≡ Menu

Kursus kilat dasar fotografi malam, Selasa-Kamis, 27-29 Januari 2015
Daftar/Info: hub: 0858 1318 3069

Untung rugi mengisi daya baterai kamera via port USB

Belakangan ini semakin sering dijumpai kamera baru dengan sistem in-camera charging, atau cara pengisian daya baterai kamera dengan memasang kabel USB seperti ponsel. Hal ini sangat berbeda dengan cara yang lebih umum kita kenal, yaitu melepas baterai dan memasangnya pada charger yang disediakan dalam paket penjualan. Sudah tentu kamera dengan sistem USB charging ini tidak lagi menyediakan charger khusus, melainkan hanya adapter daya listrik dan sebuah kabel USB. Kita akan bahas apa untung ruginya.USB charge

Dari sisi keuntungan, yang paling menarik adalah standar USB itu sendiri membuat kita tenang saat bepergian. Walau kabel USB kamera tertinggal di rumah, kita masih bisa pinjam kabel USB milik ponsel yang colokannya sama (perkecualian ada beberapa kamera Panasonic yang membuat standar konektor berbeda yang tidak kompatibel dengan kabel USB biasa). Soal kemungkinan adanya perbedaan tegangan dan arus untuk setiap adapter daya, hal ini saya anggap masih dalam batas aman, karena umumnya pengisi daya masa kini sudah didesain standar (perbedaan arus seperti 500 mA atau 1 A akan menentukan kecepatan pengisian baterai saja).

Kamera mirrorless dengan baterainya

Kamera mirrorless dengan baterainya

Bagi yang sering memakai kamera mirrorless tentu merasakan betapa cepatnya baterai kameranya habis. Maka itu sistem pengisi daya USB lebih cocok karena lebih mudah untuk mengisi daya dimanapun, dan tidak selalu harus bertemu colokan listrik. Misal saat kita hendak memindahkan foto di kamera dan menghubungkan kabel USB dari laptop, maka sambil memidahkan data juga sekaligus bisa mengisi daya baterai kamera. Belakangan penggunaan powerbank juga mulai marak untuk mengisi daya baterai kamera khususnya bagi yang travelling dan sulit menemukan sumber listrik. Satu hal yang kita perlu ingat, kamera harus dalam keadaan mati/off baru bisa diisi daya, sehingga selama proses pengisian kita tidak bisa memakai kamera (walau demikian saya menemukan ada beberapa kamera yang tetap bisa on/hidup saat diisi daya, jadi saya bisa memotret sambil mengisi via powerbank; tidak disarankan untuk ditiru, hanya dalam keadaan mendesak saja).

Tertulis jangan memakai kamera saat sedang saat mengisi daya

Tertulis pada poin 3 : jangan memakai kamera saat sedang saat mengisi daya

Lalu apa kerugian cara ini dibanding cara yang lebih umum yaitu melepas baterai dan memasangnya di charger khusus? Pertama adalah sulit mengisi baterai cadangan. Dengan memiliki charger khusus, kita bisa mengisi beberapa baterai secara bergantian. Di sistem pengisian via USB ini, kalau punya baterai cadangan jadi agak repot untuk mengisinya secara bergantian, apalagi bila kamera harus off saat sedang mengisi daya. Kedua adalah potensi rusaknya port USB di kamera dalam jangka panjang bila saat kita memasang / melepas kabel ke kamera cenderung kasar. Port yang rusak bisa jadi akan bad contact atau tidak nyambung, atau bahkan akan punya potensi terjadi hubungan pendek arus yang bisa merusak sistem kamera.

Chargder untuk Samsung NX ini sifatnya aksesori tambahan

Charger untuk Samsung NX ini sifatnya aksesori tambahan

Lalu adakah solusinya bila kamera anda berjenis USB charging? Tips dari saya adalah selalu pasang dan lepaskan kabel dengan hati-hati, sebisa mungkin selalu gunakan adapter daya listrik dan kabel yang disediakan dari paket penjualan. Bila anda tetap lebih suka mengisi daya dengan cara biasa, coba cari tahu di toko apakah dijual charger untuk baterai yang ada di kamera anda sehingga anda punya pilihan dalam mengisi daya baterai kamera.

———————————————————————————

Untuk mengenal lebih jauh fitur-fitur di kamera kita (DSLR, mirrorless, prosumer), ikuti saja acara Kupas Tuntas Kamera Digital.

Jadwal : Minggu, 1 Februari 2015 jam 13.00-16.30 WIB.

{ 0 comments }

Menjelang tahun baru Imlek, instruktur fotografi kita, Adi Setyo akan mengadakan workshop street photography dengan tema Chinatown Jakarta.

Workshop street photography berlangsung dua hari, hari pertama 14 Februari 2015 adalah pembekalan tentang teknik dan tip komposisi street photography, dan hari kedua, 15 Februari 2015 akan berlangsung acara hunting fotonya.

street-photography-adi-vihara

Lokasi hunting foto akan sekitar Glodok dan Petak sembilan. Untuk tripnya kita bisa mulai dari jalan Kemurnian, disitu kita bisa menemukan beberapa vihara serta gereja berarsitektur seperti klenteng, lalu lanjut ke gang Kalimati, disini kita bisa menemukan penulis kaligrafi cina. pasar yang sangat ramai, kita juga bisa menyusuri petak 9. disini ada toko hio yang paling tua di daerah ini.

Lanjut ke jalan Pancoran, ada toko obat tua dan pasar yang sangat ramai. lalu masuk ke gang Gloria, disini banyak sekali wisata kuliner. ada juga soto betawi bernama AFUNG. meski namanya bahasa mandarin, tetapi soto betawinya halal :)

street-photography-adi-imlekstreet-photography-pancoran

street-photography-adi-petak9 [click to continue…]

{ 0 comments }

Sony A7 mk II Review singkat

Sony A7 mk II merupakan kamera mirrorless bersensor full frame pertama yang memiliki 5 axis stabilization. Kualitas gambar Sony A7 mk II sama persis dengan A7 karena megunakan sensor yang sama. Kualitas gambarnya sudah setara dengan kamera DSLR canggih seharga 15-25 juta.

Saya belum berkesempatan mencoba kamera ini jangka panjang. pertama kali mencobanya 30 menit saat launching di Singapore, dan kemudian sempat mencoba selama satu minggu. Karena padatnya kegiatan mengajar, saya belum sempat hunting foto dengan kamera ini. Sehingga belum bisa memberikan review secara menyeluruh.

Perbedaan terbesar dari desain Sony A7 mk II terletak di bagian atasnya.

Perbedaan terbesar dari desain Sony A7 mk II terletak di bagian atasnya.

Secara desain fisik, ukurannya lebih tipis dari kamera DSLR pada umumnya. Hal ini karena tidak ada cermin dan prisma jendela bidik optik di dalam kamera. A7 mk II termasuk kamera yang cukup padat dan kokoh. Bahannya dari logam magnesium alloy, dan karena ada stabilizer di dalam badan kamera, ada peningkatan berat yang cukup signifikan dibandingkan dengan Sony A7 generasi pertama.

Berat A7 adalah sekitar 400 gram sedangkan A7 mk II bobotnya 599 gram. Sebagai info, 599 gram ini kurang lebih setara dengan kamera DSLR pemula. Meski bobotnya nambah, tapi jika dibandingkan dengan kamera full frame lain seperti Canon 6D, Nikon D610, Sony A7 mk II masih lebih ringan sekitar 150 gram.

Secara desain, saya lebih suka Sony A7 mk II daripada seri A7 yang lain karena grip/genggamannya lebih dalam, dan posisi tombol shutter lebih padat. Bagi yang tangannya tidak terlalu besar, akan nyaman saat memegang kamera ini. Tapi bagi yang tangannya agka besar, mungkin jari kelingking akan menggantung. Dengan pindahnya tombol shutter kedepan, maka di bagian atas kamera ada tempat kosong, dan Insinyur Sony secara bijak menambahkan sebuah tombol custom jadi totalnya 2 (C1, C2).
[click to continue…]

{ 0 comments }

Mengubah logo Lightroom dan tipografi modul

Panel atas Lightroom, yang berisi logo dan modul  seperti gambar dibawah ini bisa diganti tampilannya, misalnya dengan mengubah logo, dan juga warna modul.

Logo-nameplate-Lightroom

Caranya seperti berikut:

1. Klik kanan pada logo Lightroom disebelah kanan atas
2. Klik Change Identity Plate
3. Pilih Personalized

Personalisasi-logo-lightroom

Disini kita bisa mengubah tulisan di logo Lightroom, misalnya dengan nama pribadi/usaha. Jika memiliki logo graphic, bisa juga dengan memilih “use graphical identity plate

Tipografi-identity-plate

Tipografi untuk modul juga bisa diubah ukuran, jenis dan warnanya. Saya sendiri mengubah warna modul yang aktif menjadi warna kuning terang dan yang tidak aktif abu-abu tua. Caranya klik kotak disebelah kanan bawah, kemudian pilih warna dan terang gelap yang diinginkan. Dengan mengubah warna modul, saya bisa lebih cepat dan tahu pasti modul mana yang sedang aktif.

warna-modul

———-

Buku tutorial Lightroom langkah demi langkah dari manajemen ke editing bisa dipesan melalui 0858 1318 3069 atau melalui ranafotovideo.com

Infofotografi rutin mengadakan workshop editing dan manajemen foto dengan Adobe Lightroom. Periksa jadwal selanjutnya disini.

{ 2 comments }

Dari pengalaman traveling dan motret sampai saat ini, tempat paling favorit untuk fotografi adalah Jiuzhaigou. Pertama kali saya mengunjungi Jiuzhaigou tahun 2012 yang lalu. Dengan pengalaman sebelumnya, saya merancang tour fotografi dengan itinerary yang lebih mantap lagi. Tour kali ini dijadwalkan musim gugur supaya kita bisa menikmati pemandangan dedaunan yang berganti warna dari hijau menjadi kuning, jingga dan merah.

Perbedaan antara tour fotografi dan tour biasa adalah kita mencari timing yang tepat untuk mendapatkan cuaca yang paling menarik dan kemudian memiliki waktu yang jauh lebih panjang untuk memotret dan menjelajahi suatu daerah. Bagi yang ingin membawa teman atau saudara yang tidak begitu hobi fotografi juga tidak masalah.

Durasi 8 hari 7 malam
Periode: 23-30 Oktober 2015 (Musim gugur)
Standar hotel: 4 Bintang
Maskapai: Singapore Airlines (SQ) transit Singapura
Maksimum peserta: Tempat terbatas 16 peserta.

Beberapa tempat yang akan dikunjungi antara lain:

Kota Chengdu adalah ibukota provinsi Sichuan, yang sudah sangat tua dan bersejarah. Berdiri pada tahun 311 Sebelum Masehi dan merupakan kota utama di China bagian barat. Penduduk kota Chengdu sekitar 14 juta menurut sensus penduduk tahun 2010.

Kita dapat menyaksikan kehidupan penduduk Chengdu yang relatif santai di People Park, yang kental dengan budaya minum teh dan bermain Mahjong dan catur.

Setiap kota besar, biasanya memiliki daerah kota tua. Chengdu juga memiliki kompleks kota tua yang terkenal dengan kawasan Jinli street, yang ideal untuk jalan-jalan, motret, dan belanja oleh-oleh.

Di dekat kota Chengdu, terdapat pusat konservasi Panda terbesar, disini pengunjung dapat melihat Giant Panda yang lucu-lucu dan menggemaskan. Jika beruntung, kita dapat melihat bayi-bayi panda yang imut-imut. Di dalam pusat konservasi ini juga terdapat Red Panda, yang ukurannya lebih kecil dan jauh lebih gesit.

pusat-konservasi-panda

Song Pan adalah kota tua yang masih dikelilingi oleh benteng seperti jaman kerajaan dahulu. Kota ini sangat dekat dengan Munigou dan 3.5 jam dari Jiuzhaigou.

song-pan

Di Dujiangyan, kita bisa melihat sistem irigasi yang dibangun sejak 200 tahun sebelum Masehi dengan teknologi sederhana tapi bisa mengatasi masalah banjir yang melanda daerah ini. Gubernur Li Bing membangun sistem yang mengarahkan air yang berlebih untuk kebutuhan irigasi sehingga provinsi Sichuan menjadi daerah yang subur.

Munigou adalah taman nasional yang terkenal di daerah Sichuan, yang memiliki air terjun bertingkat-tingkat yang sangat indah dengan danau yang tenang.

Jiuzhaigou (Jiuzhai Valley) adalah taman nasional yang terkenal sangat indah dan tercatat dalam UNESCO Heritage Site. di taman nasional yang luas ini, banyak sekali kolam, dan danau yang sangat jernih dengan air yang bewarna-warni. Selain itu terdapat banyak air terjun yang berskala besar dan lebar. Lembah ini dikelilingi oleh bukit dan pegunungan. Dari jauh kita bisa melihat pegunungan bersalju. Di dalam taman nasional ini juga terdapat beberapa kampung suku Tibet.

jiuzhaigou-mirror-lake

[click to continue…]

{ 2 comments }

Mengukur cahaya, atau lebih lengkapnya mengukur intensitas cahaya, adalah sesuatu yang penting dalam fotografi karena cahaya menjadi syarat terbentuknya sebuah foto, tak peduli apakah cahaya itu sangat redup (misal api lilin) atau sangat kuat (seperti matahari atau lampu studio). Tapi kalau tidak ada cahaya, maka foto yang kita dapat hanya akan hitam total saja. Proses mengukur cahaya tentunya dilakukan sebelum memotret, supaya kita (atau kamera) tahu seberapa kuat cahaya yang ada, dan berapa setting eksposur yang sebaiknya dipakai.

Di jaman serba otomatis ini, kamera pun melakukan pengukuran cahaya secara otomatis juga. Misalnya di mode auto, saat kita bidik suatu subyek maka kamera sudah ‘tahu’ berapa ISO, bukaan dan shutter yang tepat supaya fotonya pas, tidak terlalu terang atau tidak terlalu gelap. Apa rahasianya?

Jawabannya adalah kamera melakukan proses metering, atau mengukur cahaya. Dengan mengandalkan kemampuan metering di dalam kamera, kita bisa memotret apa saja dengan tenang, karena kita percaya kamera kita bisa dengan tepat mengukur dan mencarikan setting eksposur supaya hasil fotonya pas.

light meter

Indikator pengukuran eksposur kamera

Tapi tunggu dulu, apa betul hasil metering kamera selalu akurat? Apa foto yang kita buat dengan mode Auto selalu memberi hasil eksposur yang pas? Jawabannya adalah : tidak selalu. Mengapa? Karena memang tidak ada yang namanya standar untuk menilai eksposur yang pas itu, tiap orang bisa berbeda pendapat. Tapi bagi kamera (yang bisa kita anggap sebagai alat yang diprogram untuk mengukur dan menghitung), yang jadi acuan standar eksposur yang pas itu harus ada.

Dalam hal ini kamera mengacu pada sebuah titik acuan tengah yang kemudian diberi kode Ev 0 (inilah posisi eksposur yang pas), dimana kalau Ev – (minus) itu artinya under (terlalu gelap) dan Ev + (plus) artinya over (terlalu terang). Dengan perhitungan yang didasarkan acuan Ev 0 semestinya kamera akan selalu sukses dalam memberi hasil foto yang pas. Tapi pada kenyataannya kadang kala hasilnya bisa meleset, foto yang kita dapat terasa kurang terang atau justru terlalu terang (maka itulah di kamera disediakan fitur kompensasi eksposur, yang bisa kita pakai kalau dirasa perlu untuk membuat foto lebih terang atau lebih gelap sesuai keinginan kita).

Middle gray

Penyebaran tonal dari gelap hingga terang

Nah kita akan bahas kenapa kamera bisa kadang salah dalam memberi hasil eksposur yang pas. Cara kamera melakukan metering adalah dengan mengukur cahaya yang masuk melalui lensa. Cahaya yang diukur oleh kamera adalah cahaya yang dipantulkan oleh subyek, disebut reflected light. Masalahnya cara ini punya potensi untuk meleset, khususnya kalau subyek yang difoto memiliki sifat menyerap cahaya atau memantulkan cahaya.

Sesuatu yang berwarna hitam cenderung bersifat menyerap cahaya, sedangkan yang putih sangat memantulkan cahaya, sehingga kamera akan salah mengukur kalau berhadapan dengan subyek yang dominan putih atau hitam. Sebaliknya kamera akan mengukur dengan sangat tepat bila bertemu dengan subyek bernuansa abu-abu (middle gray).

incident-reflected-light-meter

Perbedaan cahaya pantulan dengan cahaya langsung

Lalu bagaimana cara untuk mengukur cahaya dengan akurat? Selagi memungkinkan, gunakan alat ukur cahaya khusus, bukan melalui metering kamera. Alat yang dinamakan light meter (atau disebut juga flash meter) ini mengukur cahaya yang sifatnya incident light, bukan reflected light.

Alat ini bisa kita set misalnya kita pilih ISO dan shutter speed, lalu alat ini akan mengukur cahaya lingkungan dan menampilkan angka F number (bukaan lensa). Pada kamera gunakanlah mode Manual, dan pilih shutter, ISO dan bukaan yang sama dengan yang dihitung alat light meter tadi. Tipsnya, ukurlah cahaya yang berada di dekat subyek yang akan kita foto supaya hasil perhitungannya lebih akurat.

Light-meter dan posisi pemakaian

Light-meter dan posisi pemakaian

Jadi yang perlu kita ingat adalah, cara pengukuran cahaya di kamera memang praktis dan cepat, juga cukup bisa diandalkan kecuali saat-saat subyeknya dominan hitam atau putih. Tapi untuk hasil pengukuran cahaya paling akurat, memang perlu tambahan proses dan biaya. Dengan alat light meter eksternal, kita bisa mengetahui berapa setting kamera yang harus diatur supaya didapat nilai eksposur paling tepat, tanpa dipengaruhi oleh sifat dan warna subyek yang difoto.
—————————————————–

Untuk sama-sama belajar dan membahas hal-hal teknis dalam fotografi, termasuk mencoba lightmeter. Anda bisa mengikuti kelas Mastering Teknik dan Artistik Fotografi, bersama saya dan Enche Tjin.

Kelas ini ditujukan sebagai kelas lanjutan bagi anda yang sudah mempelajari dasar fotografi dan tertarik untuk menguasai teknik-teknik praktis untuk hasil foto yang lebih baik.

Jadwal bulan ini di hari Sabtu, 24 Januari 2015 mulai jam 10 pagi.

{ 0 comments }

Tour fotografi Sawarna – 25-26 April 2015

Saya sudah berulang kali ke Sawarna tapi tetap tidak bosan-bosan untuk mengunjungi kembali tanggal 25-26 April 2015 ini. Bulan April cuaca diharapkan sudah cukup bersahabat dan kemungkinan hujan lebih kecil daripada bulan-bulan sebelumnya.

Di tour ini kita akan mengunakan jasa dua unit mini bus Big Bird yang nyaman dan sudah teruji gesit dan kuat untuk menempuh tanjakan-tanjakan antara Pelabuhan Ratu ke Sawarna.

Akomodasi yang kita pilih yaitu penginapan bertipe resort yang relatif baru (modern minimalis). Satu kamar untuk dua peserta dengan kamar mandi di dalam kamar dengan toilet duduk.

Di kawasan Sawarna, kita akan mengunakan jasa ojek sepeda motor dan guide lokal supaya tidak membuang waktu, tenaga dan supaya bisa berkonsentrasi dalam memotret.

Foto-foto dibawah ini saya buat saat tour Sawarna, akhir 2014 yang lalu.

Karang Taraje

Karang Taraje

Kawasan Sawarna memberikan kesempatan yang luas bagi teman-teman untuk memotret efek aliran air yang dinamis, baik teknik freeze maupun teknik slow speed. Banyak sudut yang bisa dijelajahi untuk mempraktikkan visi masing-masing tidak peduli kondisi cuaca apapun yang akan kita hadapi. Bila ada kendala teknis fotografi, saya (Enche), Mas Erwin Mulyadi dan Iesan akan senang untuk membantu.

Parit-parit di kawasan Karang Bokor

Parit-parit di kawasan Karang Bokor

Dalam kesempatan yang baik ini, saya mengajak teman-teman pencinta fotografi untuk hunting foto ke Sawarna dengan acara sebagai berikut:

[click to continue…]

{ 0 comments }

Mengapa banyak orang Indonesia masih relatif sedikit yang mengunakan sistem kamera mirrorless dibandingkan dengan kamera DSLR?

Saat saya menghadiri acara peluncuran kamera mirrorless Sony A7 mk II di Singapura beberapa bulan yang lalu, saya cukup terkejut bahwa di Indonesia, persentase orang yang mengunakan kamera mirrorless hanya 14% dibandingkan dengan negara lain seperti Singapura dan Thailand yang mencapai lebih dari 40%.

Setelah mikir-mikir dan ngobrol dengan beberapa orang, saya mengambil kesimpulan mungkin banyak yang belum mengetahui bahwa kualitas gambar yang dihasilkan kamera mirrorless setara atau ada yang bahkan lebih bagus dari kamera DSLR.

Banyak orang mengira ukuran kamera yang makin besar, pasti lebih canggih dan kualitasnya lebih bagus. Padahal kualitas gambar ditentukan oleh kualitas dan ukuran sensor gambar dalam kamera. Banyak kamera mirrorless yang mengunakan sensor gambar yang sama dengan kamera DSLR (APS-C, full frame).

Alasan lainnya cukup klasik, yaitu harga kamera dan lensa kamera mirrorless masih relatif tinggi dibandingkan dengan kamera DSLR. Berita bagusnya, kamera mirrorless harganya semakin turun, terutama yang pemula dibandingkan 2-3 tahun lalu, tapi sayangnya pilihan lensa yang ada tidak banyak yang terjangkau atau dibawah $300.

Karena alasan tersebut, banyak juga pengguna kamera DSLR jadi enggan untuk berpindah ke kamera mirrorless. Hal ini makin sulit jika pengguna kamera DSLR sudah memiliki banyak lensa dan aksesoris.

Mengapa Canon dan Nikon terkesan “cuek” dalam mengembangkan sistem kamera mirrorless?

Memang, Canon memiliki sistem mirrorless juga, yang namanya EOS M, Nikon juga punya, yaitu sistem Nikon 1. Tapi dibandingkan dengan perusahaan kamera lain, perkembangan kamera dan lensa baru sistem Canon EOS M/Nikon 1 ini jauh lebih lambat.

[click to continue…]

{ 17 comments }

Masalah pintu baterai flash Yongnuo 560EX, 568EX

Juni tahun lalu (2014), saya membeli sebuah flash Yongnuo 560EX yang juga saya review disini. Setelah 4-5 bulan pemakaian, plastik pintu baterai rusak sehingga pintu tidak bisa menutup rapat saat di isi baterai. Sebulan yang lalu saya mendapatkan solusinya yaitu mengganti pintu baterai tersebut. Dengan mengganti pintu baterai flash, akhirnya pintu baterai bisa ditutup dengan rapat. Cara menggantinya juga cukup mudah, tinggal cabut plastik pintu baterainya dan masukkan pintu yang baru.

Pintu baterai yang rusak

Pintu baterai yang rusak

Pintu baterai baru

Pintu baterai baru

Menurut yang saya baca di internet, tidak hanya Yongnuo 560EX yang bermasalah, tapi juga 568EX dan mungkin seri lainnya. Maka itu bagi pembaca yang mungkin mendapatkan masalah yang sama, jangan buang dulu flashnya, tapi ganti saja pintu baterainya. Bagi yang kesulitan mencari penggantinya, boleh pesan lewat saya via 0858 1318 3069/infofotografi@gmail.com Harganya Rp 95.000.

{ 2 comments }

Fitur Histogram di kamera, penting gak sih?

Di kamera digital kita bisa jumpai sebuah tampilan berupa grafik di layar LCD, yang disebut dengan histogram. Histogram ini berguna untuk melihat penyebaran tonal (area dari yang gelap hingga yang terang) dalam foto kita. Di kamera DSLR, histogram umumnya bisa dilihat setelah foto diambil. Sedangkan pada kamera non DSLR (seperti mirrorless atau kamera kompak) kita bisa meninjau histogram saat live-view (sebelum foto diambil), dan bisa juga setelah foto diambil. Karena banyak juga yang belum mengetahui fungsi atau cara membacanya, maka umumnya informasi histogram ini justru kerap diabaikan begitu saja.

Prinsipnya histogram itu grafik yang menyatakan brightness foto, atau banyaknya piksel dari yang paling gelap sampai paling terang. Maka itu histogram penting untuk menilai eksposur atau pencahayaan dalam fotografi. Cara membacanya juga mudah, secara sederhana histogram dibagi menjadi tiga zona, dimana zona kiri mewakili gelap (shadow), zona tengah mewakili sedang (midtone) dan zona kanan mewakili yang terang (highlight). Foto yang histogramnya banyak berkumpul di bagian kiri sudah bisa dipastikan under-eksposur, juga yang banyak kumpul di kanan akan over-eksposur.

HistogramTidak berarti semua foto harus berkumpul di tengah juga, sangat tergantung kondisi pencahayaan, kontras dan setting kamera kita. Tapi untuk memudahkan pemahaman, bisa dibilang kalau foto itu histogramnya berada di tengah maka terang gelapnya sudah pas seperti contoh grafik histogram di atas.

Melihat histogram lebih aman daripada menilai foto di layar LCD, karena histogram itu pasti, sedang foto di LCD bisa mengecoh (sepertinya terangnya pas, padahal kenyataannya terlalu gelap atau terlalu terang). Lihatlah contoh foto dari layar LCD kamera berikut ini :

Grafik histogram lebih banyak di kiri foto, terlalu gelap

Grafik histogram lebih banyak berkumpul di kiri, foto tampak terlalu gelap

Grafik histogram berada di tengah, foto terang gelapnya pas

Grafik histogram berada di tengah, foto terang gelapnya pas

Grafik histogram lebih banyak di kanan, foto terlalu terang

Grafik histogram lebih banyak berkumpul di kanan, foto tampak terlalu terang

Histogram juga berguna untuk melihat tonal range (rentang terang gelap foto yang didapat). Di alam ini perbedaan terang gelap bisa jadi sangat luas dan belum tentu kamera kita mampu merekam semua perbedaan itu dengan lengkap dalam satu foto, tergantung pada sensor dan dynamic range-nya. Di artikel sebelumnya, saya pernah membahas panjang lebar mengenai kaitan histogram dengan dynamic range sensor kamera. Intinya histogram juga menggambarkan kemampuan sensor kamera kita dalam menangkap kontras yang tinggi. Kalau baru menghadapi kondisi yang pencahayaannya cukup kontras saja histogramnya sudah menabrak ke kanan, maka bisa disimpulkan kameranya punya dynamic range terbatas. Biasanya kita akan menemui bagian yang terang (highlight) menjadi clipping (putih tanpa detail) dan ini kerap terjadi saat kita memotret pakai kamera saku atau ponsel. [click to continue…]

{ 6 comments }