≡ Menu

Setelah sukses dengan lensa zoom Tamron 28-75mm f/2.8 dan 17-28mm f/2.8 untuk Sony FE (full frame), Tamron akhirnya merilis lensa telefoto zoom 70-180mm f/2.8 untuk melengkapi seri zoom mirrorless f/2.8 untuk Sony.

Keluarga lensa full frame Tamron untuk Sony

Untuk digunakan di kamera Sony APS-C seperti A6400 atau A6600 juga compatible, misalnya untuk mendapatkan jarak fokal ekuivalen yang lebih jauh. Adanya crop factor 1.5x menjadikannya ekuivalen dengan 105-270mm. Tapi sebagian besar kamera APS-C Sony, kecuali A6600 dan A6500 tidak memiliki built-in stabilization atau istilah Sony, steadyshot, sehingga fotografer harus berhati-hati dalam memilih shutter speed supaya foto tidak blur karena getaran tangan.

[continue reading…]
{ 1 comment }

Review lensa ultra lebar Sony FE 20mm f/1.8G

Lensa Sony FE 20mm f/1.8 G adalah lensa yang tergolong kategori ultra wide (sangat lebar), yang dirancang untuk kamera mirrorless Sony Alpha yang bersensor full frame seperti seri A7 dan A9.

Tapi lensa ini bisa digunakan juga di kamera Sony yang APS-C seperti Sony A6400, hanya saja sudutnya menjadi tidak begitu lebar, setara dengan 30mm di kamera full frame.

Saksikan juga di video di youtube Infofotografi:

[continue reading…]
{ 0 comments }

Apakah pabrikan kamera bisa bertahan di 2020?

Artikel ini adalah transkrip dari video Youtube Infofotografi dibawah ini:

Kali ini saya ingin membahas apakah perusahaan pembuat kamera seperti Canon, Nikon, Sony, Fuji, Olympus, Panasonic, dll. Apakah mereka bisa bertahan di masa pandemi di tahun 2020, baik selama atau setelah pandemi?

Sebenarnya, di awal tahun 2020, sebelum pandemi melanda dunia, penjualan kamera digital sudah jauh menurun dibandingkan dengan masa-masa jayanya sekitar tahun 2010-2012.

Sebagai perbandingan, di tahun 2010, kamera digital baik kamera compact maupun DSLR yang terjual ada 121.5 juta unit. Tahun 2012 adalah puncaknya penjualan kamera yang bisa berganti lensa DSLR/mirrorless yaitu 20 juta unit.

[continue reading…]
{ 6 comments }

Halo pembaca Infofotografi, file format RAW merupakan file misterius bagi banyak fotografer. Padahal sebenarnya, dengan memotret dalam format RAW, kita dapat mengolah foto dengan lebih leluasa.

Dalam kesempatan ini, Enche Tjin akan mengadakan kursus secara online dengan aplikasi Zoom untuk mengenalkan bagaimana cara mengolah RAW dengan software Adobe Lightroom Classic CC dengan tujuan supaya kita bisa mengolah warna dan tone foto sesuai keinginan dan suasana yang kita ingin sampaikan lewat foto kita dengan cepat.

Materi yang akan dibahas yaitu:

  1. Bahas Preset dan Profile : Menghemat waktu saat mengedit banyak foto yang senada.
  2. Cara membuat preset dan profile, serta membahas perbedaannya
  3. Mengunakan fitur gradient ND filter dengan efektif
  4. Studi kasus: Bahas pengeditan beberapa foto pilihan
  5. Tanya jawab seputar editing Lightroom
Mengubah look dan feel dari foto dengan mudah dan cepat

Tanggal pelaksanaan

Hari Minggu, tgl 17 Mei 2020
Pukul 13.00-15.30 WIB.
Biaya Rp 250.000,- Maksimum 16 orang.
Instruktur: Enche Tjin @enchetjin

Syarat peserta

  1. Memiliki software Adobe Lightroom CC Classic
  2. Memiliki account Zoom (bisa di download gratis)

Pendaftaran:

Hubungi Iesan Liang 0858 1318 3069 / infofotografi@gmail.com

{ 0 comments }

Upgrade dari Sony A6000 ke A6400 apa worth it?

Bagi pemilik Sony A6000, mungkin mempertimbangkan untuk upgrade kamera, karena meskipun A6000 kamera yang cukup mumpuni untuk fotografi, tapi untuk videografi fiturnya masih sangat terbatas.

Sony A6000

Ada beberapa model yang ditawarkan oleh Sony, diantaranya Sony A6100, A6300, A6400, A6500, A6600. Tapi menurut saya, yang paling cocok adalah A6400 yang dirilis 4 tahun 11 bulan dari A6000, karena seperti A6000, harga A6400 menurut saya sangat pantas untuk fitur-fitur-nya. [Link pembelian Sony A6400 via Blibli | Tokopedia]

Desain

Sekilas dari fisiknya, tidak ada perbedaan yang mendasar diantara Sony A6000 dan A6400, tapi jika dilihat lebih teliti, ada dua perbedaan, A6400 sedikit lebih tebal dan ada tuas yang melingkari tombol AF/MF.

Sony A6400 terkenal karena layarnya bisa diflip ke depan

Layar LCD-nya bisa touchscreen untuk autofokus atau membesarkan gambar saat meninjau foto, dan layarnya kini bisa ditekuk ke atas dan menghadap ke depan sehingga memudahkan untuk selfie / vlogging.

Menu A6400 lebih banyak isinya karena fitur-nya bertambah tapi lebih rapi karena tiap harapan kini berdasarkan kategori, misalnya autofokus, video dan sebagainya.

  • Di dalam menu, Custom key memudahkan untuk kustomisasi karena ada ilustrasi gambar lokasi tombol dalam kamera.
  • Sedikit tambahan soal fisik kamera, yaitu jendela bidik A6400 lebih detail dengan resolusi 2 juta titik vs 1.4 juta titik di A6000.
  • Sony A6400 punya weathersealing yang lebih baik, lebih tahan di kondisi ekstrim.
  • Sony A6400 sedikit lebih berat 403g banding 344 gram.
[continue reading…]
{ 3 comments }

Sebulan belakangan ini, banyak yang melakukan siaran langsung / livestream di media sosial seperti Youtube, Facebook, instagram, Zoom dll. Saya sendiri lebih fokus mengunakan platform Youtube karena setahun belakangan ini Infofotografi aktif dalam membuat konten Youtube setidaknya dua video per minggu.

Ternyata untuk livestream dibutuhkan alat yang berbeda dibandingkan dengan membuat video Youtube biasa (peralatan kami bisa dibaca di artikel ini). Ada beberapa aksesoris tambahan yang penting, beberapa diantaranya adalah:

  1. Capture card : Fungsi dari capture card adalah untuk menangkap layar kamera pengganti webcam (karena kualitas webcam kurang bagus). Contoh capture card yang populer yaitu Elgato Camlink, Ez Capture, dan Blackmagic Atem Mini. Infofotografi memilih Ez Cap. Awalnya ingin membeli Elgato Camlink atau Atem Mini tapi tidak ada stoknya, jadi akhirnya Iesan pilih Ez Capture, karena sesuai dengan filosofi dia membeli barang, yang penting murah dan bisa dipakai. Kelemahan Ez Cap adalah cuma bisa satu kamera saja, sedangkan yang Atem mini bisa empat input kamera. [link pembelian Ez Cap |Tokopedia ]
  2. Mic : Saya sudah pernah coba mic lavalier atau mic shotgun yang biasanya dihubungkan dengan kamera, ternyata audionya sangat tidak sinkron dengan visualnya, dan kualitasnya juga kurang, agak pecah, jadi kita perlu mic khusus yang berkualitas. Setelah Iesan mencari-cari info, pilihan jatuh pada sistem mic Focus Rite Scarlett 2i2 karena selain kualitasnya bagus dan punya sound card independent dan input-nya ada dua, bisa untuk 2 mic atau 1 mic dan 1 alat musik, sehingga suatu saat kalau Iesan mau rekam dan nyanyi secara live juga bisa. Sebagai pelengkap, ada Pop filter dan tripod mini mic stand untuk atau teman-teman bisa pilih Arm stand microphone [Link pembelian dan cek harga Focus Rite di | Tokopedia ]
  3. Terakhir yang kita perlukan adalah software untuk mengatur livestreaming, supaya bisa mengatur ukuran kamera, memasukkan presentasi atau foto-foto dan sebagainya. Sebenarnya banyak pilihan software dari yang gratis sampai bebayar (iuran perbulan / sekali bayar). Kami memilih OBS Streamlabs karena software ini open source dan gratis, cuma memang agak ribet sedikit. Bagi teman-teman yang gak mo pusing ada pilihan seperti be live atau Ecamm live khusus Mac dan kalau yang profesional ada Wirecast yang bisa untuk produksi seperti siaran TV. Untuk Youtube Infofotografi, sementara saya pilih OBS Streamlabs terlebih dahulu.

Mudah-mudahan info ini bisa menjawab pertanyaan beberap teman-teman yang saya terima di livestream Infofografi. Jangan lupa terus belajar dan berkreasi selama Pandemi Covid-19.

{ 0 comments }

Dalam dua dekade ini, banyak yang terjadi di dunia kamera dan fotografi. Saya sendiri beruntung pernah berpengalaman memotret dari awal-awal era kamera digital SLR sampai era kamera mirrorless.

Pembahasan ini bisa disaksikan juga di Livestream Infofotografi:

2000-2020 – Era kamera DSLR

Di era kamera DSLR ini, pilihan kamera digital memang didominasi oleh Canon dan Nikon, pangsa pasar keduanya mencapai 80%, artinya kalau kita ketemu orang di jalan, dan dia nenteng kamera, besar kemungkinan dia memegang kamera DSLR Canon atau Nikon.

Saya pribadi pada awalnya saya mengunakan kamera Pentax K100 dari kantor, setelah setahun mengunakannya, saya mendapati ada beberapa kelemahan dari kamera ini sebagai kamera untuk liputan misalnya di foto berturut-turut dan autofokus kurang cepat. Meskipun ada juga yang positif, yaitu punya shake reduction di body kamera dan kualitas gambar yang dihasilkan bagus.

Maka dari itu saya mencari kamera DSLR yang lebih cepat, dan setelah riset, saya menemukan bahwa Canon 40D cocok buat saya, karena autofokus, kecepatan foto berturut-turutnya cepat dan body kameranya juga weathershield, terbuat dari logam magnesium alloy.

[continue reading…]
{ 4 comments }

Tanggal 20 April 2020 ini Canon mengumumkan spesifikasi EOS R5. Kamera ini adalah kamera mirrorless Canon yang mengunakan mount baru, RF mount. Spesifikasinya cukup dashyat dengan konsentrasi ke video. Belum ada info kapan kamera ini akan hadir di Indonesia tapi jika ada, tentunya kamera ini adalah kamera dengan spec video yang terbaik saat ini.

Selain 8K itu sangat detail, bahkan menurut saya 4K sudah bagus untuk standar saat ini. Untuk youtube bahkan masih banyak yang mengunakan resolusi full HD. Mungkin keuntungannya saat ini adalah untuk cropping dan stabilization jika output-nya 4K.

Spesifikasi Canon EOS R5

  • 8K RAW internal video recording up to 29.97 fps
  • 8K internal video recording up to 29.97 fps in 4:2:2 10-bit Canon Log (H.265)/4:2:2 10-bit HDR PQ (H.265).
  • 4K internal video recording up to 119.88 fps in 4:2:2 10-bit Canon Log (H.265)/4:2:2 10-bit HDR PQ (H.265). 4K external recording is also available up to 59.94 fps.
  • No crop 8K and 4K video capture using the full-width of the sensor.*
  • Dual Pixel CMOS AF available in all 8K and 4K recording modes.
  • Canon Log available in 8K and 4K internal recording modes.
  • A Canon first, the EOS R5 will feature 5-axis In-Body Image Stabilization, which works in conjunction with Optical IS equipped with many of the RF and EF lenses.
  • Dual-card slots: 1x CFexpress and 1x SD UHS-II.

Selain bisa rekam 8K RAW, yang menggagumkan juga tidak ada crop dan stabilizer 5 axis yang akan sangat membantu untuk videografer yang memegang kameranya handheld di lapangan. Dan dual pixel AF bekerja untuk semua pilihan resolusi juga melegakan, karena kamera 1DX III yang baru saya uji tidak bekerja dual pixel AF nya saat merekam video 4K.

Yang mungkin agak disesalkan adalah memory card yang digunakan tidak sama. Yang utama CFexpress yang cepat dan berkapasitas tinggi, tapi satu lagi hanya SD card UHS-II.

Kamera ini akan menjadi kamera hybrid (foto dan video) terbaik 2020 jika terealisasi, dan specnya melampaui saingannya beberapa langkah ke depan. Karena specnya yang luar biasa, harganya diperkirakan akan sangat tinggi juga. Kemungkinan mendekati Rp 100 juta.


Soal Canon EOS Cinema C300 III, bentuknya seperti kamera video profesional dengan kemampuan mengganti lensa Canon EOS EF. Fitur barunya yaitu bisa merekam Cinema RAW langsung ke memory card, punya Dual Pixel AF, dan 4K-nya bisa sampai 120fps untuk slow motion.

Selain itu, mereka mengenalkan Dual Gain Output (DGO) yang memungkinkan dynamic range yang sangat luas (16+ stop). Tapi kamera ini mungkin gak terjangkau untuk sebagian besar videografer amatir karena harganya sekitar USD11000 atau sekitar Rp170 juta.


Selama wabah Covid-19 sebaiknya belanja #dirumahaja via toko online seperti Tokopedia, Bukalapak atau Shopee

Bagi teman-teman yang ingin mengikuti kursus online fotografi dasar, silahkan menghubungi WA 0858 1318 3069

{ 0 comments }

Nikon Z6 adalah mirrorless full frame pertama Nikon yang diluncurkan bersamaan dengan Z7. Kehadiran kakak beradik Z ini memang tidak menggagetkan karena merk saingannya Sony dan Canon sudah meluncurkan kamera mirrorless full frame sebelumnya. Secara spesifikasi, Nikon Z6 ini setara dengan kamera DSLR Nikon D780.

Z6 ini dirilis Nikon di bulan November 2018, dan saat dirilis banyak dikeluhkan soal sistem autofokusnya yaitu face-eye trackingnya kurang cepat, dan 3D trackingnya sulit dipraktikkan. Nikon selama 2018-2020 ini melakukan banyak melakukan update firmware dan membuat AF-nya sekarang lebih baik: Lebih cepat dan praktis digunakan.

Saat memegang Nikon Z6 ini, terkesan kamera ini tangguh, siap untuk digunakan untuk berbagai kondisi yang ekstrim, dari hujan-hujanan sampai cuaca yang sangat dingin.

[continue reading…]
{ 1 comment }

Tidak terasa hampir satu tahun kami berusaha membuat konten video untuk Youtube Infofotografi. Kami mulai memutuskan membuat video Youtube dengan serius dan konsisten di awal bulan April 2019. Saat itu yang berlangganan (subscribe) baru sekitar 3000 pemirsa, saat ini sudah lebih dari 21.300 pemirsa.

Selama ini kami beruntung didukung oleh banyak perusahaan pembuat kamera, lensa, aksesoris dan para distributor yang mempercayai kami untuk me-review gear mereka. Tanpa kepercayaan tersebut tentunya konten Youtube dan blog Infofotografi tentu tidak akan variatif seperti saat ini.

Dalam setahun belakangan ini, kami telah membuat dan merilis sekitar 150 video, yang terbagi dalam berbagai tema seperti review kamera, lensa, aksesoris, belajar fotografi, ngobrol santai, dan dua minggu terakhir saya mencoba livestream. Saya merasa bersyukur di tengah pandemi Covid-19 ini, kami tetap bisa membuat Youtube secara konsisten meskipun setting-nya terpaksa harus di dalam rumah kantor kami.

[continue reading…]
{ 12 comments }