≡ Menu

Workshop Close up / Macro Photography indoor + outdoor
Daftar/Info: hub: 0858 1318 3069

Buku Smart Guide for Cameras and Lenses sudah tersedia!

Di tahun 2012 yang lalu, saya menulis buku “Sistem kamera: Memilih kamera dan lensa yang tepat.” Dalam dua tahun terakhir, telah banyak kamera dan lensa baru yang beredar, teknologi dan fitur di kamera juga meningkat dan bertambah. Buku ini bertujuan untuk memperbaharui buku pendahulunya dan cocok untuk masyarakat yang awam maupun berpengalaman dalam dunia fotografi.
Smart-Guide-for-Cameras-and-Lenses-cover

Penjelasan tentang cara dan fitur kamera saya tulis dengan bahasa sehari-hari supaya mudah dipahami dan pada akhirnya, Anda dapat memutuskan secara bijak kamera dan lensa yang tepat untuk kebutuhan Anda, entah itu untuk foto jalan-jalan/traveling, wedding, liputan/dokumentasi, landscape/pemandangan, portrait, dan sebagainya.

Buku ini juga saya lengkapi dengan contoh hasil foto mengunakan kamera dan lensa spesifik. Data teknis seperti diafragma, shutter speed, kamera dan lensa apa yang dipakai dicantumkan di setiap foto. Pembaca dapat meninjau hasil foto tersebut

Isi buku Smart Guide for Cameras and Lenses

  • BAB 1 Membahas jenis kamera digital dan plus-minusnya
  • BAB 2 Panduan memilih sistem kamera (Canon, Nikon, Sony, Pentax, Olympus, Fujifilm, dll)
  • BAB 3 Membahas semua tentang lensa dan kegunaannya.
  • BAB 4 Membahas perlengkapan (kamera, lensa, aksesoris) untuk berbagai jenis fotografi
  • BAB 5 Membahas fitur dan teknologi kamera baru
  • BAB 6 Rekomendasi dan tips trik dalam memilih dan membeli kamera dan lensa

Spesifikasi buku

  • Penerbit: Elex Media Computindo
  • ISBN: 9786020244549
  • Format Cover: Soft Cover
  • Editor: Chandra
  • Ukuran: 15 X 23
  • Tebal: 192 Hlm
  • SPT Design Cover: Wawan

Cocok untuk:

  • Calon pembeli kamera, lensa, aksesoris
  • Fotografer yang ingin mengetahui sejarah sistem kamera dan lensa
  • Fotografer yang ingin mengetahui peralatan yang cocok untuk jenis fotografi yang ingin digeluti
  • Khalayak umum yang ingin menambah wawasan

Harga normal di Toko Buku Gramedia : Rp 84.800,-  Harga special pembaca Infofotografi: Rp 75.000,- saja (harga belum termasuk ongkos kirim).

Memesan buku ini mudah dan hemat, layangkan sms/email ke 0858 1318 3069 atau infofotografi@gmail.com dengan nama & alamat.  Saya akan membalas sesegera mungkin.

Setiap buku akan saya tanda-tangani sebelum dikirim via JNE.

Bagi yang ingin mampir ke kantor/tempat pelatihan untuk membeli juga boleh, yaitu di Jalan Imam Mahbud/Moch. Mansyur no. 8B2. Sebelumnya tolong hubungi 0858 1318 3069 terlebih dahulu.

Terima kasih untuk dukungannya,

Enche Tjin

Beberapa contoh halaman:

kamera-dslr

buku-lensa-2

buku-lensa-1

portrait

 

{ 0 comments }

Mengenal format file Video

Secara garis besar jenis format video dapat dibedakan menjadi

  • ASF (Advance Streaming Format ) (*.asf) : Microsoft Advance Streaming Media, biasa digunakan untuk jaringan
  • AVI (Audio Video Interleaved) (*.avi) : jenis format video yang dapat menyesuasikan format audio/suara dengan alat pemutar video
  • DV (Digital Video ) (*.dv) : jenis format video digital untuk kelas rumahan yang dikembangkan oleh perusahaan besar dan banyak digunakan untuk digital video kamera
  • VCD Video (*mpg) : format video VCD
  • DVD Video (*.vob) : format video DVD
  • MOV (*.mov) : format video apple Quick time banyak digunakan untuk pengiriman melalui jaringan internet, dan dapat menyesuaikan dengan berbagai bentuk/jenis format video lain
  • MPEG 1 (*.mpg) : jenis format untuk kelas industri video dengan kualitas gambar VHS dan kualitas suara tingkat CD
  • MPEG 2 (*.mpg) : jenis format untuk kelas industri video dengan kualitas gambar level siaran dan kualitas suara tingkat CD
  • MPEG 4 (*.mp4) : jenis format video yang sudah di compress (diperkecil) untuk standard jaringan penyiaran dan komunikasi video dengan ukuran data yang kecil tetapi mempunyai kualitas gambar yang cukup baik.
  • WMV (Window Media Video) (*.wmv) : pengembangan dari bentuk format video ASF, banyak digunakan pada pengiriman lewat jaringan
  • 3GPP/3GP (3rd Generation Partnership Project) (*.3gp) dan MP4 (*.mp4) : jenis format video untuk multi media

Untuk mengetahui jenis format apakah video yang akan kita gunakan, kita dapat melihatnya pada window explorer dengan memilih type view – detail maka akan terdapat tampilan seperti gambar dibawah ini.

format-video

Pada gambar diatas yang diberi tanda kotak berwarna merah adalah jenis format video AVI dan yang diberi tanda kotak biru adalah jenis format video MP4. Dengan cara yang sama kita dapat mengetahui jenis-jenis video yang akan kita gunakan. Demikianlah ulasan singkat dari saya mengenai jenis-jenis format video, semoga dapat bermanfaat.

Jika Anda ingin belajar video editing, hubungi 0858 1318 3069 atau email infofotografi@gmail.com untuk mendapatan info pelatihan oleh video editor profesional. Materi dan jadwalnya bisa dibaca disini.

{ 0 comments }

Samsung NX1 adalah kamera flagship Samsung yang baru diumumkan di pameran akbar Photokina dan kamera ini berpeluang mencuri status sebagai kamera paling top tahun ini. Flagship artinya kamera yang memiliki teknologi tercanggih, terlengkap dan paling kualitasnya paling tinggi.

samsung-nx1-16-50mm

Seri NX1 generasi pertama ini memiliki desain bentuk seperti kamera DSLR, tapi sebenarnya desainnya mirrorless, sehingga ukurannya lebih ringkas dan ringan dibandingkan dengan kamera DSLR top lainnya.

Secara desain, Samsung NX1 memadukan banyak ciri dari kamera DSLR pro, antara lain:

  • Ada layar top LCD, yang berisi setting kamera sehingga bisa cepat melihat setting kamera tanpa menampilkan setting di layar LCD. Pengunaan baterai juga akan lebih hemat.
  • Tombol, tuas, dial berlimpah: AF, ISO, WB, Metering, Kompensasi eksposur, AEL, AF-ON, AF area, WiFi, Mode dial, Drive mode dial.
  • Juga ada tiga dial untuk mengganti setting (satu dibagian atas kamera, dua di bagian belakang kamera) + Tombol empat arah :)

Intinya, kamera ini paling memanjakan pengguna pro yang mementingkan tombol taktis dalam mengubah setting kamera.

samsung-nx1-top

Konstruksi kamera dari magnesium alloy, standar bagi kamera pro yang kokoh. Layar LCDnya bisa dilipat ke atas atau kebawah untuk memudahkan komposisi foto. Ukuran kamera ini bisa dibilang kecil dan ringan untuk kategori kamera pro. Fisik kamera kurang lebih sama dengan kamera DSLR pemula.

[click to continue…]

{ 1 comment }

Kamera compact canggih di tahun 2014 ini makin bagus kualitas gambarnya. Penyebab utamanya adalah penggunaan image sensor yang relatif besar dibandingkan dengan kamera compact pada umumnya. Beberapa diantaranya malah memiliki sensor setara kamera dslr/mirrorless.

Beberapa diantaranya baru diumumkan di pameran fotografi akbar di Cologne, Jerman 2014:

Sony RX100 mk 3

Seri kamera ini sudah diperbaharui beberapa kali. Yang saat ini dotulis sudah generasi ke-3. Keistimewaan kamera ini adalah ukurannya yang masih bisa untuk kantong celana/jaket. Ukuran sensor satu inci cukup untuk sebagian besar casual shooter, kualitas foto cukup bagus di kondisi terang maupun gelap. Yang baru di generasi ketiga ini adalah adanya jendela bidik elektronik dan bukaan maksimum lensanya yang lebih besar daripada generasi sebelumnya yaitu 24-70mm (ekuivalen kamera full frame) f/1.8 – 2.8. Harga $798

+ Ukuran relatif kecil, cukup untuk kantong celana kargo
+ Bukaan lensa relatif besar.
+ Ada jendela bidik untuk memudahkan komposisi di kondisi cahaya yang terlalu terang/silau
+ Layar LCD bisa diputar dan lipat keatas
- Tidak ada hotshoe

sony-rx100-mk3

Canon G7X

Mirip dengan Sony RX100 dari kualitas gambarnya, karena mengunakan sensor 20 MP 1 inci juga. Bedanya lensanya lebih tele/panjang yaitu 24-100mm f/1.8-2.8. Layar LCDnya touchscreen, memudahkan untuk memilih fokus dan mengganti setelan. Kelemahannya kualitas video dan baterainya tidak sebaik kamera Sony RX100. Harga saat diumumkan $699

+ Ukuran relatif kecil
+ touchscreen LCD
+ Lensa fleksibel zoomnya
- Tidak ada hotshoe
- Tidak ada jendela bidik

canon-gx7

[click to continue…]

{ 9 comments }

Lima tahun yang lalu (2009), Canon 7D merupakan salah satu kamera yang diandalkan oleh penggemar fotografi action, wildlife dan liputan karena kecepatannya dan kekokohan body kameranya.

canon-7d-mk2

Di tahun ini, Canon menyempurnakan 7D menjadi kamera yang lebih cepat dan tangguh. Dari spesifikasi, besar kemungkinan 7D mk 2 ini memiliki spesifikasi yang sama dengan Canon 70D.

Seperti Canon 70D, sensor 7D dilengkapi dengan pixel AF, yang memungkinkan autofokus yang mulus dan relatif cepat saat live view dan dalam merekam video.

Teknologi yang 65 titik fokus semuanya cross type (sensitif horizontal dan vertikal) terbilang dashyat dan sangat memanjakan fotografer action.

Selanjutkan kecepatan foto berturut-turut menjadi 10 foto per detik, berkat dua prosesor DIGIC 6.

Intinya kamera ini adalah kamera yang sangat cepat dan tangguh. Saat ini, belum ada kamera yang mendekati kecepatan ini dikelas sensor APS-C. Pesaing terdekatnya Nikon, sudah lama tidak memperbaharui kamera Nikon D300s yang merupakan pesaing terdekat Canon 7D generasi pertama.

[click to continue…]

{ 19 comments }

Janji Sony untuk merilis lensa-lensa baru 2014-2015

sony-lens-roadmap

Sampai saat ini Sony menepati janjinya dalam rilis Sony 16-35mm f/4 OSS dan Sony 28-135mm f/4 OSS PZ (untuk video/sinema)

Lensa yang tidak jadi diluncurkan tahun ini (2014)

  • Sony Zeiss FE 85mm f/1.4 OSS
  • Sony Zeiss FE 24mm f/1.4

Sebagai gantinya, Sony menjanjikan beberapa lensa baru yang cukup menarik untuk diluncurkan tahun ini yaitu:

  • Sony FE 24-240mm f/3.5-6.3 OSS : Lensa ini merupakan lensa sapujagat/travel untuk kamera full frame Sony A7.
  • Sony FE 28mm f/2 yang bisa dikombo dengan ultra wide converter: 21mm dan fisheye converter
  • Sony FE 90mm f/2.8 Macro G OSS : Awalnya Sony menjanjikan lensa makro 100mm, tapi direvisi menjadi 90mm. Lensa ini penting bagi Sony mirrorless karena belum ada “native lens” untuk makro.

Ketiga lensa diatas tidak berlabel “Zeiss” jadi kemungkinan harganya lebih terjangkau.

Sony-lens-roadmap-2014

Roadmap 2014 yang lama

{ 0 comments }

Budget 5 jutaan, beli kamera DSLR atau mirrorless?

Sekarang kamera DSLR dan kamera mirrorless sama-sama punya pilihan segmentasi yang lengkap, terutama kelas pemulanya. Ciri kamera pemula diantaranya harga terjangkau, bisa jadi inilah alasan kenapa penjualannya laris manis. Dengan dana 5 jutaan, kini pilihan kamera untuk pemula yang tersedia semakin beragam. Kenali apa saja pilihannya disertai ulasan singkatnya.

Kamera DSLR

Nikon-D3200

Nikon D3200

Kamera pemula Nikon D3200 saat ini tertinggal satu generasi (karena ada D3300) tapi masih sangat menarik dari segi fitur, seperti sensor APS-C 24 MP, 4 fps dan 11 titik fokus. Kualitas hasil foto menjadi keunggulan dari kamera ini, termasuk soal detil foto yang tinggi berkat sensor 24 MP. Nikon D3200 termasuk kecil dan ringan (untuk ukuran kamera DSLR) dan mudah dipakai dengan menu Guide untuk pemula. Kelemahannya untuk bisa auto fokus perlu didukung oleh lensa-lensa yang punya motor fokus. Lensa kitnya adalah Nikkor 18-55mm VR.

Canon EOS 1200D

Penerus EOS 1100D ini puya sederet fitur dasar untuk belajar fotografi, semisal memakai fitur manual mode, RAW, flash, dan live view. Urusan video juga sudah bisa full HD walau audionya masih mono. Ditinjau dari bodinya, Canon 1200D tampak masih tetap mempertahankan desain mungil  dan ringan, berbahan plastik walau kini sudah diberi sedikit lapisan karet untuk kenyamanan lebih saat di genggaman. Fitur yang tidak ada di kamera ini adalah Spot Metering yang dalam kondisi tertentu bisa disiasati dengan memakai Partial Metering. Lensa kitnya adalah Canon 18-55mm IS.

Baik Nikon dan Canon keduanya sudah matang dalam hal membuat kamera DSLR, sehingga sulit dibilang mana yang lebih baik. Manapun yang dipilih, kita sudah diuntungkan dengan banyaknya pilihan lensa dan aksesori pendukung lain yang berlimpah. Apalagi kamera DSLR punya keunggulan di auto fokus yang cepat dan sehingga fotografer yang lebih serius akan tetap bertahan dengan format DSLR.

Kamera mirrorless

Sony A5000 (APS-C sensor)

Sony-A5000-product-shot-7

Mirrorless mungil dari Sony ini adalah penerus NEX-3 yang dipaketkan dengan lensa kit 16-50mm powerzoom OSS. Berkat sensor APS-C (setara kebanyakan kamera DSLR) dan resolusi 20 MP, kamera pemula ini berani diadu dalam hal kualitas hasil foto. Kemampuan tembak maksimal 4 foto per detik. Layar LCD kamera ini bisa dilipat ke atas untuk foto low angle. Berbekal E mount, Sony A5000 bisa dipasangkan dengan berbagai lensa Sony dan Zeiss untuk E mount. Lampu kilat juga ada, walau tidak ada dudukan lampu kilat eksternal.

Opsi lain : ada juga kamera mirrorless yang lebih murah (dibawah 5 juta) seperti Sony A3000 dan Canon EOS-M.

Panasonic Lumix GF6 (micro four thirds)

GF6k_top_hand_1_

Di kubu micro four-thirds kita kenal Lumix yang punya kamera mirrorless pemula yaitu GF6. Dengan sensor four-thirds 16 MP LiveMOS dan lensa kit 14-42mm OIS, kamera desain retro ini punya roda mode PASM layaknya kamera DSLR. Untuk dukungan lensa cukup banyak pilihan baik dari Lumix, Olympus maupun produsen lain yang membuat lensa dengan micro four thirds mount. Layar LCD di kamera inipun sudah berjenis layar lipat ke atas dan ke bawah dan juga mendukung sistem sentuh. Sama seperti Sony A5000, kecepatan tembaknya 4 fps, urusan lampu kilat juga ada, walau sama-sama tidak ada dudukan lampu kilat eksternal.

Opsi lain : di kubu Olympus sebagai sesama kamera micro four thirds, ada juga kamera Olympus E-PL5 yang harganya dibawah 6 juta. [click to continue…]

{ 6 comments }

Bahas foto: Mystic Tree

Pohon, salah satu objek foto klasik yang disukai hampir siapa saja, termasuk saya. Konsep Lonely Tree (foto pohon sendirian) merupakan tema (sering sekali difoto). Saat berkunjung ke daerah puncak beberapa waktu lalu, saya menemukan pohon tua yang menurut saya cukup menarik karena akar-akarnya besar dan juga daun-daunnya cukup banyak dan menjulur membuat saya terhenti dan menempatkan tripod saya tepat 3-4 meter di depan pohon.

Bahas-foto-mystic-tree

ISO 100, f/16, 1/2 detik, 15mm. Kamera diatas tripod

Untuk menonjolkan kesan tiga dimensi dan memberikan kesan dramatis, saya mengunakan lensa yang sangat lebar, yaitu Zeiss 15mm f/2.8. Lensa ini saya pasang di kamera full frame, sehingga kalau mau dicari padanannya dengan kamera DSLR bersensor APS-C, sekitar 9-10mm.

Lensa normal atau tele tidak akan membuat kesan seperti ini karena dua hal, pertama, mungkin ruangannya tidak cukup untuk mengambil jarak antara pohon dan kamera, alasan kedua (lebih penting) adalah perspektifnya terlihat lebih datar dan tidak dramatis.

Yang ini dari posisi yang sama, hanya pakai lensa 55mm

Yang ini dari posisi yang sama, hanya pakai lensa 55mm (lebih tele) sehingga cuma dapat ranting-ranting pohonnya saja

Atmosfer dan pencahayaan saat memotret sangat penting untuk mendapatkan kesan mistik, saat yang paling baik menurut saya adalah pagi-pagi karena biasanya di dataran tinggi atau pegunungan biasanya muncuk kabut-kabut halus yang memperkuat suasana.

Komposisi yang saya gunakan untuk membuat foto ini adalah komposisi rule of thirds. Dimana posisi subjek/pohon dalam foto ini saya letakkan disebelah kiri. Dengan demikian ranting, daun, akar dan daun-daun yang berguguran membentuk formasi dan menuju ke pohon tersebut.

Kemudian, saya ingin membuat kesan yang hangat (warm) jadi, pilihan WB “Shade (sekitar 7500 Kelvin) membuat suasana lebih hangat (kuning). Untuk editing lanjutnya, saya mengunakan software Adobe Lightroom. WB meskipun sudah diubah menjadi Shade, kadang belum cukup membuat color tone yang saya inginkan, maka itu saya mengaktifkan Split Toning untuk memasukkan sedikit warna coklat/sepia ke dalam foto. Alhasil foto finalnya terlihat seperti foto dari jaman dulu dan memberikan kesan tua dan mistik.

split-toning-panel

contoh-editing-lightroom

Poin-poin penting untuk membuat foto semacam ini adalah

  1. Foto pagi-pagi, jam 6-7
  2. Cari objek yang menarik, yang ideal yang tua/antik
  3. Gunakan lensa lebar, mendekatlah ke objek foto
  4. Gunakan komposisi rule of thirds
  5. Set WB ke Shade (7500K) untuk memberikan kesan hangat
  6. Olah di Lightroom dengan Split toning untuk memperkuat kesan klasik

—–
Infofotografi secara rutin membuka kursus, workshop dan tour fotografi. Jadwal dan acaranya bisa dilihat disini.

{ 0 comments }

Review lensa Zeiss Otus 55mm f/1.4

Desain lensa seringkali dikompromikan kualitasnya dengan berbagai pertimbangan terutama ukuran, berat dan harga. Keluarga lensa Zeiss Otus adalah lensa yang dibuat dengan kualitas tinggi, tanpa ada kompromi. Di era fotografi digital sekarang, kamera yang memiliki resolusi tinggi (24 MP atau lebih) mulai menjamur, dan butuh lensa berkualitas tinggi untuk mendapatkan hasil yang optimal.

Jika kita memasang lensa yang berkualitas rendah di kamera beresolusi tinggi, maka kualitas gambar juga tidak akan optimal, misalnya tidak terlihat tajam. Zeiss Otus dirancang khusus untuk mengakomodir kamera-kamera beresolusi tinggi di era sekarang dan mungkin juga masa depan saat resolusi kamera melebihi 36 MP.

Zeiss Otus 55mm f/1.4. Yang kiri untuk kamera DSLR Canon, yang kanan untuk kamera DSLR Nikon

Zeiss Otus 55mm f/1.4. Yang kiri untuk kamera DSLR Canon, yang kanan untuk kamera DSLR Nikon

Saya beruntung diberi kesempatan untuk mencoba lensa Zeiss Otus 55mm f/1.4 dengan kamera Nikon D600 (full frame 35mm dengan resolusi 24 MP). Kesan pertama saya lensa ini terbuat dari material logam yang sangat berkualitas dan padat. Dibandingkan dengan lensa fix 50-58mm lainnya, mungkin Zeiss Otus saat ini merupakan yang paling besar. Meski demikian, lensa ini tidak seberat lensa zoom telefoto dan masih seimbang saat dipasangkan dengan kamera DSLR tipe semi-pro dan profesional. Lens hood (topi lensa) juga sudah dipaketkan dengan lensa ini dan bahannya dari logam yang kokoh, tidak seperti kebanyakan lensa lain yang mengunakan bahan plastik.

Lensa ini menerima filter ukuran 77mm, yang sangat populer karena kebanyakan lensa-lensa berkualitas tinggi / profesional mengunakan filter thread 77mm juga, sehingga jika Anda telah memiliki filter 77mm, dapat dipasangkan ke Zeiss Otus 55mm f/1.4. [click to continue…]

{ 5 comments }

Tour Fotografi Cirebon-Kuningan 18-19 Oktober 2014

Tour fotografi yang satu ini rasanya sayang untuk dilewatkan. Selama dua hari, kita akan jalan-jalan ke kota Cirebon dan Kuningan untuk mengenal lebih jauh budaya dan keindahan alam disana. Di kota Cirebon kita akan mengujungi bangunan bersejarah yaitu Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman, serta Tamansari Gua Sunyaragi. Keesokan harinya di Kuningan kita akan mendatangi curug Putri dan Telaga Remis yang bakal menguji kreativitas dan teknik fotografi kita. Selama tur kali ini peserta akan dipandu dan dibimbing oleh saya (Erwin Mulyadi) selaku instruktur tetap di infofotografi.

Sekilas pandang tujuan tur kita kali ini

Keraton Kasepuhan dibangun tahun 1529 pada masa pemerintahan Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Setiap sudut arsitektur keraton ini begitu bersejarah dan menarik untuk difoto. Halaman depan keraton ini dikelilingi tembok bata merah sedangkan bagian utamanya terdapat bangunan Keraton yang berwarna putih yang terdapat ruang tamu, ruang tidur dan singgasana raja. Keraton ini memiliki museum yang cukup lengkap dan berisi benda pusaka dan lukisan koleksi kerajaan. Salah satu koleksi yang dikeramatkan dan akan kita lihat sama-sama adalah kereta Singa Barong

Halaman depan Keraton Kasepuhan

Halaman depan Keraton Kasepuhan

Bangunan dalam Keraton Kasepuhan

Bangunan dalam Keraton Kasepuhan

Sedangkan Keraton Kanoman sebagai istana Sultan Anom berdiri tahun 1622, keunikan tempat ini adalah banyaknya tempelan porselen asli dari Tiongkok di seluruh dinding pagar maupun gerbang Keraton Kanoman. Di tahun 1703 pangeran Arya Cirebon (patih Keraton Kasepuhan) membuat Tamansari Gua Sunyaragi (Sunya berarti sepi, dan Raga/Ragi berarti jasmani) sebagai tempat petilasan (bertapa untuk meningkatkan ilmu kanuragan) dengan arsitektur estetik bernilai historisKita akan mendatangi tempat cagar budaya ini dengan melihat beberapa gua yang ada (sebagian diantaranya cukup sempit) dan bangunan utama yang merupakan taman air di masa lalu. [click to continue…]

{ 1 comment }