≡ Menu

Workshop Photo portrait di kota tua, Jakarta
Sabtu, 23 Agustus 2014 - Daftar/Info: hub: 0858 1318 3069

Lensa Sony FE 35mm f/2.8 Zeiss adalah lensa E-mount yang dirancang untuk kamera mirrorless Sony. Bisa dipasang di format sensor Full frame seperti seri Sony A7 dan bisa juga di format sensor APS-C seperti berbagai kamera Sony NEX dan A5000, A5100 dan A6000. Saat dipasang di kamera format sensor APS-C, sudut pandangnya menjadi agak sempit atau dengan kata lain jangkauannya agak jauh.

sony-a7s-35mm-zeiss

Untuk review, saya mengunakan lensa ini dengan kamera Sony A7s dan sebagian besar untuk street photography. Fisik lensa sangat kecil dan ringan, panjangnya 6.15 cm dan beratnya hanya 120 gram. Sangat cocok untuk kamera mirrorless. Sony & Zeiss mengambil langkah yang bijak dalam membatasi ukuran bukaan lensa sehingga ukuran lensa bisa dibuat sekecil mungkin tanpa mengkompromikan kualitas foto. Desain lensa sangat simple dan modern, tidak ada tuas/switch, hanya aja ring yang cukup besar untuk manual fokus. Ukuran filternya mirip dengan berbagai lensa Sony mirrorless yaitu 49mm.

Yang unik dari lensa ini dan juga merupakan hal yang positif bagi saya adalah lens hood (topi lensanya) bentuknya kecil sehingga tidak menarik perhatian dan membuat lensa terkesan besar. Ukuran yang kecil lebih enak buat dibawa jalan-jalan dan street photography. Meskipun berukuran kecil, lensa ini sudah weatherseal, alias tahan debu dan kelembaban.

Kiri: lensa tanpa hood. Kanan; dengan hood terpasang

Kiri: lensa tanpa hood. Kanan; dengan hood terpasang

Kualitas gambar yang dihasilkan lensa ini dengan kombinasi Sony A7s sangat tajam dan menangkap banyak detail. Seperti lensa rancangan Zeiss pada umumnya, micro-contrast sangat tinggi sehingga memberikan kesan foto yang kaya dengan detail. Karena resolusi kamera A7s hanya 12 MP, hasil foto terlihat sangat tajam saat di tinjau 100% (actual pixel). Lensa ini juga ideal jika dipasang di kamera dengan resolusi lebih tinggi seperti 24MP dan bahkan 36 MP (A7R).

Biasanya, kita perlu menutup bukaan lensa ke f/4 atau ke f/5.6 untuk mendapatkan hasil foto yang lebih tajam, tapi untuk lensa ini, f/2.8nya saja sudah tajam, sehingga saya lebih bebas mengunakan bukaan yang mana saja, dari f/2.8 sampai f/8, lebih dari itu, difraksi lensa akan membuat foto sedikit lebih soft. Performa lensa paling bagus dicapai di bukaan f/5.6.

Ada sedikit kelemahan yang saya temui saat dipasang di kamera full frame seri A7s yaitu vinyet (gelap pada ujung foto) yang cukup lumayan (1-2 stop cahaya). Juga ada sedikit distorsi di bagian ujung foto, tapi hal ini bukan masalah karena Adobe Lightroom terbaru (5.6) sudah memiliki profile lensa ini dan dapat mengoreksinya.

Lensa ini paling cocok untuk street photography, bisa juga untuk portrait terutama saat dipasang di Sony A6000 atau Sony NEX. Lensa ini tidak dirancang untuk makro/close-up karena jarak fokus minimumnya 35cm, tidak bisa terlalu dekat dengan objek foto. Harga tergolong tinggi untuk lensa fix 35mm f/2.8 (Rp 10.525.000), tapi setelah dikaji dari segi kualitas dan desain lensa yang ringkas namun tahan banting, harga lensa ini saya rasa cukup pantas.

Saya termasuk jarang mengulas tentang lensa satu-persatu, tapi berdasarkan pengalaman saya, lensa ini cukup spesial. Berikut beberapa foto-foto hasil jepretan saya dengan lensa ini.

ISO 100, f/2.8, 1/200 detik

ISO 100, f/2.8, 1/200 detik

Krop 100% dari foto diatas

Krop 100% dari foto diatas

ISO 100, f/6.3, 1/200 detik

ISO 100, f/6.3, 1/200 detik

krop 100% dari foto diatas

krop 100% dari foto diatas

Anak SD shopping saat waktu istirahat. ISO 500, f/5.6, 1/400 detik

Anak SD shopping saat waktu istirahat. ISO 500, f/5.6, 1/400 detik

100% crop dari foto diatas

100% crop dari foto diatas

{ 0 comments }

Kursus / Workshop Video editing dengan Pinnacle Studio

Workshop/kursus kali ini agak sedikit berbeda karena temanya tentang video editing. Kamera digital dan bahkan kamera ponsel saat ini sudah berkemampuan merekam video dengan baik dan detail. Tapi video memang agak berbeda dengan foto. Editing jauh lebih penting di video karena sulit menikmati video klip yang terpisah yang belum disambung dan diolah menjadi satu kesatuan.

Dalam kesempatan kali ini, kami akan workshop video editing dengan software Pinnacle Studio. Software ini tidak terlalu rumit dan mampu untuk mengolah video dari awal (import) sampai menjadi video untuk berbagai format (Blue-Ray, DVD, dan sebagainya). Maka itu, software ini juga menjadi andalan bagi video editor baik amatir maupun profesional. Kursus ini terbuka untuk pemula yang awam dengan video editing.

Screenshot Pinnacle Studio Ultimate versi 17

Screenshot Pinnacle Studio Ultimate versi 17

Hari / tanggal: Hari Minggu, tanggal 31 Agustus & 7 September 2014

Pukul 14.00-20.00 WIB (termasuk break makan malam)

Tempat: Jl. Moch. Mansyur (Imam Mahbud) No. 8B-2 Jakarta Pusat. Sebelah Bank Bumiputra dan cetak foto Sinar Matahari.

Minimum peserta: 3 orang, maksimum peserta 6 orang.

Materi

1. Memahami berbagai format video, software, dan pengenalan video editing

2. Video Capture -> Pemindahan dari video/kaset analog menjadi digital

3. Video Editing

  • Import video, foto dan audio ke dalam software
  • Cara memotong film/clip
  • Cara memasukkan transisi
  • Memasukkan efek khusus: blur, Black & White, modifikasi color balance, kontras, picture & picture dll
  • Memasukkan efek keyframe
  • Memasukkan teks / judul dalam video
  • Memasukkan transisi pada teks
  • Menggunakan motion teks
  • Membuat opening / highlight dari video
  • Memasukkan audio / lagu / dubbing
  • Membuat menu video
  • Membuat slideshow foto dan Timelapse
  • Export video ke DVD, Blu-Ray, MPEG-2, AVI

4. Sharing tips membuat video yang lebih artistik

Syarat

Membawa laptop dengan spesikasi minimum:
Processor Pentium i3, RAM 4 GB DDR3, Harddisk space 500 GB

Bagi yang mengunakan video kaset pita, diharapkan membawa handycam/camcordernya.

Jangan lupa alat tulis dan buku catatan pribadi

Software yang digunakan adalah Pinnacle Studio versi 11 ke atas. Rekomendasi: versi 17

Sample video untuk editing akan disediakan.

Biaya: Rp 1.500.000 untuk umumRp 1.400.000 untuk alumni/pelajar

Termasuk catatan /hand-out (versi cetak) dan makan malam 2 kali.

Cara mendaftar: Hubungi 0858 1318 3069 atau infofotografi@gmail.com

Instruktur: Hardi Danusasmita

Berpengalaman di bidang video editing selama 11 tahun sebagai video editor pada studio foto, menangani edit video dari berbagai acara seperti wedding, prewedding, seminar,  outbound, ulang tahun, wisuda, iklan, dan traveling. dll

Workshop ini sangat cocok untuk berbagai kalangan untuk hobi, profesional, dan wirausahawan.

{ 0 comments }

Apa itu lensa Normal / lensa standar?

Kadang kita mendengar istilah lensa normal atau lensa standar, tapi apa sih maksud sebenarnya dari istilah ini? Lensa normal sebenarnya adalah lensa yang memiliki focal length (jarak fokus) sepanjang diagonal ukuran sensor gambar kamera. Untuk kamera bersensor full frame (36 x 24mm), lensa normal yaitu 43mm. Sedangkan di kamera yang ukuran sensornya APS-C (23x35mm) lensa normalnya sekitar 28mm. Sedangkan untuk sensor four thirds, lensa normalnya sekitar 21.5mm.

lensa-normal-standard

Lensa normal adalah lensa yang jarak fokusnya sama dengan panjang diagonal sensor gambar

Karena jarang ada lensa yang sama persis dengan ukuran jarak fokus lensa, maka biasanya lensa yang mendekati jarak fokus normal ditahbiskan sebagai lensa normal. Contohnya lensa 50mm saat dipasang di kamera full frame / kamera film.

Pentax 43mm f/1.9 adalah lensa fix normal yang sangat akurat di jaman film, dan masih bisa dipakai di era digital. Tapi sayangnya, Kamera DSLR Pentax tidak ada yang bersensor full frame, sehingga saat dipasang di kamera DSLR sekarang, menjaid tidak normal lagi karena terkrop 1.5X

Pentax 43mm f/1.9 adalah lensa fix normal yang sangat akurat di jaman film, dan masih bisa dipakai di era digital. Tapi sayangnya, Kamera DSLR Pentax tidak ada yang bersensor full frame, sehingga saat dipasang di kamera DSLRnya, menjadi tidak normal lagi karena terkrop 1.5X

Yang perlu dipahami adalah jarak fokus normal ini relatif, tergantung dari besarnya sensor gambar kamera. Misalnya jika lensa 50mm dipasang di kamera bersensor lebih kecil atau lebih besar, maka lensa tersebut bukan lensa normal lagi.

Jika mengunakan lensa normal, perspektif hasil foto akan menyerupai perspektif mata manusia, perspektif akan terlihat alami. Tidak ada lagi distorsi cembung yang biasanya diakibatkan oleh lensa lebar, dan tidak ada distorsi pincushion (cekung) yang ditimbulkan lensa telefoto. Saat memotret wajah orang, hasil fotonya akan terlihat natural, sesuai dengan orang aslinya.

Normal lensa biasanya juga disarankan oleh guru fotografi supaya murid-muridnya dapat berlatih cara melihat dan komposisi. Akan lebih sulit mengkomposisikan foto dengan lensa normal karena hasil fotonya tidak sedramatis lensa lebar atau telefoto. Biasanya, lensa normal sering digunakan untuk street photography.

Perspektif lensa normal tidak hanya terdapat di lensa fix, tapi juga bisa didapatkan di lensa zoom. Caranya putar zoom lensa sampai angka menunjukkan focal length lensa normal. Contohnya jika mengunakan kamera DSLR Nikon, putarlah ke angka 28mm. Jika angkanya tidak ada, diperkirakan saja.

Beberapa contoh lensa normal fix (tidak bisa zoom) antara lain

  • Panasonic 20mm f/1.7 di kamera Olympus / Panasonic
  • Canon 28mm f/1.8 di kamera DSLR Canon EOS bersensor APS-C
  • Nikon 28mm f/1.8 di kamera DSLR Nikon bersensor APS-C
  • Canon 40mm f/2.8 di kamera Canon full frame seperti 5D
  • Pentax 55mm SDM  di kamera medium format 654z
{ 2 comments }

Tour Pangalengan 20-21 September 2014

Tour fotografi Pangalengan selalu populer bagi pembaca dan alumni kursus kilat fotografi karena tempatnya sejuk, menyenangkan dan banyak peluang untuk mempraktikkan fotografi. Sama dengan susunan acara tour Pangalengan Juni yang lalu, kita akan berangkat malam hari dengan tujuan untuk mendapatkan sunrise dan juga menghindari macet di wilayah kota Bandung.

Kita akan mengunakan bus pariwisata bertempat duduk 25-27 seat yang nyaman dan akan menginap di kompleks Rumah Bosscha di Malabar. Bosscha adalah seorang warganegara Belanda yang berjasa dalam membangun usaha perkebunan, observatorium di Lembang, dan ITB.

Photo & Video Sharing by SmugMug

Perkebunan teh Malabar terletak daerah perbukitan dengan ketinggian 1550 dpl, sehingga suhunya sejuk di siang hari, dan dingin di pagi hari. Suhu udara kira-kira 15-25 derajat. Disarankan untuk membawa jaket/sweater terutama untuk memotret matahari terbit.

Susunan acara sebagai berikut

Hari pertama, hari Sabtu tanggal 20 September 2014
Kita akan tiba sebelum matahari terbit dan memotret matahari terbit. Jika cuaca mendukung, kita dapat mengunjungi Situ Cipanunjang dengan naik perahu. Situ ini adalah sumber mata air situ Cileunca. Setelah puas berfoto di situ Cileunca, kita akan check-in penginapan dan beristirahat sampai makan siang. Di sore hari, kita akan memotret pemandangan kebun teh dengan kabut alami yang sejuk.

Hari kedua, hari Minggu, tanggal 21 September 2014
Pagi hari sebelum matahari terbit, kita akan memotret sunrise dan pemandangan pagi hari dari bukit Nini, bukit yang cukup tinggi untuk memotret hamparan kebun teh, pemukiman penduduk dan gunung dikejauhan. Setelah sarapan, acara bebas. Setelah makan siang, kita akan meluncur ke Waduk Jatiluhur untuk memotret aktivitas nelayan dan matahari terbenam. Setelah makan malam seafood, kita akan pulang ke Jakarta.

Biaya Rp. 1.500.000 per orang

Tempat terbatas, maksimum 18 orang, pendaftaran akan ditutup setelah penuh.

cileunca-cruise

Biaya termasuk

  • Penginapan wisma Malabar. Satu kamar 2 orang
  • Transportasi pulang pergi (meeting point Jakarta – Pangalengan)
  • Makan 6X selama tur
  • Bimbingan fotografi oleh Enche Tjin + asisten
  • Sewa perahu di Situ Cileunca

Biaya tidak termasuk

  • Belanja pribadi
  • Tur opsional di Malabar seperti Tea Walk, tur pabrik pengolahan teh dan susu, dll
  • Tips supir (Rp 20.000 per orang)

Pembatalan maksimum tiga hari sebelum keberangkatan. Boleh digantikan dengan orang lain.

Pendaftaran dengan cara melunasi biaya (Rp 1.500.000) melalui transfer ke BCA 4081218557 atau Mandiri 1680000667780 atas nama Enche Tjin

Kumpul depan McDonald Sarinah, Jl. Thamrin, Jakarta. Jum’at tengah malam 23.30 WIB

Hubungi Iesan untuk mendaftar atau informasi di infofotografi@gmail.com / 0858-1318-3069

pagi-hari-situ-cileunca

{ 0 comments }

Belajar dari era kamera film

Sedikit mengenang jaman dulu, saat mengunakan kamera film, pendekatan saya agak berbeda dengan mengunakan kamera digital. Saat memotret dengan kamera film saya jauh lebih hati-hati, karena biaya yang dikeluarkan tergantung dari berapa kali saya menjepret. Film tidak murah dan juga isinya tidak banyak. Sekeping memory card berkapasitas 8GB bisa menampung ratusan foto JPG. Sedangkan satu rol film hanya bisa digunakan untuk 24 atau 36 exposure/jepretan.

Di zaman film juga tidak ada menu atau tombol macam-macam. Hanya beberapa hal yang perlu diganti-ganti, yaitu shutter speed dan bukaan/diafragma lensa. ASA/ISO tidak bisa diganti kecuali ganti film-nya. Yang perlu diubah lainnya yaitu fokus, yang diganti dengan memutar ring fokus lensa secara manual. Jadi memotret dengan kamera film lebih sederhana, tapi kita perlu lebih teliti dan berhati-hati. Saat mengunakan film ASA rendah, hampir setiap saat saya mengunakan tripod untuk mendapatkan hasil ketajaman maksimal.

Di era digital, kita terbuai dengan rentang ISO yang sangat lebar dari kamera sehingga sering memotret dengan ISO tinggi. Memotret dengan ISO tinggi memang praktis karena shutter speed yang didapatkan akan cukup cepat sehingga tetap tajam meski kamera tidak dipasang di tripod.

ISO 100, f/8, 0.5 detik dengan tripod

ISO 100, f/8, 0.5 detik dengan tripod

Beberapa saat lalu saya membayangkan dan mempraktikkan lagi memotret dengan pendekatan seperti era film seperti berikut ini:

  1. ISO saya set ke 100 untuk hasil terbaik
  2. Hampir setiap saat, kamera saya diletakkan diatas tripod untuk ketajaman dan komposisi yang akurat
  3. Foto dengan hati-hati dan perlahan-lahan, terutama komposisinya. Di dalam pikiran saya, tertanam bahwa saya hanya punya 36 kali exposure saja, jadi setiap exposure harus saya hargai.
  4. Saya jarang masuk ke menu dan tidak mengunakan mode otomatis/semi-auto
  5. Hampir tidak pernah meninjau gambar setelah memotret. Di jaman film, kita tidak bisa meninjau foto yang baru dijepret sama sekali. Saya biasanya menonaktifkan auto review. Waktu saya lebih saya gunakan untuk mencari komposisi yang lebih baik.

Pendekatan memotret di jaman film memang terkesan merepotkan, nenteng-nenteng tripod, memotret dengan perlahan-lahan, lebih teliti dalam melihat pemandangan dll. Tapi setelah beberapa saat, saya sudah terbiasa kembali dan lebih menikmati proses, hasilnya juga lebih solid, kesalahan lebih sedikit dan hasil foto dan komposisi lebih tajam. Saya memotret lebih sedikit tapi lebih banyak yang puas. Tidak ada rasa sesal saat memeriksa hasil fotonya.

—-
Mantapkan teknik dan seni fotografi via workshop “Mastering art and photography techniques

{ 0 comments }

Workshop Water effect for Still Life Photography

Air mempunyai sifat yang sangat dinamis hingga bisa menimbulkan efek-efek yang menarik untuk dieksplorasi lebih jauh lagi. Air bisa diwarna sesuai dengan kehendak kita, permukaan air bisa memantulkan bidang objek benda yang lain, permukaan air juga bisa bergerak dinamis sesuai dengan benda yang dijatuhkan di atasnya.

strawberry-splash

Di kelas “Water Effect for Still Life Photography” ini, para peserta akan belajar menciptakan efek-efek seperti Yin&Yang glass, refleksi embun, colourful water droplets, dan Splash Water photography. Dengan kreatifitas serta menggunakan peralatan sederhana, peserta workshop mampu menggabungkan foto produk dengan efek air.

Hari Minggu, tanggal 24 Agustus 2014
Pukul 10.00 – 17.00
Jumlah peserta maksimum 12 siswa.
Materi: 10% teori, 90% praktek.

Materi

  1. Pengenalan lighting sederhana untuk menghasilkan foto still life.
  2. Instruktur menerangkan dengan menggunakan cuma 1 flash, peserta workshop mampu memotret gelas hingga menciptakan efek 2 dimensi yin & yang. (hitam-putih)
  3. Slow speed sync untuk memotret tetesan air.
  4. Instruktur menerangkan korelasi antara speed lambat dengan kilatan lampu flash akan menghasilkan foto tetesan air yang menarik.
  5. Kreatif dalam memilih foto-foto yang telah dihasilkan.
  6. Instruktur memberikan contoh-contoh foto yang terlihat seperti tidak berhasil tetapi jika dilihat lebih jauh dan dari sudut pandang yang berbeda akan menjadi foto still life yang berbeda.

Topik praktik

  • Glass distortion & refraction
  • Yin dan yang glass photography
  • Glass water splash
  • Refleksi titik air
  • Dancing water
  • Product with water effect
  • Colorful water droplet
  • Splash water

workshop-still-life-water

droplets

water-drop-2

water-texture

Instruktur: Albertus Adi Setyo, lulusan jurusan advertising yang kini bekerja sebagai fotografer freelance untuk media cetak dan korporat. Jenis fotografi yang disukainya yaitu membuat photo essay dan still life.

Biaya: Rp 450.000,- per orang

Termasuk makan siang, snack & coffee break

Tempat belajar: Jl. Moch. Mansyur (Imam Mahbud) No. 8B-2 Jakarta Pusat 10140. Dekat persimpangan Roxi (Hasyim Ashari). Sebelah bank Bumiputra dan Cuci cetak Sinar Matahari. Lihat Peta.

Persyaratan: Membawa kamera, tripod dan flash, merek apa saja tidak masalah asal bisa diatur secara manual. Sebaiknya sudah mengikuti dasar fotografi dan mengerti cara mengatur ISO, shutter speed, aperture dan mengunakan lensa.

Info pendaftaran 0858 1318 3069

Cara Mendaftar

  • Transfer bank atas nama Enche Tjin via Bank BCA: 4081218557 via Bank Mandiri: 1680000667780
  • Konfirmasi melalui e-mail (email: infofotografi@gmail.com), sms atau telepon (085813183069 / 085883006769) dengan menyertakan nama peserta dan nama penyetor.
  • Datang di hari H sesuai dengan jadwal yang tercantum
{ 4 comments }

Istilah di lensa Zeiss

Di acara Jelajahi fitur dan fungsi kamera mirrorless dengan Sony Alpha beberapa waktu yang lalu ada yang menanyakan tentang perbedaan istilah di lensa, terutama lensa Zeiss.

Penamaan lensa Zeiss memang terdengar agak exotic dan asing, seperti Sonnar, Biogon, Distagon dan sebagainya. Zeiss mengelompokkan lensa berdasarkan rancangan elemen optiknya. Dalam pemakaian sehari-hari, sebenarnya tidak perlu kuatir tentang penamaan istilah lensa ini, lebih baik mempertimbangkan focal length (jarak fokus) dan bukaan maksimum lensa tersebut. Sebagian besar lensa Zeiss tidak bisa autofokus, kecuali lensa Touit dan lensa Sony E-mount.

Beberapa istilah lensa Zeiss yang populer antara lain:

Lensa Zeiss Biogon 35mm f/2.8. Beratnya hanya 200 gram dan panjangnya 5.5cm

Lensa Zeiss Biogon 35mm f/2.8. Beratnya hanya 200 gram dan panjangnya 5.5cm

Biogon : Biasanya ditemui di lensa lebar (wide angle). Biogon ini biasanya untuk kamera rangefinder seperti Leica atau kamera mirrorless, tidak ideal untuk kamera DSLR. Lensa Biogon biasanya lebih kecil daripada lensa dengan focal length dan maksimum bukaan yang sama daripada lensa Distagon. Ukurannya bisa dirancang lebih kecil karena tidak perlu mempertimbangkan cermin di kamera SLR. Contoh: Zeiss Biogon 21mm f/2 ZM. [click to continue…]

{ 7 comments }

Street photography merupakan jenis fotografi yang cukup banyak diminati karena bisa dilakukan dimana saja. Meski penafsiran batasan dan aturan street photography sering mengundang pendapat yang berbeda-beda bahkan sampai diperdebatkan, tapi tujuan utama dari street photography kurang lebih sama, yaitu fotografer mencoba menangkap potret kegiatan keseharian orang atau masyarakat di tempat umum/publik.

Ada yang senang menangkap portrait orang dengan cara candid dengan lensa telefoto, ada juga yang mengajak ngobrol terlebih dahulu, baru motret. Ada juga yang suka memotret interaksi antara orang dengan lingkungannya, dan ada juga yang suka memotret karena tertarik bentuk-bentuk, garis, pencahayaan dan sebagainya.

Sebenarnya gak masalah mau motret dengan gaya seperti apa karena setiap orang memiliki kepribadian dan kesukaan yang berbeda-beda. Yang menarik bagi saya tentang street photography adalah kita tidak tau apa yang kita akan dapat. Hal itu bisa menarik bagi sebagian fotografer, tapi bagi fotografer yang ingin sepenuhnya mengendalikan lighting, komposisi dll, jalanan adalah sesuatu yang tidak menyenangkan.

Bagi saya, street photography paling menarik saat motret di pagi atau sore hari, karena saat itu cahayanya dramatis. Setelah matahari tenggelam juga sebenarnya masih menarik terutama di tengah kota yang terang dengan lampu jalan dan gedung-gedung.

Untuk olah foto street photography, B&W merupakan pilihan yang populer bagi street photographer, tujuan utamanya biasanya adalah supaya pemirsa lebih fokus ke pencahayaan, bentuk, tekstur dan rasa/mood foto. Warna yang terlalu pekat bisa memecah fokus pemirsa. Foto hitam putih juga ada dua jenis, high contrast dan low contrast (lengkapnya dibahas disini). High contrast bagus untuk memberikan kesan yang misterius dan sedikit seram, sedangkan yang low contrast terlihat lebih damai dan aman.

Di dua foto dibawah, saya ubah fotonya ke hitam putih kontras tinggi dengan tujuan membuat foto terlihat lebih dramatis dan misterius.

ISO 25600, f/5.6, 1/40 detik, 16mm (di FF 24mm)

ISO 25600, f/5.6, 1/40 detik, 16mm (di FF 24mm)

Di foto ini saya tertarik dengan sinar lampu motor yang menyindari jalanan, dan kebetulan ada orang yang sedang berjalan juga, tapi gelap karena sinarnya dari belakang sehingga jadi siluet dan menambahkan kesan misterius dalam foto ini.

ISO 6400, 1/25 detik, f/4, 19mm (di FF 28mm)

ISO 6400, 1/25 detik, f/4, 19mm (di FF 28mm)

Di foto yang kedua, saya tertarik melihat seorang ibu-ibu berjalan dengan tubuh yang sedikit tertunduk dan sepertinya telah capai bekerja/berjualan seharian. Sepertinya dalam perjalanan pulang. Saya melihat ada bayangan yang cukup panjang dibelakangnya dan kemudian juga disekitarnya kebetulan tidak ada orang yang melintas, jadi fokus pemirsa nantinya hanya ke ibu itu.

Kedua foto ini sebenarnya saya buat tanpa ada rencana terlebih dahulu, kebetulan kamera sudah siap buat foto jadi langsung jepret. Kalau kamera masih di tas yaaa, gak keburu. Kedua foto dibuat di kawasan kota tua Jakarta.

Ngomong-ngomong, kedua foto mengunakan ISO yang sangat tinggi karena matahari telah tenggelam, setelah dijadiin hitam putih masih terlihat lumayan oke, terutama kalau dicetak kecil atau ditampilkan untuk web saja.

Konversi B&W dan menaikkan kontras saya lakukan lewat Adobe Lightroom. Kalau ingin belajar, ada workshop dan buku untuk belajar Lightroom secara otodidak.

Kedua foto diatas dibuat dengan Sony A6000, dan 16-70mm f/4 OSS. Trims atas pinjamannya Sony Indonesia.

{ 6 comments }

Di dalam fotografi kita mengenal 2 jenis sumber cahaya, yaitu:

  1. Available Light : Cahaya yang telah tersedia secara otomatis di lingkungan sekitar. Kita sebagai fotografer tidak bisa mengatur besar-kecil serta arah penyinaran cahaya tersebut. Ex: matahari, lampu kota, lampu panggung, lampu ruangan. Istilah ini sering disebut juga Ambient light
  2. Artificial Light : Cahaya yang sengaja kita ciptakan dan kita adakan ketika kita sedang berfotografi. Sebagai fotografer kita bisa mengatur besar-kecil serta mengubah arah penyinaran dari cahaya tersebut. Ex: lampu studio, flash/ lampu kilat, senter.

Sebagai penggemar fotografi maupun fotografer profesional, terkadang kita perlu untuk menggabungkan dua jenis sumber cahaya tersebut kedalam sebuah foto. Kita bisa menggabungkan beberapa available light misalnya sinar matahari dengan lampu ruangan), dan juga menggabungkan beberapa artificial light misalnya lampu studio dengan flash dan available light dengan artificial light (lampu kota dengan lampu kilat).

Mengapa kita perlu memakai teknik Mix Lighting ini dalam berfotografi? Alasan utamanya adalah supaya kita bisa menghasilkan mood/ rasa cahaya foto sesuai dengan konsep pemotretan yang kita inginkan.

Seperti yang kita ketahui bahwa berbagai sumber cahaya yang saya sebutkan di atas, mempunyai nilai white balance dalam Kelvin yang berbeda-beda. Sebagai fotografer yang kreatif kita tidak perlu cemas dan takut dengan nilai kelvin yang berbeda-beda tersebut. Sesekali cobalah gabungkan berbagai sumber cahaya tersebut agar saling bertabrakan di dalam sebuah foto.

Dalam tulisan ini, saya akan mencontohkan sumber cahaya yang merupakan favorit saya yaitu flash/ lampu kilat untuk digabungkan dengan berbagai sumber cahaya yang lain. Saya sengaja hanya menempatkan flash sebagai fill light (cahaya pendukung) dalam contoh-contoh foto saya. Hal ini saya lakukan karena banyak pandangan/ pendapat miring yang mengatakan bahwa cahaya flash susah dikontrol dan terlihat tidak alami. Dengan hanya menempatkan flash sebagai fill in, saya ingin membuktikan bahwa ternyata flash bisa dikontrol dan bahkan terlihat alami ketika berkolaborasi dengan sumber cahaya yang lain.

Foto 1 : saya memakai cahaya matahari sebagai main light dan 1 flash sebagai fill light. Cahaya matahari sore yang agak redup menyinari keseluruhan dari foto ini. Sedangkan flash saya tembakkan dari arah belakang objek untuk mengarsir tanaman yang ada di belakang buku. Flash sebagai fill light mampu memberi garis dan memunculkan warna kekuningan dari tanaman yang digunakan sebagai background. Walaupun hanya sebagai fill light, namun flash sangat menolong untuk menjadikan foto ini lebih berdimensi. Flash ditembakkan dengan mode manual dan kekuatan penuh karena harus berperang dengan sinar matahari.

foto1

Foto 2 : Di foto 2 ini saya memakai flash sebagai fill light. Sebagai main light nya saya memakai spot lamp (lampu sorot kecil yang bisa dipakai di pameran foto/ lukisan). Saya menempatkan spot lamp di sebelah kanan dari objek. Sedangkan flash saya tempatkan dari arah kebalikannya yaitu di sebelah kiri objek. Flash saya setting di ukuran kecil dan saya pantulkan ke tembok putih. Flash bertujuan untuk meminimalisir shadow yang ditimbulkan oleh spot lamp ke arah sayuran.
Konsep foto ini adalah suasana dapur yang sedang disinari cahaya matahari pagi. Sementara foto ini saya buat sekitar jam 02.00 dini hari.

foto2

Foto 3 : Sama seperti foto 2, saya menggunakan flash hanya sebagai fill light yang diarahkan ke sepatu. Sedangkan untuk main light, saya gunakan cahaya dari lampu kota. Lampu dari motor dan mobil saya gunakan sebagai fill light yang mendukung dramatisasi backgrund untuk mempertegas konsep foto saya tentang sebuah perjalanan hidup. Gunakan speed lambat untuk merekam jejak lampu motor dan mobil.

foto3
Selamat mencoba dan jangan takut untuk kreatif!

Salam Fotografi,

Albertus Adi
Penulis adalah instruktur Creative Lighting dengan flash. Pelajari segala jenis fitur flash/speedlite dalam workshop dua hari.

{ 0 comments }

Sesaat sebelum kita menekan tombol Import untuk memasukkan foto-foto yang akan diedit ke dalam Adobe Photoshop Lightroom, kita dapat melakukan beberapa hal selain menentukan tempat tujuan foto (Destination).

Jika kita memilih tab Copy as DNG, Copy atau Move pada panel atas di kotak dialog Import, maka di sebelah kanan kotak dialog, kita akan menemukan 4 subpanel pada sebelah kanannya, yaitu: File Handling, File Renaming, Apply During Import, dan Destination.

before import 1

Jika kita memilih tab Add, maka hanya ada 2 subpanel yang muncul antara lain File Handling dan Apply During Import.

Di subpanel File Handling, kita dapat mengatur ukuran file Preview di bagian Build Previews.

file handling 1

Beberapa pilihannya antara lain :

  • Minimal : mengimpor file dengan menampilkan pratinjau foto dengan ukuran yang paling kecil sehingga waktu impor lebih cepat. Namun LR akan membutuhkan waktu untuk memuat foto (loading) dalam ukuran standar foto saat kita meninjau foto satu per satu.
  • Embedded & Sidecar : mengimpor file dengan ukuran maksimal dari file pratinjau. Proses ini lebih lama sedikit dari Minimal, namun lebih cepat ketika kita meninjau ukuran foto standarnya.
  • Standard : setting yang disarankan, sedikit lebih lambat proses importnya, namun lebih cepat saat kita meninjau foto.
  • 1:1 : membutuhkan waktu paling lama saat mengimpor foto karena foto diimpor dengan ukuran aktualnya. Pilihlah setting ini jika kita ingin melakukan zoom 100% pada setiap foto yang diimpor.

Di bawahnya ada pilihan Build Smart Preview baru ada pada LR versi 5 ke atas. Smart Preview memungkinkan kita untuk melakukan editing tanpa harus terhubung secara fisik dengan file orisinilnya. Hal ini akan memudahkan kita untuk mengedit di luar tanpa membawa file orisinilnya (jika tersimpan di external HDD). Saat kembali terhubung ke file orisinilnya, LR akan otomatis mensinkronisasi apa saja yang kita lakukan di Smart Preview. Saya akan membahas hal ini secara khusus nantinya pada tulisan yang lain. [click to continue…]

{ 3 comments }