue…]

{ 11 comments }

Setiap tahun kita memotret ratusan, ribuan atau bahkan puluhan ribu foto, tapi pernah gak kita bertanya-tanya, mau diapain lagi nih file-file foto yang memenuhi harddisk?

Maka itu, Infofotografi kali ini mendatangkan Teguh Sudarisman, seorang penulis, editor-in chief majalah in-flight Kalstar dan penulis buku “Travel Writer Diaries 1.0” dan blog TGIF Mag yang mudah-mudahan dapat membantu memberikan solusi kepada kita semua.

Materi yang akan disampaikan

  • Mengapa belajar fotografi hanya ‘awal’ dari perjalanan berikutnya?
  • Mengapa kemampuan bercerita (Storytelling) sangat penting di masa kini
  • Bagi penghobi fotografi, profesi travel writer adalah langkah yang menarik.
  • Seperti apa pekerjaan travel writer?
  • Keterampilan apa yang wajib dimiliki?
  • Peluang dan manfaat materiil/non-materiil yang bisa diperoleh dari profesi ini?
  • Apa langkah-langkah konkrit untuk memulai?

Hari/Tanggal : Sabtu, 22 Juli 2017
Waktu : 13.00 s/d 16.30 WIB
Tempat : Infofotografi, Rukan Sentra Niaga Blok N-05, Green Lake City, Duri Kosambi Jakarta Barat. GPS : 6.1794S 106.7115E
Petunjuk arah dan Peta bisa dibaca di laman ini.

Biaya pendaftaran: Rp 50.000 /orang
Terbuka untuk umum, tempat terbatas (30 peserta) saja.

Pembayaran dapat ditransfer ke Enche Tjin via BCA 4081218557 atau Mandiri 1680000667780 Kalau sudah transfer tolong konfirmasi ke 0858 1318 3069 / infofotografi@gmail.com. Terima kasih atas partisipasinya.

[click to continue…]

{ 0 comments }

Dua tahun belakangan ini, seiring dengan meningkatnya kualitas koneksi internet, mulai banyak fotografer atau videografer Indonesia yang membuat video untuk diunggah di youtube. Konten video bisa bermacam-macam, dari review produk, menceritakan kejadian sehari-hari, atau berbagi pendapat terhadap suatu isu atau bisa juga melaporkan peristiwa. Jika dilakukan secara konsisten, maka istilahnya adalah vlog (video blog) dan orang yang membuat videonya biasa disebut vlogger.

Di Infofotografi, mulai banyak dikalangan generasi muda yang membuat vlog, dan sudah cukup sering ditanyakan di blog ini tentang kamera yang pas untuk vlog ini. Dari pengamatan saya, ada beberapa merk kamera yang cukup serius dalam membuat kamera yang berjenis hybrid, yaitu bisa untuk foto, tapi untuk keperluan video juga diperhatikan. Tiga merk kamera itu yaitu Canon, Sony dan Panasonic.

Mari kita ulas type-type kamera yang cocok untuk vlogger pemula:

Canon EOS M3 – 7.1 juta dengan lensa kit EF-M 18-55mm f/3.5-5.6 IS
Kamera mirrorless yang cukup compact ini memiliki fitur yang disukai vlogger, yaitu punya layar yang bisa di tekuk sampai ke atas 180 derajat, jadi bisa untuk berfungsi sebagai cermin saat merekam foto/video dan touchscreen. Selain itu EOS M3 punya Wifi & NFC untuk mengirimkan foto/video, harganya terjangkau dan ukuran yang tidak terlalu besar. EOS M3 juga memiliki external mic jack, salah satu aksesoris penting untuk vlogger untuk mendapatkan kualitas audio yang bagus. Ingat, setengah dari kualitas dari video tergantung dari kualitas audionya.

Dibandingkan kamera yang lain, EOS M3 belum bisa merekam 4K, tapi terbatas ke Full HD. Namun, untuk tahun 2017 ini, kualitas Full HD sebenarnya sudah mencukupi. Autofokus EOS M3 tidak begitu cepat, dan pilihan lensa EF-M saat ini tidak begitu banyak, meskipun bisa mengunakan lensa Canon DSLR (EF) via adaptor, tapi nanti jadinya ukurannya jadi besar.

Jika memiliki dana lebih, Canon EOS M6 (sekitar 12 juta) boleh dilirik, kamera ini sudah dilengkapi dengan teknologi dual pixel AF, sehingga saat merekam video dengan subjek bergerak lebih mulus dan cepat, kinerja kamera, dan kualitas foto video-nya juga sedikit lebih baik. Untuk videonya sudah juga sudah dilengkapi dengan electronic stabilizer sehingga mengurangi shake/goyangan kamera saat kita merekam video tanpa mengunakan tripod/stabilizer.

Panasonic G7 – 7.8 juta dengan lensa 14-42mm II f/3.5-5.6 OIS
Dari dulu, Panasonic memang terkenal dalam membuat kamera hybrid yaitu praktis untuk foto dan video. Kelebihan G7 yang bentuknya seperti mini DSLR ini adalah layarnya touchscreen dan bisa diputar kesamping (articulating screen) sehingga memudahkan videografer merekam gambar dengan berbagai sudut. Selain itu, kualitas videonya sudah mendukung 4K yang sangat detail dan tajam, dan punya external mic input. Pilihan lensa juga sangat banyak dan beragam, juga memungkinkan memasang lensa sistem lain dengan adaptor. Dengan harga saat ini, G7 adalah kamera yang termurah yang bisa merekam video sekualitas 4K. Seperti kamera mirrorless lainnya, G7 sudah dilengkapi dengan wifi juga.

Kelemahan G7 adalah belum ada stabilizer di body seperti kamera penerusnya Panasonic G85, sehingga sebaiknya saat merekam, kamera ditempatkan di tripod/stabilizer seperti gimbal. Selain itu, kualitas video saat di kondisi sangat gelap sedikit lebih buruk dari kamera bersensor besar yang dimiliki Canon atau Sony. Autofokus pada dasarnya cepat untuk subjek tidak bergerak, tapi akan agak kewalahan jika subjek bergerak terlalu cepat.

Jika memiliki dana lebih, penerus dari G7 yaitu Panasonic G85 (12.8 juta) boleh dilirik, kelebihannya yaitu punya 5 axis stabilizer di body sehingga saat merekam video tanpa tripod juga tetap baik dan tidak bergetar.

Sony A6500 – 18 juta body only
Sony A6500 punya fitur yang cukup lengkap untuk foto dan video, untuk segi videonya, A6500 dapat merekam video sekualitas 4K, autofokus sangat cepat dan tepat untuk subjek bergerak ataupun tidak, juga punya 5 axis-stabilization di dalam body kamera. Tentunya A6500 juga punya external mic input. Kekurangan A6500 untuk video antara lain layarnya tidak bisa ditekuk sepenuhnya ke atas atau kesamping, sehingga menyulitkan untuk selfie, dan harganya cukup tinggi untuk pemula.

Ada pilihan dari Sony yang lebih murah yaitu Sony A6300 (13 juta body only) yang dapat merekam video 4K juga, namun A6300 tidak dilengkapi dengan layar touchscreen dan tidak memiliki stabilizer di body kamera.

Kesimpulan
Bagi pemula yang memang dananya terbatas tapi ingin memulai video dengan kamera mirrorless, Canon EOS M3,M6 boleh dipertimbangkan. Tapi jika kedepannya cukup serius untuk membuat video, terutama yang sifatnya dokumenter ditempat-tempat yang sulit seperti di gunung, hutan dll, maka Panasonic G7, G85, menarik untuk dimiliki karena ukuran kamera dan terutama lensa-lensanya kecil-kecil. Dan bagi yang punya dana cukup besar dan bertujuan dalam merekam video aksi seperti olahraga, satwa liar, tidak salah jika memilih Sony A6300 atau A6500.


Ingin memesan kamera / lensa dari kami? Silahkan hubungi 0858 1318 3069 / infofotografi@gmail.com

Jadwal kursus dan tour fotografi dapat dibaca di halaman ini.

{ 12 comments }