≡ Menu

April tahun 2016 ini, saya memiliki kesempatan untuk membawa kamera Olympus OMD EM5 II dengan beberapa lensa Olympus. Inilah pengalaman saya:

olympus-12mm

Olympus 12mm f/2

Lensa lebar ini (ekuivalen 24mm) biasanya buat foto pemandangan atau arsitektur. Saya mengunakannya untuk memotret taman di Jepang. Desain fisiknya sangat baik, dari logam dan memiliki mekanik fokus yang unik. Tidak ada tuas untuk mengubah manual fokus menjadi autofokus, tapi tinggal dorong/tarik ring fokus untuk mengubahnya. Saat di posisi manual fokus, akan terlihat jarak fokus dalam meter dan feet (kaki) dan juga zone focus/hyperfocal. Menurut saya ini keren, meskipun jarang digunakan karena sistem autofokus sudah cukup cepat dan akurat.

Olympus 25mm f/1.8

olympus-25mm-f18

Lensa standar (ekuivalen 50mm) ini paling sering saya gunakan karena memberikan perspektif yang alami, seperti mata manusia. Bagus untuk berbagai hal, dari foto makanan, foto portrait setengah badan dengan latar belakang. Tidak seperti Olympus 12mm, lensa 25mm ini tidak semuanya berbahan logam, sebagian logam, kebanyakan plastik. Tidak ada mekanisme zoom dan angka-angka untuk manual fokus. Sayang juga, tapi kalau finishing seperti 12mm mungkin harganya signifikan lebih mahal. Kualitas lensa ini sangat bagus, sangat tajam dari bukaan besar sampai kecil. Kekurangannya cuma kurang lebar untuk pemandangan.

olympus-75mm-f18

Olympus 75mm f/1.8

Menurut saya, lensa ini merupakan lensa terbaik di sistem micro four thirds. Lensa ini unik, karena jarak fokusnya 75mm (ekuivalen 150mm) tapi memiliki bukaan yang sangat besar (f/1.8) dan ukuran yang relatif kecil dan ringan (305 gram). Hanya Olympus yang memiliki lensa seperti ini.

Lensa ini sangat bagus untuk membuat foto yang lembut, tapi tetap menangkap banyak detail, punya autofokus yang sangat mulus, tapi tidak terlalu cepat. Kualitas blur di bagian yang tidak fokus (bokeh) lembut dan sangat baik.

Panasonic-Leica 15mm f/1.7

Di Jepang, saya membeli lensa baru yang bisa saya pasang di Olympus OMD EM5 II, yaitu Panasonic Leica 15mm f/1.7. Tahun lalu, saya pernah beli, tapi saya jual lagi setelah di review. lensa ini saya jual karena saya tidak memiliki kamera micro four thirds haha.

panasonic-15mm-f17

Bedanya, kali ini saya beli yang hitam. Lensa ini tajam, autofokusnya cepat, dan ada aperture ringnya. saat dipasang di kamera Olympus sayangnya tidak bisa berfungsi, jadi seperti buat hiasan saja. Fungsi ring bukaan di lensa hanya berfungsi di kamera Panasonic. Lensa ini tergolong lensa lebar (ekuivalen 30mm) tapi tidak lebar sekali, saya senang mengunakan lensa ini untuk street photography. Rasanya pas, tidak terlalu lebar sehingga saya tidak perlu terlalu mendekat, tapi juga tidak terlalu tele sehingga saya masih bisa mendapatkan dimensi dan latar belakang/konteks yang menceritakan subjek foto.

Pengalaman saya mengunakan lensa-lensa ini oke dalam arti saya cukup puas dengan kualitas foto yang dihasilkan, meskipun resolusi fotonya hanya 16 MP. Tapi memang harga yang perlu saya bayar adalah harus sering ganti-ganti lensa. Kalau ada kesempatan, saya akan coba lensa-lensa Pro Zoom Olympus di masa depan.

{ 0 comments }

Setelah beberapa tahun rutin mengadakan acara pelatihan basic photoshop, kini Infofotografi membuka kelas lanjutan / advanced dengan konsentrasi ke portrait retouching.

Workshop ini terbagi dalam dua hari, dengan tujuan untuk melatih foto portrait dengan gaya klasik di hari pertama dan editing dengan Adobe Photoshop di hari kedua.

Setelah mengikuti kelas ini, peserta akan mendapatkan bekal yang cukup untuk meretouch wajah, bagus untuk fotografer amatir/hobi, atau fotografer yang bekerja di bidang fashion, beauty (make-up), portrait dan wedding.

noni-2

Materi

1. Pemotretan portrait dengan lampu studio. Masing-masing peserta akan dibimbing untuk memotret dengan lampu studio dan mengarahkan model. Akan diberikan waktu yang cukup untuk memotret. Hasil foto akan digunakan sebagai bahan editing keesokan harinya.

2. Editing foto portrait dengan berbagai gaya klasik: monokrom dan warna dengan mengunakan software Adobe Photoshop.

Workshop ini cocok diikuti oleh penggemar fotografi yang ingin menambah ketrampilannya dalam memotret studio dan editing portrait.

Persyaratan: Dianjurkan cukup paham basic pengunaan software Photoshop, atau pernah ikut kelas basic photoshop dan dasar fotografi / studio portrait.  Masing-masing peserta wajib membawa laptop/notebook.

Jadwal acara

Sabtu, 4 Juni 2016 : 13.00-17.00 WIB – Sesi pemotretan studio

Minggu, 5 Juni 2016 : 10.00-16.00 WIB – Sesi photoshop retouch foto portrait classical style

Tempat : Infofotografi: Jl. Moch. Mansyur / Imam Mahbud No. 8B-2, Jakarta Pusat 10140 (dekat Roxy lama).

Instruktur : Bisma Santabudi, M.Sn.  Pakar Photoshop dan founder fotografidesain.com

Biaya: Rp 1.25 juta untuk umum, 1.15 juta untuk alumni/pelajar/mahasiswa

Maksimum peserta 8 orang

Untuk pendaftaran, hubungi 0858 1318 3069 atau infofotografi@gmail.com

Biaya bisa ditransfer ke Enche Tjin BCA 4081218557 atau Mandiri 1680000667780

noni-5

noni-22

{ 0 comments }

Keinginan vs Kenyataan

Seminggu sebelum tour Infofotografi ke Jepang tgl 9-14 April 2016 kemarin, saya dan Enche duluan berangkat untuk acara keagamaan di Taisekiji, Fujinomiya.

Sebelumnya, Oktober 2015 lalu, saya sebenarnya sudah pernah mengunjungi Jepang namun saya sendiri tidak sharing/membuat tulisan berhubung banyak sekali hal yang menarik yang terlewatkan dan tidak terfoto oleh saya.

Untuk trip kali ini, saya berusaha untuk mengambil foto-foto yang terlewatkan di bulan Oktober kemarin. Selain itu, saya sudah diberi ultimatum oleh Enche, pokoknya trip kali ini saya harus membuat tulisan sebanyak-banyaknya. Hmmm… akhirnya sudah lewat 2 minggu, baru keluar 1 tulisan ini. 🙂

Intinya, apapun yang menarik bagi kita, segeralah ambil foto. Jangan ragu dan jangan menunggu atau beranggapan bahwa nanti bakal ada kesempatan lagi. Seringkali keraguan dan penundaan berakhir dengan penyesalan.

Saran saya, sebelum memulai perjalanan ke suatu tempat, carilah terlebih dahulu di internet, foto-foto apa yang biasa diambil oleh kebanyakan orang. Kita juga jadi tahu, foto mana saja yang sudah menjadi spot sejuta umat. Lalu, foto mana saja yang kita sukai dan ingin kita kembangkan. Untuk perjalanan kali ini, saya terlebih dahulu membuat wishlist/daftar foto yang ingin saya ambil namun tidak membuat catatan. Meskipun begitu, masih ada beberapa yang terlewatkan. Lain kali, sepertinya saya harus membuat catatan tertulis atau membawa travel diary. 🙂

Berikut ini beberapa foto yang saya inginkan dan kenyataan foto yang saya dapatkan (wish vs reality)
PS. pengalaman di bawah ini adalah sebelum teman-teman Infofotografi bergabung (sebelum tgl 9 April 2016)

1. Bunga Sakura (berhasil)
Di Taisekiji, bunga Sakura ternyata sudah bermekaran. Kebanyakan jenis sakura yang ada di kompleks sekitar kuil adalah Weeping Sakura dan Sakura Putih. Dua jenis sakura favorit saya. Dengan setting overexposure, saya lebih mendapatkan foto yang lebih diinginkan. Ditambah editing di LR dengan menurunkan sedikit clarity-nya dan menambahkan vignet putih di keempat sudutnya.

DSC00115

70mm; ISO 100; f/5.6; 1/250s

DSC00145

70mm; ISO 100, f/4, 1/160s

Ternyata, foto sakura susah susah gampang (artinya lebih banyak susahnya daripada gampangnya). Sekilas dilihat, sakura tersebut sangat indah. Namun kalau difoto, ternyata susah sekali untuk mendapatkan komposisi yang bagus. Saya sendiri mengambil foto yang cukup banyak, namun yang bagus menurut saya hanya ada beberapa saja.

Berikut foto-foto yang menurut saya gagal (kurang komposisinya)

DSC00107

[click to continue…]

{ 0 comments }

Kalau ditanya saat ini duel apa yang dianggap mewakili DSLR vs mirrorless favorit dan terbaru, maka boleh jadi jawabnya adalah Canon EOS 80D berhadapan dengan Sony A6300. Keduanya walau berangkat dari format kamera yang berbeda (satu pakai cermin, satu tanpa cermin) tapi punya banyak kesamaan seperti harga jual, sensor dan segmentasinya. Canon 80D dan Sony A6300 baru saja resmi diluncurkan di Indonesia dengan harga 14 jutaan bodi saja.

Mari cek sejarah kedua produk ini. Uniknya keduanya adalah kamera yang hadir menyempurnakan produk yang populer dimana Canon 80D adalah penerus 70D dan Sony A6300 adalah penerus A6000. Keduanya membawa beban target yang sama beratnya yaitu mesti jadi produk yang juga sukses seperti sebelumnya. Kita tahu Canon 70D termasuk sukses dalam memadukan kualitas, kinerja, dan harga dari sebuah kamera DSLR, demikian juga Sony A6000 membuat standar baru untuk kamera mirrorless performa tinggi.

Kedua kamera, Canon 80D dan Sony A6300 sama-sama pakai sensor APS-C dengan resolusi 24 MP. Canon 80D punya 45 titik fokus (semuanya cross-type) di mode normal, dan saat pakai live view juga auto fokusnya tetap handal berkat dual-pixel AF (pertama di temui di 70D).

Sony A6300 area fokusnya meningkat pesat dari 179 area menjadi 425 area, tertinggi di semua produk mirrorless yang ada. Kedua kamera juga sama-sama dirancang lebih tangguh (80D dinyatakan tahan cuaca, A6300 hanya disebut tahan debu dan kelembaban) dan mengusung fitur terkini seperti WiFi dan NFC.

80D A6300

Canon EOS 80D punya kekuatan di kematangan sistem, seperti pilihan lensa, flash dan aksesori (termasuk buatan pihak ketiga). Penyuka desain bodi kamera konvensional juga akan menyukai 80D yang gripnya lebih enak, tahan cuaca dan jendela bidik optiknya lebih besar dan terang. Bodi DSLR memang besar dan cenderung tidak praktis untuk traveling, tapi dibalik bodi yang besar jadi bisa ditempati banyak tombol dan LCD tambahan yang berguna. Layar lipat dan bisa disentuh juga jadi nilai plus Canon 80D, saat pakai live view atau rekam video akan terbantu saat ingin menentukan area fokus dengan menyentuh layar. Baterainya yang besar juga bisa tahan hampir 1000x memotret dalam sekali charge. Canon 80D dirancang juga untuk videografer, misalnya ada port headphone dan fitur video lebih lengkap. Tapi anehnya di 80D banyak juga kekurangan di sisi video seperti tidak ada 4K, tidak ada clean HDMI out, tidak ada zebra dan tidak ada S-log flat profile. [click to continue…]

{ 14 comments }

Pengalaman dengan lensa Sony FE GM 85mm f/1.4

Akhir minggu lalu, saya berkesempatan mencoba lensa Sony GE GM 85mm f/1.4. Meski bisa digunakan untuk berbagai jenis fotografi, tapi lensa ini dikhususkan untuk fotografer portrait, beauty, fashion profesional atau amatir yang serius.

sony-fe-gm-85mm-f14Dari keterangannya, lensa GM ini kualitasnya dirancang khusus dengan teknologi modern dengan standar ketajaman yang sangat tinggi dan juga simulasi bokeh (bagian yang tidak fokus) supaya hasilnya mulus dan memuaskan.

Meskipun kelihatannya besar seperti monster, fitur dan kualitas lensa ini sangat mencengangkan. Saya yang sering menguji lensa-lensa berkualitas tinggi juga sampai kaget.

Foto-foto dibawah ini adalah hasil dari kamera langsung dengan editing yang minimal (terang gelap/kontras). Sebagian besar foto tidak di edit. RAW converter oleh Capture ONE Express (gratis di download buat pengguna kamera Sony Alpha).

f/1.4, ISO 100, 1/2000 detik. Creative Style: Light

Krop dari foto diatas

Saya menguji lensa ini dengan Sony A7 mk II, yang beresolusi 24MP. Lensa GM ini kabarnya siap untuk resolusi sangat tinggi, bahkan melebihi 42 MP-nya A7R II, maka, bagi lensa 85mm GM ini, kamera beresolusi 24MP ini gampang saja ditaklukkan.

Ternyata benar, dalam keadaan backlit (cahaya dibelakang subjek foto), masih kontras dan tajam meski di bukaan terbesar (f/1.4).

ISO 640, 1/100 detik, f/2

Krop dari foto diatas

Lensa bukaan besar memasukkan lebih banyak cahaya daripada lensa bukaan sedang, maka meskipun cahaya sudah agak redup, saya coba lagi. Bukaan besar membuat saya tidak perlu menaikkan ISO terlalu tinggi, dan juga dapat mempertahankan shutter speed yang cukup cepat supaya saat subjek bergerak, foto tetap tajam.
[click to continue…]

{ 7 comments }

Leica membuat heboh lagi dengan membuat kamera dengan desain yang sangat berbeda dengan harapan masyarakat umum. Dibandingkan dengan kamera digital masa sekarang yang dipenuhi dengan berbagai macam fitur, tombol dan menu item yang banyak dan terus bertambah, Leica kembali ke desain jadul yang menempatkan esensial fotografi menjadi hal yang terpenting dan menghilangkan yang dianggap tidak penting dan mengganggu.

leica-m-d-262-01

Leica M-D (262) merupakan varian dari Leica M 240 dan M 262. Dibandingkan dengan Leica M 240, kamera baru ini tidak memiliki layar LCD, oleh sebab itu tidak bisa live view, dan hanya bisa mengkomposisikan foto melalui jendela bidik. Ketidaan layar juga berarti fotografer tidak akan bisa melihat hasil foto setelah diambil.

Perbedaan lainnya adalah mekanisme shutter yang lebih tidak bersuara, bagian atas kamera dari kuningan seperti M 240, tapi tidak sama dengan M 262 yang dari alumunium, dan tidak memiliki logo Leica “Red Dot” yang biasa berada di bagian depan kamera.

[click to continue…]

{ 3 comments }

Auto fokus adalah teknologi di dunia fotografi yang memberi berkah bagi kita sehingga lebih mudah dalam mengambil foto. Dengan auto fokus kamera akan otomatis mencari jarak fokus dengan memutar bagian dalam lensa sehingga benda yang akan kita foto tampak fokus dan tajam. Tapi masih banyak saya jumpai di kelas atau tur, peserta yang masih bingung soal setting auto fokus di kameranya dan ujung-ujungnya memilih setting auto fokus yang tidak tepat.

Padahal di infofotografi.com sudah banyak diulas soal auto fokus, seperti membahas teknologi auto fokus, memilih mode auto fokus, mengulas mitos-mitos seputar auto fokus hingga membuat e-book Auto Fokus Nikon dalam format PDF. Kalau bisa disederhanakan intinya auto fokus itu punya dua hal utama yaitu membahas titik/area fokus dan servo fokus.

Titik/area fokus berkaitan dengan bagaimana kita memberi tahu kamera untuk fokus kemana. Walau tiap kamera beda-beda (DSLR pakai titik fokus, mirrorless pakai area fokus) tapi kan prinsipnya sama. Kita tinggal putuskan apa mau titik fokus ini otomatis dipilihkan kamera (Auto area/wide area) atau kita mau pilih sendiri titiknya (misalnya supaya lebih pasti).

Memilih titik fokus dan mode area fokus, semakin canggih kamera maka pilihan makin banyak dan kita perlu pahami apa bedanya setiap pilihan yang ada

Memilih titik fokus dan mode area fokus, semakin canggih kamera maka pilihan makin banyak dan kita perlu pahami apa bedanya setiap pilihan yang ada

Di kamera Nikon mode AF area agak berbeda dengan Canon

Di kamera Nikon mode AF area agak berbeda dengan Canon

Servo fokus berkaitan dengan apakah kamera cukup sekali saja mencari fokus, atau terus menerus mencari fokus selama jari kita menahan tombol shutter setengah. Saat benda yang difoto diam ditempat (pemandangan, potret, produk, bangunan dsb) maka pilihannya adalah servo fokus benda diam (di kebanyakan kamera istilahnya adalah AF-S). Saat benda yang difoto bergerak/pindah posisi seperti olah raga, pertunjukan, liputan atau satwa liar maka pilihannya adalah servo fokus ke benda bergerak (biasa diistilahkan AF-C). Jangan tertukar, di mode AF-S auto fokus kamera tidak akan bisa mengikuti gerakan subyek, nanti saat subyek pindah posisi jadi tidak terlihat fokus.

Memilih mode fokus yang tidak sesuai untuk benda bergerak akan menyebabkan subyek jadi tidak fokus

Memilih mode fokus yang tidak sesuai untuk benda bergerak akan menyebabkan subyek jadi tidak fokus

[click to continue…]

{ 2 comments }

Workshop baru yang diadakan oleh Infofotografi kali ini akan mengupas efek-efek yang bisa dibuat dengan flash kamera kita. Secara berkala, Infofotografi akan mengundang professional atlet maupun entertainer untuk bisa kita foto portrait sesuai dengan profesi mereka masing-masing.

Dalam workshop seri pertama ini, Infofotografi mengundang atlet pencak silat profesional. Dengan memadukan gerakan/ jurus pencak silat serta didukung lighting flash, peserta workshop akan belajar mebuat sebuah efek foto yang menarik.

workshop-silat-infofotografi-1

Di workshop ini, para peserta akan belajar:

  1. Membuat foto High Key/ Low Key.
  2. Mempelajari skema lighting.
  3. Membuat foto First/ Rear Curtain Sync.
  4. Memadukan Flash dengan cahaya lain (mix Lighting).
  5. Membuat foto High-speed Sync.

Persyaratan: Peserta diharapkan pernah mengikuti kupas tuntas Flash, atau menguasai fungsi-fungsi flash dengan baik. Peserta juga diharapkan memiliki flash. Jika belum bisa menghubungi kami (0858 1318 3069) untuk di rekomendasikan flash yang cocok.

Hari/Tanggal: Minggu, 29 Mei 2016

Pukul 13.00-17.00 WIB

Tempat: Infofotografi, Jl. Imam Mahbud/Moch. Mansyur No. 8B2 Jakarta Pusat 10140 dekat Roxy.

Jumlah maksimum peserta 6 orang

Instruktur: Albertus Adi Setyo.

Semua foto hasil karya instruktur.

Biaya Rp 750.000,- untuk alumni, Rp 850.000 untuk umum.

Pendaftaran: Hubungi 0858 1318 3069 / infofotografi@gmail.com

Harap sertakan nama dan kamera/flash yang digunakan.

{ 6 comments }

Hari Selasa, tanggal 26 April 2016 saya diundang di acara peluncuran kamera Olympus PEN F. Di acara ini, saya bisa mengenal lebih jauh tentang filosofi Olympus dan posisi Olympus dan khususnya Olympus PEN F di tengah kamera digital mirrorless yang menjamur. Kali ini, ada tiga pembicara yang mengisi acara, antara lain Bpk Lucas Tan (Regional product manager, Imaging Business Division, Southeast Asia & Oceania), Bpk. Sandy Chandra (Marketing manager OCCI), Johnson Sahala (Marketing Product Supervisor OCCI).

Dari kiri: Johnson, Lucas, Sandy

Di acara peluncuran yang bertempat di restoran Bits & Bobs di kawasan niaga Sudirman (SCBD) ini, dihadiri oleh berbagai kalangan media, antara lain majalah Chip Foto Video yang diwakili oleh Bpk. Sri Sadono, majalah Digital Camera World yang diwakili Bpk. Yuliandi Kusuma, Bpk Anggoro dari detik.com, Kontan, jeruknipis.com dan lain lain.

Dari Pak Johnson dan Pak Sandy, saya mendapatkan banyak informasi tentang fitur-fitur baru kamera flagship (kamera unggulan) Olympus ini. Dari Mr. Lucas Tan, saya mendapatkan lebih banyak informasi tentang berbagai hal, termasuk focus, arah Olympus di dunia fotografi, dan profil fotografer sasaran Olympus PEN F ini.

Sebelum acara ini, saya diminta untuk menyumbangkan dua pertanyaan untuk Mr. Lucas Tan yang datang dari Singapura ini. Dalam pertanyaan pertama, saya menanyakan sebenarnya untuk siapa Olympus PEN F ditujukan? Profesional atau Enthusiasts / Penghobi fotografer serius. Pertanyaan ini muncul dibenak saya karena dari sejarahnya, Olympus PEN biasanya untuk hobi, sedangkan OMD untuk penggemar fotografi serius dan profesional. PEN F ini berbeda sendiri, spesifikasinya tinggi dan harganya juga tinggi.

Jawaban dari Mr Lucas Tan saya pikir sangat mengena. Berikut jawabannya: Olympus PEN tidak pernah dimaksudkan untuk profesional. Lini produk Olympus PEN ditujukan untuk lifestyle, atau digunakan sehari-hari. PEN berukuran ringkas, dan cocok untuk digunakan oleh pria dan wanita.

PEN-F-SLV_left_M17mmF18_BLK_s

Lebih jauh, dia menambahkan bahwa Olympus PEN F lahir khususnya untuk menarik fotografer yang berpengalaman dalam jaman kamera film dan menyukai desain rangefinder. Maka itu, saingan PEN F ini adalah pengguna kamera Leica M, Voigtlander Cosina yang menginginkan kamera yang lebih modern, dan juga saingan dengan Fujifilm X-PRO, yang memiliki konsep desain retro dan membidik pasar yang sama.

[click to continue…]

{ 0 comments }

Kamera digital masa sekarang mirip seperti handphone, cepat sekali ada yang baru, dan jika ada yang baru, yang lama turun harga dengan cepat. Bagaimana strategi yang baik terutama soal timing (saat) membeli yang tepat? Berikut ini ada beberapa strategi yang mungkin bisa membantu. Tidak ada yang benar dan salah, cuma sesuaikan saja dengan pola pikir masing-masing.

1. Pre order & beli kamera saat baru diluncurkan

Maksud dari pre order adalah memesan kamera yang baru diumumkan. Harga saat ini biasanya adalah full price, atau harga yang paling tinggi. Keuntungan pre order adalah Anda bisa mendapatkan kamera duluan daripada sebagian besar orang lain sehingga bisa pakai lebih dulu, dan mungkin yang gak kalah penting, bisa pamer ke teman-teman Anda :)..

Setahun belakangan ini, saya mengamati, paket pre order kamera baru mulai dikemas dengan bentuk yang lebih menarik, misalnya adanya paket lensa, bonus seperti tali kamera berbahan kulit dan sebagainya. Beberapa bonus ini kadang berhasil menuai sukses, seperti saat pre order Fujifilm XT-10 (paket lensa gratis), Sony A7R mk II (paket lensa, bonus aksesoris seperti dua adaptor, tali kamera dll).

Membeli saat pre order atau saat kamera baru diluncurkan cocok untuk orang yang suka mencoba kamera baru dan gonta-ganti kamera. Saran saya adalah jangan simpan kameranya terlalu lama, karena akan turun harganya. Idealnya sekitar 6-12 bulan. Dengan demikian, harga kamera yang dijual tidak turun terlalu banyak.

2.  Beli kamera 1-2 tahun yang lalu

Dengan membeli kamera yang sudah beredar 1-2 tahun lalu, kita bisa meneliti lebih baik apakah kamera yang akan dibeli itu benar-benar bagus atau tidak? Dalam jangka waktu 1-2 tahun, biasanya sudah banyak pengguna yang mengulas (review), dan jika kameranya ada masalah, juga akan ketahuan. Setelah 1-2 tahun dipasaran, harga kamera biasanya juga akan turun sekitar 10-20%, jadi bisa berhemat.

Saran tambahan: Teliti betul kamera yang akan dibeli dan pakailah kamera ini dalam jangka waktu yang cukup panjang, misalnya sekitar 4 tahunan. Saat nanti ingin mengganti kamera baru, Anda juga akan mendapat peningkatan (upgrade) yang signifikan.

Strategi ini cocok bagi pembeli yang memiliki sifat berhati-hati, yang ingin berhemat, dan mengurangi resiko membeli kamera yang bermasalah. Strategi ini membutuhkan pribadi yang memiliki kepercayaan diri yang cukup tinggi untuk mengunakan kamera yang terkesan sedikit jadul di hadapan teman-teman yang lain.

[click to continue…]

{ 14 comments }