≡ Menu

Workshop memaksimalkan penggunaan lampu kilat/flash untuk berbagai jenis fotografi 13 & 14 September 2014
Daftar/Info: hub: 0858 1318 3069

Memanfaatkan Survey View pada Lightroom

Biasanya, saat kita mengambil foto, kita pasti mengambil beberapa foto dengan komposisi dan angle yang berbeda- beda.
Terkadang, untuk melihatnya dan memilih mana yang lebih baik akan terasa lebih susah dan memusingkan jika tidak ditampilkan sekaligus.

Untuk itu, kita dapat menggunakan LR dan menampilkan beberapa foto pada tampilan Survey (Survey View).

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memilih beberapa foto yang akan ditampilkan sekaligus. Pastikan modul yang aktif adalah di Library [kotak merah].
Memilih foto bisa dilakukan di filmstrip [kotak hijau] atau dalam bentuk grid di tengah area kerja LR.

Setelah selesai dipilih, tekan tombol N (atau Survey View yang ditandai kotak kuning). Maka dengan seketika, foto itu akan ditampilkan sekaligus.

survey 1

(Catatan : Seperti biasa, jika fotonya berurutan, kita dapat mengklik foto pertama terlebih dahulu kemudian sambil menahan tombol SHIFT, kita pilih foto terakhir yang akan ditampilkan. Jika foto tidak berurutan, maka dapat memilih foto sambil menahan tombol CTRL)

Dengan tampilan sedemikan, kita dapat memilih salah satu dari sekian foto yang kita ambil. Di tampilan survey ini juga, kita dapat memberi rating maupun label pada foto [kotak merah]. Jika kita ingin mengeluarkan foto pada tampilan Survey, cukup menekan tanda silang (X) yang ada di sudut kanan bawah foto.

flag 1

Dan pada akhirnya, kita akan mendapatkan satu foto yang kita rasa paling bagus di antara pilihan beberapa foto yang dipilih pada awalnya.

select 1
Semoga bermanfaat.

—–
Belajar Adobe Lightroom kini bisa melalui workshop 1 hari atau melalui buku Adobe Lightroom yang ditulis khusus oleh Enche & Iesan.

{ 0 comments }
Kiri: Sony A6000, Kanan Fujifilm XE-2

Kiri: Sony A6000, Kanan Fujifilm XE-2

Kamera Sony A6000 dan Fujifilm XE-2 merupakan kamera mirrorless yang kualitasnya sangat baik, bahkan melebihi beberapa kamera DSLR yang tersedia saat ini. Namun yang mungkin membingungkan adalah, yang mana yang lebih baik?

Untuk melihat kualitas gambar kamera, kita bisa melihat ukuran dan teknologi sensor dan resolusi gambar kedua kamera. Dari ukuran sensor, keduanya sama besarnya, tapi teknologi sensor berbeda. Sony mengunakan sensor CMOS dengan teknologi Bayer, sedangkan Fuji dengan X-Trans. Kelebihan dari sensor X-Trans adalah tidak dibutuhkan filter AA sehingga gambar akan lebih tajam saat di view 100%. Sedangkan dari resolusi gambar, Sony lebih unggul dengan 24 megapixel, 8 megapixel lebih banyak dari Fujifilm XE-2.

Untuk kualitas gambar di ISO tinggi, kedua kamera kurang lebih imbang. Secara sekilas Fujifilm XE-2 unggul, tapi itu lebih disebabkan bahwa cara mengukur cahaya di kamera Fuji agak berbeda. ISO 1600 di Fuji kurang lebih sama dengan ISO 1250 di kamera lainnya, sehingga terdapat kesan bahwa kamera Fuji lebih bersih dari noise. [click to continue…]

{ 2 comments }

Hati-hati! Difraksi lensa

Difraksi lensa menurunkan ketajaman dan kontras foto secara keseluruhan baik subjek, background, foreground, dll. Biasanya diakibatkan oleh mengunakan setelan bukaan yang sangat kecil, contohnya f/16 atau lebih kecil lagi. Selain bukaan, ukuran sensor dan banyaknya megapixel sebuah kamera juga akan menentukan difraksi.

Karena difraksi berhubungan dengan bukaan yang sangat kecil, maka biasanya yang peduli adalah fotografer pemandangan, untuk fotografer portrait yang biasanya mengunakan bukaan besar biasanya tidak mempermasalahkan hal ini.

Contoh tes foto yang diambil. Yang kiri f/4, yang kanan f/16

Contoh tes foto yang diambil. Yang kiri f/4, yang kanan f/16

Krop dari foto yang diatas 100% di bagian tengah. Yang kiri f/16, yang kanan f/4. Jika diperhatikan secara seksama, yang f/4 (kanan) lebih tajam bagian tengahnya dari f/16. Hal tersebut karena efek difraksi lensa.

Krop dari foto yang diatas 100% di bagian tengah. Yang kiri f/16, yang kanan f/4. Jika diperhatikan secara seksama, yang f/4 (kanan) lebih tajam bagian tengahnya dari f/16. Hal tersebut karena efek difraksi lensa.

Contoh batasan bukaan lensa sebelum difraksi menurunkan ketajaman foto:

Jika mengunakan kamera bersensor APS-C (Sebagian kamera DSLR Canon, Nikon DX, Sony Alpha, Fuji X, Samsung NX masuk kriteria ini) maka: Batas aman bukaan di kamera 24 MP = f/8 dan kamera 16 MP = f/11, dan 12 MP = f/13

Untuk kamera bersensor full frame, batas optimal bukaan di kamera beresolusi 36 MP = f/8, 24 MP = f/11, 16 MP = f/13, dan 12 MP = f/16.

Dan kamera dengan sensor berukuran lainnya: Four thirds (kamera Olympus, Panasonic) beresolusi 16 MP = f/7.1

Kamera dengan sensor 1 inci (Nikon 1, Samsung NX Mini, berbagai kamera compact: Sony RX100, RX10, Panasonic FZ1000) dengan resolusi: 10 MP = f/5.6 dan 20 MP = f/5

Dan kamera saku dan ponsel pada umumnya yang bersensor 1/1.7″ atau lebih kecil lagi
Ukuran sensor 1/1.7″, 10 MP = f/4
Ukuran sensor 1/2.3″, 20 MP = f/2

[click to continue…]

{ 11 comments }

Fujifilm memperbaharui advanced compactnya dalam bentuk Fujifilm X30. Kamera ini menggantikan X20 yang sudah berusia lebih dari satu setengah tahun yang lalu (6 Januari 2013). Di dalam inti kameranya, tidak berubah yaitu tetap 12 MP X-Trans sensor dengan ukuran 2/3″. Ukuran sensor ini masih lebih kecil daripada beberapa pesaingnya antara lain Sony RX100 (1″) dan Canon G1X (1.5″ sedikit lebih besar dari four thirds, lebih kecil dari APS-C) namun masih lebih baik daripada Canon Powershot G16, Nikon Coolpix P7800 dan Panasonic LX7.

Tersedia dalam dua warna, hitam dan perak.

Tersedia dalam dua warna, hitam dan perak.

Meskipun bentuknya seperti seri Fujifilm X-PRO dan X-E, tapi kualitas gambarnya masih dibawah kelasnya, dan lensanya tidak bisa ditukar. Lensa yang terpasang sebenarnya sudah bagus dan praktis untuk berbagai objek foto, yaitu 28-113mm f/2-2.8. Bukaan yang relatif besar dan stabilizer di lensa memudahkan untuk memotret di kondisi low light. Lensa ini sama dengan yang di Fuji X20, tapi bedanya ada ring di lensa yang bisa digunakan untuk mengganti setting. [click to continue…]

{ 2 comments }

Dalam fotografi, Vision lebih penting daripada gear (kamera, peralatan). Vision menentukan apakah sebuah karya foto menonjol tidak. Sulit mencari padanan bahasa Indonesianya, mungkin “Visi fotografi”, atau “Cara pandang pribadi” Sudah beberapa tahun belakangan saya menyelenggarakan tour fotografi, seringkali setelah tour fotografi selesai, banyak foto yang mirip-mirip satu sama lain, dan rata-rata mirip dengan kartu pos yang dijual di tempat wisata. Kadang-kadang ada beberapa peserta yang membuat foto yang benar-benar berbeda dengan yang lain. Ternyata, peserta tersebut memiliki Vision yang berbeda dengan orang lain, dan mampu mengekspresikannya dalam karya foto.

Vision pada intinya adalah melihat apa yang tidak dilihat oleh orang lain. Jika Anda melihat sebuah foto pemandangan atau sebuah tempat yang pernah Anda kunjungi, lalu foto tersebut beda sekali kesannya dengan apa yang Anda lihat dengan mata kepala sendiri, itu artinya Anda sedang melihat Vision dari fotografernya, bukan foto dokumentasi tempat tersebut. Maka itu, melatih Vision sangat penting terutama untuk jenis fotografi landscape dan travel karena siapa saja bisa datang kesana dan memotretnya dengan bebas.

Vision lahir dari dalam diri masing-masing, dipengaruhi oleh latar belakang sejarah diri kita dan apa yang kita sukai. Dengan kata lain Vision adalah refleksi dari diri kita. Kita tidak bisa mendapatkan Vision dari orang lain, maka itu, Vision itu sebenarnya tidak bisa diturunkan secara langsung seperti ilmu silat di seria TV. Contohnya kalau misalnya dalam tour fotografi saya menunjukkan : “Tuh disana ada objek bagus tuh, ambil dengan lensa ini, dan setting ini…” Maka.. hasil foto tersebut adalah hasil Vision saya, bukan yang memotret. Yang saya akan lakukan untuk membantu murid-murid saya memberikan beberapa ide dan menyiapkan kondisi untuk merangsang Vision keluar dari dalam diri. Jika dibutuhkan saya akan memberi masukan tentang pencahayaan dan teknik fotografi yang baik.

Salah satu sudut kota tua di Jakarta. Biasanya, kota tua Jakarta identik dengan suasana berantakan, ramai dan sedikit kumuh. Tapi dengan Vision, kita bisa memilih bagian mana yang difoto sehingga memberikan suasana yang sangat berbeda dengan lokasi aslinya

Salah satu sudut kota tua di Jakarta. Biasanya, kota tua Jakarta identik dengan suasana berantakan, ramai dan sedikit kumuh. Tapi dengan Vision, kita bisa memilih bagian mana yang difoto sehingga memberikan suasana yang sangat berbeda dengan lokasi aslinya

Kembali lagi ke hasil foto tour atau acara hunting bareng: Mengapa ada yang menghasilkan foto yang sangat berbeda dengan yang lain? Atau dengan kata lain, mengapa setiap orang tidak memiliki pandangan yang sama? Penyebabnya karena perbedaan Vision itu tadi.Vision menggiring pandangan dan fokus setiap orang pada hal yang berbeda. Di suatu lokasi fotografer A mungkin tertarik dengan “Grand Vista” atau keseluruhan/panorama pemandangan. Tapi fotografer B mungkin tertarik ke detail tumbuh-tumbuhan, buah atau serangga, dan fotografer C mungkin lebih tertarik ke sisi human interest-nya seperti petani atau peternak yang sedang bekerja.

Dengan fokus ke suatu ide, konsep atau subjek foto, maka peluang untuk menghasilkan karya foto yang bagus semakin tinggi, karena konsentrasi dan energi mental kita terpusat ke konsep tersebut. Itupun perlu kesabaran dan ketekunan ekstra. Cari dalam diri sendiri apa yang menarik pada objek atau lokasi tersebut. Apa yang dirasakan dan bagaimana teknik foto/editing yang dapat mengkomunikasikan rasa itu.

Pintu, jendela bangunan jaman dahulu selalu menarik perhatian saya. Terutama kombinasi warna, cahaya matahari dan bentuk pohon yang membuat sedikit kesan harmonis dengan alam.

Pintu, jendela bangunan jaman dahulu selalu menarik perhatian saya. Terutama kombinasi warna, cahaya matahari sore yang hangat dan bentuk pohon yang membuat sedikit kesan harmonis dengan alam.

Vision adalah pemandangan yang kita lihat di dalam mata batin kita. Untuk bisa mewujudkan Vision, kita perlu imajinasi dan kreativitas. Pemilihan alat yang tepat juga dibutuhkan untuk mewujudkan karya foto. Mewujudkan hasil akhir karya, kita juga membutuhkan ketrampilan teknik fotografi dan editing (post processing) yang baik.

Tanpa kemampuan teknis, Vision tidak akan bisa diwujudkan dengan sempurna. Vision juga sangat berkaitan dengan gaya fotografi (personal style). Jika kita konsisten mengembangkan Vision, maka nantinya personal style akan terbentuk dan orang-orang akan lebih mudah mengenali karya kita.

Seperti kehidupan, Vision dan style akan berubah seiring waktu berjalan. Mungkin dulunya kita suka foto yang saturasi warnanya tinggi, tapi setelah beberapa tahun malah suka foto hitam putih.Mungkin sekarang kita suka menggunakan lensa berbukaan besar dan membuat latar belakang blur (bokeh). Tapi di masa depan mungkin saja suka foto yang semuanya tajam, dari foreground sampai background. Dengan berubahnya kita, otomatis kualitas foto juga berubah, mudah-mudahan ke arah yang lebih bagus.

Foto portrait identik dengan latar belakang blur (bokeh), tapi kenapa harus diblurin kalau lokasinya bagus dan komplemen dengan subjek fotonya? Jangan sampai foto Anda dipuji bokehnya daripada orang yang difoto :)

Foto portrait identik dengan latar belakang blur (bokeh), tapi kenapa harus diblurin kalau lokasinya bagus dan komplemen dengan subjek fotonya? Jangan sampai foto Anda dipuji kualitas bokehnya daripada subjek yang difoto :) – Talent/Model: Raisha Hill

Bagaimana menajamkan Vision? Berikut beberapa tip:

  1. Kuasai teknik dasar fotografi dan buat komitmen untuk belajar terus menerus dan ikuti teknologi imaging yang terus berkembang
  2. Fokus dalam melihat dan memperhatikan satu atau beberapa subjek foto yang disukai, jangan terlalu memaksakan memotret berbagai subjek foto sekaligus dalam satu kesatuan waktu.
  3. Pilih peralatan (kamera, lensa, aksesoris) yang tepat akan menghemat waktu dan mengoptimalkan kualitas foto.
  4. Latihan dan praktik yang kontinyu akan menghasilkan karya yang baik bukan sekedar bakat dan keberuntungan. Dan latihan yang paling penting bukan hanya aktivitas memotretnya, tapi lebih ke cara melihat.
  5. Belajar dengan banyak melihat foto karya fotografer lain dan juga seni rupa yang lain seperti lukisan, film, dan sebagainya.
  6. Buat proyek fotografi pribadi, misalnya kumpulan foto pohon tua, kendaraan, portrait orang, budaya dsb.
Saat mengadakan workshop portrait model, saya melihat keatas ada Ray of light  yang menembus daun pohon yang membentuk garis diagonal yang menarik perhatian saya dan peserta workshop lainnya.

Saat mengadakan workshop portrait model, saya melihat keatas ada secercah cahaya yang menembus dedaunan dan membentuk garis diagonal yang menarik perhatian saya dan peserta workshop lainnya.

{ 7 comments }

Lensa Sony FE 35mm f/2.8 Zeiss adalah lensa E-mount yang dirancang untuk kamera mirrorless Sony. Bisa dipasang di format sensor Full frame seperti seri Sony A7 dan bisa juga di format sensor APS-C seperti berbagai kamera Sony NEX dan A5000, A5100 dan A6000. Saat dipasang di kamera format sensor APS-C, sudut pandangnya menjadi agak sempit atau dengan kata lain jangkauannya agak jauh.

sony-a7s-35mm-zeiss

Untuk review, saya mengunakan lensa ini dengan kamera Sony A7s dan sebagian besar untuk street photography. Fisik lensa sangat kecil dan ringan, panjangnya 6.15 cm dan beratnya hanya 120 gram. Sangat cocok untuk kamera mirrorless. Sony & Zeiss mengambil langkah yang bijak dalam membatasi ukuran bukaan lensa sehingga ukuran lensa bisa dibuat sekecil mungkin tanpa mengkompromikan kualitas foto. Desain lensa sangat simple dan modern, tidak ada tuas/switch, hanya aja ring yang cukup besar untuk manual fokus. Ukuran filternya mirip dengan berbagai lensa Sony mirrorless yaitu 49mm.

Yang unik dari lensa ini dan juga merupakan hal yang positif bagi saya adalah lens hood (topi lensanya) bentuknya kecil sehingga tidak menarik perhatian dan membuat lensa terkesan besar. Ukuran yang kecil lebih enak buat dibawa jalan-jalan dan street photography. Meskipun berukuran kecil, lensa ini sudah weatherseal, alias tahan debu dan kelembaban. [click to continue…]

{ 7 comments }

Kursus / Workshop Video editing dengan Pinnacle Studio

Workshop/kursus kali ini agak sedikit berbeda karena temanya tentang video editing. Kamera digital dan bahkan kamera ponsel saat ini sudah berkemampuan merekam video dengan baik dan detail. Tapi video memang agak berbeda dengan foto. Editing jauh lebih penting di video karena sulit menikmati video klip yang terpisah yang belum disambung dan diolah menjadi satu kesatuan.

Dalam kesempatan kali ini, kami akan workshop video editing dengan software Pinnacle Studio. Software ini tidak terlalu rumit dan mampu untuk mengolah video dari awal (import) sampai menjadi video untuk berbagai format (Blue-Ray, DVD, dan sebagainya). Maka itu, software ini juga menjadi andalan bagi video editor baik amatir maupun profesional. Kursus ini terbuka untuk pemula yang awam dengan video editing.

Screenshot Pinnacle Studio Ultimate versi 17

Screenshot Pinnacle Studio Ultimate versi 17

Hari / tanggal: Hari Minggu, tanggal 31 Agustus & 7 September 2014

Pukul 14.00-20.00 WIB (termasuk break makan malam)

Tempat: Jl. Moch. Mansyur (Imam Mahbud) No. 8B-2 Jakarta Pusat. Sebelah Bank Bumiputra dan cetak foto Sinar Matahari.

Minimum peserta: 3 orang, maksimum peserta 6 orang.

Materi

1. Memahami berbagai format video, software, dan pengenalan video editing

2. Video Capture -> Pemindahan dari video/kaset analog menjadi digital

3. Video Editing

  • Import video, foto dan audio ke dalam software
  • Cara memotong film/clip
  • Cara memasukkan transisi
  • Memasukkan efek khusus: blur, Black & White, modifikasi color balance, kontras, picture & picture dll
  • Memasukkan efek keyframe
  • Memasukkan teks / judul dalam video
  • Memasukkan transisi pada teks
  • Menggunakan motion teks
  • Membuat opening / highlight dari video
  • Memasukkan audio / lagu / dubbing
  • Membuat menu video
  • Membuat slideshow foto dan Timelapse
  • Export video ke DVD, Blu-Ray, MPEG-2, AVI

4. Sharing tips membuat video yang lebih artistik

Syarat

Membawa laptop dengan spesikasi minimum:
Processor Pentium i3, RAM 4 GB DDR3, Harddisk space 500 GB

Bagi yang mengunakan video kaset pita, diharapkan membawa handycam/camcordernya.

Jangan lupa alat tulis dan buku catatan pribadi

Software yang digunakan adalah Pinnacle Studio versi 11 ke atas. Rekomendasi: versi 17

Sample video untuk editing akan disediakan.

Biaya: Rp 1.500.000 untuk umumRp 1.400.000 untuk alumni/pelajar

Termasuk catatan /hand-out (versi cetak) dan makan malam 2 kali.

Cara mendaftar: Hubungi 0858 1318 3069 atau infofotografi@gmail.com

Instruktur: Hardi Danusasmita

Berpengalaman di bidang video editing selama 11 tahun sebagai video editor pada studio foto, menangani edit video dari berbagai acara seperti wedding, prewedding, seminar,  outbound, ulang tahun, wisuda, iklan, dan traveling. dll

Workshop ini sangat cocok untuk berbagai kalangan untuk hobi, profesional, dan wirausahawan.

{ 0 comments }

Apa itu lensa Normal / lensa standar?

Kadang kita mendengar istilah lensa normal atau lensa standar, tapi apa sih maksud sebenarnya dari istilah ini? Lensa normal sebenarnya adalah lensa yang memiliki focal length (jarak fokus) sepanjang diagonal ukuran sensor gambar kamera. Untuk kamera bersensor full frame (36 x 24mm), lensa normal yaitu 43mm. Sedangkan di kamera yang ukuran sensornya APS-C (23x35mm) lensa normalnya sekitar 28mm. Sedangkan untuk sensor four thirds, lensa normalnya sekitar 21.5mm.

lensa-normal-standard

Lensa normal adalah lensa yang jarak fokusnya sama dengan panjang diagonal sensor gambar

Karena jarang ada lensa yang sama persis dengan ukuran jarak fokus lensa, maka biasanya lensa yang mendekati jarak fokus normal ditahbiskan sebagai lensa normal. Contohnya lensa 50mm saat dipasang di kamera full frame / kamera film.

Pentax 43mm f/1.9 adalah lensa fix normal yang sangat akurat di jaman film, dan masih bisa dipakai di era digital. Tapi sayangnya, Kamera DSLR Pentax tidak ada yang bersensor full frame, sehingga saat dipasang di kamera DSLR sekarang, menjaid tidak normal lagi karena terkrop 1.5X

Pentax 43mm f/1.9 adalah lensa fix normal yang sangat akurat di jaman film, dan masih bisa dipakai di era digital. Tapi sayangnya, Kamera DSLR Pentax tidak ada yang bersensor full frame, sehingga saat dipasang di kamera DSLRnya, menjadi tidak normal lagi karena terkrop 1.5X

Yang perlu dipahami adalah jarak fokus normal ini relatif, tergantung dari besarnya sensor gambar kamera. Misalnya jika lensa 50mm dipasang di kamera bersensor lebih kecil atau lebih besar, maka lensa tersebut bukan lensa normal lagi.

Jika mengunakan lensa normal, perspektif hasil foto akan menyerupai perspektif mata manusia, perspektif akan terlihat alami. Tidak ada lagi distorsi cembung yang biasanya diakibatkan oleh lensa lebar, dan tidak ada distorsi pincushion (cekung) yang ditimbulkan lensa telefoto. Saat memotret wajah orang, hasil fotonya akan terlihat natural, sesuai dengan orang aslinya.

Normal lensa biasanya juga disarankan oleh guru fotografi supaya murid-muridnya dapat berlatih cara melihat dan komposisi. Akan lebih sulit mengkomposisikan foto dengan lensa normal karena hasil fotonya tidak sedramatis lensa lebar atau telefoto. Biasanya, lensa normal sering digunakan untuk street photography.

Perspektif lensa normal tidak hanya terdapat di lensa fix, tapi juga bisa didapatkan di lensa zoom. Caranya putar zoom lensa sampai angka menunjukkan focal length lensa normal. Contohnya jika mengunakan kamera DSLR Nikon, putarlah ke angka 28mm. Jika angkanya tidak ada, diperkirakan saja.

Beberapa contoh lensa normal fix (tidak bisa zoom) antara lain

  • Panasonic 20mm f/1.7 di kamera Olympus / Panasonic
  • Canon 28mm f/1.8 di kamera DSLR Canon EOS bersensor APS-C
  • Nikon 28mm f/1.8 di kamera DSLR Nikon bersensor APS-C
  • Canon 40mm f/2.8 di kamera Canon full frame seperti 5D
  • Pentax 55mm SDM  di kamera medium format 654z
{ 4 comments }

Tour Pangalengan 20-21 September 2014

Tour fotografi Pangalengan selalu populer bagi pembaca dan alumni kursus kilat fotografi karena tempatnya sejuk, menyenangkan dan banyak peluang untuk mempraktikkan fotografi. Sama dengan susunan acara tour Pangalengan Juni yang lalu, kita akan berangkat malam hari dengan tujuan untuk mendapatkan sunrise dan juga menghindari macet di wilayah kota Bandung.

Kita akan mengunakan bus pariwisata bertempat duduk 25-27 seat yang nyaman dan akan menginap di kompleks Rumah Bosscha di Malabar. Bosscha adalah seorang warganegara Belanda yang berjasa dalam membangun usaha perkebunan, observatorium di Lembang, dan ITB.

Photo & Video Sharing by SmugMug

Perkebunan teh Malabar terletak daerah perbukitan dengan ketinggian 1550 dpl, sehingga suhunya sejuk di siang hari, dan dingin di pagi hari. Suhu udara kira-kira 15-25 derajat. Disarankan untuk membawa jaket/sweater terutama untuk memotret matahari terbit.

Susunan acara sebagai berikut

Hari pertama, hari Sabtu tanggal 20 September 2014
Kita akan tiba sebelum matahari terbit dan memotret matahari terbit. Jika cuaca mendukung, kita dapat mengunjungi Situ Cipanunjang dengan naik perahu. Situ ini adalah sumber mata air situ Cileunca. Setelah puas berfoto di situ Cileunca, kita akan check-in penginapan dan beristirahat sampai makan siang. Di sore hari, kita akan memotret pemandangan kebun teh dengan kabut alami yang sejuk.

Hari kedua, hari Minggu, tanggal 21 September 2014
Pagi hari sebelum matahari terbit, kita akan memotret sunrise dan pemandangan pagi hari dari bukit Nini, bukit yang cukup tinggi untuk memotret hamparan kebun teh, pemukiman penduduk dan gunung dikejauhan. Setelah sarapan, acara bebas. Setelah makan siang, kita akan meluncur ke Waduk Jatiluhur untuk memotret aktivitas nelayan dan matahari terbenam. Setelah makan malam seafood, kita akan pulang ke Jakarta.

Biaya Rp. 1.500.000 per orang

Tempat terbatas, maksimum 18 orang, pendaftaran akan ditutup setelah penuh.

cileunca-cruise

Biaya termasuk

  • Penginapan wisma Malabar. Satu kamar 2 orang
  • Transportasi pulang pergi (meeting point Jakarta – Pangalengan)
  • Makan 6X selama tur
  • Bimbingan fotografi oleh Enche Tjin + asisten
  • Sewa perahu di Situ Cileunca

Biaya tidak termasuk

  • Belanja pribadi
  • Tur opsional di Malabar seperti Tea Walk, tur pabrik pengolahan teh dan susu, dll
  • Tips supir (Rp 20.000 per orang)

Pembatalan maksimum tiga hari sebelum keberangkatan. Boleh digantikan dengan orang lain.

Pendaftaran dengan cara melunasi biaya (Rp 1.500.000) melalui transfer ke BCA 4081218557 atau Mandiri 1680000667780 atas nama Enche Tjin

Kumpul depan McDonald Sarinah, Jl. Thamrin, Jakarta. Jum’at tengah malam 23.30 WIB

Hubungi Iesan untuk mendaftar atau informasi di infofotografi@gmail.com / 0858-1318-3069

pagi-hari-situ-cileunca

{ 0 comments }

Belajar dari era kamera film

Sedikit mengenang jaman dulu, saat mengunakan kamera film, pendekatan saya agak berbeda dengan mengunakan kamera digital. Saat memotret dengan kamera film saya jauh lebih hati-hati, karena biaya yang dikeluarkan tergantung dari berapa kali saya menjepret. Film tidak murah dan juga isinya tidak banyak. Sekeping memory card berkapasitas 8GB bisa menampung ratusan foto JPG. Sedangkan satu rol film hanya bisa digunakan untuk 24 atau 36 exposure/jepretan.

Di zaman film juga tidak ada menu atau tombol macam-macam. Hanya beberapa hal yang perlu diganti-ganti, yaitu shutter speed dan bukaan/diafragma lensa. ASA/ISO tidak bisa diganti kecuali ganti film-nya. Yang perlu diubah lainnya yaitu fokus, yang diganti dengan memutar ring fokus lensa secara manual. Jadi memotret dengan kamera film lebih sederhana, tapi kita perlu lebih teliti dan berhati-hati. Saat mengunakan film ASA rendah, hampir setiap saat saya mengunakan tripod untuk mendapatkan hasil ketajaman maksimal.

Di era digital, kita terbuai dengan rentang ISO yang sangat lebar dari kamera sehingga sering memotret dengan ISO tinggi. Memotret dengan ISO tinggi memang praktis karena shutter speed yang didapatkan akan cukup cepat sehingga tetap tajam meski kamera tidak dipasang di tripod.

ISO 100, f/8, 0.5 detik dengan tripod

ISO 100, f/8, 0.5 detik dengan tripod

Beberapa saat lalu saya membayangkan dan mempraktikkan lagi memotret dengan pendekatan seperti era film seperti berikut ini:

  1. ISO saya set ke 100 untuk hasil terbaik
  2. Hampir setiap saat, kamera saya diletakkan diatas tripod untuk ketajaman dan komposisi yang akurat
  3. Foto dengan hati-hati dan perlahan-lahan, terutama komposisinya. Di dalam pikiran saya, tertanam bahwa saya hanya punya 36 kali exposure saja, jadi setiap exposure harus saya hargai.
  4. Saya jarang masuk ke menu dan tidak mengunakan mode otomatis/semi-auto
  5. Hampir tidak pernah meninjau gambar setelah memotret. Di jaman film, kita tidak bisa meninjau foto yang baru dijepret sama sekali. Saya biasanya menonaktifkan auto review. Waktu saya lebih saya gunakan untuk mencari komposisi yang lebih baik.

Pendekatan memotret di jaman film memang terkesan merepotkan, nenteng-nenteng tripod, memotret dengan perlahan-lahan, lebih teliti dalam melihat pemandangan dll. Tapi setelah beberapa saat, saya sudah terbiasa kembali dan lebih menikmati proses, hasilnya juga lebih solid, kesalahan lebih sedikit dan hasil foto dan komposisi lebih tajam. Saya memotret lebih sedikit tapi lebih banyak yang puas. Tidak ada rasa sesal saat memeriksa hasil fotonya.

—-
Mantapkan teknik dan seni fotografi via workshop “Mastering art and photography techniques

{ 0 comments }