≡ Menu

Beberapa tahun belakang saya mengamati anak muda suka sharing foto gaya hidupnya di instagram dan sosial media. Membuat foto yang menarik tentunya tidak mudah, banyak kendala yang bisa muncul di lapangan. Misalnya pencahayaan yang kurang di dalam cafe, atau latar belakang yang kurang menunjang. Beberapa waktu yang lalu, saya mencoba memotret dengan Canon EOS M100 [Review] dan lensa EF-M 32mm f/1.4 STM [Review].

Pertama-tama saya coba cari spot background yang menarik, misalnya cermin dan pantulannya.

ISO 125, f/1.4, 1/60 Canon M100 + EF-M 32mm f/1.4 STM

Kontak mata (eye-contact) menarik karena pemirsa akan merasa berhubungan (connect) dengan subjeknya. Kadang melihat keluar frame dapat menimbulkan rasa penasaran akan apa yang dilihat dan dapat memberikan kesan yang lebih alami.

[click to continue…]

{ 0 comments }

Hari ini, 23 April 2019, Panasonic Indonesia resmi menjual kamera mirrorless full frame Lumix S1 dan S1R. Bertempat di HallF Patiunus Jakarta Selatan, manager Panasonic Indonesia Agung Arifiandi membuka sesi launching pada media dengan menghadirkan banyak praktisi foto dan video seperti Jerry Aurum, Benny Kadarharianto, Goenrock, dan Reza Kurnia (Dekraft Wedding) untuk memberikan sharing dan workshop terkait Lumix S1/S1R.

Manager Panasonic Indonesia Agung Arifiandi membuka acara dengan memberikan presentasi

Setelah 17 tahun berkolaborasi dengan Leica, Panasonic kali ini menghadirkan kamera mirrorless full frame dengan menggunakan L-mount yang dipakai di kamera Leica, juga sebagai bagian dari L-alliance didukung oleh lensa Sigma dengan L mount yang akan dijual dalam waktu dekat. Lumix S1 dan S1R sendiri menyasar segmen profesional yang memerlukan kamera berkinerja tinggi, hasil foto tanpa kompromi, dan ketangguhan bodi yang siap dipakai di keadaan ekstrim. S1 menjadi kamera 24 MP yang memberi kinerja seimbang untuk foto dan video dengan ISO tinggi yang bersih dari noise, sedangkan S1R dengan sensor 47 MP memberi resolusi super detail dengan kemampuan high resolution up to 187 MP.

Para narasumber masing-masing memberikan sharing pengalaman

[click to continue…]

{ 0 comments }

Review Panasonic S1R – Kualitas gambar

Kualitas gambar merupakan salah satu yang penting, dan bahkan bagi banyak fotografer merupakan faktor terpenting dalam memilih sebuah kamera. Dalam hal ini, Panasonic S1R yang memiliki sensor full frame, 47 MP, tidak mengecewakan.

Saya membawa Panasonic Lumix S1R, lensa Lumix S 24-105mm f/4 OIS Macro, S 70-200mm f/4 OIS dan Leica SL 16-35mm f/3.5-4.5 ke Sumatera Utara untuk menguji kamera ini.

Di artikel ini, saya tidak akan akan panjang lebar, tapi lebih ke menunjukkan gambar yang bisa dihasilkan oleh Panasonic S1R ini.

Lumix S1R, 70-200mm f/4, ISO 100, 102mm f/6.3, 1/1250

Lumix S1R, 70-200mm f/4, 73mm, f/11, 1/125

[click to continue…]

{ 4 comments }

Review Panasonic S1R : Kinerja, desain dan fitur

Tidak seperti kamera generasi pertama dari sebuah sistem mirrorless baru yang biasanya masih banyak kekurangannya, S1 dan S1R mengejutkan dengan memberikan spesifikasi dan fitur yang lengkap. Di dunia mirrorless, Panasonic Lumix bukan merk baru, tapi merupakan salah satu pionir bersama Olympus yang mengembangkan sistem kamera mirrorless pertama melalui seri Lumix G di tahun 2008.

Performance / Kinerja

Saya berkesempatan mencoba Panasonic Lumix S1R selama seminggu di Sumatera Utara. Lumix S1R memiliki sensor full frame 47.3 MP, sistem Dual IS – 5 Axis stabilization dengan sistem autofokus DFD (depth of defocus) yang mampu mengunci fokus di kondisi cahaya yang sangat gelap (-6 EV) dengan lensa-lensa Lumix S yang baru. Sistem AF juga mendukung deteksi badan, wajah dan mata manusia maupun hewan.

[click to continue…]

{ 0 comments }

Panasonic Lumix S1R – Overview – ikhtisar

Panasonic mencuri perhatian hadirin di Pameran fotografi akbar Photokina di Jerman 2018 yang lalu di Cologne, Jerman. Di acara akbar tersebut, Panasonic mengenalkan sistem kamera baru Lumix S1 dan S1R dan L-Alliance. Saat itu, pengunjung belum bisa mencoba kamera tersebut, tapi Panasonic menunjukkan proses desain kamera yang melalui pemikiran dan proses yang panjang.

Keputusan Panasonic meluncurkan sistem kamera mirrorless bersensor full frame ini cukup mengejutkan karena dalam sepuluh tahun terakhir Panasonic selalu fokus ke sistem kamera DSLM (Digital Single Lens Mirrorless) dengan format four thirds. Dalam pengembangan sistem mirrorless yang bernama Lumix G ini selalu menonjolkan keringkasan (compactness) kamera dan lensa-lensanya yang menjadi keunggulan dibandingkan dengan sistem kamera DSLR dan mirrorless lainnya.

[click to continue…]

{ 0 comments }

Travel Photography ke Bali dengan Canon 1500D

Travel photography, dua kata yang bila digabung menjadi sesuatu yang sangat diminati masyarakat modern, khususnya kaum milenial. Mengekspresikan kreativitas memotret sambil menikmati perjalanan tentu akan memberi sesuatu yang baru dalam pengalaman hidup, atau sekedar melepaskan diri dari penatnya rutinitas hidup orang modern. Bulan lalu saya pun menyempatkan untuk travel ke Bali, untuk melihat acara Melasti, Ogoh-ogoh dan kegiatan pasca Nyepi, dan hendak berbagi cerita dengan anda pembaca setia infofotografi. Gear yang saya bawa adalah kamera DSLR Canon EOS 1500D, dengan lensa kit 18-55mm, lensa fix 50mm, lensa wide 10-18mm dan lensa tele 55-250mm serta sebuah flash 430EX RT-III.

Salah satu proses Melasti, dengan lampu kilat 430EX untuk tambahan pencahayaan dari depan.

Melasti di pagi hari, lensa 10-18mm

Melasti sendiri adalah bagian dari prosesi keagamaan umat Hindu, dilakukan beberapa hari sebelum hari raya Nyepi dan bisa ditemui di banyak pantai di Bali dari pagi hingga sore. Tujuan foto saya adalah untuk mengambil setiap bagian cerita dari acara Melasti, semua hal yang unik, momen penting dan juga detail yang mungkin terlewat oleh turis biasa. Tentunya sebagai fotografer, memotret acara keagamaan perlu menjaga etika, sikap dan menghormati aturan yang ada serta tidak mengganggu proses keagamaan yang sedang berlangsung. Lokasi saya memotret Melasti juga berpindah-pindah tergantung waktu, kalau pagi ke pantai timur, saat sore saya pantai barat (Canggu dan Kuta). [click to continue…]

{ 2 comments }

Beberapa bulan yang lalu, saya membawa kamera Canon EOS M100 dan beberapa lensa yaitu Canon EF-M 32mm f/1.4, Canon EF-M 11-22mm f/4-5.6 IS, dan Canon EF-M 18-150mm f/4-6.3 IS. Alhasil bawaan cukup ringkas untuk travel karena ukuran kamera dan lensa-lensanya cukup ringan dan compact, totalnya sekitar 1.1 kg saja, mudah dimuat dalam tas kamera berjenis selempang atau tas ransel kecil. Kombinasi ketiga lensa ini saya pilih karena masing-masing mewakili berbagai kebutuhan dalam traveling.

Lensa pertama yang oke buat traveling adalah lensa lebar 11-22mm. Lensa ini memiliki sudut pandang yang lebar, ideal buat foto landscape dan arsitektur. Ukurannya kecil dan ringan, tidak memberatkan. Berikut contoh hasilnya:

[click to continue…]

{ 0 comments }

Leica D-Lux 7 adalah kamera compact premium Leica yang memiliki sensor gambar yang relatif besar (four thirds) dan lensa zoom 24-75mm berbukaan besar (f/1.7-2.8). Dibandingkan kamera Leica yang lain, D-Lux 7 termasuk kamera yang terjangkau harganya karena dibawah Rp 20 juta.

Di bulan Maret 2019 yang lalu, saya sempat membawa kamera ini ke beberapa kota di India diantaranya New Delhi, Jaipur dan Vrindavan. Alasan saya membawa compact ini adalah supaya ringan dan lebih leluasa dalam memotret di jalanan tanpa terlihat mencolok.

Mungkin ada yang bertanya-tanya: “Lebih bagus kamera ponsel atau kamera D-Lux 7?” Jawabannya hasil fotonya berbeda. D-Lux 7 memiliki sensor besar lebih mirip dengan kamera yang berukuran lebih besar (DSLR/mirrorless). Contohnya hasil foto bisa lebih berdimensi dan halus, bagian yang tidak fokus secara alami jadi blur/bokeh seperti foto portrait dan street dibawah ini:

[click to continue…]

{ 5 comments }

Bahas foto : Motor bebek dan sepeda tua

Beberapa waktu yang lalu, saya menyempatkan diri untuk pulang ke kampung halaman saya di kota Medan, disana saya diajak oleh sepupu saya Widodo untuk hunting di sekitar Medan, salah satunya ke Vihara Gunung Timur di jalan Hang Tuah.

Di Vihara ini sebenarnya cukup menarik untuk hunting foto karena cukup besar dan banyak patung-patung dengan berbagai jenis, dupa dll. Tapi dua foto yang saya suka justru di dekat toilet Vihara karena sepertinya sepeda dan motor tua bukan subjek yang lazim untuk dipotret ha ha.

Bagi teman-teman yang rajin mengikuti Infofotografi, tentu mengetahui saya suka foto sepeda, dan tidak saya sia-siakan saat saya berkunjung ke Vihara ini.

Panasonic S1R & Panasonic S 24-105mm f/4 OIS – ISO 200, f/5.6, 1/13 detik, 28mm

Panasonic S1R & 24-105mm f/4 OIS – ISO 400, f/5.6, 1/30 detik 28mm

Yang lucu ternyata sepupu saya memotret BTS (Behind the Scene) saat saya beraksi dengan Nikon D750 dan 20mm f/1.8 yang lebar. Melihat aksi saya jadi lucu sendiri. Tapi ya memang untuk mendapatkan komposisi yang baik kadang kita harus jongkok, atau malah  tiarap.

Ya, mungkin apa yang bisa di take away adalah jika memotret subjek yang memang pendek contohnya seperti motor, mobil atau anak-anak, supaya tidak cembung maka caranya adalah mensejajarkan kamera dengan subjek fotonya.

Trims candidnya, jarang-jarang saya punya foto candid saat memotret 🙂

{ 6 comments }

Review lensa tele Canon EF-S 55-250mm IS STM

Dalam memulai hobi fotografi, selain memiliki lensa kit tentu perlu juga punya lensa lain seperti lensa telefoto. Tujuannya adalah untuk menjangkau subyek yang tidak bisa dijangkau oleh lensa kit, dan memberi efek blur yang lebih oke. Salah satu lensa tele ekonomis yang disediakan Canon adalah EF-S 55-250mm yang sudah mencapai generasi ketiga, kini dengan motor fokus STM. Karena lensa ini didesain hanya untuk DSLR Canon APS-C, maka fokal lensa ini akan ekuivalen atau setara dengan 90-400mm di full frame. Sangat berguna untuk potret, olahraga, satwa dan landscape yang perlu efek kompresi perspektif. Di kesempatan ini saya akan mereview lensa EF-S 55-250mm STM yang dipadankan dengan bodi Canon EOS 1500D.

Nama lengkap lensa ini adalah Canon EF-S 55-250mm f/4-5.6 IS STM. Beberapa fitur andalannya adalah motor STM yang silent, IS yang efektif meredam getaran dan kemampuan close up sedekat 0.85cm dari sensor kamera (lensa versi sebelumnya bisa fokus sedekat 1,1 meter). Lensa ini berukuran panjang 13cm dan memanjang hingga 20cm bila di zoom maksimal, bobotnya hanya 375 gram saja karena memang lensa ini dirancang untuk pemula atau travel yang perlu lensa kecil dan ringan tapi tetap berkualitas. Diameter filter 58mm dan ada 7 bilah diafragma yang termasuk umum dijumpai pada lensa ekonomis. Bagian belakang lensa ini juga mount-nya terbuat dari plastik, sehingga perlu lebih berhati-hati saat membawa kamera.

Sebagai lensa yang meneruskan seri sebelumnya, EF-S 55-250mm generasi ketiga ini meningkat dalam kualitas optik dan auto fokusnya. Secara tampak luar hampir tidak tampak ada perbedaan desain yag signifikan antara lensa ini dengan lensa 55-250mm II selain bertambah panjang 2 cm karena penambahan elemen lensa di dalamnya. Tapi perbedaan utama tentunya adalah pada sistem STM yang meski tidak dirancang untuk bisa segesit sistem USM, tapi saya temui kecepatan mengunci fokus masih termasuk cepat, bahkan saat memakai mode AF-C. Hanya saja saat manual fokus semua lensa STM akan memiliki kesamaan yaitu manual fokusnya elektronik. Oleh karena itu tidak ada penanda jarak fokus di lensa, dan kita tidak bisa benar-benar memutar fokus lensa secara manual sampai kamera dinyalakan.

Selain motor fokus STM, lensa ini juga tetap mengandalkan fitur Image Stabilizer yang sangat diperlukan di semua lensa tele, karena semakin panjang fokal lensa akan semakin mudah mengalami shake dalam hasil fotonya. Sistem IS di lensa ini bisa efektif meredam getaran hingga 3,5 stop. Dari pengujian didapat kemampuan IS memang efektif membantu mendapat foto yang tajam meski menggunakan shutter speed yang agak lambat. [click to continue…]

{ 4 comments }