≡ Menu

Workshop editing & manajemen foto dengan Adobe Lightroom
2 Agustus 2014 - Daftar/Info: hub: 0858 1318 3069

Shadow/bayangan bisa kita manfaatkan untuk menutupi bagian tertentu pada wajah dalam foto portrait dengan tujuan membentuk wajah dan membuat kesan yang lebih tiga dimensi. Keuntungan yang bisa kita dapatkan dalam foto portrait di dalam studio/ruangan adalah kita dapat mengendalikan penyebaran cahaya lebih mudah daripada di luar ruangan.

Saat baru bertemu dengan subjek yang dipotret, biasanya saya akan memperhatikan bentuk wajahnya. Kalau bentuknya ideal seperti wajah supermodel yang wajahnya lancip, hidungnya mancung, tulang pipinya menonjol, seyogyanya pakai cahaya apapun akan tetap keren, gak perlu repot-repot. Foto aja dengan flash diatas kamera juga akan keren. Tapi kenyataannya tidak semua orang beruntung memiliki wajah supermodel. Maka itu kita perlu mengeluarkan beberapa taktik untuk pengaturan lightingnya.

portrait-studio-01

Biasanya, setiap orang memiliki sisi wajah yang lebih fotogenik, entah kanan atau kiri. Jarang sekali orang yang memiliki wajah yang simetri dengan sempurna. Dalam contoh diatas, wajah sebelah kiri  subjek foto lebih menarik daripada kanan. Oleh sebab itu saya akan banyak memotret sisi ini.

Untuk membentuk wajahnya dan supaya terlihat lebih tirus, maka saya memanfaatkan bayangan yang ditimbulkan oleh dua strip softbox (softbox yang bentuknya tinggi tapi langsing) 30 x 120 cm.

portrait-studio-02

Lalu saya coba berbagai angle, yang dibawah ini anglenya dari atas, dengan lensa 50mm f/1.4 di bukaan f/1.4. Maka itu ruang tajamnya sangat sempit. Fokus di satu mata, mata lainnya sudah blur. Hasilnya foto dibawah ini:

portrait studio

Singkat kata, memainkan lampu studio dan bereksperimen dengan berbagai softbox sangat menarik untuk membentuk wajah. Lampu flash bukan hanya kita gunakan untuk menerangkan subjek, tapi dengan pengarahan dan penempatan lampu yang pas, kita dapat membuat foto yang lebih menarik.

portrait studio shadow

Hari Minggu, tanggal 3 Agustus 2014 ini saya akan mengadakan workshop creative lighting studio untuk portrait. Kita akan bahas banyak setting lampu. Tidak sulit asal kita tau sedikit dasar fotografi bisa ikut dalam workshop ini. Workshop ini tidak sering saya adakan, jadi, kalau ada waktu jangan lewatkan dan daftar ke 0858 1318 3069 – infofotografi@gmail.com

Trims untuk talent yang cantik, Marla Yunita.

{ 0 comments }

Pertimbangkan untuk Downgrade

Downgrading adalah ganti kamera ke kelas yang lebih rendah. Bisa berarti lebih murah, lebih pemula, lebih murah. Kebanyakan dari fotografer pro atau amatir selalu berpikiran upgrade, misalnya upgrade kamera yang lebih canggih, lebih besar, lebih mahal, lebih banyak megapixelnya dan sebagainya. Tapi sedikit sekali yang berpikir untuk mendowngrade ke kamera yang lebih cocok.

Saya sendiri mengalami pengalaman downgrading. Setelah mengunakan Nikon D700 selama 4 1/2 tahun, saya malah memilih Nikon D600 daripada Nikon D800/E. Dan belakangan ini saya banyak mengunakan karena dipinjami kamera mirrorless seperti Sony A6000, Samsung NX atau Sony A7/A7S (Soal yang terakhir saya sebutkan ini downgrade atau upgrade mungkin masih perlu diperdebatkan hehe). Kadang saya cuma bawa kamera saku Ricoh GRD IV di kantong celana saya.

Setelah downgrade, kualitas gambar yang saya dapatkan bukan menurun tapi saya rasa sama saja atau malah cenderung meningkat. Meningkatnya kualitas gambar bukan karena alat, tapi karena pengalaman dan ketrampilan saya meningkat dari waktu ke waktu.

Kapan sebenarnya kita perlu menyadari saat yang tepat untuk downgrade?

1. Kamera terasa besar

Kamera dan lensa yang berukuran besar dan lensa panjang tentunya akan menarik perhatian orang-orang disekitar kita, terutama saat berjalan-jalan di keramaian. Kita bisa disangka reporter foto atau bisa jadi dikira orang kaya dan kemudian menjadi target kejahatan atau pemerasan. Misalnya dimintai uang oleh preman, bayar karcis tempat wisata lebih mahal, atau dicopet waktu asyik-asyik foto. Saya sendiri hampir kena copet juga.

2. Kamera terasa berat

Jika kamera dan lensa terasa makin berat, terutama jalan-jalan panjang atau sedang hiking, mungkin saatnya memilih kamera dan lensa yang ukurannya lebih kecil dan ringan. Ganti lensa zoom panjang berbukaan besar menjadi lebih kecil. Misalnya f/2.8 ke f/4. Ganti lensa zoom menjadi lensa fix juga akan membantu meringankan beban.

3. Menu kamera, dan tombol-tombolnya terasa rumit

Jika merasa sering sulit mengingat posisi setelan di menu, dan senantiasa kebingungan dengan fungsi tombol dan isi menu, mungkin downgrade ke kamera yang memiliki antarmuka tombol dan menu yang lebih sederhana bisa mengatasi masalah.

4. Kantong kering terkuras

Membeli kamera yang mahal sehingga dana habis dan tidak cukup untuk membeli lensa-lensa berkualitas dan aksesorisnya malahan bisa merepotkan. Kualitas gambar akan buruk jika mengandalkan lensa jadul yang murah. Lebih baik men-downgrade kamera ke yang lebih murah, kemudian membeli lensa yang berkualitas.

Sekali lagi, downgrading bukan berarti membuat kualitas gambar Anda menjadi semakin buruk, malahan seringkali bisa membuat kualitas gambar meningkat karena Anda akan merasa lebih nyaman, lebih mudah mempelajari memaksimalkan kamera yang lebih sederhana, dan stamina Anda juga akan lebih terjaga saat berjalan jauh.

{ 3 comments }

Kesan dan review singkat Nikon Df

Baru-baru ini saya memberikan bimbingan privat untuk seorang pengguna Nikon Df. Dari pengalaman tersebut saya mendapatkan beberapa kesan tentang Nikon Df.

Sebagai info, Nikon Df adalah kamera DSLR bersensor full frame dengan desain body bergaya kamera film seperti perpaduan Nikon FM2 dan Nikon F3.

nikon-df

Saat menggenggam kamera ini, kesan saya kamera ini sepertinya kamera yang paling ringan untuk kamera bersensor full frame (FX). Menurut spesifikasi, Nikon Df lebih ringan dari Nikon D600/D610 (710 gram dibandingkan dengan 760 gram).

Ringan sebenarnya bagus, tapi jadi gak begitu berimbang jika kita memasang lensa profesional yang beratnya lebih jauh lebih berat dari bobot kameranya. Menurut saya idealnya, Nikon Df di kombinasikan dengan lensa fix yang ukurannya pendek dan beratnya dibawah 400 gram. Kalau dari desain, paling keren memang kalau dipasang di lensa fix yang jadul, yang belum ada autofokusnya :)

Suara Nikon Df menurut saya biasa saja, bunyinya “ceklek”, menyerupai suara mekanik kamera film jaman dulu. Gak terlalu berisik tapi jauh dari senyap. Quiet (Q) mode nya cukup pelan dibandingkan dengan DSLR lainnya.

nikon-df-top

[click to continue…]

{ 0 comments }

Setelah ramainya peminat kamera mirrorless yang gabung di acara bulan lalu, maka kami buka lagi acara yang bertopik sama untuk bulan Agustus 2014.

Sistem kamera mirrorless dalam satu-dua tahun terakhir ini semakin lama semakin canggih bahkan beberapa diantaranya memiliki fitur dan mampu menghasilkan kualitas gambar melampaui kamera DSLR biasa.

Kamera mirrorless memiliki sifat yang berbeda dengan kamera DSLR, sehingga untuk memanfaatkan semua potensinya membutuhkan pemahaman tentang acara kerja, operasi, pemilihan lensa yang sesuai dan setting-nya.

Di dalam acara ini, saya akan membahas tentang kelebihan dan kekurangan sistem kamera mirrorless, setting-setting terbaik untuk memotret, sistem autofokus, Tips untuk menghemat baterai, fungsi dan menu kamera, dan memanfaatkan fungsi WiFi untuk sharing foto, download berbagai aplikasi untuk membuat efek khusus (star trail, bracketing, ray of light dll), dan mengunakan smartphone sebagai remote control.

sony-a6000Kita beruntung karena Sony Indonesia berkenan meminjamkan sejumlah perangkat kamera mirrorless baik yang kelas atas (full frame sensor) sampai ke pemula. Bukan hanya itu, Sony juga meminjamkan beragam lensa dan aksesoris yang nantinya bisa dicoba peserta.

Acara ini terbuka untuk siapa saja, dari yang memiliki kamera mirrorless Sony Alpha / NEX, dan juga terbuka bagi pengguna kamera mirrorless merek lain yang ingin lebih mengetahui dan memahami sistem kamera mirrorless.

Tujuan acara ini  adalah untuk belajar fitur-fitur dan setting terbaik untuk kamera mirrorless (Demo dengan berbagai kamera Alpha) dan bertemu dan sharing dengan sesama pengguna kamera mirrorless. Jangan kuatir, acara ini bukan acara yang orientasinya sales/promo/ jualan, melainkan lebih ke edukatif.

Bonus: Tip-trik setting kamera Sony A7, A6000, A5000, NEX, dll, dalam bentuk e-book/PDF, ekslusif hanya untuk peserta.

Karena tempat terbatas (maksimum 30 peserta), maka disarankan untuk mendaftar terlebih dahulu.

Biaya mengikuti acara ini Rp 50.000 saja per orang.
Pembicara : Enche Tjin

Hari/Tanggal: Sabtu, 9 Agustus 2014. Pukul 13.00 – 16.30 WIB
Tempat: Jl. Moch. Mansyur (baru: Imam Mahbud) No. 8B. Sebelah bank Bumiputera, dekat persimpangan Hasyim Ashari, Jakarta Pusat. Klik disini untuk melihat Peta

Info dan konfirmasi pendaftaran:
0858 1318 3069 /infofotografi@gmail.com
Rek. BCA 4081218557, Mandiri 1680000667780
Atas nama Enche Tjin

{ 11 comments }

Rekomendasi lensa untuk Samsung NX

Lensa-lensa tambahan untuk sistem kamera Samsung NX saat ini belum begitu banyak, tapi untuk lensa basic sebenarnya sudah cukup lengkap. Setelah memiliki kamera Samsung NX (bisa dilihat panduannya disini), tentunya langkah berikutnya adalah mencari lensa tambahan untuk membuat foto yang sudut pandang atau efek yang berbeda.

lensa-samsung-nx

Beberapa lensa yang saya rekomendasikan antara lain:

  • Samsung 12-24mm f/4-5.6 ED : Lensa sangat lebar untuk pemandangan yang dramatis seperti langit di pantai. Lensa ini relatif ringan dan cocok digunakan outdoor atau indoor. Jika digunakan di kondisi cahaya yang gelap seperti indoor/sunset, saya anjurkan mengunakan tripod karena lensa ini tidak ada fitur stabilizernya. Berat 208 gram, diameter 6.3 cm, panjang 6.5 cm, filter 58mm.
  • Samsung 16-50mm f/2-2.8 S : Lensa zoom lebar yang kualitasnya sangat tinggi /pro dan bukaannya sangat besar. Ukurannya agak besar dan berat, Harganya juga relatif tinggi. Berat 610 gram, diameter 8.6  cm, panjang 9.6 cm. filter 72mm.
  • Samsung 50-200mm f/4-5.6 OIS : Lensa telefoto untuk motret subjek foto yang jauh seperti olahraga, satwa liar, bisa juga untuk portrait. Ukurannya agak besar dan panjang. Berat 417 gram, diameter 7 cm, panjang 10 cm, filter 52mm.
  • Samsung 18-200mm f/3.5-6.4 OIS : Lensa sapujagat ini adalah gabungan dari lensa lebar dan telefoto. Ideal buat jalan-jalan sehingga gak repot ganti-ganti lensa. Komprominya adalah di jarak telefoto, kualitas gambar agak menurun/kurang tajam dan bukaannya relatif kecil sehingga motret di kondisi gelap di rentang telefoto akan agak sulit. Berat 578 gram, diameter 7.2 cm, panjang 10.55 cm.

[click to continue…]

{ 0 comments }

Mencari foto yang tidak terhubung di Lightroom

Kalimat “The Folder could not be found” merupakan momok bagi pengguna Lightroom.

Ini artinya file foto yang orisinilnya sudah dipindahkan di luar lingkungan kerja Lightroom. File tidak akan bisa diedit lagi ataupun diekspor. Untuk menghubungkan kembali foto tersebut, kita harus tahu di mana file orisinilnya berada.

Seringkali, saya mendapat pertanyaan, bagaimana me-link kembali file tersebut? Maka saya akan mengaju pada buku Lightroom halaman 29 bagian “Jika foto asli tidak terhubung” ataupun jika mengikuti workshop Lightroom, penjelasan ini akan ada pada handout halaman 3 bagian “Jika foto hilang”.

Cara ini akan berhasil jika kita tahu/ingat dimana letak file foto orisinil tersebut.

Masalahnya, banyak yang sudah memindahkan filenya tanpa tahu ke mana foto tersebut sudah dipindah.

Kalau sudah begitu, mungkin cara di bawah ini bisa membantu. [click to continue…]

{ 2 comments }

Mengenal dua jenis distorsi lensa dan solusinya

Distorsi artinya adalah penyimpangan bentuk. Distorsi biasanya terjadi saat mengunakan lensa dengan jarak fokus sangat lebar atau telefoto. Ada dua jenis distorsi yang populer, yaitu barrel dan pincushion.

Disebut barrel karena penyimpangan bentuknya seperti gentong atau cembung keluar. Biasanya terjadi saat mengunakan lensa dengan jarak fokus lebar, antara 10-16mm.

Contoh distorsi Barrel (seperti gentong)

Contoh distorsi Barrel (seperti gentong)

Atas: distorsi barrel. Bawah: Setelah dibetulkan

Atas: distorsi barrel. Bawah: Setelah dibetulkan. Lagi diskusi dengan mahasiswa/i UI

Kiri: Contoh distorsi barrel sebelum dibetulkan. Kanan: Setelah dibetulkan dengan software

Kiri: Contoh distorsi barrel sebelum dibetulkan. Kanan: Setelah dibetulkan dengan software

Distorsi yang paling parah biasanya terjadi saat mengunakan lensa lebar zoom yang berukuran relatif kecil. Distorsi barrel kadang-kadang saya biarkan saja apa-adanya saat memotret alam/nature, karena tidak terlalu ketara dan kadang malah bagus karena memberikan kesan tiga dimensi. Tapi kalau untuk arsitektur / interior atau kalau ada pola-pola garis, distorsi akan sangat mengganggu, karena garis-garis yang tegak lurus jadi melengkung.

Distorsi pincushion (cekung ke dalam) Sering terjadi saat mengunakan lensa tele.

Distorsi pincushion (cekung ke dalam) Sering terjadi saat mengunakan lensa tele.

Cara mengatasi yang paling mudah yaitu dengan mengaktifkan auto correction lens di kamera jika ada. Hasil gambarnya nanti akan bebas distorsi. Tapi keterbatasannya yaitu gak bisa motret dengan file RAW. Jika memotret dengan kualitas RAW, maka kita perlu membetulkannya sendiri.

Di software Adobe Lightroom, ada panel lens correction dan profile lensa berbagai merek yang cukup banyak. Mengaktifkan “enable profile correction” akan mengkoreksi distorsi secara otomatis.

Panel lens profil di Lightroom

Panel lens profil di Lightroom

Banyak profile lensa yang ada di Lightroom versi 5.4 ini. Lensa jadul biasanya gak ada

Banyak profile lensa yang ada di Lightroom versi 5.4 ini. Lensa yang terlalu  jadul misalnya keluaran tahun 70-an biasanya gak ada

Mungkin Anda akan bertanya-tanya, mengapa produsen kamera & lensa tega membuat lensa yang berefek distorsi seperti diatas. Jawabannya mungkin agak rumit. Untuk membuat lensa yang bebas distorsi (terutama lensa zoom yang lebar sekali atau rentang zoomnya jauh) akan sangat sulit dan berakibat ukuran lensa menjadi sangat besar dan berat. Selain itu harga sudah pasti akan tinggi.

Sebagai komprominya, koreksi distorsi lensa akan dilakukan secara software baik di kamera maupun di Lightroom. Sehingga sama-sama senang. Jika memang kita tau bahwa lensa punya kita distorsi, jangan lupa saat komposisi foto jangan terlalu ketat, sisakan sedikit ruang sehingga saat membetulkan distorsi di software, bagian penting difoto tidak terpotong.

—–

Belajar Adobe Lightroom kini bisa melalui workshop 1 hari atau melalui buku Adobe Lightroom yang ditulis khusus oleh Enche & Iesan.

{ 2 comments }

Review lampu studio wireless Rime Lite i6

Penggemar fotografi dan fotografi profesional yang sering berpindah-pindah tempat biasanya berkompromi dengan mengunakan external flash/speedlite karena membawa lampu studio tidak praktis terutama untuk di luar ruangan. Tapi seringkali speedlite memiliki keterbatasan di kekuatan (power) atau flash duration (kecepatan cahaya dalam membekukan subjek).

Rime Lite i6, lampu studio buatan Korea ini dirancang untuk memecahkan masalah diatas. Bentuknya memang seperti lampu studio biasa, tapi jauh lebih portabel dibandingkan lampu studio pada umumnya. Rime Lite i6 ini mengunakan baterai litium yang dipasang didalam unit lampunya dan cukup untuk dipakai sekitar 400 kali full power dan 2000 kali di minimum power. Kapasitas baterai cukup untuk syuting foto seharian. Rime Lite juga menyediakan wireless trigger khusus tanpa kabel yang praktis, yang dapat berfungsi untuk pengaturan kekuatan/ power on/off dari setiap individual yang terkoneksi dalam satu channel.

Antarmuka i4 sudah digital dan relatif mudah dipelajari. Wireless receiver terpasang di bagian belakang atas lampu tanpa kabel.

Antarmuka i6 sudah digital dan relatif mudah dipelajari. Wireless receiver terpasang di bagian belakang atas lampu tanpa kabel.

Karena mengunakan mount yang cukup universal (Fomex, Bowen, dll), bagi yang sudah memiliki berbagai softbox atau light-shaper lainnya bisa memasang di Rimelite ini tanpa masalah. Rime Lite juga menyediakan mount buat speed light, dan dudukan mounting ke stand lampu didalam paketnya juga.

Saya sempat memasang softbox ukuran 80 x 140cm dan mount-nya cukup kuat menahan beban softbox tersebut. Dari Rime Lite sendiri sebenarnya juga memiliki berbagai lightshapers, yang salah satunya adalah hexagonal yang mudah sekali untuk di setup, karena tidak perlu di rakit seperti softbox konvensional. Selain itu tersedia juga strip box, softbox, oktabox, beauty dish dan sebagainya.

Selain portabilitas yang tinggi, Rime Lite i6 juga memiliki dua senjata rahasia yaitu mode high flash duration yang dapat mencapai 1/12800 detik, t 0.5 . Hanya tentunya kalau mengejar flash duration secepat 1/12800 detik, maka kekuatan flash akan melemah. Flash duration yang cepat/singkat ini berguna untuk membekukan subjek bergerak sangat cepat seperti gerakan air, gerakan penari, atlit, dan lain-lain.

Untuk membekukan air dengan sempurna membutuhkan flash duration tinggi. Untuk foto ini saya mengunakan satu lampu dengan standard reflector dan setting t3 (flash duration 1/4000 detik).

Untuk membekukan air dengan sempurna membutuhkan flash duration tinggi. Untuk foto ini saya mengunakan satu lampu dengan standard reflector dan setting t3 (flash duration 1/4000 detik).

[click to continue…]

{ 15 comments }

Sony A7 yang mana yang sebaiknya dibeli?

Sony menyiapkan tiga kamera bersensor full frame dengan body yang relatif ringan dan ringkas, tapi yang mana yang paling cocok ya?

Belakangan, pertanyaan ini sering ditanyakan, biasanya oleh pengguna kamera DSLR full frame yang sudah merasakan “beratnya” membawa kamera DSLR full frame dengan lensa-lensanya saat jalan-jalan. Atau kelompok kedua adalah yang kecewa dengan kualitas gambar kamera mirrorless yang bersensor lebih kecil.

Ada tiga varian Sony A7, dan setiap varian memiliki kelebihan kekurangan yang berbeda. Maka itu tidak ada kamera yang paling bagus, tapi yang paling cocok untuk kebutuhan.

Silahkan dipilih

Silahkan dipilih

Sony A7 adalah kamera yang paling fleksibel dan serba guna, harganya paling terjangkau (saat ini sekitar Rp 15-16 juta), resolusinya cukup tinggi yaitu 24 MP. Kelebihan lain dibandingkan varian lainnya adalah adanya hybrid phase detection autofocus yang mempercepat autofokus saat memotret subjek bergerak di kondisi cahaya terang seperti di luar ruangan. Menurut saya, A7 cocok untuk foto liputan acara keluarga, memotret anak-anak bermain, portrait, bahkan pemandangan. 24 MP cukup besar untuk cetak ukuran panjang 1 meter. [click to continue…]

{ 7 comments }

Pilih mana? Nikon D3200 vs Nikon D5200

Kedua kamera DSLR pemula Nikon ini memiliki sensor gambar dengan resolusi yang sama yaitu 24 MP, tapi yang D3200 sekitar 3 juta lebih murah. Apa beda antara keduanya?

nikon-d5200-vs-nikon-d3200

  • Nikon D5200 punya layar LCD yang bisa diputar, fitur ini akan membantu saat memotret di sudut yang sulit atau saat merekam video.
  • Nikon D5200 memiliki Effects mode dan fungsi-fungsinya lebih bisa dikustomisasi daripada Nikon D3200
  • Autofokus D5200 lebih canggih yaitu 39 titik, sama dengan D7000 dan D600/610. D3200 hanya punya 11 titik. Sistem autofokus yang baik bagus untuk fotografi aksi/subjek bergerak.
  • Di sisi video, D5200 dapat merekam efek slow motion di ukuran full HD yaitu 60/50i, sedangkan D3200 hanya 30p.
  • Microphone D5200 stereo, D3200 mono, tapi keduanya bisa dipasang dengan mic external yang lebih bagus.
  • Kualitas file RAW dari D5200 14 bit, D3200 12 bit, sehingga saat mengolah/edit foto, kualitas gambar D5200 akan lebih baik.
  • Yang terakhir, kecepatan foto berturut-turut D5200 lebih cepat (4 fps vs 3 fps)

Kelebihan-kelebihan diataslah yang membuat perbedaan harga yang cukup signifikan antara keduanya. Jika Anda seorang pemula yang tidak berencana untuk menggali / mempelajari fotografi lebih dalam, D3200 sudah cukup. Tapi jika ingin menjelajahi lebih dalam baik fotografi maupun video, saya usulkan Nikon D5200.

{ 8 comments }