≡ Menu

Lensa Sigma 24-70mm f/2.8 ini tersedia untuk dua mount saat ini, ada yang buat Sony E-mount dan ada juga yang buat L-mount seperti kamera Leica SL atau Lumix S1R. Mungkin di masa depan akan tersedia juga untuk kamera mirrorless merk lainnya seperti Canon EOS R atau Nikon Z.

Lensa 24-70mm ini dirancang dari nol sebagai lensa mirrorless full frame yang profesional untuk berbagai kebutuhan. Lensa ini berbeda dengan lensa Sigma untuk DSLR. Lensa ini disesuaikan untuk kamera mirrorless untuk kinerja autofokus dan kualitas foto yang lebih baik terutama untuk kamera beresolusi tinggi.

Sigma 24-70mm f/2.8 DN di Sony A7III dan Lumix S1R
[continue reading…]
{ 0 comments }

Mengapa masa depan mengarah ke kamera full frame?

Meskipun masih dalam kondisi pandemi global, dalam tiga bulan terakhir (Juli-September 2020), perusahaan kamera sangat aktif dalam meluncurkan kamera baru. Tujuh kamera baru yang diluncurkan bersensor full frame, dan dua diantaranya micro four thirds.

Kamera tersebut adalah Canon EOS R5 & 6, Nikon Z5, Sony A7S IV & A7C, Lumix S5, Leica M10-R, dan kamera micro four thirds adalah Lumix G100 dan Olympus OMD EM10 IV.

Sony A7C, salah satu kamera mirrorless full frame yang baru diumumkan

Melihat pola ini saya jadi berpikir, apa kabar kamera bersensor APS-C? Mengapa semua pabrikan tidak hanya membuat kamera mirrorless tapi juga bersensor full frame belakangan ini? Alasan melakukannya bisa bermacam-macam, dua perkiraan saya antara lain:

Pertama, membuat kamera dengan sensor besar dapat memperoleh profit margin yang lebih besar daripada membuat sensor yang lebih kecil. Fotografer sepertinya akan lebih bisa menerima membayar lebih untuk kamera bersensor besar daripada kamera bersensor APS-C.

Di benak konsumen ada perasaan bahwa kamera bersensor APS-C seharusnya memiliki harga antara 5 – 15 juta, sedangkan untuk kamera full frame, konsumen sudah terbiasa menerima bahwa kamera full frame memiliki harga sekitar 15-50 juta atau bisa juga lebih sesuai kinerja kameranya.

Dengan pasar kamera yang makin menyusut, tentunya membuat dan menjual kamera APS-C dengan harga rendah akan semakin sulit untuk pabrikan kamera saat ini dan kedepannya.

Kedua, dengan berkembangnya kamera mirrorless, kamera dengan sensor full frame bisa dibuat jauh lebih compact dibandingkan dalam bentuk kamera DSLR karena ketiadaan kotak cermin (mirror box SLR) dan jendela bidik optik. Dengan ukuran kamera yang lebih compact, kamera full frame jadi lebih menarik bagi fotografer enthusiasts dan profesional.

Meskipun kamera full frame sudah bisa dibuat compact, bahkan lebih compact dan ringan dari kamera bersensor APS-C, tapi lensa-lensa full frame masih agak besar, terutama lensa zoom yang berkualitas tinggi atau lensa fix berbukaan besar, f/1.4 misalnya.

Kamera bersensor APS-C (kiri) lebih besar ukurannya daripada kamera bersensor full frame (kanan). Ilustrasi dari Apotelyt.com

Untuk mengatasi masalah tersebut, fotografer bisa mengunakan lensa yang lebih kecil, yang ditujukan untuk sensor APS-C, karena sebagian besar pabrikan kamera mengadopsi sistem one mount, artinya kamera APS-C dan full frame mereka memiliki mount lensa yang sama, sehingga kita bisa memasang lensa APS-C ke kamera full frame dan sebaliknya, memasang lensa full frame ke kamera APS-C.

Dengan memasang lensa APS-C yang berdiameter lebih kecil ke kamera full frame, bukannya itu merupakan kerugian? APS-C crop akan menurunkan resolusi foto, misalnya kamera full frame 61 MP akan mendapat 26MP, 45MP akan mendapat 20MP, dan 24MP akan mendapatkan 10MP. Memang hal ini merupakan ketidakoptimalan.

Tapi jika melihat kamera full frame sudah ada yang mencapai 61MP (Sony A7R IV) dan APS-C Cropnya 26MP (setara dengan kamera Fuji X-T4 yang sensornya APS-C), dan kedepannya mungkin yang lain akan menyusul atau bahkan di masa depan akan ada kamera full frame dengan sensor 80 atau 100MP, yang mana APS-Crop-nya menghasilkan sekitar 41 dan 33MP.

Di lain pihak, pengembangan teknologi sensor untuk kamera APS-C atau micro four thirds lebih pelan perkembangannya dan sepertinya jika melihat penyusutan volume penjualan kamera, maka pengembangannya akan lebih lambat dan tergantung dari pengembangan sensor full frame.

Contoh kamera full frame 50MP akan menghasilkan 22MP saat mengunakan lensa APS-C atau di crop 1.5x, dan bagi sebagian besar fotografer, 20-24MP jauh lebih cukup untuk berbagai kebutuhan.

Dengan munculnya beberapa kamera full frame mirrorless baru yang makin terjangkau dan good value seperti Nikon Z5 (22jt), Sony A7C (26jt) dan Lumix S5 (30jt), saya memprediksikan akan semakin banyak kamera mirrorless full frame yang akan dirilis di beberapa tahun kedepan.

Bagaimana dengan APS-C atau sensor micro four thirds? Beberapa pabrikan kamera akan tetap membuatnya tapi tidak dalam jumlah besar dan tiap kameranya mungkin punya desain/kelebihan khusus yang tidak dimiliki oleh kamera lain seperti Fuji X-PRO, kamera Ricoh GR, dan seri Lumix GH yang unggul di video.


Bagi yang ingin belajar fotografi, periksa jadwal kami di halaman ini.

Jangan lupa untuk subscribe ig kami @infofotografi_official dan Youtube Channel Infofotografi

Saksikan pembahasan ini di Youtube Infofotografi
{ 2 comments }

Review kamera mirrorless Canon EOS R6

Saat kamera mirrorless Canon EOS R6 diluncurkan 3 bulan lalu, saya mencatat ada tiga hal penting yang unik dari kamera full frame dengan RF mount ini, yaitu adanya stabilizer di sensor, kinerjanya ekstra cepat dan fitur video yang lengkap. Maka saat minggu lalu infofotografi mendapat pinjaman unit Canon R6 ini dengan paket lensa RF 24-105mm f/4L IS dan RF 70-200mm f/2.8L IS, tak sabar saya pun ingin mencobanya dan membuat reviewnya untuk anda.

Unit EOS R6 dengan lensa-lensanya yang kami terima

Dari fisiknya, tampak kalau kamera berbobot 680 gram ini dirancang menyerupai kamera DSLR, tentu agar supaya pengguna DSLR Canon tidak perlu adaptasi banyak saat memakai R6 ini. Dengan grip yang enak digenggam, ergonomi yang pas di tangan, layar LCD-articulated, plus ada joystick, jelas kalau kamera ini akan enak dipakai untuk memotret atau merekam video. EOS R6 dilengkapi berbagai fitur penting seperti sensor shift, dual SD card slot, mic-headphone jack, serta desain bodi yang sudah weatherseal. Dua hal yang absen di EOS R6 adalah built-in flash (biasanya ada di DSLR APS-C) dan LCD tambahan di atas (seperti di EOS R atau EOS R5).

Stabilisasi dengan sensor shift dan IS lensa, menghasilkan foto yang tajam di shutter 1/2.5 detik, pada fokal 105mm, atau setara 6 stop. Saat saya coba lebih lambat lagi, sulit untuk mendapat foto tajam meski IS di posisi On.

Sensor gambar di EOS R6 memang tidak fenomenal, terlebih saudara kandungnya yaitu EOS R5 dibekali sensor 45MP dan kemampuan video 8K. Memang EOS R6 punya resolusi sensor 20 MP tapi itu karena Canon ingin menjadikan EOS R6 sebaik dan secepat DSLR 1Dx Mark III, yang juga pakai sensor sejenis. Alhasil, dengan resolusi 20MP, hasil foto di ISO tinggi menjadi sangat minim noise, plus saat rekam video 4K tidak perlu melakukan resample atau crop, sehingga secara visual rekaman video akan tampak lebih baik. Lebih menarik lagi, untuk kali pertama Canon menyematkan fitur sensor shift untuk stabilisasi foto dan video, dan di klaim bisa efektif meredam getaran hingga 8 stop dengan lensa tertentu.

Saya hanya tampilkan 4 contoh ISO ekstra tinggi saja, karena up to ISO 3200 hasil fotonya masih sangat bersih. Di atas ISO 51.200 juga ada satu ISO lagi tapi hasilnya sudah cukup banyak noise. Menurut saya R6 masih sangat oke untuk diajak main di ISO 12800-25600.
[continue reading…]
{ 3 comments }

Opini tentang Sony A7C : Kamera full frame Compact

Beberapa bulan lalu, muncul rumor bahwa Sony akan membuat kamera mirrorless full frame yang compact dan lebih terjangkau dengan nama Sony A6, tapi ternyata nama resminya rupanya A7C. Sebenarnya menurut saya lebih pas kalau namanya Sony A6 karena desainnya mirip Sony A6xxx yang berformat sensor APS-C.

Sony A7C (kiri), A7III (kanan)

Tapi mungkin karena nama A7 sudah populer, kenapa gak nebeng saja? C pada A7C kemungkinan besar singkatan dari Compact. Kehadiran Sony A7C ini meramaikan kamera mirrorless Sony A7 yang cukup ramai: A7II, A7III, A7SII, A7SIII, A7RII, A7RIII, dan A7RIV.

A7C ini menurut saya ditujukan kepada generasi content creator yang ingin kamera yang compact dan ringan tapi hasil foto dan video yang lebih baik dari sensor APS-C terutama dalam kondisi gelap atau saat cahaya kontras. Supaya tidak mengganggu pemasaran lini A6xxx, Sony meluncurkan A7C dengan harga lebih tinggi.

Teknologi di dalamnya diwariskan dari kamera pendahulunya, jadi tidak ada teknologi yang baru: sensor full frame 24MP dari Sony A7III, sistem autofokus-nya dari A7SIII, sedangkan untuk lensa kit/paketannya disiapkan lensa yang cukup compact yaitu 28-60mm f/3.5-5.6.

Bagi penggemar fotografi, ukuran Sony A7C yang compact tentunya menjadi daya tarik utama. Lensa kit 28-60mm f/3.5-5.6 yang dipaketkan terlihat padu dengan kamera ini, atau bagi yang senang lensa fix, Sony punya lensa FE 28mm f/2, FE 35mm f/1.8 dan FE 50mm f/1.8 yang ukurannya cukup compact untuk dipasang di A7C. Dengan ukuran dan bobot yang ringan, Sony A7C bisa juga menarik minat fotografer/vlogger wanita.

[continue reading…]
{ 2 comments }

Rumor akan hadirnya kamera mirrorless Sony Alpha E-Mount yang bentuknya compact akhirnya kini sudah resmi diumumkan, dengan nama Sony A7C yang mengambil konsep A7 III dalam kemasan bodi gaya kamera rangefinder seperti A6000, dengan layar LCD lipat articulated dan sensor shift stabilizer 5 axis yang akan disukai konten kreator seperti travel vlogger.

Sony A7C dengan lensa kit baru, FE 28-60mm f/4-5.6 yang ringkas

Dengan sensor 24MP BSI CMOS full-frame dan prosesor Bionz X bisa dibilang kinerja dan kualitas hasil fotonya sama dengan A7 III, dengan harga yang lebih murah yaitu sekitar $1800 bodi saja. Juga sama dengan A7 III, kamera A7C ini diberikan kemampuan sistem Auto fokus ‘Real-time tracking’ yang bisa mengenali kepala, wajah, mata dan satwa/animal. Kecepatan memotret juga bisa 10 fps, dengan baterai tipe Z juga yang memberi tenaga lebih panjang hingga 740 kali jepret.

Perbedaan utama A7C ini dibanding A7 lainnya tentu selain form factor (yang mempengaruhi posisi dan ukuran jendela bidik), juga adalah layar LCD-nya. Bahkan desain ini tidak ditemui di semua keluarga A6000, karena A7C ini layarnya bisa dilipat ke samping, bukan ke atas. Cara melipat ini sebelumnya dipakai di Sony A7S III, yang juga ditujukan untuk kemudahan rekam video. Bonusnya, layar LCD bisa dilipat kedalam (menutup) untuk lebih aman saat disimpan. Sayangnya, di A7C tidak ditemui joystick yang mulai rutin ditemui di kamera Sony terbaru, dan hanya memakai satu slot SD card UHS-II.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Dalam lima tahun terakhir, kamera Panasonic Lumix yang paling sukses dan populer adalah kamera Panasonic Lumix GH5. Kamera ini berbentuk kamera foto, tapi sangat populer untuk videografer karena saat diluncurkan di tahun 2017, kualitas video yang ditawarkan beberapa tingkat diatas kamera foto dari merk lain.

Lumix S5 dan lensa 20-60mm

Di tahun 2018, Lumix memasuki era baru dengan membuat kamera mirrorless full frame, bekerjasama dengan Leica dan Sigma, membentuk L-Alliance dengan mengunakan L-mount (sebelumnya Leica T mount) menjadi basis untuk kamera dan lensa ketiga perusahaan tersebut.

Dalam dua tahun, Lumix meluncurkan S1, S1R dan S1H, ketiganya memiliki konsep yang mirip, fisik besar ala kamera profesional, tidak banyak kompromi akan fitur, dan Lumix S1H, yang paling populer dari ketiganya, telah di-approved sebagai kamera yang layak untuk pembuatan film di NextFlix, setara dengan kamera cinema dengan harga ratusan juta.

Meski S1H populer di kalangan videografer profesional, tapi harga yang relatif tinggi dan berat kamera yang lebih dari 1 kg tentunya sangat membatasi untuk menarik perhatian sebagian besar fotografer dan videografer baik amatir maupun profesional.

Di tahun 2020 ini, datanglah Lumix S5 yang justru antitesis dari S1H. Kamera ini sudah full frame, tapi beratnya 30% lebih ringan (714 gram) dan setengah harga dari S1H. Hebatnya, tidak ada kompromi dari kualitas foto dan video yang dihasilkan, malah sistem autofokus S5 ini sekarang lebih cepat meskipun bukan mengunakan sistem phase detection. Layar LCD juga sekarang bebas diputar ke segala arah (articulating screen).

Lumix S5  punya sensor full frame 24MP dengan kemampuan merekam video 4K, 60p, 10 bit internal, Full HD 180p, v-log, dan dual native ISO. Di akhir tahun 2020 ini, Panasonic menjanjikan akan ada firmware update yang memungkinkan S5 untuk merekam video RAW 5.9K, fitur vectorscope, shutter angle, dan dua profile L-Monochrome S dan L.Classic Neo akan tersedia. 

[continue reading…]
{ 0 comments }

Masa depan sistem kamera Canon EOS M

Sistem kamera Canon EOS M adalah salah satu sistem kamera mirrorless yang populer di Indonesia karena ukurannya compact berkat desain mirrorless dan ukuran sensor APS-C. Harga yang cukup terjangkau sekitar Rp5-15 juta untuk paket kamera dan lensa barunya. Setelah peluncuran sistem kamera mirrorless Canon EOS RF dengan full frame, tentunya menimbulkan tanda tanya, bagaimana masa depan Canon EOS M?

Untuk memprediksikannya, kita bisa melihat seberapa aktif Canon membuat produk baru untuk sistem ini. Tahun lalu, Canon meluncurkan dua kamera untuk sistem ini: Canon EOS M200 dan M6 Mark II, bersamaan dengan kamera DSLR Canon EOS 90D

Canon EOS M6 II, kamera yang paling baru dan canggih di sistem EOS M dengan sensor 32.5MP APS-C dan video 4K tanpa crop.
[continue reading…]
{ 2 comments }

Review kamera DSLR Canon EOS 90D

Canon termasuk produsen kamera DSLR yang konsisten membuat produk baru, meski kita tahu permintaan akan kamera DSLR makin tertekan oleh jenis kamera baru yaitu mirrorless. Ada beberapa alasan kenapa DSLR masih diminati, bisa alasan subyektif maupun alasan teknis, misalnya ekosistem lensa dan aksesori. Kali ini saya akan bahas lebih jauh tentang Canon EOS 90D, sebuah kamera DSLR kelas menengah yang dibuat untuk menggantikan EOS 80D, dengan sensor baru APS-C 32MP, video 4K dan penambahan fitur lain termasuk joystick.

Canon EOS 90D

Saya pribadi menyukai segmen kamera dua digit Canon, seperti 70D hingga 90D. Kenapa? Karena segmen ini terasa paling pas, tidak terlalu basic seperti kelas 800D, dan masih dapat hal-hal penting di kamera segmen atas seperti jendela bidik pentaprisma, bodi lebih tangguh plus ada weathersealed, dan kinerja secara umum juga mendekati kamera diatasnya misal EOS 7D mark II. Komprominya adalah di segmen menengah ini, Canon tidak memberikan dua slot kartu memori seperti layaknya di kamera Canon lain yang lebih mahal.

Canon EOS 90D tampak belakang

Hal lain yang saya suka dari 90D dan pendahulunya adalah, disediakan layar LCD articulated yang menegaskan kalau DSLR juga boleh dipakai untuk live view dengan leluasa, dari berbagai sudut seperti low/high angle atau selfie dan vlogging. Ditambah lagi masih ditemukan adanya built-in flash yang penting menurut saya, karena dengannya kita bisa jadikan built-in flash ini sebagai pemicu (master) untuk flash eksternal secara wireless infra-red (ada Channel dan Grup), tanpa perlu pasang trigger apapun.

Dalam meregenerasi produk, saya juga suka fakta bahwa Canon tidak mengubah desain kamera dengan radikal. Sepintas Canon 70D-80D-90D akan nampak sama, baik dari ukuran maupun tata letak tombolnya. Di bagian atas ada jendela LCD kecil untuk informasi tambahan (LCD ini tidak ada di DSLR pemula, atau sebagian besar kamera mirrorless), dengan ditemani tombol akses langsung ke fungsi AF, DRIVE mode, ISO dan Metering.

Desain khas DSLR menengah, dengan layar LCD tambahan dan berbagai kendali

Demikian juga di roda mode dial tetap sama, tetap ada mode Auto (ya siapa tahu ada yang benar-benar belum tahu setting kamera), mode SCN (Scene mode), efek Filter, mode fotografi P-Av-Tv-M-B dan Custom C1 dan C2. Tadinya saya berharap di EOS 90D ini akan ada mode Fv seperti di kamera EOS R ternyata tidak).

[continue reading…]
{ 1 comment }

Insting: Teknik fotografi dan editing dengan Smartphone

In-depth sharing (insting) online kembali hadir, kali ini mengangkat topik tentang fotografi dengan smartphone. Kita tahu saat ini sudah lumrah orang menghasilkan berbagai karya foto hanya dengan menggunakan smartphone. Bahkan produsen kamera digital pun merasakan penurunan produk kamera tertentu misal kamera saku.

Hasil dari kamera smartphone masa kini yang sudah semakin membaik

Apa saja kekuatan dan kelemahan dari smartphone dibanding kamera ‘betulan’? Pada sesi insting kali ini, saya akan berbagi info dan pengalaman seputar teknik memotret menggunakan kamera pada smartphone, termasuk proses editingnya. Bagaimana kita mesti memahami soal sensor, lensa, pengaturan di ponsel kita hingga memperbaiki hasil fotonya dengan editing. 

Dengan sedikit perbaikan foto melalui editing, hasil dari kamera smartphone bisa lebih sesuai keinginan kita

Insting ini akan diadakan online melalui aplikasi Zoom, pada :

  • hari : Jumat, 4 September 2020
  • waktu : 19.00-21.30 WIB
  • partisipasi : Rp. 75.000,-

Untuk mendaftar silahkan menghubungi Iesan di 0858-1318-3069. Transfer bisa ke BCA 4081218557 atau Mandiri 1680000667780 a/n Enche Tjin.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Online sharing: Videography for Youtube Content Creator

Halo teman-teman semuanya.. Sudah pada tahu kan kalau infofotografi juga punya channel Youtube? Jadi selain menulis di blog infofotografi.com ini, kami juga memakai berbagai media sosial termasuk Youtube untuk membuat banyak konten menarik. Di bulan ini, kami cukup senang karena channel Youtube infofotografi sudah mencapai 30 ribu subscriber, berkat dukungan penonton semua tentunya.

Seiring era multimedia dan generasi sekarang yang lebih menyukai audio visual, maka Channel Youtube infofotografi dibuat untuk mendukung kegiatan sharing informasi dan juga review peralatan fotografi dengan Enche Tjin sebagai host, dan saya serta Yessy sesekali mengisi konten juga disana. Selain itu di channel ini juga kerap mengajak diskusi fotografer lain untuk berbagi pengalaman. Sejak adanya pembatasan aktivitas karena pandemi, Youtube infofotografi juga rutin mengadakan berbagai live streaming yang menarik.

Tangkapan layar dari halaman depan Youtube Infofotografi
[continue reading…]
{ 5 comments }