≡ Menu

Kupas Tuntas kamera digital (DSLR/mirrorless)
Minggu 5 April 2015
Daftar/Info: hub: 0858 1318 3069

Live view dan Exposure Simulation di DSLR vs mirrorless

Saya ingat dulu awalnya kamera DSLR itu tidak ada fitur live view. Layaknya kamera SLR film, kita hanya bisa membidik via jendela bidik optik saja. Hal ini banyak menuai kritik sehingga akhirnya live view pun hadir sampai sekarang. Banyak juga kegunaan live view, seperti untuk membantu manual fokus, atau foto dengan angle sulit (sambil jongkok misalnya). Saat tren kamera mirrorless muncul, live view justru jadi satu-satunya cara untuk melihat gambar yang akan difoto. Seiring jaman bertambah maju, live view pun makin disempurnakan, kadang digunakan juga untuk melihat preview melalui kabel HDMI ke monitor eksternal.

Live view untuk high angle

Live view untuk memotret secara high angle

Konsep live view sangat simpel, layar LCD akan menampilkan gambar secara real time (live) apa yang dilihat oleh sensor, dan apa yang diproses oleh prosesor kamera. Sehingga dengan live view kita bisa melihat kira-kira seperti apa hasil fotonya nanti, termasuk terang gelap (berhubungan dengan eksposur) dan warnanya (berkaitan dengan WB). Inilah yang tidak bisa didapat dari jendela bidik optik di DSLR. Kelemahan live view memang ada, yaitu masih ada lag (jeda), di tempat kurang cahaya tampilannya jadi kurang baik, dan tentu lebih boros baterai. Tipsnya pemakai DSLR sebaiknya memakai live view sesekali saja saat diperlukan, sedang pemakai mirrorless sebaiknya jangan berlama-lama preview gambar untuk mencegah baterai jadi cepat habis.

Live view di DSLR vs Mirrorless

Saya temukan ada perbedaan mendasar antara live view di DSLR dengan di kamera mirrorless. Pertama adalah perbedaan dalam cara auto fokus dan kedua dalam urusan simulasi eksposur. Soal auto fokus tidak saya bahas lagi disini, intinya ada dua cara auto fokus yang masing-masing punya keunggulan dan kekurangan sendiri. Disini saya hanya akan bahas simulasi eksposur (Exposure simulation) saat live view.

Kita ingat lagi mode Manual di kamera dimana pengaturan ISO, bukaan atau shutter speed akan membuat foto jadi lebih terang atau lebih gelap. Tanpa live view, terang atau gelap foto kita hanya bisa di ‘kira-kira’ dengan meninjau indikator lightmeter. Tapi dengan live view, di mode manual kita bisa dapat simulasi kira-kira seperti apa terang gelap hasil foto kita dengan setting yang kita pilih. Dengan begitu kita bisa set eksposur sesuka kita tapi tetap dapat gambaran hasil terang gelap nantinya.

Tulisan ExpSIM di pojok artinya mode Exposure Simulation aktif.

Mode live view DSLR Canon. Tulisan Exp.SIM di pojok artinya mode Exposure Simulation aktif.

Oke, Anda mungkin berpendapat kalau begitu fitur simulasi live view ini akan memudahkan dan berguna kan? Tapi ada juga orang yang tidak suka dengan tampilan simulasi ini. Di hampir semua DSLR Canon, ada menu untuk memilih apa kita lebih suka fitur simulasi exposur ini aktif atau tidak. Kalau kita tidak suka dengan simulasi ini ya tinggal matikan saja lewat menu.

[click to continue…]

{ 2 comments }

Dalam memotret portrait human interest, terutama dengan lensa lebar, kita harus memperhatikan backgroundnya dengan teliti. Foto dibawah ini saya buat saat workshop street photography dan human interest di pelabuhan Sunda Kelapa Jakarta bersama murid-murid.

Yang saya potret adalah penyedia jasa perahu. Saat memotret, Adi Setyo, instruktur workshop sedang bercakap-cakap dengannya kebetulan saya ada disamping dan memotret dengan candid. Kebetulan subjek foto melihat ke arah saya. Biasanya fotografer mengunakan lensa telefoto dan memotret secara candid (diam-diam) dari jarak jauh, tapi saya lebih suka foto candid dari jarak dekat, dengan mengunakan lensa lebar (28mm dalam kasus dibawah).

Kamera yang saya gunakan untuk membuat foto ini adalah Sony A7S dan lensa FE 28mm f/2. Saya mengunakan bukaan f/5.6, tidak begitu besar karena saya ingin latar belakangnya cukup tajam, tapi ingin sedikit separasi antara subjek foto dan latar belakangnya. Jika mengunakan kamera DSLR/Mirrorless bersensor APS-C, bisa mengunakan jarak fokus 18mm dan f/4. Foto saya buat jadi hitam putih di Lightroom 5.0. Tujuannya supaya warna yang “ramai” tidak menjadi distraksi/pengganggu.

sundakelapa-hi

ISO 100, f/5.6, 1/125 detik | Sunda Kelapa, Jakarta | Sony A7S + FE 28mm f/2

Setelah mengidentifikasi subjek yang di foto, saya memperhatikan background dan berupaya memanfaatkan garis-garis yang cukup banyak supaya menuju ke subjek foto. Dengan demikian, subjek foto terlihat lebih menyatu dengan latar belakang dan memberikan kesan tiga dimensi.

sundakelapa-baganJadi, kalau ditanya enaknya pakai lensa apa untuk street dan human interest, untuk favorit saya lensa lebar, seperti 28mm dan 35mm. Lensa lebar memberikan kesan perspektif dan dimensi daripada telefoto. Memang motretnya harus dari dekat, yang mungkin agak mendebarkan untuk foto sejenis candid, tapi itulah letak seninya.

———-

Saya akan membahas lebih banyak tentang komposisi di workshop Mastering art & photography techniques.

{ 0 comments }

Selama ini kami temui banyak penggemar fotografi yang ingin belajar tapi terkendala tempat dan waktu. Setelah setahun lebih kami menyusun konsep, modul materi dan skema penugasan, maka akhirnya mulai hari ini Infofotografi membuka peluang belajar fotografi secara online dengan memanfaatkan e-mail untuk berkomunikasi dan mengirimkan foto.

Keunikan kursus online Infofotografi ini adalah setiap peserta akan dikirimkan materi belajar secara bertahap, disertai dengan penugasan dan kemudian akan mendapatkan feedback terhadap hasil karya fotonya. Peserta juga diberikan keleluasan waktu yang cukup panjang untuk menyelesaikan tugas-tugas yaitu 6 bulan. Setelah lulus, kami akan menyediakan sertifikat tanda kelulusan.

Untuk 10 peserta pertama akan mendapatkan diskon 50% dari biaya kursus. Bagi yang berminat, silahkan baca lebih lengkap aturan dan cara mendaftar di kursus online fotografi.

{ 0 comments }

Perdebatan apakah setiap foto perlu di edit atau harusnya langsung jadi sering saya dengar. Masing-masing ada kelebihan kelemahannya, tapi yang terbaik menurut saya setiap foto harusnya di edit untuk mendapatkan hasil yang bagus, dalam arti sesuai keinginan kita.

Pendekatan pertama adalah harus memilih setelan terbaik di kamera digital sebelum memotret antara lain:

Image Quality (biasanya pilih JPG (L,M,S), White Balance, Dynamic Range, picture style/control (saturation, tone/hue, contrast, sharpness, clarity), HDR.

Fotografer yang memilih pendekatan pertama biasanya memang tidak suka di depan komputer untuk mengedit dan lebih memilih mengganti setting kamera yang terbaik sebelum memotret. Ibaratnya seperti pergi ke pasar dengan peralatan masak dan bumbu-bumbu, dan kemudian membeli bahan masakan dan langsung memasak di tempat. Setelah pulang, enaknya tinggal makan karena masakannya (fotonya) sudah matang. Tapi kebayang gak repotnya saat berbelanja di pasar (saat hunting foto), sekaligus harus masak (mengatur semua setelan di tempat)?

Pendekatan kedua adalah memotret dengan setelan Image Quality RAW (data mentah). Kemudian baru diatur setelan-setelan diatas dengan mengunakan software pengolah foto RAW. Ibaratnya adalah kita pergi ke pasar untuk beli bahan mentah (sayur, buah, daging). Kemudian setelah pulang ke rumah, kita baru masak di dapur dengan memasukkan bumbu-bumbu yang dimiliki. Bumbu-bumbu ibaratnya adalah setelan-setelan kamera.

Untuk memaksimalkan kualitas gambar digital, yang terbaik menurut saya adalah pendekatan kedua yaitu memotret dengan image quality RAW, kemudian di edit dengan software pengolah foto. Karena saat memotret jika harus sekaligus memeriksa dan mengganti setelan-setelan yang saya tulis diatas rasanya terlalu menguras waktu sehingga fotografer tersebut bisa kehilangan momen, atau peluang memotret lebih banyak.

Meski demikian, bukan berarti fotografer yang mengadopsi pendekatan kedua bisa asal-asalan saat memotret. Banyak setelan yang tidak bisa diatur setelah foto jadi, seperti fokus, shutter speed, bukaan lensa, ISO, jarak fokus, komposisi foto dan sebagainya.

Foto hasil editing dengan Adobe Lightroom 5.0. Dengan pengetahuan editing yang baik, kita bisa membuat foto jauh lebih menarik.

Foto hasil editing dengan Adobe Lightroom 5.0. Dengan pengetahuan editing yang baik, kita bisa membuat foto jauh lebih menarik. – Klik untuk ukuran foto yang lebih besar

Permasalahan yang sering saya temui adalah banyaknya fotografer pemula masih takut dalam mengedit foto karena kurang paham alur kerja editing yang bagus dan cepat. Banyak fotografer pemula terintimidasi dengan rumitnya software editing foto. Tapi saat ini banyak software yang bisa mengedit dengan cepat tapi bagus, seperti Adobe Lightroom, Adobe Camera Raw (ACR) atau Capture One.

Ini foto asli sebelum di retouch. Bukan berarti motretnya asal. Saya sudah mempertimbangkan dengan baik teknis setting exposure, komposisi dan juga kamera saya letakkan diatas tripod dan mengunakan teknik mirror lock up/exposure delay supaya ketajamannya bisa maksimal.

Ini foto asli sebelum di retouch. Bukan berarti motretnya asal. Saya sudah mempertimbangkan dengan baik teknis setting exposure, komposisi dan juga kamera saya letakkan diatas tripod dan mengunakan teknik mirror lock up/exposure delay supaya ketajamannya bisa maksimal.

Kedua adalah anggapan bahwa mengedit foto adalah sesuatu yang curang/tidak bagus dan dianggap photoshopher daripada photographer.  Nah, kalau soal ini timbul karena banyak juga fotografer pemula yang mengedit foto secara berlebihan, biasanya menutupi kekurangan teknik fotonya, sehingga hasilnya malah tidak enak dilihat atau tidak sesuai.

Bagi yang mengedit untuk meningkatkan kualitas foto sebenarnya tidak masalah, karena di jaman fotografi film juga dulu ada teknik kamar gelap, yang merupakan tempat fotografer mengedit foto pada jaman itu. Tapi kita beruntung hidup di jaman sekarang, mengedit foto tidak perlu masuk ke kamar yang gelap dan mencium cairan kimia yang tidak menyehatkan. Kesimpulannya, sedikit atau banyak, kemampuan mengedit foto / post processing itu penting dan wajib dikuasai fotografer pemula maupun mahir.

—-
Jika ingin belajar editing foto, kami punya workshop Adobe Lightroom 1 hari. Periksa jadwalnya di halaman ini, atau hub 0858 1318 3069 / infofotografi.com

Alternatif lain adalah dengan belajar otodidak melalui buku Adobe Lightroom karangan saya dan Iesan.

{ 24 comments }

Berapa banyak lensa yang dibutuhkan?

Judul diatas adalah pertanyaan yang sering ditanyakan kepada saya. Sebenarnya jawabannya cukup sederhana: Saya perlu satu lensa untuk memotret.

Lensa sapujagat Tamron 16-300mm. Mungkin satu-satunya lensa yang Anda perlukan?

Lensa sapujagat Tamron 16-300mm. Mungkin satu-satunya lensa yang Anda perlukan?

Tapi kalau ingin bisa memotret dengan berbagai keadaan dan sudut pandang bagaimana? Misalnya bisa sudut lebar, bisa sudut tele untuk subjek yang jauh. Nah, saat itu strateginya bisa dua macam: Dengan satu lensa yang cukup fleksibel atau yang biasa disebut lensa sapujagat seperti 18-200mm, 18-300, 28-300mm dan sejenisnya. Kekurangan lensa sapujagat adalah bukaannya tidak besar (biasanya f/3.5-6.3) dan performanya tidak konsisten. Artinya di sudut lebar (28mm) sampai menengah (100mm) cukup bagus, tapi diatas itu sudah kurang baik.

Jika tidak ingin berkompromi dengan kualitas foto, terpaksa harus sedikit repot ganti-ganti lensa. Lensa zoom yang kualitasnya bagus biasanya bukaannya konstan, contohnya 16-35mm f/4, 24-105mm f/4. Makin besar bukaannya, biasanya kualitasnya makin bagus, contohnya 16-35mm f/2.8, 24-70mm f/2.8, 70-200mm f/2.8. Sayangnya harganya juga makin mahal dan fisiknya relatif besar dan berat.

Kalau ingin berhemat dan berani repot, lensa fix yang gak bisa zoom biasanya lebih murah dari lensa zoom berbukaan besar, kualitasnya setara atau bahkan lebih bagus. Tapi karena gak bisa zoom, ya berarti harus sering ganti-ganti lensa dan rajin pindah-pindah saat komposisi.

Koleksi lensa saya mulai dari lensa lebar sampai telefoto. Dari focal length (jarak fokus) 16-200mm (di APS-C = 10-135mm) yaitu 16-35mm f/4, 24-70mm f/2.8, 70-200mm f/2.8. Ditambah dengan lensa fix bukaan besar seperti 85mm f/1.4, lensa fisheye 8mm f/3.5 dan sebuah lensa makro 70mm f/2.8, keseluruhan lensa tersebut telah memenuhi kebutuhan saya untuk hobi atau kerja.

Jika sudah punya koleksi yang cukup lengkap, cobalah mengunakan setiap lensa secara rutin, pahami kelebihan kekurangannya sebelum membeli lensa baru. Seperti mengganti kamera baru, kita baru akan bisa memahami dengan baik setelah mengunakan secara rutin dalam beberapa bulan dan mempelajari hasil foto dengan cermat.

Jangan cepat menyalahkan lensa, karena banyak faktor lain yang mempengaruhi kualitas foto, contohnya cuaca yang kurang tepat, lighting yang kurang pas dan sebagainya. Pada akhirnya lensa hanya sebuah alat untuk membantu kita mendapatkan hasil foto yang diinginkan.

Kembali lagi ke pertanyaan awal, meskipun sekarang saya beruntung memiliki koleksi lensa yang cukup lengkap, tetapi saat memotret saya cuma perlu satu lensa saja. Maka itu, saat hunting foto, biasanya saya juga cuma bawa satu sampai dua lensa saja. Semakin banyak lensa yang dibawa, biasanya saya semakin bingung mau pakai yang mana, akhirnya lebih banyak waktu dan tenaga habis untuk gonta-ganti lensa.

———

Jadwal acara belajar fotografi dan tour foto bisa disimak disini.

{ 21 comments }

Vietnam merupakan negara yang sedang berkembang di Asia Tenggara yang memiliki sejarah yang cukup panjang dan karakter yang khas. Di tour kali ini, saya akan mengajak teman teman penggemar fotografi dan traveling untuk mengunjungi beberapa tempat yang menarik antara lain kota bersejarah Ho Chi Minh City dan Hoi An. Tour ini sangat cocok bagi yang menyukai foto travel, budaya, sejarah, human interest, dan arsitektur.

Highlight:

Ho Chi Minh City (dulunya namanya Saigon) merupakan kota terbesar di Vietnam dengan populasi sekitar 8 juta penduduk (sensus 2014). Di jaman kolonial, kota Saigon adalah ibukota kolonial Perancis untuk kawasan Indochina (Vietnam, Kamboja, dan Laos), maka itu banyak arsitektur bergaya Perancis di kota ini. Kita akan melakukan mini city tour mengunjungi daerah kota lama dengan arsitektur ala Perancis yang megah. Beberapa tempat yang kita lewati adalah: Gereja Notre Dam, Opera Theatre, Central Post Office, dan Reunification Palace.

 

Notre Dam Saigon (Ho Chi Minh City) oleh Kevin

Notre Dam Saigon (Ho Chi Minh City) oleh Kevin

Hoi An : Kota tua pelabuhan ini tercatat sebagai daftar UNESCO heritage site Arsitektur kota ini masih dipertahankan seperti ratusan tahun yang lalu, dan dilalui oleh sebuah sungai dan sangat menarik untuk dikunjungi dan untuk kegiatan fotografi. Foto-foto Hoi An dan sekitarnya bisa dilihat disini.

oleh Nic Saigon

Hoi An di sore hari oleh Nic Saigon

My Son : Kompleks reruntuhan candi yang dibangun oleh Raja Champa ratusan tahun yang lalu, yang merupakan situs Unesco heritage site.

my-son-vietnam

My Son – oleh Bernard Gagnon

Itinerary

Hari ke-1 Tiba di Ho Chi Minh City (Saigon) -/-/D
Tiba di Saigon, check-in hotel, makan malam river cruise.

Hari ke-2 City tour Saigon B/L/D
Pagi hari mini city tour kota tua Saigon, lalu ke airport untuk terbang ke kota Da Nang. Sesampainya di Da Nang, langsung menuju kota Hoi An (sekitar 45 menit).

Hari ke-3 – Human Interest dan Sunset B/L/D
Pagi-pagi berangkat menyusuri daerah untuk memotret aktivitas pasar lokal di pagi hari dan memotret reruntuhan My Son, salah satu UNESCO world heritage site, adalah kompleks candi yang dibangun oleh raja Champa ratusan tahun yang lalu.

Setelah makan siang, kita akan berkunjung ke perkampungan nelayan Duy Hay untuk memotret human interest. Sorenya kita akan memotret sunset di kota Hoi An.

Hari ke-4 – Foto model dan jelajah kota tua B/L/D
Di pagi hari, kita akan memotret model dengan baju tradisional Vietnam (Ao Dai) dengan latar belakang arsitektur tua kota Hoi An yang khas. Selanjutnya peserta bisa menjelajahi kota untuk hunting foto atau shopping. Setelah makan siang, terbang kembali ke Ho Chi Minh. Malam di Ho Chi Minh, kita akan kunjungi pasar malam untuk hunting foto ataupun belanja oleh-oleh.

Hari ke-5 – Pulang B/-/-
Acara bebas/opsional di pagi hari sampai waktunya untuk pulang ke tanah air.

Toko lampion di Hoi An oleh Harald Hoyer

Toko lampion di Hoi An oleh Harald Hoyer

Suasana pagi di Hoi An - oleh Thong Vo

Suasana pagi di Hoi An – oleh Thong Vo

[click to continue…]

{ 4 comments }

Tanggal 2 Maret 2015 yang lalu, Nikon mengumumkan kamera DSLR baru bersensor APS-C yaitu Nikon D7200. Kamera ini diumumkan tanpa hingar bingar dan ada kesan kamera ini tidak begitu penting karena D7200 diumumkan setelah pameran besar fotografi CP+ di Jepang.

nikon-d7200-18-140mm

Entah karena terlambat, tapi menurut saya, kemungkinan besar timing pengumuman setelah pameran besar disengaja oleh Nikon, mungkin supaya tidak harus bersaing dengan kamera baru lainnya yang lebih menarik di acara pameran tersebut.

Sekilas saya perhatikan saat saya berada di hotel Kunming dalam rangka tour fotografi, Nikon D7200 tidak menawarkan sesuatu yang baru/inovatif. Saya mendapatkan kesan D7200 hanya merupakan penyempurnaan/perbaikan dari Nikon D7100. Secara desain body D7200 sangat mirip dengan Nikon D7100 maupun pendahulunya Nikon D7000.

Perbaikan utama terletak dari kapasitas buffer yang lebih lapang. Perbaikan ini memungkinkan fotografer untuk memotret berturut-turut dengan RAW sebanyak 18 foto, dan 100 foto format JPG sebelum buffer penuh. Kapasitas ini lebih baik daripada D7100 yang hanya dapat menampung 6 foto RAW dan 50 foto JPG. Fotografer aksi dan liputan akan sangat senang dengan peningkatan ini.

[click to continue…]

{ 29 comments }

Adu fitur flash Shanny SN600C vs Canon 430EX II

Lampu kilat (flash) eksternal adalah salah satu aksesori lighting fotografi yang praktis dan punya dampak besar dalam hasil foto yang didapat. Aksesori ini layak dipertimbangkan bila kita merasa flash built-in di kamera tenaganya kurang kuat, ataupun tidak bisa diarahkan ke atas (bounced). Flash eksternal yang lebih canggih bahkan punya fitur lanjutan seperti bisa TTL, ada zoom head, High Sync Speed dan Multi flash. Sayangnya flash eksternal yang berkekuatan besar dan sarat fitur harganya memang cenderung tinggi. Maka itu mulai banyak dijumpai produk flash eksternal pihak ketiga yang membuat flash eksternal dengan harga lebih bersahabat.

Kali ini kita akan membandingkan fitur antara dua flash kelas ekonomis yaitu Shanny SN600C (didesain kompatibel dengan kamera Canon) dan flash Canon Speedlite 430EX II. Kedua flash ini merupakan flash eksternal ukuran standar dengan tenaga dari 4 baterai AA, bisa di putar (untuk bounce) dan tentunya kompatibel dengan bodi Canon (on-camera E-TTL). Keduanya juga sudah dilengkapi dengan AF assist light untuk membantu kamera mencari fokus, sebuah fitur penting di kamera Canon karena tidak ada lampu AF assist di bodinya.

shanny-sn600c

Shanny SN600C – Kuat dan kaya fitur

Kita akan tinjau perbandingan kedua fitur flash ini. Sebagai flash yang dibuat oleh Canon, Speedlite 430EX II tentu dirancang untuk kompatibel dengan bodi Canon saat ini maupun yang akan datang. Ukurannya yang cukup kecil dan ringan juga menjadi daya tarik saat kita bepergian dan tidak ingin bawa gear yang terlalu berat. Di lain pihak bentuk dan ukuran flash Shanny lebih besar, sepintas dimensinya mirip dengan Speedlite 600EX.

[click to continue…]

{ 14 comments }

Membatasi penyebaran cahaya dalam foto portrait

Kebanyakan fotografer pemula takut dengan kehadiran bayangan apalagi bayangan yang gelap saat foto portrait. Maka itu, pertanyaan yang sering muncul adalah bagaimana cara supaya bayangannya hilang. Sebenarnya tidak sulit menghilangkan bayangan, misalnya dengan cara menambahkan lampu untuk menyinari daerah bayangan. Tapi seringkali bayangan itu perlu atau sengaja dibuat untuk membuat foto lebih bagus.

Pada foto portrait pada umumnya, kita bisa mengunakan bayangan untuk menutupi bagian yang kurang menarik, misalnya wajah yang terlalu bundar/chubby, lengan yang terlalu besar, dan lemak diperut tanpa perlu editing di Photoshop untuk membentuk kembali wajah dan badan.

Konsep pentingnya adalah membatasi cahaya ke model foto, dengan mengunakan pembentuk cahaya (light shaper/modifier) tertentu yang menyempitkan penyebaran cahaya. Contohnya: standard reflector + honeycomb grid, snoot, strip softbox. Bagi yang suka mengunakan available light/matahari, juga bisa dengan memblokir arah sinar dengan “flag” seperti karton/reflector hitam, atau mengunakan jendela dan cahaya dibatasi dengan menutup-buka tirai.

low-key-portrait-pier-paola

Foto diatas dibuat dengan mengunakan lampu studio/flash dengan light modifier standard reflector + honeycomb seperti gambar di sebelah kanan. Hasil foto menunjukkan bahwa hanya bagian wajah saja yang mendapat penerangan yang cukup terang, dan semakin ke tepi foto, cahaya semakin gelap/hitam.

Dengan teknik lighting seperti diatas (sering disebut dengan teknik low-key), maka pemirsa foto akan lebih fokus ke wajah dan ekspresi model daripada background dan fashionnya. Di dalam fotografi, mengurangi dan membatasi penyebaran cahaya tidak kalah penting dibandingkan dengan menambahkan dan menyebarkan cahaya.

—–
Infofotografi sering mengadakan workshop creative lighting studio dengan lampu flash, jika berminat bisa melihat jadwal disini dan mendaftar. Tempat terbatas, maksimum hanya 8 peserta saja.

Buku Lighting itu Mudah! Karangan saya tentang teknik lighting juga masih tersedia, dan bisa dipesan via 0858 1318 3069 atau di toko ranafotovideo.com

Model : Pier Paola

{ 6 comments }

Mungkin hal yang paling jarang dibahas adalah tripod. Padahal ketajaman foto sangat tergantung dari tripod. Bahan kaki tripod menentukan kestabilan kamera dan lensa yang diletakkan diatasnya. Dahulu, bahan kaki tripod bermacam-macam, ada yang dari kayu, besi, alumunium dan di sekitar tahun 1990-an mulai muncul tripod dengan bahan carbon fiber. Mengunakan tripod berbahan carbon fiber merupakan prestige tersendiri, bukan hanya karena harganya lebih tinggi, tapi juga memiliki berbagai keuntungan dibandingkan dengan alumunium.

tripod-kayu

Tripod bahan kayu

Alumunium dengan ukuran sama lebih berat dari carbon fiber karena alumunium lebih padat. Kepadatan Alumunium adalah 2.7 gram per cubic centimeter, sedangkan carbon fiber hanya 1.6 gram per centimeter. Sehingga dengan berat yang sama, tripod berbahan carbon fiber lebih kokoh.

Sayangnya, tidak semua bagian dari tripod bisa digantikan dengan carbon fiber. Kita hanya bisa menghemat berat dari tabung kaki tripod saja. Sedangkan banyak bagian lain masih terbuat dari logam aluminium, magnesium alloy atau plastik.

Saya biasanya tidak merekomendasikan tripod yang sebagian besar dari plastik atau logam tipis, karena mudah sekali penyok dan tidak kokoh. Sebagian tripod yang berkualitas mengunakan logam magnesium alloy yang memiliki sifat kokoh dan tidak begitu berat.

Untuk tripod dengan kapasitas yang sama, perbedaan total berat antara tripod alumunium dan carbon fiber sebenarnya tidak banyak, yaitu sekitar setengah sampai satu kilogram. Tapi jika fotografi yang disukai adalah landscape yang membutuhkan hiking dan membawa peralatan kamera, lensa sendiri, maka 1/2 – 1 kg lebih ringan itu akan sangat membantu.

Lapisan bahan kaki tripod berbahan carbon fiber

Lapisan bahan kaki tripod berbahan carbon fiber

Kelebihan carbon fiber tidak hanya lebih ringan, tapi juga bukan konduktor getaran yang bagus dibandingkan dengan logam. Coba perhatikan alat musik seperti lonceng dan gong, materinya dari logam supaya bisa bergetar dan memunculkan bunyi. Carbon fiber tidak menghantarkan getaran. Jadi jika di bagian bawah carbon fiber, ada getaran misalnya dari air, angin atau lainnya, getaran tersebut kemungkinan besar tidak sampai ke kepala tripod dan kamera.

Salah satu kelebihan yang jarang dibahas tentang tripod carbon fiber adalah tentang ketahanannya terhadap cuaca dingin. Kaki tripod carbon fiber tidak dingin seperti alumunium saat hunting foto di tempat yang dingin.

Mengapa tidak membeli tripod Carbon Fiber saja kalau kelebihannya banyak? Masalahnya adalah harga. Harga tripod Carbon Fiber biasanya dua sampai tiga kali lebih mahal daripada harga tripod alumunium atau bahan yang lain.

Sebagai info, tidak semua tripod yang dilabelin Carbon Fiber itu memiliki standar kualitas yang tinggi. Ada yang sekilas mirip Carbon fiber, tapi sebenarnya merupakan campuran Carbon Fiber dan Magnesium atau bahan lainnya. Pabrik biasanya membuat tripod seperti itu supaya harganya bisa lebih terjangkau.

Ringkasnya, tripod Carbon fiber memiliki kelebihan, tapi apakah pantas dengan harga lebih tinggi? Tentunya ini kembali ke masing-masing. Apakah kelebihan tersebut penting? Misalnya, jika kebanyakan foto indoor, dan tidak banyak berpindah tempat, tentunya tripod berbahan alumunium sudah cukup bagus. Jika sering foto outdoor, tripod berbahan carbon fiber memberikan keuntungan yang lebih banyak.

Panduan memilih tripod bisa dibaca disini.

————–

Membutuhkan tripod yang berkualitas untuk berbagai jenis fotografi? Coba lihat-lihat di toko kami atau hub 0858 1318 3069 / infofotografi@gmail.com untuk konsultasi.

 

{ 2 comments }