≡ Menu

Aneka Warna luncurkan lensa baru Pentax dan tripod Manfrotto

Aneka warna yang berkerjasama dengan Ricoh, Pentax, Manfrotto, Peak Design, National Geographic, Epson, X-Rite, membuka pagelaran acara dan gallery terbuka yang diresmikan dari tanggal 5 Oktober 2018 dan dibuka hingga 7 Oktober 2018, di Main Atrium- Lotte Shopping Avenue, Jl. Prof. Dr. Satrio, Karet Kuningan, Jakarta.

Sharing Session bersama, (Dari paling kiri)- Alexander Winata (Founder @godiva_picture)- Abdul Aziz S.Sn. M. Med.Kom (Dosen DKV Universitas Bina Nusantara)- Jozz Felix (Ricoh Pentax Ambassador Indonesia)- Cherly Jong ( Professional Photographer).

Acara dimeriahkan dengan photo exhibition, dengan foto terbaik Pentaxian Indonesia selama 99 tahun perjalanan usianya. Touch and try photography gear dari brand favorit. Print Station melalui mesin Epson dan Kodak, Photography Gear Bazaar. Sharing session bersama Jozz Felix, Alexander Winata, Abdul Aziz S.Sn. M. Med.Kom, Cherly Jong serta yang dinantikan Launching HD Pentax DFA 50mm F1.4 SDM AW bersama Mr. Genichiro Takaoka- Regional Sales Department Ricoh Imaging Company, ltd, dan Launching Manfrotto Befree Advanced bersama Mr. Jerry Chan – Regional Senior Category Manager Vitec Group (Manfrotto- National Geographic).

[click to continue…]

{ 0 comments }

Review kamera mirrorless Canon EOS R

Kami di infofotografi berkesempatan mencoba kamera mirrorless pertama dari Canon yang bersensor full frame yaitu Canon EOS R, dengan lensa RF 24-105mm dan sebuah adapter untuk memasang lensa DSLR bila perlu. Kamera yang belum lama diluncurkan di Indonesia ini langsung berkeliling untuk diuji oleh berbagai fotografer termasuk kami, dan kali ini saya tuliskan review singkatnya untuk anda.

EOS R boleh jadi adalah kamera untuk semua. Sebagai kamera mirrorless, EOS R menarik bagi generasi muda yang suka teknologi canggih. Dengan sensor full frame, EOS R bisa jadi alat kerja bagi profesional. Bodi yang weathersealed, membuat penyuka foto outdoor bisa tenang memotret dengan kamera ini. Dilengkapi video 4K, moviemaker dan sineas muda bisa menjadikan EOS R kamera video yang bisa diandalkan. Memang sebagai pendatang baru, urusan ekosistem lensa yang native (RF lens) masih sangat terbatas, maka itu penggunaan adapter (sementara waktu) akan menjadi solusi bisa ingin mencoba berbagai lensa Canon EF/EF-S.

Ya, adapter dari Canon ini bisa dipasang lensa EF-S juga, sesuatu yang dulu tidak bisa dilakukan di DSLR full frame. Selain itu, adapater Canon ini ada tiga versi, yang basic, yang ada ring pengatur setting, dan yang ada slot filter. Ketahanan baterai yang kerap jadi issue di kamera mirrorless disikapi Canon dengan menyediakan battery grip yang bisa menampung dua baterai LP-E6N. Kamera ini sendiri selain menyediakan charger dalam paket penjuannya, juga bisa dicas langsung ke bodi melalui port USB-C yang modern (dengan adaptor khusus yang terhubung ke jala listrik).

Desain dan ergonomi

Dua hal ini selalu jadi hal yang paling saya perhatikan setelah mengamati kamera dari spesifikasinya. Mengapa? Karena spesifikasi cenderung hampir sama antar kamera di rentang harga yang sama, tapi desain dan ergonomi bisa jadi akan berbeda. Dua faktor ini, ditambah dengan tata letak tombol dan antarmuka yang mudah akan membuat kita memotret lebih enjoy, dan secara tidak langsung bisa berdampak ke hasil foto juga. EOS R sebagai kamera mirrorless memang lebih kecil dari DSLR misal 5D mk IV, tapi harus diakui kamera ini tidak kecil.

[click to continue…]

{ 3 comments }

Apakah ukuran mount lensa penting?

Setelah Canon, Nikon dan Panasonic ikut bergabung bersama Sony untuk membuat kamera mirrorless full frame, mulai ada perbincangan tentang  pentingnya ukuran mount lensa. Eksekutif dan insinyur Canon, Nikon dan Leica menekankan bahwa kamera full frame yang bagus haruslah memiliki diameter mount yang cukup besar. Dengan mount yang besar desainer lensa akan lebih fleksibel dalam merancang lensa yang berkualitas tinggi dengan bukaan yang sangat besar.

Alasan lainnya adalah sensor gambar bisa lebih memiliki ruang untuk  bergerak untuk menstabilkan gambar.  Memang, sepintas banyak keunggulan memilih diameter mount yang besar, tapi di sisi lain, ukuran mount yang besar pasti akan membuat ukuran kamera lebih besar juga.

Dari sejarahnya, Sony E-mount dikembangkan utamanya untuk sensor ukuran APS-C, yang saat itu dinamakan Sony NEX, beberapa tahun berikutnya baru muncul Sony A7 yang memiliki sensor full frame. Demikian juga L-mount kepunyaan Leica yang diameter mountnya 51.6mm, tidak terlalu besar sehingga bisa untuk kamera berukuran kecil seperti Leica TL dan CL. Ukuran mount yang relatif kecil seperti Sony E-mount memiliki fleksibilitas lebih untuk merancang body kamera yang compact seperti seri Sony A6000.

L-mount yang tidak begitu besar (51.6 mm) fleksibel untuk mengakomodir dua jenis sensor kamera, APS-C dan Full frame. Sumber ilustrasi: Apotelyt

[click to continue…]

{ 6 comments }

Review ponsel Huawei P20 PRO untuk traveling ke Eropa

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, tanggal 26 September lalu saya dan Iesan berkesempatan untuk berkunjung ke pameran Photokina di Cologne, Jerman 2018, dan kemudian jalan-jalan ke Kroasia dan Austria. Kamera utama (yang sering saya gunakan) saat disana adalah kamera ponsel Huawei P20 Pro.

Pengalaman saya saat mengunakannya sangat puas karena kualitas gambarnya sudah cukup bagus untuk berbagai keadaan termasuk keadaan yang sangat gelap seperti di malam hari. Saya juga cukup puas dengan videonya yang memiliki fitur stabilizer untuk merekam video klip pendek untuk IG Story.

Karena selalu saya bawa di saku saya, saat saya melihat ada yang menarik, langsung dengan mudah saya bisa memotretnya. Lain halnya jika saya membawa kamera DSLR/mirrorless yang biasanya tersimpan di tas (selempang atau ransel) sehingga hanya saya keluarkan di spot-spot foto saja. Dengan mengandalkan kamera ponsel, alhasil foto saya lebih banyak yang bersifat candid.

Cologne, Jerman

Warnanya oke buat yang suka warna Vivid, seperti warna merah Vespa ini terlihat menarik.

Di Eropa, kami traveling dengan sistem backpacker, alias banyak jalan dan mengunakan transportasi umum, sehari lebih dari 15.000 langkah, dan sempat menembus 24700 ribu langkah. Maka itu, dengan kombinasi kadang bawa ponsel saja, kadang bawa kamera, saya tidak menderita sakit pinggang seperti dua tahun yang lalu. Hehehe..

[click to continue…]

{ 6 comments }

Liputan Canon Marathon 2018

Hai, nama saya Yessy, hari ini saya akan menceritakan pengalaman saya saat berada di acara “Canon Photomarathon Indonesia 2018” Canon Photomarathon merupakan sebuah ajang kompetisi fotografi terbesar di Indonesia, acara yang digelar di Grand Chapel Universitas Pelita Harapan (UPH), Karawaci, Tanggerang, pada Sabtu, 29 September 2018, dihadiri oleh kurang lebih 1300 pencinta foto yang ikut mengambil andil dalam kompetisi untuk memperebutkan hadiah senilai ratusan juta rupiah dan sebuah hadiah utama berupa Trip PhotoMarathon Asia Championship ke Jepang sekaligus mengikuti kompetisi antarnegara.

Diawali dengan proses registrasi ulang, pada pukul 07.00 yang telah dibuka. Merchandise pun diberikan saat kita sudah mendaftar ulang yang berupa, topi merah berlogokan Canon, baju senada yang diberikan kepada semua peserta, fan USB, dan tidak lupa, nametag sebagai nomor urut peserta.

Setelah registrasi ulang peserta diperkenankan untuk berkumpul di lantai 6, sebagai acara pembuka yang diresmikan oleh Merry Harun – Canon Division Director pt. Datascript di damping Mr. Alex Chan – Director of Canon Regional Headquarter bersama para juri yang terdiri dari para fotografer dari beragam latar belakang fotografi, yakni Agustinus Tri Mulyadi, Edy Santoso, Ichsan, Kiki Trestianto, Misbachul Munir, Parolan Harahap, Priadi Soetjanto, Risman Marah, dan Roni Bachroni serta fotografer yakni Azcha Tobing, Jilmi Astina, Arief Yudo Wibowo dan Julian Samadewa, sebagai pembicara seminar.

Tahun 2018, merupakan tahun kali ke – 10 Canon Photomarathon Indonesia digelar dengan antusiasme pencinta fotografi dari berbagai kalangan, terdapat 2 kategori yakni kategori umum dan pelajar dengan misi memupuk fotografer muda di Indonesia. Peresmian acara yang digelar dengan meriah, sebagai kata sambutan oleh Canon Division Director PT. Datascript- Merry Harun, dan tarian daerah yang dipersembahkan, serta menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Pembacaaan peraturan pun diberikan sebelum acara mulai berlangsung, peraturan yang diberikan sebagai berikut, settingan waktu pada setiap kamera 20-10-2020 untuk menyetarakan waktu pengambilan foto setiap peserta sehingga tidak terjadi kecurangan, serta menjaga barang- barang pribadi.

[click to continue…]

{ 0 comments }

Menghadapi Spot Sejuta Umat di Cologne

Sejak mengenal fotografi, saya senang mengunjungi tempat yang sama berkali-kali. Dua tahun lalu, saya berkesempatan mengunjungi Cologne, Jerman. Tentu saja untuk pertama kalinya, saya pun mengambil foto ikonik sejuta umat. Untuk pengambilan foto juga saya mengambil posisi terdepan tanpa ada foreground.

Sadar bahwa foto ini sudah basi dan bisa digoogling dengan mudah di era digital sekarang, saya pun iseng memainkan zoom kamera untuk mendapatkan efek seperti foto di bawah. Setidaknya, meskipun ga jelas dan ga rapi, saya lebih senang dengan foto ini. Lebih merasa milik sendiri. Hahaha…

Kembali ke tempat yang sama di tahun ini membuat saya mati gaya. Awalnya saya tidak antusias dan hanya foto sebentar karena tidak ada ide lain untuk foto unik lainnya. Saya hanya berdiri di spot yang sama dengan komposisi yang sama sambil menikmati hembusan angin.

Beda halnya dengan Enche, dia selalu berpindah-pindah mencari posisi lain untuk mendapatkan suasana dan komposisi yang berbeda. Saya menemukannya agak di belakang di atas jembatan karena sebelumnya kita sudah pernah foto di barisan terdepan. Kebetulan saat kita mengunjungi tempat ini, sisi katedral yang menghadap kita gelap dan lampu-lampu dinyalakan di bagian yang lain untuk memperingati 100 tahun Perang Dunia I.

[click to continue…]

{ 1 comment }

Postcard dari Zagreb : Lavender

Zagreb adalah ibukota negara Kroasia yang belakangan terkenal karena tim sepakbolanya berhasil menjadi juara kedua (runner-up) Piala Dunia 2018. Tadinya saya tidak begitu antusias ke Zagreb karena saya pernah ke Prague (Praha) yang kota tuanya bagus sekali sampai dijuluki kota sejuta menara. Sedangkan Zagreb, saya cek di internet terkesan agak kecil kota tuanya. Maka itu, saya dan Iesan hanya mampir ke Zagreb sebagai kota transit untuk kemudian ke Plitvice dan Dubrovnik (tempat syuting serial TV populer Game Of Thrones).

Sambil transit kita jelajahi kota tuanya, ternyata sesampai disana, saya cukup senang karena meskipun lebih kecil, suasananya enak, selain arsitekturnya cukup kompak, misalnya genteng-nya rata-rata orange semua). Nah saat melintasi jalan-jalan kota tua yang penuh cafe dan rumah makan di pagi hari itu, saya tertarik dengan dekorasi bunga Lavender yang berada di atas meja sebuah cafe. Lavender rupanya merupakan bunga yang populer di Kroasia, mungkin karena musim pas saya kesana pas lagi panen.

Maka itu, saya coba abadikan dengan Leica SL dan 24-90mm f/2.8-4 dengan setting: ISO 50, f/4, 1/400 detik, 73mm.

Apa yang saya sukai dari foto diatas adalah pencahayaan yang dari samping yang cukup lembut memberikan kesan dimensi, dan adanya perulangan/pola dar meja dan bunga lavender, asbak dan menu di meja dibelakangnya. Untuk yang di latar belakang, sengaja saya buat blur dengan memilih bukaan f/4 yang tidak terlalu besar, tapi cukup blur tapi kita masih bisa melihat bentuknya dengan cukup jelas. Kamera dan lensa Leica yang saya gunakan dapat menangkap warna dengan baik sesuai keinginan saya sehingga tidak perlu saya edit lagi.

Saat jalan-jalan, kadang ada detail-detail yang menarik untuk ditangkap, maka itu, jika kita memperhatikan dengan seksama, bisa enak dilihat juga. Dengan demikian, kita tidak perlu hanya mengandalkan grand vista saja.


Infofotografi secara rutin mengadakan workshop, trip foto lokal maupun mancanegara. Bagi yang berminat silahkan periksa jadwal kami atau hubungi 0858 1318 3069. Terima kasih.

{ 0 comments }

Lensa-lensa baru di Photokina 2018

Selain pengumuman kamera-kamera baru, lensa-lensa baru juga bermunculan di Photokina 2018. Jenis dan harganya juga bermacam-macam. Mari kita cermati beberapa lensa baru yang akan hadir:

Viltrox

Viltrox terkenal karena membuat adaptor elektronik untuk menyambungkan lensa DSLR Canon atau Nikon ke kamera Sony. Di Photokina 2018, Viltrox membuat kejutan dengan membuat beberapa lensa untuk kamera mirrorless yaitu:

  • Viltrox 85mm f/1.8 manual fokus dengan cakupan FE (full frame) untuk Sony E-mount. Harganya USD$299 (sekitar 4.5 jt).
  • Viltrox 20mm f/1.8 manual fokus dengan cakupan FE (full frame) untuk Sony E-mount. Harganya USD489 (sekitar 7.4 jt).
  • Viltrox 85mm f/1.8 STM, lensa autofokus untuk Fuji X-mount. Harganya $379 (sekitar 5.7 jt)

Samyang AF

Samyang memulai dari membuat lensa-lensa manual fokus untuk kamera DSLR Canon dan Nikon, baik untuk fotografi maupun videografi (lensa Cine) yang cukup lumayan harganya. Beberapa tahun belakangan Samyang mulai membuat lensa-lensa autofokus terutama untuk kamera mirrorless Sony, diantaranya:

  • Samyang 35mm f/2.8 dengan cakupan Sony FE (full frame). Slogannya “Tiny but mighty” merupakan lensa Samyang paling populer saat ini. Rp 4.060.000
  • Samyang 24mm f/2.8 dengan cakupan Sony FE (full frame). Slogannya “Tiny but wide” Lensa yang sangat kecil dan ringan (dibawah 100g). Rp 6.060.000
  • Samyang XP 10mm f/3.5  untuk DSLR full frame manual fokus. Mungkin akan menarik baru yang motret pemandangan terutama cityscape karena garis lurus akan tetap lurus (rectilinear). Harga sekitar US$900-1200

[click to continue…]

{ 0 comments }

Kamera mirrorless semakin diminati, dengan ukurannya yang lebih kecil tapi fiturnya lebih canggih, pelan tapi pasti keberadaannya mulai menggeser kamera DSLR. Kini setiap merk kamera sudah punya produk mirrorless, dan varian jenisnya pun semakin beragam dari segmen basic sampai pro. Karena kamera mirrorless masih relatif baru wajar kalau masih banyak orang yang bingung dan belum paham mengenai hal-hal seperti:

  • Apa bedanya mirrorless dengan DSLR?
  • Apa saja lensa yang cocok dipakai di kamera mirrorless?
  • Bagaimana membuat foto tajam dengan setting autofokus yang pas?
  • Apa dan bagaimana memanfaatkan kelebihan kamera mirrorless?
  • Apa saja fitur/setting penting yang perlu diatur di kamera mirrorless?

Untuk itu kami hadirkan workshop spesial yang membahas tuntas mengenai kamera mirrorless, sehingga anda yang mengikuti acara ini (baik pengguna kamera mirrorless ataupun DSLR, bahkan yang belum punya kamera) akan bisa lebih paham secara teknis, konsep dan operasional sehingga tidak dibingungkan oleh hal-hal seperti diatas.

Harapannya tentu dengan menguasai kamera yang digunakan, kita bisa lebih menikmati hobi maupun profesi di bidang fotografi dan videografi modern yang semakin kompleks.

Kegiatan ini dijadwalkan pada:

  • hari: Minggu, 21 Oktober 2018
  • waktu: 12.00-17.00 WIB
  • tempat: infofotografi Green Lake City Jakarta Barat
  • pemateri: Erwin Mulyadi dan Iesan Liang

Pada kegiatan ini anda juga bisa mencoba kamera dan lensa mirrorless untuk lebih memahami materi yang dibahas. Untuk mendaftar silahkan menghubungi 0858-1318-3069 dengan mencantumkan nama dan jenis kamera yang dimiliki saat ini (bila ada). Biaya kepesertaan acara ini adalah Rp. 50.000 dan mengingat tempat yang terbatas, harap mendaftar lebih awal untuk memastikan ketersediaan tempat. [click to continue…]

{ 0 comments }

Rangkaian Workshop Spesial Akhir Tahun 2018

Di akhir tahun 2018 ini kami persembahkan spesial untuk anda, rangkaian workshop fotografi yang diadakan sebanyak 8 (delapan) sesi dengan topik, pemateri, dan lokasi yang berbeda. Berikut adalah susunan rencana kegiatan dari bulan Oktober hingga Desember 2018 yang dirancang untuk memperdalam pengetahuan dan pengalaman anda dalam memotret seperti street photography, creative flash, black and white, landscape hingga videografi.

Sesi 1:  Minggu, 21 Oktober 2018

Sesi 2: Minggu, 28 Oktober 2018

  • Street Photography
  • 08.00-11.00 WIB
  • Pasar Burung Barito, Jaksel
  • mentor: Hendro ‘Momi’ Poernomo

Sesi 3: Minggu, 4 November 2018

  • Creative Photography with flash
  • 12.00-17.00 WIB
  • Infofotografi Green lake city
  • pemateri: Erwin Mulyadi

[click to continue…]

{ 0 comments }