≡ Menu

Dalam dua tahun terakhir, Sigma semakin fokus dalam mengembangkan lensa-lensa untuk kamera mirrorless, terutama setelah bergabung di dalam L-mount Alliance. Sebelumnya, Sigma hanya memodifikasi lensa DSLR-nya untuk dipasang di kamera mirrorless dan membuat adaptor Sigma MC-11 supaya pengguna kamera mirrorless bisa mengunakan lensa Sigma.

Tapi lensa DSLR Sigma itu tidak begitu ideal saat dipasang di kamera mirrorless yang berukuran compact. Jadi peluncuran beberapa lensa yang relatif compact dan khusus dirancang untuk kamera mirrorless menjadi angin segar yang patut disambut positif.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Review Lumix S-PRO 24-70mm f/2.8

Lensa Lumix S 24-70mm f/2.8 adalah lensa profesional untuk kamera L-mount seperti kamera Lumix S1R, Leica SL atau Sigma fp. Rentang fokal 24-70mm boleh dibilang jarak fokal yang populer untuk berbagai jenis fotografi, dari pemandangan, arsitektur, dokumentasi, wedding sampai portrait dan fashion. 

Sebagai lensa berlabel Pro, Lumix 24-70mm ini menggunakan teknologi paling mutakhir dari Panasonic, diantaranya mengunakan 18 elemen lensa dalam 16 grup, termasuk 3 elemen aspherical, 4 elemen ultra low dispersion dan 1 elemen ultra extra low dispersion. Elemen-elemen lensa ini meningkatkan kualitas gambar dalam hal ketajaman, menghilangkan chromatic aberration dan memastikan kualitas foto yang tajam dari ujung ke ujung foto.

Crop dari foto diatas
Crop dari foto diatas
Crop dari foto diatas

Lensa ini punya desain yang unik karena ada lekuk-lekukannya yang memudahkan untuk memegangnya dengan erat, tidak seperti lensa sistem kamera mirrorless yang saat ini kebanyakan minimalist dan seperti tabung silinder. Saat di zoom, dimensi lensanya menjadi sedikit lebih panjang. 

Lensa ini tidak punya tuas AF-MF tapi untuk pindah ke manual fokus, mekanismenya mengunakan focus clutch, tinggal tarik kebawah gelang manual fokusnya dan putar sesuai keinginan.

Mekanisme autofokus lensa ini juga sangat cepat yaitu mengunakan linear dan stepper motor dengan kecepatan 480 fps sehingga fokus jadi lebih cepat dan akurat untuk foto maupun video tanpa focus breathing 

Lensa ini tidak bisa dibilang kecil, bobotnya 935 gram, panjang 14 cm, filter thread 82mm, yang semakin umum untuk lensa-lensa kelas profesional, dan sayangnya tidak memiliki image stabilizer, tapi untungnya, kamera-kamera Panasonic Lumix S saat ini semuanya punya in-body stabilizer yang bagus di body kameranya.

Sebagai lensa S-Pro yang di certified oleh Leica, lensa ini dibuat dengan ketahanan yang tidak diragukan lagi dengan splash, dust freeze proof, dan punya 11 bilah diafragma, memastikan bokeh / bagian blur latar belakang bulat dan mulus. Sepertinya lensa ini memang di rancang untuk penggunaan  jangka panjang.

Crop dari foto diatas menunjukkan bokeh yang halus di f/2.8

Salah satu keunggulan lensa yang mungkin akan sangat dihargai oleh videografer selain tiadanya focus breathing adalah mekanisme aperture yang mulus saat merekam video, sehingga saat syuting dari tempat yang gelap ke terang atau sebaliknya perubahan terang gelapnya sangat mulus dan tidak terkesan patah-patah. 

Teman-teman yang menginginkan lensa 24-70mm f/2.8 terbaik untuk L-mount tentunya tidak perlu melirik lensa yang lain lagi. Selain sangat padu saat dipasang di kamera Lumix S1R, lensa ini menghasilkan kualitas foto yang sangat bagus, tajam dan detail. Selain itu, lensa ini juga sangat fleksibel dan bisa digunakan bukan hanya fotografi tapi juga untuk videografi.

Saksikan video review Lumix S-Pro 24-70mm f/2.8 di Infofotografi

Bagi teman-teman yang tertarik membeli lensa ini bisa hubungi WA 0858 1318 3069 atau bisa di Blibli.

{ 0 comments }

Infofotografi kembali kedatangan kamera baru, kamera compact Sony ZV-1, kamera compact yang dirancang untuk membuat video casual. Apa itu maksudnya? Artinya kamera ini buat merekam video yang spontan, tidak direncanakan seperti merekam cuplikan kejadian sehari-hari yang seru yang kemudian untuk di sharing ke sosmed.

Sony ZV-1 banyak persamaannya dengan kamera compact premium Sony RX100 V yaitu mengunakan sensor type 1 inci dan lensa Zeiss 24-70mm f/1.8-2.8.

Ada beberapa hal di modifikasi untuk memudahkan pengguna untuk merekam video, contohnya ada tombol record video yang cukup besar, ada dua tombol custom (C1, C2). C1 yang bagian atas untuk mengatur ketajaman latar belakang (depth of field). Cocok bagi yang ingin praktis dan belum mempelajari fotografi/videografi, dan tombol C2 di bagian belakang di program untuk mengaktifkan product showcase AF.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Tidak bisa dipungkiri tahun ini adalah tahun dimana kamera foto banyak yang bagus juga untuk merekam video, bahkan highlight utamanya adalah spesifikasi di bidang video. Ada tiga kamera yang peluncurannya tidak terpaut jauh, yaitu Sony A7S III, Canon EOS R5 dan R6.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Sony A7S III – Penantian telah berakhir

Dalam mengembangkan sistem kamera mirrorlessnya, Sony membuat tiga type, Sony A7 untuk general purpose (umum), Sony A7R untuk yang membutuhkan resolusi (megapixel) besar, dan A7S untuk video. A7 & A7R sudah generasi ke-4 tapi sudah lama seri Sony A7S baru generasi ke-2, belum di perbaharui sejak bulan Oktober 2015. Akhirnya, tanggal 28 Juli 2020 ini, Sony mengumumkan Sony A7S III.

[continue reading…]
{ 2 comments }

Tamron membuat kejutan lagi dalam membuat lensa untuk sistem kamera mirrorless Sony dengan meluncurkan lensa sapujagat Tamron 28-200mm f/2.8-5.6 Di III RXD. Lensa ini dirancang untuk kamera mirrorless Sony FE (full frame) seperti seri Sony A7 dan A9.

Belakangan ini, Tamron memiliki filosofi desain yang praktis, fokus dari desain lensa Tamron adalah ukuran yang ringkas, harga yang relatif terjangkau, tapi tidak mengorbankan kualitas gambar. Kompromi yang dilakukan Tamron cukup bijak, yaitu dengan membatasi rentang jarak fokal lensanya.

Untuk lensa ini, Tamron memilih rentang jarak fokal 28-200mm daripada Sony yang memilih 24-240mm. Dengan membatasi jarak fokal lensa, Tamron berhasil membuat lensa yang jauh lebih compact, hampir seperti lensa zoom pendek, selain itu bukaan terbesarnya cukup mengejutkan yaitu mulai dari f/2.8 sedangkan lensa zoom sapujagat pada umumnya mulai dari f/3.5.

Foto dengan Sony A7R IV di 200mm
Crop dari foto diatas
28mm
68mm
200mm
[continue reading…]
{ 2 comments }

Nikon Z5, kamera mirrorless full frame pemula

Nikon terbilang agak telat dalam memasuki kamera mirrorless full frame, dibandingkan dengan Sony yang sudah merilis Sony A7 & A7R di tahun 2013, Nikon baru merilis Nikon Z6 & Z7 di akhir tahun 2018. Dan popularitas kamera generasi pertama Nikon Z6 & Z7 tidak sepopuler seri Sony A7 yang saat ini sudah generasi ke-4.

Nikon Z5 dengan sensor full frame 24 MP

Mengapa? Karena harga Z6 & Z7 tidak murah. Nikon Z6 dijual dengan harga nyaris Rp 30 juta dengan adaptor tanpa lensa, sedangkan Z7 itu Rp 41 juta. Di tahun 2020 ini, Sony masih menjual Sony A7 II dengan harga yang tergolong sangat murah, yaitu Rp 16 juta sudah dengan lensa zoom 28-70mm f/3.5-5.6 (cek harga/link pembelian).

Maka itu Nikon merasa perlu mengisi pasar dengan kamera mirrorless dengan harga yang lebih terjangkau, maka itu hadirlah Nikon Z5 ini.

Nikon Z5 dipaketkan dengan lensa baru yang sangat compact, 24-50mm f/4-6.3 tapi dengan bukaan maksimum lensa yang dikorbankan. Bagi saya ini desain yang padu, meskipun tidak populer bagi fotografer yang lebih berpengalaman, yang menyukai lensa berbukaan besar dan konstan.

Apa saja yang berbeda?

Dijual dengan harga US$ 1400 body-only (sekitar Rp 22jt) dan US$ 1700 dengan lensa zoom baru 24-50mm f/4-6.3 (27.5jt), harga yang ditawarkan Nikon lebih bersaing tapi tetap lebih tinggi dari Sony A7II (16 juta) dan Canon EOS RP (Rp 18 juta body only).

Tapi Nikon Z5 bisa dibilang lebih bagus dari kamera mirrorless pemula lainnya. Misalnya punya dual UHS II card, jendela bidik 3.69 juta titik, 5 axis stabilization di body dengan standard 5 stop, punya baterai yang lebih besar, punya port untuk audio mic dan headphone monitoring dan baterai yang lebih besar dan tahan lama.

Dibandingkan dengan Nikon Z6, Z5 tidak punya layar tambahan di bagian atas kamera, memiliki dual slot SD card (malah bagus) daripada Z6 yang hanya bisa menerima kartu XQD yang lebih besar dan mahal. Z6 punya sensor BSI sehingga di ISO tinggi lebih bersih dari noise sekitar 1/2-1stop, dan lebih cepat kinerja foto berturut-turutnya. Untuk video juga Z6 lebih bagus karena di Z7 biarpun bisa rekam video 4K tapi harus crop 1.7x.

Seharusnya Z6 dan Z7 mengunakan dual card slot dari awal. Meskipun demikian, manajemen Nikon telah mendengar kritik dari penggunanya dan membetulkan kesalahannya dengan menerapkan ke Z5.

Opini

Nikon Z5 tentunya menarik bagi penggemar Nikon yang saat ini mengunakan Nikon Z50 atau kamera DSLR sebagai salah satu kamera untuk upgrade tapi menurut saya tidak akan menarik perhatian dari pengguna kamera mirrorless merk lain untuk upgrade. Meskipun secara spesifikasi lebih baik, tapi harga yang berbeda cukup jauh mungkin bisa jadi halangan.

Bagi yang mendambakan Z6 tapi harganya kemahalan, Z5 tentunya seperti angin segar, apalagi jika tidak membutuhkan fitur video yang terlampau tinggi. Nikon Z50 ini malah mungkin lebih pas untuk pekerjaan foto, karena punya dual card slot SD-Card yang lebih umum.

Spesifikasi Nikon Z5

  • Full frame 24MP CMOS sensor FSI
  • Processor Expeed 6
  • 4.5 fps foto berturut-turut
  • ISO 100-51200
  • 273 point AF deteksi fasa di sensor
  • Jendela bidik 3.69 juta titik, 0.8x perbesaran
  • Built-in stabilization 5 axis, 5 stop
  • Video 4K 30p (crop 1.7x)
  • Dual card slot SD UHS-II
  • Layar monitor 3 inci, tilt
  • 1/8000 – 30 detik
  • Berat: 675 gram
  • Dimensi: 134 x 101 x 70mm

Belajar fotografi, videografi dan editing bisa di Infofotografi, silahkan kunjungi jadwal kelas di halaman ini.

{ 10 comments }

Jenis kamera rangefinder, DSLR dan mirrorless

Dalam seratus tahun terakhir, ada tiga jenis kamera yang populer yaitu kamera rangefinder, kamera SLR dan kamera mirrorless. Ketiga jenis kamera ini masih diproduksi berbagai pabrikan kamera meskipun yang dominan sekarang adalah kamera mirrorless.

Jenis kamera yang pertama muncul adalah kamera rangefinder, yang saat ini bisa ditemui di kamera Leica M. Kamera rangefinder memiliki mekanisme yang unik dibandingkan dengan kamera saat ini. Ciri-cirinya yaitu ukuran kameranya yang cukup compact dan berbentuk kotak persegi panjang dengan jendela bidik di bagian kiri atas.

Kamera rangefinder legendaris Leica M3 yang merupakan kakek dari kamera Leica M digital (M8-M10)

Jendela bidik optik di kamera rangefinder ini unik karena bahannya adalah kaca/optik sehingga fotografernya bisa melihat realitas yang terjadi. Di dalam optical viewfinder ini terdapat kotak kecil yang membantu untuk manual fokus. Cara manual fokus cukup sederhana yaitu kita memutar gelang fokus lensa sampai gambar di kotak kecil tersebut menyatu/tajam seperti yang bisa dilihat di gambar dibawah ini.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Tanggal 16 Juli 2020 ini, Leica secara resmi meluncurkan kamera varian Leica M rangefinder barunya yang dinamakan Leica M10-R. Seperti varian kamera Leica M10 lainnya, M10-R memiliki desain dan ukuran yang hampir sama dengan kamera Leica M10 dengan beberapa perubahan.

Varian kamera Leica M10

Perbedaan utama kamera Leica M10-R dibandingkan dengan varian M10 lainnya yaitu penggunaan sensor full frame CMOS 40 MP, sedangkan yang varian sebelumnya mengunakan sensor 24MP.

Dengan sensor 40MP ini, kualitas gambar dari segi detail, dynamic range lebih baik daripada kamera sebelumnya tanpa mengkompromikan kualitas gambar di ISO tinggi. Selain itu, exposure time/shutter speed maksimum kamera meningkat menjadi 16 menit dibandingkan dengan varian sebelumnya yang terbatas di 4 menit. Sedangkan shutter speed tercepat tetap sama yaitu 1/4000 detik secara mekanik.

Sensor 40MP ini memiliki arsitektur sensor yang sama dengan kamera Leica S3, kamera DSLR medium format 64MP Leica yang terkenal dengan kualitas detail dan warnanya yang membuatnya diminati fotografer fashion, portrait dan landscape.

Fitur-fitur kamera Leica M10-R berasal dari M10-P yaitu punya layar sentuh, mekanisme shutter yang lebih senyap dan penanda level horizon. Sementara spesifikasi yang sama yaitu processor Leica Maestro II, rentang ISO 100-50000, dan buffer memory 2GB (cukup untuk 10 foto RAW/DNG berturut-turut).

Kesan mengunakan Leica M10-R

Saya sempat mencoba kamera Leica M10-R ini dan saya mendapati kualitasnya sangat baik, saya pribadi pernah mengunakan kamera Leica M10 sebelumnya dan cukup familiar dengan handlingnya. Dalam foto portrait di bawah ini, saya mengunakan Leica M 50mm f/2.5 Summarit.

Crop dari foto diatas

Lensa Leica Summarit 50mm f/2.5 yang saya gunakan cukup menarik bagi saya karena lensa fix dengan bukaan yang lebih kecil daripada f/1.4 dianggap kurang bergengsi. Tapi dalam pemakaiannya saya mendapatkan hasil yang bagus di bukaan terbesarnya (f/2.5), hasilnya tajam di bagian fokus dan blur di bagian yang tidak fokus sangat mulus.

Leica M10-R dan Summarit 50mm f/2.5

Untuk foto di luar di kondisi low-light, ISO tinggi bisa digunakan, meski rentang ISO yang disediakan sekitar mencapai 50.000 saya pribadi merasa kualitas foto yang masih bagus di ISO 6400 atau kebawah.

ISO 5000
Crop dari foto diatas (ISO 5000)
Crop dari foto diatas (ISO 5000)
ISO 12500
ISO 12500
Crop dari foto diatas

Kelebihan Leica M10-R

Leica M10-R memiliki kelebihan yang dimiliki keluarga Leica M10 lainnya yaitu body yang relatif compact untuk kamera bersensor full frame, berbahan logam (chrome) dengan jendela bidik rangefinder yang khas, dan dengan sistem lensa-lensa prime/fix compact manual fokus berkualitas tinggi.

Khusus M10-R setelah saya mengamati dengan seksama kualitas gambarnya, secara detail dan warna sangat bagus, dan di ISO tinggi masih oke di ISO 6400, di ISO 12.500-25.000 masih bisa diterima setelah sedikit editing, diatas itu saran saya hanya digunakan di kondisi terpaksa saja.

Kelemahan Leica M10- R

Jika kita bandingkan dengan Leica M10 lainya, M10-R memiliki buffer yang terbatas karena ukuran file yang lebih besar, sehingga kita harus berhenti setelah memotret 10 foto DNG berturut-turut (2-4 detik) saja. (Jika memotret JPG bisa lebih banyak/lama).

Layar LCD monitor Leica M10-R juga terasa sudah jadul karena hanya punya resolusi 1 juta pixel, sedangkan Leica SL2 punya layar beresolusi 2.1 juta titik. Untungnya layar M10-R sudah touchscreen seperti Leica SL2 & M10-P.

Kesimpulan

Leica M10-R adalah kamera bertype rangefinder yang tetap mempertahankan ukuran dan desainnya seperti kamera film, dan memberikan perasaan yang nostalgia bagi yang pernah hidup di era analog. Bagi yang terbiasa dengan kamera DSLR / mirrorless, mengunakan kamera rangefinder memberikan kesan yang berbeda karena fotografer akan lebih merasa terlibat dalam pembuatan dalam foto karena setting exposure dan fokus ditentukan secara manual. Untuk M10-R ini sendiri, merupakan generasi terbaru dari kamera Leica M yang menghadirkan kualitas gambar yang paling baik di jajaran kamera Leica M saat ini.

Spesifikasi Leica M10-R

  • 40 MP Full Frame CMOS sensor
  • Leica Maestro II Processor
  • 3″ TFT 1million pixel, Monitor, Corning Gorilla Glass
  • Layar Touchscreen
  • Exposure times: 16 menit – 4000 detik
  • Level Gauge (penanda horizon)
  • ISO 100-50000

Leica M10-R akan tersedia dengan harga Rp137.180.000. Bagi teman-teman yang berminat untuk mendapatkan atau ingin belajar kamera Leica, silahkan menghubungi kami di WA 0858 1318 3069

Catatan

  • Terima kasih kepada @melindaruslee
  • Foto telah di edit dengan Adobe Lightroom (sebagian besar untuk mengatur kontras).
{ 0 comments }

Di tahun 2020 ini infofotografi kembali menerbitkan buku elektronik (e-book) berisi panduan setting kamera Fuji X-T200 yang berisi 40 halaman tips dan rekomendasi setting kamera seperti auto fokus, WB, pengaturan gambar dan video. Seperti biasa, ebook ini kami tulis berdasar pengalaman dalam menggunakan kamera sehingga isinya bukan sekedar ringkasan buku manual saja.

Fuji X-T200, kamera 24 MP APS-C dengan video 4K, layar 3,5 inci 16:9 yang bisa dilipat putar ke depan, dengan jendela bidik dan flash menjadi kamera paling ideal untuk foto video dan membuat konten Youtube.

Anda pengguna kamera Fuji X-T200 akan terbantu dengan ringkasan yang ada dalam ebook ini, dengan uraian yang ringkas dan jelas, padat berisi. Karena ada beberapa kemiripan dengan seri kamera sebelumnya yaitu X-T100 maupun kamera pemula X-A7, maka ebook ini juga bisa dibaca oleh pengguna kedua kamera tersebut. Untuk pengguna kamera Fuji X-T yang lain, sebelumnya kami pernah membuat ebook khusus bagi pengguna Fuji X-T1 keatas maupun Fuji X-T20 keatas.

Contoh isi buklet Fuji X-T200

Jadi tunggu apa lagi, hubungi 0858-1318-3069 untuk memesan ebook ini, seharga Rp. 50.000,- saja dan anda akan dikirim file PDF melalui WA atau email.

Contoh isi buklet Fuji X-T200
{ 2 comments }