≡ Menu

Workshop creative flash - Sabtu & Minggu, 4 & 5 Juli 2015
Daftar/Info: hub: 0858 1318 3069

Liputan acara peluncuran kamera Leica Q di Jakarta

Hari selasa, tanggal 30 Juni 2015 yang lalu,  tim infofotografi (saya dan Enche Tjin) menghadiri acara peluncuran kamera Leica Q sambil berbuka puasa bersama awak media yang bertempat di Prohibition Resto, Plaza Senayan Arcadia, Jakarta. Undangan kali ini termasuk spesial karena selain produk yang diluncurkan adalah kamera premium dengan bandrol harga $4250 (Rp 69 juta – harga Indonesia), juga karena kamera Leica Q ini banyak membuat kami penasaran dengan kombinasi desain klasik dan teknologi modernnya.

Leica Q

Masih mengusung desain yang sama dengan kamera Leica lainnya, Leica Q sebagai advanced compact camera bergaya rangefinder punya bodi berbalut logam (magnesium alloy) yang terasa mantap saat dipakai. Produsen lensa ternama dari Jerman ini merancang dengan seksama lensa untuk Leica Q yaitu Summilux 28mm f/1.7 yang memiliki 11 elemen (termasuk 3 lensa asperikal) dan tersusun atas 9 grup. Teknologi modern di Leica Q tidak tanggung-tanggung, sederet fitur seperti sensor CMOS full frame 24 MP, jendela bidik elektronik 3,68 juta titik, layar sentuh 3 inci dan auto fokus (umumnya kamera Leica lainnya hanya ada manual fokus), dan ada WiFi juga.

Awak media mencoba Leica Q

Awak media mencoba Leica Q

Spesifikasi utama dari Leica Q (type 116) :

  • sensor :CMOS full frame 24 x 36mm, 24 MP (6000×4000 piksel)
  • lensa : Summilux 28mm f/1.7, 11 lensa dalam 9 grup, 3 asperikal, makro
  • shoot kontinu : 10 frame per detik
  • file format : 14 bit DNG (RAW), JPG, MP4 (full HD 1080p)
  • ISO : ISO 100-50.000
  • sistem fokus : auto fokus (contrast detect), manual focus (dengan peaking)
  • metering : Multi-field, center weight, spot
  • shutter : mekanik (sampai 1/2000 detik), elektronik (1/2500-1/16000 detik), flash sync 1/500 detik
  • jendela bidik elektronik : LCOS display, 1280×960 piksel (3.68 juta titik)
  • baterai : Lithium ion 1200 mAh 7.2 V
Enche Tjin berdialog dengan Mr Sunil Kaul

Enche Tjin berdialog dengan Mr. Sunil Kaul, managing director Leica Camera Asia

Dalam acara kemarin, kami berkesempatan mencoba untuk memakai Leica Q beberapa saat untuk membuktikan sendiri betapa mantapnya kamera ini. Bodinya yang berbahan logam terasa dingin dan kokoh saat dipegang, dan ternyata bobotnya yang sekitar 640 gram masih terasa pas untuk dipegang (kira-kira setara dengan kebanyakan kamera DSLR pemula-menengah). Tampilan jendela bidik elektronik terlihat jernih dan detail. Karena jendela bidik ini mendapat gambar dari sensor, maka apa yang ditampilkan persis sama dengan apa yang didapat (berbeda dengan jendela bidik optik ala rangefinder lain yang ada sedikit pergeseran paralax). Saya yang terbiasa melihat jendela bidik di kamera mirrorless justru lebih terbiasa dengan jendela bidik di Leica Q, tapi mungkin pemakai Leica yang biasa pakai Leica sebelumnya akan merasa agak aneh dengan jendela bidik elektronik seperti ini.

Leica Q

Suasana tempat peluncuran kamera di Prohibition Resto ini termasuk sangat low light, dan ini menantang untuk siapapun yang memotret karena perlu ISO tinggi. Untungnya dengan sensor full frame, Leica Q masih bisa menjaga noise tetap rendah di ISO 3200, dan hasilnya masih cukup bersih. Di tempat yang kurang cahaya inipun auto fokus kamera Leica Q masih bisa bekerja dengan baik. Tapi bagi yang ingin memakai manual fokus, kamera ini tetap menyediakan indikator jarak fokus di lensanya, termasuk indikator terpisah untuk yang mau fokus sangat dekat (makro).

Sunil Kaul Mr

Mr. Sunil Kaul

Acara dilanjutkan dengan sambutan dari Mr. Sunil Kaul, Managing Director Leica Asia Pacific, yang kemudian dilanjut dengan penjelasan produk oleh Bpk Wilson Gunawan (Leica store Indonesia). Di acara puncak, pihak penyelenggara menghadirkan beberapa pembicara yaitu Romi Perbawa (Ambasador Leica Indonesia) dan Yongki Lie. Para pembicara menampilkan foto-foto yang diambil dengan Leica Q beserta kesan-kesannya dengan kamera tersebut.

Bpk Wilson Gunawan

Bpk Yongki Lie, mewakili fotografer amatir

Pada intinya kedua pembicara menyukai banyak hal dari Leica Q seperti fokal lensanya yang 28mm, kecepatan/responsifnya shutter kamera untuk menangkap momen dan kemudahan dalam memotret memakai fitur WiFi dari ponsel. Romi yang khususnya sudah membawa Leica Q ke lokasi yang sulit dan gelap seperti memotret aktivitas Ramadhan di Pesantren Lirboyo, merasa sangat terbantu dengan kemampuan kamera ini. Saat memotret malam hari pada waktu tarawih dan sahur yang gelap dan hanya mengandalkan lampu jalan, Romi masih menyukai akurasi fotonya meski ISO disetel sampai 6.400.

Romi Perbawa (kanan) memaparkan hasil fotonya

Romi Perbawa, fotografer profesional jurnalistik (kanan) memaparkan hasil fotonya

Tampaknya kamera Leica Q akan bisa meladeni hasrat fotografer yang menyukai street fotografi, arsitektur dan pemandangan berkat kombinasi sensor, fokal lensa, kualitas optik khas Leica dan kemudahan pemakaian kamera yang didukung fitur-fitur modern. Anda tertarik?

Contoh-contoh karya foto Romi Perbawa :

Contoh karya foto Romi Perbawa

Shutter yang responsif membantu mengambil momen yang tepat, walau dalam keadaan kurang cahaya

Membekukan momen dengan bukaan f/1.7 siang hari tidak masalah, karena shutter kamera ini sangat cepat hingga 1/16000

Membekukan momen dengan bukaan f/1.7 siang hari tidak masalah, karena shutter kamera ini sangat cepat hingga 1/16000

{ 0 comments }

Tour foto Pangalengan 26 & 27 September 2015

Pangalengan adalah daerah di Bandung selatan, merupakan salah satu dari beberapa tempat yang sangat berkesan bagi saya dan teman-teman yang pernah kesana. Objek foto yang bisa didapatkan yaitu pemandangan danau yang dikelilingi bukit dan gunung, pemandangan kebun teh yang sangat luas. Di pagi hari setelah matahari terbit, biasanya banyak kabut di permukaan danau dan kebun teh yang menarik untuk dipotret. Terkadang ada objek foto human interest, seperti nelayan, anak-anak dan pekerja di kebun teh.

Perkebunan teh Malabar terletak daerah perbukitan dengan ketinggian 1550 dpl, sehingga suhunya sejuk di siang hari, dan dingin di pagi hari. Suhu udara kira-kira 15-25 derajat. Disarankan untuk membawa jaket/sweater terutama untuk memotret matahari terbit.

bukit-nini

Perkampungan dilihat dari bukit Nini, Malabar

Susunan acara

Hari pertama, hari Sabtu, tanggal 26 September 2015
Kita akan tiba sebelum matahari terbit dan memotret matahari terbit. Jika cuaca mendukung, kita dapat mengunjungi Situ Cipanunjang dengan naik perahu. Situ ini adalah sumber mata air situ Cileunca. Setelah puas berfoto di situ Cileunca, kita akan check-in penginapan dan beristirahat sampai makan siang. Di sore hari, kita akan memotret pemandangan kebun teh dengan kabut alami yang sejuk.

cileunca-sunrise

Situ Cileunca di pagi hari – Mobile Photography Samsung K-Zoom Panorama oleh Iesan Liang

[click to continue…]

{ 2 comments }

Sony A6000 atau Canon EOS 760D?

Sejak diumumkannya Canon EOS 760D, persaingan kamera di segmen bawah 10 juta semakin meriah. Canon 760D (dan saudaranya, 750D) memang banyak membuat pihak penasaran karena peningkatan di sensornya (kini jadi 24 MP, setara dengan Nikon atau Sony), auto fokusnya (pakai modul AF yang sama di 7D dan 70D) dan khusus 760D kini ada dua roda kendali dan LCD tambahan di atas. Canon 760D pernah saya ulas dan dibandingkan dengan Nikon D5500 karena keduanya cukup setara. Kali ini saya penasaran membahas bagaimana 760D bila dibandingkan dengan kamera mirrorless populer, Sony A6000? Memang di waktu lalu saya juga pernah ulas A6000 vs 700D, tapi kali ini bakal lebih seru karena A6000 dan 760D punya kesamaan mendasar, apakah itu?

760D vs A6000

Kesamaan antara Sony A6000 dan EOS 760D ada di hitungan jumlah piksel sensor, yaitu sama-sama APS-C CMOS 24 MP. Secara teori diatas kertas keduanya akan memberikan hasil foto yang sama baiknya, sama detailnya dan kinerja ISO tinggi yang juga setara. Sebagai sesama kamera modern, keduanya juga sudah dibekali konektivitas WiFi dan NFC. Tapi pada dasarnya kedua kamera ini punya beberapa perbedaan mendasar, dimana Canon mewakili kubu DSLR dan Sony mengusung konsep mirrorless. Uniknya, tidak ada keunggulan mutlak dari masing-masing kubu. Misal DSLR biasanya unggul di kecepatan auto fokus dan ada jendela bidik, tapi A6000 juga auto fokusnya cepat (berkat hybrid AF) dan jendela bidiknya juga bagus (walaupun elektronik). Di lain pihak, mirrorless menawarkan kepraktisan, misalnya auto fokus yang mudah dengan live view – beberapa mirrorless bisa memilih titik fokus dengan menyentuh layar (walau di A6000 tidak bisa), ternyata di 760D juga bisa sentuh layar untuk memilih area yang ingin difokus (walau untuk itu harus masuk dulu ke mode live-view, dan lebih asyik lagi pakai lensa jenis STM).

[click to continue…]

{ 7 comments }

Halo Medan, Horas Bah!

Setelah sekian lama mengadakan kursus/workshop di Jakarta, akhir bulan Agustus 2015 ini saya berkesempatan lagi untuk mengadakan acara belajar fotografi dan editing di Medan, Sumatera Utara.

Berikut acaranya:

Sabtu, 22 & 23 Agustus 2015 Kursus kilat dasar fotografi dan lighting.
Pukul 10.00-14.30 WIB
Alamat: Thong’s Bakery and Cafe, Jl. S Parman 215 C-D, Medan, dekat Cambridge City Mall
Biaya workshop: Rp 850.000 per peserta – termasuk makan siang
Materi pelajaran bisa dibaca di halaman ini.

Senin, 24 Agustus 2015 Workshop Portrait model dengan lampu flash di studio/indoor
Pukul 13.00-17.30 WIB
Biaya workshop: Rp 495.000 per peserta
Alamat: Akan diumumkan kemudian
Materi pelajaran bisa dibaca di halaman ini.

Selasa, 25 Agustus 2015 Workshop editing dan manajemen foto dengan Adobe Lightroom
Pukul 10.00-16.30 WIB
Alamat: Thong’s Bakery and Cafe, Jl. S Parman 215 C-D, Medan, dekat Cambridge City Mall
Biaya workshop: Rp 475.000 per peserta – biaya sudah termasuk makan siang.
Materi pelajaran bisa dibaca di halaman ini.

Instruktur kegiatan belajar ini adalah Enche Tjin: enchetjin.comfacebookinstagram

Bagi yang berminat mendaftar, harap hubungi 0858 1318 3069 atau infofotografi@gmail.com, karena tempat sangat terbatas.

{ 2 comments }

Kamera Sony A6000 vs Samsung NX500

Calon pembeli kamera mirrorless dengan budget dibawah 10 juta rupiah, biasanya agak bingung untuk menentukan membeli kamera mirrorless type dan merk apa. Saat ini, yang cukup populer adalah kamera Sony A6000 dan Samsung NX500.

Sony A6000 vs Samsung NX500

Samsung NX500, yang di luncurkan Februari 2015, setahun lebih baru dari Sony A6000 dan dimuat dengan teknologi yang lebih baru, misalnya mampu merekam video 4K, punya LCD touchscreen yang bisa dilipat ke atas untuk selfie (Tahun 2014-2015 ini selfie booming he he he). Sensor NX500 juga lebih baru (28 MP Back side Illuminated sensor) tanpa filter AA untuk hasil yang lebih tajam.

samsung-nx500-selfie

Sony A6000 biasanya dijual dengan harga kurang lebih satu juta lebih murah daripada NX500, juga punya beberapa kelebihan. Salah satu yang paling menonjol adalah adanya jendela bidik elektronik yang akan sangat membantu untuk memotret di kondisi cahaya yang sangat terang seperti di luar ruangan saat cahaya matahari membuat layar LCD menjadi sulit dilihat.

sony-a6000-back-silver

Selain itu, Sony A6000 memiliki built-in flash, sehingga kita tidak perlu repot-repot atau takut kelupaan untuk membawa flash eksternal. Yang suka foto subjek bergerak/sport, Sony A6000 menawarkan buffer yang lebih lapang sehingga kita bisa memotret berturut-turut lebih lama sebelum kamera berhenti dan menulis data ke memory card. Soal ekosistem, lensa-lensa yang bisa dipasangkan ke kamera Sony lebih banyak pilihan dan variasi.

Lalu yang mana yang terbaik? Lagi-lagi tergantung fitur apa yang lebih diprioritaskan. Bagi sebagian penghobi fotografi, Samsung NX500 enak di user experiencenya, karena adanya layar sentuh dan selfie. Di lain pihak, bagi fotografer yang sering motret outdoor, action photography dan membutuhkan banyak akses ke lensa berkualitas tinggi/pro, Sony A6000 lebih cocok karena punya jendela bidik dan e-mountnya sangat fleksibel untuk mix and match (bisa memasang lensa-lensa sistem kamera lain dengan adaptor).

Semoga ulasan singkat ini bisa membantu yang lagi mencari kamera idaman untuk mengantisipasi liburan lebaran 2015 yang sudah didepan kita.

—-

Yuk ikuti acara kupas tuntas lensa dan test drive lensa-lensa Sony E-mount – 4 Juli 2015.
Daftar 0858 1318 3069 / infofotografi@gmail.com

{ 11 comments }

Sample foto Canon 5DS R

Beberapa hari yang lalu, saya menerima foto sample dari kamera Canon 5DS R (Rp 58 juta) dari teman saya Gregorius Hendra (Rio). Saat tour Kamboja Juni awal yang lalu, Rio mengatakan dia sudah memesan kamera ini dan alasan utamanya karena dia menyukai foto pemandangan sehingga menyukai kamera dengan resolusi tinggi (50 MP) dan juga terkesan dengan processor DUAL DIGIC 6 yang siap memproses data foto dengan cepat.

Dari pengamatan saya, hasil foto Canon 5DS R kiriman Rio cukup detail saat di zoom 100%, ketajaman yang maksimal bisa didapatkan saat melihat gambar dengan perbesaran 50%.

_Z4A1015-2

Data teknis: ISO 100, f/11, 25 detik

_Z4A1015-4

Zoom 100% dari gambar diatasBerapa besar sebenarnya 50 MP? Cukup besar! Coba perhatikan ilustrasi dibawah:

_Z4A1014-2

Data teknis: ISO 1250, f/8, 0.8 detik

[click to continue…]

{ 5 comments }

Halo pembaca Infofotografi yang mengunakan kamera  Sony Alpha, kali ini Infofotografi bekerjasama dengan Sony kembali untuk mengadakan workshop untuk mengenal dan mengoptimalkan lensa untuk kamera mirorrless Sony.

kutas-lensa-sony

Sebagian besar lensa yang tersedia untuk di uji coba

Komposisi acara: Pembahasan materi : 1.5 jam, praktik mencoba lensa 1.5 jam.

Bahasan materi

  • Jenis-jenis lensa untuk berbagai jenis fotografi (travel, wedding, portrait, still life, product, landscape)
  • Istilah-istilah lensa
  • Perbedaan mekanisme lensa (lensa manual fokus, lensa video dll)
  • Perbedaan lensa-lensa Sony E, FE dan Zeiss
  • Mengenal adapter untuk mengunakan lensa pihak ketiga di kamera Sony
  • Praktik foto : Portrait model dan still life

Jadwal acara : Hari Sabtu, 4 Juli 2015, 15.00 sampai buka puasa/makan malam bersama.

Maksimum 30 orang

Biaya per orang: Rp. 50.000,- saja
Tempat: Jl. Moch. Mansyur (Imam Mahbud) No. 8B-2, dekat perempatan Roxi, Jakarta Pusat 10140 (Lihat Peta)

Pembicara: Enche Tjin

Biaya sudah termasuk makan malam dan kesempatan menguji berbagai jenis lensa dengan subjek portrait model dan still life.

Peserta juga akan menerima special promo untuk pembelian produk Sony.

Pendaftaran melalui tranfer ke Enche Tjin via BCA 4081218557 atau Mandiri 1680000667780.

Setelahnya, harap konfirmasi dengan nama peserta ke Iesan Liang 0858 1318 3069 atau e-mail infofotografi@gmail.com.

Terima kasih atas perhatiannya.

{ 10 comments }

Kesan saya terhadap sistem kamera Phase One XF

Pada hari Jum’at tanggal 19 Juni 2015 yang lalu, saya diundang untuk mengikuti acara launching sistem kamera medium format baru, yaitu Phase One XF di hotel Fairmont, Senayan, Jakarta.

Sekilas info, kamera medium format adalah kamera dengan sistem SLR tapi sensor gambarnya berukuran 2.5 kali lebih besar daripada sensor kamera DSLR full frame, oleh sebab itu, kamera ini bisa mengakomodir resolusi foto yang lebih tinggi (50, 60 dan 80 Megapixel).

image-sensor-sizeDalam acara launching sistem ini, bukan hanya body kamera baru yang diperkenalkan ke tamu yang kurang lebih berjumlah 50 orang, tapi juga Digital Back baru (IQ3), dua lensa baru (Schneider Kreuznach 35mm dan 120mm macro), dan software baru yaitu Capture One versi 8.3. Dibandingkan dengan sistem terdahulu, sistem Phase One ini lebih canggih, lebih modular, dan terintegrasi dengan softwarenya.

Ada beberapa peningkatan dari sistem terdahulu yaitu:

1. Desain dan antarmuka

Desain body kamera Phase One XF ini jauh berbeda dengan yang seri kamera sebelumnya. XF ini bentuknya lebih angular (kotak) dengan LCD bagian atas yang beresolusi tinggi dan berwarna. Warna disini berperan untuk membedakan antara nilai yang otomatis dan nilai yang diset manual. Layar LCD di bagian atas kamera juga bisa disentuh.

Selain itu, kendali bisa dilakukan juga dengan tiga dial dan beberapa tombol semuanya bisa dikustomisasi sesuai kebiasaan fotografernya. Dari tiga dial tersebut, kita bisa mengubah ISO, shutter speed dan aperture lensa.

Desain Pegangan/grip nya saya rasakan cukup nyaman untuk dipegang karena cukup dalam dan peletakkannya di bagian tengah sistem sehingga terasa seimbang meskipun berat total sistem ini lumayan juga yaitu sekitar 2-4 kg (total berat tergantung lensa yang terpasang).

phase-one-xf-35mm

[click to continue…]

{ 4 comments }

Dalam bulan Juni 2015 ini, saya mencatat ada dua kamera canggih dengan lensa fix (tidak bisa diganti dan tidak bisa zoom) 28mm. Yang pertama adalah kamera Leica Q, yang konsepnya seperti kamera rangefinder Leica M yang terkenal, tapi diperbaharui dengan berbagai teknologi terbaru. Lalu ada juga Ricoh GR II, yang filosofinya membuat kamera compact tapi dengan kualitas gambar yang terbaik dan praktis.leica-q

Mari kita kupas satu-satu. Leica Q adalah kamera dengan sensor full frame 24 MP dan lensa Leica 28mm f/1.7. Leica Q ini seperti perpaduan old and new. Sekilas dari fisiknya, terlihat seperti kamera rangefinder kuno, tapi setelah ditelisik lebih jauh, ada beberapa hal modern yang ditambahkan Leica, misalnya Jendela bidik optik rangefinder kini sudah digantikan dengan jendela bidik elektronik. Kelebihan lainnya yaitu lensanya bisa autofokus dan menurut review kinerjanya cukup cepat.

Meskipun sudah diperbaharui dengan teknologi canggih, Leica Q masih mempertahankan nilai-nilai lama yang membuat pengguna Leica setia, yaitu adanya aperture ring di lensa untuk mengubah bukaan, dan shutter dial di atas kamera. Lensa kamera ini juga memiliki marking (tanda) jarak fokus dan hyperfocal sehingga memudahkan fotografer untuk manual fokus. Dengan sensor full frame dan lensa berkualitas, ukuran kamera tentunya jadi cukup besar dan berat (640 gram) meski masih lebih ringkas dari kamera DSLR full frame dengan lensa 28mm. Harga yang tinggi yaitu $4250 (Rp 56 juta) juga akan membatasi pengguna kamera ini.

[click to continue…]

{ 0 comments }

Tur ke Kamboja kemarin (1-5 Juni 2015), saya berusaha untuk ringkas bawaannya, kali ini saya membawa Sony A6000 dengan lensa 16-70. Khawatir dengan kurang telenya di jarak fokus 70mm, saya pun dibekali satu lensa fix nikon 135mm dengan adapter ke Sony. Sampai selesai tur, lensa 135mm tersebut hanya nangkring di tas tanpa pernah terpakai sama sekali. Hihi… kayaknya bener bener tipe orang yang malas ganti-ganti lensa.

sony-a6000-16-70mmKarena bobot kamera dan lensa yang cukup kecil, saya pun hanya memasukkannya ke dalam kantong padding kecil dan kemudian membawa backpack biasa (bukan backpack khusus kamera). Lumayanlah, saya masih bisa mengisi payung, topi, obat-obatan dimana sebelumnya saya hanya bisa memuatnya ke dalam kantong lainnya lagi jika membawa DSLR beserta lensa-lensanya.

Awalnya, saya sudah ragu-ragu dengan hanya membawa kamera mirrorless kecil. Ragu akan menyesal karena sudah berpergian jauh namun mendapat foto yang kurang memuaskan. Ragu karena sebelumnya saya pernah menggunakan kamera Sony namun hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Namun setelah diyakinkan oleh Enche bahwa A6000 dan lensa Sony Zeiss 16-70 f/4 OSS merupakan pasangan yang ideal dan akan menghasilkan kualitas yang bagus, maka saya pun mengikuti sarannya.

Foto saya tidak begitu banyak, 1 hari cukup 1 baterai. Sedangkan jika kita antusias foto, maka sebaiknya menyediakan minimal 1 baterai cadangan lagi.

Sewaktu review di kamera, saya cukup puas dengan hasilnya. Akan tetapi saya masih ada sedikit rasa khawatir, karena foto saya ambil dengan format RAW sedangkan tampilan di layar LCD adalah format JPEGnya foto. Dari pengalaman sebelumnya, foto yang tampak di layar LCD biasanya sangat berbeda setelah diimpor ke komputer (dengan format RAW).

Sepulang ke tanah air, saya pun langsung mengimpor semua foto-foto saya ke dalam Lightroom. Setelah diteliti, saya cukup puas dengan kinerja kamera dan lensanya. Hehe… lega rasanya setelah melihat hasil-hasilnya.

Karakter foto dengan kamera Sony biasanya menonjol di warna birunya. Jadi ketika kita foto langit biru, tanpa diedit pun, warna birunya sudah terasa.

Bayon Temple di 16mm ISO 100

Bayon Temple di 16mm ISO 100

Foto sunrise di Angkor Wat ini kurang tajam, berhubung karena kesalahan saya waktu menempatkan tripodnya, kaki tripod tidak terkunci dengan erat. Sadarnya setelah sunrise sudah berakhir. Hiks… akibat kurang disiplin.

Sunrise di Angkor Wat di  16mm ISO 100

Sunrise di Angkor Wat di 16mm ISO 100

Saya yang biasanya tidak menyukai HI ataupun foto penduduk lokal, namun berbekal kamera mungil ini, saya memberanikan diri untuk foto penduduk lokal di Kamboja. Mungkin juga karena nyaman dengan kamera yang kecil dan keramahan dari penduduk lokalnya, saya bisa dengan santai mengambil beberapa foto penduduk. Suatu hal yang jarang saya lakukan sebelumnya.

Atas 46mm ISO 320 Bawah 70mm ISO 200

Atas 46mm ISO 320 Bawah 70mm ISO 200

HI kids - 39 mm dan 70mm

Kanan 39mm dan Kiri 70mm

Ternyata, hanya berani foto anak-anak, hahaha…

Foto di ISO tingginya juga lumayan. Noise yang muncul masih bisa ditangani oleh Noise Reductionnya LR.

16mm ISO 3200 setelah noise reduction

16mm ISO 3200 setelah noise reduction

Beberapa foto favorit saya di tur ini:

17mm iso 1000

17mm ISO 1000

35mm ISO 100, convert BW kecuali kain kuning

35mm ISO 100, konversi ke BW kecuali kain kuning

70mm ISO 200 konversi ke BW

70mm ISO 200 konversi ke BW

Foto Siluet di 70mm ISO 100

Foto Siluet di 70mm ISO 100

Kalau diteliti lebih lanjut lagi, foto-foto saya mendominasi di jarak fokus 16mm ataupun di 70mm, namun favorit saya lebih banyak di 70mm. Sepertinya lensa tele memang cocok untuk saya. :)

Akhir kata, A6000 + Lensa 16-70 lulus dengan nilai memuaskan sesuai versiku. Hahaha… Tur selanjutnya mau diajak lagi ga ya? Hmm…

——

Yuk ikuti acara kupas tuntas lensa dan test drive lensa-lensa Sony E-mount – 4 Juli 2015.
Daftar 0858 1318 3069 / infofotografi@gmail.com

{ 20 comments }