≡ Menu

Workshop editing & manajemen foto dengan Adobe Lightroom
2 Agustus 2014 - Daftar/Info: hub: 0858 1318 3069

Rekomendasi lensa untuk Samsung NX

Lensa-lensa tambahan untuk sistem kamera Samsung NX saat ini belum begitu banyak, tapi untuk lensa basic sebenarnya sudah cukup lengkap. Setelah memiliki kamera Samsung NX (bisa dilihat panduannya disini), tentunya langkah berikutnya adalah mencari lensa tambahan untuk membuat foto yang sudut pandang atau efek yang berbeda.

lensa-samsung-nx

Beberapa lensa yang saya rekomendasikan antara lain:

  • Samsung 12-24mm f/4-5.6 ED : Lensa sangat lebar untuk pemandangan yang dramatis seperti langit di pantai. Lensa ini relatif ringan dan cocok digunakan outdoor atau indoor. Jika digunakan di kondisi cahaya yang gelap seperti indoor/sunset, saya anjurkan mengunakan tripod karena lensa ini tidak ada fitur stabilizernya. Berat 208 gram, diameter 6.3 cm, panjang 6.5 cm, filter 58mm.
  • Samsung 16-50mm f/2-2.8 S : Lensa zoom lebar yang kualitasnya sangat tinggi /pro dan bukaannya sangat besar. Ukurannya agak besar dan berat, Harganya juga relatif tinggi. Berat 610 gram, diameter 8.6  cm, panjang 9.6 cm. filter 72mm.
  • Samsung 50-200mm f/4-5.6 OIS : Lensa telefoto untuk motret subjek foto yang jauh seperti olahraga, satwa liar, bisa juga untuk portrait. Ukurannya agak besar dan panjang. Berat 417 gram, diameter 7 cm, panjang 10 cm, filter 52mm.
  • Samsung 18-200mm f/3.5-6.4 OIS : Lensa sapujagat ini adalah gabungan dari lensa lebar dan telefoto. Ideal buat jalan-jalan sehingga gak repot ganti-ganti lensa. Komprominya adalah di jarak telefoto, kualitas gambar agak menurun/kurang tajam dan bukaannya relatif kecil sehingga motret di kondisi gelap di rentang telefoto akan agak sulit. Berat 578 gram, diameter 7.2 cm, panjang 10.55 cm.

[click to continue…]

{ 0 comments }

Mencari foto yang tidak terhubung di Lightroom

Kalimat “The Folder could not be found” merupakan momok bagi pengguna Lightroom.

Ini artinya file foto yang orisinilnya sudah dipindahkan di luar lingkungan kerja Lightroom. File tidak akan bisa diedit lagi ataupun diekspor. Untuk menghubungkan kembali foto tersebut, kita harus tahu di mana file orisinilnya berada.

Seringkali, saya mendapat pertanyaan, bagaimana me-link kembali file tersebut? Maka saya akan mengaju pada buku Lightroom halaman 29 bagian “Jika foto asli tidak terhubung” ataupun jika mengikuti workshop Lightroom, penjelasan ini akan ada pada handout halaman 3 bagian “Jika foto hilang”.

Cara ini akan berhasil jika kita tahu/ingat dimana letak file foto orisinil tersebut.

Masalahnya, banyak yang sudah memindahkan filenya tanpa tahu ke mana foto tersebut sudah dipindah.

Kalau sudah begitu, mungkin cara di bawah ini bisa membantu. [click to continue…]

{ 2 comments }

Mengenal dua jenis distorsi lensa dan solusinya

Distorsi artinya adalah penyimpangan bentuk. Distorsi biasanya terjadi saat mengunakan lensa dengan jarak fokus sangat lebar atau telefoto. Ada dua jenis distorsi yang populer, yaitu barrel dan pincushion.

Disebut barrel karena penyimpangan bentuknya seperti gentong atau cembung keluar. Biasanya terjadi saat mengunakan lensa dengan jarak fokus lebar, antara 10-16mm.

Contoh distorsi Barrel (seperti gentong)

Contoh distorsi Barrel (seperti gentong)

Atas: distorsi barrel. Bawah: Setelah dibetulkan

Atas: distorsi barrel. Bawah: Setelah dibetulkan. Lagi diskusi dengan mahasiswa/i UI

Kiri: Contoh distorsi barrel sebelum dibetulkan. Kanan: Setelah dibetulkan dengan software

Kiri: Contoh distorsi barrel sebelum dibetulkan. Kanan: Setelah dibetulkan dengan software

Distorsi yang paling parah biasanya terjadi saat mengunakan lensa lebar zoom yang berukuran relatif kecil. Distorsi barrel kadang-kadang saya biarkan saja apa-adanya saat memotret alam/nature, karena tidak terlalu ketara dan kadang malah bagus karena memberikan kesan tiga dimensi. Tapi kalau untuk arsitektur / interior atau kalau ada pola-pola garis, distorsi akan sangat mengganggu, karena garis-garis yang tegak lurus jadi melengkung.

Distorsi pincushion (cekung ke dalam) Sering terjadi saat mengunakan lensa tele.

Distorsi pincushion (cekung ke dalam) Sering terjadi saat mengunakan lensa tele.

Cara mengatasi yang paling mudah yaitu dengan mengaktifkan auto correction lens di kamera jika ada. Hasil gambarnya nanti akan bebas distorsi. Tapi keterbatasannya yaitu gak bisa motret dengan file RAW. Jika memotret dengan kualitas RAW, maka kita perlu membetulkannya sendiri.

Di software Adobe Lightroom, ada panel lens correction dan profile lensa berbagai merek yang cukup banyak. Mengaktifkan “enable profile correction” akan mengkoreksi distorsi secara otomatis.

Panel lens profil di Lightroom

Panel lens profil di Lightroom

Banyak profile lensa yang ada di Lightroom versi 5.4 ini. Lensa jadul biasanya gak ada

Banyak profile lensa yang ada di Lightroom versi 5.4 ini. Lensa yang terlalu  jadul misalnya keluaran tahun 70-an biasanya gak ada

Mungkin Anda akan bertanya-tanya, mengapa produsen kamera & lensa tega membuat lensa yang berefek distorsi seperti diatas. Jawabannya mungkin agak rumit. Untuk membuat lensa yang bebas distorsi (terutama lensa zoom yang lebar sekali atau rentang zoomnya jauh) akan sangat sulit dan berakibat ukuran lensa menjadi sangat besar dan berat. Selain itu harga sudah pasti akan tinggi.

Sebagai komprominya, koreksi distorsi lensa akan dilakukan secara software baik di kamera maupun di Lightroom. Sehingga sama-sama senang. Jika memang kita tau bahwa lensa punya kita distorsi, jangan lupa saat komposisi foto jangan terlalu ketat, sisakan sedikit ruang sehingga saat membetulkan distorsi di software, bagian penting difoto tidak terpotong.

—–

Belajar Adobe Lightroom kini bisa melalui workshop 1 hari atau melalui buku Adobe Lightroom yang ditulis khusus oleh Enche & Iesan.

{ 2 comments }

Review lampu studio wireless Rime Lite i6

Penggemar fotografi dan fotografi profesional yang sering berpindah-pindah tempat biasanya berkompromi dengan mengunakan external flash/speedlite karena membawa lampu studio tidak praktis terutama untuk di luar ruangan. Tapi seringkali speedlite memiliki keterbatasan di kekuatan (power) atau flash duration (kecepatan cahaya dalam membekukan subjek).

Rime Lite i6, lampu studio buatan Korea ini dirancang untuk memecahkan masalah diatas. Bentuknya memang seperti lampu studio biasa, tapi jauh lebih portabel dibandingkan lampu studio pada umumnya. Rime Lite i6 ini mengunakan baterai litium yang dipasang didalam unit lampunya dan cukup untuk dipakai sekitar 400 kali full power dan 2000 kali di minimum power. Kapasitas baterai cukup untuk syuting foto seharian. Rime Lite juga menyediakan wireless trigger khusus tanpa kabel yang praktis, yang dapat berfungsi untuk pengaturan kekuatan/ power on/off dari setiap individual yang terkoneksi dalam satu channel.

Antarmuka i4 sudah digital dan relatif mudah dipelajari. Wireless receiver terpasang di bagian belakang atas lampu tanpa kabel.

Antarmuka i6 sudah digital dan relatif mudah dipelajari. Wireless receiver terpasang di bagian belakang atas lampu tanpa kabel.

Karena mengunakan mount yang cukup universal (Fomex, Bowen, dll), bagi yang sudah memiliki berbagai softbox atau light-shaper lainnya bisa memasang di Rimelite ini tanpa masalah. Rime Lite juga menyediakan mount buat speed light, dan dudukan mounting ke stand lampu didalam paketnya juga.

Saya sempat memasang softbox ukuran 80 x 140cm dan mount-nya cukup kuat menahan beban softbox tersebut. Dari Rime Lite sendiri sebenarnya juga memiliki berbagai lightshapers, yang salah satunya adalah hexagonal yang mudah sekali untuk di setup, karena tidak perlu di rakit seperti softbox konvensional. Selain itu tersedia juga strip box, softbox, oktabox, beauty dish dan sebagainya.

Selain portabilitas yang tinggi, Rime Lite i6 juga memiliki dua senjata rahasia yaitu mode high flash duration yang dapat mencapai 1/12800 detik, t 0.5 . Hanya tentunya kalau mengejar flash duration secepat 1/12800 detik, maka kekuatan flash akan melemah. Flash duration yang cepat/singkat ini berguna untuk membekukan subjek bergerak sangat cepat seperti gerakan air, gerakan penari, atlit, dan lain-lain.

Untuk membekukan air dengan sempurna membutuhkan flash duration tinggi. Untuk foto ini saya mengunakan satu lampu dengan standard reflector dan setting t3 (flash duration 1/4000 detik).

Untuk membekukan air dengan sempurna membutuhkan flash duration tinggi. Untuk foto ini saya mengunakan satu lampu dengan standard reflector dan setting t3 (flash duration 1/4000 detik).

[click to continue…]

{ 15 comments }

Sony A7 yang mana yang sebaiknya dibeli?

Sony menyiapkan tiga kamera bersensor full frame dengan body yang relatif ringan dan ringkas, tapi yang mana yang paling cocok ya?

Belakangan, pertanyaan ini sering ditanyakan, biasanya oleh pengguna kamera DSLR full frame yang sudah merasakan “beratnya” membawa kamera DSLR full frame dengan lensa-lensanya saat jalan-jalan. Atau kelompok kedua adalah yang kecewa dengan kualitas gambar kamera mirrorless yang bersensor lebih kecil.

Ada tiga varian Sony A7, dan setiap varian memiliki kelebihan kekurangan yang berbeda. Maka itu tidak ada kamera yang paling bagus, tapi yang paling cocok untuk kebutuhan.

Silahkan dipilih

Silahkan dipilih

Sony A7 adalah kamera yang paling fleksibel dan serba guna, harganya paling terjangkau (saat ini sekitar Rp 15-16 juta), resolusinya cukup tinggi yaitu 24 MP. Kelebihan lain dibandingkan varian lainnya adalah adanya hybrid phase detection autofocus yang mempercepat autofokus saat memotret subjek bergerak di kondisi cahaya terang seperti di luar ruangan. Menurut saya, A7 cocok untuk foto liputan acara keluarga, memotret anak-anak bermain, portrait, bahkan pemandangan. 24 MP cukup besar untuk cetak ukuran panjang 1 meter. [click to continue…]

{ 4 comments }

Pilih mana? Nikon D3200 vs Nikon D5200

Kedua kamera DSLR pemula Nikon ini memiliki sensor gambar dengan resolusi yang sama yaitu 24 MP, tapi yang D3200 sekitar 3 juta lebih murah. Apa beda antara keduanya?

nikon-d5200-vs-nikon-d3200

  • Nikon D5200 punya layar LCD yang bisa diputar, fitur ini akan membantu saat memotret di sudut yang sulit atau saat merekam video.
  • Nikon D5200 memiliki Effects mode dan fungsi-fungsinya lebih bisa dikustomisasi daripada Nikon D3200
  • Autofokus D5200 lebih canggih yaitu 39 titik, sama dengan D7000 dan D600/610. D3200 hanya punya 11 titik. Sistem autofokus yang baik bagus untuk fotografi aksi/subjek bergerak.
  • Di sisi video, D5200 dapat merekam efek slow motion di ukuran full HD yaitu 60/50i, sedangkan D3200 hanya 30p.
  • Microphone D5200 stereo, D3200 mono, tapi keduanya bisa dipasang dengan mic external yang lebih bagus.
  • Kualitas file RAW dari D5200 14 bit, D3200 12 bit, sehingga saat mengolah/edit foto, kualitas gambar D5200 akan lebih baik.
  • Yang terakhir, kecepatan foto berturut-turut D5200 lebih cepat (4 fps vs 3 fps)

Kelebihan-kelebihan diataslah yang membuat perbedaan harga yang cukup signifikan antara keduanya. Jika Anda seorang pemula yang tidak berencana untuk menggali / mempelajari fotografi lebih dalam, D3200 sudah cukup. Tapi jika ingin menjelajahi lebih dalam baik fotografi maupun video, saya usulkan Nikon D5200.

{ 6 comments }

Canon 600D vs Canon 700D

Memutuskan untuk membeli kamera DSLR pertama kalinya memang sulit, karena kita belum berpengalaman sehingga tidak mengetahui mana fitur yang penting mana yang tidak. Kamera yang lebih baru seperti 700D tentunya lebih baik dari 600D. Tapi apakah peningkatan fiturnya pantas? Canon 700D dijual dengan 1 juta lebih tinggi.

Dengan memilih 700D, maka kita akan mendapatkan fasilitas touchscreen. Menurut pengalaman saya, fitur ini sangat membantu saat kita ingin mengubah setting kamera dan menentukan daerah yang fokus saat mengunakan live view (LCD monitor) untuk foto atau video.

Selain itu, kecepatan foto berturut-turut sedikit lebih cepat dari 3.7 menjadi 5 per detik. Kualitas modul autofokus juga diperkuat dengan 9 jenis cross-type yang lebih akurat dan cepat dalam memotret subjek bergerak atau di kondisi gelap.

Peningkatan lain yaitu lensa yang dipaketkan ke 700D lebih bagus daripada lensa yang dipaketkan ke 600D. Lensa baru ini memiliki motor fokus STM yang lebih mulus dan tidak bersuara. Konstruksinya juga sedikit lebih baik. Meski ketajamanan lensa kit tidak setajam lensa L yang jauh lebih tinggi harganya, gambar yang dihasilkan lensa baru ini lebih merata ketajamannya di bagian tengah sampai tepi foto.

Kiri: lensa kit lama, Kanan: Lensa kit STM baru

Kiri: lensa kit lama, Kanan: Lensa kit STM baru

Simplenya, saya lebih merekomendasikan Canon 700D daripada 600D, menurut saya perbedaan harga 1 juta sangat pantas karena peningkatan dibidang fitur dan juga lensa.

Canon 700D mirip sekali dengan 650D, jadi bisa dibaca reviewnya disini. Perbedaan 650D dan 700D bisa dibaca disini.

{ 7 comments }

Bahas foto – Urban Chaos

Saat jalan-jalan ke suatu kota, yang saya suka biasanya jalan ke tempat yang agak padat penduduknya dengan arsitektur jadul. Kalau di Jakarta, contohnya kawasan kota tua. Di kawasan semacam ini saya senang menemukan banyak bangunan yang berantakan, kacau dan tidak tertata dengan rapi. Karakter kota dan penghuninya sangat menonjol. Beda dengan bangunan yang ultra-modern, yang biasanya sangat rapi, simetris dan tertata rapi.

Karena kekacauan (chaos) / berantakannya itulah saya biasanya lebih tertantang untuk mengkomposisikannya supaya keliatannya rapi dan menarik.

Selain di Jakarta, banyak kota yang menarik untuk fotografi karena karakternya yang kuat, contohnya kawasan Old Quarter di Hanoi, Vietnam, jalan Joo Chiat (dekat Geylang) di Singapore, Hutong di Beijing, jalan Alor di Kuala lumpur (kalau yang ini sih makanannya banyak terutama di malam hari haha) dan sebagainya. Jangan lewatkan kawasan kota tua jika berkunjung ke negara lain.

Sampai saat ini, kawasan Old Quarter di Vietnam adalah personal favourite saya, karena bangunan-bangunannya banyak yang dicat warna kuning yang merupakan warna favorit saya. Selain itu sifat orang-orang Vietnam relatif terbuka, jendela dan pintunya biasanya terbuka lebar sehingga kita dapat melihat isi rumah dan aktivitas penghuninya.

Tidak semua orang akan menyukai lokasi-lokasi tua dan berantakan seperti ini, tapi untuk latihan komposisi foto, saya rasa tidak ada tempat yang lebih baik untuk memulai.

Salah satu sisi kota tua Jakarta

Salah satu sisi kota tua Jakarta

Rumah disisi sungai Chao Praya, Bangkok, Thailand

Rumah disisi sungai Chao Praya, Bangkok, Thailand

Bangunan tua dengan kabel listrik yang banyak sekali di Old Quarter, Hanoi, Vietnam

Bangunan tua dengan kabel listrik yang banyak sekali di Old Quarter, Hanoi, Vietnam

[click to continue…]

{ 0 comments }

Nikkor 135mm f/2.8 AIS Review

Setelah mencoba lensa jadul Nikkor 35-105mm f/3.5-4.5, saya mencoba mencari lensa lama Nikkor lagi. Sebagai info, lensa Nikkor adalah donor universal (golongan darah O), karena kebanyakan bisa dipasangkan ke banyak kamera lain. Kebetulan ada Sony A7s yang dipinjamkan ke saya oleh Sony Indonesia, maka saya coba lensa ini di studio.

Dari kualitas fisiknya, lensa ini termasuk sangat bagus jika dibandingkan dengan lensa jaman sekarang yang kebanyakan casingnya plastik. Ukurannya juga termasuk ringan. Panjangnya sekitar 8-9 cm saja, tergantung jarak fokusnya. Diameternya juga relatif kecil untuk lensa telefoto berbukaan f/2.8 yaitu 6.4 cm. Filter yang digunakan 52mm, relatif kecil dan terjangkau harganya.

Yang cukup unik bagi saya adalah lens hoodnya sudah built-in, jadi tidak perlu repot untuk memasang dan melepas lens hood saat ingin memotret atau menyimpan kamera. Konstruksi lens hood sayangnya dari plastik dan relatif mudah ke gores, tapi tidak apa supaya tidak terlalu berat.

Lensa ini termasuk ringan untuk lensa telefoto fix yaitu 435 gram, bandingkan dengan Nikkor AF 135mm f/2 DC yang beratnya 817 gram, atau Canon 135mm f/2 beratnya 708 gram. Lensa Nikkor 135mm f/2.8 ini ukurannya bisa kecil karena tidak ada motor autofokus, image stabilization dan bukaannya tidak terlalu besar (f/2.8).

Untuk ketajaman foto, di studio dengan flash, ketajaman lensa ini sangat tinggi dan sensor gambar yang tidak terlalu besar (12 MP) terutama saat menggunakan bukaan sedang seperti f/5.6.

Hasil foto portrait dengan A7s dan Nikkor 135mm f/2.8

Hasil foto portrait dengan A7s dan Nikkor 135mm f/2.8 – Talent: Marla Yunita

crop-100-135mm-f28

Crop 100% dari foto diatas. Tanpa retouch/edit

Saat menguji dengan kamera bersensor 24MP seperti Nikon D600 atau Sony A6000 di outdoor, ketajaman lensa ini agak berkurang, terutama saat cahayanya kurang mendukung misalnya backlight atau mendung.

Karena tidak ada stabilizer, penggunaan lensa 135mm agak sulit di kondisi cahaya gelap, karena membutuhkan shutter speed yang cukup cepat supaya ketajaman foto optimal. Saran saya mengunakan shutter speed 1/200 detik atau lebih cepat lagi.

Biasanya, lensa 135mm digunakan untuk foto portrait close-up atau candid. Karena jarak fokus yang tele dan bukaan maksimum yang lumayan besar, maka  mudah sekali membuat latar belakang blur (bokeh).

Lensa ini berhenti diproduksi tahun 2002, jadi kalau berminat, bisa mencari lensa bekasnya. Harga lensa sekitar 1.75 – 2.5 juta. Harga tergantung kondisi lensanya.

Saran saya untuk mengoptimalkan hasil gambar dengan lensa ini atau lensa jadul lainnya yaitu gunakan kamera yang sensor gambarnya tidak terlalu tinggi (12-16 MP) misalnya, lalu gunakan bukaan yang sedang, sekitar 2-3 stop dari bukaan maksimumnya, misalnya f/5.6-f/8.

Lensa ini bisa digunakan di kamera DSLR Nikon modern dari yang pemula sampai canggih. Bedanya dengan lensa Nikon modern adalah:

  • Tidak bisa autofokus. Untuk memfokuskan subjek foto, di dalam jendela bidik biasanya ada tanda bulatan hijau dan panah kiri dan kanan untuk memberi petunjuk kearah mana harus memutar. Tidak terlalu sulit, tapi lebih memakan waktu dan tenaga mata. Karena itu juga lensa ini tidak cocok untuk foto subjek bergerak.
  • Tidak ada data bukaan. Karena bukaan diatur di badan lensa (dengan memutar ring bukaan), dan tidak ada komunikasi antara lens dan kamera, maka data bukaan/aperture/diafragma tidak terekam dalam data gambar.
Nikon 135mm f/2.8 dipasang ke Sony A7 dengan adapter

Nikon 135mm f/2.8 dipasang ke Sony A7 dengan adapter Sony NEX/E-mount ke Nikon AI (bisa dibeli disini)

Spesifikasi:

  • Berat: 435 gram
  • Filter: 52mm
  • Panjang maksimum 9.15 cm, minimum 8.35 cm
  • Aperture max/min: f/2.8-32
  • Lensa FX (mencakupi full frame/APS-C)
Sony A7 dan Nikon 135mm dengan adapter dilihat dari atas

Sony A7 dan Nikon 135mm dengan adapter dilihat dari atas

Dalam pemotretan dibawah saya mengunakan Sony A7s dan lensa ini saya pasang dengan adapter. Dengan kamera mirrorless dibandingkan DSLR, operasi autofokus lebih mudah, karena ada fitur focus peaking yang sangat membantu dalam memastikan akurasi fokus.

focus-peaking-s

Focus peaking: Bagian yang merah berarti dalam fokus.

Oke, ringkasan kelemahan dan kelebihan lensa Nikkor 135mm f/2.8 AIs:

+ Konstruksi solid, sebagian besar dari logam
+ Ring fokus mantap dan panjang memudahkan untuk manual fokus yang akurat
+ Ukuran tidak terlalu besar dan relatif ringan untuk lensa fix 135mm
+ Kualitas foto sangat tajam di bukaan sedang (f/5.6)
+ Harga relatif murah dibandingkan dengan lensa baru/modern
+ Lens hood sudah built-in dan ukurannya kecil
- Nilai bukaan/aperture tidak terekam dalam data foto
- Tidak bisa autofokus
- Tidak optimal di kamera yang megapixelnya banyak (24 MP ke atas)
- Lens hood dari plastik, mudah kegores

{ 6 comments }

Di kamera DSLR Canon ada sebuah tombol di bagian belakang dengan simbol * (bintang) yang kurang jelas maksud fungsinya. Sebetulnya tombol bintang ini adalah tombol multifungsi, yang berhubungan dengan penguncian (lock). Secara default tombol ini sama seperti tombol AE-L/AF-L di kamera lain yaitu bila ditekan akan mengunci eksposur dan juga fokus. Melalui menu bisa juga tombol ini difungsikan utuk hanya mengunci eksposur saja, atau mengunci fokus saja. Tapi ada satu fungsi lain dari tombol bintang ini yang berguna untuk mengunci eksposur saat memakai flash, istilahnya FEL (Flash Exposure Lock).

Tentang FE Lock

Star buttonPertama mari tinjau lagi cara kerja lampu kilat di kamera di mode TTL. Setiap flash menyala, kamera sudah menghitung berapa kekuatan flash yang pas, dengan memperhitungkan jarak subyek, bukaan lensa, ISO dan pengukuran cahaya lingkungan. Dengan TTL ini maka hasil foto yang didapat semestinya sudah seimbang antara cahaya lingkungan dengan subyek utamanya. Namun terkadang hasilnya masih belum sesuai keinginan kita, khususnya di tempat yang cahayanya terang kadang hasil foto dengan flash (fill flash) terlihat kurang natural.

Untuk itu di kamera Canon ada tombol * yang bisa difungsikan sebagai Focus Exposure Lock. Ceritanya dengan memakai fitur ini, kamera akan menembakkan flash saat tombol * ditekan. Cahaya flash yang mengenai subyek akan diukur oleh kamera sehingga kamera tahu berapa persisnya kekuatan flash yang perlu dikeluarkan. Dengan begitu maka hasil foto akan lebih terlihat pas tanpa perlu kompensasi flash lagi.

Contoh 

Untuk menerangi wajah model digunakan built-in flash dengan mode TTL. Foto pertama tanpa memakai FE Lock :

IMG_5326a

Foto diatas tampak sudah oke, dengan latar belakang terang (cahaya dari luar) dan model diterangi oleh flash (fill flash). Tapi untuk melihat bedanya, saya ambil lagi foto kedua, kali ini dengan teknik FE lock yang pengukurannya dilakukan ke wajah model. [click to continue…]

{ 3 comments }