≡ Menu

Photo trip ke Bogor : Street dan Budaya (3 November 2019)

Hari Minggu tanggal 3 November 2019, kita akan kembali mengadakan trip foto ke Bogor dengan dua agenda, yaitu memotret street photography pagi hari di dekat kebun raya, dilanjutkan dengan memotret kegiatan pertunjukan budaya Sunda di kampung Sindang Barang.

Street Photography pagi hari di Bogor

Pada trip ini saya (Erwin M.) akan mendampingi peserta untuk memotret street dan budaya sekaligus memberi masukan terhadap setting kamera, komposisi, momen dan evaluasi hasil fotonya. Trip ini dirancang singkat namun efektif, dengan target peserta bisa mengasah skill memotret candid dan human interest sambil menikmati udara Bogor yang sejuk.

Pertunjukan budaya di Sindang Barang

Kita berangkat dari Sarinah jam 05.30 pagi dengan satu mobil Elf, kemudian memotret street jambil berjalan kaki menyusuri kampung hingga jam 8 pagi, lalu melanjutkan perjalanan ke Sindang Barang untuk memotret pertunjukan budaya mulai jam 10 pagi. Setelah acara selesai, kita makan siang di lokasi sambil membahas hasil foto, kemudian pulang kembali ke Jakarta. Estimasi tiba kembali di Jakarta jam 15.30 WIB.

[click to continue…]
{ 0 comments }

Sigma fp, mirrorless full frame terkecil dan teringan (422g dengan baterai dan memory card) yang diumumkan bulan Juli 2019 lalu segera akan tersedia akhir tahun 2019 ini.

Distributor produk kamera dan lensa Sigma, PT Aneka Warna, telah membuka indent (pre-order) kamera Sigma FP ini dan akan tersedia di bulan Desember 2019. Harga kameranya Rp 31 juta, dan tersedia paket dengan lensa 45mm f/2.8 dengan harga 36.6 juta.

Sigma fp keren buat fotografi travel, tapi banyak fitur yang dikhususkan untuk merekam video.

Apa yang menarik dari Sigma FP ini?

Pertama, kamera ini adalah kamera full frame dengan fisik ter-compact, dan sifatnya modular, artinya bisa dikombinasikan dengan sesuai keinginan, misalnya yang butuh hotshoe ada modulnya, termasuk grip berukuran kecil dan besar.

[click to continue…]
{ 2 comments }

Masih ingat dengan Olympus E-M1 mark II? Bayangkan bila kamera ini dirilis kembali dalam ukuran yang lebih kecil dan lebih murah, dengan fitur dan ketangguhan bodi yang sama baiknya. Seperti menjadi mini E-M1 mark II, hari ini lahir sebuah kamera mirroless dari Olympus yaitu O-MD E-M5 Mark III yang menjadi penerus E-M5 Mark II (2015) dan kini memberi bodi polycarbonat yang lulus sertifikasi weather sealed IPX1 (tahan beku, tahan hujan dan tahan debu) plus dapat bonus eksternal flash mini dalam paket pembelian.

Olympus E-M5 Mark III dengan mount Micro 4/3 bisa dipasang lensa Olympus atau Panasonic, dengan crop factor 2x.

Pada sensor 20MP Micro Four Thirds di E-M5 Mark III ini, Olympus memberikan juga fasilitas hybrid auto fokus dengan 121 titik PDAF untuk auto fokus yang cepat (sebelumnya tidak ada PDAF di E-M5 Mark II). Hal ini juga berguna untuk mendukung fitur Pro Capture, yang memungkinkan untuk mendapat kecepatan memotret mencapai 30 fps (10 fps bila AF-C, yang mana masih termasuk cepat), dan juga shutternya mampu mencapai 1/8000 detik. Sensor yang didukung 5 axis stabilizer ini bekerja menstabilkan getaran hingga 5,5 stop dan bahkan bisa mencapai 6,5 stop bila dipasangkan dengan lensa M.Zuiko tertentu. Sensor shift ini pun bisa difungsikan untuk membentuk satu foto resolusi tinggi 50 MP bila digunakan diatas tripod, berguna untuk pekerjaan komersil seperti produk atau interior.

Kini roda mode dial kembali ada di kanan. Sebelumnya semua desain E-M5 lama roda mode dial ditempatkan di sisi kiri.
[click to continue…]
{ 2 comments }

Review kamera mirrorless FujiFilm X-A7

Usai acara peluncuran FujiFilm X-A7 di Kuningan Jakarta, tak lama berselang kami pun mendapat kesempatan untuk mencoba kamera teranyar dari Fuji yaitu Fuji X-A7 dengan lensa kit XC 15-45mm OIS PZ selama beberapa hari, dan berikut adalah review singkatnya.

FujiFilm X-A7 dengan lensa kit XC 15-45mm f/3.5-5.6 OIS PZ

Sebagai penerus dari X-A5, Fuji berhasil menghadirkan sang penerus yang lebih menarik bagi milenial karena disediakan layar LCD besar 3,5 inci dengan rasio wide 16:9 yang serasa melihat ke layar smartphone. Kreator konten video juga akan menyukai X-A7 karena layarnya bisa dilipat ke depan untuk vlogging, dengan resolusi 4K 30fps tanpa crop, dengan dukungan mic input. Penyuka fotografi akan mendapati X-A7 ini menggoda dengan sensor APS-C 24MP Bayer (bukan X-Trans) yang dibekali berbagai film simulation dan kendali manual lengkap termasuk shutter elektronik dan dukungan flash hot shoe.

Terdapat 425 titik pendeteksi fasa PDAF di Fuji X-A7, yang bisa diubah menjadi 117 titik melalui menu. Titik sebanyak ini menyamai yang ada di Fuji X-T3.

Lantas apakah kamera entry-level ini punya kompromi dalam kinerjanya? Justru yang mengesankan, sensor gambar di X-A7 malah dilengkapi dengan 425 titik pendeteksi fasa (persis sama seperti di Fuji X-T3) untuk auto fokus yang cepat dan bisa mengikuti obyek, apalagi kini didukung deteksi mata. Secara umum kinerja auto fokusnya justru berada diatas Fuji X-T100, dan boleh dibilang setara dengan Fuji kelas menengah seperti X-T20. Demikian juga dengan kinerja ISO tingginya bisa dibilang setara dengan kamera yang kelasnya lebih diatasnya. Kompromi yang paling bisa dirasakan adalah dalam kecepatan memotret kontinu yang ‘hanya’ bisa 6 fps, meskipun dalam banyak kebutuhan 6 fps masih terasa mencukupi.

Hal paling berbeda yang dialami saat mencoba Fuji X-A7 adalah antarmuka baru dengan implementasi layar sentuh yang lebih baik. Kini pengguna bisa menyentuh dan menggeser beberapa pengaturan yang disediakan seperti kompensasi eksposur, depth effect dan beauty effect dan melihat hasilnya sebelum memotret. Hanya saja untuk yang sering mengakses Quick Menu (Q) di kamera Fuji, akan bingung karena tidak ada tombol Q di X-A7 ini, jadi perlu masuk dulu ke menu di layar baru menyentuh simbol Q untuk menampilkan daftar isi Quick menu. Adanya joystick di X-A7 juga jadi penanda kalau kamera ini adalah satu generasi dengan semua Fuji 2019 yang pakai joystick seperti X-T3, X-T30 dan X-E3. Saya sendiri senang kalau ada joystick di sebuah kamera, asalkan fungsinya adalah sebagai pelengkap tombol navigasi 4 arah. Agak aneh kalau desain baru Fuji ini malah menghilangkan tombol 4 arah dan diganti dengan joystick sebagai satu-satunya cara menavigasi 4 arah, saya perlu membiasakan/ adaptasi dengan cara baru ini.

Tampilan antarmuka baru di layar Fuji X-A7, hanya dua Fn di kiri yang bisa di kustomisasi, selebihnya sudah tetap dan tidak bisa diganti-ganti
[click to continue…]
{ 0 comments }

Nikon rilis Mirrorless APS-C pertama : Nikon Z50

Setelah lama menjadi spekulasi apakah Nikon akan membuat versi APS-C dari sistem mirrorless full frame mereka, akhirnya hari ini terjawab saat Nikon mengumumkan telah merilis kamera mirrorless pertama yang memakai sensor APS-C dengan Z mount dengan nama Nikon Z50. Tampil dengan bodi lebih kecil dari Z6 atau Z7, dengan grip yang tampak enak untuk digenggam, Nikon Z50 menyasar mereka yang mencari kecepatan dan portabilitas pada sebuah kamera, dengan tetap menjaga kekokohan bodi khas Nikon (Z50 ini berbahan magnesium alloy ada weatherseal di beberapa bagian).

Nikon Z50 dengan lensa kit Z DX 16-50mm f/3.5-6.3 VR

Dibekali prosesor Xpeed 6, Nikon Z50 ini memakai sensor 20 MP yang sama dengan yang dipakai di DSLR D500, dengan 209 titik pendeteksi fasa untuk auto fokus cepat plus bisa deteksi mata. Kinerja memotret kontinu bisa mencapai 11 fps, mampu merekam video 4K dan dibekali layar sentuh ukuran 3,2 inci yang bisa di lipat keatas (untuk low-angle) namun tetap bisa dipakai selfie dengan cara di lipat ke bawah. Uniknya, di bagian kanan layar ada tulisan DISP, + (plus) dan – (minus) yang ternyata adalah ‘tombol’ khusus yang bisa di tap (sentuh) oleh jari, sebagai pengganti tombol fisik yang sudah tidak punya ruang lagi. Di sisi kiri tersedia port USB, HDMI dan juga port mic, namun tidak ada port untuk memasang headphone.

[click to continue…]
{ 6 comments }

Setelah sukses dengan acara Panasonic Young Filmmaker perdana di 2015 dan dilanjutkan dengan sesi kedua di tahun 2017, kali ini untuk yang kali ketiga, Panasonic mengumumkan kontes Young Filmmaker 2019 sebagai implementasi komitmen Panasonic dalam meningkatkan motivasi serta mengedukasi generasi muda bertalenta di seluruh Indonesia dalam berkarya membuat film pendek atau video online.

Bertempat di Hard Rock Cafe Pacific Place Jakarta hari ini, Manager Audio Visual Marketing Dept. PT Panasonic Gobel Indonesia Agung Ariefiandi membuka dengan resmi acara dan menyampaikan komitmen mereka untuk terus mendukung talenta muda melalui PYFM yang kali ini mengangkat tema “Change” sesuai situasi keseharian masyarakat modern saat ini yang serba berubah dan mengusung hashtag #KolaborasiTanpaBatas dimulai sejak hari ini hingga penutupan di 29 Desember 2019 nanti.

Kategori yang disediakan kali ini ada tiga, yaitu :

  • Short Movie (maks. 15 menit) genre drama, komedi, horror, action, dokumenter
  • Online video (maks. 10 menit) genre travel, fashion, music, komedi
  • Wedding film (kategori baru di 2019)
[click to continue…]
{ 0 comments }

Sony A9 II – Khusus untuk fotografer profesional?

Pada tanggal 3 Oktober yang lalu, Sony baru saja meluncurkan Sony A9 II, perbaharuan dari A9 yang diluncurkan April 2017 (2 tahun, 4 bulan) yang lalu. Kamera tingkat atas/flagship biasanya diperbaharui 4 tahun sekali, jadi 2 tahun terasa agak cepat seperti kamera Sony lainnya, tapi karena dirilis lebih cepat dari biasanya, maka peningkatannya bisa dibilang evolusi daripada revolusi.

Beberapa peningkatan Sony A9 II yaitu:

  • Peningkatan processor (peningkatan kinerja, kualitas proses gambar di ISO tinggi, autofokus)
  • Mechanical shutter dari 5 ke 10 fps, electronic shutter tetap 20fps
  • Weathersealing yang lebih bagus
  • Dapat menyimpan pesan suara ke setiap foto / Voice memo
  • Peningkatan performa steadyshot (IBIS) dari 5 menjadi 5.5 stop
  • Peningkatan grip dan handling seperti A7RIV
  • Peningkatan mekanisme shutter, teruji sampai 500rb aktuasi
  • Dual memory card slot, keduanya mendukung kartu cepat UHS-II
  • Kecepatan koneksi Ethernet untuk memindahkan foto
  • USB-C Connection untuk transfer foto yang cepat dan charging

Harga Sony A9 II USD 4500 atau sekitar Rp 64 juta.

Fotografer dan videografer yang mengharapkan A9 mengunakan sensor gambar baru yang memungkinkan kualitas foto dan video yang lebih bagus kecewa karena A9II mengunakan image sensor yang sama.

Apakah peningkatan Sony A9 II worth it?

Untuk fotografer profesional di bidang jurnalis terutama untuk Sports tentunya akan worth it, karena beberapa hal penting yang merupakan kekurangan A9 sudah dijawab Sony yaitu koneksi Ethernet yang cepat, juga kecepatan foto mechanical sudah sangat cepat yaitu 10 fps. Tidak semua fotografer suka mengunakan electronic shutter karena dalam beberapa kondisi kurang ideal dan tidak semua fotografer perlu 20 fps. Bonusnya fotojurnalis bisa menyimpan catatan suara ke setiap foto.

Menurut saya Sony A9 II ini kamera pro transisi, seperti Nikon D3s dan D4s, yang terletak diantara D3-D4-D5. A9 II saya yakin tetap merupakan kamera mirrorless yang paling kencang saat ini, dan waktu peluncurannya tepat sebelum Olympiade 2020.

Bagi teman-teman yang ingin belajar fotografi, baik kamera Sony atau lainnya, silahkan kunjungi jadwal belajar fotografi


Atau belajar dari panduan E-book yang kami buat.

Bagi yang ingin membeli kamera dan lensa, atau ingin titip jual boleh kabari kami di WA 0858 1318 3069

{ 0 comments }

Review singkat compact premium Sony RX100VII

Perkembangan teknologi kamera saku Sony terasa cepat. Dari peluncuran seri pertama RX100 di tahun 2012, hampir tiap tahun diperkenalkan tipe yang dengan terus menerus menambah fitur sedikit demi sedikit dan di tahun 2019 ini ada RX100 Mark VII. Adapun keunggulan yang disebut-sebut dalam kamera sensor 1 inchi dan beresolusi 20MP yaitu berkemampuan foto seperti seniornya yang profesional dan canggih di lini full-frame, Sony Alpha 9.

Kualitas dan ketajaman foto dari seri ketujuh ini yang memiliki rentang setara 24-200mm ini sudah bagus namun saya tetap menyarankan untuk penggunaan ISO di bawah 800. Saat foto di luar ruangan yang kaya cahaya, kualitas foto ini maksimal. Seri ini juga sudah mendukung Eye AF, sehingga jika foto subjek orang, kita tidak perlu kuatir salah fokus karena titik fokus akan tetap mendeteksi dan mencengkram fokus di area mata subjek (manusia atau hewan).

24mm; ISO 100; f/4.5; 1/125s
24mm; ISO 250; f/4; 1/60s
crop 100% dari foto di atas

Sebenarnya saat menggunakan ISO yang tinggi, jika tidak dizoom 100% dan dilihat di layar smartphone (untuk keperluan sosial media) fotonya tergolong masih oke.

50mm; ISO 4000, f/4; 1/60s
[click to continue…]
{ 1 comment }

Tour fotografi Jiuzhaigou 28 Maret – 3 April 2020

Dua tahun yang lalu, saya mengadakan tour foto ke Sichuan, China untuk mengunjungi taman nasional Jiuzhaigou tapi sayangnya dua bulan sebelum hari H, ternyata ada gempa bumi disana, sehingga pemerintah menutup Jiuzhaigou untuk publik.

Bulan ini, Jiuzhaigou akan dibuka kembali untuk publik secara terbatas (jumlah pengunjung dan daerahnya). Oleh sebab itu, saya akan kembali mengadakan tour foto ke Jiuzhaigou sesuai dengan janji saya dengan teman-teman yang kecewa tidak bisa ke Jiuzhaigou dua tahun silam.

Highlight beberapa tempat yang akan kita kunjungi:

Jiuzhaigou adalah taman nasional yang terkenal sangat indah dan tercatat dalam UNESCO Heritage Site. di taman nasional yang luas ini, banyak sekali kolam, dan danau yang sangat jernih dengan air yang bewarna-warni. Selain itu terdapat banyak air terjun yang berskala besar dan lebar. Lembah ini dikelilingi oleh bukit dan pegunungan. Dari jauh kita bisa melihat pegunungan bersalju. Di dalam taman nasional ini juga terdapat beberapa kampung suku Tibet.

Mounigou adalah taman nasional yang terkenal atas air terjun yang sangat tinggi bernama Zhaga Waterfall, dan tentunya ada lebih dari 400 danau dan kolam yang airnya sangat jernih termasuk Danau Erdaohai, Swan, dan Ginseng.

Huang Long (naga kuning) adalah taman nasional yang berisi kolam-kolam berundak-undak dengan warna air yang bergradasi dari biru ke hijau. Selain itu banyak air terjun sepanjang kurang lebih 6km.

Chengdu adalah ibukota provinsi Sichuan, yang sudah sangat tua dan bersejarah. Berdiri pada tahun 311 Sebelum Masehi dan merupakan kota utama di China bagian barat. Penduduk kota Chengdu sekitar 14 juta menurut sensus penduduk tahun 2010. Setiap kota besar, biasanya memiliki daerah kota tua. Chengdu juga memiliki kompleks kota tua yang terkenal dengan kawasan Jinli street, yang ideal untuk jalan-jalan, motret, dan belanja oleh-oleh sampai membersihkan isi telinga.

Biaya Tour: $1200 per orang

Biaya tiket pesawat bervariasi. Saat ini sekitar Rp 4-5 juta

Batas waktu pendaftaran: 1 Februari 2020 atau sampai kuota penuh.

Durasi 7 hari 6 malam
Periode: 28 Maret – 3 April 2020 (Musim Semi)
Standar akomodasi: 4 Bintang
Maskapai: Cathay / SQ
Maksimum peserta: Tempat terbatas, maksimum 16 peserta

Jiuzhaigou
Pemandangan di taman nasional Jiuzhaigou, Sichuan, China. ISO 200, f/8, 1/800 detik, 65mm
Huang Long

Biaya tour sudah termasuk

  • Transportasi selama di China
  • Akomodasi hotel bintang empat (sekamar berdua)
  • Konsumsi selama tour (sarapan di hotel, makan siang, makan malam)
  • Semua tiket masuk objek wisata
  • Tour guide lokal
  • Bimbingan fotografi bagi yang membutuhkan oleh Enche Tjin

Biaya tour belum termasuk

  • Tiket pesawat terbang
  • Visa China
  • Biaya transit selama di Singapura
  • Tips untuk tour guide driver ($4 sehari atau total $32)
  • Aktivitas lain yang tidak tercakup dalam itinerary
  • Asuransi perjalanan
  • Jika ingin kamar sendiri (single supplement), ada biaya tambahan

Rekomendasi gear:

Kamera, lensa wide, lensa telefoto, filter polarizer (CPL), filter ND, tripod, baterai ekstra dan memory card secukupnya. Sweater/jaket, karena suhu cukup dingin, sekitar 10 derajat Celcius di malam hari dan 24 derajat Celcius di siang hari.

Cara mendaftar

Hubungi kami Iesan/Enche 0858 1318 3069 atau E-mail: infofotografi@gmail.com

Kemudian melakukan downpayment sebesar Rp 10.000.000 untuk DP+pembelian tiket pesawat.

Sisa biaya dilunasi sebulan sebelum keberangkatan.

No rekening Enche Tjin: BCA 4081218557, Mandiri 1680000667780.

{ 0 comments }

Review Sigma 85mm f/1.4 DG HSM ART

Lensa dengan jarak fokal 85mm terkenal untuk foto portrait, dan memang sudah banyak lensa 85mm yang telah dibuat dengan berbagai bukaan, di tahun 2016, Sigma berambisi untuk membuat lensa 85mm yang terbaik untuk kamera DSLR. Sigma 85mm f/1.4 DG HSM Art ini tersedia dalam versi mount Canon EF, Nikon F dan Sony E-mount, kedepan sepertinya akan ada untuk L-mount.

Untuk mewujudkan ambisinya, ukuran lensa Sigma 85mm dilengkapi dengan 2 elemen SLD dan high refractive index element dan satu elemen asperikal yang membantu meningkatkan ketajaman foto dan membuat bokeh/blur yang mulus.

Tapi untuk mewujudkannya, Sigma harus memperbesar ukuran lensa. Panjang lensa mencapai 12.6 cm dengan diameter filter 86mm dan beratnya 1.1 kg menjadikan lensa ini yang termasuk terbesar dan terberat di kelasnya.

Kiri: Nikon D600 dengan Sigma 85mm f/1.4 Art DG HSM. Kanan: Nikon D600 dengan Nikkor AF-S 85mm f/1.4G

Dibandingkan dengan Nikon AF 85mm f/1.4G pesaingnya, yang panjangnya 8.6 cm dan beratnya hanya 595 gram, dan filter 77mm, lensa Sigma ini seperti lensa raksasa.

Saya berkesempatan menguji lensa ini dengan mengunakan Kamera Nikon D600, kamera full frame 24MP untuk foto portrait, dan saya mendapati kualitas gambarnya yang dihasilkannya sudah sangat bagus meskipun di bukaan terbesarnya yaitu f/1.4.

Performa Sigma di f/1.4

Meski sudah cukup tajam di f/1.4, tapi ruang tajam (depth of field) terasa terlalu sempit, contohnya jika saya fokus ke mata, hidung sudah tidak fokus, maka itu bukaan f/2 dan f/2.8 sepertinya lebih praktis.

Di bukaan f/2 ketajaman lebih tinggi dan merata, tapi latar belakang masih sangat blur/bokeh. Maka itu mengunakan bukaan f/2 merupakan favorit saya saat memotret dengan lensa ini.

Saya berkesempatan menguji lensa ini beberapa kali di kondisi backlight (cahaya di belakang subjek) dan saya mendapati autofokusnya masih baik dan juga kualitas gambarnya masih cukup kontras dan sulit membuat “flare” atau suar, yang mana bisa berarti kualitas optik yang bagus, tapi bagi fotografer fine art yang artistik, hal ini bisa jadi suatu kekurangan karena dianggap kurang “berkarakter”.

Contoh foto dengan backlight. Kiri: dengan lampu LED, kanan tanpa lampu LED. Bukaan f/1.4
Bukaan f/2, ISO 1000, 1/125, dengan lampu LED
f/2, ISO 320, 1/125 detik

Sayangnya saya menguji lensa ini hanya dengan kamera DSLR saya yaitu Nikon D600. Kamera full frame 24MP ini memiliki filter AA yang membuat gambar sedikit soft (tidak tajam maksimal). Jika saya uji di kamera yang beresolusi 36, 45 MP tanpa AA filter, mungkin kita akan melihat kekuatan lensa ini lebih bagus lagi.

Terlepas dari kualitas gambar yang dihasilkannya sangat baik, tapi ada juga yang kurang saya sukai yaitu ukurannya yang besar dan jarak fokus yang tidak terlalu dekat, yaitu 85cm. Sehingga kadang menyulitkan saya untuk mendapatkan close-up wajah.

f/2.5, ISO 100, 1/250 detik, dengan off-camera flash dan payung.

Kesimpulannya, lensa Sigma 85mm f/1.4 Art ini adalah lensa yang dibuat khusus sebagai lensa portrait dengan performa yang sangat tinggi. Meski saya mengujinya di kamera yang 24MP saja, tapi lensa ini siap untuk kamera dengan resolusi yang jauh lebih tinggi.

Sulit menemukan kelemahan lensa ini selain agak berat dan tidak bisa fokus terlalu dekat. Bagi yang bekerja atau senang portrait yang tajam dan berkualitas dengan autofokus yang cepat, lensa ini bisa jadi salah satu pilihan yang sangat baik.

Review ini dapat ditonton di Youtube


Sebagai info, saat artikel ini ditulis, harga resmi lensa ini Rp 17.45 jt, masih jauh dibawah lensa 85mm f/1.4 dari Nikon, Canon atau Sony.

Bagi teman-teman yang tertarik memperoleh lensa ini, bisa menghubungi WA 0858 1318 3069. Terima kasih atas dukungannya.

Bagi yang ingin mengikuti kelas foto portrait atau kegiatan belajar fotografi lainnya bisa kunjungi jadwal kami di halaman ini.

{ 1 comment }