≡ Menu

Sharing & Gathering Infofotografi membahas Fine Art Photography Minggu, 21 Des 2014
Daftar/Info: hub: 0858 1318 3069

Pentingnya memahami keterbatasan

Saat saya kuliah dulu, ada mata kuliah yang menarik bagi saya yaitu Decision Science (Ilmu membuat keputusan). Di kuliah ini, hal yang paling mengesankan bagi saya yaitu cara membuat keputusan yang baik sebenarnya sederhana, yaitu menentukan batasan-batasan (Constraints). Masuk akal juga, kita hidup di dunia yang serba terbatas, dengan membuat banyak batasan, kita ujung-ujungnya akan mendapatkan keputusan terbaik.

Contoh sederhana saja, misalnya akhir tahun ini kita ingin punya kamera, lensa, atau flash baru, bagaimana cara kita untuk memilih yang terbaik? Yang paling penting ditentukan terlebih dahulu adalah batasan budget/dana atau limit kartu kredit yang dimiliki. Tidak ada gunanya mencari kamera yang sesuai keinginan tapi harganya jauh diatas kemampuan kita.

Batasan yang lain mungkin berat, ukuran kamera dan lensa, kecepatan autofokus (penting jika sering memotret subjek bergerak cepat), dan fitur-fitur lainnya sampai menemukan kamera yang sesuai.

Keterbatasan juga bisa membuat foto kita lebih baik dan lebih kreatif. Kenapa bisa demikian? Beberapa bulan terakhir, saya banyak mengunakan kamera compact, dan masing-masing tentunya memiliki kelebihan tapi juga banyak keterbatasannya. Tapi justru dengan menyadari keterbatasan tersebut, saya lebih fokus saat memotret sehingga menghasilkan banyak foto yang saya sukai.

Contohnya kamera saku Ricoh GRD IV yang sensor gambarnya kecil dan lensanya tidak bisa zoom. Saya mengunakan kamera ini saat tour fotografi Kamboja, dan saat itu.saya ingin menghemat tenaga karena sehari sebelumnya saya baru saja selesai hunting foto dengan group pertama.

Mengunakan kamera yang compact membuat saya bisa memanjat cukup tinggi tanpa merasa keberatan dan bisa mencoba komposisi yang berbeda seperti ini. Meskipun gak bisa zoom, saya tidak merasa masalah, malah jadi lebih lega gak usah pusing mau zoom ke berapa, tinggal konsentrasi cari posisi dan komposisi yang menarik.

angkor-thom-gate

Saat saya kuliah dulu, saya jalan-jalan di waktu hujan gerimis dengan payung. Saat berjalan saya melihat pemandangan yang menarik. Untungnya ada kamera compact di kantong sehingga saya bisa lebih mudah mengabadikan sudut ini. Jika menggunakan kamera yang lebih besar, mungkin akan lebih sulit karena perlu dua tangan untuk mengoperasikannya.

bucknell-nostalgic

 

Beberapa bulan terakhir, saya mengunakan kamera Sigma DP2 Merrill. Kamera ini unik karena sensornya Foveon, 3 lapis warna, tidak seperti kamera pada umumnya yang hanya 1 lapis (Bayer). Kualitas warna dan ketajaman sangat baik, tapi kinerja kamera ini sangat buruk. Untuk menunggu proses satu foto saja kira-kira 10-15 detik. Baterainya cuma cukup 25-50 foto (menurut pengalaman pribadi saya), dan lensanya tidak bisa zoom, dan juga tidak ada stabilizer baik di lensa/kamera. Selain itu, ISO 400 keatas itu noisenya sudah banyak dan warnanya pudar,

fall-is-coming

Keterbatasan-keterbatasan kamera Sigma itu membuat saya lebih sabar, seperti saat mengunakan kamera film, saya selalu memotret  diatas tripod dengan ISO 100. Lucunya, beberapa fotografer di lapangan sering melirik dan senyum-senyum, mungkin karena mereka belum pernah lihat kamera semacam ini sebelumnya, atau merasa aneh karena saya memakai kamera sejenis kamera compact tapi pakai tripod yang besar layaknya pakai kamera DSLR.

Memiliki kamera yang punya fitur lengkap itu memang menyenangkan, kita tidak merasa terbatasi dengan kamera kita. Tapi tidak ada batasan juga bisa membuat kita cepat terlena dan tidak fokus. Sehingga tidak mengunakan kamera tersebut dengan potensi penuh. Contohnya misalnya saat memotret di kondisi minim cahaya, karena kita sudah sangat pede dengan kemampuan kamera canggih yang ISO-nya mencapai 8 digit, maka kita dengan pedenya mengunakan ISO tinggi tanpa mengunakan flash dan/atau tripod. Akibatnya hasil foto banyak noisenya, warnanya jelek dan kalau foto orang, tidak tajam dan sebagian tertutup bayangan.

Dengan kamera pemula atau canggih sebenarnya tidak masalah, jika kita memahami keterbatasan kamera kita dan fokus ke keunggulannya, maka hasil foto kita juga bisa bagus dan menarik.

telaga-remis

{ 5 comments }

Penggunaan Dua Flash untuk Portrait Photography

Pada postingan sebelumnya kita telah membahas memaksimalkan satu flash untuk menciptakan dimensi foto. Kali ini kita akan bahas penggunaan dua flash. Mungkin sebelum kita lanjutkan lebih jauh, ada yang bertanya kapan waktunya kita gunakan hanya satu flash ? dan kapan saatnya kita gunakan dua flash atau lebih? Hayo, yang merasa mau bertanya seperti itu harus komentar diakhir tulisan ini ya :)

Sebenarnya penggunaan satu flash, dua flash dan seterusnya itu tergantung dari pencahayaan seperti apa yang kita inginkan, jika menurut kita cukup dengan satu flash saja silahkan, demikian seterusnya. Saya pribadi biasanya memulai dengan menganalisa arah cahaya matahari (jika pemotretan outdoor) atau arah cahaya lampu ataupun cahaya matahari dari jendela (jika pemotretan indoor) terlebih dahulu. Jika available light cukup untuk pencahayaan yang saya inginkan, maka saya tidak menggunakan flash atau cahaya tambahan lain, namun jika belum cukup dengan available light maka saya akan menambahkan satu flash dulu, lalu jika masih kurang nambah satu lagi dan seterusnya.

Kita kembali deh pada konsep pembuatan foto yang berdimensi, penggunaan flash adalah salah satu cara membuat foto menjadi lebih berdimensi, bukan hanya sekedar untuk menerangi objek saja. Jika kita melihat foto kita menjadi dua bagian, yaitu bagian foreground dan background, maka untuk membuat foto menjadi lebih berdimensi, kita harus bisa memberikan ruang tersendiri antara foreground dan background  dan kita bisa melakukan itu dengan tambahan cahaya dari flash atau juga dengan DOF.

Sebagai contoh foto ini terlihat cukup berdimensi karena antara model sebagai foreground terlihat lebih memisah dengan backgroundnya karena adanya cahaya rim light disisi samping arah belakangnya. Model terlihat lebih “pop up” dengan adanya cahaya dan bayangan yang diinginkan.

Nikon D90 AF-S 18-105mmVR, ISO-200,F/5,1/200

 

Untuk kedua foto diatas saya memotret menggunakan Nikon D90 dengan lensa Kit-nya AF-S 18-105mmVR di FL 18mm dan data Exif-nya sama yaitu  ISO 200, F/5 dan speed 1/200.Posisi lighting yang saya gunakan adalah sebagai berikut :

www.lightingdiagrams.com

 

Saya menggunakan dua Reflektor Softbox seperti dikanan atas. Kekuatan cahaya atau power dari flash ini juga sangat mempengaruhi hasil, biasanya jika menggunakan dua flash dengan posisi seperti ini saya akan memulai setting power flash depan banding flash belakang adalah 1:2. Misalnya jika power flash depan saya set 1/16, maka untuk posisi belakang saya set 1/8. Ini hanya patokan awal, karena tidak ada rumus pasti dalam fotografi mengenai setting flash maupun setting kamera sekalipun. Dengan patokan awal ini saya nanti akan mengurangi arau menambahkan power sehingga hasilnya sesuai dengan yang saya inginkan.

Jika pada foto 1 diatas pengambilan foto dilakukan diruang terbuka dan latar belakangnya adalah ruang terbuka juga, maka foto berikut saya ambil didalam ruangan dengan latar belakang adalah sebuah dinding.

Nikon D90 AF-S 18-105mmVR, ISO-200,F/5,1/200

Posisi lighting yang saya gunakan mirip dengan pada foto 1, sebagai berikut :

www.lightingdiagrams.com

 

Saya tetap menggunakan dua Reflector Softbox yang didalamnya saya gunakan flash. Kali ini Power Flash yang saya gunakan didepan 1/32 dan belakang 1/16, namun dengan jarak flash ke model lebih dekat daripada Foto-1. Hal ini karena saya lebih fokus untuk memotret wajah modelnya.

Nah disini kita semua dapat menilai dan membandingkan bahwa power yang saya gunakan saat outdoor jauh lebih besar dibanding saat indoor. Hal ini karena available light untuk outdoor juga lebih besar, sehingga butuh power dari flash yang lebih besar untuk mengatasi available light.

Semoga tulisan ini cukup membantu dalam memahami dan menginspirasi untuk lebih mempelajari lightingdalam fotografi, tulisan ini merupakan rangkaian dari tulisan pertama yang membahas mengenai Pemotretan Strobist Outdoor dan Memaksimalkan penggunaan satu flash untuk membuat foto menjadi lebih berdimensi.


Salam,

Purnawan Hadi

www.purnawanhadi.com

https://plus.google.com/u/0/+PurnawanTaslim/posts

{ 16 comments }

Review Flash murah tapi canggih dari Shanny

Flash external biasanya tidak murah terutama yang fiturnya lengkap dan canggih. Tapi perusahaan yang relatif baru asal Cina ini berhasil membuat flash yang canggih dengan harga yang relatif terjangkau. Beberapa waktu yang lalu, saya dikirimkan sebuah produk flash untuk di review. Nama flashnya adalah Shanny 600SC. Harga flash ini cukup terjangkau yaitu hanya Rp 1.350.000 – Rp 1.750.000 (tergantung jenis flash).

shanny-sn600sc-01Fitur flash ini compatible dengan sistem kamera Canon sesuai dengan namanya yang memiliki huruf “C”. Kalau yang Nikon, memiliki huruf “N.” Dari power/kekuatan, Shanny 600SC ini disetarakan dengan kamera paling canggih Canon saat ini yaitu Canon 600RT. Dari fiturnya juga kurang lebih sama, bedanya 600SC belum ada RT-nya (Radio Transmission).

Dilihat sepintas, desain body Shanny 600SC memang menyerupai desain antar muka flash Canon. Sepertinya desain ini dibuat dengan sengaja untuk membidik pengguna sistem kamera Canon yang mencari alternatif flash yang lebih terjangkau harganya. Kelengkapannya cukup standar, yaitu sarung flash, kaki bebek, dan panduan pemakaian, tapi tidak ada diffuser atau filter warna. Kualitas bahan kamera ini cukup baik yaitu dari bahan plastik dan terasa cukup kokoh seperti flash lain pada umumnya.

Kekuatan flash ini GN 62 di 200mm, kurang lebih setara dengan flash kelas atas dari Canon, Nikon dan Sony. Menurut pengujian saya, kecepatan recycle time tergantung dari baterai yang dipasang. Jika memasang baterai yang masih segar, maka kecepatan recycle time bisa mencapai dua detik, tapi jika baterai yang dipasang sudah mau habis, atau berkualitas kurang baik, recycle time bisa mencapai 3-4 detik.

Layar LCD flash Shanny terang dan mudah dilihat. Pengoperasian juga mudah berkat kelengkapan tombol dan huruf/angka di layar yang sangat jelas

Layar LCD flash Shanny terang dan mudah dilihat. Pengoperasian juga mudah berkat kelengkapan tombol dan huruf/angka di layar yang sangat jelas

Konsistensi flash ini cukup baik dalam pengujian. Saya memotret terus menerus 20 kali dalam jeda waktu sekitar 5 detik, dan flash tetap bisa terus menyala dengan kekuatan penuh. Kabarnya, flash ini lolos tes uji 3000 kali foto dengan kekuatan penuh dengan jeda 15 detik setiap flash.

Sampai saat ini, Shanny membuat beberapa flash untuk kamera Canon dan Nikon. Jenis-jenis flash yang available antara lain:

  1. SN600SC (yang saya review di tulisan ini) – Bisa jadi master/commander atau jadi slave. Harga Rp 1.750.000
  2. SN600S – dirancang untuk menjadi slave, cocok untuk pengguna kamera Canon . Harga Rp 1.350.000
  3. SN600N – dirancang untuk compatible dengan i-TTL Nikon saat dipasang di atas kamera. Harga Rp 1.350.000

Kekuatan dan desain kamera SN600N/C sangat mirip. Bedanya harganya lebih terjangkau lagi (Rp 1.350.000) tapi:

  1. Tidak ada mode wireless master
  2. Tidak ada mode slave i-TTL Nikon atau e-TTL Canon (yang ada slave biasa/S1,S2)
  3. Tidak ada kantong flash/soft pouch
  4. Tidak ada dukungan pembaharuan firmware

Untuk penggemar fotografi dan fotografer yang suka mempraktikkan strobist (mengunakan beberapa flash untuk memotret produk, benda, portrait), membeli flash yang semerek dengan kamera bisa jadi terasa harganya terlalu tinggi. Jika satu flash saja, selisihnya sekitar 4-5 juta, tapi kalau kita butuh 5 flash, harganya bisa beda sekitar 20-25 juta. Wow.. besar bukan? Dengan adanya flash dengan harga yang terjangkau seperti dari Shanny ini, berita bagus bagi penggemar fotografi atau profesional yang memiliki budget terbatas.

Bagi yang sekedar motret untuk dokumentasi keluarga, hobi foto jalan-jalan, atau foto-foto still life, dan hanya berencana untuk mengunakan satu flash saja, flash SN600C atau SN600N sudah cukup.

Tinjauan fitur dan tombol Flash ini bisa ditonton di video dibawah ini:

[click to continue…]

{ 10 comments }

Kesan pertama dengan Sony A7 mk II

Kamis lalu (11/12/14), saya diundang untuk menghadiri launching kamera Sony A7 mk II regional Asia Tenggara di Gardens by the bay, Singapura.

Dari acara ini saya berkesempatan mendengarkan dengan detail tentang kelebihan kamera baru ini dan sempat mencobanya. Di acara ini juga dipajang berbagai lensa baik yang sudah beredar maupun yang dalam tahap perencanaan.

Kesan pertama saya terhadap Sony A7 mk II cukup positif, dari perubahan grip yang lebih besar sehingga lebih nyaman saat memotret. Selain itu, adanya in-body stabilization membuat saya lebih pede saat perlu foto dengan shutter speed lambat di kondisi low-light.

sony a7 mk II

Grip A7 mk II yang baru dan tombol shutter yang maju ke depan membuat genggaman jadi lebih mantap. Fisik kamera juga lebih kokoh dan doff karena dari magnesium alloy.

Tekstur body kamera sedikit lebih kasar dan doff daripada A7.

Tekstur body kamera sedikit lebih kasar dan doff daripada A7.

Beberapa informasi yang saya kumpulkan untuk dalam launching acara ini:

  • In body stabilization 5 Axis adalah headline untuk A7 mk II. Mekanisme ini efektif bekerja untuk semua lensa Sony FE, tapi hanya 3 axis untuk lensa-lensa lainnya.
  • Image stabilization tidak sama dengan mekanisme Steadyshot di Sony SLT, dan tidak ada kolaborasi dengan insinyur merk kamera lain. Mekanisme ini dikembangkan sendiri oleh insinyur Sony dari divisi kamera dan Sony handycam dari nol.
  • Mekanisme stabilization sangat mulus dan tidak bersuara
  • Image stabilization tidak berefek banyak ke konsumsi tenaga/baterai (low power consumption)
  • Kinerja autofokus untuk mengikuti subjek bergerak lebih baik, dan juga saat motret di low light dibandingkan A7 dan A7R, (tapi Sony A7s masih lebih baik kinerja AFnya di low light)
  • A7 mk II mendapatkan fitur setting video seperti A7s (picture profile, S-log Gamma2, format XAVC-S, dll).
  • Kualitas gambar tidak terlalu disinggung tapi termasuk salah satu poin peningkatan.
  • Beberapa lensa yang akan diluncurkan tahun depan juga dipajang dummy-nya, yaitu Sony 24-240mm f/3.5-6.3 OSS. Sony Zeiss 35mm f/1.4, dan Sony 28mm f/2 dengan converter wide angle dan converter fisheye.
  • Lensa 35mm f/1.4 akan punya aperture ring seperti lensa jaman dulu
  • Harapan saya, lensa 28mm f/2 performanya bagus meskipun tidak berlabel Zeiss. Ukurannya relatif compact (hanya sedikit lebih besar dari FE 35mm f/2.8) tapi bukaannya cukup besar.
  • Lensa Zeiss Loxia juga dipajang, ukurannya cukup compact tapi cukup padat dan berat (bahan logam).
Kiri: Sony 35mm f/1.4 yang ukurannya agak besar (tidak bisa dihindari kalau bukaannya besar + ada aperture ringnya). Dan Sony 28mm f/2

Kiri: Sony 35mm f/1.4 yang ukurannya agak besar (tidak bisa dihindari kalau bukaannya besar + ada aperture ringnya). Kanan: Sony 28mm f/2 yang cukup mungil.

Sony A7S dengan Zeiss Loxia 35mm f/2

Sony A7S dengan Zeiss Loxia 35mm f/2

Menurut saya, Sony A7 mk II ini hampir sempurna sebagai kamera serba guna, yang mampu membuat kualitas gambar dan video berkualitas, dengan fisik yang relatif compact. Yang paling senang dengan kehadiran kamera ini mungkin adalah fotografer travel yang sering motret di kondisi low light seperti malam hari, atau di dalam ruangan, tanpa tripod dan flash.

Meskipun diberi kesempatan untuk mencoba A7 mk II terutama image stabilizationnya, tapi karena waktunya terbatas, saya belum mencoba secara tuntas. Saya akan mengulas lebih banyak dan hasil pengujian saya jika A7 mk II sudah available nanti.

Harga Sony A7 mk II diperkirakan Rp 21 juta dan baru akan tersedia di Indonesia bulan Januari 2015.

Terima kasih kepada Sony Indonesia yang telah mengundang saya dan beberapa teman fotografer dan sinematografer Indonesia.

Kontingen Sony Indonesia

Kontingen Sony Indonesia

 

{ 5 comments }

Membuat efek Stroboscopic dengan flash/ lampu kilat

Selain berfungsi sebagai cahaya tambahan dengan teknik on shoe kamera maupun off shoe kamera (Creative Lighting System/ CLS) atau dalam istilah gaulnya strobist. Lampu kilat/flash juga dapat difungsikan untuk membuat efek-efek yang menarik di dalam fotografi.

Dalam tulisan kali ini, saya akan berbagi kepada pembaca infofotografi untuk menciptakan efek stroboscopic dengan flash. Untuk menciptakan efek ini kita memang memerlukan flash tipe tertentu dari berbagai merek yang ada. Karena tidak semua flash/ lampu kilat memiliki fitur/ mode yang bisa kita gunakan untuk menciptakan efek ini.

contoh-multi-flash

Beberapa flash yang mempunyai mode untuk bisa menciptakan efek ini antara lain: Canon 580 ex ii, Canon 600 EX RT, Nikon SB 900, Nikon SB 910, Sony HVL 43, HVL 60 dan beberapa tipe dari merek Yongnuo.

Nama mode dalam flash untuk menciptakan efek ini dikenal dengan istilah repeat (disingkat RPT) pada Nikon dan Multi pada Canon dan Yongnuo. Fungsi dari RPT/ MULTI pada flash adalah flash mampu menyala beberapa jika kita pencet tombol pilotnya meski hanya sekali. Dan Jika dipasang pada hot shoe kamera kita, flash akan menyala beberapa kali jika kita menekan sekali tombol shutter kamera kita (Note: pakai speed yang relatif lambat untuk mencobanya)

Cara setting mode MULTI/ REPEAT (RPT) pada flash

  • Pada flash Canon/ Yongnuo : pencet mode dan pilihlah mode MULTI.
  • Pada flash NIKON: pencet mode dan pilihlah mode REPEAT (RPT)

Setelah dipilih pada mode tersebut, pada lcd flash kita akan muncul gambar seperti contoh di bawah. (contoh memakai flash merek Yongnuo)

multi-rpt-flash-setting

Contoh tampilan LCD Flash.

Pada LCD flash diatas terdapat dua angka berjajar yang masing-masing diikuti dengan tanda X dan Hz. Angka yang diikuti tanda X menandakan flash akan menyala beberapa kali sesuai dengan angka yang ada di LCD. Misal angka dipilih di 5X, maka flash akan menyala sebanyak 5 kali dalam sekali pencet tombol pilot atau shutter kamera (sekali lagi gunakan speed lambat agar rentang nyala flashnya terekam.)

Sementara angka yang diikuti dengan Hz adalah menandakan jarak jeda/ kerapatan dari nyala pertama ke nyala kedua dst sampai dengan angka pada tanda X mau ditembakkan berapa kali. Semakin tinggi angka pada HZ, akan semakin rapat jarak antara 1 nyala flash ke flash berikutnya. Semakin rendah angka pada Hz akan semakin renggang jarak nyala flashnya.

Berikut beberapa tips untuk membuat efek stroboscopic:

  1. Memotretlah dalam keadaan low light atau gelap sekali.
  2. Gunakanlah background hitam atau latar belakang yang pekat. (malam hari)
  3.  Objek/ model harus melakukan gerakan yang signifikan agar pola pergerakan/ jejaknya
  4. dapat terekam dengan jelas.
  5. Gunakan speed lambat untuk bisa merekam pergerakan objek. Secara logika kita membutuhkan rentang waktu yang pas agar nyala flash yang beberapa kali bisa terekam kamera kita. (misal: kita set angka di flash pada 8X dan 4 Hz, maka kita akan membutuhkan waktu sekitar 2 detik ( 8 bagi 4 )pada kamera kita agar mampu merekam nyala flash sebanyak 8X tersebut).

Note: shutter kamera yang lambat diperlukan untuk merekam pergerakan objek. Sementara nyala flash diperlukan untuk membekukan pergerakan objek.

Berikut terlampir beberapa contoh lain:

multi-flash-contoh

contoh-repeating-flash

Selamat bermain dan Salam Fotografi.

Penulis, Albertus Adi Setyo adalah fotografer profesional yang bergerak di bidang commercial photography.

Selain itu juga mengajar di kelas Creative lighting dengan flash yang mempelajari setting flash dan mengunakan flash untuk berbagai kondisi dan situasi seperti liputan, foto portrait, special effect, still life, dan sebagainya. Teknik diatas juga akan dipraktikkan.

{ 2 comments }

Sharing & Gathering : Fine Art Photography

Apa yang terlintas di pikiran kita ketika mendengar Fine-art, apakah ini adalah sebuah aliran seni baru dalam fotografi? atau itu adalah sebuah teknik dalam fotografi?

tandika-cendrawanFine-art fotografi terdengar asing di telinga kita dan terkesan membuat jarak antara aliran fotografi yang lainnya. Tidak dipungkiri kebanyakan orang kurang mengenal apa itu Fine-art photography, bahkan mereka mungkin tidak mengetahui bahwa karya yang mereka lihat sehari-hari atau karya yang mereka buat itu adalah sebuah Fine-art.

Banyak yang beranggapan sebuah seni karya yang bagus adalah berdasarkan apa yang ada, bukan dari apa yang kita rasakan, melalui fine art photography, seniman mempunyai sikap individu untuk membuat sebuah karya. Fine art diibaratkan story telling, menceritakan akan suatu hal. Seorang seniman dapat menceritakan tentang apa yang mereka rasakan, mencurahkan perasaannya melalui sebuah foto, emosi, senang dan sedih.

Pandangan dia terhadap orang lain dan sekitarnya. Melalui pengalaman pribadi, teman atau orang disekitarnya, Ini dapat menjadikan sebuah dasar dari tercipta Fine-art photography. Melalui apa yang dirasakan seniman, dia mengungkapkannya dalam sebuah foto yang bercerita.

Materi yang dipelajari :

  • Inspirasi
  • Pengkomposisian sebuah foto
  • Cerita dan konsep dibaliknya

Acara sharing & gathering ini akan diadakan

Hari Minggu, tanggal 21 Desember 2014

Biaya pendaftaran : Rp.50.000,-
Waktu : 13.00 – selesai
Tempat: Jl. Moch. Mansyur No. 8B2, Jakarta Pusat 10140 sebelah MNC Bank, dekat perempatan Roxy (Hasyim Ashari).

Tempat terbatas (30 orang)

Pembicara: Tandika Cendrawan, Mahasiswa Desain komunikasi Visual.

Cara Mendaftar :

1. Transfer bank atas nama Enche Tjin

via Bank BCA : 4081218557, via Bank Mandiri : 1680000667780

2. Konfirmasi melalui e-mail

(email : infofotografi@gmail.com), sms atau telepon 085813183069 atau 085883006769 dengan menyertakan nama peserta dan nama penyetor.

3. Datang di hari workshop sesuai dengan jadwal yang tercantum.

Sampai jumpa nanti!

Poster-fine-art-photography

{ 0 comments }

Bahas foto : editing untuk street photography

Foto dibawah ini saya buat saat workshop photography ke pasar lama Tangerang. Saat “blusukan” ke gang-gang dibelakang pasar, saya menemui rumah yang cukup berkarakter. Jendelanya bercat kuning (warna favorit saya), dan temboknya biru. Saat mengintip melalui jendela, saya melihat ada seorang nenek sedang duduk di dalam.

Masalah klasik fotografi yang saya alami adalah pencahayaan yang kontras di luar ruangan yang diterangi oleh cahaya matahari dan di dalam yang diterangi oleh cahaya lampu rumah. Akibatnya hasil foto di layar LCD, bagian dalam rumah terlihat sangat gelap.

DSC07599-3

Tapi menurut pengalaman dan pengetahuan saya, saya bisa memulihkan daerah gelap tersebut di Lightroom jika saya mengunakan image quality = RAW. Kemudian di Lightroom, saya bisa menerangkan bagian yang gelap dengan mengunakan adjustment brush.

Di sesi review, saya mencoba memulihkan daerah yang gelap tersebut dan ternyata bisa dan terlihat lebih jelas.

Ada dua pin kendali yang saya buat.

Pertama, pin untuk menerangkan bagian dalam ruangan secara keseluruhan. Setting exposure +0.33 seperti yang terlihat panel sebelah kanan. Warna merah menandai daerah yang saya edit.

editing-01

Kedua, pin untuk menerangkan ruangan terdalam. Karena ruangan dalam jauh lebih gelap, saya perlu menaikkan exposure hingga 1.2 stop dan juga menaikkan setting-setting lain supaya pencahayaan lebih seimbang dengan yang diluar.

editing-02

Hasil akhirnya seperti ini: Foto bisa diklik untuk tampilan lebih besar

Yang saya sukai dari foto diatas adalah memberikan kesan tiga dimensi dalam media dua dimensi. Adanya nenek yang duduk memberikan kehidupan dalam foto ini. Nenek tersebut juga mengenakan sarung yang sama dengan yang digantung memberikan kesan pola warna yang menarik.

Jadi, editing bisa sangat membantu untuk mendapatkan hasil foto yang seimbang terang gelapnya, seperti kasus diatas (street photography/interior), dan juga untuk foto pemandangan.

—————–
Belajar software Adobe Lightroom bisa melalui workshop 1 hari.

Atau bisa juga belajar dengan mengunakan buku panduan langkah demi langkah belajar Adobe Lightroom.

Untuk mendaftar atau memesan bisa hubungi 0858 1318 3069

{ 7 comments }

Kamera DSLR dan mirrorless terbaik 2014

Akhir tahun telah tiba lagi, dan seperti biasanya, saya akan mengulas beberapa kamera DSLR dan mirrorless terbaik di tahun 2014. Kamera yang terbaik bagi saya adalah kamera yang dari spesifikasinya tinggi dan inovatif, melebihi banyak kamera lainnya, juga ada beberapa kamera yang saya nilai sangat baik, dengan harga yang sangat pantas (worthed).

sony-a6000

Sony A6000

Kamera mirrorless ini fleksibel untuk foto apa saja, dengan fisik yang relatif mungil dan juga harga yang relatif terjangkau. Inovasi A6000 adalah autofokus hybrid yang bisa tracking subjek bergerak dengan cepat. Dahulu, masalah kamera mirrorless dibandingkan dengan kamera DSLR adalah kecepatan autofokus untuk subjek bergerak. Sejak adanya Sony A6000, DSLR dan mirrorless sudah bisa disetarakan di sektor kinerja AF. Baca Reviewnya disini.

nikon-d810

Nikon D810

Mengapa? Salah satu kamera dengan resolusi paling tinggi di kelasnya saat ini yaitu 36 MP tanpa AA filter. D810 memiliki mekanisme mirror dan shutter yang lebih lembut dari pendahulunya sehingga mengurangi getaran saat memotret. D810 adalah kamera yang secara keseluruhan bagus dan multifungsi untuk motret apa saja bisa dan didukung oleh lensa F-mount Nikon yang sangat banyak. D810 adalah kamera pilihan banyak fotografer profesional top saat ini. Pastikan memasang lensa berkualitas tinggi supaya hasilnya maksimal.

samsung-nx1

Samsung NX1

Sebagai kuda hitam, Samsung harus bekerja jauh lebih keras dan membuat kamera dan yang jauh lebih bagus daripada pesaing-pesaingnya supaya dianggap lebih serius. Samsung NX1 memiliki sensor termutakhir saat ini dengan APS-C BSI (Back Side Illuminated) 28 MP. Resolusi ini adalah yang paling tinggi dikelas APS-C saat ini. Memotret di ISO tinggi tidak masalah untuk NX1. Kecepatan foto berturut-turut kamera ini juga dashyat, yaitu 15 foto perdetik, melewati berbagai kamera DSLR dan mirrorless yang ada saat ini.

Samsung secara cerdik memanfaatkan berbagai teknologi yang dimilikinya, salah satunya teknologi wireless. NX1 dilengkapi dengan koneksi Wifi yang mudah dan cepat via protocol  802.11ac dan juga mendukung bluetooth dan NFC. Untuk penggemar video, NX1 bisa merekam video sekualitas 4K tanpa aksesoris tambahan. Layarnya super AMOLED yang sangat jelas saat dibawa keluar ruangan karena anti-pantul, dan bisa disentuh (touchscreen). Memang kita tidak bisa menutup mata bahwa Samsung NX1 merupakan kamera digital dengan teknologi tinggi yang lengkap untuk ukuran tahun ini.

nikon-d3300-red

Nikon D3300

Jangan remehkan ukuran fisik yang relatif kecil ini dan warna merah seperti kamera mainan, karena di dalamnya bersemayam sensor kualitas tinggi 24MP tanpa filter AA sehingga hasilnya sangat tajam dan kaya detail. Kamera DSLR untuk pemula ini ukurannya relatif kecil dibandingkan dengan kamera DSLR pada umumnya, harganya relatif terjangkau. Lensa kitnya juga compact dan bisa fokus relatif dekat untuk foto close-up/makro.

leica-medition60

Leica M Edition 60

Yang ini lebih termasuk kamera digital ter-aneh dan juga tertinggi harganya he he he… Kamera ini tidak memiliki layar LCD untuk meninjau gambar yang diambil, dan juga gak ada menu untuk mengganti setelan kamera. Bikin penasaran bukan? Di bagian belakang kamera, cuma ada kenop berbentuk bulatan untuk mengganti nilai ISO.

—–

Kurang lebih itulah kamera-kamera yang menarik perhatian saya. Memang banyak sekali kamera digital yang lain yang bagus-bagus, tapi banyak diantara mereka tidak memiliki inovasi baru yang berarti (peningkatannya sedikit demi sedikit saja).

Selamat berbelanja dan berkemas untuk liburan akhir tahun ini. Kalau akhirnya memutuskan untuk beli Leica M edition 60, jangan lupa pinjemin saya untuk mengujinya he he he.. :)

{ 23 comments }

Dalam berbagai percakapan antara sesama fotografer seringkali dimunculkan topik bagaimana membuat foto menjadi lebih berdimensi, dan biasanya setelah itu akan berlanjut pembicaraannya mengenai penggunaan flash maupun lampu studio untuk membuat sebuah foto tersebut menjadi lebih berdimensi.Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan foto yang berdimensi? Jawaban sederhana dari pertanyaan tersebut adalah foto tidak flat/datar serta tidak membosankan. Kalau mau jawaban detailnya, hmmmm… saya susah mengungkapkan, tapi bisa merasakannya. Hehehe… Karena saya bukan seorang fotografer akademisi, mari kita coba membahas sedikit dan berbagi sedikit tips praktis untuk hal ini.

Banyak cara membuat foto tersebut terlihat lebih berdimensi, salah satunya adalah dengan memperhatikan pencahayaan. Selain penggunaan cahaya yang ada (available light), umumnya fotografer menggunakan tambahan artifisial light berupa lampu studio atau speed light yang dikenal juga dengan istilah Flash. Penggunaan flash ini biasanya lebih mudah dan efisien, orang menyebut dengan nama teknik Strobist dan dalam satu pemotretan jumlah flash yang digunakan bisa beragam jumlahnya, bisa satu, dua, tiga hingga lebih untuk membuat foto sesuai dengan yang diinginkan.

Agar lebih sederhana dan mudah dimengerti, saat ini saya mau coba berbagi dengan cara membahas foto yang dibuat dengan bantuan satu flash saja terlebih dahulu.

1. Penggunaan satu flash dengan bantuan Umbrella transparant

 Seperti pada tulisan saya terdahulu, hal pertama yang saya lakukan saat akan memulai pemotretan adalah mengamati kondisi cahaya matahari. Lokasi pemotretan ini berada pada tempat yang cukup teduh dan terlindung dari cahaya matahari langsung. Dengan kondisi demikian saya memutuskan untuk menggunakan tambahan Umbrella transparant (shoot-through umbrella) pada flash, payung ini sangat sakti untuk melembutkan cahaya flash dan lebih praktis penggunaannya untuk strobist.

Foto 1. Penggunaan satu flash dengan bantuan Transparant Umbrella

Photo By : Purnawan Hadi

Posisi flash dapat dilihat pada Lighting Diagram dibawah ini. Power pada flash sekitar 1/4 dengan zoom 35mm, sehingga cahaya flash menyebar secara cukup merata ke model dan lingkungan sekitarnya.

www.lightingdiagrams.com

Nikon D90 – AF-S 18-105 VR, ISO-400, F/5, speed  1/200,  Spot Metering

Karena saya menggunakan trigger dengan tipe non HSS, speed maksimal yang dapat dibaca oleh recievernya adalah 1/200. Jadi  saya patok settingan speed pertama kali adalah 1/200. Kemudian saya mencoba mengatur bukaan Diafragma. Mungkin berbeda dengan teman teman lain yang suka memotret dengan lensa bukaan besar seperti F/1.4 atau F/1.8, saya pribadi menyukai bukaan diafragma antara F/8 hingga F/16, sehingga nyaris semua komponen di foto saya menjadi tajam dan saya membentuk dimensinya menggunakan cahaya flash. Karena kondisi sangat teduh dan terlindung pepohonan, saya hanya bisa mendapatkan F/5 itupun dengan ISO-400. Tapi menurut saya ini cukup dapat detailnya, seperti pada foto diatas.

2. Penggunaan satu flash dengan Reflector bawaan.

Pada foto berikut saya ingin menunjukkan hasil pemotretan satu flash dengan menggunakan reflektor bawaan, bentuknya bisa dilihat pada foto Light Diagram dibawah ini.

Foto 2 .Penggunaan satu flash dengan Refletor bawaan

Photo By : Purnawan Hadi

Foto ini saya ambil sekitar jam 5 sore dengan posisi pencahayaan berada dalam bayangan dinding, sehingga cahaya matahari tidak menyinari model secara langsung, sehingga dengan cahaya yang masih agak terang saya memutuskan tidak menggunakan payung seperti pada foto 1. Terilhat karakter cahaya yang dihasilkan sedikit lebih keras daripada foto pertama diatas.

www.lightingdiagrams.com

Nikon D90 – AF-S 35mm 1.8, ISO-200, F/5.6, speed  1/160,  Spot Metering

Flash di set dengan power sekitar 1/8 dengan zoom 50mm, flash tidak saya arahkan langsung ke model namun pada tumbuhan yang ada dilatarbelakang model. Dengan zoom 50mm, sebaran cahaya masih cukup lebar untuk menerangi model yang berada pada sisi agak kekanan. Settingan yang saya gunakan untuk ini adalah ISO-200, F/5.6, speed  1/160,  menggunakan lensa AF-S 35mm 1.8.

3. Penggunaan satu flash tanpa aksesoris lain.

Pada contoh kali ini pemotretan dilakukan dengan cahaya matahari yang sangat keras. Bisa dilihat pada bagian kanan foto yang over karena cahaya matahari. Saya menggunakan cahaya matahari yang cukup keras ini sebagai rim-light.

Foto 3 . Penggunaan satu flash tanpa aksesoris lain

Photo By : Purnawan Hadi

Kita harus sebisa mungkin memaanfaatkan serta memaksimalkan kondisi cahaya matahari ataupun cahaya yang tersedia untuk membuat dimensi pada foto. Pada kondisi matahari yang keras ini saya menggunakan flash tanpa aksesoris apapun, dengan full power dan zoom sekitar 70mm sehingga cahaya lebih terpusat pada satu arah.

www.lightingdiagrams.com

Nikon D90 – Tokina AF 12-28mm F4, ISO-200, F/14, speed  1/200,  Spot Metering

Saya menggunakan bukaan Diafragma F/14 sehingga selain cukup membatasi cahaya yang masuk, juga membuat detail foto jelas dari ujug ke ujung. ISO saya tarus pada posisi terendah di ISO-200 dan speed saya batasi di 1/200 karena trigger yang saya gunakan tidak mendukung fitur HSS.

Semoga tulisan saya kali ini dapat membantu rekan rekan semua yang ingin lebih mempelajari penggunaan flash. Salah satu cara yang terbaik untuk menguasai penggunaan flash ini adalah dengan terus dan terus berlatih memotret.

Salam,

Purnawan Hadi
www.purnawanhadi.com

https://plus.google.com/u/0/+PurnawanTaslim/posts
{ 28 comments }

Review Olympus OMD E-M1

Kira-kira seminggu lalu saya berkesempatan mencoba Olympus OMD EM-1 Silver edition berkat pinjaman dari Pak Gunawan Setiadi. Selain kamera, Pak Gunawan juga meminjamkan beberapa lensa untuk saya coba, diantaranya Panasonic 20mm f/1.7, Panasonic 12-35mm f/2.8, Olympus 9-18mm dan Panasonic 45-150mm. Saya membawa cuma dua lensa ke ranah Minang yaitu 20mm dan 45-150mm dengan pertimbangan logistik.

olympus-omd-em1

Sebelum saya berangkat, Pak Gunawan mengatakan kelebihan sistem micro four thirds (Olympus+Panasonic) terletak pada ukuran lensanya yang kecil-kecil terutama lensa lebarnya. Pesan lainnya yaitu saya dianjurkan mengunakan software dari Olympus supaya kualitasnya lebih bagus. Saya pernah mencoba Olympus OMD EM5 sebelumnya dan salah satu keluhan saya adalah banyaknya noise di ISO yang relatif rendah seperti ISO 400.

Pengalaman saya dilapangan cukup menyenangkan dengan kamera Olympus ini. Kendalinya mirip dengan kamera DSLR profesional. Ada dua roda / dial untuk mengubah setting seperti aperture/shutter speed, kompensasi eksposur (tergantung dari mode yang dipilih). Ada juga tuas mode 1 dan 2. Jika kita menggeser tuas ke mode 2, maka prilaku kedua mode berubah, yang tadinya untuk mengubah aperture/shutter jadi WB dan ISO. Prilaku ini bisa dikustomisasi di dalam menu.

olympus-omd-em1-back

Juga banyak tombol-tombol akses langsung seperti tombol untuk Drive mode/bracketing dan HDR yang terletak disebelah atas kamera. Fotografer berpengalaman akan menyukai kamera untuk digunakan di lapangan karena bisa dengan mudah mengubah setting tanpa harus masuk ke menu. [click to continue…]

{ 2 comments }