≡ Menu

Sudah merupakan tren kamera compact masa kini perlu lensa yang bisa zoom panjang untuk membedakan dengan kamera ponsel, maka itu pada tgl 15 Juni 2018, Leica mengeluarkan penerus lini Leica C-Lux.

Kamera baru ini memiliki desain yang menarik yaitu dua warna pilihan yaitu Light Gold dan Midnight Blue.

Fitur kamera Leica C-Lux adalah:

  • Sensor 1 inci yang lebih bagus daripada kamera compact dan ponsel pada umumnya, 20 MP.
  • Zoom 15x (paling jauh di kelas kamera compact) ekuivalen 24-360mm f/3.3-6.4 dengan Optical Image Stabilization
  • Autofocus cepat dengan foto berturut-turut 10 foto perdetik
  • Format RAW dalam bentuk DNG yang full compatible dengan software Adobe
  • Wifi untuk sharing foto
  • Rekam video 4K 30 fps, 100 Mbit.
  • Built in viewfinder 2.33 MP dan layar touchscreen 1.2 juta titik

Yang tidak ada di Leica C-Lux yaitu tidak memiliki hotshoe untuk memasang flash/external mic, atau kemampuan ganti lensa.

Juga tersedia berbagai aksesoris untuk melengkapi Leica C-Lux yang baru ini, diantaranya full leather case dan half case dengan pilihan warna biru tua, coklat dan merah.

Dilihat dari fiturnya, kamera ini cocok untuk siapa saja yang menyukai travel light, tapi bisa mendapatkan rentang zoom yang lebar. Sebagai info, 24mm cukup untuk pemandangan secara umum, dan 360mm cukup untuk sebagian besar kegiatan olahraga, satwa.

Dibandingkan dengan Leica D-Lux 109, kamera ini lebih ideal dibawa outdoor di kondisi pagi-sore hari, tapi kalau D-Lux ini meski lensanya lebih pendek, tapi bukaannya lebih besar dan sensor gambarnya juga lebih besar, jadi lebih ideal untuk kondisi gelap misalnya malam hari atau indoor.

Harga kamera ini saat saya menulis artikel ini belum diumumkan oleh Leica Store Indonesia, tapi saya perkirakan sekitar 14-17 juta dan mungkin akan tersedia di bulan Agustus 2018. Review kamera akan menyusul saat saya berkesempatan mencoba Leica C-Lux yang baru ini.


Bagi yang berminat untuk memesan kamera ini atau yang lainnya bisa hub WA 0858 1318 3069 atau infofotografi@gmail.com Trims.

{ 5 comments }

Bahas foto : Mystic Tree

Salah satu subjek foto kesukaan saya adalah alam, terutama pohon-pohon yang berkarakter unik. Di curug (air terjun) Cimarinjung, Ciletuh, saya menemukan pohon yang unik disamping air terjun.

Saya berkunjung kesini pagi hari, sekitar jam 8.30 tiba di lokasi dan jalan beberapa ratus meter ke curugnya. Saat saya tiba, matahari belum terlalu naik, masih tertutup oleh tebing, maka itu saya menunggu sekitar 1 jam, dari jam 9 sampai 10 pagi.

Data teknis: ISO 50, f/13, 1/4 detik, 52mm, Polarizer filter (CPL) Leica SL, Leica SL 24-90mm f/2.8-4

Dengan sabar saya menunggu, akhirnya matahari lebih tinggi dari bukit dan muncullah rol (ray of light) menyinari kabut pagi. Saya menunggu sampai kabutnya tidak menutupi pohon tersebut. Setelah mengambil lima foto dalam jangka waktu 10 menit, akhirnya terpilih yang ini karena posisi kabutnya paling baik.

Secara komposisi saya memang sengaja tidak memasukkan keseluruhan air terjun, karena jika saya masukkan semua, maka akan konflik dengan pohonnya sebagai subjek utama (POI/point of interest). Dengan memasukkan sedikit aliran air, kabut dan tebing, maka pemirsa akan dapat mengetahui lingkungan dimana pohon itu berada. Jadi, jika kita ke lokasi air terjun, tidak melulu harus air terjunnya yang dipotret, tapi perhatikan juga keadaan sekeliling, mungkin ada pohon, batuan atau hal-hal lain yang menarik disekitar curug.

Secara teknis, mengunakan kamera dan lensa menengah sudah bisa, asal punya tripod, dan filter CPL supaya foto lebih kontras dan detail. Tapi saya beruntung mengunakan Leica SL dan 24-90mm, karena kombinasi kamera dan lensa tersebut dapat menangkap detail dengan baik, tapi tidak terlalu tajam dan keras sehingga terkesan gambar “digital”. Hasil akhir foto setelah saya naikkan kontras  di Adobe Lightroom terlihat menjadi seperti lukisan (painterly).


Saya dan Mas Erwin Mulyadi berencana mengadakan trip foto ke Ciletuh sambil memberikan bimbingan tentang foto air terjun seperti teknik slow speed, penggunaan filter dan sebagainya di pertengahan bulan Juli (Sabtu dan Minggu) Bagi yang berminat untuk bergabung, silahkan hubungi WA 0858 1318 3069. Kali ini peserta akan dibatasi 6 orang saja.

Bagi yang ingin dibantu untuk mengembangkan teknik dan komposisi fotografi, saya juga mengadakan Photo Clinic, dimana saya akan membahas foto-foto peserta dan berbagi pengalaman & pengetahuan saya dalam fotografi.

{ 3 comments }

Photo Clinic dengan Enche Tjin – 23 Juni 2018

Konsep Photo Clinic ini adalah membantu teman-teman yang telah rutin memotret tapi ingin mendapatkan masukan dan kritik supaya kualitas fotografi-nya bisa lebih bagus dan berkembang. Masukan yang akan diberikan tidak hanya dari aspek teknis, tapi juga dari segi artistik dan editing.

Masing-masing peserta wajib membawa foto-foto yang ingin dibahas (maksimum 20 foto per peserta) dalam usb drive/flash disk atau media penyimpanan yang lain. Dipersilahkan juga membawa laptop tapi tidak wajib.

Selesai mengikuti Photo Clinic ini, masing-masing peserta akan mendapatkan ide dan inspirasi baru bukan hanya dari instruktur tapi juga dari sharing peserta lainnya.

Tempat klinik: Infofotografi, Rukan Sentra Niaga Blok N-05, Green Lake City, Duri Kosambi, Jakarta Barat.

Pembimbing: Enche Tjin
web: enchetjin.com
instagram: enchetjin

Biaya : Rp 500.000 per orang

Maksimum 6 orang

Hari/Tanggal: Sabtu 23 Juni 2018

Pukul 13.00 – 17.00 WIB*
*Tergantung jumlah peserta

Karena tempat terbatas, harap menghubungi kami di 0858 1318 3069 untuk mendaftar dan transfer biaya Rp 500.000 ke rek BCA 4081218557 atas nama Enche Tjin

{ 0 comments }

Lensa untuk foto model

Pertama-tama sebelum mencari lensa yang ideal untuk model, sebaiknya memang masing-masing mengetahui format sensor kamera yang digunakan, apakah APS-C, full frame atau micro four thirds. Mengapa? Karena format sensor akan menentukan focal length lensa yang pas (yang tidak terlalu lebar dan tidak terlalu tele).

Lensa Nikon 85mm, salah satu lensa klasik dari jaman film favorit saya. Not for Sale 🙂

Untuk kamera berformat APS-C (sebagian besar kamera digital SLR/mirrorless memiliki format ini), lensa 50mm dan 85mm cocok untuk foto portrait model setengah badan dan head and shoulder.

Bagi yang memiliki kamera full frame, lensa 85mm dan 135mm cocok untuk jenis foto portrait yang sama.

Sebenarnya, jika ingin mengunakan lensa yang lebih lebar seperti seperti 35mm di APS-C atau 50mm di full frame juga oke, tapi saya sarankan untuk foto 2/3 atau satu badan dan memasukkan banyak latar belakang.

Lensa fix lebih ideal untuk foto portrait karena punya kelebihan yaitu bukaannya besar, biasanya tajam dengan harga yang tidak terlalu mahal. Tapi bukan berarti tidak bisa memotret model dengan lensa zoom. Idealnya, lensa zoomnya harus yang berbukaan cukup besar misalnya 24-70mm f/2.8 dan 70-200mm f/2.8. Lensa yang berbukaan besar membuat bagian yang tidak fokus lebih blur dan juga memasukkan lebih banyak cahaya ke dalam kamera sehingga memotret di kondisi cahaya yang agak gelap juga tidak masalah.

Kamera Leica SL, lensa: Nikon AF-S 85mm f/1.4D via Kipon Adapter, 1/125 detik, f/2, ISO 160 (Auto ISO) 85mm Model: Julie Sagita

[click to continue…]

{ 13 comments }

Sony RX100 VI Potret kamera compact masa kini

Seri compact Sony RX100 biasanya memiliki lensa yang berbukaan besar seperti ekuivalen 24-70mm f/1.8-2.8, tapi versi ke VI ini sangat berbeda karena memiliki lensa yang lebih panjang rentang zoomnya yaitu ekuivalen dengan 24-200mm (8.3X zoom), tapi dengan bukaan maksimum yang lebih kecil yaitu f/2.8-4.5 untuk mempertahankan ukuran kamera yang kecil.

Penghobi fotografi dan profesional biasanya lebih antusias melihat lensa yang bukaan lensa yang besar, tapi pasar compact yang semakin menurun membuat Sony dan produsen compact lain sepertinya harus memutar otak, bagaimana membuat kamera yang lebih baik dari kamera ponsel. Salah satu kelemahan kamera ponsel biasa saat ini adalah belum memiliki zoom yang mumpuni, maka itu membuat kamera compact dengan zoom yang jauh menjadi prioritas produsen untuk menjauhkan kamera compact canggih ini dari kamera ponsel.

[click to continue…]

{ 6 comments }

Duel mirrorless basic : Canon EOS M50 vs Fuji X-T100

Selama ini konsumen yang akan membeli kamera mirrorless diberi dua pilihan segmen harga, yaitu yang basic di kisaran 5-8 jutaan dan yang lebih diatasnya dengan harga 12 juta ke atas. Ada gap yang hingga kini jarang tersentuh yaitu segmen harga di kisaran 10 jutaan. Belakangan ini barulah produsen kamera mirrorless mulai tertarik menyasar segmen tersebut, diawali dengan Canon EOS M50 yang dijual 11 jutaan, dan baru saja Fuji menghadirkan X-T100 di kisaran 10 jutaan.

Kedua kamera sejatinya adalah kamera basic, tapi ditingkatkan fiturnya dengan adanya jendela bidik. EOS M50 itu anggap saja versi EOS M100 dengan jendela bidik, sedang Fuji X-T100 agak unik, dia adalah seperti X-A5 dalam bodi Fuji XT yang retro klasik. Kini banyak yang bertanya di web infofotografi antara keduanya lebih baik pilih yang mana. Saya coba jawab melalui artikel ini ya..

Memilih sistem kamera itu sudah pernah saya ulas, tidak semudah membeli ponsel atau laptop. Kita perlu mengenali dulu karakteristik tiap merk kamera, bagaimana pilihan lensanya, bagaimana konsep desain dan ergonominya, juga aksesori lain seperti flash, adapter dan lainnya. Canon misalnya, dikenal sebagai kamera yang mudah dipakai, menu dan tampilan layarnya mudah dipahami, dan punya harga yang umumnya menarik. Di sistem mirrorless EOS-M, Canon mulai bangkit dengan banyak membuat kamera baru, meski belum ada lensa EF-M baru, tapi koleksi lensa Canon EF-M yang ada sudah mencukupi untuk berbagai kebutuhan dasar.

Bagi yang sudah punya DSLR Canon, membeli EOS M50 akan dimudahkan dengan memasang adapter sehingga tidak usah beli lensa lagi. Di pihak Fuji, soal kamera dan lensa memang pilihannya lebih banyak dari Canon EOS-M. Desain kamera Fuji biasanya terkesan retro klasik, dengan kualitas bodi yang mantap berbahan campuran logam. Bicara soal penggunaan kamera, pemakai Fuji biasanya perlu usaha ekstra untuk bisa menguasai semua fitur dan menu-menunya yang cukup kompleks. Lensa Fuji sendiri berkualitas tinggi, banyak pilihan lensa fix bukaan besar dan umumnya lensa Fuji harganya termasuk tinggi.

Kita coba bedah lebih detail perbedaan antara kedua kamera ini : [click to continue…]

{ 11 comments }

Lumix GX9 baru ini dipersembahkan oleh Panasonic sebagai kamera premium untuk para fotografer jalanan (street photographer) dengan desain bergaya Range Finder klasik (istilah untuk kamera analog, mengintai langsung tanpa melalui lensa) yang sempurna untuk pemotretan casual/sehari-hari, foto jalanan, candid, dan travel. Kehadiran photo style L.Monochrome D plus Grain yang baru ini, melengkapi predikat kamera ini menjadi kamera foto jalanan yang disandangnya (umumnya foto jalanan sangat menarik dalam nada monochrome).

Lumix GX9 adalah kamera berdesain gaya “Range Finder” (bagian atas datar tidak berpunuk seperti DSLR), yaitu bertubuh kotak klasik dengan bagian atas datar dan jendela bidik berada disebelah kiri atas, dihadirkan dengan dua pilihan warna, masing-masing bertubuh hitam dan bertubuh silver bagian atasnya.

Istilah kamera Range Finder sebetulnya adalah untuk kamera analog yang jendela bidiknya tidak terintegrasi dengan lensa (melihat subjek tidak melalui lensa) seperti gambar kamera yang dibelakang.

[click to continue…]

{ 10 comments }

Memotret aksi olah raga memerlukan peralatan yang mendukung dan juga keahlian sang fotografernya. Pemilihan setting kamera yang tepat, jeli mengamati subyek, tepat dalam menangkap momen adalah hal-hal yang perlu dikuasai oleh fotografer aksi khususnya olahraga.

Untuk itu kami mengajak untuk memotret aksi olahraga sepeda di BSD yang kerap dipakai untuk ajang balap sepeda dengan kecepatan tinggi yang menantang untuk difoto.

Cocok untuk melatih kemampuan anda dalam memotret aksi karena disini ada kombinasi antara atraksi dan kompetisi, dan di kegiatan ini nanti dibimbing langsung oleh saya (Momi Poernomo) sehingga lebih terarah dalam prakteknya.

Kegiatan ini dijadwalkan pada :

  • hari : Sabtu, 30 Juni 2018
  • waktu : 15.30-18.30 WIB
  • tempat : BSD Xtreme Park, Foresta Tangerang

Biaya untuk mengikuti kegiatan ini Rp. 50.000,- termasuk bimbingan, tiket masuk dan konsumsi. Acara ini terbuka untuk pengguna kamera DSLR maupun mirrorless, peserta dibatasi maksimal 12 orang. Bagi yang berminat mendaftar bisa menghubungi ke 0858-1318-3069. [click to continue…]

{ 0 comments }

Berat kamera dan lensa berapa yang ideal?

Dalam beberapa tahun terakhir, berat kamera dan lensa menjadi suatu faktor yang sangat menentukan bagi pembeli kamera baru.. Ya, termasuk saya juga. Tapi sepuluh tahun lalu saya tidak terlalu memikirkan hal tersebut. Saat pertama kali membeli kamera DSLR yaitu Canon 40D (berat 822 gram) dengan lensa Canon EF 28-135mm f/3.5-5.6 IS USM (540 gram).  Saat mencari informasi kamera tersebut, saya tidak berusaha mencari tau beratnya, yang penting sesuai kebutuhan saja sudah oke.

Dua tahun setelahnya, karena saya mendapatkan pekerjaan yang cukup rutin dan memiliki sedikit rezeki tambahan, saya membeli kamera baru yaitu Nikon D700. Berat kameranya 1095 gram. Lensa-lensa yang saya gunakan juga tidak ringan, diantaranya Sigma 24-70mm f/2.8 dan 70-200mm f/2.8 masing-masing 790 gram dan 1430 gram.

Saya juga punya cadangan kamera Nikon D90 (850 gram). Wah berat juga kalau dipikir saat itu. Tapi memang tuntutan kerjaan saat itu dan alat yang paling bisa diandalkan ya set-up seperti itu. Saat ini mungkin masih banyak fotografer liputan profesional yang mengunakan set-up serupa.

Mulai dari 2012, saya sudah jarang kerja di bidang fotografi profesional, karena saya sudah fokus full time ke Infofotografi (menulis, mengajar, review dan mengadakan trip), maka saya sangat tertarik saat Nikon meluncurkan D600, karena secara fisik, dan berat, kamera ini lebih kecil dari D700. Beratnya mirip 40D yaitu hanya 850 gram dengan baterai.

Dari 2014-2017 kamera-kamera mirrorless mulai muncul, saya juga mencoba beberapa merk dan type kamera, yang rata-rata beratnya sekitar 400-600 gram. Lalu di pertengahan tahun 2016, saya berjodoh dengan kamera Leica SL yang beratnya hampir sama dengan kamera awal saya, yaitu  847 g.

Tapi sayangnya lensa Leica SL 24-90mm saya sekitar 1 kg lebih, jadi masih jauh dari berat lensa pertama saya, tapi mungkin kedepannya mudah-mudahan ada lensa Leica SL yang lebih ringan dan yang beratnya sekitar 500-600 gram 🙂

Dari pengalaman selama 10 tahun terakhir, sepertinya saya memang nyaman dengan kamera yang bobotnya sekitar 850 gram. Rasanya lebih mantap saat memotret di studio ataupun outdoor. Tapi kenyamanan setiap orang beda-beda. Mungkin ada baiknya mencari tahu masing-masing. Nah, bagi yang sudah tau, kira-kira berapa berat kamera/lensa yang nyaman? Boleh dong sesekali sharing di kolom komentar dibawah.

{ 13 comments }

Selama ini kita kerap dibingungkan dengan jargon di kamera digital khususnya Fuji yang mengklaim sensornya berbeda, yaitu X-Trans sensor (misal di X-T20, X-T2 dsb) dan seolah lebih unggul dari kamera lain. Benarkah demikian? Saya akan mengulasnya untuk anda melalui artikel kali ini, selamat membaca.

Bagaimana kamera ‘menangkap’ warna

Warna RGBKamera menangkap warna warni di alam dengan cara menggabung tiga warna dasar yaitu merah (Red), hijau (Green) dan biru (Blue) dan hebatnya pencampuran dari tiga warna ini bisa menghasilkan bermacam warna lainnya. Di era fotografi film, pada sebuah roll film terdapat tiga lapis emulsi yang peka terhadap warna merah hijau dan biru. Di era digital, sensor kamera mengandalkan filter warna RGB yang cara kerjanya sebetulnya cukup simpel (atau rumit, tergantung bagaimana anda menyikapi ini). Bila seberkas cahaya polikromatik (multi warna) melalui filter merah, maka warna apapun selain warna merah tidak bisa lolos melewati filter itu. Dengan begitu piksel yang diberi filter merah hanya akan menghasilkan warna merah saja, demikian juga dengan piksel lainnya yang diberi filter hijau dan biru. Artinya setiap piksel hanya menghasilkan satu warna saja antara merah, hijau atau biru yang tersusun dalam sebuah matrix warna yang berulang. Diperlukan komputer di kamera untuk ‘menterjemahkan’ warna sesungguhnya dari kombinasi RGB yang dihasilkan sensor kamera tersebut. Hal yang sama kita bisa jumpai juga di layar LCD seperti komputer atau ponsel yang tersusun dari piksel RGB.

Proses image capture

Bayer CFA

Sesuai nama penemunya yaitu Bryce Bayer, seorang  ilmuwan dari Kodak pertama kali memperkenalkan teknik ini di tahun 1970. Sensor dengan desain Bayer Color Filter Array (CFA) termasuk sensor paling banyak dipakai di kamera digital hingga saat ini. Keuntungan desain sensor Bayer adalah desain mosaik filter warna yang simpel cukup satu lapis, namun sudah mencakup tiga elemen warna dasar yaitu RGB (lihat ilustrasi di atas). Kerugiannya adalah setiap satu piksel pada dasarnya hanya ‘melihat’ satu warna, maka untuk bisa menampilkan warna yang sebenarnya perlu dilakukan teknik color sampling dengan perhitungan rumit berupa interpolasi (demosaicing). Perhatikan ilustrasi mosaik piksel di bawah ini, ternyata filter warna hijau punya jumlah yang lebih banyak dibanding warna merah dan biru. Hal ini dibuat mengikuti sifat mata manusia yang lebih peka terhadap warna hijau. [click to continue…]

{ 0 comments }