≡ Menu

Kupas tuntas kamera digital SLR+Mirrorless
8 Maret 2015
Daftar/Info: hub: 0858 1318 3069

Mungkin hal yang paling jarang dibahas adalah tripod. Padahal ketajaman foto sangat tergantung dari tripod. Bahan kaki tripod menentukan kestabilan kamera dan lensa yang diletakkan diatasnya. Dahulu, bahan kaki tripod bermacam-macam, ada yang dari kayu, besi, alumunium dan di sekitar tahun 1990-an mulai muncul tripod dengan bahan carbon fiber. Mengunakan tripod berbahan carbon fiber merupakan prestige tersendiri, bukan hanya karena harganya lebih tinggi, tapi juga memiliki berbagai keuntungan dibandingkan dengan alumunium.

tripod-kayu

Tripod bahan kayu

Alumunium dengan ukuran sama lebih berat dari carbon fiber karena alumunium lebih padat. Kepadatan Alumunium adalah 2.7 gram per cubic centimeter, sedangkan carbon fiber hanya 1.6 gram per centimeter. Sehingga dengan berat yang sama, tripod berbahan carbon fiber lebih kokoh.

Sayangnya, tidak semua bagian dari tripod bisa digantikan dengan carbon fiber. Kita hanya bisa menghemat berat dari tabung kaki tripod saja. Sedangkan banyak bagian lain masih terbuat dari logam aluminium, magnesium alloy atau plastik.

Saya biasanya tidak merekomendasikan tripod yang sebagian besar dari plastik atau logam tipis, karena mudah sekali penyok dan tidak kokoh. Sebagian tripod yang berkualitas mengunakan logam magnesium alloy yang memiliki sifat kokoh dan tidak begitu berat.

Untuk tripod dengan kapasitas yang sama, perbedaan total berat antara tripod alumunium dan carbon fiber sebenarnya tidak banyak, yaitu sekitar setengah sampai satu kilogram. Tapi jika fotografi yang disukai adalah landscape yang membutuhkan hiking dan membawa peralatan kamera, lensa sendiri, maka 1/2 – 1 kg lebih ringan itu akan sangat membantu.

Lapisan bahan kaki tripod berbahan carbon fiber

Lapisan bahan kaki tripod berbahan carbon fiber

Kelebihan carbon fiber tidak hanya lebih ringan, tapi juga bukan konduktor getaran yang bagus dibandingkan dengan logam. Coba perhatikan alat musik seperti lonceng dan gong, materinya dari logam supaya bisa bergetar dan memunculkan bunyi. Carbon fiber tidak menghantarkan getaran. Jadi jika di bagian bawah carbon fiber, ada getaran misalnya dari air, angin atau lainnya, getaran tersebut kemungkinan besar tidak sampai ke kepala tripod dan kamera.

Salah satu kelebihan yang jarang dibahas tentang tripod carbon fiber adalah tentang ketahanannya terhadap cuaca dingin. Kaki tripod carbon fiber tidak dingin seperti alumunium saat hunting foto di tempat yang dingin.

Mengapa tidak membeli tripod Carbon Fiber saja kalau kelebihannya banyak? Masalahnya adalah harga. Harga tripod Carbon Fiber biasanya dua sampai tiga kali lebih mahal daripada harga tripod alumunium atau bahan yang lain.

Sebagai info, tidak semua tripod yang dilabelin Carbon Fiber itu memiliki standar kualitas yang tinggi. Ada yang sekilas mirip Carbon fiber, tapi sebenarnya merupakan campuran Carbon Fiber dan Magnesium atau bahan lainnya. Pabrik biasanya membuat tripod seperti itu supaya harganya bisa lebih terjangkau.

Ringkasnya, tripod Carbon fiber memiliki kelebihan, tapi apakah pantas dengan harga lebih tinggi? Tentunya ini kembali ke masing-masing. Apakah kelebihan tersebut penting? Misalnya, jika kebanyakan foto indoor, dan tidak banyak berpindah tempat, tentunya tripod berbahan alumunium sudah cukup bagus. Jika sering foto outdoor, tripod berbahan carbon fiber memberikan keuntungan yang lebih banyak.

Panduan memilih tripod bisa dibaca disini.

————–

Membutuhkan tripod yang berkualitas untuk berbagai jenis fotografi? Coba lihat-lihat di toko kami atau hub 0858 1318 3069 / infofotografi@gmail.com untuk konsultasi.

 

{ 0 comments }

Belum lama ini hadir kamera-kamera baru dengan ukuran megapiksel yang membuat sejarah, seperti Samsung NX1 dengan sensor 28 MP dan Canon EOS 5DS dengan sensor 50 MP. Nikon dan Sony juga seolah sudah ‘nyaman’ dengan berbagai produk terkini yang dibekali sensor 24 hingga 36 MP. Anda yang masih pakai kamera lama dengan resolusi sensor 10 atau 12 MP mungkin jadi merasa ‘ketinggalan jaman’ dan kurang pede dengan keadaan sekarang. Padahal saya ingat dulu kamera 2 hingga 5 MP adalah hal yang umum, dan 8 hingga 10 MP adalah sesuatu yang mewah.

sony-nex-7-24mp-camera

Kamera dengan sensor 24,3 MP

Banyak yang bertanya-tanya apakah memang kita butuh kamera dengan megapiksel sebanyak itu. Untuk menjawabnya memang tidak bisa sekedar ya atau tidak, tapi butuh pemahaman lebih dulu tentang megapiksel dan hubungannya dengan kualitas foto. Satu hal yang pasti, megapiksel akan berhubungan langsung dengan seberapa besar ukuran foto kita kalau dicetak. Sedangkan kualitas foto pada dasarnya ditentukan dari banyak faktor, seperti ukuran sensornya, kualitas lensa dan juga megapiksel itu sendiri (banyaknya piksel akan menentukan seberapa banyak detail yang bisa ditangkap oleh kamera kita).

Saat kita hanya melihat foto di monitor komputer, anggaplah resolusi monitornya 1600 x 1200 piksel (2 MP), maka foto yang ukurannya lebih dari 2 MP akan ditampilkan dalam keadaan resize / downsize ke 2 MP. Jadi tidak ada bedanya kamera 2 MP, 10 MP atau bahkan 50 MP saat sama-sama dilihat secara utuh di monitor. Bedanya baru akan terlihat saat kita magnify / zoom foto tersebut, dengan megapiksel yang banyak kita masih bisa zoom-in sampai terlihat detailnya. Hal ini biasanya dipakai untuk kebutuhan cropping foto.

Detail dan crop dari Sensor 20 MP

Detail dan crop dari Sensor 20 MP

Lalu bila saat ini kita sudah punya kamera dengan megapiksel yang banyak, bagaimana menyikapinya?

Pertama dari sisi keuntungan maka kita bisa dapatkan detail yang sangat banyak dari sebuah foto, baik itu untuk dicetak besar ataupun di crop seperti yang sudah dijelaskan di atas. Tapi konsekuensi dari banyaknya piksel akan berdampak pada besarnya ukuran file gambar (megabyte-MB). Padahal ukuran file inilah yang menentukan banyaknya foto yang bisa disimpan di kartu memori. Hal ini akan jadi kendala bila kartu memori kita kapasitasnya terbatas. Maka itu di kamera ada pilihan apakah mau menyimpan foto dalam ukuran maksimal atau diperkecil. Misal Large (18 MP), Medium (10 MP) dan Small (6 MP). Pilihlah ukuran yang sesuai kebutuhan dan rencana cetak nantinya.

Image q canon

Hal lain yang perlu diingat bahwa apabila kita punya kamera dengan sensor diatas 18 MP (misal 20 MP, 24 MP, 28 MP dst) maka secara teknik akan lebih mudah mengalami difraksi lensa, walaupun bukaan lensa yang dipilih tidak terlalu kecil. Untuk ukuran sensor APS-C misalnya, resolusi 12 MP umumnya batas aman difraksi ada di bukaan f/13, tapi untuk sensor 24 MP batas amannya ada di f/8 (lebih kecil dari f/8 sudah mengalami difraksi dan hasil foto mulai menjadi soft). Jadi pilihlah bukaan lensa dengan lebih bijak saat sensor kamera kita diatas 18 MP. Hal lain yang perlu diperhatikan saat memotret dengan megapiksel tinggi adalah foto lebih rentan blur akibat handshake, jadi untuk lebih amannya, gunakan shutter speed lebih cepat atau gunakan tripod.

img-03-02

Ada satu hal penting lain tentang megapiksel yang kerap luput dari perhatian kita, dan menurut saya inilah yang paling menyebalkan, adalah tidak banyak lensa yang dirancang untuk mampu mengimbangi tingginya megapiksel sensor modern. Dengan kata lain, kebanyakan lensa yang ada saat ini belum mampu untuk menangkap detil ketajaman sensor seperti 24 MP, apalagi 50 MP. Kalaupun dipaksakan maka hasil fotonya tidak akan tajam maksimal. Kita perlu cek lagi setiap lensa yang kita punya, berapa kemampuan optimalnya untuk me-resolve detail dari sensor. Salah satu acuan untuk melihat resolving power lensa adalah situs DxO mark.

Jadi kesimpulannya, foto yang bagus memang tidak harus diambil dengan megapiksel yang sangat tinggi. Dulu saat kamera hanya sekitar 5 MP pun banyak foto bagus yang bisa didapatkan. Keuntungan foto dengan lebih banyak piksel adalah ukuran cetak yang lebih besar, dan detail yang lebih banyak (khususnya bila didukung oleh lensa yang sepadan). Saat kamera kita sudah punya sensor dengan megapiksel tinggi, kita tetap bisa memutuskan apakah mau merekam foto dengan resolusi tertingginya, atau menurunkan ukurannya bila perlu. Kita juga perlu memperbaiki teknik memotret supaya foto tetap tajam, terhindar dari difraksi maupun blur karena getaran tangan. Dalam jangka panjang baiknya juga mulai mempertimbangkan upgrade ke lensa-lensa yang ekstra tajam sehingga detail foto yang didapat lebih maksimal.

——————————–

Untuk belajar mengenal setting kamera, ikuti kelas kupas tuntas kamera digital. Minggu, 8 Maret 2015 jam 13.00-selesai.

Untuk belajar teknik fotografi lanjutan, ikuti kelas mastering teknik dan art. Sabtu-Minggu, 28-29 Maret 2015 jam 10.00-selesai.

{ 9 comments }

Dilema: Lensa makro atau lensa fix telefoto?

Lensa makro punya keunggulan bisa fokus dekat, sehingga cocok untuk foto benda-benda yang kecil, tapi juga bisa fokus ke jarak yang jauh/tak terhingga sehingga bisa juga dipakai untuk foto portrait manusia, bahkan pemandangan. Nah dilemanya, selain lensa makro, ada juga lensa yang mirip, tapi tidak bisa fokus dekat.

Contoh:

  • Canon EF 85mm f/1.8 atau Tamron 90mm f/2.8 Macro ?
  • Nikon AF-S 85mm f/1.8G atau Nikon AF-S 85mm f/3.5 DX Macro ?
  • Olympus 45mm f/1.8 atau Panasonic Leica 45mm f/2.8 Macro ?
  • Fujifilm 56mm f/1.2 atau Fujifilm 60mm f/2.4 Macro ?
  • Sony E 35mm f/1.8 OSS Macro atau Sony 30mm f/2.8 Macro ?
  • Canon EF 100mm f/2 atau Carl Zeiss 100mm f/2 Macro ?
  • dan seterusnya…

Kalau bicara soal harga, sebagian besar lensa makro lebih tinggi harganya, tapi kadang bisa terjadi sebaliknya. Sebaiknya yang mana ya? Sekilas, lebih menguntungkan lensa makro, karena bisa multi fungsi, tapi kalau pendapat saya pribadi, saya lebih suka punya keduanya, karena masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya.

tamron-90mm-makro

Tamron 90mm f/2.8 Makro. Terkenal karena tajam dan terjangkau

Kekurangan lensa makro biasanya autofokusnya lebih lambat, karena focus throw-nya lebih panjang, dari jarak dekat sampai tak terhingga. Lensa makro biasanya memiliki bukaan maksimum yang lebih kecil (f/2.8 atau lebih kecil lagi saat mendekat ke objek foto). Ukuran lensa makro juga biasanya lebih panjang.

Kualitas ketajaman sebagian besar lensa makro juga bisa berbeda dengan lensa biasa. Kebanyakan lensa makro dirancang untuk foto jarak dekat. Untuk fokus objek yang dekat, kualitasnya bisa sangat baik, tapi kalau fokus jarak jauh, kualitasnya tidak setajam saat fokus jarak dekat.

Fuji 56mm f/1.2 - lensa spesialis portrait

Fuji 56mm f/1.2  Lensa spesialis portrait

Bagi yang budgetnya terbatas, lensa makro memang lebih menguntungkan, karena bisa digunakan untuk foto makro/close-up dan juga foto yang lain. Tapi jika lebih sering motret portrait, foto low light, maka lensa fix lebih bagus untuk digunakan. Blur latar belakang yang dihasilkan lensa akan lebih maksimal dan sekaligus menyerap lebih banyak cahaya.

Anda sendiri pilih yang mana?

{ 11 comments }

Jakarta sebagai ibu kota Negara memang menyimpan banyak kisah dan cerita. Setiap sisi dan sudutnya mempunyai keunikan cerita masing-masing. Workshop Street Fotografi & Human Interest kali ini akan mengunjungi pelabuhan Sunda Kelapa, dilanjutkan dengan naik perahu menuju ke Kampung Luar Batang. Kampung yang mulai dibangun tahun 1630 an ini adalah kampung tertua di Jakarta (dulu Batavia).

Kampung ini berdiri karena aturan ketat VOC waktu itu yang memberlakukan pemeriksaan ketat terhadap tukang perahu local ketika hendak memasuki pelabuhan VOC. Area pelabuhan VOC tidak mengijinkan tukang perahu local untuk masuk di malam hari, VOC memberi patok batang kayu untuk menjadi batas penanda area. Banyaknya nelayan yang datang di malam hari dan belum boleh memasuki area pelabuhan VOC, membuat mereka membangun bengunan semi permanen untuk tempat tinggal, inilah yang melatar belakangi munculnya kampung Luar Batang.

kampung-luar-batang-jakarta

kucing-luar-batang

Setelah menyusuri Kampung Luar Batang, kita menuju ke Kampung Batik Palbatu yang berada di daerah Tebet, Menteng Dalam. Kawasan edukasi batik yang memberdayakan masyarakat sekitar ini memang bukanlah kampung yang memiliki sejarah panjang dalam industry batik seperti kampung Batik di Laweyan Solo. Tetapi tempat ini mempunyai keunikan tersendiri karena berdiri di tengah kepadatan Jakarta. Masyarakat Jakarta yang cenderung berpikir praktis, ternyata mau juga untuk belajar membatik yang notabene membutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Di tempat ini kita bisa melihat ibu-ibu dan anak-anak antusias membatik.

[click to continue…]

{ 8 comments }

Liputan Tour Bukittinggi Februari 2015

Tur fotografi ke Sumatera Barat khususnya ke Bukittinggi dan Payakumbuh yang diikuti sebanyak 17 peserta telah berlangsung dengan lancar. Dalam tur ini peserta diajak berkeliling menikmati keindahan alam di bumi minang yang dihiasi pegunungan, sawah dan tebing tinggi menjulang. Tur dimulai dari bandara Minangkabau menuju Payakumbuh untuk memotret lembah Harau, sambil berhenti di beberapa spot untuk menikmati kuliner seperti sate padang dan memotret air terjun Lembah Anai. Cuaca yang baik membuat agenda foto-foto hari pertama berjalan lancar, hingga tak terasa sore sudah menjelang dan waktunya melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi. Di Bukittinggi yang berhawa sejuk, rombongan menghabiskan malam minggu di pusat kota dengan ikon Jam Gadang yang khas.

Sate Padang

Kuliner khas Padang : sate padang

Peserta tur

Peserta Tur

Foto lembah Harau

Asyik memotret Lembah Harau

Di hari kedua pagi-pagi sekali peserta tur sudah harus berangkat mengejar sunrise di Puncak Lawang. Setibanya di lokasi yang dituju, tebalnya kabut dan dinginnya udara pagi menyambut kami yang hendak memotret sunrise. Tak lama akhirnya matahari pagi pun muncul di sela-sela pohon pinus dan kesempatan ini tak disia-siakan peserta untuk diabadikan. Cukup pekatnya kabut membuat kami saat itu tidak bisa melihat indahnya danau Maninjau dari puncak Lawang, tapi kami melanjutkan perjalanan mendekati kelok 44 untuk mencari spot lain yang bisa melihat view Maninjau. Setelah menemukan spot yang dimaksud, peserta pun dengan antusias memotret danau Maninjau dan bukit-bukit disekelilingnya. [click to continue…]

{ 2 comments }

Mengulas singkat kamera medium format Pentax 645Z

Pentax 645Z adalah kamera dengan sensor gambar medium format beresolusi 51.4 MP. Saat diumumkan bulan April tahun 2014 yang lalu, Pentax 645z sempat membuat geger penggemar fotografi profesional / advance, karena harganya yang “cukup” terjangkau untuk kategori sistem kamera medium format. Tentunya kamera ini bukan kamera yang tergolong murah bagi penggemar fotografi. Harga kamera Pentax 645Z body only Rp 108 juta saat saya menulis ini, dan Rp 120 juta dengan lensa 55mm f/2.8. Dibandingkan dengan kamera medium format yang lain, 655z kurang lebih murah sekitar 1/3 dari harga pesaingnya.

pentax-645z-back

Dilihat dari spesifikasinya, Pentax 645z ini juga sangat canggih. Kamera ini dilengkapi dengan layar LCD berukuran 3.2 inci. ISO maksimum 204.800, foto berturut-turut 3 foto per detik, 27 titik autofokus, video 1080/60i. Dan daya tahan shutter telah diuji sampai 100.000 jepret. Seperti kamera Pentax pada umumnya, 645z dirancang untuk tahan berbagai jenis cuaca dan suhu. Untuk memudahkan fotografer studio, tersedia memory card khusus Pentax FluCard yang memungkinkan remote control dan image sharing dari kamera ke smartphone, tablet atau komputer. [click to continue…]

{ 9 comments }

Pilih Canon 760D atau Canon 70D ?

Berikut transkrip video ngobrol-ngobrol saya dengan mas Erwin Mulyadi tentang kamera DSLR Canon 760D dan 70D

Enche : Mas Erwin, saya lagi dilema nih, sekarang, saya ingin beli Canon 70D, kamera yang bisa dibilang cukup canggih, semi pro. Tapi dalam satu minggu terakhir ini saya dengar kabar bahwa sudah diumumkan kamera Canon 760D. Nah ini kan kamera yang sebenarnya ditujukan oleh pemula, tapi kalau dilihat spesifikasi dan bentuk fisiknya sudah mirip-mirip 70D. Dia punya top LCD, roda dial dibelakang, dan beberapa fiturnya juga sama, misalnya autofokus sudah 19 titik. Terus kemudian juga touchscreen dan bisa diputar-putar layarnya, dan yang uniknya lagi prosesornya malah lebih canggih. Prosesornya DIGIC 6, dibanding dengan 70D kan 5+, jadinya 760D itu bisa 24 megapixel dan ISO-nya bisa sampai 25600. Terus yang parahnya lagi, harganya lebih murah 2.5 juta kurang lebih dari 70D. Jadi bagusan ambil 760D atau 70D ?

canon_eos_760d

760d-top

Canon EOS 760D

Erwin : Ya.. Tapi.. Gak seperti itu juga ya, karena yang 70D ini body-nya kita waktu sekilas melihat mirip, body 70D itu sudah lebih kokoh. Bahannya lebih kuat dan weathershield. Kemudian dia punya dial juga lebih besar dibandingkan dengan 760D. Dan kemudian karena bodynya lebih besar, jadi baterainya juga ukurannya lebih besar. Sekali charge, dia bisa dipakai untuk 940 kali foto. Sedangkan 760D itu hanya 440 kali foto saja.

Kalau kita lihat dalamnya, juga ada perbedaan kinerja yang cukup signifikan yaitu shutter speed maksimum. Kalau shutter speed yang 760, paling tinggi 1/4000 detik. Sedangkan yang 70D bisa sampai 1/8000 detik. Nah ini meskipun bedanya gak begitu banyak, tapi akan kepakai khususnya bagi yang punya lensa yang bukaan besar. Kalaiu kita foto siang-siang, cahayanya banyak, shutternya lebih cepat akan lebih membantu.

Kemudian satu hal lagi yang cukup penting adalah jendela bidik di 70D terbuat dari bahan pentaprisma yang lebih besar dan terang daripada jendela bidik yang ada di 760D.

canon-70d

Canon EOS 70D

Canon EOS 70D

Canon EOS 70D

Enche : Jadi cukup banyak juga perbedaannya ya, kalau kita lebih teliti ya. Wah bagaimana nih mas Erwin, jadi tambah dilema. Bagusan 760D atau 70D?

Erwin : Kalau dilihat dari kualitas foto sama-sama bagus ya, karena sensornya sama-sama APS-C. Tapi kalau kita lihat peruntukannya, yang 70D ini memang lebih untuk yang butuh foto aksi cepat, autofokus cepat, continuous shooting yang cepat. 70D bisa 7 foto per detik, sedangkan 760D bisa 5 foto per detik. Saat live view, Canon 70D punya teknologi dual pixel AF yang lebih cepat autofokusnya. Atau yang butuh shutter speed maksimum cepat 1/8000 detik. Atau bagi yang sering foto outdoor, yang cuacanya gak bisa ditebak.

Tapi untuk yang pingin kamera yang kecil aja, misalnya suka traveling atau mungkin wanita yang ingin kamera yang lebih ringan. 760D lebih cocok sih, karena ia lebih kecil dan lebih ringan. (Canon 70D = 750 gram, Canon 760D = 550 gram).

Enche : Oh gitu ya, wah dilema lagi nih ya, nanti saya pikir-pikir dulu ya.

Erwin : Oke deh

{ 15 comments }

Tips editing untuk menghilangkan Moiré

Moiré adalah pola tidak beraturan yang muncul karena detail objek foto tidak bisa diatasi dengan baik oleh sensor gambar kamera. Biasanya Moiré muncul saat kita memotret objek foto yang memiliki pola yang rapat dan berulang-ulang seperti bahan kain atau detail arsitektur dan berbagai produk industri. 5-10 tahun yang lalu, hal ini tidak begitu menjadi masalah karena setiap kamera digital memiliki filter Anti-Alias (AA) atau kadang disebut juga optical low pass filter yang cukup kuat.

Filter tersebut berfungsi untuk mencegah munculnya Moiré, tapi filter tersebut juga ada kekurangan yaitu membuat gambar sedikit lebih blur/tidak tajam secara maksimal. Ada beberapa kamera digital SLR baru yang tidak memiliki filter ini seperti Nikon D800E, D810, Sony A7R, Canon 5DS-R, dengan tujuan untuk mendapatkan ketajaman maksimal.

Selain itu, saya juga pernah membaca bahwa filter AA yang dipasang di kamera DSLR yang baru-baru pada umumnya lebih tipis daripada generasi sebelumnya. Tujuannya supaya hasil fotonya lebih tajam, terutama kamera yang memiliki resolusi tinggi (Megapixelnya banyak). Maka itu, kemunculan Moiré itu kadang tidak terelakan.

Tergantung tingkat keparahannya, Moiré sebenarnya bisa dibetulkan lewat editing. Dalam kasus ini saya mengunakan Adobe Lightroom.

Foto dibawah ini berasal dari foto grup yang biasa kami lakukan setelah pelatihan kursus kilat dasar fotografi dan lighting. Kebetulan ada peserta yang mengenakan kemeja dengan pola yang rapat. Kamera yang saya gunakan ternyata gak bisa mengatasi detail yang sangat rapat sehingga muncul Moiré.

Langkah-langkah editing dengan Adobe Lightroom adalah sebagai berikut:

editing-moire-1

Di modul Develop, klik ikon adjustment brush (kanan atas) dan di bagian Effect, pilih Moiré.

Nanti icon tanda + akan muncul. Klik di bagian baju yang terkena pola Moiré  dan mulailah mengecat bajunya. Gunakan keypad tanda kurung “[” dan “]” untuk membesarkan dan mengecilkan ukuran kuas. Kalau catnya salah, tekan dan tahan tombol “Alt/Option” sampai kuas nya bersimbol -. Selanjutnya cat bagian yang berlebih.

Saat mengecat atau setelah selesai, kita bisa menekan keypad “O” untuk melihat hasil atau tekan sekali lagi untuk melihat daerah yang dicat.

editing-moire-2
Setelah selesai, tekan tombol Done

Dibawah ini perbandingan sebelum dan sesudah.

editing-moire-3

—-
Bagi yang ingin belajar Adobe Lightroom, dapat melalui workshop satu hari (jadwal disini), atau otodidak dengan membaca dan mengikuti langkah-langkah di buku kursus editing Adobe Lightroom yang saya tulis bersama Iesan.

{ 5 comments }

Tips foto editing Sepia

Sepia adalah salah satu proses foto yang menambahkan tone (warna) ke foto hitam putih untuk memberikan kesan yang lebih hangat. Sejarah sepia ini sudah cukup lama, yaitu dari tahun 1880. Tujuan membuat foto sepia ada dua, pertama adalah supaya foto hitam putih terlihat lebih menarik, kedua adalah sebagai pengawet, karena unsur kimia yang ditambahkan ke dalam foto memperpanjang umur foto.

Di era fotografi digital, foto sepia sudah tidak efektif untuk fungsi pengawet, tapi lebih untuk memberi kesan hangat dan nostalgia. Foto yang cocok dijadikan untuk sepia mirip dengan foto hitam putih (Baca: Kapan hitam putih). Bedanya, kesan foto sepia lebih terkesan jadul, jadi lebih cocok jika isi (content) fotonya jadul pula. Misalnya mobil tua, orang tua, kebudayaan tradisional, bangunan tua.

Selain itu, untuk portrait juga oke, seperti dibawah contoh dibawah ini. Meskipun bukan bertema “tua”, tapi bisa memberikan kesan yang lebih hangat, memberikan kesan pribadi yang lebih ramah dan friendly.

mayanda-fb

Cara proses saya cukup sederhana, yaitu mengunakan Adobe Lightroom (seperti biasa hehe). Langkah pertama adalah mencari preset Sepia yang terletak dipanel sebelah kiri. Kemudian di klik saja.

sepia-preset-lightroom

Jika tidak puas hasilnya, bisa mengatur lagi saturasi dari warna coklatnya di panel Split Toning (bagian kanan layar), dan juga bisa mengatur gelap terang komposisi warnanya lewat panel Black and White Mix. Fokuskan perhatian di bagian Orange (warna kulit) dan warna Magenta/merah (warna lipstik/bibir).
sepia-lightroom-tips

Selamat mencoba.

—-
Bagi yang ingin belajar Adobe Lightroom, dapat melalui workshop satu hari (jadwal disini), atau otodidak dengan membaca dan mengikuti langkah-langkah di buku kursus editing Adobe Lightroom yang saya tulis bersama Iesan.

Model: Mayanda Nabila

{ 4 comments }

Olympus OMD EM5 mark II adalah kamera pembaharuan dari kamera Olympus OMD EM5 yang paling sukses. Teman-teman mungkin bingung, kenapa harus ada mark II, padahal Olympus sudah ada Olympus OMD E-M1 (artikel review disini) dan OM-D E-M10. Apa sih bedanya?

olympus-em5-mk2

Ada perbedaan desain bagian atas kamera. Mk II ini punya lebih banyak tombol yang bisa diprogram. Kamera ini dipasang dengan lensa sapujagat baru 14-150mm f/4-5.6 II

 

Dari ukuran fisik, E-M5 mk II ini berada diantara E-M1 dan E-M10. Tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil. Tapi kalau dirasa kurang besar, Olympus menyediakan grip khusus untuk EM5 supaya pegangannya lebih mantap. Dari harga, EM5 mk II juga berada ditengah-tengah yaitu $1099 (Rp 14 juta dengan kurs Rp 12.600).

Keunggulan utama OMD EM-5 mk II dibandingkan dengan EM-1 dan EM-10 adalah:

  1. 5 Axis stabilization yang lebih kuat. Olympus mengklaim bahwa stabilization in lebih bagus 1 stop atau 5 stop stabilization
  2. Ada mode super megapixel yang menghasilkan foto 40 MP
  3. Banyak peningkatan di video, baik kualitas maupun pilihan format dan ukuran

Mari bahas satu-satu. Lima Axis stabilization merupakan teknologi yang pertama kali dikenalkan oleh Olympus OMD E-M5 generasi pertama. Keuntungan 5 axis stabilization adalah saat memotret close-up/makro, saat fokus sangat dekat ke subjek, image stabilization di lensa biasanya kurang efektif meredam gerakan kamera yang sifatnya ke atas-bawah atau ke samping. 5 axis stabilization juga ideal untuk video dan efeknya langsung terlihat di layar LCD/jendela bidik.

Saat ini kita tau bahwa banyak produsen kamera membuat sensor dengan megapixel yang banyak, 24 MP sudah menjadi norma, dan ada juga kamera yang 36 MP, 50 MP dan seterusnya. Untuk format micro four thirds, jika dipaksakan untuk meningkatkan megapixel, maka kualitas foto secara keseluruhan bisa menurun. Maka itu Olympus dan Panasonic sampai saat sekarang cukup konservatif dan bertahan dengan 16 Megapixel. Untuk memenuhi kebutuhan fotografer yang membutuhkan merekam detail lebih banyak dengan jelas, Olympus OMD E-M5 ini dilengkapi dengan mode yang cukup unik, yaitu mengambil 8 foto secara berturut-turut dengan electronic shutter, dan menggabungkannya menjadi satu foto beresolusi tinggi.

Sekilas keliatannya keren, tapi fitur ini membutuhkan beberapa persyaratan supaya hasil fotonya maksimal:

  • Harus di tripod (kamera tidak boleh bergerak saat memotret)
  • ISO tertinggi 1600
  • Shutter speed terlambat adalah 8 detik
  • Bukaan terkecil yang diperkenankan f/8
  • Flash sync maksimum 1/20 detik
  • Objek yang difoto tidak boleh bergerak
  • Fitur HDR, timelapse, art filter dll tidak bisa diaktifkan

Jadi, fitur ini hanya cocok untuk fotografi still life, arsitektur indoor dan subjek lain yang tidak bergerak sama sekali. Jika ada sedikit pergerakan seperti daun yang bergoyang, asap atau pergerakan awan/kabut, maka hasil foto jadi tidak sempurna.

olympus-em5-mk2-splashproof

EM5 mk II tahan cipratan air dan suhu -10 Celcius tapi tidak untuk dicempunglin ke air. Tersedia dalam dua variasi warna (Panda (silver-black) dan hitam.

Olympus OMD E-M5 mk II ini juga mewarisi banyak fitur dari Olympus OMD E-M1, seperti jendela bidik yang lebih detail (2.4 juta titik), shutter speed maksimum 1/8000 detik (+electronic 1/16000 detik), layar lcd putar touchscreen beresolusi tinggi (1 juta titik) dan kualitas gambarnya juga sama.

Lantas, apakah E-M5 mk II lebih bagus dari OMD E-M1? Dalam beberapa sisi seperti video, stabilization, dan electronic shutternya iya, E-M5 mk II menggungguli EM-1, tapi E-M1 masih punya satu keunggulan yang unik, yaitu sensornya punya deteksi fasa (phase detection) yang bekerja lebih baik untuk mengikuti subjek bergerak dan compatible saat mengunakan lensa-lensa DSLR Olympus four thirds jaman dulu.

Melihat keunggulan Olympus OMD E-M5 mk II, saya bisa membayangkan pengumuman ini bakal bikin kesal bagi orang-orang yang baru membeli Olympus OMD E-M1 (diumumkan bulan September 2013). Yang bikin tambah nyesek lagi adalah harga E-M5 mk II ini lebih murah $300 (Rp 3.8 juta dengan kurs Rp 12.600). Tapi memang jika berniat membeli kamera terbaik dari Olympus saat ini, yang terbaik adalah Olympus OMD E-M5 mk II. Kecuali kalau punya banyak koleksi lensa DSLR Olympus lama, maka lebih baik Olympus OMD E-M1.

Spesifikasi Olympus O-MD E-M5 mk II

  • 16 MP Four thirds sensor
  • ISO 200-12800 (bisa di expand ke 100 dan 25600)
  • Maksimum shutter: 1/8000 dan 1/16000 (elektronik) detik
  • 5 Axis stabilization (5 stop)
  • 2.4 juta titik resolusi jendela bidik
  • Layar LCD touchscreen 1 juta titik
  • Kecepatan foto berturut-turut 10 foto per detik.
  • Berat: 469 gram

——-
Infofotografi juga rutin menyelenggarakan kursus fotografi dan tour fotografi. Anda bisa melihat jadwal dan materinya disini.

Bingung memilih kamera dan lensa yang tepat untuk berbagai pemotretan? Buku panduan Smart Guide ini akan membantu.

{ 7 comments }