≡ Menu

Rekomendasi paket hemat kamera untuk pelajar

Saat ini hobi fotografi sudah banyak menjangkau sampai usia sekolah. Baik untuk hobi atau eskul, semakin banyak anak yang meminta dibelikan kamera. Sebagai orang tua kadang kita kaget dengan harga jual kamera masa kini yang beragam dan lumayan tinggi, padahal kebutuhan untuk anak kadang masih yang sifatnya basic saja. Maka itu saya coba sarankan paket hemat apa yang bisa dipertimbangkan untuk anak sekolah (pelajar).

Paket basic :

Disini saya sarankan kamera DSLR Canon termurah yaitu EOS 1300D seharga 5 jutaan sudah termasuk lens kit 18-55mm. Kamera ini sudah mencukupi untuk pelajar. Hasil foto baik dengan sensor APS-C 18 MP, sistem fokus 9 titik AF, dan bisa rekam video juga. Bonusnya, kamera ini sudah mendukung WiFi. Untuk lensa pelengkap, saya pilihkan lensa fix Yongnuo 35mm f/2 yang harganya 1 jutaan, dan satu tele zoom Tamron AF 70-300mm seharga 1,6 jutaan. Lensa murah meriah ini cocok untuk belajar, hasil fotonya cukup baik dan harganya bersahabat. Bila perlu lampu kilat saya pilihkan flash Godox TT350 yang kekuatannya sedang (GN36) dan sudah TTL, dengan harga 1 juta.

Jadi, paket basic ini terdiri dari :

  • kamera EOS 1300D kit 18-55mm (APS-C 18 MP)
  • lensa fix Yongnuo 35mm f/2
  • lensa tele Tamron 70-300mm macro (non VC)
  • flash Godox TT350

Kalau dibeli semua totalnya kurang dari 10 juta rupiah.

Paket cukup lengkap :

Kamera DSLR basic lainnya yang setingkat lebih diatas dari 1300D adalah EOS 750D, seharga 8 jutaan sudah termasuk lens kit 18-55mm. Fitur menarik dari kamera beresolusi 24 MP ini diantaranya sudah 19 titik AF, layar LCD yang bisa dilipat dan sudah mendukung touch screen. Fitur lain seperti rekam video dan WiFi tentu juga tersedia. Untuk lensa pelengkap, saya sarankan pakai lensa fix Canon EF 50mm f/1.8 STM seharga 1,5 jutaan, dan satu lensa tele Canon EF-S 55-250mm IS seharga 2,5 jutaan (atau versi STM yang lebih baru tapi sedikit lebih mahal). Bila semua ekosistem lensa yang dipakai sama-sama berteknologi STM (Stepper motor) maka penggunaan auto fokus disaat live view akan lebih konsisten dan mudah, serta membantu dalam auto fokus saat rekam video. Aksesori pendukung yang saya pilihkan adalah lampu kilat Godox TT685 dengan GN60 seharga 1,5 jutaan, lalu sebuah tripod seperti Fotopro X4C seharga 1,6 jutaan. Pertimbangkan juga membeli satu filter ND dan satu filter CPL untuk pemakaian landscape, harga filter bervariasi tapi rata-rata harganya 300 ribuan untuk filter yang murah.

 

Jadi paket agak lengkap ini terdiri dari :

  • Kamera EOS 750D kit 18-55mm (APS-C 18 MP)
  • Lensa fix EF 50mm f/1.8 STM
  • Lensa tele EF-S 55-250mm IS STM
  • Flash Godox TT685
  • Tripod Fotopro X4C
  • Filter ND dan CPL

Kalau dibeli semua totalnya sekitar 17 jutaan. [click to continue…]

{ 3 comments }

Pengalaman hunting foto di pelabuhan Muara Angke

Hampir di setiap genre photography, bangun pagi merupakan salah satu satu ritual yang perlu dijalani meski di hari Sabtu atau Minggu. Hunting foto kali ini merupakan salah satu cara untuk sejenak meninggalkan rutinitas yang membosankan. Kota Jakarta dengan segala keunikan-nya tidak akan pernah habis sebagai sasaran hunting.

Kali ini saya dengan rombongan pecinta fotografi Infofotografi menyempatkan diri untuk mengunjungi salah satu tempat hunting street fotografi yang unik, di pelabuhan Muara Angke. Sengaja kami mengejar pagi-pagi, karena kesibukan pagi paling asik untuk difoto, di saat matahari mulai menampakkan sinarnya, nelayan dengan kapalnya mulai bersandar di dermaga. Siapa sangka, pelabuhan yang sudah penuh dengan deretan perahu ikan, ternyata masih bisa juga satu dua perahu pelan pelan menyusup diantara deretan perahu tersebut. Luar biasa. Berbeda sekali dengan parkir mobil, perlu ada sela antar kendaraan.

Foto oleh Meis Musida – Olympus PEN F

Agenda utama hunting street, kegiatan pagi para nelayan yang menurunkan muatan, penimbangan hasil laut, persiapan pengiriman ke pasar ikan sampai ke proses pengeringan ikan. Semua-nya menarik untuk diambil gambarnya. Jangan sampai tertinggal, termasuk ada orang yang sibuk dengan gerobaknya untuk memberikan jasa angkut muatan dari kapal ke pasar.

[click to continue…]

{ 0 comments }

Nikon D850 belum diumumkan secara resmi, kemungkinan akan diumumkan tanggal 16 Agustus 2017. Namun gambar kamera dan spesifikasinya sudah keburu bocor, jadi mari kita bahas kamera DSLR terbaru ini.

Kamera Nikon FX DSLR memiliki sensor full frame dengan resolusi 45.75 MP, tanpa low pass filter, processor EXPEED 5 dan rentang ISO 64-25600. Meskipun beresolusi tinggi, kecepatan foto berturut-turut relatif cepat, yaitu 9 foto per detik saat memasang MB-D18, battery pack dan baterai EN-EL18a. Tanpa battery pack, kecepatan berkurang menjadi 7 foto per detik. Nafas buffer 51 foto RAW.

Selanjutnya, Nikon akan memiliki layar yang bisa ditekuk keatas seperti Nikon D750. Layar touchscreen juga akan lebih banyak fungsinya daripada D5 dan D500, salah satunya untuk navigasi menu. Selain itu, fitur baru Nikon D850 yaitu 8K Timelapse, 4K Movie, Sistem autofokus 153 titik (Seperti D5), dengan jendela bidik yang terbesar untuk kamera DSLR yaitu 0.75X, melebihi Nikon D5 (0.72X), Canon 5DS (0.71X) dan Nikon D810 (0.7X).

Sistem autofokus yang baru ini lebih besar 1.3X lipat dari Nikon D810 dan memiliki kemampuan memotret di kondisi yang sangat gelap. -4 di titik tengah (center point), dan -3 EV di titik-titik lainnya.

[click to continue…]

{ 11 comments }

Mentoring cityscape Bundaran Semanggi

Mentoring foto cityscape hadir lagi dengan spot utama simpang susun Semanggi atau yang kini lebih populer disebut dengan Bundaran Semanggi.

Acara ini terbuka untuk anda penghobi foto yang sudah memahami dasar fotografi (ISO, shutter, aperture, WB dll) dan ingin melatih skill dalam memotret cityscape di waktu senja jelang malam. Seperti biasa diperlukan lensa cukup lebar dan tripod yang kokoh untuk mendapat karya foto yang maksimal. Saya (Erwin M.) akan menjadi mentor di acara nanti untuk mendampingi peserta dan membimbing hal-hal teknis dan komposisi.

Meeting point : Lobi BRI Tower 2, Jl. Jendral Sudirman Jakarta

Waktu : Jumat 1 September 2017 jam 16.30-19.00 WIB

Tempat terbatas, hanya untuk 9 (sembilan) peserta saja.

Untuk info dan pendaftaran hubungi 0858-1318-3069 dan transfer biaya ke rekening Enche Tjin di BCA 4081218557 atau Mandiri 1680000667780.

{ 6 comments }

Review Leica D-Lux 109 bagian kedua

Sesuai dengan janji saya, di bagian kedua ini, saya akan membahas tentang mengunakan kamera Leica D-Lux 109 di kondisi cahaya yang gelap. Bagian pertama review bisa dibaca di artikel ini.

Biasanya memotret dengan kondisi gelap dengan kamera compact merupakan hal yang menakutkan, tapi dengan Leica D-Lux 109, kita dapat memotret dengan lebih mudah karena bukaan lensa kamera ini sangat besar (f/1.8-2.8), sehingga mudah memasukkan cahaya.

Selain itu, lensanya dilengkapi dengan Optical Image Stabilization, sehingga saya bisa mengunakan shutter speed yang lebih lambat daripada rumus 1/fokal lensa. Oleh sebab itu, saya bisa mempertahankan mengunakan ISO yang relatif rendah (200-800) untuk meminimalkan noise dan memaksimalkan detail dan ketajaman foto.

Seperti contoh dibawah, saya memotret hotel Grand Hyatt setelah matahari terbenam dengan setting f/2.2, 1/20 detik, ISO 200, 24mm tanpa masalah yang berarti meskipun tidak mengunakan tripod dan meskipun saya mengunakan f/2.2 tapi ruang tajam yang diperoleh sensor four thirds ini cukup membuat hotel dan gedung ThePlaza tajam semua.

Foto dibawah dibuat dengan setting f/2.3, 1/13 detik, ISO 200, 35mm.

[click to continue…]

{ 15 comments }

Mentoring foto aksi di BSD

Kegiatan mentoring untuk menambah pengalaman memotret hadir lagi di bulan September dengan tema melatih foto aksi cepat seperti balap motor atau motocross. Dibutuhkan lensa telefoto untuk lebih maksimal dalam memotret. Beberapa contoh lensa tele diantaranya 55-200mm, 70-300mm, 70-200mm, 100-400mm. Boleh juga pakai lensa sapujagat seperti 18-200mm dan sejenisnya. Seperti biasa kegiatan ini akan dimentori oleh saya (Erwin M.) dan peserta akan dibimbing mengenai setting kamera dan teknik memotret foto aksi.

Tempat : Bumi Serpong Damai (lokasi foto dekat dengan ICE BSD).

Waktu : Sabtu, 2 September 2017 jam 9.00-11.30 WIB

Meeting point : Mc. Donald’s ICE BSD, dari sana kita dengan kendaraan masing-masing menuju lokasi foto.

Biaya mentoring Rp. 350.000,- tempat terbatas hanya untuk 5 (lima) peserta saja.

Cara mendaftar

1. Hubungi 0858 1318-3069 atau infofotografi@gmail.com

2. Transfer biaya ke BCA 4081218557 atau Mandiri 1680000667780 atas nama Enche Tjin

3. Datang langsung ke lokasi sesuai jadwal

{ 0 comments }

Memotret orang yang tidak dikenal saat jalan-jalan atau street photography memang saya akui tidak mudah, tapi tidak sulit juga sebenarnya. Dulu sekali, saya sangat takut ditolak, dan juga takut diserang secara ucapan atau tindakan, sehingga saya sering mencoba memotret dengan lensa telefoto (zoom panjang) dari jarak jauh. Tapi setelah mempraktikkan hal tersebut saya perhatikan foto-fotonya terkesan “jauh” dan sebagian besar orang yang saya incar tau bahwa ia sedang dikeker dari jarak jauh karena sudut pandang lensa telefoto itu sempit, ujung lensa akan mengarah langsung ke orang tersebut.

Saya bertemu dengan bapak ini di kebun teh di Malabar. Ia sedang beristirahat sejenak setelah bersih-bersih di sekitar bukit Nini. Saya mencoba Mimiknya ramah dan beberapa kali tersenyum, tapi saya ingin wajah yang lebih otentik, maka saat mimik wajahnya berubah menjadi lebih serius, saya dengan cepat menekan tombol jepret. ISO 200, f/2.8, 1/400 detik, ekuivalen 75mm – Leica D-Lux 109

Perlu waktu bagi saya untuk terus melatih diri supaya berani memotret dari jarak yang lebih dekat. Akhirnya saya temukan bahwa kuncinya adalah jangan terlalu banyak mendengarkan rasio/pikiran kita, tapi lebih baik menuruti firasat (gut feeling) kita. Karena pikiran kita pasti akan mengatakan sebaiknya jangan mendekati orang asing tersebut. Sedangkan firasat mengatakan orang tersebut menarik untuk dipotret. Mengapa demikian? Mungkin karena pikiran kita berusaha menjaga kita dari orang asing seperti yang disarankan orang tua kita saat kecil: “Jangan bicara atau dekat-dekat dengan orang asing!”

Foto ini dibuat di Muara Angke, ceritanya segerombol pemuda berjalan ke arah saya, lalu saya berdiri dengan kamera yang saya letakkan di dada dan menjepret beberapa kali. Foto ini yang terbaik karena adanya kontak mata yang kuat antara pemuda dengan kaos singlet putih dan pemuda dengan kaos Slank. Yang menarik di foto ini mungkin karena gaya pemuda penggemar grup musik Slank yang “selengean” (rebellious). Mereka lewat saja tanpa bertanya apa-apa.

Setelah saya menyadari hal tersebut, saya memilih lebih menuruti firasat saya, dan semakin hari, saya semakin percaya diri dalam memotret orang asing dari jarak dekat. Ternyata, meminta orang asing untuk dipotret tidak serumit yang saya bayangkan. Memang tidak semua akan menyetujui, tapi tidak apa-apa, hampir tidak ada yang menyerang saya, kecuali insiden di sebuah taman di Chengdu tahun 2012 yang lalu.

Saya bertemu Bapak ini sedang duduk-duduk santai sambil merokok dan mengobrol dengan orang-orang di pelabuhan Muara Angke. Bapak ini terlihat ramah dan cahaya pagi hari menyinarinya. Lantas saya meminta izin: “Saya foto-foto ya pak?” Lalu Bapak ini tersenyum sambil menggangguk-angguk, teman-temannya mengoda dia dan saat dia tertawa saya tidak menyianyiakan kesempatan untuk mengabadikannya. ISO 200, f/2.8, 1/3200, 75mm – Leica D-Lux 109

Memang, teori itu gampang, tapi kalau tidak pernah memulai memotret orang yang tak dikenal ya.. sama saja bohong. Jadi saya menganjurkan untuk mencobanya, memang, awalnya sangat sulit sekali, karena pasti otak kita akan sangat resisten (melakukan perlawanan) terhadap ide mendekati orang asing, karena Ego kita ini sangat benci kalau ditolak orang. Tapi dengan latihan yang konsisten, lama-lama masalah ini menjadi tidak berarti lagi. Seperti kita memulai program fitness, awalnya otot kita kecil dan lembek, tapi karena dilakukan berulang-ulang kali, lama-lama jadi terbentuk dan jadi kuat.


Foto diatas diubah menjadi hitam putih dengan Lightroom dan Silver Efex Pro, bagi yang berminat mengetahui caranya, boleh ikuti workshop editing hitam putih (B&W) dengan pak Hendro Poernomo  & Iesan.

Untuk workshop dan tur fotografi, silahkan simak halaman kursus dan tur Infofotografi.

{ 8 comments }

Liputan Seminar Print dengan Wesley Wong

Tanggal 29 Juli 2017 yang lalu, Infofotografi.com bekerjasama dengan Wesley Wong Soo Ming, EPSON, EIZO dan X-Rite mengadakan acara Printmaking Seminar  di kantor sales and service EPSON INDONESIA di CIBIS 9, Jakarta Selatan. Acara ini menarik 25 peserta yang hadir untuk mengetahui proses pencetakan foto berkualitas tinggi.

Acara unik ini berawal dari percakapan saya (Enche Tjin) dengan Wesley Wong seputar tren fotografi digital saat ini, yang mana banyak penggemar fotografi jarang mencetak foto atau kecewa hasil cetak foto mereka kurang baik. Setelah perencanaan beberapa bulan, akhirnya Wesley, seorang master printer, terbang dari Kuala Lumpur, Malaysia ke Jakarta secara khusus untuk berbagi ilmu tentang bagaimana proses mencetak foto dengan kualitas baik.

Dalam seminar ini, Wesley dengan semangat menerangkan tentang pentingnya mencetak foto sebagai hasil akhir sebuah foto sebagai karya seni. Tapi untuk mendapatkan hasil cetak yang baik dengan warna yang akurat, tentunya diperlukan alur kerja (workflow) yang baik, dimulai dari foto (capture), editing (post-processing) sampai cetak (printing).

Seminar yang  awalnya direncanakan berlangsung dari pukul 13.00 sampai 17.00 WIB, akhirnya selesai 18.00 WIB.  Meskipun demikian, Wesley tetap dengan semangat berbagi pengetahuan dengan peserta yang keseluruhannya tampak antusias menerima pengetahuan yang bagi sebagian besar peserta merupakan hal yang baru.

Dalam acara seminar yang interaktif ini, Wesley banyak bertanya dan menerima pertanyaan peserta. Tidak hanya itu, Wesley mengajak peserta untuk ikut terlibat dalam proses kalibrasi printer dengan X-Rite ColorMunki dan juga memotong kertas hasil cetak.

Sesi acara yang paling menarik bagi peserta tentunya adalah evaluasi foto peserta oleh Wesley dengan mengunakan monitor EIZO 27″ CG277 yang beresolusi tinggi dan memiliki gamut warna lebar ini sangat memudahkan Wesley untuk menemukan kekurangan foto dan membetulkan-nya untuk hasil cetak foto yang maksimal. Setelah dikoreksi, foto-foto peserta pun dicetak satu persatu dengan printer large format EPSON P6000 dan kemudian ditanda-tangani oleh pemilik foto masing-masing dengan gembira.

Dalam seminar ini, Wesley berhasil membuka mata peserta tentang bagaimana membuat hasil cetak yang baik dan memecahkan berbagai kesalahpahaman selama ini tentang cetak foto. Saya berharap, Wesley berkenan untuk berkunjung kembali ke Indonesia untuk berbagi ilmu lagi di masa depan.

Terima kasih kepada peserta, Virdy, Agung, Lina, Martin dan Priska dari EPSON Indonesia, Siti Rohana dari EIZO, Martinus dan Herman dari X-Rite, Eko dari Oktagon dan semua pihak yang telah membantu kesuksesan acara ini.

{ 0 comments }

Melanjutkan semangat sharing & gathering tentang travel writing beberapa saat yang lalu, travel writer senior Bpk. Teguh Sudarisman kali ini bersedia untuk membimbing maksimum 8 peserta untuk berinteraksi, membuat foto dengan sudut yang menarik dan menulis cerita tentang peninggalan Kesultanan Banten.

Ilustrasi Masjid Agung Banten tahun 1800an.

Kesultanan Banten didirikan tahun 1552 oleh Sultan Maulana Hasanuddin, dan mencapai puncak kejayaannya di masa Sultan Ageng Tirtayasa yang memerintah antara tahun 1651 sampai 1683.

Dalam trip kali ini, kami akan mengunjungi beberapa tempat peninggalan kesultanan Banten yaitu Masjid Agung Kesultanan Banten yang unik karena atapnya bertumpuk lima mirip dengan atap-atap kuil dan istana di Tiongkok. Disamping Masjid berdiri menara masjid provinsi Banten yang menjadi lambang provinsi Banten.

Kita juga akan mengunjungi Vihara tertua di Banten yaitu Vihara Avolikestavara yang  konon sudah berdiri sejak abad ke-16 yang dibangun oleh Sunan Gunung Jati untuk pengikut salah satu istrinya Putri Ong Tien dari negeri Cina. Di dalam vihara ini banyak ukiran yang menceritakan kejayaan kesultanan Banten lama dan juga

Acara: tgl 2 September 2017

Meeting point : 05.30 pagi di Kartika Chandra

Pembina :

  1. Teguh Sudarisman, pengasuh Tgifmag, penulis buku Travel Diaries 1.0, (instagram)
  2. Hendro ‘Momi’ Poernomo, praktisi foto B&W (instagram).

Peserta dibatasi 8 orang saja, biaya Rp 575.000,-

Biaya telah termasuk: Transportasi ke Banten pulang pergi, dan konsumsi (roti di pagi hari, air minum mineral dan makan siang).

Itinerary
Pagi hari menuju ke kawasan Banten lama yaitu Masjid Agung Banten, dan Vihara Avalokiteswara. Disini peserta dapat memotret arsitektur dan juga human interest karena banyak umat yang berdatangan untuk berziarah. Setelah puas foto-foto, peserta akan balik ke Infofotografi, Green Lake City, Jakarta Barat untuk memilih foto dan menulis cerita pendek untuk melengkapi foto-foto tersebut.

Bagi yang berminat, harap hubungi Iesan Liang 0858 1318 3069, infofotografi@gmail.com
Biaya partisipasi dapat ditransfer ke Enche Tjin via BCA 4081218557 atau Mandiri 1680000667780

{ 0 comments }

Panduan dan rekomendasi lensa Tamron generasi baru

Sejak dua-tiga tahun yang lalu (sekitar tahun 2014), Tamron mulai membenahi lensa-lensanya terutama untuk kebutuhan penghobi fotografi, amatir dan terutama fotografer semi-pro dan profesional. Saat ini, sebagian besar koleksi lensa Tamron masih untuk kamera DSLR. Adapun lensa untuk kamera mirrorless saat ini masih terbatas. Pembenahan ini meliputi regenerasi produk ataupun penambahan lini produk baru.

Ciri produk baru Tamron tampak pada desainnya yang lebih modern minimalis, juga banyak lensa yang disematkan fitur anyar seperti VC (penstabil getar) dan motor fokus USD (Ultra Sonic Drive) atau bahkan HLD (High/Low torque-modulated Drive) yang lebih hening dan cepat.

Lensa yang dirancang khusus untuk kamera bersensor full frame berkode Di I, sedangkan yang untuk kamera bersensor APS-C Di II, dan untuk mirrorless Di III.

Yang membuat Lensa Tamron diminati adalah pilihan lensa-lensa zoom, macro dan beberapa tahun belakangan lensa fix yang berkualitas tinggi tapi harganya jauh lebih murah daripada lensa yang semerk dengan kamera. Jajaran lensa generasi baru ini bisa saya kategorikan dalam pola dasar (archetype):

Lensa Sapujagat

Tamro 18-400mm, superzoom terpanjang saat ini

Lensa superzoom cocok untuk fotografer dokumenter yang tidak suka atau tidak sempat mengganti lensanya saat memotret di lapangan. Tamron dari dulu memang sudah berpengalaman dan ahli dalam membuat lensa “sapujagat.” Beberapa lensa untuk sensor APS-C yang dapat dipilih antara lain:

  • 18-200mm f/3.5-6.3 Di II VC: Lensa sapujagat yang ringan (hanya 400 gram) dan harganya terjangkau. Fokalnya ekuivalen dengan 28-300mm di full frame.
  • 16-300mm f/3.5-6.3 PZD Macro: Lensa sapujagat yang cukup lebar untuk membuat foto pemandangan yang cukup dramatis dan memiliki kemampuan fokus jarak yang cukup dekat untuk foto objek-objek yang kecil. Fokalnya ekuivalen dengan 24-450mm di full frame.
  • 18-400mm f/3.5-6.3 Di II VC HLD: Lensa sapujagat baru dari Tamron yang memiliki rentang zoom yang terpanjang saat ini. Lensa ini juga dilengkapi dengan teknologi autofokus senyap (HLD) sehingga cocok juga untuk merekam video. Fokalnya ekuivalen dengan 28-600mm di full frame.
  • 28-300mm f/3.5-6.3 Di VC PZD: Lensa sapujagat untuk kamera DSLR full frame, kalaupun dipasang di kamera APS-C bisa tapi fokal lensanya menjadi tidak begitu lebar, tapi lebih panjang (42-450mm).

Lensa Profesional

Untuk lensa zoom untuk penghobi fotografi serius atau profesional. Kode pengenal lensa berkualitas tinggi ini adalah SP, singkatan dari Superior (Unggulan). Selama beberapa tahun ini, Tamron telah menyiapkan rentang fokal yang beragam dari super lebar sampai super telefoto.

Tamron 150-600mm, lensa super telefoto

Saat ini memang hanya ada satu saja lensa generasi baru yang tersedia untuk kamera DSLR bersensor APS-C yaitu lensa super lebar 10-24mm. Tapi untuk kamera DSLR bersensor fullframe, lensa zoom profesional Tamron ada banyak dan sudah siap.

[click to continue…]

{ 9 comments }