≡ Menu

Belajar memaksimalkan fitur flash untuk berbagai fotografi (liputan, still life, portrait dan special effects
Sabtu & Minggu 30 & 31 Mei 2015
Daftar/Info: hub: 0858 1318 3069

Perbedaan Fujifilm X-T1 dan Fujifilm X-T10

Fujifilm mengeluarkan kamera baru Fujifilm X-T10 yang diposisikan dibawah Fujifilm X-T1. Dari spesifikasinya, saya melihat banyak kemiripan, antara lain bentuk desainnya seperti kamera DSLR jaman film, masih dengan sensor 16 MP X-Trans sensor, autofocus hybrid (Phase & Contrast detect).

fuji-xt1-fuji-xt10

Selanjutnya saya akan mengulas secara singkat kelebihan kelemahan kedua kamera. Kelebihan Fujifilm X-T10 adalah lebih kecil ukurannya, sedikit lebih ringan (440 gram vs 381 gram), dan jauh lebih murah ($1150 vs $800). X-T10 memiliki built-in flash yang cukup praktis untuk kondisi yang sangat gelap atau backlight.

fuji-xt1-fuji-xt10-back

Kelebihan Fujifilm X-T1 adalah punya buffer (penampungan data sementara) yang jauh lebih lapang. Dengan X-T1, kita bisa memotret berturut-turut sampai maksimum 47 foto JPG sebelum memory penuh, sedangkan X-T10 maksimumnya hanya 8 foto saja. Bagi yang sering traveling ke tempat yang cuacanya ekstrim, Fujifilm X-T1 bisa tahan sampai -10 Celcius, sedangkan X-T10 hanya sampai 0 Celcius. Yang juga cukup signifikan adalah ukuran jendela bidik X-T1 yang lebih besar (magnifikasi 0.77 vs 0.62). Dari fisiknya, Fujifilm X-T1 terlihat lebih kokoh dengan pegangan yang sedikit lebih dalam, dan juga tersedia roda diatas kamera untuk mengganti ISO. Lensa yang dipaketkan dengan X-T1 juga lebih menarik dan berkualitas (18-55mm f/2.8-4, dan 18-135mm f/3.5-5.6, dibandingkan dengan 16-50mm f/3.5-5.6).

fuji-xt1-fuji-xt10-top

Kualitas kamera Fujifilm X-T1 memang lebih baik, terutama kalau Anda suka motret subjek bergerak/berturut-turut dan traveling ke tempat yang cuacanya ekstrim. Tapi semuanya tergantung budget. Karena spesifikasi terpenting yaitu kualitas gambar dan kinerja autofokusnya mirip, maka X-T10 merupakan pilihan yang “value” karena selisih harganya cukup besar yaitu $350 (Rp 4.6 juta).

—-

Baru beli kamera? Ikuti workshop kupas tuntas kamera & lensa 

Bingung memilih kamera, lensa yang pas? Buku Smart Guide ini akan membantu.

{ 0 comments }

Bahas foto: Low key backlight portrait

Berhubung ada yang menanyakan bagaimana cara membuat portrait low key di instagram saya, maka saya coba jelaskan bagaimana proses pembuatannya. Sebenarnya cukup sederhana, yang dibutuhkan adalah subjek/model, sumber cahaya (lampu/flash) dan kamera tentunya.

karen-02

Foto ini saya buat saat saya mengajar workshop portrait dengan lampu studio yang cukup rutin saya adakan. Sebelum memotret, gunakan background hitam, dan idealnya model mengenakan baju yang gelap/hitam. Jika tidak memiliki background hitam, jauhkan model dari tembok, makin jauh makin oke. Dan matikan lampu ruangan supaya tidak mengganggu.

Posisi lampu studio saya letakkan dibelakang subjek foto dan tertutup oleh model. Keuntungan dari lampu studio adalah memiliki modeling light, dimana saya bisa melihat jatuhnya cahaya, sedangkan jika mengunakan flash, mungkin saya perlu mengulang beberapa kali (coba-coba) supaya jatuhnya cahaya pas.

Light modifier yang saya gunakan adalah standard reflector dan honeycomb supaya cahaya tidak menyebar ke segala arah dan hanya spot ke sisi wajah model saja. Hindari pemakaian soft box besar/payung (kecuali strip softbox yang sempit (softbox 30x120cm)).

Selain flash, kita juga bisa mengunakan flash, lampu continuous seperti led, senter, fluorescent+standard reflector dll. Semuanya tidak masalah, hanya saja, biasanya kekuatan lampu continuous kecil, sehingga setting ISO perlu ditingkatkan.

Data teknis: ISO 100, f/11, 1/160 detik, 85mm.

Model: Karen Nathasya

lowkey-portrait

Ilustrasi diatas di buat dengan lightingdiagrams.com

——–

Ingin belajar foto portrait studio? ikuti workshop portrait studio

dan jika ingin memaksimalkan flash untuk berbagai jenis fotografi dan portrait special effect, ikuti workshop creative flash dua hari ini.

{ 2 comments }

Rekomendasi kamera mirrorless 2015 bagian 2

Di tahun 2015 ini, kamera mirrorless perlahan-lahan mulai banyak diminati oleh penggemar fotografi yang merasa kamera DSLR terlalu besar dan berat untuk jalan-jalan. Banyak pilihan kamera mirrorless sering membuat pusing kepala. Di pos bagian pertama ini, saya akan mengulas singkat dan memberikan rekomendasi kamera yang menurut saya seimbang dari fitur, harga dan kinerjanya. Merk yang saya akan bahas disini adalah Samsung NX, Nikon 1, Leica T dan Canon EOS M.

Post ini adalah bagian yang kedua. Untuk membaca rekomendasi kamera mirrorless bagian pertama silahkan klik disini.

Harga yang tercantum dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kurs dan promosi.

Warna hitam : Ada pilihan yang lebih baik
Warna biru : Saya rekomendasikan untuk fotografer pemula
Warna hijau : Saya rekomendasikan untuk fotografer serius/mahir/pro
Warna merah : Saya rekomendasikan untuk fotografi spesifik/khusus

Daftar kamera Samsung NX, harga dan rekomendasi

Kamera Samsung pada dasarnya terbagi dalam beberapa kategori: pemula yang paling ringkas 4 digit seperti NX3000, menengah 3 digit seperti NX300, NX500, semi pro (2 digit) seperti NX30 dan profesional NX1.

samsung-nx1-telefoto

Samsung NX3000 – Harga Rp 6 juta dengan lensa 16-50mm – Kamera mirrorless pemula Samsung, dirancang supaya ukurannya sekecil mungkin dan harga yang terjangkau. Nonton pembahasan saya dan Erwin Mulyadi di Youtube.
Samsung NX300/M – Harga 7 juta dengan lensa 18-55mm – Layar LCD-nya touchscreen, saat manual fokus ada focus peaking, kinerja / kecepatan kamera lebih cepat. Layar LCD lebih detail, kinerja autofokus lebih cepat (hybrid phase detect di sensor), Merekam video 60p. Shutter speed lebih cepat 1/6000 detik. Kekurangannya baterainya bisa habis sendiri jika tidak dilepas dari kamera.
Samsung NX500 – Harga Rp 10 juta dengan lensa 16-50mm – Kualitas foto sedikit lebih tinggi dan tajam dari NX3000 dan NX300 berkat sensor BSI 28 MP. Bisa merekam video 4K secara langsung.
Samsung NX30 – Harga Rp 11 juta dengan lensa 18-55mm – Bedanya dari kamera diatas adalah NX30 punya jendela bidik elektronik, bentuknya lebih menyerupai kamera DSLR. Kecepatan buka tutup dan shutter lag lebih cepat. Punya flash internal.
Samsung NX1 – Harga Rp 20 juta body saja – Punya jendela bidik elektronik, desainnya seperti kamera DSLR mini. Bisa rekam video 4K seperti NX500. Kecepatan kamera sangat cepat, tahan air, debu, kelembababan, dirancang untuk profesional. Sedikit pembahasan tentang NX1 disini.

[click to continue…]

{ 6 comments }

Shanny SN 600SN review flash

Setelah menunggu beberapa bulan, akhirnya Shanny SN 600SN telah tersedia. Flash ini adalah alternatif yang lebih terjangkau dari flash terbaik Nikon saat ini, Nikon SB910 yang harganya Rp 5.15 juta, sedangkan Shanny SN600SN ini dijual dengan harga Rp 1.9 juta saja, sudah dengan pouch, omnibounce dan kaki flash. Kekuatan flash ini juga sama dengan flash Nikon SB910 yaitu GN 60, juga fitur-fiturnya.

Saat dipasang di atas kamera, Flash Shanny SN600SN bisa difungsikan secara mode auto (i-TTL), manual (M), repeating flash (RPT), dan berlaku sebagai master (dapat mengendalikan kekuatan dan memicu flash-flash yang compatible dengan sistem creative flash Nikon (CLS)).

shanny-sn600sn-01

sistem Master CLS Nikon bisa dikonfigurasi dengan cukup bebas.

sistem Master CLS Nikon bisa dikonfigurasi dengan cukup bebas.

Sistem optik flash cukup praktis digunakan tapi memiliki kelemahan dalam jangkauan. Di dalam ruangan, bisa menjangkau kurang lebih 30 meter, sedangkan di luar ruangan sekitar 20 meter. Cukup lumayan untuk sebagian besar fotografer. Tapi yang paling ideal yaitu dengan mengunakan sistem transmisi radio. SN 600SN compatible dengan trigger radio populer seperti Yongnuo 622C.

Saat dilepas dari kamera, Shanny SN 600SN dapat di fungsikan sebagai Slave Nikon, dan basic slave optic S1 dan S2.

shanny-sn600sn-03

shanny-sn600sn-04

Kamera-kamera yang compatible antara lain: NIKON – D3, D810, D800, D800E, D700, D750, D610, D600, D300s, D300, D200, D7100, D7000, D90, D80, D5300, D5200, D5100, D5000, D3000, D3100, D3200 ,D3300, Kamera yang lain perlu diuji lebih lanjut.

Selain model SN 600SN, juga tersedia model SN 600N (Rp 1.350.000). Flash canggih yang paling terjangkau untuk Nikon. Perbedaan utamanya dibandingkan dengan SN600SN adalah, tidak ada fungsi Master flash, dan saat dilepas dari kamera mode slavenya hanya manual, dan pouch/kantong flash tidak tersedia (meskipun ini bisa di beli dengan harga terjangkau (Rp 50.000,-).

Jika membutuhkan flash hanya untuk ditempatkan diatas kamera saja, SN 600N sudah cukup. Tapi jika ingin flash yang bisa Master untuk mengomandoin flash lainnya, atau perlu fungsi auto/i-TTL saat dilepas di kamera, Shanny SN 600SN pilihan yang terbaik saat ini.

Flash ini bisa dipesan melalui 0858 1318 3069 atau melalui www.ranafotovideo.com

Spesifikasi:

Guide Number (GN): 60 (ISO100, 200mm)
Wireless flash: Optical pulse transmission as master and slave
Flash mode: i-TTL, Manual, RPT
Zoom range: Auto, 20-200mm, 14mm (saat mengunakan wide diffuser)
High Sync Speed: sampai dengan 1/8000 detik
Pilihan kekuatan: 1/1 sampai 1/128
Shutter sync: front, rear, high speed sync
Flash exposure compensation: +/- 3, 1/3 step
Remote power : Support
Remote zooming control: Support
Bracket Exposure : Support
Flash exposure lock : Support
Modeling flash : Support
AF-Assist focus : LED focus lamp
Recycle time: kurang lebih 2 detik di full power
Frekuensi flash RPT: 1-100Hz
Jarak efektif wireless optical pulse sekitar 20-30 meter
Radio channel: 1-15
Flash Group: A, B, C
Power supply: 4 AA baterai, alkaline/rechargeable Nimh
External interface: hotshoe, PC sync, external charging dan USB untuk upgrade firmware
Software upgrade: Support
Ukuran: 79.7 X 142.9 X 125.4 mm
Berat: 420 gram

—-

Bingung dengan istilah-istilah flash dan ingin memaksimalkan flash? Ikuti workshop sehari basic flash dengan Shanny.

{ 4 comments }

Review Sony Zeiss FE 35mm f/1.4 ZA Distagon T*

Sudah cukup lama pengguna kamera mirrorless Sony mendambakan lensa berbukaan besar yang profesional. Sebelum lensa Sony FE 35mm f/1.4 ini, Sony memiliki beberapa lensa berbukaan besar seperti Sony FE 55mm f/1.8. Sony FE 35mm f/2.8., Zeiss Loxia 35mm f/2. Jika masih belum puas dengan lensa-lensa yang sudah tersedia, biasanya pengguna kamera mirrorless Sony direkomendasikan untuk mengunakan lensa Sony A-mount dengan adapter. Meskipun lensa 55mm f/1.8 dan 35mm f/2.8 secara kualitas optik sangat baik, tapi bukaan maksimum f/1.8 dan f/2.8 tidak terlalu mengesankan bagi penggemar fotografi serius dan profesional.

sony-fe-35mm-f14-01Lensa Sony Zeiss FE 35mm f/1.4 ini merupakan jawaban Sony dan merupakan lensa fix 35mm yang terbaik saat ini. Kamera ini memiliki desain yang cukup unik karena adanya aperture ring di lensa. Sampai saat ini, hanya lensa ini yang memiliki fitur ini. Pilihan bukaan lensa mulai dari yang terbesar f/1.4 sampai f/16. Pilihan antara 1/3 stop juga tersedia, demikian juga pilihan A (Auto). Ada tuas Click (ON-OFF) untuk mengatur bukaan lensa dengan mulus tanpa klik/step. Biasanya ON untuk fotografi dan OFF untuk videografer untuk mengubah bukaan lensa saat merekam video).

sony-fe-35mm-f14-02

Built-quality dari lensa ini tergolong profesional, weather sealing, termasuk tahan air dan debu dan kelembababan untuk fotografi di cuaca yang tidak bagus.

Lensa berbukaan besar dan built-quality yang berkualitas tinggi disertai dengan adanya aperture ring mengakibatkan dimensi lensa agak besar dan juga beratnya lumayan. Dibandingkan dengan lensa DSLR profesional Canon dan Nikon, yang Sony sedikit lebih panjang dan berat (11,2 cm, 630 gram). Sebagai perbandingan: Lensa Canon 35mm f/1.4 L (panjang 8,64 cm, berat 580 gram). Nikon AF-S 35mm f/1.4 (panjang 8,94 cm, berat 601 gram).

Image Quality

Di pasang di Sony A7s (12MP), ketajaman lensa ini sangat tinggi sampai di tingkat pixel (Zoom 100%/actual pixel). bahkan di bukaan terbesar f/1.4, di pasang di kamera Sony A7 mk II (24 MP), ketajaman di tingkat pixel tidak setajam saat dipasang di kamera resolusi 12 MP, tapi cukup tajam. Ruang tajam sangat tipis saat memotret dengan bukaan besar (f/2.8-f/1.4) terutama saat memotret subjek dari jarak dekat (close-up). Foto-foto di artikel ini mengunakan kamera Sony A7 mk II.

Distorsi hanya sedikit (kurang lebih 1%) ada tapi mudah dibetulkan dengan software, dan masih lebih bagus daripada lensa lebar pada umumnya (sekitar 2-4%). Tidak perlu dikuatirkan. Vinyeting (gelap di ujung foto) ada, terutama di bukaan terbesar, tapi menurut saya tidak perlu dikuatirkan juga. Warna, kontras lensa ini sangat bagus. Bagian yang tidak fokus/blur juga cukup bagus. Chromatic abberation hanya muncul saat foto kontras tinggi seperti hitam diatas putih dan saat di zoom 100%. Tidak muncul saat mencetak ukuran sedang (A3-A2).

Kesimpulannya kualitas gambar hasil lensa ini sangat baik dan sedikit kelemahannya relatif dengan lensa Sony FE lainnya.

Kecepatan autofokus

Kinerja autofokus lensa ini cukup cepat saat dipasang di kamera A7 mk II, juga tidak bersuara. Saya mendapati kecepatan autofokusnya melambat saat mengunakan bukaan kecil seperti f/8-f/16. Saat mengunakan di bukaan besar, f/2.8-f/1.4 kecepatan autofokus masih baik meskipun di tempat yang cukup gelap misalnya saat memotret matahari terbenam.

Pengalaman memotret dengan Sony 35mm f/1.4

Saya menikmati memotret dengan lensa Sony 35mm f/1.4 karena kualitas gambar yang bagus dan kendali aperture ring yang unik untuk lensa Sony. Bagian out of focus (blur/bokehnya) sangat bagus dan smooth. Yang saya sayangkan adalah lensa cukup besar dan berat relatif terhadap lensa fix Sony lainnya seperti Sony FE 35mm f/2.8 atau FE 55mm f/1.8. Tapi saya bisa memaklumi karena jika dibuat lebih ringkas dan ringan, mungkin ada yang mesti dikompromikan, seperti maksimum bukaan yang lebih kecil, distorsi yang lebih menonjol, atau ketajaman yang berkurang.mille-crepe-01 ice-lemon-tea-01

Kesimpulan

Lensa ini dibuat tanpa kompromi oleh Sony dan Zeiss. Biasanya, Sony dan Zeiss mengorbankan bukaan lensa, atau kualitas (distorsi, vinyet, dll) demi untuk ukuran lensa supaya kecil dan harga yang lebih terjangkau. Tapi untuk Zeiss 35mm f/1.4 Sony dan Zeiss tidak berkompromi. Saya senang akhirnya Sony mengeluarkan lensa semacam ini. Jarak fokus 35mm adalah salah satu focal length yang populer, untuk travel, kondisi kurang cahaya, video, environmental portrait dan sebagainya.

Harga lensa ini USD$1598 atau sekitar Rp 22 juta. Salah satu lensa yang paling tinggi harga relatif terhadap lensa Sony FE lainnya. Meskipun demikian saya rasa pantas karena kualitas dari lensa ini sangat bagus. Sebelum membeli lensa ini, saya ingin mengingatkan Anda bahwa ini bukan lensa zoom yang lebih praktis, kita perlu banyak jalan/berpindah untuk komposisi. Tapi ini sebenarnya merupakan hal yang bagus, dengan banyak bergerak, badan lebih sehat.

Kelebihan lensa Sony Zeiss FE 35mm f/1.4 

  • Kualitas gambar (ketajaman, kontras, warna sangat baik)
  • Kualitas fisik lensa sangat baik
  • Aperture ring di lensa, bisa di click/mulus (berguna untuk video)
  • Autofokus cepat dan senyap

Kekurangan lensa Sony Zeiss FE 35mm f/1.4

  • Ukuran dan berat
  • Harga relatif tinggi

Jika ingin membeli lensa ini, boleh menghubungi kami  0858 1318 3069 / infofotografi@gmail.com untuk memesan, atau order via ranafotovideo.com

Spesifikasi lensa Sony FE 35mm f/1.4

  • Filter 72mm
  • Lensa FE, bisa dipasang di Sony A7, Sony NEX, Sony APS-C
  • Berat 630 gram
  • Dimensi:  78.5 x 112mm
  • Magnifikasi : 0.18x
  • Jarak fokus minimum : 30 cm
  • Bilah diafragma : 9, berbentuk bulat
  • Bukaan: f/1.4 sampai f/16
  • Sudut : 64 derajat di full frame, 44 derajat di kamera APS-C

pintu

cat-gallery

zeiss-35mm-01

artist

{ 7 comments }

Setelah sukses mengadakan beberapa workshop Sony Alpha (Jelajahi fitur kamera mirrorless dan mengenal sistem flash Sony Alpha), kini Infofotografi bekerjasama dengan Sony kembali untuk mengadakan hunting bareng di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara.

Sunda Kelapa

Hunting bareng ini diadakan di pagi hari saat cahaya matahari masih lembut dan tidak terlalu panas. Kita bisa berkeliling di sekitar pelabuhan Sunda Kelapa dan memotret kapal-kapal pinisi dan aktivitas pelabuhan dan penduduk setempat.

Di hunting ini, Enche Tjin akan berbagi tip dan trik untuk setting autofokus untuk subjek bergerak, tidak bergerak, autofokus dan juga tip-trik manual fokus.

Kesempatan hunting ini juga membuka peluang teman-teman untuk bertemu, berkenalan dan sharing fitur-fitur dan setting kamera mirrorless terutama kamera Sony Alpha & Sony NEX.

Bonus: Tip-trik setting kamera Sony A7, A6000, A5100, A5000, NEX, dll, dalam bentuk e-book (PDF) edisi revisi. Ekslusif hanya untuk peserta dikirim melalui e-mail saat registrasi.

Karena tempat terbatas (maksimum 30 peserta), maka disarankan untuk mendaftar terlebih dahulu.

Biaya mengikuti acara ini Rp 50.000 saja per orang. [ Maaf, tempat sudah penuh ]
Pembimbing : Enche Tjin

 

Tersedia konsumsi minuman dan snack.

DSC09916

Hari/Tanggal: Minggu, 7 Juni 2015. Pukul 07.00 – 10.30 WIB
Tempat: Pelabuhan Sunda Kelapa.
Meeting point: Lapangan parkir di dalam Sunda Kelapa

Info dan konfirmasi pendaftaran:
0858 1318 3069 /infofotografi@gmail.com
Rek. BCA 4081218557, Mandiri 1680000667780
Atas nama Enche Tjin

DSC09941

*Foto-foto diatas dibuat oleh Enche Tjin dengan Sony A7S dan lensa Sony FE 28mm f/2 di Pelabuhan Sunda Kelapa  bulan Maret 2015 yang lalu.

{ 6 comments }

Baru saja ada dua kabar menarik hadir hampir bersamaan, yaitu FujiFilm meluncurkan kamera mirrorless Fuji X-T10 dan Panasonic juga merilis Lumix DMC-G7. Dari segmentasinya, Fuji X-T10 dimaksudkan sebagai versi ‘ekonomis’ dari X-T1 yang populer, sedangkan Lumix G7 adalah penerus dari Lumix G6 (yang juga ditujukan sebagai versi ‘ekonomis’ dari Lumix GH4) yang berada diatas seri GF dan dibawah seri GX dan GH. Secara kebetulan, Fuji X-T10 dan Lumix G7 dijual di kisaran harga yang mirip (800-900 USD), spesifikasi dan fitur yang dimiliki juga banyak kesamaan.

Kedua kamera 16 MP ini misalnya sama-sama menjadi kamera mirrorless yang punya jendela bidik yang detail (2,36 juta dot), punya dua roda kendali setting, built-in flash dan hot shoe, serta banyak fungsi kustomisasi tombol. Deretan fitur itu kerap menjadi must-have features pada kamera untuk fotografer yang lebih serius, selain itu fitur must have untuk kamera 2015 seperti fitur Wifi juga ada pada kedua kamera. Dari bentuknya memang Fuji X-T10 masih mengadopsi desain retro klasik, sedang Lumix G7 membawa kesan modern futuristik, dan ukuran keduanya juga kurang lebih sama.

Fuji X-T10

Fuji X-T10 dari depan, tampak sensor ukuran APS-C

Dalam banyak hal Fuji X-T10 memang masih banyak kemiripan dengan Fuji X-T1, misalnya dibuat dengan desain bodi berbahan magnesium alloy (namun tidak weathersealed) dan ada roda pengaturan shutter speed di bagian atas bodi. Bedanya kini X-T10 justru menyediakan pop-up flash, walau sebagai komprominya ukuran jendela bidik jadi mengecil.

[click to continue…]

{ 7 comments }

Tour Melaka 18-20 September 2015

Melaka (Malaka/Malacca) adalah kota bersejarah yang terletak di tepi Selat Malaka. Karena lokasinya yang strategis dalam perdagangan di abad ke-15, Melaka adalah tempat pemberhentian penting bagi Laksamana Cheng Ho selama tahun 1405-1433. Armadanya biasanya berjumlah lebih dari 300 kapal dan 27.000 kru kapal.

Di Melaka, saat musim tertentu, kru kapal menetap di Melaka dalam jangka waktu lama dan sebagian menetap dan menikah dengan orang lokal. Pernikahan antara warga Tiongkok dengan warga Melayu membuat kebudayaan baru yang dinamakan budaya peranakan Baba Nyonya.

melaka-01Di tahun 1550 Portugis datang menjajah Melaka. Di tahun 1641, Belanda mengalahkan Portugis dan menguasai Melaka. Di tahun 1824, Belanda menukar wilayah dengan Inggris yaitu Bengkulu dengan Melaka , dan kemudian Melaka bergabung dengan Malaysia di tahun 1963.

Sejarah yang panjang dan berliku-liku membuat Melaka kota bersejarah yang sangat penting di masa lampau. Dan untungnya lagi masih banyak peninggalan sejarah baik berupa arsitektur ataupun budaya yang masih dijaga dengan cukup baik.

Dalam kesempatan ini, saya ingin mengajak teman-teman pembaca/alumni untuk ikut dalam acara tour Melaka. Dalam tour ini banyak lokasi dan kesempatan untuk menyalurkan hobi fotografi (termasuk spot narsis) dan kuliner :)

christ-church-iesan

Highlight tempat yang dikunjungi:

  • Jonker Walk : Pasar malam yang menjual berbagai snack dan  suvenir di sepanjang jalan dengan arsitektur jaman dulu.
  • Red Square : Dikelilingi oleh bangunan berwarna merah dengan arsitektur Belanda. Salah satu yang ikonik yaitu Christ Church & Stadhuys.
  • Riverwalk : Menjelajahi sungai di pagi atau sore hari sambil memotret merupakan sensasi tersendiri.
  • St. Paul Church : Terletak di sebuah bukit dan kini yang tersisa adalah reruntuhan dan batu nisan berukuran besar
  • Mesjid Selat Melaka : Termasuk mesjid yang baru dibuat. Mesjid ini unik karena terletak dipinggir laut. Spot populer untuk foto sunset atau prewedding.
  • Jalan Tokong, dimana terdapat beberapa tempat ibadah yang sudah sangat tua seperti Cheng hoon Teng (1645), kelenteng tertua di Melaka, Mesjid Kampung Kling  (1868) yaitu salah satu mesjid tertua di Melaka dan Pura Sri Poyyatha Vinayagar Moorthi (1890-an).

Karena Melaka merupakan tempat pertemuan banyak suku bangsa, maka banyak sekali jenis makanan yang beragam. Oleh sebab itu, saya akan memandu teman-teman untuk mencoba berbagai jenis makanan khas di Melaka.

selat-melaka-mosque

iesan-liang

Highlight kuliner:

  • Makanan Baba Nyonya : Makanan khas keturunan masyarakat Tionghua dan Melayu di Melaka. Beberapa yang terkenal yaitu Ayam buah Keluak, Ikan asam pedas, Cincalok, Es Cendol (halal).
  • Ayam Tandori dan Naan : Makanan khas India yang sangat terkenal karena komunitas warga India yang cukup besar di Malaysia. (halal).
  • Hainan Chicken dan rice ball : Banyak imigran dari Hainan yang menetap di Melaka dan mempopulerkan makanan khas Hainan yaitu ayam rebus dengan nasi Hainan. Bedanya dengan tempat lain yaitu di Melaka, nasinya dibuat dalam bentuk bulat seperti bola pingpong. (ada restoran yang halal, ada yang tidak).
  • Dimsum, Bakcang biru, Bakpau, Lumpiah. Biasanya untuk sarapan.  (non-halal)
  • Nasi Lemak (seperti nasi uduk) dengan lauk telor, ikan teri, kacang, sambal (halal).
  • Mille Crepe : Cake asal Perancis yang memiliki crepe berlapis-lapis.
food-melaka-collage-01

Dari kiri atas, searah jarum jam: Mille Crepe, Chicken rice ball, bakcang, ayam Tandori

food-melaka-collage-02

Dari kiri atas, searah jarum jam : Cincalok, ayam buah keluak, lumpiah, dim sum

Tanggal pelaksanaan tour: Jum’at – Minggu, 18 – 20 September 2015

Biaya tour: Rp 2.250.000,-

Titik kumpul di Bandara KLIA.

Tempat terbatas 16 peserta saja.

Peserta dianggap sudah terdaftar apabila melunasi biaya tour.

Bisa ditransfer ke Enche Tjin via BCA 4081218557 atau Mandiri 1680000667780

Pembatalan: Boleh digantikan dengan orang lain. Tiket tidak bisa refund, tapi bisa diubah jadwalnya dengan membayar biaya administrasi maskapai.

Biaya termasuk:

  • Guide dan bimbingan fotografi
  • Transportasi bus pp KL-Melaka
  • Akomodasi hotel baru gaya minimalis, sharing 2 orang
  • Makan malam di hari pertama

Biaya tidak termasuk:

  • Tiket pesawat ke KL (kurang lebih Rp 1-1.5 juta) dengan Malaysia Airlines
  • Makan dan minum di hari kedua & ketiga
  • Biaya masuk tempat wisata seperti museum (opsional)

Informasi: 0858 1318 3069 / infofotografi@gmail.com

{ 0 comments }

Memilih sistem : APS-C atau Full Frame?

Memilih sistem kamera kalau ditinjau dari ukuran sensornya bisa dibagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok kamera dengan sensor APS-C dan full frame. Dulunya sistem full frame adalah sistem yang dipakai oleh fotografer pro, lalu untuk kebutuhan hobi dan profesi (semi pro) tersedia pilihan sistem APS-C. Awalnya baik sistem full frame maupun sistem APS-C keduanya dikemas dalam format kamera DSLR, dan tersedia baik untuk merk Canon dan Nikon. Saat kamera mirrorless sudah semakin populer seperti sekarang, tercatat hanya Sony yang menyediakan dua sistem pada lini Alpha mereka, yaitu A7 series untuk full frame dan A6000 ke bawah untuk APS-C (walau Sony juga masih menyediakan 2 sistem untuk format SLT A-mount juga). Sedangkan Fuji, Canon dan Samsung tampak sudah nyaman dengan format mirrorless APS-C, dan di kelompok lain juga ada merk yang tetap konsisten di format lebih kecil seperti Micro 4/3 atau sistem 1 inci.

Pertanyaan yang kerap dirasakan oleh mereka yang akan mulai terjun di bidang fotografi, atau mereka yang akan ganti sistem adalah, sistem APS-C atau sistem full frame yang akan dipilih? Pilihan ini bukan sekedar berapa harga kameranya, atau sistem mana yang hasil fotonya lebih bagus. Pilihan tentu perlu mempertimbangkan banyak hal, misal dukungan (dan harga) lensa, juga kita perlu bisa memprediksi arah jangka panjang dari produsen kamera yang kita minati. Serumit itu kah? Ya begitulah kira-kira..

nikon-d750

Kita ambil contoh Nikon. Produsen kamera yang satu ini sudah membagi segmentasi DSLR full frame (FX) mereka dengan lengkap, yaitu D610, Df, D750, D810 dan D4s. Sedangkan di lini APS-C (DX), walau ada duo pemula (D3300-D5500) dan DX semi-pro (D7200) tapi tidak se-variatif lini FX. Selain itu juga produksi lensa DX tipe baru semakin jarang terdengar, Nikon terlihat lebih sering membuat lensa FX (memang lensa FX bisa dipasang di bodi DX tapi kan lensa DX juga punya kelebihan dalam hal ukuran yang kecil dan harga yang terjangkau). Dari hal ini wajar kalau banyak pihak menyimpulkan Nikon seperti lebih mementingkan sistem FX mereka. Tapi apa benar begitu tentu pihak Nikon yang lebih tahu, kita hanya menebak-nebak saja.

canon5ds-r

Sistem DSLR Canon tampak lebih seimbang, baik lini APS-C dan full frame segmentasinya sama-sama lengkap. Sedikit catatan saja bahwa lensa-lensa Canon EF-S (yang dirancang untuk sistem APS-C) tidak bisa dipasang di bodi Canon full frame. Dan agak mirip dengan Nikon, belakangan ini jarang terdengar ada kabar Canon memproduksi lensa EF-S baru, kecuali hanya menyegarkan lini yang sudah ada dengan teknologi STM. [click to continue…]

{ 17 comments }

Bahas foto Karang Bereum

Saat berkunjung ke Sawarna tgl 25 & 26 April yang lalu, tidak disangka-sangka hujan cukup deras dan terus menerus dari sore sampai malam hari. Untungnya di hari kedua, cuaca cukup baik meskipun agak berawan. Saat matahari terbit, langit mulai menjadi lebih biru dan awan membentuk pola dan warna yang menarik.

Saya berdiri diatas karang yang cukup tinggi dan memotret dari atas. Meskipun hari sebelumnya mendung, tapi ombak cukup tinggi, saya tidak perlu menunggu terlalu lama untuk menunggu ombak melewati karang seperti hari-hari lainnya.

karang-beureum-01

Untuk komposisi foto ini, saya mencoba menyeimbangkan karang Beureum (karang merah) yang berada di sebelah kiri, dan awan yang berada di sebelah kanan.

Supaya airnya terlihat halus, saya membutuhkan shutter speed yang lambat (mendekati satu detik). Tapi saat itu langit sudah cukup terang, dan meskipun ISO sudah 100 dan bukaan relatif kecil (f/8), shutter speed yang saya dapatkan masih cukup cepat yaitu sekitar 1/60 detik. Shutter speed 1/60 detik belum mampu memuluskan air. Oleh sebab itu, saya memasang filter ND 6 stop sehingga bisa mendapatkan shutter speed yang relatif lambat (0.8 detik). Karena air mengalir cukup cepat, maka aliran air yang mulus bisa didapatkan.

Data teknis: ISO 100, f/8, 0.8 detik, Filter 6 stop.

Hasil foto saya agak butek warnanya karena saya memotret dengan file RAW yang belum diproses. Saat di proses/edit di Lightroom, saya mencoba menaikkan warna supaya terlihat lebih menarik. Nilai Vibrance dan Saturation saya naikkan, beserta saturasi masing-masing warna kunci seperti biru, unggu, magenta dan orang saya tinggikan supaya warna-warna tersebut lebih menonjol seperti apa yang saya lihat pagi itu.

Screen Shot 2015-05-11 at 10.04.30 AM

karang-ba


Infofotografi secara rutin mengadakan tour fotografi, termasuk ke Sawarna. Yang paling dekat adalah tanggal 13 & 14 Juni 2015. Bagi yang berminat ikut, silahkan hubungi 0858 1318 3069 atau infofotografi@gmail.com untuk mendaftar.

Belajar Lightroom bisa lewat buku secara otodidak, atau hadiri workshop sehari Infofotografi. Info jadwalnya di sini. Hub 0858 1318 3069 untuk mendaftar.

{ 4 comments }