≡ Menu

Review monitor EIZO ColorEdge CG2730

Monitor menjadi sesuatu yang penting bagi fotografer modern karena foto yang diambil dari kamera perlu dianalisa dengan seksama melalui komputer untuk memeriksa warna, detail, ketajaman dan kontras dari foto yang sedang dilihat atau diedit. Banyak orang yang menganggap semua monitor sama, padahal setiap monitor punya perbedaan spesifikasi dan kemampuan menampilkan gambar yang tentunya akan mempengaruhi persepsi kita yang melihatnya. Pada akhirnya kita kerap menyalahkan kamera yang kurang tajam, atau warnanya kurang mantap, padahal bisa jadi masalahnya adalah di monitor yang dipakai.

Contoh Color space untuk Adobe RGB

Hal penting yang perlu diketahui dari sebuah monitor bukan hanya berapa ukuran layarnya, tapi banyak hal lain seperti kemampuan menampilkan gamut warna (sRGB maupun Adobe RGB), resolusi layar, akurasi warna, uniformity dan rasio kontras. Masalahnya tidak banyak monitor yang dibuat dengan spesifikasi tinggi, karena biasanya monitor ditujukan hanya untuk pengguna kantoran yang memakai komputer untuk mengetik atau browsing saja. Salah satu merk monitor yang menyasar segmen profesional adalah EIZO, produsen asal Jepang yang mengembangkan dan membuat monitor high-end yaitu seri ColorEdge CG (profesional) dan CS (umum).

Kali ini saya mencoba sebuah monitor Eizo ColorEdge CG2730 yang termasuk dalam seri display profesional yang cocok untuk editing, printing maupun fotografi kelas pro. Monitor 27 inci dengan aspek rasio 16:10 ini dibekali dengan alat kalibrasi terpadu di bagian atas, dan diberikan tudung (hood) untuk mencegah cahaya lampu mengganggu tampilan monitor. Prosesor di dalam CG2730 punya fitur penstabil brightness dan penstabil warna (biasanya warna bisa meleset saat suhu monitor naik). CG2730 ditopang oleh sebuah kaki yang fleksibel, bisa diatur ketinggiannya, bisa ditundukkan atau ditengadahkan keatas, dan bisa diputar menjadi vertikal bila perlu. [click to continue…]

{ 0 comments }

Habis upgrade kamera kok kualitas foto masih sama?

Artikel kali ini agak berbeda dengan yang lain karena postingan ini berdasarkan pertanyaan yang diajukan teman & murid saya Andrew di Instagram. Pertanyaannya kurang lebih seperti ini:

“Di era masa kini, kebanyakan fotografer habis-habisan meng-upgrade kamera mereka dengan yang termahal, tapi sebagian besar kualitas fotonya hampir sama dengan sebelum upgrade, terutama saat diposting ke media sosial seperti Facebook dan Instagram. Mengapa bisa demikian? Apakah ada faktor lain yang mempengaruhi hal tersebut?”

Menarik sekali pertanyaan tersebut bukan? Pernahkah Anda memikirkan hal tersebut atau mengalami hal yang serupa?

Untuk meningkatkan kualitas foto, sebagian besar fotografer pemula biasanya berpikir bahwa kamera dan lensa yang mahal atau paling baru akan menghasilkan foto yang terbaik. Hal itu wajar saja dan ada benarnya. Dengan meningkatkan kualitas kamera dan lensa, kualitas teknis kamera menjadi lebih baik, contohnya detail yang bisa ditangkap bisa lebih banyak (Megapixel meningkat), Bisa juga kinerja foto di kondisi cahaya gelap makin bersih dari noise (bintik-bintik pada foto).

Upgrade ke Leica Q Snow Edition, bisakah menaikkan kualitas foto?

Banyak juga peningkatan kamera yang tidak terlihat langsung di hasil foto tapi mendukung fotografer supaya bisa mendapatkan foto yang baik misalnya ketahanan kamera dan lensa terhadap elemen alam seperti hujan/air, suhu dingin dan panas. Selain itu kamera dengan desain yang ergonomi dan sistem menu dan kendali yang baik tentunya lebih memudahkan fotografer dalam menangkap momen.

Tapi mengapa hasil fotonya terlihat sama?

Jika arenanya adalah media sosial yang sebagian besar dilihat di layar ponsel yang resolusinya kurang lebih 2 Megapixel (1920 X 1080) maka kualitas peningkatan teknis kamera baru akan tidak terlalu terlihat, karena gak peduli kameranya 150 megapixel kek, atau 12 Megapixel, atau bahkan 2 Megapixel, semua akan terlihat sama detailnya.

Kurang lebih juga sama untuk masalah noise. Jika gambar yang megapixelnya banyak, lalu dikecilkan menjadi 2 megapixel, bintik-bintik noise tersebut juga banyak menghilang. Maka itu, kamera terbaru tidak begitu banyak pengaruhnya di media sosial.

Kalau lensa lain cerita lagi, lensa punya banyak jenis dan sifat. Lensa makro memungkinkan fotografer untuk foto dari jarak yang sangat dekat, lensa tele membuat subjek yang jauh terlihat besar, lensa lebar membuat pemandangan terlihat lebih dramatis. Lensa membuka peluang fotografi baru.

Tapi kalau yang di-upgrade lensanya mirip, misalnya dari misalnya jika upgrade dari 70-200mm versi 1 ke 2 atau 3 ya jenis fotonya nanti akan sama saja, bedanya lebih ke detail yang tertangkap (lebih kontras/tajam) dan autofokus yang lebih cepat.

Lalu bagaimana caranya supaya hasil foto dengan gear yang mahal biar keliatan bedanya? Salah satunya adalah dengan menampilkan foto dalam bentuk cetak besar, idealnya satu meter atau lebih. Selain itu, bisa ditampilkan ke monitor beresolusi sangat tinggi seperti 8K … tapi udah ada belum ya monitor semacam itu?

Oleh sebab itu, perbedaan antara kualitas foto sebelum dan sesudah upgrade gear tidak akan terlihat signifikan jika hanya ditampilkan di media sosial.

Makan waktu dan keringat untuk menguasai kamera Leica M untuk mengeluarkan potensinya. Foto Ruben, Leica Ambassador, dibuat dengan Leica Q oleh Enche

Masalahnya banyak orang menganggap membeli gear baru otomatis dapat meningkatkan kualitas foto. Pada akhirnya akan kecewa, karena faktor gear sebenarnya hanya salah satu faktor saja, masih ada faktor yang mungkin lebih penting yaitu kompetensi fotografernya itu sendiri, meliputi kemampuan teknik dan artistik, kemampuan mengoperasikan kamera, komposisi, menangkap momen, kemampuan editing dll. Faktor lainnya yaitu konsep/ide/cerita dan subjek yang dipotret. Misalnya kalau foto model, kalau yang dipotret supermodel berpengalaman tentunya lebih menarik daripada model yang baru belajar.

Yang sering tidak disadari oleh penghobi fotografi baru adalah investasi untuk meningkatkan ketrampilan dan pengalaman lebih penting daripada investasi gear. Jika kita beli kamera, dalam 10 tahun lagi nilainya sudah turun karena ada yang baru dan lebih canggih, tapi kalau kita investasikan waktu dan uang untuk pendidikan serta menambah pengalaman, nilai dan hasil foto akan meningkat lebih signifikan, dan itu pasti akan terlihat dalam Instagram feed masing-masing.

{ 1 comment }

Di India, ada satu festival yang sangat terkenal sampai ke mancanegara terutama untuk fotografi yaitu Holi Festival. Nama festival ini aslinya bernama Holika diselenggarakan untuk menyambut musim semi, dimana orang-orang merayakan Holi dengan saling melemparkan bubuk berwarna-warni atau saling menyiramkan air berwarna-warni. Tradisi ini sudah berlangsung beberapa ratus tahun sebelum Masehi.

Kita akan menyaksikan festival ini di dua tempat, yaitu di Vrindavan dan kota Jaipur, juga tidak ketinggalan jalan-jalan mengunjungi berbagai tempat yang fotogenik di Jaipur, Agra dan New Delhi.

[click to continue…]

{ 0 comments }

Memotret Black and White : Candi di Kamboja (2018)

Saya sudah lima kali berkunjung ke Kamboja dalam 7 tahun terakhir (pertama kali tahun 2011). Praktis Kamboja adalah destinasi yang paling sering saya kunjungi dibanding negara lainnya. Kenapa berulang-ulang? Ya tentunya banyak faktor yang menentukan, yang pasti adalah saya gak bosan-bosan kesana, karena setiap kali saya mendapatkan pengalaman dan foto yang berbeda-beda. Awal Desember 2018 ini saya dan teman-teman (Total 14 orang) berangkat ke Kamboja bersama untuk motret bareng untuk kesekian kalinya.

Dalam kesempatan kali ini saya banyak mencoba mode Monochrom HC (High Contrast) dari kamera compact Leica C-Lux. Hasilnya di proses/edit di Lightroom dan Silver Efex Pro untuk meningkatkan tekstur dan kontras.

Leica C-Lux: Wishing Stones Bayon, ISO 125, 24mm, f/7.1, 1/160

Koh Ker Temple Complex, ISO 125, f/6.3, 1/200, 24mm

Koh Ker Temple Complex, ISO 125, f/6.3, 1/80, 24mm

Angkor Thom south gate, ISO 400, f/5.8, 1/640, 70mm

Kamboja memang oke untuk foto hitam putih karena karakter dan kondisi candinya. Yang diperlukan adalah cahaya yang bagus, terutama cahaya matahari di pagi atau sore hari. Meskipun sudah sering kesana, saya berharap bisa kesana lagi di tahun-tahun mendatang.

Foto-foto trip lainnya bisa dilihat di instagram @infofotografi_official dan @enchetjin


Jadwal kursus, workshop dan trip Infofotografi bisa dibaca di halaman ini.

{ 0 comments }

Halo, teman-teman Infofotografi, menjelang Imlek, kita akan berlatih komposisi fotografi di area pasar lama Tangerang yang unik karena gang-gang sempitnya dan adanya bangunan-bangunan kuno bersejarah di kawasan ini. Ditengah pasar terletak salah satu kelenteng tertua di Banten.

Dari pasar lama Tangerang, grup akan menuju pabrik pembuatan dodol dan kue keranjang yang dibuat secara tradisional. Mendekati imlek, pembuatan dodol dan kue keranjang meningkat dan menarik untuk dipotret. Workshop ini akan dipandu oleh Enche Tjin.

Acara akan dilangsungkan pukul 06.30 sampai 12.30 WIB, dimana peserta akan diberikan tugas untuk memotret foto cerita, dan kemudian dilanjutkan dengan bahas foto dan evaluasi di Infofotografi (Greenlake City) setelah makan siang.

Workshop ini sangat cocok bagi pemula yang ingin meningkatkan kualitas foto pada aspek teknik dan artistik. Terbuka untuk pengguna kamera apa saja, dari kamera compact, mirrorless, atau DSLR.

Workshop ini dibatasi maksimal 8 orang saja dengan biaya Rp 450.000,- * per orang.

Hari Sabtu, tanggal 26 Januari 2019

Bagi yang berminat, silahkan layangkan pesan ke Iesan, 0858 1318 3069, atau e-mail: infofotografi@gmail.com

*Biaya sudah termasuk makan siang

{ 2 comments }

Fuji GFX 50R Review : Portrait & trip Kamboja

Fuji GFX50 R adalah kamera digital mirrorless bersensor medium format yang memiliki resolusi 50MP. Kamera ini bersensor medium format, dan merupakan kamera medium format Fuji yang kedua setelah GFX 50S yang diluncurkan dua tahun sebelumnya (2016). Fuji GFX 50R memiliki desain bergaya rangefinder yang bentuknya kotak persegi panjang sedangkan GFX50S desainnya bergaya kamera DSLR. Dibandingkan dengan pendahulunya, kamera baru ini memiliki body yang lebih compact ringan.

Desain dan antarmuka

Desain GFX50R mirip dengan Fuji X-Pro 2 dan X-E3, dengan ciri memiliki roda kendali (dial) shutter speed, dan kompensasi eksposur di bagian atas kamera. Di bagian belakang kamera, terdapat joystick 8 arah dan beberapa tombol fungsi.

Casing kamera ini berbahan magnesium alloy, dan roda dial kamera terbuat dari alumunium. Saat memegangnya, kamera ini terasa jauh lebih ringan dari penampilannya, tapi ada kesan kurang kokoh, tapi Fuji mengklaim bahwa kamera ini memiliki segel yang kuat sehingga tahan air dan cuaca dingin sampai dengan -10 derajat Celcius. Meskipun ukuran kameranya besar, ukuran tombol-tombol kamera hanya sedikit lebih besar dari tombol-tombol di kamera Fuji seri X, sehingga proporsinya sepertinya terasa agak kecil, mungkin seharusnya lebih besar juga mengikuti ukuran kameranya.

[click to continue…]

{ 2 comments }

Kamera mirrorless terbaik tahun 2018

Setiap tahun memang selalu muncul banyak kamera baru, dan tentunya seperti biasa saya selalu bilang kalau tidak ada kamera yang jelek. Semua kamera pada dasarnya adalah bagus, sesuai harga dan segmentasinya. Tapi dari semua kamera yang dibuat di tahun sebagian saya anggap lebih baik dari yang lain, karena secara signifikan dia menjadi produk yang penting dan keberadaannya perlu diperhitungkan. Tanpa berlama-lama, saya coba susun daftar kamera mirrorless 2018 terbaik:

Di segmen 10-12 jutaan adalah :

  • Canon EOS M50 : inilah EOS M paling seimbang antara fitur dan harga, dengan harga 10 jutaan dapat sensor APS-C 24 MP, prosesor Digic 8, 4K, jendela bidik, layar lipat yang membuatnya cocok untuk travel atau vlog. [Review]
  • Panasonic Lumix GX9 : tujuan mirrorless bagi banyak orang adalah mencari ukuran kamera dan lensa yang kecil tanpa mengorbankan fitur dan hasil fotonya, maka Lumix GX9 ini menjadi produk penting di kisaran harga 10 jutaan karena sudah punya banyak fitur termasuk IS di sensor (20 MP Micro 4/3), jendela bidik lipat dan banyak tombol dan roda untuk pengaturan setting. [Review]

Di segmen 20 jutaan ada :

  • FujiFilm X-T3 : penerus X-T2 ini kini semakin baik dengan sensor APS-C BSI 26 MP untuk ISO tinggi yang lebih bersih dari noise, dengan kinerja super cepat (fokus dan burst) dan kemampuan video yang mengesankan, Fuji X-T3 kerap disebut sebagai kamera mirrorless APS-C terbaik yang pernah ada, plus bodinya yang sudah tahan cuaca buruk. [Ulasan]

Di segmen diatas 30 juta, ada :

  • Panasonic Lumix GH5s : inilah kamera mirrorless pilihan utama videografer, dengan sensor 12MP yang pas untuk rekam video sehingga kualitas video jadi sangat baik dan minim rolling shutter, dengan dukungan video 4K 10 bit 422 All-I hingga 500 Mbps yang bisa disimpan langsung ke kartu memori. [Review saat launching]
  • Sony A7 mark III : bila ditanya mirrorless serba guna dengan sensor full frame, maka Sony A7 mk III ini sulit dilawan, karena di generasi ketiga ini Sony (akhirnya) mampu mendesain kamera yang sulit dicari kekurangannya baik dari sisi hasil foto, bodi, fitur, harga dan baterai. [Ulasan]
  • Nikon Z7 : Nikon membuat milestone dengan meluncurkan kamera mirrorless full frame kelas berat yaitu Z7 dengan maksud mencegah pengguna DSLR Nikon (yang tentu sudah punya banyak lensa) beralih ke merk lain (Sony) dengan mengadaptasi lensa Nikon mereka. Maka Z7 dibuat untuk setara dengan Nikon D850 (DSLR) supaya fans Nikon tetap setia dan puas. Menurut saya Z7 adalah kamera penting dan bersejarah bagi Nikon dan juga dari spesifikasi bisa dibilang sudah sangat baik, khususnya di hasil foto yang sangat bagus. [Ulasan]

Dan bila ditanya kamera diatas 50 juta yang fenomenal tahun ini, saya melihat ada dua yang menarik yaitu :

  • FujiFilm GFX 50R : sebuah pengecilan dari kamera medium format, menjadikan GFX 50R ini cukup ringkas untuk dibawa keluar (tidak hanya di studio saja) dan dengan sensor 50 MP di permukaan yang lebih besar dari full frame membuat kualitas gambar Fuji ini masuk ke standar profesional. [Ulasan saat launching] [Review]
  • Leica M10P : kamera mirrorless Leica M10-P adalah versi lain dari M10 yang tidak diberi red dot di depan, dan juga kini shutter mekaniknya sangat lembut dan senyap dibanding seri M lainnya, dan juga merupakan M pertama yang mendukung layar sentuh. [Ulasan]


Ingin memesan kamera/lensa dari Infofotografi atau ingin belajar fotografi dan ikut trip foto? Kabar-kabari di WA 0858 1318 3069 atau infofotografi@gmail.com

{ 6 comments }

Leica C-Lux  (rilis 2018) adalah kamera compact superzoom (24-360mm) yang dibuat untuk travel dengan ukuran sensor yang lumayan besar yaitu jenis 1 inci. Saya berkesempatan mencoba kamera ini saat tour foto ke Kamboja awal Desember 2018 yang lalu. Ukuran kamera ini sekitar 11.3 x 6.7 x 4.6 cm, dan berat 340 gram. Bukan termasuk kamera yang mungil, tapi juga tidak memberatkan.  Selama trip foto, saya menyimpan kamera ini di kantong celana kargo saya. Saat melihat momen yang oke, langsung saya pakai.

Pengalaman saya dalam mengunakan C-Lux yang menyenangkan yaitu lensa zoomnya panjang dengan kualitas gambar yang baik. Coba bayangkan, untuk mendapatkan rentang telefoto ekuivalen 200-360mm dengan kamera mirrorless/DSLR kita harus membawa lensa telefoto yang panjang dan mungkin juga berat, dengan C-Lux yang compact ini, kita bisa menangkap momen lebih cepat waktu jalan-jalan jika melihat subjek yang jauh.

Saya juga mendapati stabilizernya cukup oke, jadi memotret dengan shutter speed yang agak lambat juga masih stabil, sehingga saya juga jadi lebih pede motret di berbagai kondisi, baik terang atau gelap tanpa tripod, asalkan subjek tidak bergerak cepat.

Yuk kita lihat gambar-gambar yang dibuat dengan kamera C-Lux ini:

Leica C-Lux, ISO 125, f/5.6, 1/1000, 35mm

Leica C-Lux, ISO 125, f/6.3, 1/1000, 250mm

Kedua gambar diatas ini saya  buat saat berada dalam perahu, dengan jarak yang tidak jauh berbeda. Dengan lensa zoom yang praktis, saya bisa menangkap sudut lebar sekaligus langsung detail dengan zoom, tanpa harus ganti lensa/kamera. Saat di atas perahu, Leica C-Lux sangat berguna sekali, lensa-lensa yang rentang zoomnya pendek akan merepotkan karena posisi kita berubah-ubah dan pemandangan juga.

Foto kiri: ISO 125, f/6.4, 1/320 detik, ekuiv. 360mm, Foto kanan: ISO 125, f/5.6, 1/500, ekuiv. 70mm

Saat memotret seorang bhikkhu (monk) di Kamboja, saya perlu gerak cepat, karena bhikkhu ini siap-siap mau pergi mengajar, jadi saya ambil foto dengan latar belakang yang menunjukkan lokasi Bhikkhu (foto kiri), dan juga saya ambil close-up nya. Dengan fokal lensa 132mm (ekuiv. 360mm), meskipun bukaan maksimumnya f/6.4 tapi bagian yang tidak fokus di latar belakang akan menjadi blur/bokeh.

[click to continue…]

{ 0 comments }

Mentoring di Ragunan, Jumat 7 Desember 2018

Sesi mentoring kali ini akan mengajak anda memotret satwa di KB Ragunan. Saya (Erwin M.) akan membimbing setting kamera, lensa dan komposisi untuk mendapat foto satwa yang menarik. Cocok diikuti oleh pemula yang masih terkendala membuat foto yang tajam, fokus khususnya untuk subyek benda bergerak seperti satwa.

Kegiatan mentoring ini dijadwalkan pada :

  • Hari : Jumat 7 Desember 2018
  • Waktu : Jam 14.00-17.30 WIB

Biaya pendaftaran Rp 275.000* bisa ditransfer ke rekening Enche Tjin, untuk mendaftar silahkan hubungi Iesan di 0858-1318-3069. Guna efektifitas kegiatan ini, Jumlah peserta dibatasi maksimal 5 (lima) orang saja.

Peserta yang sudah mendaftar harap mempersiapkan alatnya (kamera, lensa), tidak perlu tripod tapi kalau ada boleh bawa lensa telefoto. Meeting point di Ragunan diumumkan kemudian. [click to continue…]

{ 0 comments }

Pilih-pilih lensa telefoto untuk DSLR

Salah satu jenis lensa favorit banyak orang adalah lensa telefoto, dan yang berjenis zoom (bukan fix). Mengapa favorit? Pertama karena lensa tele bisa dipakai mengambil detail dalam komposisi, dan ini faktor yang penting menurut saya. Kedua lensa tele bisa bikin bokeh juga, banyak orang suka bokeh kan. Ketiga bisa buat candid, buat yang enggan memotret orang dari dekat, atau bisa juga liputan atau malah foto satwa. Keempat dengan memakai lensa tele yang biasanya panjang, kita jadi kelihatan seperti fotografer pro, hehe…

Tapi saat anda sedang memilih mau beli lensa tele, mungkin akan bingung dengan beragamnya pilihan dengan variasi harga yang bedanya cukup ekstrim, dari 1 jutaan hingga 30 jutaan. Mengapa bisa demikian? Jangan lupakan kalau dalam membuat lensa itu bila ingin kualitasnya tinggi maka elemen optiknya lebih banyak dan rumit, apalagi lensa tele yang diameternya lebih besar akan makin mahal. Tapi kok ada lensa tele yang murah? Ya pasti karena kualitas optiknya sekedar acceptable (biasa) saja, dan pasti bukaan lensanya tidak besar (tidak bisa f/2.8). Selain itu harga lensa mempengaruhi hal selain optik juga seperti desain, elektronik, stabilizer dan motor fokusnya.

Jadi untuk menyederhanakan, saya bagi tiga kelompok utama lensa tele yaitu :

  • lensa tele profesional, dengan desain optik terbaik, bodi lensa tahan cuaca, inner zoom, motor fokus cepat dan senyap, biasanya ada stabilizer juga, ada yang f/2.8 dan ada yang versi f/4
  • lensa tele consumer, dengan desain optik yang sudah baik, bodi lensa juga umumnya cukup baik, lensa memanjang saat di zoom, bukaan tidak bisa f/2.8
  • lensa tele ekonomis (murah meriah), dengan desain optik cukup, bodi lensa biasanya tidak mantap, dan motor fokus biasanya berisik

Nah dari rentang fokal lensanya, ketiga kelompok diatas ini banyak kemiripan. Misal apakah anda sudah tahu kalau lensa Nikon AF 70-300mm itu berbeda dengan AF-S 70-300mm VR? Angkanya sama, tapi kualitas dan harganya jauh. Lalu banyak orang gagal paham kenapa lensa 70-200mm jauh lebih mahal daripada 70-300mm, padahal dari angka fokal lensa kan 70-300mm lebih oke. Jawabannya ya kita perlu tahu setiap lensa itu masuk ke kelas yang mana, atau mesti coba langsung baru tahu bedanya. [click to continue…]

{ 8 comments }