≡ Menu

Hampir semua pembuat kamera saat ini membuat kamera canggih yang ditujukan tidak hanya bagus untuk fotografi, tapi juga videografi. Fujifilm yang selama ini lebih fokus ke fotografi, tidak mau ketinggalan dari yang lainnya (Sony & Panasonic). Meski memiliki beberapa type kamera yang dapat merekam video, tapi X-H1 (H mungkin singkatan dari Hybrid) merupakan yang tercanggih.

Berikut fitur andalan Fuji X-H1:

  • 24MP X-Trans APS-C sensor
  • 5-axis in-body image stabilization (rated at 5EV)*
  • 3.69M-dot OLED viewfinder
  • Touch sensitive rear LCD with two-axis tilt
  • DCI and UHD 4K capture at up to 200 Mbps
  • Slow motion 1080 (from 120 and 100 fps)
  • Internal F-Log capture
  • 24-bit audio capture
  • Eterna/Cinema Film Simulation mode
  • Timecode
  • No-blackout continuous shooting
  • 8 fps mechanical shutter, 11 with grip
  • 14 fps electronic shutter
  • Twin UHS-II-compatible card slots
  • Anti-flicker shooting mode
  • Wi-Fi with Bluetooth for constant connection

[click to continue…]

{ 4 comments }

Workshop belajar foto produk

Maraknya Online Shop saat ini memudahkan kita untuk membeli barang maupun menjual barang. Karena itu foto produk sangat penting untuk kita yang ingin menjual barang-barang di online shop atau ingin membuka jasa foto produk.

Foto produk adalah suatu cara bagaimana kita mengambil gambar foto produk tersebut agar bisa menjelaskan bentuk, fungsi produk tersebut dan yang terlebih penting membuat produk itu menarik agar bisa laris terjual.

Materi yang kita pelajari :

  • Jenis lensa yang baik untuk foto produk
  • Aksesoris foto yang diperlukan
  • Lighting
  • Konsep
  • Setting kamera dan cahaya
  • Tips untuk produk mengkilap
  • Apa saja peralatan murah untuk foto produk (untuk foto produk rumahan)

[click to continue…]

{ 0 comments }

Tour Padang Pacujawi 17-18 Maret 2018

Tur fotografi ke Sumatera Barat khususnya Padang, Bukittinggi, Tanah Datar dan sekitarnya kembali hadir. Provinsi Sumbar dipilih karena relatif dekat dari Jakarta, dengan banyak keindahan alam dan budaya serta keragaman kuliner yang terkenal ke seluruh Indonesia. Sebelumnya infofotografi sudah mengadakan beberapa kali tur ke Sumbar dan tidak bosan rasanya untuk kembali membuat agenda serupa di awal tahun 2018 ini.

Tur ini diagendakan pada Sabtu-Minggu, 17-18 Maret 2018 dengan agenda utama tentunya berlatih memotret aksi Pacu Jawi, nightscape, budaya hingga foto sunset. Jumlah peserta maksimal 16 orang.

Biaya tur Rp. 1.950.000,- termasuk :

  • transportasi bis 2 hari
  • penginapan di Bukittinggi
  • makan selama di lokasi
  • bimbingan fotografi (Erwin M.)
  • perizinan & sumbangan Pacu Jawi

Belum termasuk :

  • tiket pesawat ke Padang PP
  • tips pengemudi (minimal Rp. 20.000)
  • belanja pribadi

Informasi lebih lanjut silahkan e-mail (email: infofotografi@gmail.com), SMS atau WA 0858-1318-3069 dan yang terdaftar adalah yang sudah melunasi biaya dengan transfer ke Enche Tjin via Bank BCA 4081218557 atau via Bank Mandiri 1680000667780. Untuk kemudahan keberangkatan, diharap peserta dari Jakarta segera memesan tiket pesawat dan sebisa mungkin maskapainya sama yaitu Garuda yang berangkat jam 6.15 WIB. Bagi peserta yang beda pesawat / bukan dari Jakarta, harus sudah berada di bandara Minangkabau di Padang sebelum jam 8.00 WIB. [click to continue…]

{ 4 comments }

Panasonic baru saja mengumumkan kamera mirrorless bergaya rangefinder baru yaitu Panasonic GX9. Dari bentuk dan spesifikasinya, sepertinya merupakan kamera penerus GX8 dan GX85 sekaligus.

Dari sejarahnya, Panasonic GX1 (2011) dan GX7 (2013) merupakan kamera mirrorless populer dari Panasonic yang dibuat ringkas untuk kebutuhan travel dan street photography. Saat Panasonic mengeluarkan penerusnya GX8 (2015), ada kubu yang suka, tapi banyak yang tidak suka juga karena ukurannya jauh lebih besar dari GX7, lalu Panasonic membuat Panasonic GX85 (2016), tapi kamera ini dirasakan “downgrade” dari GX8 karena resolusi sensornya turun dari 20MP ke 16 MP dan beberapa pengurangan yang lain.

Baru di awal tahun 2018 ini, GX9 hadir dengan mengkombinasikan beberapa fitur yang disukai di GX7-GX8 dan mengemasnya dengan ukuran yang lebih compact dan dilengkapi dengan teknologi sensor dan processor baru.

[click to continue…]

{ 2 comments }

Leica CL atau Leica Q?

Saat saya posting foto gambar klenteng Boen Tek Bio, Tangerang di Instagram yang kebetulan saya foto mengunakan Leica CL dan lensa 18-56mm, ada yang menanyakan tentang apakah lebih baik Leica Q atau Leica CL dengan lensa 18mm, karena harganya tidak terpaut jauh.

Leica CL + Leica TL 18mm f/2.8

Secara desain, kedua kamera sangat berbeda sebenarnya, Leica Q punya sensor full frame, lensa 28mm f/1.7 macro, dan ada stabilizer di lensanya. Ukurannya cukup besar untuk kamera compact dan berat total dengan lensanya 640 gram.

Sedangkan Leica CL bersensor APS-C, karena itulah, ukurannya lebih kecil dan lebih ringan (403 gram + 80 gram (lensa 18mm f/2.8)) dan bisa tukar ganti lensa (compatible dengan lensa TL dan SL). Untuk lensa-lensa lainnya bisa dengan mengunakan adaptor yang sesuai.

[click to continue…]

{ 0 comments }

Lensa Leica SL 50mm f/1.4 Summilux ASPH. Review

Awal tahun ini, koleksi lensa Leica saya bertambah dengan hadirnya Leica SL 50mm f/1.4 Summilux ASPH. Tidak seperti lensa Leica M yang sangat compact, lensa SL ini cukup besar (panjang 12 cm, filter 82mm) dan cukup berat (1 kg). Tapi lensa ini termasuk lensa modern yang bisa autofokus, weathersealed, dan punya resolving power yang tajam di bukaan terbesar (f/1.4) sekalipun. Saya yakin juga tetap tajam saat sensor Leica SL generasi berikutnya yang mungkin sekitar 45-50MP.

Karena ukuran lensa dan bukaan lensa besar, autofokus tidak secepat lensa Leica SL zoom 24-90mm atau 90-280mm. Meski demikian, tidak berarti saya harus menunggu lama untuk kamera mengunci fokus, rata-rata, 0.2 detik. Mungkin bagi sebagian orang malah cukup cepat.

Leica SL 50mm sering saya gunakan untuk foto portrait, terutama 3/4 badan atau satu badan. Dan fungsi autofocus (focus mode) yang saya gunakan yaitu Auto (Face). Kamera dengan mudah mengenali wajah asal subjek tidak terlalu jauh atau menghadap ke samping belakang. Mode ini otomatis mengunci fokus di mata yang paling dekat juga.

Di kondisi yg gelap sekali atau saat model berada jauh dari kamera/wajahnya kecil, maka auto(face detection bisa gagal, saat itu saya biasanya mengubah ke autofokus kotak (Field) biasa.

Kualitas gambar yang dihasilkan 50mm f/1.4 mungkin yang terbaik saat ini. Lensa ini mampu me-resolve detail dengan sempurna. Dipadukan dengan kamera Leica SL, warna kulit (skintone) yang dihasilkan netral, artinya tidak kekuningan kehijauan atau kemerahan.

[click to continue…]

{ 0 comments }

Awal tahun 2018 ini, saat mengajar fotografi secara privat saya mendapatan pertanyaan yang cukup menarik. Pertanyaannya adalah: “Mengapa hasil foto dari kamera berbentuk kecil seperti GoPro lebih memuaskan daripada hasil foto dari kamera mirrorless canggih bersensor full frame?”

GoPro Hero 5, benarkah lebih bagus hasilnya dibandingkan dengan kamera profesional?

Kamera seperti GoPro, seperti kamera dengan sensor kecil lainnya memang dirancang sesederhana mungkin untuk digunakan, tidak banyak setting yang perlu diperhatikan sebelum memotret, sedangkan saat mengunakan kamera digital yang canggih kita perlu banyak mempersiapkan setting kamera, jika tidak, hasil foto bisa tidak optimal. Contoh sederhana saja yaitu autofokus. Jika tidak diset dengan baik maka bagian yang tajam bukan subjek foto, bisa jadi nyasar ke latar belakang.

Perbedaan kualitas gambar berbagai jenis kamera sudah makin mendekati. Berbeda dengan sepuluh tahun yang lalu, perbedaan kualitas antara kamera ponsel dan kamera DSLR terlihat jauh, terutama saat cahaya berkurang atau indoor, sedangkan saat sekarang tidak terlalu jauh bedanya, bahkan dalam beberapa kasus bisa jadi ponsel lebih bisa diandalkan untuk mendapatkan gambar yang diinginkan.

[click to continue…]

{ 4 comments }

Mentoring cityscape Chase Sudirman, 24 Feb 2018

Mentoring cityscape kali ini mengambil tempat di gedung Chase Sudirman, dengan view gedung-gedung di sekitarnya. Seperti biasa kegiatan ini berisi bimbingan foto cityscape dengan saya sebagai mentornya, dan peserta dibatasi maksimum 10 peserta. Manfaat dari mengikuti mentoring ini tentu diharap peserta mengerti teknik memotret cityscape khususnya long eksposur, mengatur WB, fokus, komposisi dan teknik stabilisasi kamera. Selain itu tentu peserta bisa menambah portfolio karya fotonya khususnya untuk cityscape Jakarta.

Acara dijadwalkan pada hari Sabtu, 24 Februari 2018 mulai jam 16.30 WIB. Biaya untuk mengikuti kegiatan ini adalah Rp. 550.000 per orang. Meeting point diinfokan kemudian. [click to continue…]

{ 0 comments }

Bahas foto : Penjual Ikan di Pasar

Pasar adalah ruang publik yang menarik untuk mempraktikkan street photography, selain ramai, banyak dagangan yang bermacam-macam dan karakter orang yang berbeda-beda. Kali ini saya akan membahas salah satu foto penjual ikan di pasar lama Tangerang. Beberapa bulan belakangan ini, saya sering kesini karena hanya sekitar 30 menit dari Infofotografi yang bertempat di Greenlake City, Jakarta Barat, perbatasan Jakarta-Tangerang.

Saya ingin membahas foto ini karena saya senang dengan komposisi dan momennya. Difoto ini, seorang penjual ikan sedang mempersiapkan ikan untuk pembeli, dan dilatar belakangnya ada penjual lain yang menatap ke arah penjual ikan dan kamera dengan tatapan yang cukup serius, mungkin ada rasa iri melihat dagangan sebelahnya laku tapi dia belum hehehe.

Strategi saya adalah mengambil sudut yang sedikit kesamping supaya tidak mengganggu perhatian, dan kemudian mengunakan garis-garis diagonal di foreground (ikan-ikan), dan latar belakang (atap) supaya mengarah ke subjek utama saya yaitu penjual ikan yang karismatik ini. Setelah mengambil foto beberapa kali, momen yang paling tepat adalah foto yang saya lampirkan. Dengan mengambil foto dari samping dan mengunakan garis-garis diagonal, maka foto terlihat lebih tiga dimensi.

[click to continue…]

{ 2 comments }

Workshop Street Photography 23 Feb 2018

Melanjutkan tradisi mengenal dan belajar street photography, workshop kali ini kita akan dibimbing oleh teman kami, Ruben “Roe”, Street & Social documentary photographer, Leica Ambassador Indonesia. Hunting bareng ini juga akan didampingi oleh Enche Tjin.

Setelah bertemu, berkenalan dan sedikit briefing, acara akan dilanjutkan dengan hunting bersama dengan pengarahan memotret street langsung di wilayah pasar induk Kramatjati. Setelah itu, akan ada makan malam bersama dan bahas & sharing foto.

Di dalam acara ini, kita akan belajar dari Ruben tentang:

  • Tips setting kamera yang biasa digunakan untuk street photography
  • Bagaimana sikap yang baik dalam memotret di ruang publik
  • Membuat komposisi yang menarik di lingkungan yang semwarut
  • Bahas foto, kritik dan saran untuk para peserta

Workshop ini akan berlangsung hari Jum’at tgl 23 Februari 2018 pukul 15.30 sampai 20.00 WIB

[click to continue…]

{ 0 comments }