≡ Menu

Review Tamron 70-300mm f/4.5-6.3 untuk Sony E-mount

Lensa telefoto zoom Tamron ini dirancang untuk kamera mirrorless Sony yang bersensor full frame e-mount dan juga bisa dipasang di kamera Sony yang APS-C. Saat dipasang di kamera bersensor APS-C, maka akan dapat manfaat 1.5x crop menjadikan jarak fokalnya setara dengan 105-450mm.

Tamron 70-300mm di Sony A7III

Kesan saya pertama kali memegang lensa ini, saya merasa lensa ini compact dan relatif ringan (545gram). Desainnya simple, tidak ada tuas atau tombol di lensa, panjangnya 15cm dan akan memanjang saat di-zoom. Tersedia juga lens hood untuk melindungi bagian depan lensa.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Cara menjual Lightroom preset : Mudah & nambah income

Beberapa saat yang lalu, saya mendapatkan informasi dari teman fotografer yang mengenalkan saya dengan SociaBuzz, sebuah platform marketplace, tempat bertemunya fotografer, model, make-up artist untuk berkolaborasi atau menawarkan jasa.

Yang paling menarik yaitu SociaBuzz Shop, dimana fotografer, content creator atau editor dapat menjual produk-produk digital, misalnya Lightroom Preset, e-book, bahkan foto juga bisa dijual di marketplace tersebut.

Jualan produk digital di Indonesia tentunya tidak mudah. Jika kita menjual di platform internasional, mungkin akan terkendala dengan metode pembayaran yang tidak umum, misalnya kartu kredit dan paypal. Sedangkan Sociabuzz ini sudah menyediakan pembayaran yang lebih umum dan diterima oleh masyarakat Indonesia yang lebih luas seperti OVO, Gopay, transfer bank dan sebagainya. Akibatnya, calon pembeli akan merasa lebih nyaman dan aman.

Selain itu, produk digital kita tidak perlu mengurus produksi, stok, pengemasan dan pengiriman. Jualan produk digital bisa dibilang termasuk pendapatan pasif (passive income) bagi creator yang tentunya juga terdampak dengan pandemi tahun ini.

Menariknya kalau jualan di SociaBuzz juga ada affiliate marketingnya. Teman-teman yang sudah bergabung, atau akan bergabung di SociaBuzz bisa membantu untuk mempromosikan produk kita, dan sebagai imbalannya kita bisa memberikan komisi kepada mereka dan semuanya sudah diatur di SociaBuzz .

Cara menjual

  1. Teman-teman bisa langsung buka aja websitenya di SociaBuzz/shop dan klik tombol “Mulai Jualan”
  2. Lalu tinggal klik aja tombol “Daftar pakai Gmail”
  3. Lalu lengkapi informasi lainnya
  4. Kalau sudah, scroll ke bawah yang ada tulisan SociaBuzz Shop, lalu klik tombol “Buat”
  5. Lalu tinggal isi profile picture, bisa upload cover image juga kalau mau, lalu isi deskripsi
  6. Lalu tinggal upload file preset yang ingin dijual dengan klik “Tambah Yang Mau Dijual” dan pilih “File/Link (Satuan)”
  7. Lengkapi semua kolom isian yang ada, lalu klik “Simpan”
  8. Klik link halaman produknya untuk preview
  9. Lalu tinggal share linknya ke social media dan ke target customer yang kita miliki
  10. Nanti customer tinggal klik “Beli Sekarang” dan mereka bisa pilih metode pembayaran yang diinginkan, lalu langsung mengakses preset yang kita jual
  11. Dan kalau mau dibantu jualan oleh member2 yang sudah bergabung di SociaBuzz, bisa klik “Edit” di bagian yang ada tulisan “Komisi untuk affiliate”. Bebas mau kasih komisi berapa %. Lebih besar lebih menarik tentunya.

Cukup simple kan? Mudah-mudahan informasi ditata bisa membantu teman-teman creator yang sedang mencari penghasilan tambahan atau suka berbagi dengan sesama.

{ 4 comments }

Update firmware Lumix S5 ke versi 2.0

Lumix S5 belum lama diluncurkan, yaitu di awal Oktober 2020. Saat itu dijanjikan kalau di akhir November akan disediakan update firmware yang akan menambah fitur foto dan video. Dan akhirnya benar di 24 November 2020 melalui web resmi Panasonic disediakan beberapa update untuk kamera Lumix tipe S (Full frame) maupun tipe G (Micro Four Thirds).

File update untuk Lumix S5 sendiri bernama S5_V20.zip sebesar 86 MB bisa diunduh disini. Peningkatan yang didapat diantaranya :

  • peningkatan auto fokus
  • fitur video yang ditambahkan
  • ditambah photo style baru (L.Classic Neo dan L. Monochrome S)

Untuk auto fokus, Lumix S5 kini bisa mendeteksi body dan animal dalam mode 1 area AF. Saat rekam video dengan V-Log akan mendapat peningkatan peningkatan. Sedangkan fitur video yang ditambah diantaranya adalah adanya Cinema 4K (lebih panjang dari UHD), fitur vectorscope, dan juga output RAW 5,9K via HDMI.

{ 0 comments }

Review Nikon Z6 II

Nikon Z6 II merupakan kamera mirrorless bersensor full frame 24 MP dari Nikon yang ditujukan untuk content creator yang membutuhkan kamera berkualitas profesional untuk foto maupun videografi.

Nikon Z6 II adalah pembaharuan dari Nikon Z6 diantaranya mengunakan Dual EXPEED 6 processor yang memungkinkan kecepatan foto berturut-turut sampai maksimum 14 fps dengan buffer 124 foto (9 detik). Dengan processor baru, sistem autofokus juga meningkat kecepatan dan keakuratannya. Pengguna dapat mengaktifkan eye dan animal detection autofocus di auto-area AF atau wide AF di foto maupun video.

Bagi yang bekerja akan senang dengan dual card slot (XQD/CF Express dan SD card UHS-II), juga adanya ketersediaan vertikal grip MB-N11 yang akan bekerja optimal dengan dua baterai EN-EL 15c. Dengan grip dan baterai tersebut, kapasitasnya 1.9x lebih panjang dan bisa di charge langsung dengan power bank.

Untuk fitur video, Z6 II bisa merekam video 4:2:2 N-Log, HLG dan RAW sampai dengan 12 bit RAW dengan external recorder Atomos Ninja V & Blackmagic Design. Untuk perekaman internal ke memory card, Z6 II mampu merekam 4K UHD 30p/60p dengan slow motion 120p di Full HD 1080.

[continue reading…]
{ 2 comments }

Sharing 5 (lima) tips untuk pengguna kamera Sony A7

Tips 1 : maksimalkan fitur SteadyShot dengan baik. Set ke posisi ON bila memotret tanpa tripod, khususnya saat shutter agak lambat atau pakai lensa tele. Set ke posisi OFF bila diatas tripod, supaya foto lebih tajam maksimal. Untuk setting Adjustment bisa set ke Auto, sehingga kamera akan memberikan efek stabilisasi sesuai fokal lensa. Bila pasang lensa fix manual misal lensa 50mm, maka tentukan sendiri Focal Length SteadyShot ke angka 50mm.

Pengaturan SteadyShot

Tips 2 : Manfaatkan pengaturan viewfinder dan monitor LCD dan gunakan setting Sunny Weather untuk outdoor. Ini membantu membuat layar tampak terang saat outdoor (meski membuat baterai lebih cepat habis).

Auto akan membuat jendela bidik menyala bila kamera mendeteksi kita mendekatkan mata ke jendela bidik

Tips 3 : atur level Noise Reduction sesuai kebutuhan (baik untuk Long Exposure NR dan High ISO NR). Bila saat memotret dengan shutter lambat kita tidak mau menunggu proses Long Exposure NR yang lama (misal motret dengan 30 detik, akan tambah lagi 30 detik untuk NR), bisa set ke Off. Resikonya mungkin akan muncul noise di hasil foto, meski pakai ISO rendah.

Untuk High ISO NR, akan mengurangi noise saat pakai ISO tinggi. Pilihannya ada Low, Medium dan High. Memilih High ISO di posisi High kurang disarankan karena akan menurunkan detail foto dan terlihat sangat halus.

Tips 4 : Manfaatkan tombol Center untuk kustomisasi AF. Tombol tengah lingkaran di belakang bila ditekan akan bisa memberi fungsi yang spesifik saat auto fokus. Namun syaratnya fungsi tombol tengah ini harus diatur ke Standard, bukan di kustomisasi ke fungsi yang lain. Tombol tengah ini akan berfungsi :

  • Memulai/mengakhiri trakcing Lock-on AF (bila posisi Wide Area AF dan di menu Center Lock-on AF di set ke On)
  • Menjadi Center focus area (bila posisi Wide Area AF dan di menu Center Lock-on AF di Off)
  • mengembalikan titik fokus ke tengah Saat di posisi Zone atau Flexible Spot

Tips 5 : Kenali pengaturan dual slot SD card, bila kameranya mendukung dual slot memory (misal A7 III). Bila anda punya SD card UHS-II pasanglah pada slot yang sesuai (yaitu slot 1), untuk menikmati kecepatan baca tulisnya. Bila tidak, maka kecepatannya akan diturunkan seperti standar UHS-I. Bila kartu anda hanya yang berjenis UHS-I maka dipasang di slot manapun kecepatannya tetap sama.Untuk setting Prioritize Record Media, sebaiknya tidak usah diubah, biarkan di slot 1 karena slot itulahyang mendukung UHS-II. Untuk Auto Switch Media, normalnya ini di posisi off. Tapi bila di On, dan recording mode diset ke Standard, dan di kedua slot terisi SD card, maka bila slot 1 penuh, akan dilanjutkan memakai slot 2.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Perkembangan kamera 2020 dan kedepan

Tahun 2020 merupakan bencana bagi pabrikan kamera. Pandemi global yang berlangsung mulai dari awal tahun memaksa sebagian besar orang untuk tidak berkumpul dan traveling, membuat penjualan kamera, lensa dan aksesoris jatuh bebas.

Sebelumnya, pasar kamera memang sudah melesu, karena banyak hal tentunya, tapi penyebab utama adalah kamera ponsel sudah dirasa cukup baik bagi masyarakat awam dan kamera yang dimiliki dirasakan masih bagus.

Pabrikan kamera di tahun 2020 bukannya tidak melakukan apa-apa, tapi cukup aktif meluncurkan kamera baru. Beberapa diantaranya memiliki kualitas dan teknologi yang canggih. Tapi kedepan, banyak pe-er yang masih harus dikerjakan.

Canon

Canon punya beberapa sistem mount, akibatnya di pasar yang menciut akan terbagi konsentrasinya dan kegiatan produksi dan riset mungkin akan jadi mahal dan merepotkan.

Saat ini Canon punya EF mount (DSLR), M mount (mirrorless APS-C), RF mount (mirrorless full frame). Sepertinya kedepannya, Canon akan fokus ke satu mount saja, yaitu RF mount supaya lebih efisien. Tanda-tanda ini sudah terlihat di tahun ini, dimana kamera EOS Cinema C70 memiliki RF mount dan tidak adanya lensa-lensa baru untuk EF dan EF-M mount.

Melihat dari koleksi lensanya, Canon fokus ke kalangan atas dengan lensa-lensa f/1.2 untuk fix dan super-telefoto, koleksi lensa tersebut tentunya menarik bagi yang menyukai jenis fotografi portrait, wedding, sports dan wildlife.

Di tahun ini, Canon merilis Canon EOS R6 dan R5. Kedua kamera ini memantapkan posisi di Canon di kancah kamera mirrorless full frame untuk foto dan juga video. Kualitas kedua kamera ini cukup bersaing dan tapi antarmuka tombol, dial mungkin perlu lebih di tata lebih konsisten antar type-nya supaya yang mengunakan beberapa jenis kamera Canon tidak harus repot beradaptasi.

[continue reading…]
{ 6 comments }

Telah terbit, E-book panduan setting kamera Sony A7 III

Kabar baik bagi pengguna kamera Sony A7 III yang masih terkendala untuk mengatur setting di kameranya, kini kami sudah menghadirkan sebuah ebook baru berjudul Panduan Ringkas Sepuluh Pengaturan Penting Sony A7 III, dengan isi 36 halaman yang mencakup aspek foto, video, kustomisasi dan tentunya Auto fokus.

Contoh halaman isi buklet Sony A7 III

Dalam buklet ini, anda pengguna Sony A7 III akan bisa memahami berbagai pengaturan dasar seperti image setting, mode eksposur, flash, metering dan drive mode. Juga pengaturan auto fokus dan pengaturan parameter Picture Profile (PP) termasuk S-Log 2 dan S-Log3 yang diperlukan videografer serius.

Contoh halaman isi buklet Sony A7 III

Pengguna Sony A7 III untuk keperluan video juga bisa mendapat gambaran dari ulasan mengenai setting mode video, kompresi, hingga pengaturan di mode S&Q untuk slow motion dan timelapse yang mendukung kreativitas anda. Di akhir bahasan diberikan panduan kustomisasi seperti tombol, My Menu hingga Memory registration.

Untuk mendapatkan ebook ini silahkan hubungi Iesan di 0858-1318-3069 atau infofotografi@gmail.com


Tersedia juga :

{ 1 comment }

Leica Q2 Monochrom

Meneruskan kesuksesan kamera Leica Q, Leica mengumumkan kamera baru Leica Q2 Monochrom. Kamera bersensor full frame 47MP ini memiliki sensor hitam putih seperti Leica M Monochrom. Ini adalah kali pertama kamera Leica Q mendapatkan varian Monochrom.

Dari desain fisik, tidak banyak berbeda dengan Leica Q2 sebelumnya, tapi Q2 ini punya finishing matte (tidak mengkilap) seperti Leica QP, tanpa logo di bagian atas maupun depan kamera, menjadikan kamera ini sangat stealthy (seperti siluman). Bahkan huruf dan angka di lensa tidak memiliki warna, hanya putih, dan abu-abu.

Saksikan kesan Rony Zakaria, Leica Ambassador Indonesia tentang Leica Q2 Monochrom

Spesifikasi Leica Q2 Monochrom

  • 47 MP full frame sensor
  • ISO sampai dengan 100.000
  • Video 4K 24p
  • Sampai dengan 10 fps
  • Lensa autofokus Leica Summilux 28mm f/1.7 OIS
  • Jendela bidik 3.68 juta titik
  • Weather resistant
  • Berat 734g (dengan baterai)
Pembahasan singkat tentang fotografi hitam putih dan kesan mengunakan Leica Q2 Monochrom

Bagi yang ingin memesan kamera, atau ingin belajar fotografi, pengoperasian kamera, videografi dan editing, silahkan hubungi kami di WA 0858 1318 3069 / infofotografi@gmail.com

{ 0 comments }

Panasonic Lumix G100 Review – Kamera anti stres

Lumix G100 adalah kamera yang memiliki tagline stress-free vlogging, artinya kamera ini dirancang sesederhana dan se-compact mungkin untuk pengguna pemula dan dilengkapi dengan fitur yang membantu untuk membuat video bergaya vlogging.

Biasanya, vlogger pemula stres jika harus mengunakan gear yang besar dan berat, selain itu merasa ribet kalau harus memasang audio external di atas hot shoe dan clip-on ke baju vloggernya. G100 ini compact dan punya built-in mic yang cukup pintar.

Supaya mudah ber-vlogging, ukuran G100 dirancang se-compact mungkin, dengan berat yang relatif ringan (352g dengan baterai). Layar LCD-nya bisa diputar kedepan, dan autofocus-nya bisa deteksi wajah dan mata.

Susunan tombol dan dial juga ramah untuk pemula dengan tombol record merah yang cukup besar dengan mode dial yang mengikutsertakan mode S&Q untuk teman-teman yang suka rekam video slow motion dengan cepat. Menu di G100 sudah touchscreen dan ada pemisahan yang jelas antara fitur video dan foto menjadikan mencari menu jadi relatif mudah.

Tentang kualitas audionya, Panasonic bekerjasama dengan Nokia untuk membuat built-in mic dengan kemampuan tracking yang menurut saya cukup canggih dan membantu. Saat di set di auto, jika dia mendeteksi wajah, maka dia akan tracking arah suara tersebut dan menolak suara lingkungan dari samping dan belakang, sehingga suara subjek lebih dominan dan bersih. Kita juga bisa mengatur tracking ke arah belakang kamera (back) saat travel jika ingin bercerita tentang pemandangan yang di depan kita.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Sebulan belakangan ini, ada berita menarik dari dua perusahaan yang tidak asing lagi bagi yang mengikuti perkembangan dunia fotografi dari era film ke digital SLR. Kedua perusahaan ini termasuk yang telat beradaptasi ke digital apalagi ke era mirrorless. Tapi tidak seperti banyak merk yang sudah tidak aktif dalam membuat kamera dan lensa seperti Kodak, Rollei, KonicaMinolta dst, Zeiss dan Pentax masih membuat kamera dan lensa meskipun tidak seaktif merk yang lain.

Zeiss ZX1
[continue reading…]
{ 0 comments }