≡ Menu

Panduan memilih kamera Panasonic

Di dunia kamera mirrorless, Panasonic merupakan pionir. Di tahun 2008, Panasonic membuat kamera digital mirrorless pertamanya yaitu Panasonic G1. Di tahun 2017 ini, sudah banyak peningkatan teknologi di kamera mirrorless, dan hampir semua merk kamera memiliki jenis kamera mirrorless. Di tengah persaingan yang sengit ini, Panasonic berkonsentrasi ke arah membuat kamera hybrid, yang bagus bukan hanya  dalam bidang foto tapi juga video. Saat ini, kamera-kamera Panasonic terkenal atas fitur-fitur dan kemampuan membuat video berkualitas tinggi.

Biasanya, fotografer/videografer memilih Panasonic karena beberapa alasan dibawah ini:

1. Ukuran compact dan ringan

Sistem kamera, baik kamera dan lensa ukurannya relatif compact dibandingkan dengan sistem kamera mirrorless dan kamera DSLR lainnya.

2. Kualitas video

Panasonic memiliki banyak pengalaman dalam membuat kamera video, dan video yang dihasilkan kamera-kameranya sangat detail dan tajam, sebagian besar kameranya sudah dapat merekam video 4K. Teknologi 4K ini juga dikembangkan untuk kebutuhan fotografi, seperti 4K photos, Post focus dan Focus Stacking.

[click to continue…]

{ 9 comments }

Kamera Canon baru mencari Cinta: M6, 800D dan 77D

Di hari Valentine, Canon mengumumkan tiga kamera baru, satu diantaranya kamera mirrorless yaitu Canon EOS M6, dua lainnya 800D dan 77D, keduanya penerus Canon EOS 750D dan 760D.

Canon M6 mengisi ruang diantara Canon EOS M3 dan M5 yang selisihnya harganya cukup jauh (7 dan 14 juta), teknologinya mirip EOS M6 yaitu sensor APS-C 24MP, processor DIGIC 7, Autofokus dual pixel AF, video full HD, tapi tidak memiliki jendela bidik dan layarnya hanya bisa ditekuk ke atas dan kebawah, tidak bebas seperti EOS M5.

Harganya saya perkirakan akan dibandrol sekitar Rp 12.5 juta dengan kit lens 15-45mm f/3.5-6.3 IS STM. Aksesoris jendela bidik elektronik yang bisa dipasang di atas hotshoe M3/M6 akan tersedia dengan harga sekitar Rp 3.5 juta.

Canon EOS 800D meneruskan tradisi kamera DSLR pemula, kini dilengkapi dengan teknologi autofokus dual pixel AF yang lebih cepat saat live view dan merekam video. Sistem autofokus deteksi fasanya juga diperbaharui menjadi 45 titik yang lebih sensitif di kondisi cahaya gelap. 800D akan dipaketkan dengan lensa kit baru, 18-55mm f/4-5.6 IS STM, yang bentuknya makin kecil, tapi bukaan maksimalnya f/4 daripada f/3.5. Harganya sekitar Rp 12.5 juta dengan lensa kit.

Canon EOS 77D adalah kamera yang lebih canggih dari 800D, tapi kualitas body-nya dibawah Canon EOS 80D yang ditujukan ke fotografer semi-profesional. 77D istilahnya adalah kamera “Super Rebel” untuk pemula. Kamera ini memiliki lebih banyak tombol, layar LCD tambahan dibagian atas kamera. 77D ditujukan kepada fotografer yang sudah cukup berpengalaman tapi tidak ingin kamera DSLR semi-pro yang ukurannya lebih besar dan mahal. Harganya akan sekitar 12.5 juta body only.

[click to continue…]

{ 1 comment }

Review kamera compact Panasonic LX10

Panasonic meramaikan pasar kamera compact jenis sensor 1 inci dengan meluncurkan Panasonic LX10. Kamera compact ini tergolong canggih dengan fitur dan kemampuan yang melampaui kebanyakan kamera compact pada umumnya. Kamera compact semacam ini biasanya digunakan sebagai kamera yang dibawa sehari-hari untuk memotret dan juga oke juga untuk merekam video (Vlog).

ISO 125, f/3.2, 1/800 detik

Ada beberapa nilai jual Panasonic LX10 dibandingkan kamera-kamera compact sekelas:

Wide angle 24mm dengan bukaan f/1.4 
Bukaan sebesar f/1.4 memiliki dua keuntungan yaitu kualitas foto yang lebih baik di kondisi gelap, karena bukaan besar memasukkan lebih banyak cahaya, selain itu, lebih mudah membuat latar belakang atau bagian yang tidak fokus menjadi agak blur sehingga foto terlihat lebih berdimensi. Sayangnya kalau kita zoom sedikit saja ke 28mm misalnya, bukaannya langsung menutup ke f/2.5, dan saat di 35-72mm, bukaan maksimalnya menjadi f/2.8, kurang lebih sama dengan lensa kamera pesaing.

Fokus lebih dekat
Saat lensa di focal length 24mm, kita dapat memfokuskan ke subjek kurang lebih tiga centimeter saja dari depan lensa. Fitur ini merupakan keunggulan unik dari LX10 ini. Kamera compact yang lain biasanya terbatas di jarak sekitar 5 cm.

Layar touchscreen
Tidak semua kamera compact bisa touchscreen, padahal touchscreen sangat memudahkan untuk mengendalikan kamera compact. Dan sebagian besar pengguna kamera digital di jaman ini sudah terbiasa mengunakan antar muka layar sentuh dengan ponselnya. Layar ini bisa ditekuk sampai 180 derajat ke atas untuk selfie, tapi tidak bisa ditekuk kebawah untuk membantu pemotretan high angle.

Image stabilization for photo and video (Full HD)
Optical stabilization di lensa sangat membantu saat memotret di kondisi gelap. Jika memegang kamera dengan stabil, saya bisa memotret dengan shutter yang cukup rendah seperti 1/8 detik dan masih menghasilkan foto yang tajam.

4K Photo dan Post Focus

Seperti kamera Panasonic yang dapat merekam video 4K, di LX10 juga terdapat fitur 4K Photo dimana kamera merekam video secepat 30 frame per detik, kemudian kita dapat memilih frame-frame yang kita sukai untuk di simpan sebagai foto dengan resolusi 8 MP. Sedangkan 4K Post Focus memungkinkan kita untuk menentukan fokus setelah foto 8MP dibuat.

Desain dan interface

Yang unik dari kamera ini adalah punya ring/gelang untuk mengatur aperture/bukaan lensa. Ada pilihan dari bukaan f/1.4 – f/11 dengan 1/3 click-stop. gelang ini efektif kalau motret di 24mm, di 28 atau tele, bukaan otomatis menutup (tidak sesuai dengan gelang lagi). Didepannya, ada ring yang bisa dikustomisasi menjadi berbagai fungsi, yang dari pabrikan/defaultnya adalah untuk step zoom lensa 28mm, 35mm dan selanjutnya. Meski kameranya kecil, tombol-tombolnya cukup lengkap, ada tombol kompensasi eksposur, mode autofokus, drive mode, WB, 4K Photo, 4K Focus (bisa dikustomisasi untuk menjadi fungsi lain).

[click to continue…]

{ 2 comments }

Tiga archetype kamera digital yang akan bertahan

Kamera digital baik kamera compact yang gak bisa bertukar lensa dan kamera tukar lensa seperti DSLR atau mirrorless saat ini menunjukkan tren penurunan terutama kamera compact yang menukik tajam dari tahun 2010. Kamera yang bisa tukar lensa tadinya dikira aman karena masih menunjukkan peningkatan dari tahun 2010-sampai 2012 juta menunjukkan tren penurunan. Kambing hitamnya? kamera ponsel yang makin canggih dan dirasa cukup kualitasnya, dan kualitas kamera di awal 2010-an dirasakan sudah cukup baik sehingga sebagian besar orang tidak merasa perlu untuk membeli kamera baru.

Melihat tren penurunan yang memprihatinkan ini, saya melihat untuk bisa bertahan, produsen kamera harus jeli dalam membuat kamera yang diminati masyarakat pencinta fotografi dan juga menguntungkan bagi produsennya. Ada beberapa archetype (pola dasar) kamera yang menurut saya bisa bertahan kedepannya.

1. Kamera yang fokus hanya di fotografi
Misalnya Leica M10, yang dibuat sesederhana mungkin. Tidak ada mode video dan lensanya tidak bisa autofokus, berarti tidak ada tombol-tombol dan menu untuk itu, hasilnya desain kamera bisa lebih ramping, menu lebih sedikit, fotografer bisa berkonsentrasi dalam memotret. Kamera lain yang lumayan mendekati archetype ini adalah Nikon Df, tapi Nikon Df ini perlu didesain ulang biar lebih mudah digunakan karena posisi roda dan tombolnya belum terlalu pas.

Leica M10, dari atas, kita bisa lihat dan langsung mengubah ISO, bukaan, fokus dan shutter speed. Inilah esensi dari fotografi.

Nikon Df, konsep bagus, namun implementasi desainnya masih perlu diperbaiki. Mungkin generasi ke-2nya bakal lebih bagus lagi?

2. Kamera yang fleksibel, bagus untuk foto dan video
Kamera yang praktis untuk digunakan berbagai hal akan dicari untuk fotografer pro atau amatir muda yang mulai sering merekam video untuk merekam pengalaman-pengalaman mereka. Contoh kamera hybrid canggih ini misalnya Panasonic GH5 dan Sony A7S, kamera tersebut sudah dibilang lengkap fitur dan desainnya untuk penghobi foto dan pembuat film pendek.

[click to continue…]

{ 6 comments }

Mentoring ke curug Nangka, Sabtu 25 Februari 2017

Agenda mentoring kali ini sedikit berbeda dengan biasanya, dimana kali ini kita akan field trip bersama-sama ke curug Nangka, sebuah spot di kaki gunung Salak di selatan kota Bogor. Disana kita akan berlatih untuk memotret air terjun, dengan bimbingan teknis untuk mengatur setting kamera, filter dan sebagainya. Mentoring kali ini cocok untuk anda yang ingin belajar memotret sekaligus jalan-jalan ke pegunungan yang hawanya sejuk.

Peserta dibatasi maksimal 8 (delapan) orang. Meski siapa saja boleh mendaftar tapi lebih disarankan yang memiliki fisik yang cukup prima karena medan yang akan dilalui cukup menantang dengan sesekali berjalan di aliran sungai dan akan bertemu beberapa jalan yang menanjak.

Acara ini dipandu oleh saya dan dijadwalkan pada hari Sabtu, 25 Februari 2017. Meeting point : Infofotografi, Jl. Moch. Mansyur/Imam Mahbud No. 8B-2 Roxy, Jakarta Pusat, jam 05.30 WIB, berangkat sama-sama sampai acara selesai, estimasi tiba kembali di infofotografi jam 5 sore.

[click to continue…]

{ 3 comments }

Beberapa bulan belakang ini, saya sering ditanya soal kamera compact canggih yang bisa dimasukkan ke kantong/tas kecil dan performanya bagus. Kalau nanyanya 5 tahun yang lalu, gampang jawabnya Sony RX100!. Tapi sekarang sudah beda, karena banyak pilihan lainnya, contohnya Canon G7X II, Panasonic LX10, dan Sony sendiri punya variasi RX100, dari RX100 I sampai V.

Kalau ingin yang tercepat kinerjanya, Sony RX100 V yang harganya Rp 15 juta masih yang tercanggih, kelebihan utamanya dibanding pesaingnya dan seri Sony RX100 pendahulunya adalah kecepatan autofokus sudah ditanamkan teknologi deteksi fasa, sehingga saat mengikuti subjek yang bergerak cepat jadi gak masalah, selain itu, kinerja dan buffer juga sudah ditingkatkan untuk mendukung foto berturut-turut. Kelebihan lain yang dimiliki RX100 V adalah punya jendela bidik kecil yang bisa membantu saat memotret di kondisi yang sangat terang. Kualitas gambar RX100 juga terbilang tajam berkat lensa Zeiss yang konsisten ketajamannya dari lebar sampai telefoto.

Kelemahan utama RX100 V yaitu layarnya tidak touchscreen, merekam video 4K dibatasi 5 menit saja, karena Sony RX100 cepat panas saat merekam video.

[click to continue…]

{ 0 comments }

Photo Story trip Yogyakarta – 31 Maret-2 April 2017

Awal tahun ini, Infofotografi akan mengunjungi Yogyakarta untuk mengadakan workshop Photo Story. Mentoring akan diisi dengan pembekalan, praktik, dan evaluasi oleh Taufan Wijaya (fotografer dan penulis Photo Story Handbook), Bimbingan teknis fotografi di lokasi akan di bantu oleh Enche Tjin. Trip ini terbuka bagi para pembaca, alumni kursus, serta para penggemar fotografi.

Yogyakarta adalah kota kunjungan wisata yang klasik, penuh dengan budaya dan peninggalan sejarah. Bila foto trip hanya memotret tempat eksotis, mungkin akan membosankan (meski tentu, unsur “piknik” dan kuliner akan tetap ada dalam setiap perjalanan, termasuk kali ini). Di trip ini kita akan berkenalan dengan tradisi dan budaya masyarakat Jogja lebih dekat, dan membingkainya dalam photo story.

Photo story secara sederhana adalah rangkaian foto-foto yang membentuk cerita. Namun photo story bisa dikerjakan dalam beberapa bentuk dan pendekatan. Nah trip ini adalah perjalanan memotret sembari mengikuti workshop singkat bagaimana mengerjakan photo story yang baik.

Kredit foto: Nia

[click to continue…]

{ 0 comments }

Leica Store Indonesia hari ini resmi meluncurkan Leica M10 di De Luca Restaurant, Plaza Senayan, Jakarta. Kepada kalangan media, Direktur Leica Store Indonesia, Bernard Suwanto mengenalkan fitur baru Leica M10 ditemani oleh Davy Linggar, seorang fotografer profesional asal Jakarta, dan juga merupakan Leica Ambassador Indonesia.

Leica M10 diumumkan pertama kali di tanggal 19 Januari 2017, saat pengumuman resminya di markas besar Leica, Leitz Park di kota Wetzlar, Jerman. Pengumumannya saya pernah liput di Infofotografi dan detikinet FotoStop.

Beberapa fitur unggulan Leica M10 antara lain:

  • Sistem kamera full frame (kamera dan lensa) yang paling compact
  • Semua lensa Leica M dari tahun 1950-an yang pernah diproduksi dapat dipasang di Leica M10
  • Optional Visoflex viewfinder 2.4MP
  • Sensor baru 24MP Full frame
  • Kinerja lebih cepat: 5 foto per detik, Buffer 2GB
  • ISO dial
  • Built-in Wifi
  • Viewfinder 30% lebih besar, perbesaran .73%, eye relief 50%
  • Lebih ramping, tebal bagian atas kamera jadi 33.75mm saja

Tommy Siahaan, Leica Ambassador Indonesia yang telah pernah mencoba  memberikan testimoni bahwa perbedaan M10 dibandingkan dengan sebelumnya yang paling terasa adalah ukurannya yang lebih tipis daripada pendahulunya, M (Typ 240) Safari miliknya.

[click to continue…]

{ 3 comments }

Dijual kamera Sony A7R II dengan Lensa lensa Sony FE

Halo semua, beberapa waktu lalu, ada teman saya yang menjual kamera dan lensa-lensa Sony. Kondisinya sebagian besar masih baik.

Bagi yang berminat boleh hubungi kami WA 0858 1318 3069 / infofotografi@gmail.com

  • Sony A7R II body only dan kelengkapannya harganya Rp 31.5 juta
  • Sony RX100 II (Compact) Rp 5.25 juta
  • Sony FE 55mm f/1.8 – Rp 8.5 juta [TERJUAL]
  • Sony FE 16-35mm f/4 – Rp 13 juta [TERJUAL]
  • Sony FE 24-70mm f/4 – Rp 11.45 juta [TERJUAL]
  • Sony FE 90mm f/2.8 Macro – Rp 12.8 juta [TERJUAL]

Filter (Baru)

  • Filter UV Merk B+W Nano 46mm Rp 500.000
  • Filter UV Merk B+W Nano 49mm Rp 550.000
  • Filter UV Athasbaca 77mm Rp 500.000

Yang mau nyicil bisa beli di Bukalapak / Tokopedia

 

{ 15 comments }

Hands-on preview : Canon EOS M5 dan M10

Saya begitu antusias ketika mendapat kabar kalau dua unit kamera mirrorless terkini dari Canon yaitu EOS M5 dan EOS M10 baru saja datang ke meja redaksi infofotografi untuk diuji. EOS M5 datang dengan lensa kit EF-M 18-150mm f/3.5-6.3 IS STM, sedangkan EOS M10 dengan lensa EF-M 15-45mm f/3.5-6.3 IS STM. Kami tentunya perlu waktu untuk menguji keduanya, termasuk seperti apa kinerjanya, kualitas hasil fotonya dan juga lensanya. Tapi sebagai impresi awal, bolehlah saya tuliskan disini hands-on preview untuk memberi gambaran umum mengenai kedua kamera ini.

EOS M5 (kiri) dan EOS M10 (kanan), keduanya memakai sensor ukuran APS-C

Canon EOS M5

Canon EOS M5 merupakan kamera top end mirrorless Canon dengan sensor 24 MP dan kemampuan auto fokus Dual Pixel AF, seperti DSLR 70D/80D di mode live view. Kamera ini saya lihat sudah memenuhi semua checklist fotografer pada umumnya, seperti ergonomi bodi yang baik, aneka tombol dan roda, jendela bidik, layar lipat (dan bisa selfie juga meski dilipat ke bawah), juga ada hotshoe untuk memasang flash eksternal atau mic external (tersedia juga mic input di kamera ini).

EOS M5 termasuk kecil tapi masih cukup pas ditangan saya

Di Indonesia, Canon EOS M5 mungkin masih jarang ada yang punya, karena masih relatif baru. Atau mungkin banyak juga yang masih belum mengenal apa kelebihan dari kamera yang harganya hampir sama dengan EOS 80D ini. Padahal EOS M5 menurut saya punya fungsionalitas yang efektif baik dalam urusan fotografi maupun videografi. Di bidang memotret, kamera ini punya hasil foto yang bagus, dengan warna khas Canon dan pengaturan Picture Style terbaru seperti setting strength, fineness dan treshold untuk mengatur level ketajaman. Auto fokusnya juga termasuk cepat bahkan untuk fokus kontinu (AI Servo), sehingga bisa diandalkan juga untuk foto aksi dan olahraga. Layar sentuhnya juga bisa dimanfaatkan untuk menjadi touch pad AF saat kita melihat melalui jendela bidik.

Pengaturan lebih lanjut untuk Picture Style

Pengaturan Time Lapse movie

Dalam urusan video mungkin orang akan keluhkan tidak adanya fitur 4K dari EOS M5. Tapi kalau yang dibutuhkan adalah kemampuan full HD saja, EOS M5 sudah cukup lengkap. Sebutlah misalnya bisa merekam video dengan manual eksposur, bisa 50 fps, ada stabilisasi (IS) digital yang bisa dikombinasikan dengan IS di lensa, dan ada time lapse movie juga. Yang tidak ada disini hanya pilihan kompresi All-I yang dijumpai di 70D keatas.

Tampak atas dan belakang dengan berbagai tombol dan roda untuk mengatur setting kamera.

Dari pengujian singkat yang saya coba untuk foto aksi, kinerja burst dan fokus kontinu masih sanggup meladeni aksi yang bergerak cepat, walau kadang ada juga foto yang fokusnya meleset. Tapi dibandingkan dengan EOS M yang lebih dulu hadir, memang M5 ini punya kinerja fokus terbaik. Tapi ya kalau dibandingkan dengan DSLR maka tetap belum bisa mengimbangi kinerja fokus kontinu DSLR karena beda cara kerjanya. [click to continue…]

{ 14 comments }