≡ Menu

Kupas Tuntas Sony A7, Minggu 26 Mei 2019

Kamera mirrorless full frame Sony Alpha A7 boleh jadi adalah yang paling populer diantara trio Sony Aplha A7-A7R-A7S, karena lebih generalis dengan resolusi sensor yang cukup (24 MP), harga yang masih termasuk wajar (A7 mk III kini 28 jutaan, A7 mk II sudah turun 20 jutaan) dan fitur yang juga sudah mencukupi untuk banyak kebutuhan fotografi. Apalagi generasi ketiga dari Sony A7 ini sudah meningkat dalam hal auto fokus, kecepatan hingga daya tahan baterai yang membuatnya diminati banyak fotografer hobi maupun profesi. Tapi seperti biasa, kendala umum yang dialami banyak orang adalah memahami bagaimana menggunakan kameranya dengan maksimal, seperti pengaturan setting kamera, jalan pintas tombol C1, C2 dst, menu hingga aneka tips praktis.

Untuk itu sebelum liburan, anda pemilik Sony A7 baik generasi awal, kedua maupun ketiga, perlu untuk ikut kegiatan Kupas Tuntas Sony A7 ini. Di acara ini saya akan mengupas tuntas dan memperagakan menggunakan kamera Sony A7 III, pada :

  • hari : Minggu, 26 Mei 2019
  • jam : 13.00-16.30 WIB
  • lokasi : Green Lake City Rukan Sentra Niaga N-05

Biaya untuk mengikuti acara ini adalah Rp. 350.000,- dan untuk efektivitas kegiatan, jumlah peserta dibatasi hanya 8 (delapan) orang. Untuk mendaftar silahkan hubungi Iesan di 0858-1318-3069.

{ 2 comments }

Sudah merupakan kegiatan rutin dari Canon untuk memperbaharui kamera DSLR pemulanya. Kamera dengan nama tiga digit ini memang sempat sangat populer di awal tahun 2010-an. Tapi di saat kamera mirrorless lebih populer saat ini, apakah ada keunggulan dari Canon 200D II? (di pasar Eropa dinamakan 250D, di Amerika SL3).

Selain hitam-hitam, 200D II akan punya pilihan warna yang lain seperti silver-coklat

Terus terang agak sulit menjustifikasi untuk membeli kamera DSLR pemula di saat banyaknya kamera mirrorless yang tersedia. Sebagai informasi, kamera mirrorless tidak memiliki cermin dan jendela bidik optik, sehingga ukurannya bisa lebih kecil.

Calon pembeli Canon 200D II sangat saya sarankan untuk melirik Canon M50 juga, karena spesifikasi dan harganya tidak terpaut jauh, tapi ukurannya lebih kecil, dan punya jendela bidik optik yang lebih terang dan besar.

[click to continue…]

{ 5 comments }

Fuji X-T100 adalah kamera mirrorless yang ditujukan kepada fotografer pemula, X-T100 memiliki estetika desain seperti kamera film/analog. Menyasar kaum muda, Fuji X-T100 terlihat stylish dengan berbagai pilihan warna : Champagne gold, Dark silver dan Black.

Pegangan X-T100 datar dan terlihat elegan.  tapi bisa dipasang dengan aksesoris grip tambahan yang tersedia saat membeli kamera. Dengan tambahan grip, pegangan lebih enak dan aman. Berbeda dengan jenis Fuji X-T lainnya seperti X-T2, X-T20 dst, X-T100 memiliki mode dial seperti seri kamera X-A. Boleh dibilang desain kamera X-T100 adalah gabungan dari seri X-T dan X-A.

Yang menarik dari X-T100 adalah layar LCD nya yang bukan hanya bisa dilipat ke atas dan ke bawah, tapi juga bisa dilipat ke samping untuk selfie. Mekanismenya agak berbeda dengan articulating screen, artinya saat memotret low angle, layar kamera tidak perlu di putar ke samping. Menurut saya ini mekanisme yang ideal dan saya berharap kedepannya lebih banyak kamera yang mekanismenya seperti ini.

[click to continue…]

{ 2 comments }

Youtube : Bedanya Fuji X-T100 dengan Fuji X-T20

Video youtube kali ini berisi ulasan tentang kamera mirrorless Fuji X-T100 dibanding dengan X-T20. Di video ini saya berbincang-bincang dengan Enche Tjin soal apa plus minus kedua kamera ini. Fuji XT100 sebagai kamera terbawah di lini X-T memiliki bentuk fisik yang hampir sama dengan XT20 yaitu sama-sama berkesan retro klasik yang keren. Selain bentuk yang mirip, spesifikasi keduanya juga banyak kemiripan seperti memakai sensor APS-C 24 MP, punya jendela bidik dan built-in flash.

 Fuji X-T100 sebagai lini terbawah dari seri X-T kini memakai roda mode PASM yang lebih umum ditemui di banyak kamera, supaya lebih mudah dipahami oleh pemula atau yang baru pindah dari DSLR. Desain mode dial ini tentu berbeda dengan X-T20 yang pakai roda shutter speed tersendiri yang sebetulnya disukai fotografer berpengalaman namun terasa membingungkan bagi yang belum biasa. Fuji X-T100 juga pakai sensor Bayer yang lebih umum, dan dia lebih menarik dalam hal layar LCD-nya yang bisa dilipat ke depan untuk selfie atau vlogging, dan dibekali fitur baru seperti 4K photo burst. Fuji X-T100 juga secara mengejutkan punya daya tahan baterai yang baik, dengan 430 kali jepret sekali charge, lebih oke daripada X-T20 yang sekitar 350 kali jepret saja.

Di lain pihak XT20 adalah kamera populer yang disebut-sebut sebagai mini X-T2, dengan kinerja, sensor dan kualitas foto yang sama baiknya. Fuji X-T20 ini memang memakai X-Trans sensor kebanggan Fuji yang lebih handal dari noise, tapi agak sulit untuk diedit. Bicara soal kinerja dan kecepatan, memang harus diakui XT20 lebih unggul seperti dalam hal start-up time, fokus kontinu dan burst serta buffernya. Apalagi saat rekam video, X-T100 di mode 4K video hanya bisa 15 fps saja, sedangkan X-T20 fitur 4K nya normal bisa 30fps (bila rekam full HD, kedua kamera bisa sampai 60 fps). Satu hal tambahan, kedua kamera ini (X-T100 dan X-T20) punya kekurangan yang sama yaitu bodinya tidak dirancang tahan cuaca (weathersealed). [click to continue…]

{ 4 comments }

Halo semuanya, sepertinya cukup lama saya tidak menulis disini, mohon dimaklumi karena selain faktor malas, juga banyak faktor lain seperti banyak kerjaan, sibuk cari project dan banyak alasan yang jika dikumpulkan bisa jadi faktor ngeles yang mantap, hahaha…

Kali ini saya akan coba sharing sebuah pemotretan yang saya lakukan outdoor dan yang membuat foto ini jadi menantang adalah, waktu yang tersedia hanya dari jam 11 siang hingga jam 2 siang. Ini adalah “waktu terburuk” jika kita akan melakukan pemotretan jika hanya dengan mengandalkan available light dari cahaya matahari saja.

Lokasi yang dipilih adalah disebuah lapangan olahraga, tennis dan futsal yang disekelilingnya terdapat banyak pepohonan yang teduh sehingga banyak area yang teduh dibawah bayangan pohon, namun dibagian bayangan pohon ini juga besar terjadi adanya “cahaya bocor” matahari yang cukup keras dari sela sela dedaunan yang bisa mengakibatkan “bopeng” cahaya yang sangat mengganggu, terutama jika jatuhnya di bagian wajah model.

Untuk mengatasi hal ini, salah satu cara yang paling efektif adalah dengan acara menggunakan artificial light – dalam hal ini saya akan gunakan lighting strobist dengan teknik cross light.

Teknik ini merupakan salah satu teknik dasar Strobist dan juga sangat simple, cukup dengan dua flash saja dan dengan penempatan posisi yang tepat, akan menghasilkan pencahayaan yang sangat bagus. Untuk lebih jelasnya mari kita lihat Lighting Diagram yang saya gunakan seperti dibawah ini :

Semua flash yang saya gunakan adalah naked, dalam artian tanpa menggunakan softbox, payung atau aksesoris lainnya. Saya mencoba memaksimalkan pengaturan cahaya dengan cara mengatur di masing-masing flashnya.

Untuk lebih detailnya mari kita bahas detail satu persatu, kita mulai dari Flash :

Flash 1, posisi kiri depan dari model. Flash ini bertujuan sebagai main lighting, yang juga berfungsi untuk menetralisir cahaya matahari yang “bocor” dari sela sela dedaunan. Zoom Flashnya saya set agak lebar sekitar 35mm, agar bukaan arah cahayanya  lebih lebar dan besar, mulai dari area wajah hingga badan. Power nya 1/8 dengan jarak antara Flash ke Model sekitar 3 meter.  Dengan posisi ini saya harapkan cahaya dapat sampai dengan merata kebagian wajah dan tubuh model, dengan tidak terlalu keras, namun dapat menutupi cahaya matahari yang jatuh dari sela dedaunan.

Flash 2, posisi kanan belakang dari model. Flash ini bertujuan sebagai rim light. Rim light ini berfungsi untuk membuat foto menjadi lebih berdimensi dan lebih menarik. Arah cahaya langsung ditujukan pada bagian kanan belakang model, Powernya sama 1/8 namun jarak Flash ke Model lebih dekat, hanya sekitar 1 meter dengan zoom 85 mm. Perlu diperhatikan sekali agar jangan sampai cahaya Flash ini bocor ke lensa, arahnya harus lebih menyamping dan pastikan lensa memakai hood / tudung lensa.

Kamera, untuk pemotratan ini saya menggunakan Nikon D7000 dengan lensa AF-S 17-55 F/2,8. ISO 100, Focal Length 38 mm dengan diafragma F/5,0 dan Speed 1/160 sec.

Hasil tampilan di Lightroom adalah sebagai berikut :

Hasil ini adalah setelah saya gunakan preset di Lightroom, untuk melihat hasil aslinya bisa dilihat pada foto dibawah ini, dengan pilihan foto portrait – untuk lebih memudahkan melihat hasil “before – after” di Lightroom.

Dari foto diatas dapat dilihat hasil dari Cross Lighting ini dimana bagian wajah dan tubuh model terlihat pop-up dan detail tanpa ada “bocoran” cahaya matahari,  bagian “bocor” cahaya matahari ini dapat dilihat pada lantai di background. Dan detail pada rambut baik bagian depan dan belakang samping juga terlihat bagus dengan rim light pada kanan model.

Setelah melewati proses post-processing di Photoshop, dapat kita lihat dua pilihan foto dari sesi ini seperti berikut :

{ 4 comments }

Review Kamera Leica D-Lux 7 di kondisi low light

Leica D-Lux 7 sudah saya coba di India dan sudah saya review di youtube membahas tentang plus dan minusnya, tapi tentunya belum afdol jika belum coba di kondisi yang sulit yaitu kondisi kurang cahaya alias low light.

ISO 2500, f/2.8, 1/30, 24mm

ISO 320, f/1.7, 1/15 detik, 24mm

Yang menyenangkan dari Leica D-Lux 7 adalah di kondisi gelap kita bisa mengunakan bukaan yang sangat besar (f/1.7) dan shutter agak lambat (1/15 detik) sehingga dalam kondisi yang sudah gelap, bisa mengunakan ISO yang relatif rendah (320) sehingga gambar tidak penuh dengan noise (bintik-bintik) di foto akibat ISO tinggi.

ISO 250,f/2.7, 1/15 detik, 50mm

ISO 200, f/2.8, 1/800, 70mm

Foto detail seperti diatas bukan kendala, dengan bukaan dan sensor yang cukup besar membuat kesan dimensi.

ISO 320, f/2.2, 1/60 detik, 24mm

ISO 200, f/2, 1/125 detik, 28mm

Memotret dengan lensa lebar dan dari jarak dekat membuat kita turut merasakan bagaimana suasana saat kita berada disana.

ISO 3200, f/2.8, 1/80 detik, 75mm

ISO 3200, f/2, 1/80 detik, 28mm

Untuk foto malam dengan kecepatan tinggi, bisa dibilang Leica D-Lux tidak ideal, seperti diatas ini, saat saya pakai ISO 3200, shutter speednya hanya dapat 1/80 detik, kalau shutternya saya percepat lagi ke 1/125 atau lebih, ISO 6400 ketinggian dan terlalu banyak noise.

ISO 800, f/2.8, 1/100 detik, 75mm

ISO 1600, f/2.3, 1/80 detik, 50mm

Dari semua foto malam itu, saya paling senang dengan foto diatas karena menangkap momen dan bercerita tentang kegembiraan keluarga kecil dengan background suasana pasar malam yang ramai.

Pengalaman saya dengan Leica D-Lux 7 untuk keadaan gelap di malam hari sangat baik, kinerja kamera dalam hal autofokus dan memotret berturut-turut cepat, tidak ada masalah, apalagi sudah ada touchscreen untuk menentukan area fokus. Warna juga alami sesuai apa yang saya lihat. Kelebihan utama D-Lux 7 dibanding compact yang lain saya rasakan adalah zoom lensa (24-75mm) yang cukup praktis, sehingga saya bisa bereksplorasi secara visual, bisa untuk lebar, dan bisa zoom untuk detail.


Bagi teman-teman yang ingin mendapatkan kamera ini, silahkan hubungi Iesan di 0858 1318 3069. Kami akan bantu memberikan harga terbaik dan jika sempat datang bisa kami pandu untuk setting-setting dasarnya.

Bagi teman-teman yang ingin mengikuti acara workshop belajar fotografi atau hunting kami, bisa periksa halaman kursus, workshop dan tour fotografi.

Behind the scene review Leica D-Lux 7 ini bisa ditonton di Youtube dibawah ini:

Iesan (@iesanliang), Youtuber dibelakang layar 🙂
ISO 400, f/2.8, 1/15, 75mm

Artikel terkait:

{ 2 comments }

Saya mulai menulis Infofotografi sepuluh tahun yang lalu, sendirian di kamar asrama Bucknell University, PA, Amerika Serikat. Tidak terpikirkan oleh saya bahwa saat ini blog Infofotografi merupakan hal yang penting dan mengubah hidup saya sebagai penulis, pengajar dan fotografer.

Sepuluh tahun terakhir ini kita menyaksikan perubahan signifikan dalam media sosial, misalnya kalau dulu hanya facebook yang dominan, kini ada instagram dan youtube. Maka itu kami selalu mencoba untuk menjangkau pemirsa lewat media baru. Beberapa tahun lalu, kita mulai aktif di instagram @infofotografi_official dan mulai tahun ini, kita akan coba untuk merambah ke Youtube.

Sebenarnya, Infofotografi sudah pernah membuat video sejak tahun 2014, tapi memang tidak ada perencanaan untuk membuat video secara konsisten, sejak itu rata-rata kita menerbitkan sekitar 4 video per tahun. Tapi dari sekarang ke depannya kami akan lebih sering membuatnya.

Seperti blog Infofotografi, channel Infofotografi akan membuat video berisi informasi seputar fotografi digital, terutama tentang gear (kamera, lensa, aksesoris) dan juga tip & trik fotografi. Pembuatan video lebih menyita waktu dan tenaga karena ada beberapa proses yang perlu dilalui, misalnya perencanaan topik, syuting, dan editing. Jadi target saya tidak muluk-muluk meskipun tidak santai juga yaitu 1 video per minggu. Untungnya saya tidak sendiri dalam membuat video, saat ini ada Iesan, Yessy dan Erwin M.

Jika teman-teman ingin membantu kami supaya bisa lebih cepat, lebih bagus dalam berbagi informasi dan ilmu, cukup subscribeaktifkan notifikasi (gambar lonceng) dan meninggalkan komentar. Trims untuk selalu setia mengikuti Infofotografi diberbagai jaringan sosial media.

{ 8 comments }

Halo, teman-teman Infofotografi. Minggu, tanggal 19 Mei 2019, kita akan berlatih komposisi fotografi di area Glodok, dimana kita akan mengunjungi beberapa tempat menarik seperti warung kopi jadul, kelenteng dan gereja tua, pasar tradisional Glodok dan gang-gang penuh toko-toko bersejarah.

*Karena banyaknya permintaan, dibuka kelompok ke dua, pada hari Sabtu, tanggal 18 Mei 2019

Acara akan dilangsungkan pukul 06.30 sampai 10.45 WIB, dimana peserta akan diberikan tugas untuk memotret lima jenis komposisi, dilanjutkan dengan bahas foto dan evaluasi di Kafe sambil sarapan dan minum teh.

Workshop ini sangat cocok bagi pemula yang ingin meningkatkan kualitas foto terutama pada aspek artistik. Terbuka untuk penguna kamera apa saja, dari kamera compact, mirrorless, atau DSLR.

Setelah memotret bersama kita akan berkumpul untuk sharing dan bahas foto bersama.

Workshop ini dibatasi 8 orang saja, dengan mentor Enche Tjin

dengan biaya Rp 400.000,- * per orang.

Bagi yang berminat, silahkan layangkan pesan ke Iesan, 0858 1318 3069, atau e-mail: infofotografi@gmail.com

*Biaya sudah termasuk sarapan pagi.

{ 0 comments }

Belum lama ini sudah dipost ke Youtube infofotografi sebuah video pendek berisi bincang-bincang dengan mas Erwin mengenai alasan untuk memilih sistem Canon, dan dijawab kalau alasan yang ada bisa jadi subyektif maupun obyektif. Berikut rangkumannya :

Alasan 1 (Subyektif)

Karena ergonomi, tata letak tombol, roda dan grip yang lebih enak dirasakan saat menggenggam kamera DSLR Canon.

Alasan 2 (obyektif)

Dual Pixel AF, yang kebetulan ditemui pertama kali di 70D. Fitur ini membuat perubahan besar kala itu, dengan menjadikan kamera DSLR saat mode live view menjadi cepat dan akurat saat mencari fokus (baik foto maupun video). Dipadukan dengan lensa STM membuat Dual Pixel AF ini makin mantap dan tidak bersuara.

Alasan 3 (obyektif)

Banyak pilihan lensa, baik dari Canon maupun pihak ketiga. Canon sendiri menyediakan berbagai lensa ekonomis yang punya value tinggi seperti lensa EF-S dengan motor STM. Misal lensa EF-S 10-18mm, EF-S 24mm dan EF 50mm f/1.8.

Alasan 4 (subyektif)

Suka dengan warna Canon, sehingga dalam banyak keadaan cukup mengandalkan pakai JPG sudah ‘enak’ warnanya. Fitur Auto WB juga bisa diandalkan untuk mendapatkan warna yang akurat khususnya dalam mereproduksi skintone.

Alasan 5 (obyektif)

Fitur flash yang lengkap, terintergasi melalui menu kamera, sehingga memudahkan saat mengganti setting flash tanpa harus menyentuh tombol di flash eksternal. Lagipula kompatibilas Canon dengan flash pihak ketiga seperti Godox juga termasuk baik, bahkan dicoba di EOS mirrorless juga bisa.

Disini tampak layar LCD Canon 70D menampilkan semua setting yang bisa dilakukan di trigger Godox. Padahal 70D termasuk kamera lama, sedangkan trigger Godox ini termasuk baru.

Baiklah, berikut adalah videonya, selamat menyaksikan…

 

{ 4 comments }

Beberapa tahun belakangan ini, mulai banyak kamera yang mampu menghasilkan resolusi foto yang lebih dari spesifikasi sensornya. Misalnya, sensor Panasonic G9 yang hanya 20MP, bisa menjadi 80MP saat mengaktifkan High resolution mode. Berikut juga berbagai kamera yang lain, contohnya Olympus OMD EM1 mkII, Hasselblad HD6D-400c dan kamera yang terbaru Panasonic S1 & S1R.

Slide presentasi dari acara launching Panasonic S1 & S1R

Semua kamera yang saya sebut diatas memiliki satu persamaan, yaitu memiliki sensor shift stabilization di badan kamera, sehingga bisa menggeser sensor. Cara kerja mode ini yaitu menggeser sensor sedikit, sambil mengambil gambar. Ada kamera yang menggeser dan mengambil 4 gambar misalnya kamera Pentax K1 dan  Sony A7R III. Untuk yang 4 gambar, kualitas gambar (warna, detail meningkat) tapi resolusi atau jumlah pixel sama. Ada kamera yang mengambil 8 gambar, lalu digabungkan (stitch) menjadi satu gambar utuh, seperti Panasonic G9, S1, S1R, hasil gambarnya tidak hanya meningkat kualitasnya tapi juga resolusi-nya meningkat.

[click to continue…]

{ 6 comments }