≡ Menu

Saat ini kita biasa menikmati video online, dan rata-rata semua orang suka menonton video. Saat ini, hampir semua kamera foto sampai ponsel juga bisa merekam video. Bahkan sebagian orang kreatif yang suka membuat video online kini bisa mendapatkan penghasilan tambahan (Youtuber).

Atas dasar itu, maka Infofotografi mengadakan workshop belajar videografi dasar supaya peserta bisa menghasilkan video singkat dengan kualitas bagus dan enak ditonton.

Materi

  1. Mempersiapkan alat-alat untuk syuting video
  2. Aplikasi untuk syuting video
  3. Aplikasi/software untuk editing video
  4. Membuat video slideshow foto
  5. Mencari music latar belakang
  6. Tips syuting dan editing
  7. Tips promotion dan sharing
  8. Bedah/diskusi video
  9. Editing video dan feedback

Acara tanggal : Sabtu, 4 November 2017
Tempat: Infofotografi.com, Green Lake City, Rukan Sentra Niaga Blok N 05, Jakarta Barat
Pukul: 10.00-15.00
Biaya Rp 350.000 per peserta
Terbatas hanya untuk maks 8 peserta saja

Instruktur: Teguh Sudarisman
Travel writer profesional, editor in-chief Kalstar in-flight magazine
Pemenang lomba video online “Yuk Makan tomyum kelapa

Bagi yang berminat, harap hubungi Iesan Liang 0858 1318 3069, infofotografi@gmail.com
Biaya partisipasi dapat ditransfer ke Enche Tjin via BCA 4081218557 atau Mandiri 1680000667780

{ 0 comments }

Kamera saku APS-C : Canon PowerShot G1X mk III

Tak dipungkiri faktor penting dalam memilih kamera digital adalah sensornya, karena penentu kualitas hasil foto adanya di sensor itu sendiri. Saat ini sensor yang dianggap sudah termasuk sangat baik adalah sensor jenis APS-C, dan Canon punya banyak sekali kamera dengan sensor APS-C CMOS 24 MP seperti di DSLR EOS 80D, 77D, 800D, dan mirrorless EOS M5 dan M6. Tapi sejak saat ini, Canon juga punya kamera saku yang pakai sensor APS-C 24 MP yaitu pada PowerShot G1X mk III. Tertarik?

Kamera saku dengan sensor seperti ini tentu termasuk jenis premium (elit), maka tak heran kalau harga G1X mk III juga sama saja dengan DSLR seperti 80D kit atau EOS M5 kit. Kamera saku lain yang sensornya berukuran besar juga harganya relatif tinggi.  Produk anyar ini meneruskan produk lama G1X mk II yang pakai sensor yang juga besar yaitu 1,5 inci. Kritik pada G1X mk II yang tidak terdapat jendela bidik, dijawab Canon di generasi G1X ke tiga ini dengan OLED finder 2,3 juta dot, melengkapi layar sentuh 3 inci yang bisa dilipat putar.

Lalu bagaimana dengan lensanya? Bisa jadi lensanya yang ekuivalen 24-70mm ini adalah bagian yang paling ‘biasa saja’ di pengumuman kali ini, karena secara fisika memang tidak mungkin membuat lensa yang bukaannya besar, zoomnya panjang tapi ukurannya kecil untuk sensor sebesar APS-C. Untuk itu bukaan maksimum lensa di G1X mk III ini meski bisa f/2.8 di 24mm tapi akan mengecil hingga f/5.6 saat di zoom. Bahasa gampangnya, lensa ini mirip sekali dengan lensa kit di kamera DSLR dan mirrorless, hanya saja lensa di G1X mk III ini permanen (tidak bisa diganti). Tersedia Image Stabilizer di lensa untuk membantu memotret dengan shutter lambat dengan hasil lebih tajam. [click to continue…]

{ 4 comments }

Mentoring cityscape Sahid, 4 November 2017

Kesempatan untuk belajar foto cityscape dengan bimbingan langsung dari saya selaku mentor akan kembali hadir, kali ini mentoring akan diadakan di tempat yang baru yaitu Sahid Residence Sudirman. Di kesempatan ini anda tentu akan mendapati pemandangan indah dari lampu-lampu gedung pencakar langit di bilangan Sudirman yang akan menarik untuk difoto dari berbagai sudut. Karena sifatnya adalah mentoring maka anda yang belum pengalaman pun dipersilahkan untuk mendaftar karena inilah kesempatan untuk belajar setting, teknis dan komposisi foto cityscape.

Kegiatan ini dijadwalkan pada :

  • hari : Sabtu, 4 November 2017
  • jam : 16.30-19.00 WIB
  • tempat : Sahid Residence (satu area dengan Hotel Sahid Jaya) Sudirman

Alat yang perlu dibawa tentunya kamera, lensa (lebar hingga menengah) sedangkan aksesori lain seperti GND filter, cable release dsb adalah opsional. Sangat disarankan untuk membawa tripod yang kokoh dan stabil, mengingat di atas nanti terpaan angin cukup kencang.

Mentor: Erwin Mulyadi, Enche Tjin

Biaya mentoring : Rp. 550.000,- mengingat tempat yang terbatas, bila ingin mendaftar bisa langsung transfer ke rekening Enche Tjin di BCA 4081218557 atau Mandiri 1680000667780 dan mengabari via SMS/WA 0858-1318-3069.

{ 0 comments }

Hari ini, Leica mengumumkan lensa Leica Thambar-M 90mm f/2.2 yang ditujukan untuk fotografer portrait. Desain lensa ini bukan lensa baru, tapi merupakan desain tahun 1935. Leica Thambar saat itu diproduksi hanya 3000 unit saja. Karena sudah berusia hampir 80 tahun, sulit menemukan lensa Leica Thambar yang bebas dari jamur/fog, dan masalah lain. Karena karakternya unik, maka Leica memproduksi kembali lensa ini. Sebelum Thambar, Leica juga membuat kembali Leica Summaron 28mm f/5.6 yang sangat mungil akhir tahun 2016 lalu.

Soft focus Portrait oleh Eolo Perfido

Seperti namanya, yang berasal dari kata Yunani “Thambo” yang berarti blur/kabur, karakter lensa ini adalah mampu membuat pemandangan atau portrait yang dreamy seperti pada lukisan impresionisme. Kadar kelembutannya bisa dikendalikan dengan memilih bukaan lensa. Semakin besar semakin soft fotonya.

Di era kamera film, lensa ini biasanya digunakan oleh fotografer portrait yang sangat piawai. Namun saat ini, untuk mengunakan lensa ini sudah lebih mudah karena kamera digital Leica M10  atau Leica SL sudah memiliki live view, sehingga fotografer bisa melihat efek sebelu memotret dari monitor LCD atau jendela bidik.

Aksesoris tambahan yang bisa dipasang di depan lensa juga bisa digunakan untuk menghalangi cahaya yang masuk dari tengah lensa, membuat keseluruhan foto lebih blur jika diinginkan.

Contoh hasil foto dengan lensa ini oleh Jolie Luo

Desain lensa dari casing sampai elemen optiknya hampir sama persis, bedanya adalah elemen lensanya dilapisi single coating supaya saat backlight, flare/suar  tetap ada sehingga membuat efek yang dramatis, tapi tidak menghilangkan detail.

[click to continue…]

{ 1 comment }

Panasonic Indonesia hari ini, tgl 16 Oktober 2017 mengumumkan lomba membuat film pendek dan video online 2017. Kali ini, Panasonic Young Filmmaker (PYFM) akan mengusung tema “Inspire“.

Juri-juri lomba PYFM 2017: Dari kiri ke kanan: Benny K, Anggy Umbara, Agung Ariefiandi, Christian Sugiono, dan Goenrock.

Kontes ini akan dilaksanakan selama 2.5 bulan, mulai dari 16 Oktober hingga 31 Desember 2017. Pengumuman pemenang dari PYFM ini akan diselenggarakan tanggal 20 Januari 2018 dengan tiga pemenang per kategori yang terdiri diri:

Short Movie : Drama, komedi, horor, aksi dan dokumenter berdurasi maks 15 menit
Best Picture, berhadiah kamera Panasonic GH5 dan lensa Leica 12-60mm f/2.8-4 + Rp 40.000.000
Best Story, berhadiah Panasonic G85 dan lensa 14-42mm + Rp 35.000.000
Best Cinematography, berhadiah G85 dan lensa 14-42mm + Rp 35.000.000

Online Video: Vlog, tutorial video, video komersil, maks 5 menit
Best Vlog, berhadiah kamera Panasonic GX85 + Rp 30.000.000
Best Content, berhadiah kamera Panasonic GF9 + Rp 15.000.000
People’s Choice Award, berhadiah kamera Panasonic GF9 + Rp 15.000.000

[click to continue…]

{ 7 comments }

Halo, teman-teman Infofotografi. hari Minggu, tanggal 29 Oktober 2017, kita akan berlatih komposisi fotografi di area Glodok, dimana kita akan mengunjungi beberapa tempat menarik seperti Kafe-kafe jadul, vihara dan gereja tua, pasar tradisional Glodok dan gang-gang penuh toko-toko bersejarah. Workshop ini akan dipandu oleh Wira Siahaan, fotografer lifestyle profesional.

Acara akan dilangsungkan pukul 06.30 sampai 10.45 WIB, dimana peserta akan diberikan tugas untuk memotret lima jenis komposisi, dilanjutkan dengan bahas foto dan evaluasi di Kafe sambil sarapan dan minum teh. Workshop ini sangat cocok bagi pemula yang ingin meningkatkan kualitas foto terutama pada aspek artistik. Terbuka untuk penguna kamera apa saja, dari kamera compact, mirrorless, atau DSLR.

Workshop ini dibatasi 8 orang saja dengan biaya Rp 430.000,- * per orang.

Bagi yang berminat, silahkan layangkan pesan ke Iesan, 0858 1318 3069, atau e-mail: infofotografi@gmail.com

*Biaya sudah termasuk sarapan pagi
*Jika tidak berhalangan, Enche Tjin juga akan bergabung.

Biografi singkat mentor workshop ini:
Wira Siahaan adalah seorang fotografer full time sejak tahun 2013 dimana sebelumnya berkarir sebagai musisi selama lebih dari 10 tahun. Bersama beberapa teman fotografer, Wira membentuk grup foto WaiWii dan juga Oro Photo yang berfokus pada lifestyle dan interior photography. Selain menjadi seorang fotografer, Wira juga mengelola blog miliknya sendiri, Cerita Wira, yang berfokus pada cerita cerita travel, kehidupan sehari-hari, dan juga tutorial fotografi.

Wira juga sempat beberapa kali mengikuti perlombaan foto dan mendapatkan penghargaan, yaitu Grand Prize Winner, 2014, The International Foundation for Electoral Systems (IFES) Photography Contest dan juga Honorary Mention Price, 2015, Jeju 7th UNESCO International Photo Competition. Sejak tahun 2015, Wira aktif di komunitas fotografi Fujifilm, Fuji Guys Indonesia.

{ 0 comments }

Saat bersiap-siap untuk travel ke tempat jauh, terutama untuk tujuan fotografi, kita selalu menghadapi keadaan yang dilematis yaitu lebih baik bawa banyak lensa atau bawa sedikit lensa dan berusaha seringkas mungkin?

Biasanya, untuk memotret subjek yang dekat atau pemandangan yang luas, kita perlu lensa lebar, sedangkan untuk subjek yang jauh perlu lensa telefoto. Tapi sampai saat ini tidak ada lensa zoom yang mencakupi perspektif super lebar sampai super telefoto, maka itu minimal kita perlu dua lensa, satu yang super lebar, satu lagi sapujagat. Tapi karena lensa sapujagat (istilah lensa yang bisa zoom dari lebar sampai tele) kualitasnya biasa saja, maka untuk memaksimalkan hasil foto, kita membutuhkan lensa telefoto berkualitas tinggi.

Lalu bagaimana dengan lensa makro? Jangan-jangan ada bunga-bunga liar atau serangga yang unik di perjalanan. Lalu bagaimana kalau kamera kita tiba-tiba rusak di jalan, tentu perlu kamera cadangan dong? Masak cuman bengong lihatin teman-teman lain motret? Tanpa di sadari, tas ransel kita-pun sudah penuh dengan kamera, lensa, aksesoris dan kesemuanya bisa jadi 8 kg. Wow. Seperti mikulin koper saja dong?

Ya, kalau memang kita fotografer profesional, bawa peralatan yang lengkap memang wajib, kalau bisa bawa kamera dan lensa cadangan juga, karena tidak ada alasan untuk gagal memotret karena peralatan foto yang kita bawa gagal fungsi. Tapi jika untuk hobi, sepertinya kita harus juga memperhatikan faktor lainnya. Jika membawa gear yang terlalu berat, takutnya stamina kita terkuras. Di awal perjalanan mungkin masih segar, tapi beberapa hari selanjutnya bisa jadi lemas dan sulit berkonsentrasi.

Untuk pemula, saya sarankan jangan membawa lebih dari dua lensa, karena kemungkinan akan bingung sendiri di lapangan. Menurut saya, lebih baik pelajari terlebih dahulu kamera dan lensanya sampai mantap. Jangan sampai kapasitas mental dan tenaga kita habis cuma untuk mikirin lensa apa yang seharusnya dipasang di setiap lokasi pemotretan.

Kuncinya adalah mengenal kapasitas diri sendiri. Jika punya stamina dan kekuatan, tidak ada salahnya membawa alat yang besar dan lengkap, peralatan yang berat dan besar dalam fotografi biasanya memang kualitasnya lebih bagus dari segi kualitas gambar dan juga ketahanan terhadap kondisi lingkungan yang ekstrim . Alternatifnya, kita dapat membawa kamera dan lensa yang lebih ringan dan ringkas sehingga tas dan tripod yang kita bawa juga tidak perlu terlalu besar dan berat.

Secara pribadi, saya akan membawa lensa sesuai dengan kondisi yang dihadapi, jika perlu memotret subjek yang jauh seperti foto olahraga/aksi, maka saya akan membawa lensa telefoto misalnya lensa 70-300mm. Untuk foto pemandangan biasanya yang saya bawa adalah lensa lebar (ekuiv. 16-35mm / 10-24mm APS-C). Untuk motret travel yang bervariasi dari landscape, portrait dll, biasa saya bawa yang menengah multifungsi dengan focal length lensa ekuivalen 24-90mm/24-120mm, kalau di APS-C berkisar antara 15-85mm. Jangan lupa baterai dan memory card juga penting. Kalau kita mengunakan kamera DSLR pemula atau kamera mirrorless, baterai akan cepat habis terutama jika traveling ke negara dengan cuaca yang dingin.

Beberapa ide lensa yang dibawa bisa dibaca di artikel ini. Bagi teman-teman yang ingin ikut traveling bersama saya dan Infofotografi, silahkan periksa halaman jadwal tour ini.

{ 29 comments }

Hasil mencoba lensa fix Tamron 45mm f/1.8 VC

Saya berkesempatan mencoba lensa fix dari Tamron yaitu SP 45mm f/1.8 Di VC USD, dengan mount Canon. Lensa ini dibuat untuk full frame, namun berfungsi penuh di kamera APS-C dengan fokal efektif menjadi sekitar 70mm. Bila anda masih bingung tentang crop factor dan ekuivalensi lensa, artikel terpisah tersedia disini. Saya sendiri mencoba lensa ini dengan kamera Canon 70D yang artinya fokal lensa Tamron 45mm ini akan ekuivalen dengan lensa 70mm di full frame.

Tamron 45mm VC SP, dipaketkan dengan hood lensa

Dari fokal lensanya memang 45mm termasuk unik, jarang sekali ada lensa 45mm fix untuk full frame, setahu saya dulu ada lensa Samsung NX 45mm tapi untuk APS-C, dan Olympus 45mm tapi untuk Micro Four Thirds. Pengguna DSLR full frame saat memasang lensa 45mm ini tetap akan mendapatkan perspektif normal layaknya lensa 50mm tapi sedikit lebih wide, kalau dibandingkan kurang lebih seperti ilustrasi berikut ini :

Lensa Tamron 45mm f/1.8 (kiri) dan lensa lain 50mm f/1.8 (kanan) posisi kamera dan subyek tidak berubah, tampak yang 50mm sedikit lebih tele

Beberapa fitur unggulan lensa ini :

  • memiliki peredam getar VC
  • motor fokus silent USD
  • eksterior tahan cuaca
  • coating terkini eBAND dan BBAR

Data lain untuk lensa ini, dia memiliki bahan luar dari logam, didalamnya ada 9 bilah diafragma, 10 elemen optik dan diameter filter 67mm, dan untuk semua kelebihan ini, lensa Tamron 45mm memang jadi agak lebih besar namun untungnya masih relatif ringan 540gram.

Dari beberapa hari mencoba lensa ini, saya mendapati kualitas optiknya memang jempolan, dengan ketajaman yang sudah enak dilihat bahkan di bukaan maksimum f/1.8. Kemudian fitur VC juga membantu sekali misalnya ingin pakai shutter speed agak lambat tanpa takut fotonya goyang. Kinerja auto fokus memang senyap (nyaris tidak bersuara) tapi karena lensa ini punya jarak fokus minimum yang lumayan dekat, maka kinerja motor auto fokusnya agak lambat. [click to continue…]

{ 4 comments }

Testing lensa-lensa Leica S, SL dan M

Tanggal 3 Oktober 2017 yang baru lewat ini, Leica Store Indonesia kedatangan tamu dari Leica Akademie Jerman yaitu Oliver Vogler, beliau adalah trainer Leica Academy di markas besar Leica dan dalam kunjungan kali ini, ia membawa beberapa lensa Leica kelas atas yang sempat saya coba bersama beberapa fotografer yang mengunakan kamera Leica, khususnya Leica SL dan Leica M.

Berikut kesan-kesan saya terhadap beberapa lensa top Leica saat dipasang di kamera Leica SL.

Leica SL 50mm f/1.4 ASPH.

Lensa standar atau acuan (reference lens) untuk kategori lensa 50mm. Ketajamannya-nya di f/1.4 menandingi Leica 50mm f/2 APO, lensa Leica M paling sempurna saat ini. Lensa ini agak besar, beratnya pas 1 kg, dengan panjang 12.4 cm, tapi lensa ini bisa autofokus saat dipasang di Leica SL atau di Leica TL tanpa adaptor.

Data teknis foto atas: f/1.4, 1/250 detik, ISO 200, foto bawah: f/1.4, 1/250 detik, ISO 250.

[click to continue…]

{ 5 comments }

Mencoba kamera flagship Panasonic Lumix GH5

Kembali Infofotografi dipinjami kamera flagship Panasonic Lumix yang terbaru yaitu Lumix GH5 selama tiga pekan oleh Panasonic Indonesia. Sebetulnya ulasan ini sudah sedikit terlambat karena Panasonic Lumix GH5 sendiri telah diluncurkan pada bulan Mei 2017 di Indonesia *Panasonic Lumix GH5 diluncurkan di Indonesia*

Lumix GH5- Leica DG Vario-Elamarit 12-60mm f/2.8-4.0 ASPH

 

Tetapi rasanya sih masih “OK” lah tidak masalah, yang penting kesempatan ini tidak kami sia-siakan dan berikut laporan singkat mengenai kesan dan kinerja kamera Lumix GH5 ini dari Panasonic.

Kamera yang kami terima adalah Lumix GH5, 20MP – Four Thirds CMOS Sensor dengan lensa Kit Leica DG Vario Elmarit 12-60mm, f/2.8-4 ASPH yang dipasarkan sekitar IDR 37.000.000 sedang harga tubuhnya saja (body-only) IDR 27.000.000.

Bentuk dan struktur badan kamera GH5 ini tidak terlihat beda sekali dengan pendahulunya GH4 tetapi di genggaman kami rasanya lebih mantap karena dari fisik dan bobotnya memang sedikit lebih besar/berat (560g. 133 x 93 x 84 mm vs 725g. 139 x 98 x 87 mm).

[click to continue…]

{ 8 comments }