≡ Menu

Review Sony A7S III – Hasil penantian selama 5 tahun

Seri kamera Sony A7S merupakan kamera yang dirancang lebih untuk videografi, dan A7S generasi ketiga ini cukup lama masa pengembangannya yaitu selama lima tahun. Lima tahun bukan waktu yang singkat dan tentunya banyak peningkatan dari Sony A7S II.

Sensor yang digunakan tetap 12MP dengan arsitektur BSI yang lebih cepat dan di kondisi gelap lebih baik, dan dual processor Bionz XR untuk memproses data video dan memungkinkan perekaman video 4K 120p 10 bit 4:2:2 internal dan Full HD 240p, bisa juga merekam 4K RAW secara external.

Desain kamera

Secara desain, A7S III mengikuti Sony A7 lainnya yaitu seperti kamera DSLR dengan jendela bidik di bagian atas kamera dan dengan pegangan yang cukup besar. Yang berbeda di A7S III adalah adanya layar LCD yang bisa diputar ke samping dan segala arah, dan sedikit lebih tebal dari A7R IV karena A7S sudah mengunakan full size HDMI port.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Kamera Fuji X-S10 adalah kamera yang meneruskan lini mid-range Fuji X-T dua digit seperti X-T30. Sebagai penerus, desain X-S10 sangat berbeda dari X-T30 yang berdesain seperti kamera film. X-S10 lebih mirip dengan desain SLR modern dengan adanya mode dial dan pegangan/grip yang lebih menonjol dan jendela bidik di bagian tengah kamera.

Pengunaan nama S menandakan desain gaya baru yang berbeda dengan T. Pemilihan huruf S sesuai dengan desain dan fitur baru yang ada di kamera ini. Secure, stabilization dan simple. Secure karena pegangannya yang lebih dalam, lebih aman saat memasang lensa besar/panjang, stabilization karena punya built-in stabilization 5 axis, dan simple karena ada mode dial yang ada pilihan Automatic-nya. 

Yang menarik dari kamera ini adalah built-in stabilization di body tapi ukurannya jauh lebih compact dan tipis dari Fuji X-T4 dan Fuji X-H1 tapi tetap mempertahankan efektivitas stabilizer sampai 6 stop, terobosan dari segi teknologi mekanis yang patut diacungi jempol.

Mirip dengan Fuji X-T200, di bagian belakang ada layar LCD yang cukup besar yang bisa diputar ke segala arah. Pengguna kamera ini akan banyak berinteraksi dengan layar sentuh ini untuk memilih area fokus atau untuk akses fungsi-fungsi tertentu dengan swipe empat arah. tapi sayangnya belum bisa touch menu. Terdapat juga joystick dan beberapa tombol. Salah satunya adalah AF-On yang ukurannya agak besar dibandingkan dengan tombol yang lain.

Posisi joystick agak dinaikkan untuk memudahkan pengguna untuk menjangkaunya. Secara umum, handlingnya terasa lebih nyaman dibandingkan sebagian besar kamera Fuji lainnya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa yang menarik bagi sebagian fotografer adalah film simulation. Di X-S10 ini, ada 18 film simulation, termasuk Classic Negative dan Eterna Bleach Bypass, yang berarti X-S10 memiliki film simulation yang complete dan up to date sampai saat ini, setara dengan yang dimiliki Fuji X-T4.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Rekomendasi lensa L-mount untuk Leica, Lumix dan Sigma

L-mount adalah sistem mounting kamera yang dibuat dan diumumkan pertama kali oleh Leica di tahun 2014. Awalnya Leica menamai mount ini T-mount dan kamera pertama yang mengunakan ini adalah Leica T, kamera dengan sensor APS-C, kemudian disusul oleh Leica SL tanggal 20 Oktober 2015 dengan sensor full frame.

Leica T, kamera pertama yang mengunakan L-mount.

Di tahun 2016, Leica mengumumkan penerus Leica T yaitu Leica TL, saat itu nama T-mount berubah menjadi TL-mount. Di tahun 2018, Leica, Panasonic dan Sigma mengumumkan pembentukan Aliansi yang mengunakan TL-mount dan untuk menyederhanakan, sistem mounting kamera ini berubah nama lagi menjadi L-mount, dan aliansinya dinamakan L-mount Alliance.

Di artikel ini saya ingin berbagi tentang pilihan lensa L-mount dari tiga perusahaan ini:

[continue reading…]
{ 0 comments }

Review lensa Lumix S 20-60mm f/3.5-5.6

Lensa Lumix S 20-60mm adalah lensa untuk sistem kamera mirrorless full frame L-mount. Lensa ini diumumkan pada bulan Mei 2020 dan tersedia dalam paket pembelian dengan kamera Lumix S5.

Lumix S 20-60mm ini merupakan lensa yang unik tapi penting bagi sistem Lumix S karena selama ini belum ada lensa baik zoom maupun fix yang ukurannya ringkas dengan harga yang terjangkau. Berbeda dengan lensa zoom full frame pada umumnya yang mulai dari 28mm, lensa ini mulai dari 20mm, yang signifikan lebih luas dan termasuk kategori ultra-wide.

Meskipun harganya paling terjangkau dan beratnya hanya 350 gram saja, lensa ini punya fitur yang lengkap, contohnya memiliki stepper motor fokus yang cepat dan senyap, fluorine coating yang melindungi bagian depan lensa debu dan minyak, lensa ini juga dust & splash proof, dan freezeproof, aman digunakan di suhu ekstrim.

High Res Mode ISO 100 f/11 0.4 detik
Crop dari foto diatas
[continue reading…]
{ 1 comment }

Nikon belum tutup di Indonesia

Tanggal 21 Oktober 2020 yang lalu, beredar berita heboh bahwa Nikon Indonesia pamit dari Indonesia. Berita ini disalahpahami oleh banyak orang bahwa Nikon tidak lagi melayani penjualan kamera secara resmi di Indonesia. Anggapan ini salah karena yang pamit hanya PT Nikon Indonesia saja, tapi bukan distributor resmi Nikon yaitu PT Alta Nikindo.

[continue reading…]
{ 2 comments }

Review lensa Canon RF 24-105mm f/4-7.1 IS STM

Dalam jajaran lensa untuk kamera full frame, banyak lensa zoom yang diawali dengan fokal 24, misalnya 24-70mm, 24-105mm, 24-140mm bahkan 24-240mm yang bisa dipilih sesuai kebutuhan. Menurut saya, rentang fokal 24-105mm termasuk seimbang antara kegunaan, kualitas dan ukuran. Maka itu tak heran banyak produsen membuat lensa 24-105mm seperti Canon EF 24-105mm f/4 untuk DSLR. Di era mirrorless, Canon membuat lensa serupa yang diberi nama RF 24-105mm f/4L yang kualitasnya sangat baik. Sayangnya lensa ini termasuk mahal, dan juga agak besar. Bagi pengguna kamera EOS RP misal, terlihat kameranya kurang sepadan dibanding lensanya. Nah, untungnya Canon membuat juga satu lensa yang punya rentang fokal sama persis tapi fisiknya lebih kecil yaitu RF 24-105mm f/4-7.1 IS STM, dan akan saya review di kesempatan ini.

Perbandingan dua lensa RF24-105mm

Saat EOS R diluncurkan 2 tahun lalu, bisa dibilang RF 24-105mm f/4-7.1 ini adalah lensa kitnya. Menjadi alternatif yang lebih murah dan lebih kecil dari lensa 24-105mm f/4L, lensa ini punya perbedaan utama dalam hal variabel aperture. Artinya semakin di zoom, bukaan lensa menjadi semakin kecil. Di 24mm memang bisa f/4, di 35mm sudah agak turun ke f/4.5 dan di 50mm bisa didapat bukaan f/5. Bila diteruskan ke 70mm akan menjadi f/6.3 dan baru pada 85mm menjadi f/7.1. Memang di era mirrorless makin banyak ditemui lensa dengan bukaan kecil, karena berbeda dengan di era DSLR, kamera mirrorless masih bisa auto fokus bila cahaya yang masuk ke kamera itu sedikit (akibat bukaan lensa yang kecil). Adapun untuk bukaan terkecil, lensa ini bisa mencapai f/22 bahkan jadi f/32 di posisi tele.

Canon RF 24-105mm dipasang di EOS RP

Saya akan bahas soal kabar baiknya. Pertama, lensa ini punya kualitas optik yang sangat baik, terlepas dari kelasnya yang dibawah dari lensa L series. Hasil foto di bukaan maksimal sudah tajam, di posisi paling wide hingga paling tele juga tidak menurun, dan bokehnya diluar dugaan saya mampu memberi blur out-of-focus yang enak dilihat. Kabar baik kedua, kinerja IS di lensa ini sangat mantap. Saya mencoba di posisi lensa 100mm dan masih bisa dapat foto yang tajam dengan shutter 1/2 detik, handheld. Jadi bila dihitung, sudah mencapai 5 stop. Foto berikut ini contohnya.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Fujifilm X-T3 vs Fuji X-S10

Kedatangan Fujifilm X-S10 yang mengangetkan di akhir tahun 2020, tentunya membuat pemirsa jadi agak bingung, apa bedanya dengan Fuji X-T3, kamera keluaran tahun 2018 yang sepertinya memiliki harga dan spesifikasi utama yang mirip dengan X-S10.

Kiri Fujifilm X-T3, Kanan X-S10

Secara kualitas gambar, keduanya akan sama, karena memiliki sensor yang sama: 26MP X-Trans APS-C CMOS sensor, tapi keduanya berbeda fitur dan desainnya.

[continue reading…]
{ 4 comments }

Fuji X-S10 – Kesan pertama kamera penerus X-T30

Di awal pengembangan kamera mirrorless sekitar tahun 2010-2015 Fujifilm terkenal sebagai pembuat kamera yang mengedepankan desain klasik seperti kamera film jaman dulu. Bukan hanya dari desain fisiknya saja, tapi juga cara pengaturannya seperti adanya shutter speed dial yang berada diatas kamera dan gelang untuk mengatur aperture di lensa.

Fuji X-S10, cocok saat dipasang dengan XF 18-55mm f/2.8-4
[continue reading…]
{ 1 comment }

Mungkin teman-teman merasa heran, mengapa saya membahas tentang hard disk/SSD? Apa kaitannya dengan dunia fotografi dan videografi? Jika dipikir-pikir, di era digital ini, tentunya media penyimpanan menjadi sangat penting karena foto yang kita potret dan video yang kita rekam, semuanya kita simpan di dalam hard disk atau SSD.

Pernakah saat membuka foto atau video terasa lambat loadingnya dan saat mengeditnya terasa lambat sampai kadang-kadang kamera hang/crash? Seringkali hal tersebut terjadi bukan karena spesifikasi prosesor, memory dan graphic card yang kurang baik, tapi sering disebabkan oleh kinerja hard disk yang kita gunakan.

[continue reading…]
{ 3 comments }

Canon EOS M50 mk II hadir dengan minor update

Sebagai kamera mirrorless APS-C yang begitu populer, Canon EOS M50 banyak dinantikan regenerasinya di tahun 2020 ini, seiring tren konten kreator yang sering memotret dan merekam video. Memang Canon M50 ini punya resep sukses yang sulit dibantah, yaitu kamera yang memberi hasil yang cukup baik, dengan harga cukup terjangkau, dan penggunaan yang mudah. Ditambah lagi desain layar LCD yang articulated membuat M50 lebih diminati dibanding saudaranya seperti M200 atau M6 (layar flip ke depan), atau M5 (layar lipat ke bawah).

Canon EOS M50 mk II

Dan akhirnya Canon resmi mengumumkan kehadiran EOS M50 mk II yang punya kesamaan dengan produk sebelumnya dalam hal :

  • desain bodi, layar, jendela bidik dan baterai yang sama
  • sensor yang sama 24 MP
  • prosesor sama (Digic 8)
  • resolusi video 4K tetap 24p, crop 1,5x
[continue reading…]
{ 0 comments }