≡ Menu

Banyak pemula yang ingin tau cara cepat mendapatkan hasil foto yang baik dengan hanya bermodalkan pengetahuan dasar fotografi, mereka kadang bingung harus mulai dari mana dan jenis/genre fotografi apa sebaiknya yang tepat ditekuni supaya intuisi dan mata fotografinya cepat terbangun.

Jawabannya sangat pribadi sekali, memang tidak ada syarat genre apa sebaiknya dimulai terlebih dahulu, tetapi sesuai pengalaman bagi saya pribadi, genre street photography/fotografi jalanan cocok bagi pemula, apakah itu dilakukan pada waktu senggang atau pada waktu berpergian/travel.

Suasan Didalam KRL/Comuter Line – Leica M4 / Leitz Summicron 5cm, f/2.0 / Kodak Tmax 400

Fotografi jalanan adalah salah satu medium yang mengabadikan tingkah laku maupun keadaan lingkungan, atau manusia disekitarnya berada. Street photography ini telah dilakukan oleh berbagai fotografer dalam beberapa dekade.

Pada awalnya citra fotografi jalanan ini mulai marak pada saat setelah berahirnya perang dunia kedua, menggunakan model kamera dengan desain yang ringkas dan sederhana serta mempunyai kualitas optik yang sangat baik. Kamera dengan film rol ukuran 35mm ini sangat populer di kota-kota besar seperti New York dan Chicago.

Kamera film/analog 35mm SLR dan Rangefinder

Orang mulai lebih bebas menggunakan kamera dan menjadi gaya hidup di lingkungan dalam kota metropolitan. Kamera ini adalah camera jenis range finder yang dibuat oleh Leica, dan Leica M3 diluncurkan pada tahun 1954 adalah kamera legendaris yang sampai saat ini masih banyak yang senang menggunakannya.

Henri Cartier-Bresson’s Leica M3, brassed from a lifetime of use. Cartier-Bresson was the father of street photography, making an art form of candid urban observation. “Your eye must see a composition or an expression that life itself offers you. And you must know with intuition when to click the camera” – HENRI CARTIER-BRESSON 

Ketika genre ini berkembang dan berevolusi, fotografi jalanan menjadi praktek umum mengabadikan orang-orang, tempat, dan berbagai peristiwa dalam gaya dokumenter yang efektif dan merangsang secara visual.

[click to continue…]

{ 1 comment }

Review lensa Canon EF-M 11-22mm f/4-5.6 IS STM

Lensa ultra lebar adalah salah satu lensa penting untuk beberapa jenis fotografi, khususnya travel, landscape dan arsitektur. Mengapa? karena mampu menangkap sudut yang sangat lebar, dan membuat pemandangan menjadi lebih dramatis.

Dewasa ini lensa ultra lebar juga banyak digunakan untuk aktivitas merekam video, untuk mendokumentasikan perjalanan, atau untuk vlogging. Sudutnya yang lebar mampu untuk menangkap pemandangan luas, dan biasanya kalau rekam video 4K, sebagian besar kamera akan mengambil gambar di bagian tengahnya saja (crop 1.6x), kalau pakai lensa lebar ini masih kerasa lebarnya. Kalau pakai lensa 15mm keatas akan terasa terlalu sempit, terutama untuk self vlogging.

Canon EF-M 11-22mm f/4-5.6 IS STM adalah salah satu lensa yang lebar untuk sistem kamera mirrorless Canon EOS M (format APS-C), yang memberikan sudut pandang ekuivalen 18-35mm di kamera full frame. Lensa ini memiliki beberapa fitur yang sangat membantu, seperti motor fokus STM yang nyaris tidak bersuara dan mulus, dan yang penting adalah stabilizer (IS) yang membantu menstabilkan gambar saat memotret dan merekam video.

Dibandingkan dengan lensa ultra wide dari sistem kamera DSLR, Canon EF-M 11-22mm jauh lebih ringkas dan saat tidak dipakai collapsible menjadi pendek. Desain ini ada plus minusnya, meski dalam penyimpanan lebih ringkas, kita jadi bisa pakai tas yang berukuran kecil, tapi saat ingin mengunakannya perlu satu langkah lagi yaitu harus menekan dan memutar tuas di bagian samping badan lensa dulu baru siap untuk memotret.

Saya berkesempatan menguji lensa ini dalam perjalanan ke Semarang untuk memotret berbagai tempat wisata disana. Lokasi pertama adalah di air terjun Lawe. Disini aliran air dan angin cukup deras sehingga kamera dan lensanya agak basah, lensa dan kamera Canon M100 ini tidak tahan air, jadi saya harus cekatan menyeka air yang membasahi lensa, tapi untungnya tidak masalah dalam memotret.

Curug Lawe, Jawa Tengah, ISO 100, f/5.6, 1/4 detik, tanpa tripod

Image stabilization dalam lensa sangat membantu saya dalam memotret tanpa tripod. Secara teori, di fokal lensa 11 mm, lensa ini bisa mengkompensasikan getaran tangan kita sampai shutter speed 1/2.25 detik (didapat dari (11 x 1.6) dibagi 8). Dalam praktiknya saya menemukan foto-foto di shutter speed 1/4 sebagian besar tajam, dan 1/2 sebagian besar cukup tajam tapi tidak sempurna. 1/4 detik pada dasarnya cukup untuk membuat efek mulus di air terjun, tidak semulus jika mengunakan 2-30 detik tentunya, tapi cukup memberikan kesan gerakan dan tetap memiliki tekstur aliran air. [click to continue…]

{ 0 comments }

Review kamera DSLR pemula : Canon EOS 1500D

Kali ini kami akan membahas sebuah kamera DSLR pemula dari Canon bernama EOS 1500D (di negara lain namanya EOS 2000D, atau Rebel T7). Sebagai kamera pemula, Canon EOS 1500D ditujukan untuk mereka yang mencari esensi dari sebuah kamera tanpa perlu merisaukan hal-hal tambahan yang tidak berpengaruh langsung pada hasil foto. Fungsionalitas jadi kata kunci utama di kamera ini, sebuah kamera DSLR dengan harga terjangkau, ergonomi yang pas di tangan, jendela bidik optik, dukungan berbagai lensa EF dan EF-S, bisa rekam video Full HD dan ada fitur WiFi/NFC yang diperlukan generasi masa kini. Kamera ini menjadi penerus EOS 1300D, dan segmentasinya berada di bawah kamera tiga digit seperti EOS 800D. Baiklah, langsung saja kita mulai…

Dengan sensor APS-C 24 MP, EOS 1500D bisa disetarakan dengan berbagai kamera lain yang lebih mahal baik DSLR maupun mirrorless, artinya kamera pemula juga (akhirnya) sudah bisa diberikan sensor resolusi tinggi 24 MP (6000×4000 piksel) dengan 14 bit RAW. Kemampuan ISO dari 100-6400 (bisa diekspansi ke ISO H/12800), berbagai mode pemotretan yang disediakan termasuk cukup lengkap (Creative Auto dan beberapa Scene mode), shutter dari 1/4000 detik hingga 30 detik, serta fitur video full HD membuat kamera ini bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Memang sebagai kamera pemula, banyak fitur yang sengaja dibuat minimalis, misal jumlah titik fokus hanya 9 titik, memotret kontinu hanya 3fps, tanpa touch screen dan Dual Pixel AF, demi menekan biaya produksi.

Canon EOS 1500D, lensa kit EF-S 18-55mm II IS

Bodi kamera ini memang ringan, karena bahannya didominasi plastik. Namun setidaknya bagian depan dan belakang ada sedikit balutan karet untuk lebih nyaman digenggam. Di 1500D ini mount kamera masih dari logam, tidak seperti di 3000D yang pakai mount plastik. Layar LCD-nya tidak bisa dilipat putar, namun ukurannya sudah standar dengan 3 inci 920ribu dot. Terdapat flash hot shoe di bagian atas yang agak berbeda dengan hot shoe lainnya (tidak ada pin X-sync untuk pasang flash manual) dan tentunya ada built-in flash juga. Sebagai lensa kitnya disediakan dalam paket penjualan sebuah lensa klasik EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 II IS. Tidak ada pintu khusus kartu memori di bagian kanan kamera ini, karena kartu memori ditempatkan bersebelahan dengan baterai. [click to continue…]

{ 1 comment }

Leica Q2 resmi diluncurkan di Indonesia

Generasi baru compact camera dengan sensor Full frame dari Leica telah resmi diluncurkan di Indonesia, yaitu Leica Q2. Dari namanya tentu kita tahu kalau ini adalah penerus dari Leica Q (typ 116) yang pertama dibuat 4 tahun lalu. Bertempat di Fritz Hansen lantai 2 Plaza Senayan Jakarta, direktur Leica Store Indonesia Bernard Suwanto mengatakan pada media bahwa Leica Q2 menawarkan pengalaman fotografi yang unggul untuk kamera fixed focal length yang dilengkapi sensor full frame 47,3 megapiksel, perlindungan terhadap debu dan cipratan air, dan jendela bidik OLED.

Leica Q2 memiliki lensa tetap 28mm f/1.7 dengan auto fokus, yang membantu saat keadaan kurang cahaya. Karena sensornya yang punya resolusi tinggi, maka meski kamera ini menganut desain lensa fix tapi penggunanya tetap bisa mencoba fokal lain seperi 30mm, 50mm hingga 75mm dengan cara cropping dan tetap didapat resolusi yang cukup tinggi. Kini pada Leica Q2 disematkan fitur video 4K juga, kemudian ISO terendah adalah ISO 50, layar sentuh, konektivitas WiFi+Blutooth dan ada shutter elektronik yang bisa membuat foto kontinu yang cepat 20 fps serta shutter up to 1/40.000 detik.  [click to continue…]

{ 1 comment }

Sharing & Gathering : Memahami dan membaca foto

Halo pembaca Infofotografi, tanggal 24 Maret 2019, kita akan mengadakan sharing the gathering dengan topik “Bagaimana membaca dan memahami sebuah foto/gambar. ”

Kadang ada foto yang menurut kita biasa saja, tapi kok bisa populer, bermakna atau terjual dengan harga tinggi. Teman kami, Taufan Wijaya bersedia meluangkan waktunya untuk berbagi tentang bagaimana memahami sebuah foto sehingga kita bisa lebih kritis dan mengerti mengapa sebuah foto bisa menjadi signifikan padahal secara estetikanya belum tentu menonjol.

Ketika banjir gambar terutama foto, lebih menerjang dibanding banjir air di musim penghujan ini, maka beraksara visual adalah petunjuk dasar terutama mereka yang tak ingin tersesat di belantara gambar. – Taufan Wijaya

Sharing & gathering ini akan dipandu oleh Enche Tjin dengan narasumber Taufan Wijaya, photojournalist dan penulis berbagai buku fotografi termasuk Fotojurnalistik, Photo story handbook dan Literasi Visual.

Pendaftaran bisa melalui Iesan, WA 0858 1318 3069 / infofotografi@gmail.com

Biaya pendaftaran Rp 100.000
Terbuka untuk penggemar fotografi dari berbagai kalangan.

Hari Minggu, tgl 24 Maret 2019
Pukul 13.00-15.00 WIB
Tempat: Infofotografi.com, Rukan sentra niaga, Blok N 05, Greenlake city, Jakarta Barat.

{ 0 comments }

15 Maret 2019 yang lalu, Infofotografi diundang kembali sebagai media untuk meliput peluncuran Sony A6400 dan lensa anyar Sony 135mm f/1.8 GM di Greenhouse Co-working and Office di Kuningan, Jakarta, Indonesia.

Dalam peluncurannya, Sony menekankan pada keunggulan A6400 dalam hal sistem autofokus yang telah dilengkapi dengan AI (Artificial Intelligence) yang diberi istilah Real-time Eye AF & tracking yang terbaru disertai dengan layar sentuh yang bisa dilipat ke atas. Sony A6400 dibuat sebagai pengganti Sony A6300.

Dalam peluncurannya, fotografer Fajar Kristiono mendemokan kinerja autofokus yang baik dalam melacak mata dari atlit wushu meskipun ia bergerak cepat dan sesekali membelakangi kamera. Tanpa jeda, sistem autofokus kamera tetap mendeteksi dan mengikuti mata.

Fajar berkomentar kali ini Eye-AF di A6400 ini bisa diaktifkan tanpa harus menekan tombol tertentu, hanya perlu menekan setengah tombol shutter seperti autofokus biasa saja.

Sementara itu, Yopi Gunawan, seorang videografer yang berbasis di Bandung mendemonstrasikan bahwa kecepatan autofokus untuk berpindah dari subjek satu ke subjek lain sangat cepat dan transisinya hampir tidak terlihat. Setting favoritnya yang dia bagikan saat demonstrasi yaitu AF Drive Speed di set ke Fast.

Dalam peluncuran ini, Sony Indonesia menyelipkan lensa GM profesional baru yaitu Sony FE 135mm f/1.8, lensa fix yang piawai dalam memotret dalam kondisi cahaya gelap misalnya untuk portrait di malam hari/stage fotografi ini memiliki motor fokus ganda yang sangat cepat.

Dalam tes singkat saya dengan mengunakan Sony A7III, lensa Sony FE 135mm f/1.8 ini bisa fokus dan melacak wajah dan mata dengan cukup cepat. Kemungkinan kinerjanya akan lebih baik lagi saat A7III mendapat update firmware Real Time eye AF. Sony 135mm f/1.8 akan tersedia dalam bulan April dengan harga Rp 26.999.000.

Harga pre-order kamera Sony A6400 cukup agresif. Kamera body only dibandrol dengan harga Rp 12.999.000, dan Rp 14.999.000 dengan lensa E 16-50mm f/3.5-5.6 OSS. Jika memesan pre-order dari tanggal 15-31 Maret 2019 pemesan akan mendapatkan bonus.

  1. Camera bag Vanguard Sydney II 18 senilai Rp 510,000
  2. Leather Camera Strap senilai Rp 390,000
  3. LCD Screen Guard senilai Rp 150,000
  4. Memory Card 64GB senilai Rp 750,000

Penawaran lainnya yaitu cashback Rp 500,000 untuk pembelian bersama grip GP-VPT1 (harga normal Rp 1,599,000), Cashback Rp 2,000,000 dengan lensa 18-105mm f/4 (harga normal Rp 7,199,000), dan cashback Rp 3,500,000,- dengan lensa Sony Zeiss 16-70mm f/4 OSS (harga normal Rp 12,104,000).

Yang menarik bagi saya yaitu teknologi baru ini biasanya diturunkan ke kamera seri pro / mahal terlebih dahulu, tapi Sony menurunkan teknologi ini ke Sony A6400, kamera yang termasuk mid-level dan relatif lebih murah. Dari perbincangan saya dengan Senior manager Asia Tenggara, Bing Han, beberapa type kamera Sony yaitu A7 III, A7R III dan A9 akan mendapatkan teknologi ini via firmware update di masa yang tidak terlalu lama.

Spesifikasi utama Sony A6400

  • 425 area autofocus hybrid (face & eye tracking)
  • 24.2 MP APS-C CMOS Sensor
  • Foto berturut-turut maksimal 11 foto per detik
  • ISO 100-32000 bisa di perluas ke 102400
  • Layar touch focus 180 derajat
  • Video 4K, HDR, S-Log Gamma3
  • 200.000 shutter count reliability
  • Built-in interval shooting/timelapse

Jika berminat memesan kamera ini, kami bisa membantu. Hub WA Iesan 0858 1318 3069, atau infofotografi@gmail.com. Trims 🙂

{ 1 comment }

Beberapa tahun belakangan ini, pengguna kamera mirrorless Canon EOS M yang menyukai lensa fix atau lensa berbukaan besar harus puas dengan satu-satunya lensa fix yaitu Canon EOS M 22mm f/2 (ekuivalen 35mm). Lensa 22mm ini bagus, ukurannya mini, tapi pengguna kamera Canon EOS M tentunya ingin lebih banyak variasi.

Akhir tahun 2018 yang lalu akhirnya Canon merilis lensa EF-S 32mm f/1.4, yang jika dikalikan dengan crop factor, menjadi ekuivalen dengan 51.2mm di format full frame. Jarak fokal 50mm di format full frame merupakan jarak fokal yang populer karena cukup fleksibel untuk berbagai jenis fotografi, dan lensa fix memiliki kemampuan membuat latar belakang yang tidak fokus menjadi blur “bokeh” karena bukaan maksimum yang besar.

Desain

Lensa 32mm f/1.4 STM ini casingnya terbuat dari logam dan bagian dalamnya dari plastik, lebih baik daripada lensa DSLR pemula pada umumnya. Ukurannya relatif kecil, cocok untuk kamera mirrorless EOS M dengan tekstur barrel diamond yang berguna untuk manual fokus.

Tidak terdapat tuas auto fokus atau manual fokus, karena fungsi ini diatur dari kamera. Tapi ada satu tuas pembatas jarak fokus. Kita bisa memilih antara full, dimana kamera bisa mencari fokus dari jarak 23mm sampai tak terhingga, atau bisa dibatasi dari 50mm ke tak terhingga. Tujuan pembatasan fokus ini supaya autofokus bisa lebih cepat saat subjek memotret subjek dengan jarak yang tidak terlalu dekat (50 cm atau lebih jauh).

Kinerja

Seperti lensa EOS M lainnya, lensa ini dilengkapi dengan motor fokus yang disebut Stepper Motor (STM), teknologi ini memungkinkan autofokus yang mulus dan suaranya lebih senyap daripada lensa dengan motor fokus USM atau DC, maka itu lensa ini lebih cocok untuk foto ditempat yang hening atau untuk merekam video.

Dalam pengujian, kecepatan autofocus untuk jarak dekat agak sedikit lambat, tapi akurat, sekitar 0.3-0.5 detik, sedangkan untuk subjek berjarak 50 cm atau lebih sangat cepat, kurang lebih 0.1-0.2 detik.

Lensa ini juga mendukung fungsi AF+MF. Artinya setelah kamera mengunci fokus, fotografer bisa memutar barrel lensa langsung untuk manual fokus. Fungsi ini berguna untuk memotret subjek berukuran kecil dari jarak dekat.

Foto ini dibuat dengan scene mode Food, kamera memilih 1/60, f/4, ISO 800. Kualitas latar belakang blur tetap bagus dengan bagian fokus yang tajam.

ISO 100, f/1.4,, 1/320 detik

ISO 100, f/2.8, 1/100

[click to continue…]

{ 1 comment }

Banyak orang yang semakin hobi fotografi, tapi di sisi lain harga kamera dan lensa terus naik. Bagaimana caranya memulai hobi foto tanpa banyak menguras dompet? Tulisan ini bertujuan mengenalkan sistem kamera yang lengkap tapi tetap ekonomis, dan tentunya kamera dan lensa yang dimaksud adalah DSLR. Mengapa? Karena DSLR yang sudah hadir sejak lama tentunya memiliki banyak pilihan lensa dari yang murah sampai mahal. Di era sekarang, DSLR bisa dibilang sudah matang secara evolusi teknologinya sehingga walau tipe terbawah pun sudah punya fitur yang lengkap, demikian juga dengan kualitas lensa-lensanya.

Di artikel kali ini saya coba susun semacam kompilasi gear yang bisa dimiliki oleh pemula dengan budget terbatas, namun tetap bisa diandalkan untuk berkreasi dan berkarya diantaranya adalah :

Bodi : Canon 1500D plus lensa kit 18-55mm.

Canon 1500D menjadi DSLR terbaru Canon dengan sensor 24 MP, meningkat dibanding sebelumnya 18 MP di 1300D. Harga kamera ini 6 juta sudah termasuk lensa kit EF-S 18-55mm IS. Dengan harga serendah ini, sudah didapat sebuah kamera fungsional, dengan sensor APS-C 24 MP, dengan jendela bidik optik dan tetap bisa live view serta rekam video. Memang sebagai lini terbawah dari jajaran DSLR Canon, 1500D ini tidak dilengkapi dengan  spesifikasi terlalu tinggi seperti hanya pakai 9 titik AF, hanya bisa 3 fps memotret kontinu dan tidak bisa layar sentuh. Tapi ya meski demikian kamera ini tetap bisa dimaksimalkan untuk berbagai kebutuhan fotografi dengan memasang bermacam lensa, dan lampu kilat serta aksesori lain seperti tripod dan filter. [click to continue…]

{ 4 comments }

Leica Q2 : The Legend Reborn

Leica Q yang diluncurkan tahun 2015 merupakan salah satu kamera yang paling populer, diminati dan bahkan cocok menyandang status legenda. Kamera dengan sensor full frame, 24MP dan lensa fix 28mm f/1.7 Macro ini sampai saat ini masih tergolong kamera yang sangat bagus dan banyak dicari baik dalam kondisi baru maupun bekas.

Kamera Leica Q (Typ 116) menganut nilai-nilai Leica, yaitu memiliki desain yang simple dan timeless/abadi, memiliki lensa berkualitas tinggi dan kualitas gambar dengan warna yang akurat. Tentunya sulit bagi Leica untuk membuat kamera yang lebih bagus, meskipun sudah empat tahun berjalan. Akhirnya, Leica akhirnya merilis penerus yang dinamakan Leica Q2.

Apa peningkatannya?

  1. Resolusi meningkat 95% menjadi 47 MP tetap dengan format sensor full frame
  2. Ketahanan terhadap debu dan tetesan air (rating: ip 52)
  3. Processor Maestro generasi baru yang lebih cepat untuk foto dan video.
  4. Jendela bidik OLED 0.5″, 3.68MP magnification .76x
  5. Baterai yang sama dengan Leica SL (lebih besar kapasitasnya).

Kunci dari peningkatan kinerja Q2 adalah processor baru yang memungkinkan foto berturut-turut 10 foto per detik, mampu merekam video 4K30p dan membuka fitur 4K Burst. Untuk mendukung kecepatan yang sangat tinggi ini, disarankan mengunakan memory card UHS-II yang lebih cepat daripada memory card SD biasa.

Yang juga menarik adalah, dengan 47MP sensor, maka jika kita crop(potong) fotonya untuk menyerupai sudut pandang lensa 35mm, 50mm dan 75mm, masing-masing masih mendapat cukup banyak detail: kurang lebih 30MP, 14.6MP dan 6.6MP. Bedanya ruang tajam/depth of fieldnya tidak sama dengan f/1.7. Artinya saat mengunakan crop 50mm, ruang tajamnya kurang lebih mirip dengan 50mm f/3.5 tapi dalam penggalangan cahaya, tetap seperti lensa berbukaan f/1.7.

Dari segi desain, Q2 secara sekilas tidak banyak berubah dari pendahulunya, Leica Q. Memang benar, tidak perlu mengubah terlalu banyak desain Leica Q yang sudah menganut nilai-nilai Leica yang salah satunya simplicity ini. Beberapa perubahaan yang menurut saya bijak yaitu:

  • Leica Q2 memiliki tiga tombol saja di bagian belakang yaitu : Play, Fn (function) dan Menu.
  • Bagian atas ada tombol baru yang kemungkinan bisa diprogram misalnya untuk ISO.
  • Tuas On/Off tetap berada di bawah tombol jepret/shutter, tapi sekarang fungsinya cuma satu saja untuk menghidupkan dan mematikan, tidak seperti pendahulunya tuas tersebut juga bisa untuk memilih continuous shooting.
  • Diopter adjustment untuk jendela bidik ini harus di tekan baru diputar, perubahan ini untuk mencegah perubahan setting tanpa sengaja.

Empat tahun adalah waktu yang cukup untuk mengembangkan sebuah seri kamera, Leica berhasil meningkatkan kamera yang sudah hampir sempurna menjadi lebih sempurna lagi. Meskipun berbentuk compact, tapi Q2 mampu membuat foto berkualitas dengan detail yang sangat tinggi, melebihi sebagian besar kamera profesional.

Leica Q2 cocok bagi individu kreatif yang menyukai fotografi  baik sebagai hobi atau profesional, dan juga menyukai nilai-nilai Leica, yaitu simplicity tapi tanpa kompromi. Karena ukuran dan bobot yang relatif ringan, Leica Q2 cocok untuk digunakan di berbagai kondisi dan situasi, traveler dan street photographer merupakan dua jenis fotografer yang paling cocok untuk seri Leica Q ini.


Jika teman-teman pembaca berminat untuk memesan Leica Q, kami dapat membantu, kiriman pesan ke 0858 1318 3069 atau infofotografi@gmail.com

Spesikasi utama Leica Q2

  • 47.3 MP full frame sensor
  • Lensa 28mm f/1.7 ASPH. Macro
  • 3″ TFT Monitor (1.04 juta titik)
  • 10 fps, 20 fps (electronic)
  • ISO 50-50.000
  • Video: FHD (60,120fps), 4K (24,30 fps)/C4K
  • OLED 3.68 MP jendela bidik elektronik
  • Shutter: 60 detik – 1/2000 mekanik, 1/40.000 elektronik
  • Kapasitas baterai: 350 gambar (Baterai yang sama dengan Leica SL)

Contoh foto dari situs Leica Camera.

{ 0 comments }

Kadang-kadang ada yang menanyakan bagaimana menghilangkan rasa malu/takut untuk memotret orang di jalan. Kelihatannya memang tidak sulit untuk memotret, tapi di lapangan memang pasti ada rasa canggung. Saat mini-trip ke Hoi An, Vietnam bulan Februari 2019, salah satu agenda kita adalah memotret di pasar di pagi hari di pasar Hoi An.

Sambil jalan kami mencoba memotret. Ada yang secara candid atau diam-diam, ada yang secara langsung atau terbuka. Untuk motret secara candid tidak sulit di pasar, karena biasanya orang-orang sibuk dengan aktivitas mereka, tinggal kita pintar-pintar mengambil posisi sudut yang menarik.

Yang paling mudah mungkin adalah memilih latar belakang misalnya rumah, toko, tembok, yang menarik, lalu menunggu orang yang menarik untuk lewat, jika memungkinkan orang lokal dengan karakteristiknya. Misalnya di Vietnam, ibu-ibu yang memanggul dagangannya dan mengenakan caping.

Cara yang sedikit lebih sulit adalah mengikuti subjek dan menunggu gesture/sikap tubuh dari seseorang. Contohnya foto dibawah saya dari jauh sudah mengamati emak-emak ini mengenakan baju yang merah cerah dengan sapu yang berwarna hijau.

Atau menunggu di sebuah sudut, lalu menunggu waktu yang tepat untuk memotret, misalnya saat ekspresi subjeknya menarik. Jika ragu, foto beberapa kali atau secara kontinyu kemudian memilih momen yang tepat (decisive moment).

Kalau ingin foto dari jarak dekat, pasti ketauan orangnya langsung, tapi jangan kuatir, yang penting sapa saja, dengan bahasa lokal lebih bagus tentunya. Contohnya di Vietnam kata sapaan itu yaitu xin chào (baca: Sin chau). Mereka lebih gembira jika kita menyapa dengan bahasa mereka daripada sekedar Hello saja. Setelah itu saya biasa menunjuk/menggangkat kamera saya, kalau orangnya tidak keberatan, baru saya memotret. Setelah memotret, tentunya kita mengucapkan terima kasih, kalau dalam bahasa Vietnam cảm ơn (bacanya seperti Kam en). Kata lain yang membantu yaitu cakep: đẹp.

[click to continue…]

{ 3 comments }