≡ Menu

Halo pembaca Infofotografi yang berbahagia. Kita beruntung akan kedatangan seorang master printer dari Malaysia yaitu Wesley Wong.

Wesley adalah pendiri Giclee Art, Sdn. Bhd, sebuah perusahaan yang berspesialisasi dalam mencetak foto berkualitas tinggi (Fine Art). Berkat pengalamannya yang lebih dari sepuluh tahun di dunia fotografi digital dan percetakan, membuatnya sering diundang sebagai pembicara, trainer, dan juri untuk berbagai lomba foto.

Saat ini, Wesley dipercaya menjadi Sigma Camera Global Key Opinion Leader, X-Rite Coloratti Master, dan Profoto Premium Club Trainer.

Infofotografi akan berkolaborasi dengan Wesley dan EPSON dalam penyelenggaraan seminar ini pada hari Sabtu, 29 Juli 2017. Pukul 13.00-17.00 WIB.

Tempat:
PT EPSON INDONESIA, CIBIS Tower 9 3rd Floor, CIBIS Business Park
Jl. T B Simatupang No. 2 Jakarta Selatan 12560 Indonesia

Dalam kesempatan yang baik ini, Wesley akan membahas dan mendemonstrasikan:

  • Pembahasan tentang printing dan best practices dari memotret sampai mencetak
  • Bagaimana cara Master Printer mengevaluasi sebuah file foto digital sebelum mencetak
  • Mengidentifikasi kekurangan dasar dari sebuah gambar
  • Bagaimana cara menutupi kekurangan dengan metode editing/retouching.
  • Cara mempersiapkan file gambar untuk dicetak
  • Manajemen warna dasar
  • Demonstrasi mencetak foto

Tempat terbatas,

Biaya Rp350.000 early bird / alumni Infofotografi

Pendaftaran OTS (On the Spot) atau setelah bulan Juni Rp450.000,-

Untuk mendaftar silahkan hubungi 0858 1318 3069 / infofotografi@gmail.com

Pelunasan dapat dilakukan dengan transfer ke Enche Tjin via BCA 4081218557 atau Mandiri 1680000667780. Harap konfirmasi setelahnya dengan nama peserta. Terima kasih atas perhatiannya.

{ 3 comments }

Dalam bulan Ramadhan di bulan Juni ini, Infofotografi akan kedatangan fotografer senior, Bapak Goenadi Haryanto. Beliau adalah pensiunan arsitek dan fotografer profesional (mulai tahun 2002) yang telah berpengalaman memotret selama lebih dari 50 tahun dan menyukai berbagai jenis fotografi. Beliau juga merupakan kontributor majalah in-flight Garuda dan Sriwijaya Airways.

Salah satu jenis fotografi yang paling disukai adalah human interest dan budaya. Beliau telah berpengalaman memotret festival budaya dari pulau Jawa, Kalimantan, sampai Papua.

Di acara sharing & gathering ini, Bpk. Goenadi Haryanto akan berbagi tentang kiat-kiat dalam memotret human interest dan festival budaya. Baik dari segi teknik (kamera, lensa dan setting), seni (komposisi, lighting), etika memotret, dan bagaimana mendapatkan foto yang memiliki jiwa/soul.

Acara akan diadakan pada:

Hari/Tanggal : Sabtu, 17 Juni 2017
Waktu : 1500 s/d 18.00 WIB
Tempat : Infofotografi, Rukan Sentra Niaga Blok N-05, Green Lake City, Duri Kosambi Jakarta Barat. GPS : 6.1794S 106.7115E
Petunjuk arah dan Peta bisa dibaca di laman ini.

Biaya pendaftaran: Rp 50.000 /orang
Terbuka untuk umum, tempat terbatas (30 peserta) saja.

Biaya sudah termasuk konsumsi buka puasa/makan malam bersama.

Pembayaran dapat ditransfer ke Enche Tjin via BCA 4081218557 atau Mandiri 1680000667780 Kalau sudah transfer tolong konfirmasi ke 0858 1318 3069 / infofotografi@gmail.com. Terima kasih atas partisipasinya.

{ 2 comments }

Halo teman-teman pembaca Infofotografi.com. Beberapa hari ini saya dititipin kamera dan lensa untuk dijual. Barangkali ada yang pas dibutuhkan. Post ini saya akan perbaharui seiring waktu. Bagi yang ingin nitip juga boleh menghubungi saya. Kontak info ada di bagian bawah tulisan ini.

Kamera:

  • Fujifilm X-E1 warna silver: Fungsi kamera bagus, kelengkapan termasuk baterai, charger, kabel. Kondisi kosmetik kamera ada sedikit baret di beberapa sisi kamera. Rp 3.3 juta
  • Fujifilm X-T1 Graphite Silver : Kondisi mulus. Rp 11.5 juta.
  • Fujifilm VG-TX 1 Battery grip untuk Fujifilm X-T1 : Kondisi mulus. Rp 2.5 juta
  • Nikon D700 : Baru diservice ganti karet. Kondisi fisik baik Rp 7.25 juta. Cocok untuk foto action dan untuk kerja di event/wedding dll. [TERJUAL]
  • Canon 750D + lensa 18-55mm IS STM : Kondisi baik, ada beberapa titik karat di mount-lensa. Rp 6.45 juta. [TERJUAL]
  • Nikon D3300 + lensa 18-55mm : Kondisi baik sekali, SC dibawah 6000 jepretan. Rp 3.9 jt.

Lensa dan aksesoris:

  • Fujifilm 18-55mm f/2.8-4 OIS : Kondisi lensa baik, ada sedikit tanda pemakaian di barrell zoom lensa. Rp 4.5 juta
  • Fujifilm 90mm f/2 LM WR: Masih mulus seperti baru. Rp 9.900.000,-
  • Flash Nikon SB900 : Kondisi sangat baik, sedikit baret di body. Rp 2.675.000,-
  • Nikon teleconverter 2X TC-20E : Kondisi seperti baru, lengkap dengan dus dan manual. Rp 5.150.000,-
  • Nikon 14-24mm f/2.8 : Lensa superlebar profesional Nikon. Kondisinya sangat baik. Rp 17.000.000,-
  • Nikon 24-70mm f/2.8 : Ada tanda pemakaian tapi kondisi sangat baik, karet baru diganti, tidak melar. Rp 13.250.000,-
  • Nikon 70-200mm f/2.8 VR II : Kondisi sangat baik, ada sedikit debu internal, sedikit lecet di body-nya, tidak mempengaruhi kualitas foto. Lens hood ada sedikit retak, tapi masih bisa digunakan. Rp 16.900.000,-
  • Sigma 70mm f/2.8 Macro DG untuk Nikon : Kondisi baik, sebagian besar untuk pemakaian indoor, lensa yang sangat tajam. Harga: Rp 7.500.000,-
  • Zeiss 25mm f/2 ZF.2 untuk DSLR Nikon : Lensa manual fokus yang berkualitas tinggi dari fisik maupun hasil foto yang dihasilkannya. Kondisi sangat baik, jarang digunakan. Rp. 16.500.000,-

Bagi teman-teman pembaca yang ingin melihat gambar-gambar barang yang dijual dengan lebih jelas atau membeli dengan cicilan, silahkan kunjungi toko kita di bukalapak.com

Untuk info lebih lanjut: WA 0858 1318 3069 atau e-mail infofotografi@gmail.com

{ 3 comments }

Panduan memilih filter untuk kamera mirrorless

Liburan sudah hampir tiba, akhir-akhir ini, saya mendapatkan banyak pertanyaan seputar filter. Sebelumnya sudah pernah dibahas untuk penggunaan filter CPL dan ND. Buat yang masih bingung untuk membeli ukuran filter yang tepat buat lensanya, terlebih dahulu dicek dulu seluruh diameter filter untuk lensanya. Ukuran diameter lensa biasanya tertulis di depan lensa diawali dengan tanda ø.

Lensa Panasonic Lumix 12-32mm yang memiliki diameter filter 37 (ø37)

Lensa 15mm yang memiliki diameter filter 46 (ø46)

Setelah itu, mulailah kita mencari ukuran filter yang cocok. Jika kita memiliki beberapa lensa dengan ukuran yang berbeda-beda, tentunya kita harus membeli beberapa keping filter. Menurut saya, hal ini sangatlah boros. Hehehe.. Maklum agak pelit.

Cara hematnya adalah dengan membeli kepingan filter dengan diameter yang paling besar terlebih dahulu, kemudian yang lainnya tinggal memakai step up ring. Biasanya, lensa-lensa untuk kamera mirrorless ukurannya lumayan imut, sehingga sulit sekali untuk mencari filter yang cocok. Umumnya filter untuk kamera DSLR paling kecil berukuran 52mm. Untuk kasus lensa saya, seharusnya saya membeli filter ukuran 46mm, kemudian membeli step up 37 ke 46. Namun karena filter 46mm susah dicari, akhirnya saya membeli filter 49mm dan tinggal menambah 2 step up ring.

Saya sendiri memilih filter Variable ND karena tergolong mudah dan praktis (ekonomis pastinya). Dengan ND2-400, satu keping filter ini bisa diubah ubah tingkat gelapnya dari 1 stop sampai 8 stop.

Filter Variable ND 49mm yang sudah dipasang dengan filter step up 37-49.

Meskipun mudah dan lebih murah (daripada membeli kepingan filter yang fix gelapnya misal 3 stop, 6 stop, 10 stop), tentu saja kualitasnya tidak semaksimal kepingan filter yang tidak bisa diubah ubah tingkat gelapnya. Sama halnya dengan kualitas lensa fix(prime) yang lebih bagus dari lensa zoom.

Penampakan terakhir untuk lensa filter size 37mm dan sudah bisa langsung dipakai untuk hunting.

Teman-teman yang memiliki lensa kit Sony 16-50mm tidak perlu kuatir juga karena ada step up 40.5 ke 49.

Selain itu, untuk lensa-lensa Sony yang tergolong unik diameter filternya (62mm ataupun 72mm) bisa langsung mencari filter terdekat yang lebih mudah dicari seperti ukuran 67mm atau 77mm, kemudian baru dihubungkan dengan step up filter yang sesuai.

Bagi teman-teman yang ingin mendapatkan step up ring ataupun filter CPL dan ND yang sesuai, bisa menghubungi saya di 0858 1318 3069 atau bisa email di infofotografi@gmail.com.

{ 6 comments }

Trip ke Curug Nangka adalah yang kesekian kalinya saya ikut trip Infofotografi. Anehnya, saya tidak pernah merasa bosan untuk bergabung dengan Infofotografi. Suka-duka dan ilmu yang saya dapatkan baik dari mentor Infofotografi atau dari teman-teman seperjalanan menjadi salah satu alasan kenapa saya sering ikut trip. Kali ini agendanya hunting landscape atau tepatnya berburu slow speed di curug Nangka Bogor.

Dengan pembimbing Mas Erwin Mulyadi yang pengalaman serta keahliannya sudah tidak diragukan lagi. Peserta disamping belajar penggunaan kamera yang benar, peletakan tripod serta memanfaatkan filter yang dibawa oleh peserta, pembimbing juga memberikan arahan spot pengambilan gambar yang menarik. Namun pada akhirnya keputusan diserahkan kepada masing-masing peserta.

Trip saya manfaatkan semaksimal mungkin, baik untuk mengasah skill, berkenalan dengan teman baru sekaligus mencoba kamera baru sesuai dengan rekomendasi dari salah satu mentor Infofotografi.

Saya membawa dua kamera andalan yang sebenarnya lebih cocok untuk foto street. Yaitu Olympus PEN F dengan lensa 45mm dan Olympus OMD 10 Mark II dengan lensa 17 mm. Saya paling suka pakai lensa fix. Tantangannya banyak, kita bisa pakai modus manual atau auto, kalau jarak gambar kurang dekat ya kita tinggal maju. Begitu juga sebaliknya.  Saya juga paling suka bawa dua kamera, tidak perlu repot-repot tukar lensa.

Saat di curug Nangka, saya tidak hanya hunting slow speed, alias air terjun saja. Di perjalanan, saya paling suka mengabadikan teman-teman di jalan. Saat semua sibuk mencari alternatif jalan yang mulus, saya tinggal ambil kamera dan jepret satu persatu. Ini juga salah satu kelebihan memakai kamera mirrorless.

Fokusnya cepat dan kualitas gambarnya tidak kalah dengan kamera DSLR. Selain itu, objek street juga
banyak dan sebelum pulang, saya paling suka foto makanan di warung yang tertata cukup rapi.

Mengingat kami pulang masih agak pagi, pengunjung belum banyak, jadi mudah untuk pengambilan gambar-nya. Sayang waktu nya pendek, hanya setengah hari kami disana, padahal objek foto sangat bervariasi. Semoga trip berikutnya jumlah pesertanya bisa lebih sedikit dan waktu yang lebih panjang, biar puas ambil foto landscape, street dan berlatih slow speed dengan memotret air terjun.


Catatan Enche: Terima kasih untuk sharing pengalamannya, masukannya kami terima untuk trip kedepan yang lebih seru lagi. Kami nantikan sharing pengalaman travel Bu Meis lainnya.

Bagi pembaca yang ingin belajar atau mengikuti trip fotografi bisa memeriksa halaman ini.

{ 2 comments }

Leica SL Review bagian ke-2 : Antarmuka

Desain antarmuka (interface) Leica SL sangat unik jika dibandingkan dengan kamera digital lainnya. Sekilas, terlihat sederhana: tidak memiliki banyak tombol dan juga tidak ada labelnya. Alasan Leica tidak menyematkan label karena hampir setiap tombol bisa dikustomisasi / diubah fungsinya sesuai keinginan fotografernya.

Tombol-tombol utama Leica SL ukurannya cukup besar, bentuknya persegi panjang dan terletak di sebelah kiri dan kanan layar LCD. Jika ditekan, fungsi tombol tersebut masing-masing adalah:

Kiri atas: Menu
Kiri bawah: Perbesaran area layar (berguna saat manual fokus)
Kanan atas: Playback
Kiri bawah: Info layar (setting kamera, focus peaking, histogram-highlight, grid level)

Fungsi tombol diatas tidak bisa diubah karena sudah default dari kamera.

Tapi jika tombol-tombol diatas ditekan dan ditahan sejenak (sekitar 0.5 detik), fungsinya bisa diubah seperti keinginan seperti jalan pintas untuk mengganti setting kamera. Fungsi tombolnya bisa diubah melalui  menu Setup>Customize Control>Short Cuts.

[click to continue…]

{ 4 comments }

Lensa Canon EF-M 28mm f/3.5 Macro IS STM merupakan salah satu lensa yang unik untuk sistem kamera mirrorless Canon. Pertama, lensa ini memiliki sudut pandang yang cukup lebar dibandingkan dengan lensa makro pada umumnya (sekitar 60-100mm), dan kedua adalah lensa ini memiliki lampu LED yang built-in di depannya. Lensa ini tergolong lensa mirrorless, jadi tidak bisa digunakan di kamera DSLR Canon.

Lensa ini sangat kecil dan ringan, panjangnya saat tidak digunakan sekitar 4.5 cm, dan beratnya hanya 130 gram, cocok disandingkan dengan kamera mirrorless Canon EOS M3 yang saya pakai untuk menguji lensa ini. Sepertinya lensa ini adalah lensa makro paling kecil yang pernah saya ketahui. Meski punya label lensa makro, tapi lensa ini memiliki fungsi yang cukup variatif. Selain untuk foto-foto subjek kecil seperti bunga, makanan, detail produk khususnya aksesoris dan perhiasan,  juga untuk portrait. Jarak fokus lensa 28mm ini kira-kira ekuivalen dengan 45mm, atau disebut juga lensa standar/normal, karena dapat menghasilkan foto sesuai dengan perspektif mata manusia.

Jarak fokus 28mm (45mm) tergolong standar, tidak telefoto di dunia fotografi makro, lensa standar termasuk lensa pendek. Jadi jika untuk memotret subjek yang jauh seperti serangga di alam akan sulit, karena jika terlalu dekat, bisa jadi serangganya keburu kabur.

Mari kita simak beberapa fitur lensa Canon EF-M 28mm f/3.5 Macro IS STM ini:

Fitur Canon EF-M 28mm f/3.5 Macro IS STM antara lain:

  • Mode Macro dan Super macro dengan magnifikasi 1.2X
  • Lampu LED yang bisa diatur kecerahannya, juga bisa diatur kiri dan kanan
  • Hybrid IS, fitur yang sama di Canon EF 100mm f/2.8L Macro IS USM, membantu mencegah getaran kamera. 3.5 X stop
  • Stepping motor sehingga autofokus saat video lebih senyap dan hampir tidak bersuara saat merekam video
  • Terdiri dari satu elemen UD dan 2 Aspherical, membantu untuk mendapatkan warna dan ketajaman yang baik.

Fitur andalan lensa ini adalah fungsi makronya, jika kita mengunakan mode super macro, maka kita bisa memotret paling dekat 9.36 cm dari sensor gambar kamera, atau hanya kurang lebih hanya 9 milimeter dari bagian depan lensa. Selain itu, dua lampu LED di bagian depan lensa sangat membantu pencahayaan, karena dengan posisi sedekat 9 milimeter, bayangan lensa akan menutupi subjek. Dengan lampu ini, subjek akan tetap terang dan warna cahayanya akan lebih baik/netral. Salah satu kelebihan lain adalah bukaan lensa saat fokus dekat tetap bertahan di bukaan terbesar yaitu f/3.5. Di lensa-lensa Makro lainnya, biasanya bukaan maksimal berkurang saat memotret dari jarak dekat.

[click to continue…]

{ 6 comments }

Kali ini saya bahas lagi tentang sistem wireless flash. Bila di artikel sebelumnya saya mengenalkan tentang trigger TTL Godox X1C, maka kali ini anggaplah ini adalah artikel lanjutan yang akan membahas tentang flashnya yaitu Godox V860II-C (C artinya TTL untuk sistem Canon) khususnya saat menjadi slave RF 2,4 GHz. Sebagai info, anda yang punya flash Godox TT685C juga bisa mengikuti informasi di artikel ini karena secara fitur sama dengan yang V860. Flash ini punya kelebihan sudah memiliki receiver (penerima) dengan sistem RF 2,4 GHz sehingga tidak usah ditambah receiver tambahan lagi bila di trigger oleh flash yang sama, atau oleh transmitter Godox X1T.

Flash Godox V860II-C dan trigger Godox X1T-C

Disini saya tidak membahas fitur wireless optik yang lebih klasik, meski fitur wireless optik ini tetap berguna, namun sistem RF 2,4 GHz jauh lebih handal. Flash Godox V860II C adalah flash TTL untuk Canon dengan fitur andalan seperti GN60, HSS dan baterainya Lithium. Flash ini bisa bekerja sebagai Master (bila dipasang diatas kamera) dan juga sebagai Slave. Bila dijadikan Master, maka perlu flash Godox lain yang akan difungsikan sebagai slave, atau bila punya flash TTL merk lain perlu dipasangkan ke X1R-C (unit receiver).  Bila flash Godox ini jadi Slave 2,4 GHz, maka tersedia 5 pilihan grup ABCDE untuk yang perlu banyak lampu, dan ada 32 channel yang bisa dipilih.

Godox V860II C dalam mode Master (LCD berwarna hijau) dan simbol wireless menunjukkan RF 2,4 GHz, tersedia grup khas Canon Ratio A:B C

Bila memang sudah ada trigger X1T-C, dan ingin memanfaatkan fitur receiver di dalam V860II C ini maka untuk memulai koneksinya perlu menekan tombol Wireless di flashnya (paling kanan, dekat tuas On-Off) sampai indikator di layar menunjukkan simbol Wireless 2,4 GHz (ada simbol radio di pojok kiri atas LCD, bukan simbol Wireless optik yang seperti petir) dan layar LCD akan berwarna oranye. Selebihnya tentukan saja flash ini mau dijadikan grup apa, dan jangan lupa samakan channel-nya. [click to continue…]

{ 14 comments }

Sudah merupakan cara klasik untuk menentukan kamera yang dibeli berdasarkan harga. Tapi Sony A7 II dan Fujifilm X-T2 sebenarnya adalah kamera yang berbeda formatnya. Menurut saya, Fuji X-T2 seharusnya dibandingkan dengan Sony A6500, Nikon D500 atau Canon 7DII, karena ketiganya bersaing untuk memperebutkan fotografer action dan event. Sedangkan seri Sony A7II yang bersensor full frame sebenarnya saingannya lebih ke kamera DSLR full frame seperti Canon 6D dan Nikon D750.  Biasanya kamera-kamera tersebut digunakan sebagai kamera serbaguna seperti travel, portrait, landscape, wedding dll.

Tapi berhubung karena harga keduanya saat ini mirip, bahkan Sony A7 II lebih murah (20 juta dengan lensa 28-70mm atau 21 juta dengan lensa 85mm f/1.8) sedangkan Fujifilm X-T2 harga body only-nya saja sekitar Rp 23 juta. Tapi saya tidak merasa heran ada yang menanyakan hal tersebut karena harga keduanya tidak terpaut terlalu jauh dan sama-sama kamera mirrorless.

Perbedaan yang mendasar antara kedua kamera yaitu di ukuran sensor, Sony A7II sensor gambarnya full frame, lebih besar dari X-T2 yang APS-C. Banyak implikasi dari ukuran sensor ini, misalnya kualitas foto di ISO tinggi dan rentang dinamis lebih baik yang full frame. Di lain pihak, ukuran lensa dan harga lensa relatif lebih murah yang APS-C jika kualitasnya mirip. Perbedaan lengkapnya telah diulas di artikel memilih sistem APS-C atau full frame.

[click to continue…]

{ 22 comments }

Bahas foto : Street Portrait Hanoi, Vietnam

Memotret street photography khususnya street portrait seperti foto dibawah tidaklah mudah. Saat tour Infofotografi ke Vietnam, salah satu agendanya adalah memotret di pasar di kota lama, dekat dengan jembatan Long Bien yang dirancang oleh Eiffel.

Mengapa tidak mudah? Banyak penyebabnya, salah satunya adalah harus bangun pagi-pagi, sekitar pukul 4.30 pagi, dan langsung berangkat jam 5.00 ke pasar. Tujuannya supaya bisa merekam aktivitas pasar yang lagi sibuk-sibuknya, dan juga cahayanya lebih dramatis. Tidak semua peserta suka agenda ini, nyatanya sekitar separuh dari 16 peserta memilih tidur di hotel. Hehehe…

Tantangan kedua adalah ketakutan dalam memotret di tempat umum, terutama takut jika orang yang dipotret akan marah atau menolak dipotret. Ketakutan ini beralasan, sebagian akan setuju, bahkan akan memasang pose, tapi sebagian akan menolak. Tapi sebenarnya tidak masalah asal kita bisa menunjukkan sikap yang baik seperti tersenyum, tidak bersikap agresif, dan menunduk tanda menghormati maka biasanya orang-orang disekitar pasar tidak akan keberatan.

Kesulitan lainnya adalah di kondisi cahaya gelap, dan suasana yang berantakan dan selalu berubah tentu akan menyulitkan. Selain itu, akan lebih sulit mendapatkan foto yang populer, jumlah Like di Facebook dan Instagram akan lebih sedikit dibandingkan dengan foto pemandangan dengan warna-warni langit di saat matahari terbenam. Tapi tantangan adalah tantangan, jika berhasil, foto yang didapatkan akan unik, tidak klise (seperti foto di kartu pos).

Berkenaan dengan foto disamping, saya tertarik memotretnya karena wajahnya cukup berkarakter dengan potongan rambut dan baju kamuflase militer, setelah saya melihat saya dengan kamera, ia sepertinya santai dan tidak merasa keberatan untuk dipotret, maka itu saya mencoba mencari sudut yang baik.

Setting: ISO 2000, f/4, 1/60 detik, 50mm, Kamera: Leica SL, Lensa: Leica 24-90mm f/2.8-4 OS.

Saya melihat payung besar berwarna merah muda (magenta) kontras dengan warna hijau baju sehingga “menabrakkannya” dengan kepala subjek foto tersebut. Saya juga berusaha mendapatkan aktivitas orang-orang dibelakang dengan mengunakan lensa yang tidak terlalu telefoto/zoom.

Tapi saya juga ingin ada efek kedalaman (depth) antara subjek foto dan latar belakang, jadi saya mengunakan setting bukaan f/4 dan lensa di zoom ke 50mm. F/4 di kamera bersensor full frame, kurang lebih setara f/2.8 di kamera bersensor APS-C, atau setara f/2 di kamera micro four thirds, jadi cukup membuat latar belakang blur, tapi tidak 100% blur, sehingga kita masih dapat aktivitas pasar di latar belakang.

Karena masih pagi, cahaya masih minim, supaya foto tajam saya perlu shutter speed cukup cepat (1/60 detik), sehingga ISO jadi agak tinggi yaitu ISO 2000.

Mengenai cahaya, kondisi di pagi hari yang masih gelap berpadu dengan cahaya lampu di pasar dari arah belakang, membantu membuat subjek foto seakan bersinar (glow), memisahkannya dari latar belakang dan terlihat lebih tiga dimensi.

Jika pembaca menyukai street photography dan human interest, ikutilah tour fotografi India, akhir tahun 2017 ini. Info/daftar 0858 1318 3069 / infofotografi@gmail.com

Artikel yang berkaitan: Tips motret jalanan

{ 11 comments }