≡ Menu

Lensa zoom berbukaan besar dan konstan biasanya populer di kalangan fotografer amatir dan profesional. Di sistem kamera mirrorless Sony yang APS-C, yaitu Sony A6000-an, kini ada alternatif dari pabrikan pihak ketiga yaitu Tamron 17-70mm f/2.8 VC RXD.

Lensa ini menarik karena tidak hanya jauh lebih murah (Rp11.585 juta) dari yang ditawarkan Sony yaitu Sony 16-55mm f/2.8 G (Rp18.5 juta), tapi juga 20mm lebih panjang. Jika kita bandingkan dengan lensa full frame, ekuivalennya sekitar 25.5-105mm, yang merupakan panjang fokal yang serbaguna karena mencakupi lebar, menengah dan telefoto.

Sebagai lensa zoom berbukaan besar, lensa ini berukuran cukup panjang dan besar untuk kamera APS-C Sony yang compact, tapi masih terasa wajar dan tidak terlalu besar yaitu 12 cm dengan berat 525g.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Kadang-kadang ada pertanyaan tentang apakah lensa A apakah bisa dipasang di kamera B? Beberapa tahun lalu memang jarang ada pertanyaan seperti ini, tapi belakangan makin banyak karena munculnya sistem kamera baru dengan mount yang berbeda-beda.

Contohnya, Canon ada EF, EF-M dan RF mount, Nikon ada F dan Z-mount. Sony punya A & E-mount, Panasonic punya m43 dan L-mount dan Fuji punya X & G mount. Untuk menentukan apakah bisa dipasang di kamera tertentu, kita perlu memahami tentang konsep flange focal distance

Flange focal distance/flange back adalah jarak antara sensor dengan mount (koneksi kamera ke lensa)-nya. Semakin pendek jaraknya, semakin fleksibel dalam menerima lensa lainnya. Semakin tebal, semakin sulit menerima lensa mount lain tapi lensa-lensanya mudah diadaptasi ke kamera lain.

Atas: diagram kamera DSLR/SLR. Bawah: diagram kamera mirrorless. Flange focal distance adalah jarak antara mount lensa dengan image sensor kamera.

Saya ambil contoh, misalnya lensa DSLR Nikon, yang sistemnya memiliki flange back 46.5mm yang termasuk panjang, jadi kamera DSLR Nikon biasanya hanya bisa dipasang dengan lensa untuk kamera DSLR Nikon saja, sedangkan lensa-lensa Nikon mudah dipasang di kamera lain terutama kamera mirrorless.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Review Canon EOS R5

Tahun 2018 Canon menunjukkan kalau mereka siap memasuki kancah kamera mirrorless full frame dengan merilis dua produk EOS R dan EOS RP, sekaligus mengenalkan mount baru RF mount. Kini, Canon kembali menghadirkan duo EOS R5 dan R6 yang melengkapi jajaran kamera full frame mereka. Dari sisi fitur dan harga, EOS R5 sementara ini adalah pembawa panji bendera (flagship) dari armada Canon EOS full frame mirrorless, dengan membawa headline utama adalah stabilizer di bodi, sensor full frame resolusi tinggi dan kemampuan rekam video 8K.

Review kali ini khusus membahas pengalaman saya memakai Canon EOS R5, sebuah kamera seharga $4000 yang banyak disebut setara dengan Canon 5D di era DSLR, dengan ciri bodi kelas pro, kinerja tinggi dan fitur kelas atas. Tak heran bila kamera flagship Canon ini belum lama berselang juga mendapat predikat Kamera terbaik 2020 versi DP-review. Dalam mencoba kamera ini, saya memakai beberapa lensa seperti RF 15-35mm f/2.8 IS, RF 24-70mm f/2.8 IS, RF 70-200mm f/2.8 IS dan RF 800mm f/11 IS.

Saya mencoba Canon EOS R5 dan RF 70-200mm f/2.8L IS

Fitur andalan EOS R5 tentu adalah sensornya. Ada tiga hal keren dalam sensor EOS R5 yaitu : resolusi 45 MP (dan bisa 8K video), ada stabilisasi sensor shift up to 8 stop, dan memiliki Dual Pixel AF untuk kinerja auto fokus yang prima. Bermodal RF mount yang mengakomodir lensa-lensa Canon RF full frame, R5 tentunya juga bisa dipasang lensa EF di era DSLR dengan tambahan adapter. Dalam sisi shutter sendiri ada hal-hal menarik di EOS R5, misalnya kinerja memotret kontinu bisa hingga 12 fps dengan shutter mekanik (20 fps bila shutter elektronik), dan shutter unit yang tangguh teruji sampai 500 ribu kali buka tutup (lebih tinggi dari EOS R6 yang diuji hingga 300 ribu kali). Uniknya lagi, di menu kita bisa atur shutter untuk menutup saat kamera dimatikan, sehingga bisa mencegah debu menempel ke sensor saat mengganti lensa.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Review singkat lensa supertele Canon RF 800mm f/11 IS STM

Dahulu di era DSLR, tidak bisa lensa dibuat dengan aperture kecil misal f/8 karena akan menyulitkan sistem auto fokus, dan gambar yang tampak di jendela bidik juga jadi agak gelap. Maka itu dulu lensa telefoto terpaksa dibuat sangat besar dan mahal, demi menjaga bukaan besar setidaknya sampai f/5.6. Tapi kini di era mirrorless, dimana jendela bidik adalah elektronik, dan auto fokus bisa bekerja dalam keadaan agak gelap, maka lensa tele bukaan kecil bisa dibuat untuk menekan harga jual dan juga ukurannya.

Belum lama ini Canon melalui sistem kamera mirrorless full frame RF meluncurkan lensa supertele unik dengan harga terjangkau, yaitu RF 600mm dan RF 800mm f/11. Bagaimana penjelasan teknis dibalik lensa tele dengan bukaan sekecil f/11 ini pernah saya buat artikelnya disini. Kami berkesempatan mencoba salah satu lensa dari duo lensa tele Canon ini, yaitu RF 800mm f/11 IS STM.

Canon R5 dan RF800mm f/11

Beberapa hal yang saya temui dari lensa RF 800mm ini :

  • lensa ini bisa dipendekkan untuk disimpan, dan mesti dipanjangkan sebelum dipakai
  • memakai desain double-layer Diffractive Optics (DO) 
  • tidak punya mekanisme aperture, jadi tidak bisa stop down ke f/16 misalnya (dan untuk apa juga kan)
  • ring filter depan 95mm
  • ada 4 stop IS, sangat membantu bagi lensa tele (secara teori 1/50 detik masih bisa tajam, dalam praktek bisa bervariasi)
  • motor fokus jenis STM yang silent tapi tidak secepat motor USM
  • tidak bisa fokus dengan jarak dibawah 6 meter
Pada sisi kiri lensa ada tuas memilih range fokus, tuas mode fokus dan tuas IS (Stabilizer). Tampak juga putaran Lock-Unlock untuk memanjangkan lensa (untuk dipakai) atau memendekkan lensa (untuk disimpan)

Sebagai bagian dari lensa RF, lensa RF 800mm ini juga dirancang untuk kompatibel penuh dengan kamera Canon EOS R seperti R, RP, R5 dan R6. Di bagian ring lensa ada yang berwarna perak dan itu adalah control ring seperti lensa RF lain, bisa untuk atur ISO, kompensasi eksposur dll. Sedangkan ring yang lebih besar adalah manual fokus elektronik (by wire) yang jadi ciri lensa dengan motor fokus STM. Sayangnya karena desainnya yang bisa dipanjang-pendekkan, maka lensa berbobot 1,2 kg ini tidak weathersealed.

[continue reading…]
{ 1 comment }

Review Huawei Mate 40 Pro

Infofotografi kembali mendapatkan kesempatan untuk me-review kamera ponsel anyar Huawei Mate 40 Pro yang baru diluncurkan awal November 2020 dan akan hadir di Indonesia di pertengahan bulan Desember 2020 di Indonesia.

Tentunya saya sangat senang kembali bisa mencoba Huawei Mate 40 Pro secara saya juga masih mengunakan ponsel Huawei P20 Pro. Beberapa tahun ternyata cukup buat Huawei untuk membuat kamera yang jauh lebih bagus dari Huawei P20 yang saya gunakan.

Secara desain, Huawei Mate ini cukup besar, layarnya bergaya waterfall yaitu layarnya melebar sampai ke sisi ponsel, sehingga terkesan layarnya lebih luas dari ponsel dengan layar standar biasa. Sepertinya desain seperti ini adalah tren sebagian besar ponsel menengah ke atas di tahun 2020.

Huawei Mate40 Pro punya pilihan warna, tapi yang masuk ke Indonesia adalah yang mystic silver. Bahannya ini sangat menarik karena jika terkena sinar dalam sudut-sudut tertentu warnanya akan berubah-ubah seperti hologram, memberikan kesan yang futuristik dan mewah. Susunan kameranya di susun di dalam semacam cincin yang diberi nama Space Ring.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Leica SL2-S yang baru diumumkan tanggal 10 Desember 2020 ini memiliki slogan Two worlds, one choice, artinya kamera ini bagus bukan hanya untuk fotografi tapi juga handal untuk merekam video.

Sekedar info, spesifikasi Leica SL2-S terutama untuk video adalah

  • 24.6 MP BSI CMOS sensor tanpa AA sensor memastikan ketajaman optimal
  • ISO 50-100.000
  • Video Gamma: L-Log, HLG, Rec.709
  • Unlimited recording
  • 4K 60p 10-bit 4:2:2 Super 35mm, Long GOP, 150 Mbps (HDMI)
  • 4K 60p 8 bit 4:2:0 Super 35mm, Long GOP, 150 Mbps (SD)
  • 4K 24p/30p 4:2:2 35mm (FF), 10 bit, ALL-I, 400 Mbps
  • FHD 180p 4:2:0, Super 35mm, Long GOP 20 Mbps
  • FHD 60p 4:2:2, 35mm, ALL-I 200 Mbps

Di awal tahun depan, akan ada firmware update secara gratis yang meningkatkan performa kameranya terutama untuk videografi. Peningkatan fiturnya bisa dilihat di tabel di bawah ini:

Spesifikasi dan kesan pertama dengan Leica SL2-S bisa dibaca di artikel Kesan pertama Leica SL2-S dan Review di Youtube Infofotografi.

{ 0 comments }

Leica SL2 S – Kesan pertama

Leica membuat kejutan di akhir tahun 2020 ini saat mengumumkan kamera Leica SL2 S. Leica SL2 S ini punya sensor full frame 24MP full frame, mirip dengan SL generasi pertama, yaitu memprioritaskan kinerja/speed dan kualitas video. Saat SL pertama diluncurkan tahun 2015 yang lalu, sepertinya Leica SL adalah satu-satunya kamera mirrorless yang dapat memotret dengan kecepatan 11 foto per detik dan dapat merekam video 4K.

Saksikan video pengalaman dan hasil foto dan video kamera Leica SL2-S ini di youtube Infofotografi

Kamera SL2 S ini meneruskan tradisi SL, S yang kemungkinan besar singkatan dari speed & sensitivity. Kecepatan foto berturut-turut SL ditingkatkan menjadi 25 fps dengan buffer kamera telah diperbesar dua kali lipat dari SL2, sehingga dapat memotret foto (JPG) secara tidak terbatas sampai memory card penuh atau baterai habis. Dengan 24MP, kualitas foto di kondisi gelap juga meningkat karena ukuran pixel masih relatif besar sampai ISO 100.000.

Di sisi video, SL2 S juga maksimal, kamera ini bisa merekam 4K full frame 10-bit dengan aspek rasio Cinema 4K secara internal.

Saya beruntung mendapatkan kepercayaan untuk menguji kamera ini sebelum diluncurkan secara global.

Disclaimer: Kamera yang saya uji mengunakan firmware 0.1A sehingga performa, fitur dan kualitas gambar mungkin tidak sama dengan kamera firmware 1.0 (production).

Desain

Leica SL-2 sekilas mirip dengan SL2, perbedaan yang paling mencolok dari segi fisik adalah warna brand Leica yang hitam, tidak putih, sehingga berkesan lebih stealthy.

Seperti Leica SL2, SL2-S punya tiga tombol, dua dial dan satu joystick. Desainnya terkesan minimalis tidak seperti kamera digital lain tanpa umumnya. Layar fix anti gores dan sidik jari memberikan kesan kokoh dan mewah.

Rekomendasi

Seri Leica SL biasanya dirancang untuk multi fungsi, untuk fotografi & videografi, populer untuk documentary, portrait/fashion, wedding dan travel. Ideal untuk pengguna lensa Leica M, karena lebih mudah manual fokusnya dan kualitas lebih baik dibandingkan dipasang di kamera mirrorless merk lain.

Harga SL2 S Rp79.2 juta. Bagi teman-teman yang ingin memesan/pre order atau belajar mengunakan kamera ini, atau kamera Leica yang lain, saya bisa membantu. Hubungi kami via WA 0858 1318 3069 atau infofotografi@gmail.com

Hardware

  • 24MP Full Frame Low light ISO 50-100.000, native ISO 100
  • 5 Axis stabilizer high performance
  • Bahan logam – alumunium & magnesium IP54
  • Operating temperature -10 to + 40 ° C
  • Jendela bidik 5.7 juta titik
  • 3.2″ hi-res LCD 2.1 juta titik
  • Top display LCD
  • 2 UHS-II memory card slots
  • Baterai 1860mah (sama dengan SL, SL2 & Q2) 510 shot
  • Interface Photo & Video yang simple dan intuitif
  • L-mount family lens
  • Desain dan dibuat di Jerman

Fitur fotografi

  • Double buffer size vs SL2 atau 4GB.
  • Continuous shooting 25 fps, infinite JPG E. shutter
  • Continuous shooting 9 fps, mechanical
  • Sensor special desain for Leica M
  • Capture One tethering
  • Flash synchro 1/250 detik
  • Shutter speed: 30-1/8000 mechanical, 60-16000 electronic
  • 225 contrast detect AF point
  • Multishot 96MP

Fitur Video

  • Video 4k/60p, FHD 120p 10bit
  • Full size HDMI
  • C4K, internal 10 bit, HEVC H.265
  • Video Gamma: ec.709, L-Log Rec.2020, HLG Rec.2020
  • Segmented file recording to save content
  • Waveform monitor
  • Color Bar (correct color setting)
  • Focus shift (3 different focus positions)
  • Berat: 850g tanpa baterai, 931g dengan baterai

Pilihan Video recording

MP4
Long GOP / 4:2:0 / 8-bit, 4K 60p 150mbps

MOV
C4K 60p/50p- Long GOP / 4:2:0 – 10-bit SD card, 4:2:2 HDMI out – 150mbps
C4K 30p/25p/24p – All I / 400 Mbps / 4:2:2/ 10-bit SD

Full HD
180p/150/120p 4:2:0 Long GOP 8 bit 20mbps
60p/30/25/24p All-I/200Mbps/4:2:2/10bit SD 200mbps

Ucapan terima kasih

Leica Store Indonesia & Asia Pacific
Irwan Soenario @seansideup untuk direksi video Leica SL2-S

{ 1 comment }

Kamera Sony vs Fuji di tahun 2020-2021

Tidak bisa dipungkiri bahwa dua merk kamera yang populer di kalangan pemula, hobbyist dan profesional pasti akan melirik merk kamera Sony atau Fujifilm. Memang, di setiap rentang harga kedua pabrikan ini bersaing secara ketat dan mungkin calon pembeli akan bingung dalam memilih. Maka dari itu artikel ini akan memberikan informasi kelebihan dan kekurangan masing-masing type kamera secara ringkas.

Harga Rp 10 juta

Sony A6100 vs Fuji X-T200

Sony A6100 dan Fuji X-T200 punya banyak persamaan yaitu bersensor APS-C 24MP. Fisiknya sama ringkasnya, dan beratnya juga hampir sama yaitu 396 vs 370g.

Kelebihan Sony A6100 terutama di kemampuan merekam video tanpa batas waktu, sistem autofokus yang lebih baik, dan koleksi lensa yang banyak dari Sony maupun pabrikan pihak ketiga.

Kelebihan Fuji X-T200 yaitu punya layar LCD yang lebih besar (3.5″ vs 3″), layarnya touchscreen dan bisa diputar ke segala arah, sedangkan Sony A6100 layar LCD-nya hanya bisa diputar ke atas, tidak bisa ke samping. Jendela bidik X-T200 juga punya resolusi yang lebih tinggi (2.3 juta titik vs 1.4 juta titik).

Untuk videografi, kedua kamera dapat merekam video sekualitas 4K 30p, Full HD 120p, yang berbeda yaitu X-T200 hanya bisa merekam maksimum 15 menit untuk 4K, dan 30 menit untuk Full HD.

Fuji X-T200 punya kelebihan misalnya punya gyro EIS (digital gimbal) untuk membantu mendapatkan gambar video yang lebih stabil dan juga headphone jack (dengan adaptor USB) untuk monitoring suara.

Jika perlu kamera yang dapat merekam lebih dari 15/30 menit, Sony pilihan yang lebih baik, tapi jika menyukai desain yang lebih mengunakan layar touchscreen yang besar dan bisa diputar ke segala arah, Fuji lebih bagus.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Sepuluh kamera paling menarik di tahun 2020

Tahun 2020 bisa jadi adalah tahun yang tidak terlupakan, adanya pandemi dan resesi global yang mengubah banyak rencana bisnis dunia termasuk industri fotografi. Untungnya di tahun 2020 ini tetap banyak diluncurkan kamera baru oleh banyak produsen Jepang dan juga Jerman. Kami di infofotografi biasanya setiap akhir tahun merilis kamera terbaik, namun di 2020 ini kami ubah menjadi kamera paling menarik bagi kami. Salah satu alasannya karena kamera modern semakin spesifik dan niche, tidak lagi bisa dibandingkan satu sama lain. Tidak ada yang sempurna, tiap kamera punya keunggulan utama yang ditujukan bagi orang yang memerlukannya.

Kami di infofotografi telah memilihkan 10 (sepuluh) kamera paling menarik yang dibuat di tahun 2020 ini dan berikut adalah daftarnya :

Panasonic Lumix G100

Kamera Lumix G100 menjadi kamera modern yang ringkas dan ditujukan untuk konten kreator yang mencari kamera sekecil kamera compact/pocket tapi bisa berganti lensa (mengingatkan pada Lumix GM di masa lalu) dan selalu bisa diandalkan untuk selfie dan vlogging. Plus : kecil, ringkas, masih ada jendela bidik, bisa disambungkan ke mini tripod yang ada tombolnya. Minus : tanpa stabilizer di bodi, fitur video 4K terbatas.

Nikon Z5

Meski Nikon sudah mempunyai Z6 dan Z7 dua tahun lalu, tapi hadirnya Z5 sebagai produk Nikon paling kecil dan terjangkau di kelas full frame tahun ini perlu disambut gembira. Hal ini karena Z5 tetap mempertahankan ergonomi khas Nikon, ada dual slot, dan tetap ada stabilizer. Sebagai sensor diberikan sensor 24 MP non BSI, setara Nikon D750 di masa lalu. Minusnya, kamera Z5 ini kecepatan burst nya kurang cepat, dan fitur video yang biasa saja. Cocok untuk yang mencari kamera mirrorless baru dengan sensor full frame tapi dana terbatas.

Fuji X-S10

Dalam lini kamera Fuji X, hadirnya X-S10 membawa desain modern dan agak berbeda dengan desain Fuji X-T, X-E atau X-Pro. Kamera Fuji X-S10 yang bisa dianggap sebagai penerus X-T30 ini punya grip yang dalam, sensor X-Trans dan stabilizer di bodi. Minusnya, X-S10 tidak weatherseal, dan cuma ada satu slot memori. Cocok untuk konten kreator yang suka mengambiil foto dan video vlogging.

Fuji X-T4

Kalau bicara kamera APS-C kelas atas, Fuji X-T4 pasti masuk dalam kelompok ini. Fuji X-T4 semakin menarik karena seperti penggabungan fitur foto di X-T3 dan X-H1. Plus : desain retro khas Fuji, bodi weathersealed, dual slot, layar lipat samping dan ada stabilizer. Minus : harga termasuk tinggi untuk sensor APS-C, grip kecil. Cocok untuk pekerja foto video serius yang ingin memaksimalkan ekosistem lensa APS-C.

Sony A7C

Sony A7C, kamera mirrorless full frame yang baru diumumkan

Sony A7C hadir ketika mirrorless full frame diminta bisa menjadi lebih kecil lagi. Dengan mengambil bahasa desain dari A6400 ala rangefinder, A7C menjaga ukuran kamera tetap ringkas namun punya sensor full frame. Selain ukuran A7C ini lebih kecil (dibanding A7 III) juga ada perbedaan dalam desain layar LCD dan jendela bidiknya. Bahkan A7C punya kinerja auto fokus yang lebih baik dibanding A7 III. Minusnya, tidak ada beberapa tombol C1-C2 dan joystick, dan hanya satu slot SD card (yang uniknya terletak di sisi kiri kamera).

Lumix S5

Kameranya ringkas, fitur fotonya oke, fitur videonya dahsyat. Itulah gambaran untuk Lumix S5, sebuah mirrorless full frame kelas menengah dengan L-mount. Lumix S5 menawarkan fitur high res 96 MP mode, stabilizer, dual slot, 5,9K RAW video out, dan sudah dapat V-Log. Dalam hal auto fokus tracking memang kalah dibanding teknologi PDAF, tapi kecepatan fokusnya termasuk sangat cepat. Cocok untuk fotografer travel, yang mencari kualitas tinggi tapi kameranya ringan. Untuk videografer tidak perlu diragukan, bahkan kamera ini bisa Cinema 4K 60 fps, ada vectorscope dan anamorphic recording.

Nikon Z6 II

Nikon Z6 hadir dua tahun lalu dengan memberi kualitas bodi dan dynamic range khas Nikon dalam bodi mirrorless Z-mount, dan kini Z6 II membawa peningkatan dalam dual prosesor dan dengan dual slot memory card. Plus : kinerja cepat, top status LCD, weatherseal. Minus : layar lipat ke atas tidak semua orang suka.

Sony A7S III

Setelah dinanti selama 4 tahun, Sony A7S kembali hadir dengan generasi ketiganya. Dari awal, A7S memang jadi tool serius untuk videografer dan di Mark III kali ini menawarkan layar lipat ke samping yang memang sedang jadi tren. Plus : rekam video internal 4K dengan 120p. Minus : sensor tetap 12 MP, kurang detail untuk cetak foto ukuran besar.

Canon EOS R5

Canon EOS versi mirrorless full frame semakin banyak pilihan sejak R5 dan R6 hadir di 2020 ini. Keunggulan R5 ada pada resolusi sensor 45 MP, kecepatan motret dan kinerja auto fokus dalam ergonomi yang mantap, banyak dibilang R5 adalah setara DSLR EOS 5D dalam versi modern. Plus : video 8K, speed 12 fps, top LCD, auto fokus Dual Pixel AF. Minus : rekam 8K tidak bisa lama.

Leica Q2 Monochrom

Keunikan Leica Q2 Monochrom ini adalah ketika sensor 47MP di Leica Q2 tidak diberi filter warna sehingga benar-benar sinyal luminance saja yang direkam oleh sensor. Leica Q2 ini memiliki lensa permanen 28mm yang bukaannya f/1.7 dan bisa auto fokus (dibanding Leica M Monochrome, bisa ganti lensa tapi tidak bisa auto fokus). Cocok untuk fotografer yang menyukai fotografi hitam putih yang langsung ‘matang’ tanpa diedit.

[continue reading…]
{ 1 comment }

Review kamera di ponsel Oppo Reno 4F

Infofotografi kehadiran lagi ponsel yang relatif baru yaitu Oppo Reno 4F dari detikinet untuk di review performa dari kameranya. Varian Reno 4 ini termasuk ponsel kelas menengah dengan harga yang cukup terjangkau. Saat diluncurkan, ponsel ini harganya Rp 4.3 juta, saat saya menulis review ini, harganya sudah cukup terjangkau yaitu Rp 3 jutaan. [Beli disini] karena kompetisi yang sengit.

Sebelum masuk ke kualitas kameranya, saya ingin membahas sedikit tentang desain ponselnya. Kamera ini termasuk ringan (164g) dan tipis (7.48mm) dengan desain yang cukup minimalis dengan susunan empat kamera yang rapi di pojok kiri atas.

Chipset yang digunakan ponsel ini adalah dari Mediatek Helio P95 dengan pilihan RAM 8GB yang cukup baik untuk AI maupun computational photography. Teknologi yang digunakan yaitu 12nm dan didukung baterai fast charging berkapasitas 4000mah

Terdapat 4 kamera di ponsel ini, tapi yang praktis untuk digunakan hanya dua, yaitu yang 48 MP (12MP) 1/2″ 26mm dan 8MP ultra wide 16mm 1/2.2″. Dua lainnya adalah depth sensor untuk mendeteksi jarak.

Crop dari foto diatas
[continue reading…]
{ 0 comments }