≡ Menu

Leica M10-P : Kamera M paling senyap dan canggih

Tanggal 20 Agustus 2018 ini, Leica mengumumkan kamera barunya Leica M10-P. Kamera ini merupakan pembaharuan / variasi dari Leica M10 yang diluncurkan Januari 2017. Leica M10-P memiliki layar Touchscreen dan memiliki suara shutter yang paling senyap dibandingkan dengan kamera Leica M sebelumnya, termasuk kamera Leica analog. Hot shoe cover M10-P terbuat dari logam, bukan plastik seperti yang biasanya. Salah satu tambahan lagi adalah Level Gauge/horizon level saat Live view.

Secara fisik spesifikasi teknis, M10-P hampir sama dengan M10. 24MP Full Frame sensor. Lalu untuk apa M10 P? Secara tradisi, varian P memang tidak banyak berbeda dengan M10, hanya dibuat lebih minimalis sehingga tidak mencolok saat dibawa jalan-jalan. Untuk itu logo Leica berwarna merah dihilangkan, diganti dengan ukiran di bagian atas kamera, sehingga kamera ini terlihat seperti kamera film jadul.

Di generasi M (Typ 240), varian MP-nya mendapatkan buffer yang lebih lapang, dari 1 GB memory menjadi 2 GB. Jika kita bandingkan dengan MP-MP generasi sebelumnya, pembaharuan M10-P terasa lebih banyak gunanya hehe.

Harga Leica M10-P tentunya lebih tinggi dari M10, yaitu USD7995. Harga resmi Di Indonesia 129.900.000.


Bagi yang membutuhkan kamera ini, atau ingin belajar mengoperasikan kamera Leica, silahkan kabar-kabari di WA 0858 1318 3069, saya dapat membantu.

{ 0 comments }

Bagaimana saya menentukan pilihan kamera?

Meskipun Enche dan mas Erwin sudah menyusun panduan untuk memilih kamera, saya sendiri terus terang merasa kebingungan untuk menentukan pilihan. Hal ini dikarenakan keinginan untuk memiliki kamera dan lensa yang berkualitas namun hanya rela mengeluarkan dana yang minim alias pelit. Hehehe…. Tentu saja hal ini tidak akan ketemu karena umumnya harga berbanding lurus dengan kualitas.

Keinginanku sangat sederhana sebenarnya. Saya ingin memiliki kamera bersensor besar (setidaknya full-frame) dikombinasikan dengan lensa yang kecil dan ringan lalu dengan harga seperti kamera compact. Nah, ga heran kan kalau sampai sebelum tulisan ini dikeluarkan, saya belum pernah punya kamera yang benar-benar dibeli atas keinginan sendiri setelah Sony A6000.

Tidak tahan dengan sifat saya yang tidak bisa menentukan pilihan dan mengambil keputusan, Enche pun akhirnya menyarankan untuk membeli Panasonic Lumix G9 (23 juta) dengan lensa Leica 12-60mm f/2.8-4 (12.4jt) karena dalam beberapa bulan terakhir ini saya selalu menggunakan kamera ini (pinjaman Panasonic Indonesia, trims 🙂 ) dan sangat puas dengan hasilnya baik di foto maupun videonya. Akan tetapi, dengan dana sekitar 35 juta, saya sudah bisa mendapatkan kamera fullframe seperti Sony A7II dengan lensa yang cukup bagus seperti 24-70mm f/4 ataupun Sony A7III dengan lensa kit 28-70mm. Jika ingin menambah sedikit di 39 juta, kita bisa dapat Sony A7RII + lensa 24-70 f/4.

Lalu mengapa saya tidak memilih Sony Full Frame?
Pertimbangan saya selanjutnya adalah jikalau sudah memilih kamera Sony Full Frame, opsi saya untuk pilihan lensa menurut gaya fotografi saya sebagai berikut:

[click to continue…]

{ 5 comments }

Perlukah lensa telefoto untuk foto landscape?

Secara umum, lensa untuk landscape photography yang populer adalah lensa lebar. Jarak fokal lensa lensa lebar biasanya sekitar 16 sampai 35mm dalam format full frame, atau 10-24mm dalam format APS-C, 8-18mm dalam format four thirds. Lensa telefoto juga merupakan lensa yang bagus untuk landscape photography. Jarak fokal lensa telefoto populer sekitar 70-400mm.

Danau Yamdrok, Tibet, 28mm, Leica Q

Sayangnya, saya perhatikan banyak penghobi fotografer saat ini malas membawa lensa telefoto karena biasanya karena ukurannya panjang dan berat. Tujuan mengunakan lensa tele untuk foto landscape adalah untuk menangkap detail subjek yang jauh.

Dari pengalaman saya, mengunakan lensa tele untuk landscape lebih menarik daripada lensa wide saja, karena di satu spot, jika mengambil lebar saja, maka foto-fotonya mirip dengan orang-orang lainnya yang mengambil foto dari posisi yang sama.

[click to continue…]

{ 7 comments }

Landscape photography (fotografi pemandangan) merupakan jenis fotografi yang paling populer. Saat ini, semua orang dapat memotret pemandangan dengan berbagai jenis kamera, tapi apakah ada kamera yang terbaik untuk jenis fotografi ini?

Di jaman film, kamera dan lensa yang digunakan fotografer profesional biasanya bertahan lebih dari 10 tahun karena teknologi film sudah matang (mature). Tapi saat memasuki era kamera digital, sampai saat ini teknologi kamera digital belum 100% matang, mungkin sekitar 80%. Sehingga tidak ada sistem kamera yang sempurna, maka itu, fotografer masih suka mengganti-ganti sistem kamera dalam beberapa tahun terakhir ini.

Dari pengalaman saya, ada beberapa kriteria yang penting dalam landscape photography:

1. Mampu menangkap detail (resolusi tinggi) dan tajam

Sistem yang baik perlu memiliki kamera yang beresolusi tinggi (20MP+ menjadi standar saat ini), dan idealnya sensornya tidak memiliki low pass filter/AA filter yang menurunkan ketajaman. Kualitas lensa juga mempengaruhi kualitas foto.

Resolusi tinggi memungkinkan untuk mencetak sangat besar dan saat dilihat dari dekat masih tajam. Sebagai gambaran, kamera 24MP sempurna untuk cetak foto dengan panjang 50 cm (300 dpi), kalau kualitas gambarnya bagus, 1 meter juga masih sangat baik. Kamera 45/50MP tentunya bisa dicetak lebih besar lagi dengan kualitas yang memuaskan.

[click to continue…]

{ 16 comments }

Review 7Artisans 35mm f/1.2 untuk kamera Fuji

7artisans saat ini cukup aktif dalam merilis lensa lensa manual berbukaan besar dengan harga murah dan compact untuk beberapa kamera mirrorless. Salah satu lensa yang saya coba adalah 35mm f/1.2 untuk Fuji. Lensa ini juga tersedia untuk kamera Sony E-mount APS-C.

Banyak kelebihan lensa ini yang menyebabkannya populer akhir-akhir ini, yaitu, bukaannya sangat besar, compact, harga terjangkau, dan jarak fokal lensanya cukup bervariasi, dari fisheye, 35mm, dan 50/55mm.

Bukaan yang sangat besar (f/1.2) memudahkan untuk memotret di kondisi yang sangat gelap misalnya malam hari, dan sekaligus membuat bagian yang tidak fokus menjadi blur/bokeh. Jarak fokal 35mm di kamera APS-C berarti sekitar 50mm (35 x 1.5), cocok untuk berbagai jenis fotografi terutama portrait, food, product, sampai street photography.

Secara desain, mengikuti klasik manual fokus lensa 1960-an, materialnya dari logam, bagus dan mulus. Sayangnya cat marka jarak fokus bukan di ukir dan di isi, jadi seiring penggunaan bisa jadi luntur.

[click to continue…]

{ 2 comments }

Tidak ada tas kamera yang ideal, dan sulit mencari tas yang memenuhi kebutuhan karena tas kamera biasanya dibuat untuk massal, bukan dirancang untuk kebutuhan individu. Meskipun kita sudah merasa sudah menemukan tas kamera yang ideal, tapi belum tentu tas tersebut ideal untuk waktu mendatang.

Contohnya saya dulu sering mengunakan kamera DSLR fullframe dengan lensa-lensa yang cukup besar, tapi kini lebih banyak traveling dengan kamera mirrorless dan compact. Tas kamera yang tadinya pas, sekarang jadi kebesaran. Untuk traveling, street photography dan urban exploration (urbex), saya membutuhkan tas yang lebih kecil.

Beberapa prioritas saya antara lain:

  • Memuat kamera mirrorless dengan 2-3 lensa ukuran kecil-menengah, ukurannya tidak terlalu besar dan tebal seperti gear box
  • Kedua adalah sifatnya modular, dan berisi divider yang fleksibel, sehingga bisa dikonfigurasi untuk berbagai kamera dan lensa
  • Kadang saya juga perlu tripod saat urbex, karena menjelang malam, saya perlu tripod untuk menangkap cahaya lebih banyak. Maka itu, tas yang bisa memuat tripod juga penting bagi saya
  • Saat travel yang agak lama, katakanlah seminggu dua minggu, saya akan membawa laptop untuk ngedit foto, backup foto dan bekerja. Kalau tas tersebut bisa memuat laptop 13 inci, saya akan sangat senang
  • Saat jalan-jalan jauh, saya biasa membawa botol air minum, jadi tas yang oke seharusnya juga menyediakan tempat itu.
  • Terakhir, desain tas harusnya enak dilihat, tapi tidak memancing terlalu banyak perhatian

Setelah beberapa bulan mengamati, saya menemukan beberapa tas kamera yang memenuhi sebagian besar kriteria saya.

[click to continue…]

{ 0 comments }

Teknik manual fokus untuk lensa manual 28mm

Leica Elmarit 28mm, biasanya lensa manual fokus memiliki marka jarak fokus

Memotret dengan manual fokus kadang menjadi momok fotografer masa kini yang sudah termanjakan dan semakin tergantung pada sistem autofokus. Tapi jangan lupa bahwa sebelum ada lensa autofokus, fotografer profesional semuanya mengunakan lensa manual fokus berpuluh-puluh tahun tanpa mengeluh.

Mengunakan teknik manual fokus di era sekarang lebih mudah mengunakan lensa manual fix (bukan zoom) dan lensa lebar seperti 28mm. Yang penting adalah kita mengetahui depth of field (ruang tajam) yang dihasilkan setiap jarak fokus yang dipilih.

Jika kameranya full frame seperti Leica Q, Leica SL atau Leica M, saya biasanya mengunakan f/8 supaya ruang tajamnya cukup. Untuk kamera sensor APS-C seperti Fuji XF10 atau Ricoh GR bisa mengunakan f/5.6 untuk mendapatkan ruang tajam yang setara.

Jarak fokus yang populer antara lain:

  • 1 meter, ruang tajamnya 0.75-1.5 meter
  • 1.5 meter:  1-3 meter
  • 2 meter: 1.2-5.6 meter
  • ∞ (Infinity): 1.64 m – tak terhingga

Teknik mengunakan efek ini tentunya tidak sulit, yang dibutuhkan adalah kesabaran dan kemampuan memperkirakan jarak dengan baik. Posisikan diri dalam rentang ruang tajam atau tunggu subjek masuk ke ruang tajam.

Keuntungan mempraktikkan manual fokus adalah tidak perlu sibuk memindahkan titik/area fokus dan menunggu fokus terkunci, tinggal jepret saja langsung, area ruang tajam tersebut sudah terjamin. Alhasil hasil foto lebih pas momennya.

ISO 2000, f/8, 1/500, 28mm, Leica Q

ISO 1000, f/8, 1/500, 28mm, Leica Q

Foto diatas mengunakan teknik manual fokus yang saya jabarkan diatas saat workshop fotografi ke pasar Petak Sembilan, Jakarta. Editing dengan Lightroom dan Silver Efex Pro. Teknik ini  bisa dilakukan di pengguna lensa manual 28mm atau kamera yang punya lensa 28mm.


Ingin belajar fotografi secara grup atau privat? Bisa periksa jadwal dan topik kursus dan kabar-kabari kami di 0858 1318 3069

{ 15 comments }

Lensa fix 50mm konon katanya adalah lensa wajib. Fokalnya yang normal, perspektif yang sama seperti mata manusia, bokehnya yang sudah oke, dan ukurannya yang kecil, kerap menjadikan alasan seseorang merasa perlu punya lensa 50mm ini. Tapi di pasaran biasanya lensa 50mm ada dua pilihan yaitu bukaan f/1.8 dan f/1.4 yang sekilas mirip-mirip. Kalau dana ada, saya sarankan pilih yang f/1.4 karena bisa lebih bokeh dan bisa lebih diandalkan di keadaan kurang cahaya. Meski hanya terpaut 2/3 stop saja, lensa f/1.4 harganya bisa berbeda banyak dengan yang f/1.8 dan disitulah dilema mulai muncul.

Bagi pengguna DSLR Canon, lensa 50mm f/1.8 bisa jadi adalah lensa paling populer sepanjang masa. Versi barunya (STM) dijual hampir 2 juta, sedang versi lama sepertinya sudah diskontinu. Untuk lensa 50mm f/1.4, Canon cuma punya satu pilihan saja seharga hampir 6 juta, dan itupun lensa lama yang entah kapan akan ada penerusnya (versi STM). Disitulah terbuka celah untuk pemain pihak ketiga mendesain lensa 50mm f/1.4 untuk Canon, salah satunya dari pihak Yongnuo. Produsen China yang terkenal akan flash ini memang sudah beberapa kali membuat lensa, salah satu yang saya suka dulu adalah YN 35mm f/2 yang harganya 1 jutaan saja, yang bentuknya nyaris sama dengan lensa Canon. Kini Yongnuo sudah merilis lensa fix 50mm berbukaan besar f/1.4 yang hebatnya tidak meniru desain Canon tapi lebih ke desain sendiri. Harganya? Sepertiga lensa Canon 50mm f/1.4 lah, masuk di kantong, tapi bagaimana dengan performa nya?

Canon 70D dengan Yongnuo 50mm f/1.4 tampak pas dan seimbang

Sebelum melihat kualitas lensa Yongnuo ini, saya paparkan dulu fakta speksifikasi YN50mm f/1.4:

  • full frame format, di APS-C akan setara dengan 80mm (cocok untuk lensa potret)
  • 9 elemen, tersusun atas 7 grup (1 ultra high reflactive index)
  • 7 bilah electronic aperture
  • DC motor auto fokus, tersedia jendela indikator fokus (MFD 45cm)
  • filter depan 58mm
  • mount logam, pin kontak elektronik campuran emas
  • bobot 572 gram (wow, berat juga lho..)
  • USB port untuk update firmware

[click to continue…]

{ 5 comments }

Bulan April 2018 ini, saya bersama beberapa teman Infofotografi ke Amritsar, India. Disana kita jalan-jalan, foto-foto sambil belajar tentang budaya orang-orang beragama Sikh di daerah Punjab, India bagian utara. Liputannya saya pernah sharing di artikel ini.

Nah, salah satu pengalaman yang menarik adalah kunjungan kita ke ruang makan dan dapur di dalam Golden Temple. Merupakan tradisi sejak era penemu agama Sikh, Guru Nanak untuk memberikan makanan (vegetarian) gratis kepada pengunjung Golden Temple. Makanan diberikan kepada siapa saja, tidak peduli agama, suku, ras dari pengunjungnya, sesuai dengan prinsip agama Sikh yang mengedepankan equality (persamaan). Pembagian makanan gratis ini dinamakan Langar.

Kami cukup kaget dengan jumlah orang yang sedang makan di ruang makan utama yang dapat menampung 5000 orang sekaligus. Kegiatan makan ini berlangsung terus menerus sehingga dalam sehari bisa mencapai 50.000-100.000 orang.

Lalu kami juga mengintip dapurnya dimana suasananya ramai, dan agak berantakan, tapi orang-orang disana selalu bergerak dengan cepat mempersiapkan makanan untuk pengunjung yang terus menerus berdatangan.

[click to continue…]

{ 0 comments }

Info dan kesan dalam peluncuran Sony RX100 VI

Infofotografi kembali di undang untuk menghadiri launching kamera compact premium Sony RX100 VI di restoran Plataran Menteng, Jakarta, hari Jum’at 27 Juli 2018. Di kesempatan kali ini, media memiliki kesempatan untuk mencoba kamera Sony RX100 VI dan juga mendapatkan informasi apa yang baru dari kamera ini dibanding seri sebelumnya, pengalaman fotografer yang sempat mencoba kamera ini dan info harga dan tentunya paket pre-order kamera ini.

President Director Sony Indonesia Kazuteru Makiyama menegaskan bahwa keunggulan kamera Sony adalah di teknologi sensornya dan segmen premium compact masih berkembang, sedangkan segmen pemula menurun.

Beberapa perbedaan Sony RX100 VI dibandingkan dengan RX100 V antara lain:

  1. Processor baru, memungkinkan kinerja AF 0.03 detik & eye tracking 2x lebih cepat
  2. Layar touch AF dan untuk review (pinch and zoom)
  3. Layar bisa ditekuk 90 derajat ke bawah dan 180 derajat ke atas
  4. Rentang zoom lebih panjang (24-200mm) dengan bukaan yang lebih kecil (f/2.8-4.5 dibanding f/1.8-2.8)
  5. Optical stabilization 4 stop, memungkinkan handheld sekitar 1/15 detik saat zoom ke 200mm.
  6. Buffer yang lebih lapang (bisa motret continuous shooting lebih lama)
  7. Pop-up EVF nya tidak perlu ditarik keluar saat ingin digunakan

[click to continue…]

{ 2 comments }