≡ Menu

Setelah sukses mengadakan trip foto ke India akhir 2017 ini, saya ingin mengajak teman-teman alumni dan pembaca Infofotografi untuk bergabung bersama saya untuk ke India kembali April 2018. Kali ini, kita akan berkunjung ke daerah Punjab yang berada di sebelah utara India.  Disini, kita akan melihat festival panen dimana orang-orang akan berpakaian tradisional dan mengunjungi Golden Temple, kuil paling terkenal dan indah se-India.

Selain itu, kita akan juga mengunjungi kota Dharamsala, sebuah kota pengasingan Dalai Lama dari Tibet, dan memiliki pemandangan pegunungan Himalaya di latar belakangnya. Trip foto ini cocok bagi yang menggemari fotografi human interest, street, budaya, portrait, dan arsitektur.

[click to continue…]

{ 0 comments }

Canon EOS M100 adalah kamera mirrorless compact yang ditujukan untuk penggemar fotografi pemula. M100 adalah penerus dari Canon EOS M10 dan peningkatannya telah di bahas di artikel Canon M100.

Sekilas dari fisiknya, Desain M100 tidak berbeda dengan M10, tapi ada beberapa peningkatan yang penting yaitu kualitas gambar yang telah ditingkatkan dari sensor 18MP ke 24MP. Kualitas processor juga sudah lebih cepat, yaitu dari DIGIC 6 ke DIGIC 7. Akibatnya, kualitas gambar yang dihasilkan kamera ini akan sama dengan kamera mirrorless dan DSLR Canon yang lebih tinggi harganya seperti Canon EOS M5 atau M6.

Peningkatan lain yang berarti adalah sistem autofokusnya telah mengunakan sistem dual pixel, sehingga kinerja autofokus sudah cepat, dan bisa mengikuti subjek yang bergerak dengan cukup baik untuk foto dan video. Sistem ini juga digunakan di Canon M5 dan M6. Bagi pengguna Canon EOS M1, 2, 3 dan M10 akan merasakan peningkatan kecepatan yang cukup signifikan.

Memotret dengan Canon M100 ini sangat sederhana bagi yang telah berpengalaman atau tidak sama sekali, karena sebagian besar kendali kamera melalui layar LCD sentuh. Bagi yang belum pernah belajar fotografi, mode otomatis akan sangat membantu. Bagi yang berpengalaman, tersedia mode manual, aperture priority, shutter priority dan program. Untuk fokus, pengguna bisa menyentuh layar di area yang ingin difokuskan. Layar LCD sentuh juga bisa dilipat ke atas untuk foto dari sudut rendah (low angle), tapi LCD ini tidak bisa ditekuk mengarah ke bawah untuk memotret dari sudut tinggi (high angle).

[click to continue…]

{ 0 comments }

Buklet PDF Panduan Setting kamera Fuji X-T20

Anda pengguna kamera mirrorless Fuji X-T20? Apakah pengaturan dan kustomisasi kamera ini terasa agak sedikit membingungkan? Untuk membantu anda memahami bagaimana seluk beluk kamera Fuji X-T20, kami sudah menuliskan dalam bentuk buklet PDF 40 halaman “Panduan Setting dan Kustomisasi kamera Fuji X-T20” yang bisa anda miliki hanya dengan biaya Rp. 50.000 saja. Buklet ini dibuat dengan bahasa yang mudah dimengerti, ilustrasi yang lengkap dan berdasarkan pengalaman kami dalam memakai kamera Fuji X-T20 di lapangan.

Di buklet ini anda akan mendapatkan penjelasan mengenai :

  • pengaturan eksposur: roda untuk mode PASM, flash, tombol AE-L
  • pengaturan gambar: RAW, JPG, film simulation, dynamic range, White Balance
  • pengaturan fokus: AF, MF, AF kontinu, peaking, tombol AF-L
  • rekomendasi setting: umum, pemandangan, olahraga, video
  • kustomisasi tombol Fn1-Fn5, Custom 1-7, Quick menu, My menu

Buklet ini seperti biasa juga disertai aneka tips praktis supaya anda bisa memaksimalkan penggunaan kamera Fuji X-T20.

Untuk memesan buklet ini silahkan kontak ke 0858-1318-3069 atau email ke infofotogafi@gmail.com dan transfer ke rekening Enche Tjin BCA 4081218557 atau Mandiri 1680000667780.

{ 5 comments }

Leica Noctilux 75mm f/1.25 Hands-on Review

Dua bulan sebelum lensa Leica 75mm f/1.25 Noctilux diumumkan, saya dan beberapa teman pengguna Leica SL dan Leica M (Tommy Siahaan, Ruben, Robert Lie, Jusuf K.), diberikan kesempatan untuk mencoba lensa berbukaan sangat besar ini. Seperti biasa, saya memasang lensa ini ke Leica SL saya via adaptor. Bukaan lensa ini sangat besar, paling besar diantara lensa Leica yang berjarak fokus 75mm. Lensa ini juga merupakan lensa manual fokus (tidak bisa autofokus).

Karena bukaannya yang besar, Noctilux 75mm f/1.25 ini fisiknya sedikit lebih besar dari 50mm f/0.95 yaitu 9.1 x 7.4 cm, dengan berat 1.055kg. Lensa ini memiliki desain 9 elemen dalam 6 grup. Lensa ini bisa fokus cukup dekat dalam ukuran lensa telefoto, yaitu 85 cm.

Karena jendela bidik yang besar dan beresolusi tinggi (4.4 juta titik), tidak sulit bagi saya untuk manual fokus, sebagian besar foto fokus, sebagian kecil tidak fokus terutama saat modelnya bergerak cepat.

Yang mengagetkan bagi saya dan beberapa teman adalah peningkatan ketajaman lensa ini dibandingkan dengan lensa legendaris Leica 50mm f/0.95 Noctilux. Saya mencoba fokus ke bagian tengah, sampai sisi-sisi foto, bagian fokus masih terlihat sangat tajam. Sepertinya memang lensa ini dirancang siap untuk kamera digital full frame dengan resolusi yang lebih tinggi dari 24MP.

Lalu kita bergantian mencoba lensa ini dengan dibantu model cantik Violetta Koloskova supaya tidak sulit membuat foto yang menarik tentunya.. he he he.

[click to continue…]

{ 2 comments }

Sudah merupakan tradisi Infofotografi mengumumkan kamera terbaik kamera digital mirrorless dan DSLR yang bisa ganti lensa. Di tahun ini kita mendapatkan banyak pilihan kamera mirrorless yang canggih untuk kebutuhan profesional, dan untuk amatir (hobi) dan pemula juga semakin praktis dan nyaman digunakan. Dapat dibilang tidak ada kamera baru yang jelek di tahun 2017 ini, tantangannya adalah memilih kamera yang sesuai dengan kebutuhan dan budget masing-masing 🙂

Kamera Mirrorless terbaik

Kelas Profesional: Sony A7R III

Setelah dua tahun Sony meluncurkan A7RII, Sony kembali menyempurnakan seri A7R di tahun 2017. Kami memilih kamera bersensor full frame 42MP ini karena kinerjanya yang cepat baik untuk autofokus dan foto berturut-turut. Kapasitas baterai juga ditingkatkan 2.2 kali dibanding kamera A7 generasi  ke-2. Meski mengunakan sensor 42.5MP yang sama dengan generasi sebelumnya, Sony mengklaim telah meningkatkan dynamic range foto menjadi 15 stop berkat pembaharuan processor dan modifikasi desain sensor. A7R III juga sangat fleksibel untuk berbagai ragam fotografi, dari produk, portrait, sampai sports dan wildlife. Harga Sony A7RIII Rp 46 juta. [Pembahasan Sony A7R III]

Kamera mirrorless Amatir / Semi-pro : Fuji X-T20

Bagi yang hobi foto dan menyukai kamera yang lumayan ringkas dengan fitur yang cukup lengkap untuk berbagai jenis fotografi, X-T20 bisa jadi andalan. Kamera ini bersensor APS-C 24MP X-Trans, dengan teknologi hybrid autofocus yang cukup baik untuk memotret subjek bergerak. Kualitas gambar di kondisi gelap juga cukup baik, punya jendela bidik dan layar LCD yang bisa ditekuk untuk memudahkan saat memotret low angle. Harga: Rp 13 juta.

[click to continue…]

{ 10 comments }

Review Leica CL : Kesan pertama

Seminggu belakangan ini saya dan Leica Ambassador Indonesia lainnya diberikan kesempatan untuk mencoba kamera digital Leica terbaru yaitu Leica CL [spesifikasi kamera]. Saya diberikan kesempatan untuk mencoba kamera ini dari tanggal 4 sampai 6 Desember 2017. Dalam rentang waktu yang singkat ini, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mencoba kamera ringkas yang dapat bertukar lensa.

Saat memegang pertama kali saya mendapatkan kamera ini jauh lebih compact daripada kamera utama saya Leica SL, ukurannya sedikit lebih panjang dari Leica D-Lux 019. Desainnya enak dilihat dan photographic centric, artinya ada tombol-tombol jalan pintas, tombol empat arah dan roda dial untuk memudahkan fotografer mengganti setting dengan cepat. Berbeda dengan Leica TL2, CL sudah dilengkapi dengan built-in viewfinder yang sedikit menonjol di sebelah kiri atas kamera, viewfinder ini ideal dalam ukurannya, dengan perbesaran .74x cukup luas bagi saya yang menggunakan kacamata. Jika lebih luas lagi, saya harus menggeser bola mata saya untuk melihat keseluruhan gambar. Saya mendapati diri saya lebih sering memotret dengan viewfinder, terutama di kondisi cahaya yang terlalu terang.

Saya mencoba kamera ini dengan dua lensa, Leica TL 18-55mm f/3.5-5.6 dan Leica TL 35mm f/1.4. Lensa 18-56mm ini bukan sekedar kit lens, Kualitas lensa dari mekanik dan fisiknya jauh lebih baik daripada lensa pada umumnya. “Zoomnya buttery smooth ya?” ujar teman saya Paul Yahya yang sempat mencoba lensa ini.

Kualitas gambar yang dihasilkan kombinasi kamera dan lensa ini tajam dan penuh detail, cocok untuk digunakan sehari-hari. Tapi untuk membuat latar belakang blur, lensa 35mm f/1.4 lebih ideal. Lensa buatan Jerman ini adalah salah satu favorit saya karena bisa digunakan di f/1.4, dimana hasilnya sangat tajam dengan rendering dimensi dan latar belakang blur yang mulus.

Saya juga mencoba beberapa film style, preset yang tersedia di dalam kamera yaitu Natural dan B&W. Saya cukup terkesan dengan hasil foto langsung dari kameranya. Film Style Natural sifatnya netral, warnanya tidak terlalu ngejreng, sedangkan yang B&W tidak terlalu kontras, tapi lengkap dan mulus gradasi abu-abunya.

Kemampuan kamera dalam menangkap detail dan dynamic range, melebihi kamera dengan sensor APS-C dan hampir setara dengan kamera bersensor full frame seperti Leica Q, Sony A7, Canon 6D dan lain-lain, tapi sedikit lebih banyak noise saat mengunakan ISO tinggi. Saya pribadi bisa menerima noise di ISO 3200 untuk foto warna, dan ISO 6400 untuk foto hitam putih. Untungnya, tekstur noise dari Leica CL ini, enak dilihat seperti grain film, dan detail dan ketajaman masih sangat baik, tidak seperti kamera bersensor APS-C yang lain.

Leica CL, 35mm f/1.4, di f/1.4, 1/250 detik, ISO 100, BW high contrast style.

Kelebihan Leica CL

  • Kualitas desain, material dan hasil gambar terbaik di kelas kamera APS-C, bahkan melebihi sebagian kamera full frame terbitan 4 tahun yang lalu.
  • Desain kamera ringkas dan photographic centric.
  • Fleksibilitas untuk mengunakan berbagai lensa, diantaranya lensa Leica TL, SL, atau M dengan adapter, kualitas tidak menurun saat mengunakan lensa-lensa M-mount, hanya sudut pandangnya menjadi kurang lebar karena crop factor 1.5x

Ada beberapa hal yang tentunya kelemahan kamera ini, tapi rasa bukan hanya diderita oleh Leica CL, tapi juga kamera mirrorless pada umumnya, misalnya baterainya (sama dengan Leica Q), terasa cukup cepat habis (215 foto per full charge), maka itu perlu minimal 3 baterai jika ingin hunting foto seharian. Selain itu, kamera terasa panas jika dinyalakan terus menerus dalam jangka waktu lama.

Leica CL, 35mm, f/1.4,  1/400 detik, ISO 100

[click to continue…]

{ 0 comments }

Bulan lalu, saya diwawancarai oleh Majalah Elshinta, majalah online bebas biaya yang fokus kewirausahaan (entreprenurship). Bulan Desember ini topik utamanya adalah tentang bagaimana menjalankan berbagai bisnis fotografi dari portrait, wedding, studio dan kursus fotografi.

Dalam edisi ini, selain saya, ada beberapa fotografer juga diwawancarai, diantaranya Diera Bachrir, Ansori (ANS Production), dan Indra dari Ruang Imaji Studio. Di dalam majalah ini juga memiliki berbagai tips untuk memulai dan bersaing dalam bisnis fotografi.

Terima kasih kepada Widodo dan Reza yang telah meluangkan waktu untuk mampir ke Infofotografi.

Download majalah online di halaman ini. Edisi Desember 2017.

{ 3 comments }

Bahas kamera prosumer dengan lensa built-in / fix

Lima tahun yang lalu (2012) saya pernah menulis artikel tentang plus-minus kamera prosumer. Intinya, saya kurang menyukai kamera jenis ini karena banyak kelemahannya. Tapi jaman telah berubah dan kamera prosumer saat ini berkembang ke arah yang lebih baik.

Apa itu kamera Prosumer?

Mengagumkan bahwa Sony dapat membuat kamera compact Sony RX100 III yang ukurannya mungil tapi bisa punya flash dan jendela bidik terpasang.

Kamera prosumer pada dasarnya adalah kamera yang lebih canggih daripada kamera pemula/pocket biasa, tapi tidak bisa ganti lensa. Kadang kamera semacam ini disebut kamera bridge, atau superzoom kalau punya lensa zoom yang rentangnya besar, misalnya 20-30 kali.

Saat ini, kamera prosumer makin banyak yang bagus, hal ini karena sensor gambar yang dipasang di kamera ini makin lama makin besar. Contohnya seri Sony RX100 yang kini sudah ada sampai versi V. Sensor kamera compact ini mengunakan jenis 1 inci, sehingga di kondisi gelap lebih baik daripada kamera compact biasa atau kamera ponsel.

[click to continue…]

{ 10 comments }

Berkreasi dengan flash eksternal untuk foto still life

Musim hujan begini bisa jadi hobi fotografi kita agak sedikit terganggu, misal jadi malas keluar rumah atau takut kameranya basah kehujanan. Padahal aktivitas memotret tetap bisa kita lakukan di dalam rumah, misal memotret still life. Banyak ide untuk ini, bisa dari makanan minuman kita, perabot piring hingga sendok garpu atau yang sejenisnya. Jangan terbebani untuk langsung dapat foto yang bagus, yang penting berusaha dulu mencari konsep fotonya, lalu nikmati proses memotretnya.

Satu hal penting dalam fotografi still life adalah pencahayaan. Memang kita bisa memakai cahaya matahari yang berlimpah, misal dengan mendekatkan benda yg akan difoto ke jendela saat siang. Tapi di musim hujan ini belum tentu kita bisa dapat cahaya mahatahari, maka itu para fotografer akan mengandalkan ‘matahari dalam genggaman’ alias lampu kilat eksternal. Dengan ini kita bisa menerangi subyek foto kapanpun, bahkan bisa diatur kekuatannya, arahnya hingga keras lembutnya cahaya. Perhatikan meski di kamera ada lampu kilat built-in, tapi hasilnya tidak akan maksimal, jadi tetap disarankan pakai flash eksternal. [click to continue…]

{ 2 comments }

Dua peserta kursus online telah lulus

Di akhir tahun 2017 ini Kursus Online Infofotografi kembali meluluskan dua peserta didiknya, yang telah menyelesaikan pelajaran fotografi dasar secara mandiri untuk 10 (sepuluh) modul dalam batas waktu 6 bulan. Memang bukan hal mudah untuk bisa lulus dari kursus ini karena diperlukan disiplin dan kemauan belajar secara mandiri dengan penugasan yang berbeda-beda sesuai topik di modul, juga harus mau mengulang untuk merevisi fotonya apabila dianggap belum sesuai harapan. Untuk itu kami mengapresiasi kepada saudara Liwatul Haq dan Hendra Nugroho yang sudah konsisten dalam belajar dan berkarya hingga semua pelajaran di modul online ini tuntas. [click to continue…]

{ 7 comments }